Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Literature Review: Faktor Risiko yang Memengaruhi Kejadian Nyeri Menstruasi (Dysmenorrhe. pada Mahasiswi Diah Arum Nurasih1. Desta Dwiana Maharani2. Luthfi Nada Khanifah3. Yasmin Ghaliyah4 . Colti Sistiarani5 . LuAolu Nafisah6 1234Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Jenderal Soedirman 56Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Jenderal Soedirman ghaliyah@mhs. ABSTRAK Dysmenorrhea atau nyeri menstruasi merupakan keadaan nyeri saat menstruasi yang umum dialami oleh perempuan, termasuk mahasiswi. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan berpengaruh pada performa akademik mahasiswi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang memengaruhi kejadian dismenore pada mahasiswi di berbagai negara. Penelitian ini menggunakan metode literature review terhadap 11 artikel penelitian terpilih, baik nasional maupun internasional. Artikel diperoleh melalui pencarian di database elektronik seperti Google Scholar. Science Direct. Scopus, dan PubMed dengan kata kunci yang relevan. Pemilihan artikel dengan penilaian PICO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima faktor utama yang secara konsisten memengaruhi kejadian dismenore. Riwayat keluarga, usia menarche <12 tahun, siklus menstruasi tidak teratur, tingkat stres yang tinggi, dan pola makan memengaruhi dismenore pada Faktor-faktor tersebut memengaruhi keseimbangan hormonal, produksi prostaglandin, serta kontraksi uterus yang menyebabkan nyeri menstruasi. Identifikasi dini faktor risiko dismenore dan intervensi promotif-preventif sangat diperlukan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada mahasiswi dan mengurangi risiko dismenore. Kata kunci : Faktor risiko, mahasiswi, nyeri menstruasi ABSTRACT Dysmenorrhea or menstrual pain is a common condition experienced by women, including female university students. This condition can disrupt daily activities and negatively impact academic This study aims to identify the risk factors influencing the occurrence of dysmenorrhea among female university students across various countries. A literature review method was employed, analyzing 11 selected national and international research articles. The articles were obtained through electronic databases such as Google Scholar. ScienceDirect. Scopus, and PubMed using relevant Selected based on PICO criteria. The results consistently identified five main factors affecting dysmenorrhea incidence. Family history, early menarche . ge under 12 year. , irregular menstrual cycles, high stress levels, and dietary habits. These factors influence hormonal balance, prostaglandin production, and uterine contractions, which cause menstrual pain. Early identification of dysmenorrhea risk factors and promotive-preventive interventions are essential to improve reproductive health among female students and reduce dysmenorrhea risk. Keywords : Risk factors, university students, dysmenorrhea Vol. 10 No. l Juni 2025 Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) PENDAHULUAN Wanita merupakan manusia istimewa yang setiap bulan mengalami menstruasi. Menstruasi merupakan proses meluruhnya dinding rahim wanita . yang terdapat pembuluh darah dan biasanya berlangsung selama 5-7 hari di setiap bulannya. Proses menstruasi yang terjadi secara alami dan berulang setiap bulan sebagai bagian dari siklus hormonal wanita selama masa reproduktif (Liliek, 2. Menstruasi memiliki fungsi penting dalam sistem reproduksi sebagai bentuk persiapan tubuh terhadap kemungkinan kehamilan. Pada sebagian wanita, proses menstruasi seringkali disertai dengan keluhaan berupa nyeri atau sakit yang dirasakan di area perut bagian Dismenore menjadi salah satu keluhan umum yang dapat mengganggu saat terjadi Secara etimologis AudysmenorrheaAy berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti Auhaid yang menyakitkanAy, yaitu keadaan individu saat vagina mengeluarkan darah yang ditandai