Journal of Biology Science and Education (JBSE) http://jurnal. Vol. No. Hal. Januari-Juni, . Kombinasi Ekstrak Daun Pare (Momordica charanti. dan Kunyit (Curcuma long. Terhadap Jumlah Sel Darah Merah dan Sel Darah Putih Tikus (Rattus norvegicu. yang Diinduksi CCl4 dan Pemanfaatannya Sebagai Media Pembelajaran Jihan*. Achmad Ramadhan. Sutrisnawati*, & Isnainar Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Tadulako. Indonesia Received: 10 Desember 2020. Accepted: 25 Desember 2020. Published: 5 Januari 2021 ABSTRAK. Daun pare dan kunyit mengandung senyawa-senyawa kimia seperti kurkumin dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pengaruh kombinasi ekstrak daun pare (Curcuma long. dan kunyit (Momordica charanti. terhadap jumlah sel darah merah dan sel darah putih tikus yang di induksi karbon tetraklorida (CCl . dan pemanfaatannya sebagai media Metode penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan pola rancangan acak lengkap (RAL). Sampel yang digunakan sebanyak 18 ekor tikus jantan, yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 ulangan. Kelompok (K. merupakan kelompok tanpa perlakuan, kelompok (K-) hanya diinduksi CCl4 tanpa diberi ekstrak. Perlakuan (P. diinduksi CCl4 dan diberi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit konsentrasi 10%, (P. diinduksi CCl4 dan diberi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit konsentrasi 15%, (P. diinduksi CCl4 dan diberi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit konsentrasi 20%, (P. diinduksi CCl4 dan diberi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit konsentrasi 25%. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA, diolah dengan program SPSS-25. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konsentrasi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit dapat meningkatakan jumlah sel darah merah dan menurunkan sel darah putih tikus yang diinduksi CCl4 yaitu konsentrasi 25%. Hasil penelitian ini layak digunakan sebagai media pembelajaran dalam bentuk poster. Kata Kunci: Daun pare. Kunyit. Sel darah merah. Sel darah putih. Rattus norvegicus. CCl4. Combination of Pare (Momordica charanti. and Turmeric (Curcuma long. Leaf Extract Against Red Blood Cell and White Blood Cell Count of CCl4 Induced Rats (Rattus norvegicu. and Its Utilization as Learning Media ABSTRACT Pare leaves and turmeric contain chemical compounds such as curcumin and flavonoids. The purpose of this study was to describe the effect of the combination of extracts of bitter melon (Curcuma long. and turmeric (Momordica charanti. leaves on the number of red blood cells and white blood cells of rats induced by carbon tetrachloride (CCl. and their use as learning media. This research method is a laboratory experiment with a completely randomized design (CRD). The samples used were 18 male rats, consisting of 6 treatments and 3 replications. Group (K. was the untreated group, group (K-) was only induced by CCl4 without extract. Treatment (P. was induced by CCl4 and given a combination of bitter melon leaf extract and turmeric at a concentration of 10%, (P. was induced with CCl4 and given a combination of bitter melon leaf extract. and turmeric with a concentration of 15%, (P. was induced by CCl4 and given a combination of bitter melon leaf extract and turmeric concentration of 20%, (P. was induced by CCl4 and given a combination of bitter melon leaf extract and turmeric with a concentration of 25%. The data obtained were analyzed by ANOVA, processed by the SPSS-25 program. The results of this study indicate that giving a combination concentration of bitter melon leaf extract and turmeric can increase the number of red blood cells and decrease the white blood cells of rats induced by CCl4 at a concentration of 25%. The results of this study are suitable for use as a learning media in the form of posters. Keywords: Bitter gourd. Turmeric. red blood cells. White blood cell. Rattus norvegicus. CCl4. Copyright A 2021 Jihan. Achmad Ramadhan. Hj. Sutrisnawati, & Isnainar Corresponding author: Jihan. Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Tadulako. Indonesia. Email: martenjihan@gmail. PENDAHULUAN Berbagai zat karsinogen dapat menyebabkan terbentuknya Reactive oxygen species (ROS) yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel selama proses metabolismenya. Salah satunya adalah senyawa carbon tetraclorida (CCl. , merupakan Xenobiotic yang lazim digunakan untuk menginduksi peroksida lipid dan keracunan jika Reactive oxygen species (ROS) didalam tubuh semakin banyak, maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan antara jumlah radikal bebas dengan antioksidan endogen keadaan ini dinamakan stres oksidatif. Kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan organ (Lin et al, 2. dan menyebabkan hemolisis pada Saat ini pengobatan dengan menggunakan ramuan tradisional sudah menjadi hal yang lumrah beberapa fenomena yang berdasarkan etnomedisin telah terbukti berkhasiat sebagai antioksidan adalah tanaman pare dan tanaman kunyit. Pare (Momordica charantia L. ) merupakan tumbuhan tropis, hidup di daerah dataran rendah dan dapat merupakan tanaman yang di budidayakan atau tanaman liar di tanah (Khamsan. Tanaman pare memiliki kandungan senyawa aktif yang diantaranya flavonoid . flavonoid merupakan senyawa poliferol yang berperan sebagai antioksidan, yang di dalam sel darah dapat bertindak sebagai penampung radikal hidroksil dan superoksida sehingga melindungi lipit membrane. Antioksidan dapat melindungi suatu zat tertentu termasuk serangan radikal bebas ( Made Astawan, 2. Kunyit di dalam rimpangnnya terdapat zat curcumin, minyak astiri dan mineral. Kandungan mineral yang terdapat pada kunyit meliputi kalsium, kalium, zat besi dan magnesium. Zat kurcumin yang ada pada kunyit dapat menghambat pembentukan plak dalam pembuluh darah yang dapat menyebabkan terjadinya Kalium yang terdapat pada kunyit berfungsi untuk mengontrol detak jantung dan membantu menstabilkan tekanan darah. Kunyit juga berperan sebagai anti oksidan, menurunkan kadar kolesterol darah dalam tubuh dan mencegah penggumpalan darah (Mukti, 2. Pare dan kunyit merupakan tanaman yang dimanfaatkan secara turun-temurun sebagai obat tradisional oleh beberapa kelompok entis di Indonesia, seperti masyarakat suku AuTopo UmaAy di desa Oo Parese kecamatan Kulawi Selatan Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah yang telah mengenal pemanfaatan tumbuhan ini untuk kehidupan sehari-hari sebagai obat tradisional. Bagian dari tanaman pare yang digunakan adalah daunnya, dengan cara pengolahan diremas lalu dioles diketiak balita untuk menyembuhkan penyakit panas tinggi dan batuk. Sementara, bagian rimpang kunyit digunakan untuk menghilangkan bekas luka bakar dengan cara pengolahannya ditumbuk lalu ditempelkan dibagian yang terkena luka bakar (Yulia, dkk. Menurut Purba . , salah satu bahan alam yang juga mengandung senyawa antioksidan adalah kunyit yang memiliki bahan aktif yaitu Kurkumin adalah fraksi dari kurkuminoid yang mengandung banyak khasiat. Dengan demikian hal-hal tersebut yang melatar belakangi pentingnya dilakukan penelitian mengenai pengaruh kombinasi ekstrak daun pare (Momordica charantia L. ) dan kunyit (Curcuma long. terhadap jumlah sel darah merah dan sel darah putih tikus (Rattus novergicu. galus wistar yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl. METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif Menurut Sugiyono . , penelitian deskriptif kuantitatif merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk meng interprestasikan data penelitian . agar lebih mudah dipahami. Metode penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan pola rancangan acak lengkap (RAL). Sampel yang digunakan sebanyak 18 ekor tikus jantan, yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 Kelompok (K. merupakan kelompok tanpa perlakuan, (K-) hanya diinduksi CCl4 secara per oral, (P. , (P. , (P. , dan (P. diberi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA yang diolah dengan program SPSS-25. Analisis Data Data perhitungan jumlah sel darah merah dan sel darah putih dianalisis dengan teknik analisis varians (ANOVA) yang diolah menggunakan program SPSS-25. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Hasil penelitian kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit terhadap jumlah sel darah merah dan sel darah putih tikus (Rattus norvegicu. setelah diinduksi karbon tetraklorida (CCl. dapat diuraikan sebagai berikut: Gambar 4. 1 Jumlah Eritrosit Tikus Putih (Rattus norvegicu. Keterangan : K- = kontrol negatif . emberian CCl4 selama 7 har. Kn = kontrol normal . emberian makan dan minu. P1. P2. P3 dan P4 = perlakuan . engan konsentrasi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit 10%, 15%, 20%, dan 25%) Grafik Rata-rata Jumlah Eritrosit Pada Tikus Rata- rata Eritrosit Eritrosit Tikus Putih . uta/mmA) Eritrosit Tikus Putih . uta/mmA) Prosedur Kerja Penelitian Menyiapkan alat dan bahan yang akan Daun pare dan kunyit dibersihkan, hasil dari perajangan dijemur pada sinar matahari secara tidak langsung. Pembuatan ekstrak daun pare dan kunyit dengan metode meserasi menggunakan pelarut etanol dan dilakukan proses pemisahan ekstrak dari pelarut dengan metode Dilanjutkan dengan persiapan hewan coba yaitu 18 ekor tikus putih jantan. Sampel tikus dibagi menjadi 6 kelompok perlakuan, 2 kelompok kontrol: kontrol normal (K. tanpa diberi perlakuan dan kontrol negatif (K-) hanya diinduksi CCl4 0,2 ml secara oral selama 7 hari. Dan pada hari ke delapan, perlakuan 1 (P. diberi kombinasi ekstrak 10%, perlakuan 2 (P. diberi kombinasi ekstrak 15%, perlakuan 3 (P. diberi kombinasi ekstrak 20%, dan perlakuan 4 (P. diberi kombinasi ekstrak 25% per oral selama 7 Pada hari ke 15 pengambilan sampel darah untuk menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih tikus. Pengamatan dilakukan menggunakan haemositometer yang terdiri dari dua komponen yaitu kamar hitung dan pipet Pengamatan eritrosit darah di hisap menggunakan pipet darah sampai tanda 0,5 kemudian larutan hayem di hisap sampai tanda 101 lalu lepaskan pipet penghisap kemudian Kamar hitung dan kaca penutup dibersihkan, tetesan pertama dibuang terlebih dahulu, setelah itu tetesan berikutnya teteskan pada kamar hitung lalu amati dibawah mikroskop dan menghitung jumlah eritrosit. Pengamatan leukosit darah di hisap menggunakan pipet darah sampai tanda 0,5 kemudian larutan turk di hisap sampai tanda 11 lalu lepaskan pipet penghisap kemudian homogenkan. Kamar hitung dan kaca penutup dibersihkan, tetesan pertama dibuang terlebih dahulu, setelah itu tetesan berikutnya teteskan pada kamar hitung lalu amati dibawah mikroskop dan menghitung jumlah leukosit. Rata- rata Eritrosit 6640 P2 P3 P4 K- Kn P1 Perlakuan/Konsentrasi Perlakuan/Konsentrasi Gambar 1. Grafik rata-rata jumlah eritrosit tikus putih (Rattus norvegicu. yang diberi ekstrak daun pare (Momordica charanti. dan kunyit (Curcuma long. pada kosentrasi yang berbeda. (K- = kontrol negatif . emberian CCl. selama 7 Kn = kontrol normal . emberian makan dan minu. P1. P2. P3 dan P4 = perlakuan . engan konsentrasi ekstrak daun pare dan kunyit 10%, 15%, 20%, dan 25%) Data yang diperoleh, kemudian diuji dengan ANOVA program SPSS-25 yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi ekstrak daun pare (Momordica charantia L. ) dan kunyit (Curcuma long. terhadap eritrosit tikus (Rattus norvegicu. Hasil dari ANOVA tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut: Tabel 4. 