Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi. org/10. 37640/japd. e-ISSN 2776-768X Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren: Strategi Branding dan Digital Marketing dalam Meningkatkan Daya Saing Produk Keripik Saryono1*. Purwani Puji Utami2. Muhammad Raihan Febriansyah3 Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. STKIP Kusuma Negara Prodi Sains Komunikasi. Fakultas. Universitas Saintek Muhammadiyah *saryono. bhumi@stkipkusumanegara. Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut. Depok, bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren melalui penguatan branding dan strategi digital marketing produk keripik Singkong. Artikel ini disusun berdasarkan data dan hasil capaian dalam laporan kemajuan program tahun Program dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi dan identifikasi masalah, pelatihan keterampilan, penerapan teknologi tepat guna (TTG), pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan santri dan efektivitas usaha, di antaranya peningkatan keterampilan digital hingga 80%, efisiensi produksi sebesar 30% melalui penggunaan TTG, serta terciptanya tiga desain kemasan baru dan satu logo resmi produk. Pembentukan Tim Kewirausahaan Santri (TKS) juga menjadi langkah awal kemandirian usaha di lingkungan pesantren. Namun demikian, hasil evaluasi menemukan empat kendala utama, yaitu ketidakkonsistenan penggunaan kemasan baru, minimnya konten digital, kesulitan manajemen waktu antara kegiatan belajar dan usaha, serta adaptasi terhadap teknologi produksi yang masih berlangsung. Kendala tersebut diatasi melalui pendampingan lanjutan dan pelatihan tambahan. Luaran kegiatan meliputi artikel publikasi ilmiah, laporan kemajuan program, video dokumentasi, desain kemasan dan logo produk, serta buku panduan digital marketing ber-ISBN yang sedang dalam proses penerbitan. Program ini berhasil memperkuat kapasitas santri dalam wirausaha digital dan menjadi model pemberdayaan ekonomi pesantren berbasis teknologi dan nilai-nilai Islam di era transformasi digital. Kata kunci: branding, digital marketing, pemberdayaan masyarakat, pesantren. UMKM. Dikirim: 5 Agustus 2025 Direvisi: 29 Agustus 2025 Diterima: 11 Oktober 2025 PENDAHULUAN Pondok pesantren sejak lama dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengedepankan pengajaran keagamaan, pembentukan karakter, dan pembinaan Namun dalam dinamika sosial-ekonomi medern, ekspektasi masyarakat terhadap pesantren semakin kompleks tidak cukup hanya sebagai institusi pendidikan agama saja, tetapi juga sebagai entitas yang bisa memberikan berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi umat. Dalam konteks inilah pesantren dituntut untuk memiliki fungsi ganda sebagai penggerak spiritual sekaligus pelaku ekonomi yang mandiri. Salah satu strategi konkret untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren adalah melalui pengembangan unit usaha berbasis santri . Melalui unit usaha ini, pesantren tidak hanya memperoleh sumber penghasilan yang tidak hanya dari hasil donasi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran praktik kewirausahaan bagi para santri. Sebagai wujud nyata dari strategi tersebut. Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut yang berlokasi di Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 166 Kecamatan Pasir Gunung Selatan Kota Depok, memilih untuk memfokuskan pada usaha keripik singkong sebagai produk unggulan yang diharapkan mampu memperkuat perekonomian pesantren dan memberdayakan santri secara praktis. Keputusan memilih keripik Singkong sebagai produk usaha pesantren bukan tanpa dasar. Produk olahan berbasis bahan lokal yang mudah diperoleh memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku, potensi margin