dengan rasa sakit seperti kram pada perut (Kotta, 2. Dismenore atau dikenal dengan nyeri saat menstruasi merupakan gangguan umum yang dialami pada perempuan dengan keluhan akibat kadar hormon progesteron dalam tubuh yang tidak seimbang, yang akhirnya menimbulkan rasa sakit di bagian perut atau pinggul (Ummiyati & Dewi, 2. Nyeri pada saat menstruasi ini dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga parah sehingga berdampak pada terhambatnya kegiatan sehari-hari. Penyebab dismenore dibedakan menjadi dua jenis, yaitu dismenore primer . ukan berasal dari kelainan organ reproduksi atau tanpa kelainan ginekolog. dan dismenore sekunder . rgan reproduksi (Ummiyati & Dewi, 2. Hampir setengah populasi perempuan di masing-masing negara mengalami dismenore. Hal dismenore menjadi kondisi umum yang terjadi pada perempuan (Taqiyah, 2. Prevalensi dismenore secara global memiliki angka yang cukup tinggi dan bervariasi di berbagai negara, yakni berkisar antara 41,7% hingga 89,1%. Angka kejadian dismenore di Indonesia Vol. 10 No. l Juni 2025 mencapai 64,25% (Nurfadillah et al. Hasil penelitian yang dilakukan di berbagai negara Benua Afrika menunjukkan jumlah total kasus dismenore pada mahasiswi 9% di negara Zimbabwe, sebesar 8% di Nigeria, dan sebesar 51. 5% di Ethiopia Timur (Tadese et al. , 2021. Ogunyemi et al. , 2022. Nyirenda et al. , 2. Pada penelitian di sebagian negara Benua Asia, ditemukan mahasiswa yang mengalami dismenore di India sebesar 92% dan di China 7%, (Benson-Thomas et al. , 2025. Hu et al. , 2. Negara Spanyol menjadi salah satu negara di Benua Eropa yang 9% mahasiswi mengalami dismenore (Franco-Antonio et al. , 2. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa dismenore berdampak nyata terhadap penurunan performa akademik (Karimah. Mahasiswi menjadi kelompok usia yang berisiko tinggi mengalami dismenore. Hal ini disebabkan karena mereka berada dalam masa reproduktif aktif. Tingginya angka kejadian dismenore pada mahasiswi di berbagai negara dipengaruhi oleh beberapa faktor. Oleh karena itu, peneliti menyusun literature review ini dengan tujuan untuk mengetahui faktor risiko yang memengaruhi terhadap kejadian dismenore pada mahasiswi di berbagai negara. Penelitian ini dilakukan sebagai dasar untuk menentukan intervensi yang tepat sehingga prevalensi kejadian tersebut dapat menurun dari kondisi sebelumnya. METODE PENELITIAN Metode tinjauan literatur . iterature revie. digunakan pada penelitian ini dimana peneliti menelaah dan menganalisis hasil penelitian di berbagai negara. Artikel yang digunakan dalam literatur ini diperoleh melalui pencarian database elektronik, seperti Google Scholar. Science Direct. Scopus, dan Pubmed. Pencarian jurnal menggunakan kata kunci, yaitu nyeri menstruasi/dysmenorrhea dan mahasiswi/university students. Kriteria inklusi artikel yang ditetapkan. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) meliputi . artikel penelitian yang dipublikasikan merupakan terbitan lima tahun terakhir dengan rentang tahun 2020-2025. berbentuk full-text. artikel yang digunakan . artikel berbahasa Inggris dan Indonesia. topik membahas tentang nyeri menstruasi . pada mahasiswi. Metode pemilihan artikel yang dicari menggunakan penilaian PICO, meliputi population mahasiswi, intervension . ang mengalami dismenor. , comparison . ang tidak mengalami dismenor. , dan outcome, yaitu terdapat faktor risiko yang memengaruhi dismenore pada mahasiswi. HASIL Dari hasil pencarian awal, diperoleh 16. 