http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian The Relationship between Hypertension and Dyslipidemia with Degree of Coronary Stenosis in Patients with Coronary Artery Disease at Abdoel Wahab Sjahranie Hospital in Samarinda Qonita Yaumil Maghfiroh1. Endang Sawitri2. Djoen Herdianto9 Abstrak Pendahuluan: Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menjadi penyebab utama kematian tertinggi di dunia, termasuk Indonesia. PJK disebabkan adanya penyumbatan arteri koroner yang dapat dipastikan dengan pemeriksaan angiografi koroner untuk menilai derajat stenosisnya. Hipertensi dan dislipidemia merupakan faktor risiko utama pada penderita PJK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara hipertensi dan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan crosectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari rekam medik. Sampel penelitian adalah 93 penderita PJK yang menjalani angiografi di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda tahun 2022 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dipilih secara purposive sampling. Hasil: Analisis uji hubungan hipertensi dengan derajat stenosis koroner menunjukkan nilai p-value sebesar 0,632 dan analisis uji hubungan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner menunjukkan nilai p-value sebesar 0,034. Kesimpulan: Hipertensi tidak berhubungan dengan derajat stenosis koroner dan dislipidemia memiliki hubungan yang signifikan dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani Kata kunci: Penyakit Jantung Koroner. Hipertensi. Dislipidemia. Derajat Stenosis Koroner. Angiografi Abstract Introduction : Coronary Heart Disease or Coronary Artery Diseae (CAD) is the leading cause of death in worldwide, including in Indonesia. CAD is caused by blockage of the coronary arteries, which a coronary angiography examination can confirm to assess the degree of stenosis. Hypertension and dyslipidemia are the main risk factors in patients with CAD. Aim : This study aims to analyze the relationship between hypertension and dyslipidemia with the degree of coronary stenosis in patients with CAD who undergo angiography at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital. Method : This study is a type of analytic observational research with a cross-sectional approach. The data used in this study was from medical records. The study sample was 93 patients with CAD who underwent angiography at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital in 2022 and met the inclusion and exclusion criteria selected by purposive Results : The result showed that the relationship between hypertension and the degree of coronary stenosis showed a p-value of 0. 632 and a p-value of 0,034 for the relationship between dyslipidemia and the degree of coronary Conclusion : The conclusion of this study is that hypertension has no relasionship with the degree of coronary stenosis and dyslipidemia has a significant relationship with the degree of coronary stenosis in patients with CAD who undergo angiography. Keywords: Coronary Artery Disease. Hypertension. Dyslipidemia. Degree of Coronary Stenosis. Angiography Submitted: 25 September 2024 Revised: 9 January 2025 Affiliasi penulis : 1 Program Studi Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, 2. Laboratorium Fisiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, 3. SMF Kardiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Korespondensi : AuEndang SawitriAy e. sawitri@fk. PENDAHULUAN Penyakit Jantung Koroner, disebut juga penyakit arteri koroner . oronary artery disebabkan oleh adanya penyumbatan pada arteri koroner dan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara kebutuhan dan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 18 June 2025 suplai oksigen yang masuk ke miokardium. Kondisi ini biasanya melibatkan penumpukan plak aterosklerosis dalam lumen arteri koroner yang menghambat aliran darah . American Heart Association (AHA) pada tahun 2020 secara global memperkirakan bahwa 244,1 juta orang hidup dengan Penyakit Jantung Koroner. Tingkat prevalensi tertinggi di dunia berada di Afrika Utara dan Timur Tengah. Asia Tengah dan Selatan, serta Eropa Timur . Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi PJK di Indonesia Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 berdasarkan diagnosis dokter diperkirakan 447 orang . ,5%), sedangkan dokter/gejala diperkirakan sekitar 2. 340 orang . ,5%). Estimasi jumlah penderita PJK di Kalimantan Timur 767 . ,5%) dan berdasarkan diagnosis/gejala sebanyak 27. %) . Terdapat berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan PJK. Faktor risiko tersebut dibagi menjadi faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi . sia, jenis kelamin, riwayat PJK dalam keluarg. dan yang dapat dimodifikasi . ipertensi, dislipidemia, diabetes melitu. Menurut AHA tahun 2018, sekitar 16,5 juta orang yang berusia di atas 20 tahun di Amerika Serikat memiliki PJK, dan 55% di antaranya adalah laki-laki. Tahun 2020 dilaporkan bahwa secara global diperkirakan sebanyak 244,1 juta orang hidup dengan PJK, dan penyakit ini lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan . asingmasing 141,0 dan 103,1 juta oran. Prevalensi PJK meningkat setelah usia 35 tahun pada laki-laki dan perempuan. Risiko seumur hidup terkena PJK pada laki-laki dan perempuan setelah usia 40 tahun masingmasing adalah 49% dan 32% . Hipertensi tekanan darah sistolik Ou 140 mmHg dan tekanan darah diastolik Ou 90 mmHg. Peningkatan tekanan darah dalam jangka panjang dapat menyebabkan timbulnya disfungsi endotel, yang kemudian memicu proses pembentukan aterosklerosis dan menimbulkan penyempitan . pada arteri koroner, dan pada akhirnya akan menyebabkan timbulnya penyakit jantung coroner . Penelitian oleh Amisi. Nelwan, dan Kolibu . didapatkan bahwa terdapat hubungan antara hipertensi dengan kejadian PJK . = 0,. dan responden yang menderita hipertensi lebih berisiko 2 kali menderita PJK dibandingkan dengan responden yang tidak menderita hipertensi (OR = 2,. Penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta oleh Eliyani. Hartopo, dan Anggraeni . mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman terjadinya stenosis koroner . = 0,. Dislipidemia terjadi akibat adanya akumulasi kolesterol di lapisan intima dan media arteri koroner, yang dalam jangka Dislipidemia ditandai dengan adanya peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama yaitu kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan/atau trigliserida, serta penurunan kolesterol HDL. Penelitian terdahulu menyebutkan adanya hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan kejadian PJK . = 0,. dan responden dengan dislipidemia lebih berisiko 2 kali untuk menderita PJK dibandingkan responden yang tidak dislipidemia (OR = 1,3 Ae 2,. Hasil penelitian oleh Abduh dan Triono . menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar LDL dengan keparahan stenosis koroner . = 0,. Penelitian yang dilakukan oleh Ramadhani . mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar kolesterol total dengan derajat stenosis koroner . = 0,. Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan Widyawati. Yasmin, dan Gunadhi . yang mendapatkan hasil kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan kolesterol non-HDL yang tinggi secara signifikan berhubungan dengan derajat stenosis koroner, sedangkan kadar trigliserida yang tinggi dan kadar HDL yang rendah tidak berhubungan dengan derajat stenosis koroner . Sumbatan pada arteri koronaria yang terjadi pada PJK dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan angiografi koroner. Angiografi koroner merupakan gold standard dan modalitas yang paling akurat untuk mengevaluasi penyakit jantung koroner . Pada pemeriksaan ini dapat diketahui bagaimana distribusi arteri, anatomi dan lokasi arteri, serta dapat mengetahui adanya aterosklerosis atau trombosis pada arteri Selain itu, angiografi koroner juga dapat menilai derajat keparahan stenosis koroner . Derajat keparahan stenosis Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 persentase pengurangan diameter dari arteri Derajat stenosis koroner dapat dikategorikan menjadi: . Normal Coroner, dengan persentase stenosis 0% atau < 20%. Non-Significant atau Non-Obstructive Coronary Artery Disease (NOCAD), dengan persentase stenosis > 20% hingga < 50%. Significant Coronary Artery