JIEP: Journal of Islamic Education Papua DOI : 10. 53491/jiep. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 e-ISSN x-x | p-ISSN x-x Implementasi Etika Penggunaan Media Sosial Facebook dan Whatssapp Bagi Siswa MTs Negeri 3 Demak Shokhekul Huda*1. Dwinanda Suluh2. Zulkipli Lessy3 Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta1,2,3 E-mail: *22204012032@student. uin-suka. id1, 222040120233@student. id2, zulkipli. lessy@uin-suka. Abstrak. Penelitian ini menjelaskan implementasi etika penggunaan media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa MTs Negeri 3 Demak. Etika merupakan norma yang menjadi acuan bagi individu maupun kelompok masyarakat tentang aturan perbuatannya, yang kemudian etika diimplementasikan pada media sosial baik bagi siswa, guru, maupun sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan . implementasi etika menggunakan media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa MTs Negeri 3 Demak, . guru memantau dan mengontrol jejaring sosial facebook dan whatsapp bagi siswa MTs Negeri 3 Demak. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan melakukan studi lapangan melalui: observasi grup facebook dan whatsapp serta wawancara menggunakan teknik random sampling. Subjek penelitian ini adalah Kepala MTs Negeri 3 Demak, guru MTs Negeri 3 Demak dan siswa MTs Negeri 3 Demak. Teknik analisis data yang digunakan: reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika menggunakan media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa MTs Negeri 3 Demak adalah meneliti fakta, menyampaikan informasi yang benar, menghindari fitnah, kebencian dan permusuhan, serta melakukan amr ma'ruf nahi munkar. Sedangkan dalam melakukan pengawasan, guru mengecek beranda facebook, history favourite facebook, grup aplikasi whatsapp, dan story aplikasi whatsapp. Kata kunci: Etika. Sosial Media. Pengawasan Abstract. This research describes the ethics of implementing the use of social media such as facebook and whatsapp for MTs Negeri 3 Demak students. Ethics is a norm that becomes a reference for individuals and groups of a community regarding the rules of their actions, which then ethics are implemented on social media for students, teachers, and school administative personnel. This study aims to describe: . implementation of the use of ethics in social media such as facebook and whatsapp for MT Negeri 3 Demak students, . teachersAo monitor and control toward facebook and whatsapp that the sudents of MTs Negeri 3 Demak use. This research method uses a descriptive qualitative approach, by conducting field studies through: whatsapp and facebook group observations and interviews using random sampling techniques. The subjects of this study were the head of MTs Negeri 3 Demak, teachers at MTs Negeri 3 Demak, and students at MTs http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A Negeri 3 Demak. Data analysis techniques uses data reduction, data presentation, verification, and conclusion. The results show that ethics in using social media such as facebook and whatsapp for MTs Negeri 3 Demak students consists of researching facts, conveying correct information, avoiding slander, hatred and hostility, and doing amr ma'ruf nahi munkar. Meanwhile, in conducting supervision, the teachers check the facebook homepage, facebook favorite history, whats app application group and whatsapp Keywords: ethics, social media, surveillance A2023 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 Pendahuluan Pesatnya perkembangan media digital membuat masyarakat semakin antusias memanfaatkan waktunya untuk berinteraksi menggunakan media sosial. Model pengembangan teknologi digital adalah kepraktisan (Erdiani & Lessy, 2022. Nurwijayanti et al. , 2. Fenomena gaya hidup digital juga ternyata telah mengubah cara masyarakat bersosial dan berkomunikasi. Masyarakat mengutamakan gadget sebagai sarana media sosial, baik untuk aktivitas kerja maupun aktivitas sehari-hari seperti makan atau berkendara (Nurasih et al. , 2. Penggunaan teknologi gadget yang terus berkembang berdampak pada proses konversi antara teknologi