550 artikel dari Google Scholar, 821 artikel dari Science Direct, 387 artikel dari Scopus, dan 185 artikel dari PubMed. Kemudian dilakukan proses penyaringan dan artikel yang tidak memenuhi syarat kriteria dikeluarkan dari proses analisis. Setelah proses seleksi dan analisis, ditemukan 11 artikel terpilih dengan rincian 9 artikel dari penelitian di luar negeri dan 2 artikel dari penelitian di dalam negeri yang disusun dalam satu literature review berbentuk tabel sebagai hasil penelitian. Tabel 1. Hasil Review Artikel Judul dan Negara Prevalence associated risk factors students in Zimbabwe Negara: Zimbabwe Prevalence Dysmenorrhea Associated Factors Among Haramaya University Students. Eastern Ethiopia Negara: Ethiopia Timur Prevalence and Risk Factors Associated with Primary Vol. 10 No. l Juni 2025 Metode Hasil Penelitian Penelitian Trust Nyirenda T. Elliot Cross Faktor risiko Nyagumbo. Grant sectional memengaruhi dismenore Murewanhema. Nyasha pada mahasiswi, yaitu Mukonowenzou, riwayat keluarga positif Shingirai Brenda dismenore, usia menarche Kagodora. Cladnos <13 tahun, dan siklus Mapfumo. Michael menstruasi yang tidak Bhebhe. Jacob Mufunda Penulis dan Tahun Tiruye Tilahun Mesele. Cross Merga Dheresa, sectional Lemessa Oljira. Elias Bekele Wakwoya. Getu Megersa Gemeda . Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu (O12 kecemasan, konsumsi teh Zhao Hu MD. Lu Tang Cross MD. Ling Chen MD, sectional Atipatsa Chiwanda Kaminga MD. Huilan Xu Ph . Ou4 gelas per hari, makanan tinggi lemak dan minyak, dan kebiasaan konsumsi daging. Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu berat badan kurang (IMT . , siklus menstruasi tidak Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Dysmenorrhea among Chinese Female University Students: Cross-sectional Study Negara: China Prevalence associated risk factors and its relationship university students in Ethiopia: a crosectional study Negara: Ethiopia Dysmenorrhea. Premenstrual Syndrome. Lifestyle Habits in Young University Students in Spain: A Cross-Sectional Study Negara: Spanyol Prevalence Associated Factors of Dysmenorrhea Among University Students in Tamil Nadu. India: A Cross-Sectional Study Negara: India Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Dismenore Primer Pada Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Negara: Indonesia Vol. 10 No. l Juni 2025 teratur, usia menarche <12 tahun, riwayat dismenore pada ibu, melewatkan makanan rendah serat. Mesfin Tadese. Cross Andargachew Kassa, sectional Abebaw Abeje Muluneh. Girma Altaye . Faktor risiko pada mahasiswi, yaitu konsumsi coklat dua batang per hari, siklus menstruasi keluarga positif dismenore. Cristina Franco- Cross Antonio. Esperanza sectional Santano-Mogena. Sergio CordovillaGuardia . Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu tingkat kepatuhan rendah terhadap diet Mediterania . onsumsi makanan rendah lemak dan tinggi sera. Benson Thomas. Cross Daniyal J. Venmathy S. , sectional Kowsalya B. Samal. Janmejaya . Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu melewatkan sarapan. Ghina Thasmara. Widi Cross Raharjo. Eka Ardiani sectional Putri . Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu tingkat stress yang tinggi, tingkat aktivitas fisik yang konsumsi fast food. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) Prevalence. Lifestyle Factors and Health Effects Dysmenorrhea Among Female Students at Private Universities in Osun State. Nigeria Negara: Nigeria Olatimbo Dunsin Cross Ogunyemi. Samuel sectional Dada. Adeola Oshineye. James Atolagbe . Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu pola makan dengan konsumsi sayur dan buah-buahan. Association stress among female students at Universal College of Medical Sciences. Bhairahawa Negara: Nepal Korelasi Dismenore Primer Dan Usia Menstruasi Pertama Pada Mahasiswi Kedokteran Universitas Tarumanagara Negara: Indonesia Preetu Gurung. Jay Cross Prakash Jha. Bishal sectional Joshi . Faktor memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu tingkat stress yang tinggi. Kanaya Fide Kusuma. Ricky Susanto . Cross Faktor memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu usia menarche <12 tahun Primary Dysmenorrhea Associated Psychological Distress in Medical Sciences Students in The North of Iran: A Crosectional Study Negara: Iran Utara Hajar Adib-Rad. Farzan Cross Kheirkha. Mahbobeh sectional Faramarzi. Shabnam Omidvar. Zahra