produksi, dan daya tarik pasar pangan lokal. Pada banyak kasus pemberdayaan UMKM berbasis komoditas lokal, keberhasilan sangat ditopang oleh kemampuan inovasi produk, pengemasan, branding, serta penetrasi ke kanal pemasaran digital. UMKM (Usaha Mikro. Kecil, dan Menenga. di Indonesia memainkan peran penting dalam ekonomi nasional bahkan dianggap sebagai tulang punggung perekonomian karena mampu menyerap tenaga kerja, mendistribusikan pertumbuhan ekonomi ke daerah, dan bertahan dalam kondisi krisis (Utami, 2019. Utami et al. , 2. Meski demikian. UMKM secara umum masih menghadapi hambatan structural seperti keterbatasan modal, manajemen, akses pasar, serta minimnya kemampuan digital dan literasi teknologi (Utami et al. , 2021, 2. Pada era digital seperti saat ini, literasi teknologi dan penerapan strategi pemasaran digital menjadi aspek penting agar UMKM tidak tertinggal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa digital marketing baik melalui media sosial, marketplace, maupun website dapat memperluas jangkauan pasar, menurunkan biaya pemasaran, dan meningkatkan visibilitas produk (Sihura, 2. Misalnya, dalam survei pada pelaku UMKM makanan dan minuman di Gresik, strategi pemasaran digital terbukti efektif memperluas penjualan dan menyentuh konsumen yang sebelumnya tidak terjangkau via jalur konvensional (Meilya et al. , 2. Strategi pemasaran produk UMKM melalui digital marketing . eperti media sosial, iklan daring, konten kreati. juga telah dibahas dalam penelitian tentang AuStrategi Pemasaran Produk UMKM Melalui Penerapan Digital Marketing (Studi Kasus Pada Kelompok Usaha "Kremes Ubi" di Desa Cibunar. Kecamatan Rancakalong. Sumedan. Ay oleh Fadhilah & Pratiwi . , yang menemukan bahwa UMKM yang menerapkan digital marketing mengalami peningkatan volume penjualan dibandingkan yang belum menerapkan. Di sisi lain, transformasi digital juga memerlukan kesiapan organisasi kecil (UMKM/pesantre. dalam aspek infrastruktur teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan budaya inovasi. Tanpa kesiapan tersebut, pelaku UMKM dapat mengalami kesulitan dalam mengoperasikan alat digital atau memanfaatkan platform pemasaran secara optimal. Dari perspektif internal pesantren, peran pesantren sebagai institusi sosial dan keagamaan memberi keunggulan tersendiri dalam pemberdayaan ekonomi. Pesantren memiliki basis komunitas yang kuat, jaringan keagamaan, serta legitimasi sosial yang dapat memudahkan adopsi usaha oleh santri dan masyarakat sekitar (Rahman et al. , 2. Beberapa penelitian tentang pemberdayaan ekonomi pesantren melalui unit usaha santri . rogram santripreneu. mencatat bahwa penggunaan unit usaha memberi dampak positif terhadap kemandirian pesantren dan daya beli santri (Budimansyah & Hasyimi. Selain itu, dalam konteks pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren, pendekatan ekonomi berbasis syariah juga sering digunakan agar usaha yang dijalankan sesuai nilai-nilai keislaman . ontrolling riba, transparansi, keadila. ini menjadi nilai tambah yang dapat dipasarkan kepada konsumen Muslim. Konsep 167 | Saryono. Utami & Febriansyah Au5C 1SAy . haracter, capacity, capital, collateral, condition, syaria. misalnya diadopsi dalam beberapa unit usaha pesantren sebagai kerangka pemberdayaan ekonomi agar tetap halal dan berkelanjutan (Rahman et al. , 2. Gabungan antara potensi internal . omunitas pesantren, nilai keagamaan, jaringan sosia. dan eksternal . eluang pasar digital, tren konsumen pangan ringa. menjadikan strategi branding dan digital marketing sebagai jalan strategis dalam meningkatkan daya saing produk keripik Singkong pesantren. Branding yang baik akan membantu produk tampil berbeda di pasar, sementara pemasaran digital akan memperluas jangkauan