Disease, dengan persentase stenosis Ou 50% pada Left Main Coronary Artery (LMCA) atau stenosis Ou 70% pada Left Anterior Artery Descending (LAD). Left Circumflex Artery (LCA), atau Right Coronary Artery (RCA) . Berdasarkan dipaparkan di atas dan sejauh pengetahuan peneliti, belum banyak penelitian yang mengangkat hubungan hipertensi dan dislipidemia dengan derajat stenosis pada penderita PJK yang menjalani angiografi yang ditinjau dari pengelompokan signifikan dan non-signifikan di Kalimantan Timur, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui dan mengevaluasi hubungan hipertensi dan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner ditinjau dari hasil yang signifikan dan nonsignifikan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara hipertensi dan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan hubungan hipertensi dan dislipidemia dengan kejadian PJK sehingga masyarakat dapat ikut perkembangan PJK di kemudian hari. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Rekam Medik dan Catheterization Lab (Cath La. RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda pada bulan Agustus 2023. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, sehingga sampel yang Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dipilih disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan oleh penulis. Penelitian ini menggunakan 93 rekam medik pasien sebagai sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu pasien yang didiagnosis mengalami PJK pada pemeriksaan angiografi koroner dan memiliki data tekanan darah atau riwayat penggunaan obat anti hipertensi dan hasil laboratorium pemeriksaan profil lipid atau riwayat penggunaan statin yang tercatat pada rekam medik. Sedangkan untuk kriteria eksklusi adalah penderita PJK dengan data rekam medik yang tidak terbaca dan/atau tidak lengkap. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan Analisi univariat digunakan untuk masingmasing variabel yang akan diteliti dengan melihat distribusi frekuensi dan persentase Analisis menggunakan uji statistik Chi-Square untuk menilai hubungan antara variabel bebas . ipertensi dan dislipidemi. dengan variabel terikat . erajat stenosis korone. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel terikat jika didapatkan nilai p < 0,05. Jika terdapat hubungan yang signifikan, dilanjutkan dengan mengukur Prevalence Ratio (PR). HASIL Tabel di bawah ini menunjukkan karakteristik sampel berupa distribusi dan persentase dari usia, jenis kelamin, riwayat PJK dalam keluarga, hipertensi, dislipidemia, dan derajat stenosis koroner, serta hubungan antara hipertensi dan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi. Tabel 1. Karakteristik Penderita PJK yang Menjalani Angiografi Karakteristik Usia 17-25 tahun 26-35 tahun Jumlah . = . Persentase (%) Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 36-45 tahun 46-55 tahun 56-65 tahun > 65 tahun Mean A SD 51,59 A 10,394 Minimum Maximum Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Riwayat PJK dalam Keluarga Tidak Hipertensi Tidak Dislipidemia Tidak Derajat Stenosis Koroner Normal Koroner Non-Significant CAD Significant CAD Tabel 2. Hubungan Hipertensi dengan Derajat Stenosis Koroner Derajat Stenosis Koroner Normal Koroner NonSignificant CAD Significant CAD Hipertensi Tidak 18 54,5 15 45,5 Total 0,632 Tabel 3. Hubungan Dislipidemia dengan Derajat Stenosis Koroner Derajat Stenosis Koroner Normal Koroner Dislipidemia Tidak 19 57,6 14 42,4 Total NonSignificant CAD Significant CAD 0,51 2,11 0,81 0,03 Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 93 sampel, kelompok usia 17-25 tahun sebanyak 1,1%. 26-35 tahun sebanyak 6,5%. 36-45 tahun sebanyak 21,5%. 46-55 tahun sebanyak 34,4%. 56-65 tahun sebanyak 29,0%. dan usia lebih dari 65 tahun sebanyak 7,5%. Mayoritas subjek penelitian adalah laki-laki sebanyak 51,6% dan sebagian besar subjek penelitian tidak mempunyai riwayat PJK dalam keluarganya yaitu sebanyak 84,9%. Mayoritas penderita PJK yang menjalani angiografi mempunyai hipertensi yaitu sebanyak 50 orang . ,8%) dan sebanyak 58 orang . ,4%) mempunyai Penderita PJK significant CAD merupakan derajat stenosis koroner dengan frekuensi terbanyak yaitu 36 orang . ,7%). Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Tabel 2 menunjukkan bahwa penderita PJK yang mempunyai hipertensi paling banyak memiliki derajat stenosis koroner yang signifikan yaitu sebanyak 58,3%, disusul dengan penderita yang memiliki normal koroner sebanyak 54,5% dan terakhir penderita dengan derajat stenosis koroner yang tidak signifikan sebanyak 45,8%. Hasil analisis hubungan hipertensi dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi berdasarkan uji ChiSquare didapatkan p = 0,632 . > 0,. , yang hubungan antara hipertensi dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi. Tabel 3 menunjukkan bahwa penderita PJK yang mempunyai dislipidemia paling banyak memiliki stenosis koroner yang signifikan yaitu sebanyak 77,8%, diikuti dengan penderita yang memiliki normal koroner sebanyak 57,6% dan terakhir penderita dengan derajat stenosis yang tidak signifikan sebanyak 45,8%. Hasil analisis hubungan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi berdasarkan uji ChiSquare didapatkan p = 0,034 . < 0,. , yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dislipidemia dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi. PEMBAHASAN Dari hasil analisis univariat didapatkan bahwa mayoritas penderita PJK yang menjalani angiografi pada penelitian ini berada pada kelompok usia 46-55 tahun yaitu sebanyak 32 orang . ,4%), dengan usia Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 tertua yaitu 77 tahun dan usia termuda yaitu 24 tahun dan rata-rata usia penderita yaitu 51,59 A 10,394. Jenis kelamin penderita pada penelitian ini paling banyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 48 orang . ,6%). Sebagian besar penderita tidak mempunyai riwayat PJK dalam keluarganya yaitu sebanyak 79 orang . ,9%). Sebagian besar penderita PJK yang menjalani angiografi pada penelitian ini mempunyai hipertensi yaitu sebanyak 50 orang . ,8%), sedangkan penderita yang tidak hipertensi sebanyak 43 orang . ,2%). Dari hasil penelitian juga didapatkan bahwa mayoritas penderita mempunyai dislipidemia yaitu sebanyak 58 orang . ,4%), sedangkan penderita yang tidak dislipidemia sebanyak 35 orang . ,6%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderita PJK dengan significant CAD merupakan derajat stenosis koroner dengan frekuensi terbanyak yaitu 36 orang . ,7%), diikuti penderita PJK dengan normal koroner sebanyak 33 orang . ,5%), dan penderita PJK dengan non-significant CAD sebanyak 24 orang . ,8%). Hasil hipertensi dengan derajat stenosis koroner menunjukkan nilai p = 0,632 . > 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara hipertensi dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Azahra et al. yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan derajat stenosis koroner . = 0,. Namun, hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nakanishi et al. berhubungan secara signifikan dengan derajat stenosis koroner . < 0,. Hipertensi merupakan faktor risiko penting yang terkait dengan peningkatan prevalensi dan keparahan penyakit jantung koroner . Peningkatan tekanan darah pada kondisi hipertensi mempengaruhi tekanan mekanis pada dinding arteri dan menyebabkan timbulnya remodeling pada Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman fibromuskular pada lapisan intima dan media, yang menyebabkan penyempitan lumen vaskular dan akhirnya menyebabkan terbatasnya perfusi miokardium. Keadaan ini menimbulkan kerusakan pada endotel dan menyebabkan masuknya kolesterol LDL ke dalam dinding arteri, sehingga pada akhirnya menyebabkan semakin berkembangnya plak aterosklerosis koroner . Selain itu, adanya peningkatan tekanan darah sistemik pada hipertensi menyebabkan bertambahnya beban ventrikel kiri jantung dikarenakan peningkatan curah jantung ke seluruh tubuh sehingga beban ventrikel kiri yang semakin meningkat tersebut membuat otot jantung ventrikel kiri menjadi hipertrofi (Left Ventricular Hyperthroph. Bertambahnya beban ventrikel akibat hipertrofi ventrikel kiri menimbulkan adanya peningkatan kebutuhan oksigen miokardium sehingga menyebabkan timbulnya iskemia miokardium . Hipertensi menjadi salah satu faktor risiko penting pada terjadinya penyakit Tidak hubungan yang signifikan antara hipertensi dan derajat stenosis koroner pada penderita PJK dapat disebabkan adanya faktor risiko lain yang memiliki hubungan lebih besar dalam menilai derajat stenosis koroner. Penelitian yang dilakukan oleh Azzahra et al. menemukan bahwa faktor risiko merokok dan dislipidemia memiliki hubungan yang lebih besar dalam menilai derajat stenosis koroner dibandingkan dengan hipertensi . Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nahdah et al. juga menemukan bahwa jenis kelamin, riwayat merokok dan diabetes melitus juga mempunyai hubungan yang lebih besar dalam menilai derajat stenosis koroner dibandingkan dengan hipertensi . Pada hasil analisis bivariat hubungan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner didapatkan nilai p = 0,034 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara dislipidemia dengan derajat Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi. Hasil penelitian ini juga memiliki nilai PR sebesar 2,112 pada penderita PJK yang memiliki derajat stenosis koroner signifikan, yang artinya penderita PJK yang memiliki dislipidemia berisiko 2,112 kali lebih tinggi untuk mempunyai derajat dibandingkan dengan penderita yang tidak Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khashayar dan Mohagheghi . yang menemukan dislipidemia dengan derajat stenosis koroner . = 0,. Penelitian oleh Yulianti et al. juga mendapatkan hasil yang serupa dimana terdapat hubungan yang signifikan antara kolesterol LDL dengan derajat stenosis koroner . = 0,. Selain itu, penelitian mengenai hubungan antara profil lipid dengan derajat stenosis koroner yang dilakukan oleh Widyawati et al. hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol total yang tinggi dengan derajat stenosis koroner berdasarkan Gensini Score . Dislipidemia merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit jantung koroner . Dislipidemia merupakan suatu kondisi dimana terjadi abnormalitas pada kadar profil lipid yaitu adanya peningkatan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida, serta penurunan kadar kolesterol HDL . Kadar lipid yang tidak normal dalam sirkulasi darah merupakan faktor risiko utama terjadinya aterosklerosis. Framingham Heart Study dan studi kohort lainnya telah menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung iskemik meningkat dengan kadar kolesterol total serum yang lebih tinggi. Risiko terjadinya penyakit jantung koroner kira-kira dua kali lebih tinggi untuk orang dengan mg/dL dibandingkan dengan orang yang kadar kolesterolnya 200 mg/dL . Terjadinya peningkatan kadar kolesterol total dan trigliserida di dalam darah dapat Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman penyumbatan pada pembuluh darah jantung. Selain itu, peningkatan kadar low-density lipoprotein (LDL) di dalam pembuluh darah juga sejalan dengan terjadinya peningkatan aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Kadar LDL menyebabkan akumulasi dalam ruang subendotel dan mengalami modifikasi kimiawi yang selajutnya merusak tunika intima dan pada akhirnya memulai dan Sebaliknya, peningkatan partikel high-density lipoprotein (HDL) justru kemampuan HDL untuk mengangkut kolesterol dari jaringan perifer kembali ke hati antioksidannya yang diduga antioksidan dan anti-inflamasi . Peningkatan kadar kolesterol total . pengaruh langsung pada otot jantung, tidak hanya berpengaruh pada timbulnya dan perkembangan plak aterosklerosis dan lokasi Hiperkolesterolemia berpengaruh dalam meningkatkan stres oksidatif, disfungsi mitokondria, dan apoptosis yang diinisiasi oleh inflamasi. Hal ini menyebabkan terjadinya disfungsi pada miokardium dan pada akhirnya akan menjadi infark miokardium . Keterbatasan pada penelitian ini yaitu hanya melihat riwayat hipertensi dan dislipidemia tanpa melihat perbedaan lama menderita hipertensi dan dislipidemia obat-obatan hipertensi dan anti dislipidemia yang dikonsumsi penderita PJK. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara hipertensi dengan derajat stenosis koroner dan terdapat hubungan antara dislipidemia dengan derajat stenosis koroner pada penderita PJK yang menjalani angiografi di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 DAFTAR PUSTAKA