informasi, media dan komunikasi, sehingga pada akhirnya melahirkan sarana baru yang dikenal dengan internet. Kemudian internet berevolusi kembali dengan mengonversi media sosial seperti aplikasi whatsapp, instagram, twitter, atau facebook. Permasalahan secara umum terjadi yaitu remaja yang sangat rentan terindikasi untuk mengekspos berita palsu, kata-kata buruk, saling menghina, atau sharing kontenkonten porno yang tidak disadari bahwa itu membahayakan. Beberapa kasus yang diperoleh pihak berwajib adalah kasus penyebaran berita palsu oleh kalangan remaja. Hal ini sangat memprihatikan. Menurut Alois Wisnuhardana yang dikutip oleh E. Surbakti, remaja mudah terpengaruh isu hoaks karena emosinya yang masih labil. Setiap informasi yang didapatkan, terutama berita hangat, segera disebarluaskan (Surbakti, 2. Masa remaja adalah masa di mana seorang manusia memiliki gejolak Namun, mereka seringkali memiliki prinsip tampil beda dari orang lain untuk menampilkan eksistensinya (Lessy et al. , 2. Dalam proses pengawasan etika menggunaan media sosial siswa yang dilakukan oleh pihak sekolah, guru merupakan pengawas yang penting. Walaupun kerjasama antara orang tua, guru dan siswa sangat diperlukan, peran guru di sekolah lebih dominan dan berpengaruh terhadap siswa. Hal ini karena guru adalah pendidik, menjadi tokoh, menjadi panutan, dan menjadi simbol yang diikuti oleh siswa dan Karena itu, guru harus memiliki kualitas pribadi tertentu yang meliputi tanggung jawab, wibawa, kemandirian, dan disiplin (Mulyasa, 2. Dengan demikian, guru masa depan tidak hanya profesional sebagai pengajar melainkan berpindah sebagai pelatih . , pembimbing . , dan manejer belajar . earning manage. Sebagai pelatih . , seorang guru berperan mendorong anak didiknya untuk menguasai alat-alat belajar, memotivasi untuk bekerja keras dan http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A mencapai prestasi setinggi-tingginya, dan membantu anak didiknya menghargai nilai belajar dan pengetahuan. Sebagai pembimbing . , guru madrasah berperan sebagai sahabat anak didik, menjadi teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban dari siswa. Sebagai manajer belajar . earning manage. , guru membimbing belajar, mengambil prakarsa dan mengeluarkan ide-ide cemerlang yang dimilikinya (Junaedi, 2. Terdapat fenomena di dunia pendidikan yang dimana siswa lebih banyak berinteraksi dengan media sosial. Ini dikarenakan adanya proses pembelajaran dari rumah yang melibatkan berbagai aplikasi berbasis internet. Salah satu sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran dari rumah menggunakan aplikasi whatsapp adalah MTs Negeri 3 Demak. Dari hasil observasi bahwa MTs Negeri 3 Demak lebih banyak beraktivitas belajar-mengajar melalui whatsapp. Dengan sistem tersebut, guru mengirimkan materi ke group whatsapp kelas berupa video atau tulisan. Dengan melihat hal tersebut tentunya penggunaan gadget dimanfaatkan secara bebas untuk menyiapkan materi edukasi mengenai pemanfaatan media sosial khususnya facebook dan whatssapp. Hal ini terlihat dari materi ajar khusus pada mata pelajaran akidah Sehingga materi etika penggunaan media sosial tersebut telah selesai dikaji oleh peserta didik. Dari permasalahan di atas tentunya kita ingin belajar dari pengalaman peserta didik dalam menghadapi gempuran infomasi negatif, proses literasi, dan proses pengawasan guru sehingga pada akhirnya menciptakan generasi yang akan datang memiliki power untuk berselancar di media sosial. Generasi tersebut adalah para remaja tingkat Madarsah Tsanawiyah atau Sekolah Menengah Pertama. Kemudian informasi di atas memberikan pendidikan mengenai rencana pembelajaran bagi guruguru dalam menyiapkan materi ajar khusus berupa etika menggunakan media sosial dan pengawasan pada beberapa aplikasi media sosial di yang berkembang era modern. Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, kajian secara umum yang dibahas oleh peneliti adalah AuImplementasi menggunakan media sosial facebook dan whatssapp bagi siswa di MTs Negeri 3 DemakAy, dan melihat konteks di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji masalah ini dengan rumusan masalah secara khusus: . bagaimana implementasi etika menggunakan media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa MTs Negeri 3 Demak? . Bagaimana cara guru mengawasi dan mengontrol media sosial Facebook dan whatsapp siswa MT Negeri 3 Demak? http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi menggunakan media sosial facebook dan whatssapp bagi siswa di MTs Negeri 3 Demak. Sedangkan tujuan secara khusus adalah untuk mendeskripsikan: . implementasi etika dalam menggunkan media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa di MTs Negeri 3 Demak, dan . mengetahui guru mengawasi dan mengontrol media sosial facebook dan whatssapp bagi siswa di MTs Negeri 3 Demak. Metode Penelitian Penulis menggunakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memahami suatu kondisi konteks dengan berorientasi pada pendeskripsian secara detail dan mendalam tentang mengenai gambar kondisi dalam suatu konteks yang dialami . atural settin. , berdasarkan apa yang sebenarnya terjadi tergantung pada apa adanya di lapangan studi (Strauss & Corbin, 1. Mengenai pendekatan, penulis menggunakan pendekatan studi kasus. Metode studi kasus tidak mempertimbangkan jumlah contoh dari populasi, informan . emberi informas. bukan representasi dari Kasus yang dipelajari terkait dengan sistem, waktu dan tempat atau ruang . ontext bounde. , mengkaji secara detail dan mendalam satu atau lebih program, kejadian, individu. atau aktivitas. Konteks kasus meliputi latar fisik, sosial, ekonomi dan Pencarian dilakukan di MTs Negeri 3 Demak yang terletak di Jl. Buyaran-Guntur KM 4 Karangtengah dan dilakukan pada 25 Agustus-30 september 2021. Sebelumnya, prariset dilakukan pada 15-27 Agustus 2020. Untuk menentukan subyek penelitian, peneliti menggunakan empat faktor yang menjadi pertimbangan untuk menentukan jumlah informan yaitu derajat homogenitas atau keseragaman, presisi yang diinginkan dalam penelitian, rencana analisis, tenaga, waktu dan biaya (Samsu, 2017: . Sehingga sesuatu problem dengan kondisi yang diteliti adalah peserta didik, guru, dan kepala MTs Negeri 3 Demak. Metode yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data adalah wawancara dan observasi (Creswell, 2. Peneliti menguji data-data dengan menggunakan dua teknik, yaitu pertama, triangulasi sumber yang mengharuskan peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber yang tersedia, karena data yang serupa akan lebih bagus kebenarannya jika digali dari sumber yang berbeda. Kedua, metode triangulasi metode yaitu triangulasi yang bisa dilakukan dengan menemukan data yang sejenis dengan menggunakan http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A metode yang berbeda (Strauss & Corbin, 1. Metode analisis yang digunakan peneliti adalah analisis metode data interaktif, yang dikemukakan oleh Miles et al. Analisis data ini mempunyai tiga komponen, yaitu pertama, reduksi data yaitu data kualitatif yang menajamkan, mengkategorikan, mengarahkan, memperjelas dan memfokuskan, dengan membuang hal-hal yang kurang penting, dan mengorganisasikan serta mengatur data sedemikian rupa sehingga narasi sajian dapat dipahami dengan baik dan mengarah pada simpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. Kedua, penyajian data adalah sajian data dalam bentuk deskripsi dan narasi singkat berdasarkan pokok-pokok temuan pada reduksi data dan disajikan dengan bahasa yang logis dan sistematis sehingga mudah dipahami. Ketiga, penarikan simpulan merupakan tinjauan ulang terhadap catatan lapangan, observasi dan wawancara sebagai eksplorasi makna lapangan (Creswell, 2. Hasil dan Pembahasan Implementasi Etika Penggunaan Media Sosial Facebook dan Whatsapp oleh Siswa Meneliti Fakta Meneliti fakta adalah mengklarifikasi sesuatu hingga menjadi jelas dan benar keadaannya. Hal ni dijelaskan oleh Brian Rafsanjani yang berupa penyelidikan dan menyeleksi berita, tidak terburu-buru memutuskan masalah baik masalah baik dalam hal hukum, kebijakannya, hingga persoalannya jelas (Rafsanjani, 2. Meneliti fakta dilakukan dengan beberapa cara, sebagai Peserta didik mengecek isi berita dengan