Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. DOI: https://doi. org/10. 59031/jkppk. Available Online at: https://jurnal. id/index. php/jkppk Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia Wahyu Sihab1*. Mukhsin Achmad2 Universitas Islam Indonesia. Indonesia E-mail: wahyusihab693j@gmail. com1, mukhsin. achmad78@gmail. Alamat: Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman. Yogyakarta *Korespondensi penulis: wahyusihab693j@gmail. Abstract. This research discusses Ki Hajar Dewantara's concept of educational thought, focusing on character education and the formation of students' personalities, as well as the challenges and opportunities in integrating this thought into the national education system. Ki Hajar Dewantara emphasized the importance of liberating education, namely education that does not only focus on intellectual aspects, but also on the formation of students' character as a whole so that they become independent, noble, and highly motivated individuals. In the current context of national education. Ki Hajar Dewantara's ideas are still relevant, but their implementation faces various challenges, such as a dense curriculum, lack of in-depth understanding among educators, and the dominance of cognitive approaches in schools. However, there are also great opportunities to integrate Ki Hajar Dewantara's educational values through curriculum reform, training for educators, and the application of holistic learning methods. This study concludes that the integration of Ki Hajar Dewantara's thoughts into the national education system can be a strong foundation for building a generation that is not only intelligent, but also has character, provided that the existing challenges can be overcome with a comprehensive approach. Keywords: Educational Thought. Education System. Character. Abstrak. Penelitian ini membahas konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara, dengan fokus pada pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian siswa, serta tantangan dan peluang dalam mengintegrasikan pemikiran tersebut ke dalam sistem pendidikan nasional. Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pendidikan yang memerdekakan, yakni pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa secara utuh agar mereka menjadi individu yang mandiri, berakhlak mulia, dan berdaya juang tinggi. Dalam konteks pendidikan nasional saat ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara masih relevan, namun penerapannya menghadapi berbagai tantangan, seperti kurikulum yang padat, kurangnya pemahaman mendalam di kalangan pendidik, dan dominasi pendekatan kognitif di sekolah-sekolah. Meski demikian, terdapat pula peluang besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara melalui pembaruan kurikulum, pelatihan bagi tenaga pendidik, dan penerapan metode pembelajaran yang holistik. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi pemikiran Ki Hajar Dewantara ke dalam sistem pendidikan nasional dapat menjadi fondasi yang kuat untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, asalkan tantangan yang ada dapat diatasi dengan pendekatan yang komprehensif. Kata Kunci: Pemikiran Pendidikan. Sistem Pendidikan. Karakter. LATAR BELAKANG Definisi pendidikan dalam Sistem Pendidikan Nasional tercantum dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa: AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Ay Received Desember 04, 2024. Revised Desember 16, 2024. Accepted Januari 06, 2025. Published Januari 09, 2025 Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia Setiap negara memiliki undang-undang yang mengatur tentang Pendidikan. Undangundang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional saat ini mengatur dasar-dasar pelaksanaan pendidikan di Indonesia (Affandi, 2. Peningkatan kualitas dan pemerataan kesempatan pendidikan harus dijamin oleh sistem pendidikan nasional. Sejalan dengan perkembangan zaman, pendidikan kini mencakup lebih dari sekadar pengajaran. juga melibatkan upaya untuk membantu para siswa mencapai potensi penuh mereka dan membentuk kepribadian mereka, karena pendidikan adalah aspek yang paling penting dalam kehidupan dan meningkatkan taraf hidup Masyarakat. Peningkatan kualitas manusia dapat dicapai melalui pendidikan, yang terutama difokuskan untuk memaksimalkan potensi setiap orang dengan cara yang penuh kasih sayang, sehingga dapat berkembang menjadi pribadi yang memiliki keterampilan dan kepribadian yang baik untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memadai (Mulyasana et al. , 2. Manusia sangat berharap bahwa nilai-nilai kemanusiaan akan ditularkan melalui pendidikan sehingga dapat segera tertanam dalam kepribadian, karakter, dan watak mereka (Triwiyanto et , 2. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memainkan peran penting sebagai upaya strategis dalam membangun dan memperbaiki karakter generasi muda saat ini (Digdoyo et al. , 2. Melalui proses pendidikan yang terarah dan berlandaskan nilai-nilai moral, diharapkan generasi penerus dapat berkembang menjadi individu yang memiliki integritas, etika, serta tanggung jawab sosial yang tinggi, sehingga mampu menghadapi tantangan zaman dengan sikap yang positif dan konstruktif. Melihat kondisi karakter generasi muda saat ini, tampaknya masih banyak komponen yang belum sesuai dengan nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan oleh pendidikan nasional. Hal ini terlihat dari beberapa kasus di mana siswa memiliki sentimen yang kurang baik terhadap guru dan teman sekelasnya. Perundungan, pelecehan verbal dan fisik, ancaman, rasa tidak hormat, dan penindasan yang terus menerus adalah contoh dari perilaku ini. Bahkan, insiden kekerasan di lingkungan pendidikan terkadang menyebabkan kematian dan dampak yang sangat buruk (Nurdianto et al. , 2018 Fenomena ini menunjukkan bahwa untuk menyelaraskan tujuan pendidikan nasional dengan lebih baik, pendidikan harus memainkan peran yang lebih signifikan dalam membentuk karakter generasi berikutnya. Seorang siswa memukul guru SMK Negeri 1 Woha di Bima. Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial MH . Muhammad Sofyan, karena tak terima ditegur merokok di dalam kelas. Hal yang sama, dilansir dari Kompas. com, pada 05/01/2023, pukul Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan - Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. 19:04 WIB. Seorang siswa SMA kelas XI berinisial ST dilaporkan ke polisi usai memukul gurunya sendiri. SV . di Bengkulu. Banyaknya insiden kekerasan yang terjadi bertentangan dengan tujuan pendidikan Yakni, mengembangkan keterampilan dan membentuk budaya dan karakter negara yang terhormat (Humaeroh, et al. , 2. Mengembangkan karakter siswa untuk menjadi individu yang berkualitas adalah tujuan lain dari pendidikan nasional. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus bangsa, penyedia layanan pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Hal ini termasuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat, bertindak sebagai mitra dan fasilitator, dan yang terpenting meningkatkan sistem pendidikan. Hal inilah yang sudah ada jauh sebelum KI Hajar Dewantara mendirikan sistem Pendidikan, sebagaimana tercantum dalam Tut wuri Handayani. Ki Hajar Dewantara berjuang untuk membangun sistem pendidikan di tengah diskriminasi yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, masyarakat Indonesia tidak merasakan kebebasan dalam belajar, karena pendidikan kolonial hanya ditujukan untuk mencetak pegawai yang cakap untuk kepentingan pemerintahan Belanda (Felisitas, 2. Akibatnya, kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang benar-benar membebaskan sangat terbatas dan tidak merata. Berdasarkan kenyataan ini. Ki Hajar Dewantara merumuskan bahwa pendidikan harus merdeka, baik secara lahir maupun batin (Febriyanti et al. , 2. Pendidikan ideal menurutnya adalah yang mampu melahirkan manusia yang benar-benar bebas, tumbuh secara utuh, dan berkembang selaras dengan potensi kemanusiaan di dalam dirinya. Melalui pendidikan yang memerdekakan ini, tujuan akhirnya adalah menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara emosional dan sosial, sehingga segala bentuk kekerasan, perundungan, dan tekanan yang kerap terjadi dalam kehidupan saat ini dapat diminimalisir. Dengan demikian, meskipun dalam konteks zaman yang berbeda, konsep pendidikan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara tetap relevan dalam menjawab tantangan dan kebutuhan karakter generasi muda di masa kini. KAJIAN TEORITIS Teori Pendidikan Humanistik - Carl Rogers dan Abraham Maslow Teori pendidikan humanistik, yang dikembangkan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow, berfokus pada pengembangan potensi individu peserta didik dan penghargaan terhadap pengalaman pribadi dalam proses pembelajaran. Dalam teori ini, pendidikan dianggap berhasil jika mampu memanusiakan siswa, yaitu menghargai kebutuhan emosional, psikologis. Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia dan sosial mereka, serta mengembangkan potensi unik setiap siswa. Rogers, dalam konsep pembelajaran yang berpusat pada manusia . erson-centered learnin. , menekankan pentingnya lingkungan belajar yang mendukung kemandirian dan pertumbuhan individu, sedangkan Abbraham Maslow menyoroti bahwa siswa perlu memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti rasa aman dan penerimaan, sebelum mereka dapat mencapai aktualisasi diri dalam Teori Pendidikan Sosial-Kultural - Lev Vygotsky Teori pendidikan sosio-kultural, yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky, menekankan bahwa pembelajaran adalah hasil dari interaksi sosial yang aktif dan lingkungan di mana siswa Menurut Vygotsky, pengetahuan terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, seperti orang tua, guru, teman sebaya, dan anggota masyarakat. Proses ini sangat dipengaruhi oleh zona perkembangan proksimal (ZPD), yaitu jarak antara apa yang dapat dilakukan siswa secara mandiri dan apa yang dapat mereka capai dengan bantuan orang lain. Lingkungan sosial, termasuk dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, memainkan peran penting dalam pengembangan kemampuan siswa dan memperkaya pengalaman belajar mereka. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka . iterature revie. , yang bertujuan menghasilkan keluaran berupa analisis data yang tersedia serta penjelasan terhadap suatu temuan sehingga dapat dijadikan referensi dalam menyusun kajian penelitian yang terstruktur dan mendalam terkait masalah yang akan diteliti. Penulis mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk jurnal, artikel, dan referensi buku, untuk membangun landasan teoritis yang kuat dalam pembahasan. Penelitian ini secara khusus mengadopsi metode systematic literature review untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis berbagai jurnal dalam bidang sosiologi. Hasilnya dirangkum dalam bentuk kesimpulan yang ditelaah secara mendalam menggunakan pendekatan yang terperinci, sehingga menghasilkan temuan akhir yang relevan dan sesuai dengan tujuan penelitian. Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan - Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemikiran Ki Hajar Dewantara & Landasan Sistem Pendidikan Nasional . Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara Ki Hadjar Dewantara merupakan anak bangsawan, namun dengan hal itu tidak menjadikannya gila akan kehormatan. Ki Hadjar Dewantara tidak pernah goyah dalam tekadnya untuk membebaskan rakyat pribumi dari kebijakan-kebijakan yang merugikan dari pemerintah kolonial Belanda. Pada saat itu, ada kepercayaan dan penyakit yang meluas dalam kehidupan sehari-hari di negara kita: beberapa orang percaya bahwa intelektualitas dan energi negara kita tidak mungkin dapat mengorganisir sesuatu yang berharga untuk kemajuan negara kita. Satu-satunya entitas yang mampu mendirikan sekolah dasar yang berkualitas adalah pemerintah kolonial Belanda. Untuk menyelenggarakan pendidikan tingkat yang dapat melenggarakan hanyalah pemerintah colonial Belanda saja yang sanggup. Pribumi hanya dianggap mampu menyelenggarakan pendidikan yang tidak memadai dan tidak Rasa harga diri pribumi dihina, oleh hal ini Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bakatnya pada tahun 1924 dengan mendirikan AuPendidikan Taman Dewasa. Ay (Maiti et al. , 2. Landasan Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan utama pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (Hermanto et al. , 2. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, cakap dalam berbagai bidang, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Amrin, 2. Tujuan ini menunjukkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan siap untuk memberikan kontribusi yang berharga bagi bangsa dan Masyarakat. Pendidikan sebagai suatu sistem dalam rangka mengatur dan mencerdaskan anak bangsa, tidak bisa berdiri sendiri. Tentu membutuhkan interaksi dan Kerjasama (Ahmadi et al. , 1. Hal ini dikarenakan lembaga pendidikan khususnya sekolah Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia terdiri dari siswa, guru, serta masyarakat sekitar atau wali murid. Sehingga disini, ada tiga hal yang tidak bisa dilepaskan yakni Tri Pusat Pendidikan. Tri Pusat Pendidikan, yang terdiri dari keluarga, masyarakat, dan sekolah, merupakan salah satu dari tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Kehidupan sosial dan sekolah saling terkait erat. Melalui dukungan timbal balik, tri pusat pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk menegakkan kerja sama langsung atau tidak langsung antara individu dan organisasi. Sebagai orang tua melakukan perbuatan mendidik terhadap anaknya selanjutnya dilakukan oleh guru atau sekolah dengan memperkuatnya serta dikontrol oleh masyarakat sebagai lingkungan sosial anak (Arifin, 2. Pada intinya antara pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat harus saling bekerjasama. Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Sistem Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara menciptakan gagasan Tri Pusat Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan harus seimbang di antara tiga pusat utama: masyarakat, rumah, dan sekolah (Muhlil et al. , 2. Gagasan ini menyoroti bahwa pendidikan bukan hanya tugas sekolah. keluarga dan masyarakat juga harus berpartisipasi aktif dalam membantu membentuk moral Program-program yang secara aktif melibatkan orang tua dan masyarakat, seperti pendidikan berbasis lingkungan dan kemitraan sekolah dengan masyarakat setempat untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, merupakan contoh penerapan Tri Pusat Pendidikan. Hambatan utama dalam menerapkan Tri Pusat Pendidikan adalah mengkoordinasikan tujuan pendidikan dari ketiga pusat tersebut dan memastikan bahwa setiap komponen bekerja sama dengan komponen lainnya (Maryance et al. , 2. Pencapaian tujuan pendidikan yang komprehensif dapat terhambat oleh ketidakseimbangan peran di antara ketiganya, seperti kurangnya dukungan masyarakat atau keluarga. Analisis Berdasarkan Konsep pendidikan humanistik, yang dikembangkan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow Landasan intelektual dari sistem pendidikan nasional Indonesia adalah filosofi Tut Wuri Handayani, yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Menurut Tut Wuri Handayani, seorang guru harus mendukung, membimbing, dan memberikan bimbingan kepada anak-anak yang tertinggal sehingga mereka dapat mencapai potensi penuh mereka dan berkembang dengan sendirinya (Suryana et al. , 2. Gagasan ini dipraktikkan dalam kebijakan pendidikan yang mendukung siswa untuk belajar aktif, berpikir kritis, dan keterampilan memecahkan Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan - Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. Ide ini diimplementasikan dalam kurikulum dengan menggunakan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dari pengalaman dan tingkat keterlibatan mereka sendiri (Yulianti, 2. Namun demikian, masih ada masalah dengan penerapan Tut Wuri Handayani, seperti kurangnya pelatihan bagi para pengajar untuk sepenuhnya memahami dan menerapkan ide ini dalam pengajaran sehari-hari. Ki Hajar Dewantara memiliki pandangan yang sejalan dengan prinsip-prinsip humanistik, terutama melalui filosofi Tut Wuri Handayani, di mana para pendidik memberikan bimbingan dengan cara mendukung dan mengarahkan anak didik, namun tetap memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Filosofi ini juga tercermin dalam sistem Taman Siswa yang dikembangkannya, yang memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara bebas dan berpartisipasi aktif dalam proses pendidikan, yang mengarah pada pendidikan yang berpusat pada siswa. Pendidikan di Taman Siswa mengutamakan kebebasan berpikir, pengalaman pribadi, dan pengembangan moral, sehingga sejalan dengan teori pendidikan humanistik yang memandang siswa sebagai pusat dari proses Dalam menerapkan teori pendidikan humanistik, konsep ini dapat dibandingkan dengan pendekatan pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Lingkungan belajar di Taman Siswa dirancang untuk mendukung siswa dalam mengembangkan diri mereka secara mandiri, dengan memberikan kebebasan dan dukungan yang berpusat pada kebutuhan Melalui filosofi Tut Wuri Handayani, guru berperan sebagai pendamping yang mendorong siswa untuk mengeksplorasi potensi mereka tanpa tekanan atau paksaan yang berlebihan, sejalan dengan prinsip-prinsip humanistik yang menekankan pada pengembangan diri yang bebas dan bermakna. Pendekatan ini tidak hanya memberikan ruang bagi siswa untuk tumbuh sebagai individu yang kreatif dan bertanggung jawab, tetapi juga menunjukkan bagaimana model pendidikan yang memanusiakan siswa sesuai dengan visi Dewantara dapat menjadi landasan dalam sistem pendidikan nasional. Dengan menempatkan kebutuhan, potensi, dan kesejahteraan siswa sebagai fokus utama, model pendidikan ini berupaya menciptakan generasi yang tidak hanya berpengetahuan luas, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan untuk berpikir secara mandiri. Perbandingan ini menunjukkan bahwa teori pendidikan humanistik dapat memperkuat visi pendidikan yang mengedepankan pengembangan karakter dan integritas peserta didik sebagai bagian integral dari misi pendidikan nasional. Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia Analisis Berdasarkan Konsep pendidikan sosio-kultural, yang dikembangkan oleh Lev Vygotsky Ki Hajar Dewantara memperkenalkan konsep Tri Pusat Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan harus melibatkan kerja sama antara tiga elemen utama: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Konsep ini mencerminkan bahwa pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan sosial. Dengan keterlibatan ketiga komponen tersebut, pembelajaran siswa diharapkan dapat berlangsung secara komprehensif, menghubungkan pengalaman belajar di sekolah dengan nilai-nilai dan dukungan yang ada di lingkungan keluarga dan masyarakat. Teori pendidikan sosio-kultural Vygotsky dapat diterapkan untuk memahami pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan karakter dan kemampuan siswa. Dalam konsep Tri Pusat Pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, pembentukan karakter dan pengembangan akademik siswa tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah saja, keluarga dan masyarakat juga memiliki peran Konsep ini dapat diimplementasikan dalam sistem pendidikan nasional dengan mengintegrasikan kegiatan dan program berbasis masyarakat yang melibatkan orang tua secara aktif dalam pendidikan siswa, baik di dalam maupun di luar sekolah. Melalui dukungan sosial yang diperoleh dari lingkungan keluarga dan masyarakat, siswa mendapatkan beragam pengalaman yang melengkapi pembelajaran formal di sekolah. Penerapan Tri Pusat Pendidikan juga memungkinkan siswa mempraktikkan nilai-nilai sosial, kecakapan hidup, dan pengetahuan akademis dalam konteks yang nyata, sesuai dengan prinsip zona perkembangan proksimal . one of proximal development/ZPD ) dari Vygotsky. Dalam ZPD, bantuan dari lingkungan sosial sangat membantu siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal. Dukungan sinergis antara ketiga pusat ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara berkelanjutan dan beradaptasi dalam konteks budaya mereka, sehingga menciptakan pendidikan yang lebih relevan dan komprehensif bagi mereka Pendidikan yang Berorientasi pada Karakter dan Kebudayaan Nasional: Analisis Implementasi dan Tantangan Dalam lingkungan pendidikan kontemporer, di mana pendidikan harus mengedepankan nilai-nilai moral, etika, dan identitas nasional, gagasan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan prioritas tinggi pada pendidikan berbasis karakter dan budaya nasional sangat relevan (Harini et al. , 2. Generasi yang memiliki prinsip moral yang kuat di samping kecakapan intelektual adalah tujuan dari pendidikan yang berorientasi pada karakter. Mengintegrasikan nilai-nilai Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan - Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. Pancasila ke dalam kurikulum dan menerapkan kegiatan ekstrakurikuler yang mempromosikan toleransi, tanggung jawab, dan persatuan adalah dua cara pendidikan karakter yang diterapkan di Indonesia. Melestarikan dan menghargai sejarah budaya daerah sebagai komponen identitas nasional adalah tujuan dari pendidikan berbasis budaya nasional (Saputri et al. , 2. Pendidikan berbasis karakter dan budaya bangsa masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya, antara lain kurangnya pengetahuan para pengajar mengenai pendidikan karakter dan kurangnya sumber daya pembelajaran yang memperhatikan variasi budaya Untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar berlandaskan pada cita-cita karakter dan budaya bangsa Indonesia, diperlukan kerja sama antara pemerintah, pendidik, dan Secara keseluruhan, gagasan Ki Hajar Dewantara sangat relevan dengan sistem pendidikan nasional karena dapat menjawab kebutuhan akan pengajaran yang berfokus pada pengembangan karakter dan identitas nasional di samping keberhasilan akademis. Prinsipprinsip Ki Hajar Dewantara terus menjadi dasar yang penting untuk membesarkan generasi yang mandiri, bermoral, dan menghargai budaya bangsa, meskipun ada kesulitan dalam Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Sistem