1 Analisis Sidik Ragam Jumlah Eritrosit Tikus Putih (Rattus norvegicu. ANOVA Sum of Mean Squares df Square Sig. Betwee 106301 5 2126037 13. Groups Within 183499 Groups 33. Total 124651 Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa jumlah eritrosit pada tikus (Rattus norvegicu. di atas menunjukkan Fhitung > Ftabel yang berarti hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Tabel 4. 2 Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) Jumlah Eritrosit Tikus Duncana Perlakuan K(-) . Sig. Subset for alpha = 0. Grafik Rata-rata Jumlah Eritrosit Pada Tikus Keterangan : K- = kontrol negatif . emberian CCl4 selama 7 har. Kn = kontrol normal . emberian makan dan minu. P1. P2. P3 dan P4 = perlakuan . engan konsentrasi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit 10%, 15%, 20%, dan 25%) Tabel 4. 3 Analisis Sidik Ragam Jumlah Leukosit Tikus Putih (Rattus norvegicu. Data Sum Mean Squares Df Square F Sig. Between 10927611 5 Groups 1. Within 3 12 187777. Groups 33 Total Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa jumlah eritrosit pada tikus (Rattus norvegicu. di atas menunjukkan Fhitung > Ftabel yang berarti hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis alternatif (H. Tabel 4. 4 Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) Jumlah Leukosit Tikus Data Berdasarkan Tabel 4. 2 Uji lanjut BNT yang dilakukan dapat dilihat bahwa konsentrasi terbaik untuk mengoptimalkan eritrosit tikus putih yaitu pada konsentrasi 25% Gambar 4. 2 Jumlah Eritrosit Tikus Putih (Rattus norvegicu. Duncan Kn. orm K(-) Sig. Subset for alpha = 0. Berdasarkan Tabel 4. 2 Uji lanjut BNT yang dilakukan dapat dilihat bahwa konsentrasi terbaik untuk mengoptimalkan leukosit tikus putih yaitu pada konsentrasi 25% PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit Tikus Putih (Rattus Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setalah pemberian CCl4 jumlah eritrosit menurun dari jumlah normal. Hal ini dapat dilihat pada 1 bahwa perubahan jumlah eritrosit antara kontrol normal (K. emberian makan dan minu. dan kontrol negatif (K-) . emberian CCl. Rata-rata jumlah eritrosit pada kontrol normal (K. 12643 juta/mm3 sedangkan pada kontrol negatif turun menjadi 6043 juta/mm3. Menurunnya jumlah eritrosit ini disebabkan CCl4 yang diberikan kepada tikus akan diabsorpsi ke dalam darah, kemudian mengoksidasi ion Fe2 . dalam hemoglobin dan mengubahnya menjadi ion Fe3 . sehingga terjadi pembentukan methemoglobin. Methemoglobin ini tidak sanggup sebagai pembawah oksigen ke jaringan, sehingga terjadi kekosongan oksigen dalam darah . dan kemungkinan terjadi defisiensi oksigen dalam jaringan tersebut. Jika hal tersebut terus menerus terjadi akan menyebabkan anemia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Smith dan Mangkoewidjojo . Berdasarkan hasil penelitian bahwa pemberian kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit berpengaruh terhadap jumlah eritrosit Pengaruh kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit terhadap jumlah eritrosit diketahui dengan membandingkan kelompok perlakuan ( P1. P2. P3 dan P. dengan kelompok kontrol negatif. Perlakuan (P. pada konsentrasi 10% jumlah eritrosit 6043 juta/mm3 meningkat menjadi 6640 juta/mm3 , perlakuan (P. dengan konsentrasi 15% jumlah eritrosit 6043 juta/mm3 meningkat menjadi 8193 juta/mm3, perlakuan (P. pada konsentrasi 20% jumlah eritrosit 6043 juta/mm3 meningkat menjadi 8956 juta/mm3 dan perlakuan (P. dengan konsentrasi 25% jumlah eritrosit 6043 juta/mm3 meningkat menjadi 11683 juta/mm3. Berdasarkan hasil ini dapat dilihat bahwa pada masing-masing