membandingkan sumber Hal ini dijelaskan guru akidah akhlak bahwa menerima informasi adalah cek dan ricek, salah satunya adalah menilai kualitas informasi yang diterima. Dalam konteks menerima informasi di media sosial, bukan sekadar menerimanya saja. Namun di luar itu, penerima informasi dapat dengan mudah meneruskan informasi tersebut. Informasi dapat dengan mudah disebarluaskan kembali ke publik melalui fitur yang ada di media sosial atau aplikasi chatting. Karena itu, ada tanggung jawab terpisah terkait penyebaran kembali informasi (Usman, 2. Hal ini juga dijelaskan oleh Febriyani dalam wawancara bahwa: http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 AuUntuk mengecek informasi yang saya dapatkan di facebook dengan mencari tahu digoogle terkait berita-berita bohong dan mencari sumber resmi terkait peramasalahan yang sama seperti sumber informasi CNN Indonesia. Karena saya yakin sumber negara lebih terpercaya apalagi staus saya masih pelajar MTs dan saya menggunkan untuk mengoreksi berita-berita yang Ay Hal ini sesuai dengan kajian Gumilar . bahwa untuk verifikasi dasar suatu informasi, salah satu caranya adalah dengan membandingkannya dengan berita media lainnya (Gumilar, 2. Sehingga hasilnya lebih akurat dan Data yang tersebar di lapangan menciptakan efek kondusif yang diterima dari penerima informasi. Data lengkap tersebut wajib dipilah dengan beberapa sumber atau bukan data tunggal yang dianalisa secara komprehensif sehingga produk informasi menjadi lebih terkontrol. Dengan menggunakan metode tersebut selaras dengan teks hadist Nabi sebagai berikut: a a a a e e a a a a a ca UAA a A eN a aI s eI aA a A aaOa ua e aI as aI aeNAU AaI O E a I a O eO aA a A aaOaU aeN a e aOAU AA a U aANasA a Asa aeNA UaA eE ae auIA: aAsA a aA aaOaU EaAU a U a A aEA: A Ca aEAU aA eaA a Aa aIa aOUaa auIaO eI aI aA a A eI aI aA c aA aN I eA aNO acEEA a A aI ea aA a A aI eaUa aI eN aA a A Aa aEA. AN aIA a aNO acEEA a UcaA aOA: Ua se a auIA a ANa es aU aOA a sAa eaUA a aAO aE acEEA a aAO aE acEEA AEA a AA a A aO auAU A " auI acEEa E aaOa IaEa eI aaEU u Cas aI aOCa aEA: AN aI UaCaO aEA a " a A aOEae a a I aAUAEA a Aa eI aIA a ANa es aU aOA AuTelah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaiba. telah menceritakan kepada kami [Ismail bin Ulayya. dari [Khalid Al Khaddza`] telah menceritakan kepadaku [Ibnu AsywaA. dari [As SyaAob. telah menceritakan kepadaku [Sekretaris Mughirah bin SyuAoba. dia berkata. AuMuAoawiyah pernah mengirim surat kepada [Mughira. AoTulislah untukku sesuatu yang pernah kamu dengar dari Rasulullah SAWAo Lantas dia membalas suratnya. AoAku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: AuSesungguhnya Allah membenci atas kalian tiga perkara. mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, menyianyiakan harta dan banyak bertanyaAy (H. Shahih Muslim 593/. (Dewi, 2022:. Peserta didik berkonsultasi kepada guru Hasil wawancara dengan Husni Khumaerotuz Zahra sebagai siswa MTs Negeri 3 Demak bahwa hal yang harus dilakukan untuk mengecek benar http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A tidaknya informasi tersebut adalah dengan berkonsultasi dengan guru akidah akhlak mengenai informasi tersebut. Karena itu, guru akidah akhlak memberikan pemahaman yang baik terhadap informasi yang diperoleh. Dalam hal ini, saya tidak diizinkan untuk membagikan data ini di berbagai media sosial. Hal ini berarti bahwa ada banyak data yang kurang akurat di media sosial. Fakta yang mudah diputar balikkan, ketidakjelasan antara yangbenar dan salah. Informasi yang benar tenggelam begitu saja dan yang salah ditambahkan opini-opini tentang kesalahan tersebut. Implementasi literasi yang digunakan siswa dalam menyelesaikan informasi tentang kasus-kasus yangg terjadi di media sosial tergambar dengan Dengan mengumpulkan dokumen untuk mendapatkan informasi yang akurat, dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Jadi, sebenarnya, membaca berbagai sumber dan berkonsultasi adalah tindakan yang lebih baik melawan penipuan atau informasi hoax di media sosial. Menyampaikan Informasi yang benar Menyampaikan informasi yang