Pendidikan Nasional Konsep-konsep Ki Hajar Dewantara menyentuh elemen-elemen penting dalam pengembangan karakter, nilai-nilai budaya, serta pola pendidikan yang kontekstual dan holistik, konsep-konsep tersebut sangat relevan dengan sistem pendidikan nasional Indonesia (Nasarudin et al. , 2. Teori-teorinya, sebagai pelopor pendidikan nasional, menawarkan landasan konseptual untuk pengajaran yang menekankan pertumbuhan manusia seutuhnya, termasuk prinsip-prinsip moral, kemandirian, dan kesadaran sosial, di samping keberhasilan Tut Wuri Handayani, yang diterjemahkan menjadi Audari belakang, seorang guru memberikan doronganAy, adalah salah satu gagasan utama yang ia keluarkan (Ruth et al. , 2. Dengan guru yang berperan sebagai pendorong dan bukan sebagai sumber pengetahuan, gagasan ini mendorong pendidikan yang membantu murid untuk berkembang sendiri. Pendekatan yang berpusat pada siswa yang saat ini digunakan dalam kurikulum nasional, yang mendorong siswa untuk menjadi lebih aktif, kreatif, dan kritis, didasarkan pada gagasan ini. Meskipun ada kendala yang harus diatasi dalam hal kesiapan guru dan jaringan pendukung. Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia prinsip-prinsip yang diajarkan masih dapat diterapkan sebagai dasar untuk membesarkan generasi pemikir yang terampil dan fleksibel. Selain itu. Ki Hajar Dewantara memperkenalkan gagasan Tri Pusat Pendidikan, yang menekankan bahwa keluarga dan masyarakat terlibat dalam pendidikan dan bahwa sekolah bukanlah satu-satunya lembaga yang bertanggung jawab untuk itu (Darmaji, 2. Dengan gagasan ini, beliau menyoroti betapa pentingnya keterlibatan masyarakat dan keluarga dalam proses pendidikan untuk menumbuhkan suasana yang mendorong perkembangan karakter anak-anak. Masih ada kesulitan dalam mempraktekkan ide ini, terutama dalam hal mengkoordinasikan tugas dari ketiga pusat tersebut. Di sisi lain. Tri Pusat Pendidikan menawarkan titik awal bagi terciptanya ekosistem pendidikan yang integratif, yang diperlukan untuk pengembangan manusia yang matang secara sosial dan moral (Efendi et al. , 2. Ki Hajar Dewantara menyoroti nilai budaya nasional dan pendidikan yang berorientasi pada karakter. Menurutnya, nilai-nilai kebangsaan, moralitas, dan etika-yang semuanya berakar pada identitas dan budaya bangsa-harus diajarkan di sekolah (Suwardi et al. , 2. Tuntutan pendidikan modern, yang bertujuan untuk mempromosikan rasa hormat satu sama lain, kecintaan terhadap bangsa, dan pemahaman budaya lokal selain keberhasilan akademis, menunjukkan penerapan konsep ini. Namun, ada beberapa kendala dalam penerapan pendidikan berbasis budaya dan karakter bangsa, termasuk kurangnya pemahaman bersama tentang pentingnya cita-cita ini dalam pendidikan dan kurangnya dana. Secara keseluruhan, gagasan Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan hingga saat ini dan memberikan landasan filosofis untuk mengembangkan sistem pendidikan nasional yang menciptakan generasi yang berkarakter dan memiliki identitas nasional yang kuat serta memiliki kecerdasan akademis yang luar biasa. KESIMPULAN DAN SARAN Pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara tetap relevan dan signifikan dalam membentuk sistem pendidikan nasional Indonesia. Konsep-konsepnya seperti Tut Wuri Handayani dan Tri Pusat Pendidikan memberi dasar filosofi bagi pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter, nilai kebangsaan, dan identitas budaya, di samping pencapaian Gagasan Tut Wuri Handayani menekankan peran guru sebagai pendorong yang mendukung kemandirian siswa, mendorong pembelajaran aktif, kreativitas, dan berpikir kritis. Sementara itu. Tri Pusat Pendidikan menyoroti pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan - Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. Selain itu, pendidikan yang berorientasi pada karakter dan budaya nasional yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan identitas kebangsaan pada siswa. Implementasi pendidikan berbasis karakter dan budaya menghadapi tantangan, namun tetap relevan sebagai upaya membentuk generasi yang bermoral, berkarakter, dan menghargai warisan budaya bangsa. Dengan demikian, prinsipprinsip Ki Hajar Dewantara memberikan landasan yang kuat untuk menciptakan generasi yang berintegritas dan mampu berkontribusi bagi bangsa di era modern. DAFTAR REFERENSI Affandi. Tanggung jawab negara dalam pemenuhan hak atas pendidikan menurut Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Jurnal Hukum Positum, 1. , 218. https://doi. org/10. 