peningkatan jumlah eritrosit dibandingan kontrol Konsentrasi yang dapat meningkatkan jumlah eritrosit tikus adalah 25% yaitu pada perlakuan (P. Adapun kisaran normal eritrosit tikus yaitu 7,2-12,5 juta/mm3 (Schalm dalam triana, 2. Peningkatan jumlah eritrosit pada tikus dengan Perlakuan (P. 10%, (P. 15%, (P. 20% dan (P. 25% hal ini dikarenakan zat aktif yang terdapat dalam kombinasi kedua ekstrak daun pare dan kunyit mengandung potasium, minyak atsiri, kurkumin, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin B, vitamin C dan besi yang baik sebagai antioksidan. Senyawa flavonoid bersifat antibakteri dengan mekanisme kerjanya adalah merusak membran sel tanpa diperbaiki lagi mendegradasikan protein sel bakteri (Kayani dkk, 2. Jumlah eritrosit dapat menurun karena adanya radikal bebas yang menyerang sel sehingga jumlahnya tidak seimbang antara jumlah sel yang terdapat dalam sirkulasi dengan jumlah sel di sintesis pada sumsum tulang. Radikal bebas adalah molekul yang sangat tidak stabil akibat kekurangan electron. Radikal bebas mengambil elektron dari molekul lain agar menjadi stabil. Electron yang diambil sebagai pasangannya biasa diperoleh dari DNA, membrane sel, membrane lisosom . agian sel yang mengandung enzim hidroliti. , mitokondria . empat reproduksi energy se. , enzim-enzim, lemak, protein, dan bagian jaringan lain. Ketika sebuah molekul donor kehilangan elektronnya . iambil oleh radikal beba. maka molekul itu menjadi tidak stabil sehingga menjadi radikal bebas yang baru. Radikal bebas yang baru itupun memiliki reaktivitas yang sama sehingga terjadilah reaksi oksidasi yang berantai (Supini, 2. Fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut hemoglobin yang didalamnya terdapat banyak oksigen yang berasal dari paruparu ke jaringan. Papaverin dalam darah dapat berinteraksi dengan sel darah merah terutama dalam kemampuan hemoglobin dalam mengikat oksigen, selain itu juga dapat mengalami penurunan aktivitas oksigen dan hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah (Budiono, 2. Jumlah Leukosit Tikus Putih (Rattus Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa setelah pemberian karbon tetraklorida (CCl. jumlah leukosit meningkat dari jumlah normal. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 4. 2 bahwa perubahan jumlah leukosit antara kontrol normal . emberian makan dan minu. dan kontrol negatif . emberian CCl. Rata-rata jumlah leukosit pada kontrol normal (K. 6300/mm3 sedangkan pada kontrol negatif naik menjadi 11166/mm3. Naiknya jumlah leukosit ini disebabkan CCl4 yang diberikan pada tikus peningkatan sel darah putih tikus. CCl4 merupakan salah satu senyawa model nefrotoksik yang bersifat radikal bebas. Induksi karbon tetraclorida dapat merangsang terjadinya sirosis pada tikus dan menghasilkan stress oksidatif. Radikal bebas dapat merusak lipit dan protein sel sehingga menyebabkan hepertensi. Berdasarkan hal ini sesuai dengan pernyataan Sesso, dkk. Hasil analisis data leukosit dapat diketahui bahwa F hitung > F table pada taraf signifikan Dengan demikian, hipotesis nol (H. ditolak dan hipotesis satu (H. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit dapat menurunkan jumlah leukosit pada tikus putih. Untuk mengetahui adanya perbedaan dari tiap perlakuan, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji BNT pada taraf signifikan 5%. Berdasarkan uji lanjut BNT dengan tujuan untuk melihat pengaruh antara tiap kelompok. Adapun nilai BNT . eda nyata terkeci. yang dilakukan diperoleh hasil bahwa perlakuan hasil bahwa perlakuan P4 tidak berbeda nyata dengan perlakuan P3, namun berbeda nyata dengan P2. P1. Kn dan K-. P2 tidak berbeda nyata dengan P1. P2 berbeda nyata dengan Kn . , kemudian antara Kn . dan K(-) berbeda nyata. Dengan demikian dapat dilihat