benar berarti membentuk opini yang jujur, didasarkan atas bukti dan fakta, kemudian mengungkapkannya dengan tulus. Tidak memalsukan atau memanipulasi fakta dan menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi tertentu di media sosial yang belum diketahui kebenaran dan faktanya secara pasti. Dalam menyampaikan informasi yang benar yang diperlukan ilmu bagi siswa, manfaat memiliki ilmu adalah membedakan yang benar dan yang salah. Dengan adanya ilmu maka seseorang dapat lebih bijak dalam menyampaikan informasi yang diperoleh. Keaslian informasi yang disampaikan berdampak pada kebaikan secara sosial dan Sebagai contoh, orang yang menyampaikan bahwa sholat memiliki keutamaan yang besar. maka akan mendapatkan manfaat untuk diri sendiri berupa kebaikan dari Allah dan disukai orang-orang di media sosial. Hal ini juga disampaikan oleh siswa yaitu: AuManfaatnya saya menyampaikan informasi secara jujur agar dipercayai banyak orang, terhindar fitnah, kalau menyampaikan berita yang baik bisa membuat orang senang dan puas dengan berita yang saya sampaikan. Ay http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 Disini peserta didik memiliki jiwa empati atau merasakan perasaan orang Dengan begitu peserta didik berhati-hati dalam mengirimkan pesan kepada orang lain. Karena dampak yang ditimbulkan dari ketidakjujuran dapat merugikan orang lain. Justru Semakin tinggi empati seseorang, semakin rendah ia menggunakan pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya. Tidak seperti orang yang empatinya rendah, yang sering menggunakan cara kekerasan untuk mengungkapkan rasa kekesalan dan kegundahan hati mereka. Demikian pula secara sosial, seseorang dengan empati tinggi cenderung ingin membantu orang lain yang sedang mengalami musibah atau kesulitan hidup lainnya, sedangkan orang dengan empati rendah akan cenderung acuh tak acuh dan tidak peduli dengan kesulitan yang dihadapi orang lain (Yaqin, 2. Jujur merupakan konteks moral yang berlangsung di dua aspek kehidupan yaitu dunia maya . edia sosia. dan dunia nyata. Yang dapat dilihat dengan kacamata etika. Dua prinsip moral dan etika yang pada akhirnya dicapai peserta didik untuk mampu dan professional dalam menghadapi tantangan di media sosial. ketepatan dalam memberikan informasi dapat menciptakan suasana internal dan eksternal yang relatif cenderung harmonis. Hal ini sesuai hadist Nabi yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi sebagai berikut: a A aaOaA: A Ca aEAU AUA A a eNAU A a eN aa eU a aeN aaU aI eUa aIAU aA eaA a a a aOa aaO aIO aO e a eOA a A aaOa a e a acEEa e aN ua aeA: A Ca aEAU AOA e A aI a a: s U : AEA a aNO acEEa aNa es aU aO aN aI CA a A aI eN aA a AA a aAO a CA a aU eI a eO aA a aAO aE acEEA c A I e aA c A Ca eNa aI eN a a aN aeN a aNA: AEA e Aa a a aeCA e aA " A: AANO acEEa aNa es aU aO aN aIA a a Aa aI eN aA c a A aI Ua aU aaE auIaO aI aE Ua aU aaE u aI IA a A aO auI eI aEAUUA aIeOasOaA a AA a aAOE acEEA U A aO aUa aAU aA I eaO e aIUa a asaa e aN a esaIA AA as UA a UaA aO aAU eI aA. " UAaU aA a A aOaaO eI a eO aAUUA aCAA a AaUA AuTelah Abu Musa al-Ansari, menceritakan kepada kami Abd Allah bin Idris telah menceritakan kepada kami ShuAobah dari Burayd bin Abu Maryam dari Abu al-HawraAo al-SaAodi berkata: Aku bertanya kepada al-Hasan bin AoAli: Apa yang kau hafal dari Rasulullah SAW? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasul Allah Salla Allah Aoalayh wa Sallam: AuTinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan. (Hadist ini shahi. (Zia, 2018:. http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A Menghindari fitnah, kebencian dan permusuhan Menghindari merendahkan dan membuat kegaduhan yang menimbulkan dampak tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam arti secara umum bisa menginspirasi seseorang untuk melakukan kekerasan atau menyakiti orang atau kelompok lain di media sosial (Lidya, 2020: 1-. Hal ini dijelaskan Ikhsan salah satu guru MTs bahwa menghindari fitnah dan kebencian di media sosial adalah dengan cara untuk bersikap tetap diam. Tujuannya agar informasi tidak menyebar secara cepat. Dengan memiliki sikap