35706/positum. Ahmadi. , & Ubhiyati. Ilmu pendidikan. Arifin. Peran tripusat pendidikan dalam meminimalisir kecanduan game online pada remaja Gampong Blang Paseh Kecamatan Kota Sigli . 49Ae. Basyar. Pemikiran tokoh pendidikan Islam. RiAoayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan, 5. , 96. https://doi. org/10. 32332/riayah. Chasanah. Peran tripusat pendidikan dalam pembentukan karakter jujur dan tanggung jawab peserta didik kelas Vi di SMP Muhammadiyah 02 Yogyakarta . 1Ae. Efendi. Ningsih. , & SS. Pendidikan karakter di sekolah. Penerbit Qiara Media. Eko. Rumah Puspo Budaya Nusantara sebagai pusat pengembangan pendidikan karakter melalui tari Nusantara. Integralistik, 30, 82Ae95. Harini. IstiqAofaroh. , & Hendratno. Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan implementasinya di sekolah dasar di Indonesia. Journal of Contemporary Issues in Primary Education, 1. , 81Ae94. https://doi. org/10. 61476/yp2yaf42 Hermanto. Perekayasaan sistem pendidikan nasional untuk mencerdaskan Foundasia, 11. , 52Ae59. https://doi. org/10. 21831/foundasia. Hidayat. , & Santosa. Memahami konsep belajar anak usia dasar: Studi analisis teori belajar Carl Rogers serta penerapannya di sekolah dasar. Journal UNU Jogja, 2. , 92Ae101. Humaeroh. , & Dewi. Peran pendidikan kewarganegaraan di era globalisasi dalam pembentukan karakter siswa. Journal on Education, 3. , 216Ae222. https://doi. org/10. 31004/joe. Relevansi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia Januari. Systematic literature review dengan metode PRISMA: Dampak teknologi blockchain terhadap periklanan digital. Jurnal Ilmiah M-Progress, 14. , 1Ae11. https://doi. org/10. 35968/m-pu. Jumiarti. Penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang merdeka belajar di Taman Siswa 1922-1932. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 9. , 243Ae252. https://doi. org/10. 58258/jime. Maiti, & Bidinger. Educreative jurnal pendidikan kreativitas anak. Journal of Chemical Information and Modeling, 53. , 1689Ae1699. Mulyasana. , & Fauzia. Pendidikan bermutu dan berdaya saing. Musolin. , & NisaAo. Pendidikan masa pandemik COVID-19: Implementasi konsep tripusat pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3. , 4134Ae4144. https://doi. org/10. 31004/edukatif. Ora. Peran Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan pendidikan pribumi pada tahun 1922-1930. Skripsi Studi Pendidikan Sejarah, 69. Rosi. , et al. Teori dan aplikasi manajemen pendidikan (Vol. Rozaliyani. Wasisto. Santosa. Sjamsuhidajat. Setiabudy. Prawiroharjo. Baharudin. , & Sulaiman. Bullying . di lingkungan pendidikan kedokteran. Jurnal Etika Kedokteran Indonesia, 3. , 56. https://doi. org/10. 26880/jeki. Ruth. Novia. , & Surhayati. Perspektif semboyan pendidikan Ing Ngarsa Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani dalam Kurikulum Merdeka. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 6. , 3674Ae3678. Salihin. , & Andriany. Relevansi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara pada abad ke-21. Morfologi: Jurnal Ilmu Pendidikan. Bahasa. Sastra dan Budaya, 2. , 164Ae https://doi. org/10. 61132/morfologi. Saputri. Rinenggo. , & Suharno. Eksistensi tradisi Nyadran sebagai penguatan identitas nasional di tengah modernisasi. Civics Education and Social Science Journal (CESSJ), 3. , 99. https://doi. org/10. 32585/cessj. Sastypratiwi. , & Nyoto. Analisis data artikel sistem pakar menggunakan metode systematic review. Jurnal Edukasi dan Penelitian Informatika, 6. , 250Ae257. Suryana. , & Muhtar. Implementasi konsep pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara di sekolah dasar pada era digital. Jurnal Basicedu, 6. , 6117Ae6131. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Suwardani. Quo Vadis pendidikan karakter: dalam merajut harapan bangsa yang Triwiyanto. Pengantar pendidikan. Bumi Aksara. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat . Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan - Volume 3. Nomor 1. Tahun 2025 e-ISSN: 2964-0342. p-ISSN: 2964-0377. Hal. Wardani. Zuani. , & Kholis. Teori belajar perkembangan kognitif Lev Vygotsky dan implikasinya dalam pembelajaran. DIMAR: Jurnal Pendidikan Islam, 4. , 332Ae346. https://doi. org/10. 58577/dimar. Yulianti. , & Wulandari. Flipped classroom: Model pembelajaran untuk mencapai kecakapan abad 21 sesuai Kurikulum 2013. Jurnal Kependidikan, 7. , 372. https://doi. org/10. 33394/jk.