bahwa konsentrasi terbaik untuk menurunkan jumlah leukosit pada tikus putih terdapat pada konsentrasi 25% ekstrak daun pare dan kunyit yang diencerkan dengan 75 ml aquades (P. Pengaruh kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit terhadap jumlah leukosit diketahui dengan membandingkan kelompok perlakuan konsentrasi (P1. P2. P3, dan P. dengan kelompok perlakuan kontrol negatif. Perlakuan (P. pada konsentrasi 10% jumlah leukosit 11166/mm3 menurun menjadi 5700/mm3 , perlakuan (P. dengan konsentrasi 15% jumlah leukosit 11166/mm3 menurun menjadi 5000/mm3, perlakuan (P. pada konsentrasi 20% jumlah leukosit 11166/mm3 menurun menjadi 4000/mm3 dan perlakuan (P. dengan konsentrasi 25% jumlah leukosit 11166/mm3 menurun 3866/mm3. Berdasarkan hasil ini dapat dilihat bahwa pada masing-masing konsentrasi mengalami penurunan jumlah leukosit dibandingan kontrol negatif. Dengan demikian dapat dilihat bahwa konsentrasi terbaik untuk menurunkan leukosit pada tikus putih terdapat pada konsentrasi 25% ekstrak daun pare dan kunyit yang diencerkan dengan 75 ml aquades (P. Jumlah leukosit cenderum akan semakin meningkat dari waktu ke waktu, walaupun peningkatan dan penurunan yang terjadi, berbeda-beda antara setiap kelompok Kisaran leukosit tikus putih secara umum yaitu 4000/mm3-10000/mm3 (Depkes RI. Berdasarkan disimpulkan bahwa telah terjadi peradangangan atau inflamasi yang diakibatkan oleh induksi CCl4 sehingga jumlah leukosit meningkat. Pada Kontrol negatif (K-) yang diinduksi CCl4, mulai menunjukkan pengaruh ditandai dengan kondisi fisik yang tidak normal yaitu pada kaki kanan belakang membengkak, ekor seperti hangus terbakar, dan ukuran tubuh semakin kecil. Menurut Ganong . peningkatan dan penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena pengaruh fisiologis atau patologis. Peningkatan jumlah leukosit dalam darah disebut leukositosis. Leukositosis yang terjadi karena faktor fisiologis yang disebabkan aktivitas otot, rangsangan ketakutan dan gangguan emosional. Sedangkan pengaruh patologis dapat disebabkan oleh proses apatologis dalam tanggapan terhadan serangan Jumlah leukosit dlatas kisaran normal dapat meniadi indikasi adanya infeksi. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asing (Effendi, 2. Leukosit mengalami peningkatan apabila kelenjar adrenal dirangsang, baik secara farmakologis maupun sebagai respon terhadap kebutuhan fisiologis. Sebagian besar stimulasi fisiologis seperti olahraga, stres, pemaparan terhadap suhu yang ekstrim, mengakibatkan leukositosis dengan cara merangsang pengeluaran epinefrin. Sistem imun yang terganggu dapat menimbulkan perubahan fungsi imun khususnya pada sistem imun seluler, misalnya limfosit, basofil, sel mast, platelet, (Widmann,1. Media pembelajaran yang dihasilkan dari penelitian ini berupa poster. Analisis media kelayakan poster dengan melakukan validasi poster oleh tim dosen ahli isi, media dan desain serta 20 orang mahasiswa yang berperan sebagai validator sehingga dapat diperoleh hasil kelayakan media pembelajaran. Setelah dilakukan validasi media, diperoleh dari tim ahli isi sebesar 80%, ahli desain sebesar 78%, ahli media sebesar 80%, dan mahasiswa sebesar 85% dengan rata-rata 80,75%. Dari menunjukkan bahwa poster layak dijadikan sebagai media pembelajaran. Arikunto . pembelajaran pada presentase 80%-100% dikatakan layak. KESIMPULAN Kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit dapat meningkatkan jumlah sel darah merah dan menururunkan sel darah putih tikus. Konsentrasi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit yang efektif mengoptimal jumlah sel darah merah dan sel darah putih tikus yang diinduksi CCl4 yaitu konsentrasi 25%. Serta hasil penelitian ini layak digunakan sebagai media pembelajaran berupa DAFTAR PUSTAKA