Basirat. Mahmoud Haji Ahmadi Faktor risiko memengaruhi dismenore pada mahasiswi, yaitu riwayat keluarga positif PEMBAHASAN Dari hasil penelitian pada artikel yang telah ditinjau dan dianalisis, ditemukan bahwa terdapat kemiripan faktor-faktor yang memengaruhi dismenore pada mahasiswi di masing-masing negara. Rata-rata metode penelitian yang digunakan berupa cross sectional menunjukkan kesamaan faktor risiko yang berhubungan dengan dismenore pada Sebanyak 5 faktor risiko berpengaruh dengan terjadinya dismenore pada mahasiswi dari beberapa studi yang telah ditinjau dan dianalisis, meliputi faktor riwayat keluarga positif dismenore, usia menarche <12 tahun, siklus menstruasi tidak teratur, tingkat stress yang tinggi, dan pola makan. Vol. 10 No. l Juni 2025 Faktor Riwayat Keluarga yang Positif Dismenore Faktor riwayat keluarga yang positif dismenore menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya dismenore. Faktor ini mencerminkan adanya pengaruh genetik dan pola keturunan yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang wanita mengalami Secara biologis, dismenore yang dialami dapat diturunkan dari ibu atau anggota keluarga lain yang juga memiliki riwayat nyeri menstruasi, menunjukkan adanya predisposisi genetik yang memengaruhi sensitivitas terhadap nyeri menstruasi. Berdasarkan penelitian oleh Nyirenda et . di Zimbabwe, mahasiswi yang Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) mempunyai riwayat keluarga dismenore hampir dua kali lebih mungkin untuk menderita dismenore. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil mahasiswi yang terkena dismenore sebesar 55. 2%, artinya lebih banyak dismenore dibandingkan mahasiswi yang keluarganya tidak mempunyai riwayat Penelitian dari Adib-Rad et al. di Iran Utara juga mendukung penemuan tersebut, yang menyebutkan bahwa riwayat keluarga memengaruhi dismenore pada mahasiswi. Riwayat keluarga sebagai faktor risiko dismenore menunjukkan bahwa predisposisi genetik dan lingkungan keluarga berperan dalam kejadian nyeri haid. Usia Menarche <12 tahun Usia menarche <12 tahun memengaruhi Menarche menstruasi perdana pada perempuan dengan akibat luruhnya dinding endometrium rahim yang diidentifikasi keluarnya darah melalui Umumnya menarche normal terjadi saat wanita berusia 12 hingga 16 tahun dengan kebanyakan pada saat usia 12 tahun, sedangkan menarche yang dialami saat usia perempuan <12 tahun disebut sebagai menarche dini (Lestari et al. , 2. Beberapa penelitian dari Mesele et al. di Ethiopia Timur dan Hu et al. di China menunjukkan bahwa menarche dini (<12 tahu. memengaruhi kejadian dismenore pada mahasiswi. Wanita yang mendapatkan menarche lebih awal (<12 tahu. lebih berisiko mengalami dismenore daripada wanita dengan usia menarche Ou15 tahun. Hal ini disebabkan oleh menarche dini yang memicu paparan prostaglandin dalam jangka waktu lebih lama pada mahasiswi. Sekresi prostaglandin merangsang peningkatan kontraksi uterus sehingga akan menimbulkan dismenore atau rasa nyeri saat menstruasi (Mesele et al. , 2. Hasil penelitian dari Fide Kusuma & Susanto Indonesia menunjukkan temuan yang serupa. Mereka memengaruhi terjadinya dismenore, dimana sebanyak 125 mahasiswi yang mengalami nyeri menstruasi terdapat 39 orang diantaranya usia menarche <12 tahun. Organ reproduksi yang cenderung belum berkembang dan Vol. 10 No. l Juni 2025 berfungsi secara sempurna saat terjadi <12 penyempitan pada leher rahim sehingga muncul nyeri menstruasi (Fide Kusuma & Susanto, 2. Siklus Menstruasi yang Tidak Teratur Siklus menstruasi merupakan serangkaian perubahan sistem reproduksi perempuan selama periode waktu tertentu yang ditandai dengan perdarahan uterus secara berkala (Norlina. Durasi berlangsung antara 2 hingga 8 hari dengan volume cairan darah normal sekitar 30cc yang didalamnya mengandung bekuan darah dan jaringan endometrium (Floriana et al. , 2. Sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Tadese et al. di Ethiopia. Nyirenda et . di