tersebut membuat lingkungan media sosial tetap stabil dan efek yang ditimbulkan menjadi lebih harmonis. Menghindari fitnah, kebencian, atau permusuhan dan konflik menurut penjelasan tersebut bahwa guru menyarankan kepada peserta didik untuk tidak merespon bentuk informasi apapun sebagai bentuk pencegahan berita fitnah di media sosial. Namun, jika bentuk informasi yang didapatkan benar maka harus dijelaskan secara baik dan perlu dicantumkan sumber aslinya. Sehingga tidak menimbulkan fitnah dan berakibat pada perlawanan bentuk tulisan atau konten berupa kebencian. Hal ini pun sesuai pengalaman Indah sukmawati selaku peserta didik MTs Negeri 3 Demak AuMisalnya aku di faceebook pernah ka posting foto terus ada yang komentar jelek terus aku chatting dia biar ga komen sembarangan, terus aku hapus pertemanan sama orang yang komentar jelek dipostinganku. Terus aku juga hapus postinganku. Ay Amr maAoruf nahi munkar Yang dimaksud menyebarkan kebaikan dan mencegah keburukan adalah usaha mengajak manusia dengan cara yang bijakasana kepada jalan yang benar sesuai norma masyarakat maupun agama. Amar maAoruf dan nahi munkar ditujukan kepada seluruh umat manusia didunia tanpa terkecuali. (Eko, 2016:176-. Hal ini sesuai wawancara dengan ikhsan selaku guru akidah akhlak di MTs Negeri 3 Demak mengatakan bahwa AuUntuk amar maAoruf nahi munkar disetiap pembelajaran saya selalu menanamkan nilai kepada anak. Bahwa antara akhlak dan ilmu lebih utama akhlak. Ilmu itu nomor dua. Meskipun anak-anak tidak pandai tidak http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 masalah yang penting memiliki akhlak yang baik. Setelah anak mengetahui akhlak yang baik. Disini anak akan mengetahui bagaimana yang baik dan bagaimana yang buruk. Ketika sudah tertanam nilai-nilai dihati mereka baik dan buruk. Maka dalam menyampaikan amar maAoruf nahi munkar akan berjalan lancar di media sosial. Ay Dengan metode nasehat yang diberikan guru akidah akhlak yaitu memberikan pelajaran akhlak terpuji dan menggalakkan pelaksanaannya, serta menjelaskan akhlak tercela dan peringatan untuk tidak melakukannya, atau memperbanyak kebaikan dengan apapun yang melembutkan hati. Hal-hal yang dapat melembutkan hati di media sosial adalah menonton ceramah, menonton video musik islami penambah iman di facebook, dan mendengarkan video membaca alquran dan artinya di facebook (Mulyadi, 2020: . Hasil wawancara dengan peserta didik bahwa dalam kenyataannya nasehat yang dimplementasikan di media sosial telah baik. Peserta didik dalam mengobrol membahas mengenai nasehat agama lalu dibagikan. Tujuannya untuk mengetahui bahwa ada batasan dalam Agama. Sebagai contoh hasil wawancara dengan peserta didik yaitu: AuSaya mengirim pesan-pesan kebaikan kepada teman berupa permasalahan seperti berpacaran dilarang agama. Saya mengrim pesan hadist di whatsapp tapi artinya saja. Ay Memiliki jiwa amr maAoruf nahi munkar berkaitan dengan ucapan, sikap, dan perbuatan yang ditampakan peserta didik dalam pergaulannya di media sosial, etika peserta didik berkaitan dengan etika sesama manusia. Peserta didik mengetahuai tugas dan kewajiabnnya dengan menjalankan amr maAoruf nahi munkar yang dilakukan di atas. Sikap yang dilakukan peserta didik sebagai wujud sarana dalam kebaikan. Dengan kebiasaan yang dilakukan peserta didik dalam bercerita mengenai problem atau bahan diskusi dapat membentuk karakter kebiasaan yang baik. Guru Mengawasi dan Mengontrol Media Sosial Facebook dan Whatsapp Siswa di MTs Negeri 3 Demak Guru mengawasi dan mengontrol Media sosial facebook dan whatsapp siswa di MTs Negeri 3 Demak sebagai berikut: Melalui facebook http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A . Guru Mengamati Beranda Peserta Didik Halaman beranda adalah fitur facebook, di mana pengguna akun dapat melihat riwayat posting orang lain sebelumnya. Dapat diartikan sebagai arsipan postingan seseorang atau pemilik akun. Beranda juga dapat dilihat sebagai fitur riwayat pembaruan status, dimana pengguna secara tidak langsung dapat berinteraksi dua arah dan berkomunikasi berdasarkan topik diskusi dan terurut secara kronologis (Melna dan Dinda, 2019: 534-. Guru melakukan metode pertemanan di facebook agar dapat melihat beranda siswa terakait point-point yang diunggah peserta didik. Terlihat melalui akun peserta didik, bahwa guru melakukan perteman dengan peserta didik, bukan hanya guru saja melainkan kepala sekolah mengikuti akun facebook peserta didik MTs 3 Demak. Manfaat mengikuti akun facebook adalah agar dapat berkomunikasi secara pribadi kepada lawan bicara dan sekaligus orang yang melalukan perteman melihat bentuk konten, tulisan yang diunggah peserta didik. Hal ini memudahkan guru untuk mematau prilaku peserta didik diluar sekolah melaui akun facebook. Hasil ini sesuai wawancara dengan Ikhsan selaku guru di MTs bahwa mengikuti akun peserta didik di facebook untuk mengamati beranda siswa baik prilaku berupa tulisan, gambar, dan video yang diupload di facebook. Sesuai pengalaman guru akidah akhlak terkait penyimpangan yang terjadi di facebook yang dilakukan peserta didik MTs Negeri 3 Demak seperti gambar yang tidak Guru melakukan tindakan yang tegas dengan melakukan pelaporan lanjutan ke pihak sekolah. Sebab kasus yang dialami peserta didik mencerminkan etika yang kurang baik. Hal ini sesaui wawancara dengan ikhsan selaku guru akidah yang mengatakan: AuKasus ini sudah terlalu parah, nanti kalau sudah terlalu parah nanti anak akan terus menerus melakukanya. Dan dilakukanlah tindakan yang ekstrem ke anak. Ay . Guru Mengecek Fitur Riwayat Favorit Peserta Didik Di Facebook, terdapat halaman pribadi atau profil. Halaman profil memuat semua informasi tentang pengguna tersebut, termasuk fitur Riwayat favorit yang dapat dilihat oleh pengguna lain. (Fajar, 2010: 32-. Menurut penjelasan guru, dalam melakukan pengamatan atau pengecekan riwayat favorit banyak ditemui http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 bahwa siswa mengakses berupa akun yang disukai. Dalam melakukan pengecekan guru meng-screen shoot hal-hal yang terdapat unsur sensitif. Kemudian melakukan tabayyun untuk diberi pengarahan berupa bimbingan dan nasehat dalam melakukan aktivitas di media sosial. Menurut penjelasan ikhsan selaku guru di MTs bahwa dari riwayat favorit memudahkan guru untuk memberi penilaian atau evaluasi praktek yang realitanya dimplementasi siswa. karena pada fitur ini bentuk aktivitas siswa MTs Negeri 3 Demak muncul dengan sendirinya jumlah konten yang diakses oleh peserta didik. Pada fitur ini lebih memudahkan guru untuk melakukan Sehingga untuk menilai etika siswa lebih mudah. Karena di fitur tersebut aktivitas siswa MTs Negeri 3 Demak terlihat. Melalui whatsapp . Guru mengecek story whatsapp Whatsapp story adalah cara untuk berbagi dan mengawasi siswa di luar grup chat milik siswa. Berbagi foto, video, atau tautan situs web yang mungkin belum diketahui banyak orang sehingga jika ada siswa yang melihat statusnya, mereka dapat berkomentar (Shahidillah & Miftahurrisqi, 2019: 54-. Karena itu, status di whatsapp bisa dilihat apabila guru dan murid saling menyimpan nomor telepon, sehingga bisa saling melihat status yang dibuat satu sama lain. Orang yang melihat muncul dibagian bawah status. Dengan mengamati prilaku peserta didik di whatsapp story akan memudahkan guru dalam memberikan komentar langsung jika terdapat hal-hal yang tidak baik. Guru menggunakan teknik pengawasan orang kedua yaitu siswa lain yang ditanggung jawabkan untuk melakukan pemantauan terkait aktivitas temantemannya di status whatsapp. Hal ini sesuai dengan penuturan salah satu siswa yang ditanggung jawabkan untuk mengawasi teman kelasnya yaitu: AuGuru memberikan tanggung jawab kepada saya untuk mengamati temanteman yang memposting bentuk gambar, video atau tulisan yang berada distatus whatsapp. Bentuk konten yang saya temui biasanya video postingan orang-orang korea atau bentuk saling sindir antara teman. Kemudian saya juga saling save nomor dengan teman kelas sebagai bentuk pertemanan di whatsapp. Ay http://e-journal. id/index. php/jiep Shokekul Huda, dkk: Implementasi Etika Penggunaan Media A Menurut penjelasan guru bahwa dengan menggunakan teknik tersebut lebih efisien karena banyak siswa yang