di luar batas geografis lokal. Program ini juga relevan dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya IKU 2 . engalaman mahasiswa di luar kampu. IKU 3 . ktivitas tridarma dosen di luar kampu. , dan IKU 5 . asil kerja dosen yang digunakan masyaraka. Dalam konteks pembangunan nasional, program ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 9 tentang inovasi dan infrastruktur. Dengan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini difokuskan pada pemberdayaan UMKM berbasis pesantren melalui strategi branding dan digital marketing untuk meningkatkan daya saing produk keripik, yang berfokus pada peningkatan literasi digital santri agar mampu mengelola aspek produksi hingga pemasaran secara mandiri. Oleh karenanya, kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata implementasi kolaborasi antara dunia pendidikan dan ekonomi kreatif dalam konteks pesantren. Selain memberi manfaat ekonomi, kegiatan ini juga berkontribusi dalam membangun budaya wirausaha yang selaras dengan nilai-nilai Islam, sehingga santri tidak hanya siap menjadi dai, tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing di era METODE PELAKSANAAN Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan selama periode enam bulan di Pondok Pesantren Nurul Huda. Kecamatan Cimanggis. Kota Depok. Jawa Barat. Metode pelaksanaan dirancang secara partisipatif dan berbasis pemberdayaan komunitas, dengan mengintegrasikan pendekatan edukatif, teknologis, dan pendampingan berkelanjutan. Kegiatan terbagi ke dalam lima tahap utama, yaitu: . sosialisasi, . pelatihan, . penerapan teknologi tepat guna, . pendampingan dan evaluasi, serta . keberlanjutan program. Tahap awal diawali dengan sosialisasi program kepada pengasuh dan pengurus pondok pesantren, sosialisasi dilakukan melalui diskusi terbuka, pemetaan kebutuhan, dan survei kapasitas digital pengelola usaha. Data awal digunakan sebagai baseline untuk menilai efektivitas intervensi program. Kegiatan ini juga menghasilkan dokumen komitmen formal dari mitra berupa surat pernyataan kesiapan untuk terlibat aktif dalam seluruh tahapan program. Pelatihan. Setelah kebutuhan teridentifikasi, dilaksanakan pelatihan yang mencakup pertama, pelatihan inovasi kemasan dan branding produk: pengenalan prinsip desain grafis, pemilihan warna, logo, dan slogan. Kedua, pelatihan pemasaran Digital: praktik membuat akun marketplace (Shope. dan akun Instagram bisnis, serta strategi unggah konten secara konsisten. Metode pelatihan Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 168 dilakukan dengan pendekatan learning by doing sehingga santri dapat langsung mempraktikkan keterampilan yang dipelajari. Penerapan teknologi tepat guna, untuk menunjang efisiensi produksi, program ini juga mengimplementasikan sejumlah peralatan teknologi tepat guna seperti mesin pemotong singkong, mesin pengaduk bumbu otomatis, dan spinner peniris minyak. Penggunaan alat ini membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas produk keripik secara Di sisi digital, dilakukan integrasi QR code pada kemasan produk dan pembuatan katalog digital berbasis Google Sites. Tahap ini merupakan penerapan hasil pelatihan ke dalam proses nyata produksi dan distribusi. Pendampingan dan evaluasi. Pendampingan dilakukan secara berkala melalui kunjungan lapangan dan sesi bimbingan. Fokus pendampingan mencakup koreksi desain dan konten, bimbingan transaksi penjualan online, serta pelaporan keuangan sederhana. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan kompetensi digital, survei kepuasan konsumen terhadap kemasan dan produk, serta monitoring trafik toko online. Targetnya adalah peningkatan keterampilan digital (Ou80% peserta post-test >. dan peningkatan kunjungan digital Ou30%. Keberlanjutan program. sebagai bentuk keberlanjutan, tim pengusul menyusun Buku Pedoman AuPengelolaan E-Commerce untuk SantriAy ber-ISBN, membentuk Tim Kewirausahaan Santri, dan membuka peluang kolaborasi jangka panjang dengan stakeholder eksternal. Strategi ini dirancang untuk memastikan transformasi digital dan branding yang telah dicapai tetap berjalan dan berkembang secara mandiri. Gambar 1. Metode Pelaksanaan Kegiatan 169 | Saryono. Utami & Febriansyah HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut. Depok, dilaksanakan berdasarkan rencana program yang telah disetujui dan dilaporkan melalui Laporan Kemajuan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025. Seluruh data, informasi, dan capaian yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari hasil pelaksanaan kegiatan hingga tahap laporan kemajuan, yang mencakup hasil sementara dari kegiatan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, serta rencana keberlanjutan program. HASIL Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui lima tahapan utama . Sosialisasi dan Identifikasi Masalah, . Pelatihan Keterampilan, . Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG), . Pendampingan dan Evaluasi, dan . Keberlanjutan Program. Setiap tahapan dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan pengasuh, pengurus pesantren, dan para santri. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas keterampilan, efisiensi produksi, serta kesadaran wirausaha digital di lingkungan pesantren. Sosialisasi dan Identifikasi Masalah Tahap awal dilaksanakan untuk mengenalkan program kepada seluruh pihak pesantren dan menggali permasalahan utama melalui wawancara serta Focus Group Discussion (FGD). Tabel 1. Tabel Hasil Tahap Sosialisai dan Identifikasi Masalah Rencana Tindak Aspek Kondisi Awal Temuan Lanjut Desain dan Belum memiliki logo Daya saing Pelatihan desain Branding & kemasan menarik produk rendah kemasan & branding Produk Pemasaran Masih konvensional Akses pasar Pembukaan akun Produk . Shopee & Instagram Proses Manual, alat terbatas Waktu Introduksi TTG Produksi produksi lama Literasi Rendah Santri belum Pelatihan digital Digital Santri promosi online Data menunjukkan bahwa permasalahan utama mitra meliputi kemasan yang belum menarik, belum adanya logo produk, pemasaran terbatas secara offline, proses produksi manual, dan rendahnya kemampuan digital santri. Pelatihan Pelatihan dilaksanakan berdasarkan temuan pada tahap identifikasi. Data laporan kemajuan menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan praktis santri dalam desain kemasan, pembuatan konten digital, pemasaran online, dan manajemen usaha. Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 170 Metode pelatihan menggunakan pendekatan learning by doing, sehingga peserta langsung mempraktikkan materi yang diberikan. Tabel 2. Tabel Hasil Tahap Sosialisai dan Identifikasi Masalah Hasil Setelah Persentase Aspek Pelatihan Kondisi Awal Pelatihan Peningkatan Desain Kemasan Tidak 80% & Logo desain standar kemasan baru dan 1 logo resmi Pemasaran Digital Belum ada akun Akun Shopee & 70% Instagram aktif Pelatihan ini menghasilkan peningkatan signifikan pada keterampilan digital dan pemahaman santri terhadap nilai jual produk. Gambar 2. Foto Kegiatan Pelatihan (Dokumentasi Tim PKM, 2. Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) Tahapan penerapan TTG bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk. Berdasarkan data laporan kemajuan, telah dilakukan instalasi tiga alat utama: mesin pemotong Singkong otomatis, mesin pengaduk bumbu, dan spinner peniris minyak. Tabel 3. Tuliskan caption singkat di atas tabel Kondisi Sebelum Kondisi Setelah Dampak Jenis Teknologi Program Penerapan Peningkatan Mesin Pemotong Irisan manual. Irisan seragam & Efisiensi waktu Singkong tidak seragam Mesin Pengaduk Manual, hasil Campuran bumbu Kualitas rasa Bumbu tidak rata Spinner Peniris Manual . enetes Penirisan cepat Kadar minyak Minyak dan higienis turun 35% Kapasitas Produktivitas naik 3-5 kg/batch 7Ae10 kg/batch Produksi Penerapan TTG ini masih dalam tahap adaptasi, namun telah menunjukkan hasil nyata terhadap peningkatan kapasitas dan kualitas produksi. 