Zimbabwe, dan Hu et al. di China menemukan bahwa perempuan dengan siklus menstruasi yang tidak teratur memiliki risiko tinggi mengalami dismenore. Hal ketidakseimbangan hormonal yang terjadi pada siklus menstruasi tidak teratur sehingga berlebihan didalam rahim (Tadese et al. Selain itu, disebabkan oleh peningkatan aktivitas uterus selama menstruasi, efisiensi kerja ovum menurun, peningkatan produksi prostaglandin (Hu et al. , 2. Prostaglandin merupakan senyawa lemak yang memiliki peran penting dalam mekanisme munculnya rasa nyeri, termasuk ketika menstruasi (Wiyatagati et al. , 2. Dengan demikian, siklus menstruasi dapat berdampak pada produksi prostaglandin yang semakin meningkat (Nyirenda et al. , 2. Tingkat Stress yang Tinggi Stress adalah sesuatu sistem pertahanan badan dimana terdapat suatu hal yang ketentraman, sehingga merasa kesulitan dalam menyesuaikan perubahan hidup seperti tuntutan yang wajib dituntaskan. Penyebab stress terhadap mahasiswa yaitu jadwal kuliah padat, materi kuliah semakin lama semakin sulit, harapan orang tua untuk berhasil kuliah, masalah keuangan, perbedaan pendapat dan adanya perubahan lingkungan tempat tinggal. Hal tersebut sangat jauh berbeda pada saat masih di sekolah. Saat seseorang mengalami stress. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) tubuhnya akan memproduksi hormon dalam jumlah yang lebih seperti adrenalin, estrogen, dan prostaglandin. Kadar estrogen yang tinggi dapat memicu kontraksi berlebih pada area Begitu dengan hormon adrenalin, sehingga menyebabkan ketegangan otot di seluruh tubuh, termasuk otot rahim (Marlanti, , et al. , 2. Penelitian Gurung et al. di Nepal dan Thasmara et al. di Indonesia menyebutkan bahwa mahasiswi yang mengalami dismenore memiliki tingkat stress yang tinggi. Stress yang terjadi pada mahasiswa dapat memberikan konsekuensi negatif terhadap proses pembelajaran dan kemampuan otak dalam berpikir. Hal yang timbul akibat stress pada saat menstruasi seperti cemas, mudah marah, kesulitan dalam berpikir, bahu sakit, sulit bernafas dan mencemaskan sesuatu yang Selain itu, stress dapat memengaruhi siklus menstruasi sehingga stress yang dialami tidak boleh dianggap remeh karena akan mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh. Siklus menstruasi akan terganggu apabila terdapat gangguan pada sistem metabolisme (Melia Rahma et al. , 2. Pola Makan Salah memengaruhi terjadinya dismenore pada mahasiswi yaitu pola makan. Pola makan yang buruk, seperti kebiasaan konsumsi makanan dengan kandungan tinggi lemak dan minyak, konsumsi fast food, dan kebiasaan konsumsi daging dapat menyebabkan peningkatan dismenore pada wanita. Padatnya aktivitas dan jadwal perkuliahan menyebabkan mahasiswa memiliki pola makan yang sembarangan, seperti cenderung mengonsumsi makanan fast food dan kurang mengonsumsi makanan tinggi serat berupa sayur dan buah (Tismardi et al. Hasil penelitian Thasmara et al. di Indonesia menemukan bahwa mahasiswi pendidikan dokter yang mengonsumsi fast food cenderung mengalami dismenore primer. Tingginya kandungan asam lemak omega-6 dalam makanan fast food yang bersifat meningkatkan kontraksi otot rahim sehingga memicu terjadinya dismenore (Thasmara et , 2. Asam lemak trans dalam makanan Vol. 10 No. l Juni 2025 fast food juga berperan sebagai salah satu akar radikal bebas yang bersifat destruktif terhadap sintesis fosfolipid menjadi prostaglandin sehingga menimbulkan rasa nyeri saat keluar darah dari vagina (Nurfadillah et al. , 2. Penelitian Mesele et al. di Ethiopia Timur konsumsi makanan dengan kandungan tinggi lemak dan minyak memengaruhi terjadinya dismenore pada mahasiswi, dimana mahasiswi yang memiliki kebiasaan konsumsi tinggi lemak dan minyak berisiko 2 kali lebih besar mengalami dismenore dibanding yang tidak mengonsumsi makanan tinggi lemak dan Hal tersebut disebabkan karena makanan tinggi lemak dan minyak dapat meningkatkan kadar estrogen yang memicu rangsangan pada endometrium dan proliferasi