memprivasi hanya khusus gurunya. Sebab itu, langkah yang diambil adalah pengawasan teman sebaya yang tentunya siswa tersebut yang dianggap oleh gurunya baik dan terpercaya. Hal ini sesuai pengalaman guru akidah akhlak ketika mengamati story whatsapp secara personal maupun delegasi terdapat beberapa masalah seperti bentuk postingan yang saling merendahkan dalam bentuk sindiran. Setelah melakukan pengecekan tersebut guru melakukan tindakan berupa komentar di story whatsapp atau bentuk chattingan secara langsung berupa nasehat untuk menjaga sopan santun dalam menuliskan pesan. Guru Mengecek Grup Whatsapp Pengecekan grup whatsapp adalah pemantauan secara rutin terhadap postingan, tulisan di grup kelas akidah akhlak dan umum. Sedangkan makna grup whatsapp adalah fitur yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan beberapa kontak yang berada di grup. (Ariza, 2017:. Hal ini sesuai dengan wawancara guru akidah akhlak bahwa mengamati digrup whatsapp pada saat jam malam karena waktu tersebut rutinitas siswa terhenti dan lebih banyak menggunakan media whatsapp yaitu: AuSaya mengamati anak-anak di grup whatsapp pada saat jam malam kalau secara khusus saya luangkan waktu untuk berinteraksi selama 30 menit. Kemudian selalu saya mengingatkan untuk selalau menjaga tata krama dan sopan santun digrup kelas maupun digrup lainnya. Ay Tindakan berupa nasehat kepada peserta didik sebagai solusi awal bentuk cara nasehat secara lembut. Tujuan guru adalah mengajarkan murid untuk melakukan pembiasaan sikap berkomuniukasi digrup whatsapp. Perhatian khusus yang diberikan guru sebagai bentuk partisipasi dalam membentuk etika peserta didik. Sehingga peserta didik tampil menjadi pelopor kebaikan kepada Hal ini pun dilakukan guru akidah akhlak yaitu: AuSaya melakukan bentuk interaksi seperti bertanya keadaan murid digrup whtass app. Hal ini saya lakukan ketika bersamaan mengabsen peserta Ini juga membuat peserta didik merasa diperhatikan dan tidak merasa diabaikan digrup whatsapp. Ay http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua. Vol. 1 No. 1 Februari-Juli 2023 Menurut Hendro Puspito, interaksi sosial adalah interaksi antar individu atau kelompok berdasarkan status dan peranan sosial. Hubungan sosial memiliki dua unsur, yaitu proses asosiatif: terlihat dari adanya kehendak rasional yang disepakati bersama dan non-kontradiksi dan proses disosiatif: hubungan sosial yang mengarah pada konflik atau hilangnya hubungan antara dua orang (Suryati, 2001: . Hal ini sesuai pernayataan Ikhsan selaku guru akidah akhlak bahwa: AuMurid memiliki karakter atau sifat yang berbeda-beda. Ada yang terlihat baik ada yang terlihat kurang baik. Alasan saya lebih menindaklanjuti anak yang kurang baik adalah ditakutkan anak tersebut melakukan kesalahan fatal yang terus menerus. Jika anak baik yang melakukan kesalahan saya yakin anak tersebut akan sadar. Ay Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Implementasi etika menggunakan media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa di MTs Negeri 3 Demak sebagai berikut: peserta didik diharuskan meneliti fakta dengan membandingkan sumber yang terkait permasalahan dan berkonsultasi terlebih dahulu kepada guru akidah akhlak terhadap informasi. Peserta didik diharuskan menyampaikan informasi yang benar. Peserta didik diharuskan menghindari konten yang mengandung unsur kebencian dan fitnah. Peserta didik diharuskan memposting konten yang mengandung amr maAoruf nahi munkar. Guru mengawasi dan mengontrol media sosial facebook dan whatsapp bagi siswa di MTs Negeri 3 Demak yaitu: . guru mengawasi dan mengontrol facebook dengan menggunakan dua teknik: pertama, pengecekan beranda dengan mengamati postingan berdasarkan urutan waktu. Kedua, pengecekan riwayat favorit dengan mengamati bentuk konten yang disukai dan diakses peserta didik. Guru mengawasi dan mengontrol whatsapp dengan menggunakan dua teknik yaitu: pertama, pengecekan status whatsapp dengan metode save nomor dan bantuan peserta didik yang diberi tugas khusus untuk mengamati teman-temannya. Kedua, pengecekan aktivitas siswa di grup whatsapp Daftar Pustaka