metrium sehingga timbul kram. Pada penelitian yang sama juga ditemukan bahwa kebiasaan konsumsi daging memengaruhi terjadinya dismenore, dimana mahasiswi yang memiliki kebiasaan konsumsi daging berisiko 4 kali lebih besar mengalami dismenore dibandingkan yang tidak konsumsi daging. Tingginya kandungan lemak jenuh yang terdapat pada daging memicu terjadinya peradangan sehingga dapat memperburuk kram (Mesele et al. , 2. Penelitian Tadese et al. di Ethiopia menemukan bahwa kebiasaan konsumsi coklat dua batang per hari memengaruhi terjadinya dismenore dengan risiko 3 kali lebih besar. Tingginya kandungan gula dalam coklat mengakibatkan absorbsi dan metabolisme zat seperti vitamin dan mineral mengalami gangguan sehingga timbul nyeri saat menstruasi Tadese et al. , 2. Faktor lainnya terkait pola makan yang dapat memengaruhi terjadinya dismenore yaitu melewatkan makanan atau sarapan. Thomas Benson et al. yang melakukan penelitian pada mahasiswi di India dan Hu et . di China mengungkapkan bahwa mahasiswi yang melewatkan sarapan cenderung mengalami dismenore. Hal tersebut disebabkan karena melewatkan sarapan berkaitan dengan asupan makanan yang kurang memadai dapat mengakibatkan defisiensi nutrisi di pagi hari, contohnya kurangnya konsumsi makanan bergizi kaya akan serat memiliki hubungan dengan rasa nyeri saat menstruasi (Hu et al. , 2. Melewatkan sarapan dapat memperburuk Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia ( Indonesian Health Scientific Journal ) penyerapan nutrisi sehingga menyebabkan menstruasi tidak teratur dan peningkatan intensitas nyeri (Tadese et al. , 2. Sementara itu, pola makan yang baik dapat menurunkan terjadinya dismenore. Penelitian Ogunyemi et al. di Nigeria menunjukkan bahwa pola makan dengan buah-buahan berhubungan dengan penurunan kadar estrogen berlebih dan mengurangi dismenore. Hal tersebut sejalan dengan penelitian FrancoAntonio et al. di Spanyol yang Mediterania yang rendah memengaruhi Diet Mediterania dilakukan dengan konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, sereal, dan kacang-kacangan yang tinggi. daging putih dan ikan dalam jumlah sedang. konsumsi lemak jenuh yang rendah. penggunaan minyak zaitun sebagai sumber lemak utama (Kiani et al. , 2022 dalam FrancoAntonio et al. , 2. Diet Mediterania berhubungan dengan perlindungan terhadap stress, inflamasi, dan modifikasi hormon sehingga dapat menurunkan dismenore (AlAubaidy et al. , 2021. Serra-Majem et al. , 2019. Tuttolomondo et al. , 2019 dalam FrancoAntonio et al. , 2. Selain uraian 5 faktor risiko utama di atas yang memengaruhi terjadinya dismenore, dalam tinjauan literatur terhadap 11 jurnal terpilih ditemukan juga beberapa faktor lain yang dapat berpengaruh, seperti sindrom pra menstruasi, konsumsi teh Ou4 gelas per hari, berat badan yang kurang (IMT <. , dan tingkat aktivitas fisik yang rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Dysmenorrhea atau nyeri menstruasi merupakan masalah kesehatan reproduksi umum di berbagai negara dengan prevalensi yang tinggi dan mengganggu akademik Berdasarkan hasil tinjauan literatur terhadap 11 artikel terpilih, terdapat 5 faktor utama yang ditemukan secara konsisten, yaitu riwayat keluarga, usia menarche <12 tahun, siklus menstruasi tidak teratur, tingkat stress yang tinggi, dan pola makan. Faktor-faktor ini Vol. 10 No. l Juni 2025 berkontribusi melalui mekanisme hormonal dan mekanisme inflamasi yang memperburuk Oleh karena itu, melalui hasil review ini, kesadaran mahasiswa terkait pentingnya deteksi dini faktor risiko dismenore semakin Intervensi promotif dan preventif, seperti edukasi pola hidup sehat, pengelolaan stres, dan perbaikan pola makan, sangat diperlukan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada mahasiswi dan mengurangi risiko dismenore. Penggunaan studi kohort dan longitudinal lebih lanjut perlu dilakukan memvalidasi dan mengevaluasi hubungan antara berbagai faktor risiko dan nyeri menstruasi . REFERENSI