171 | Saryono. Utami & Febriansyah Gambar 3. Foto Kegiatan Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) (Dokumentasi Tim PKM, 2. Pendampingan dan Evaluasi Pendampingan dilakukan untuk memantau konsistensi penerapan hasil pelatihan dan teknologi. Berdasarkan laporan kemajuan, kegiatan ini dilakukan selama empat minggu dengan memantau penggunaan kemasan baru, aktivitas media sosial, dan efektivitas penjualan. Tabel 4. Tuliskan caption singkat di atas tabel Sebelum Setelah Perubahan Pendampingan Pendampingan (%) Indikator Evaluasi Penggunaan 30% produk Kemasan Baru Aktivitas Media Tidak aktif Sosial Belum Penjualan Online Efisiensi Produksi Waktu lama 85% produk 3Ae4 unggahan/minggu 60% Mulai ada pesanan luar 25% Proses stabil dan cepat 30% Pendampingan juga menunjukkan peningkatan motivasi santri dalam menjalankan usaha dan konsistensi branding digital. Gambar 4. Foto Kegiatan Pendampingan dan Evaluasi (Dokumentasi Tim PKM, 2. Keberlanjutan Program Tahap keberlanjutan difokuskan pada perencanaan jangka panjang dan penguatan Berdasarkan data laporan kemajuan, telah dibentuk Tim Kewirausahaan Santri (TKS) sebagai pengelola usaha mandiri. Sebagai bentuk implementasi keberlanjutan, tim bersama santri mengikuti kegiatan pameran produk AuKeripik Si-EngkongAy sebagai sarana promosi dan praktik kewirausahaan pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) STKIP Kusuma Negara Tahun 2025. Melalui kegiatan ini, santri belajar memasarkan produk hasil program sekaligus memperkenalkan inovasi kemasan dan branding kepada masyarakat luas. Kegiatan pameran ini juga membuka peluang kemitraan baru dan memperkuat posisi pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi berbasis digital. Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 172 Tabel 5. Keberlanjutan Program Strategi Keberlanjutan Pembentukan TKS Integrasi Kurikulum Target Jangka Panjang Santri & Pengelolaan produksi dan Usaha pesantren Pengurus Pengasuh Santri Pelatihan wirausaha rutin & Guru bisnis digital Pesantren. Kemitraan Distribusi produk bersama Santri Pasar regional Eksternal Pengurus Buku Panduan Tim Panduan digital marketing Referensi Ber-ISBN Pengabdian pesantren Pelaksana Bentuk Kegiatan Gambar 5. Stand pameran produk AuKeripik Si-EngkongAy sebagai upaya keberlanjutan program. (Dokumentasi Tim PKM, 2. Hasil Luaran Wajib dan Luaran Tambahan Luaran wajib kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut telah terealisasi sesuai target. Beberapa luaran utama yang telah dicapai meliputi penyusunan artikel ilmiah yang saat ini sedang dalam proses review di Jurnal Abdimas Prakasa Dakara yang terakreditasi Sinta 4, serta laporan kemajuan program yang telah diselesaikan sepenuhnya. Selain itu, telah dihasilkan poster kegiatan dan video dokumenter sebagai media publikasi hasil pelatihan dan penerapan teknologi tepat guna (TTG). Tim juga tengah menyelesaikan buku panduan digital marketing pesantren ber-ISBN yang kini mencapai 80% dari proses Seluruh dokumen administratif pendukung kegiatan telah selesai disusun dan dilaporkan secara lengkap. Secara keseluruhan, capaian luaran wajib menunjukkan bahwa program pengabdian ini berjalan efektif dan sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah direncanakan. 173 | Saryono. Utami & Febriansyah Tabel 6. Capaian Luaran Wajib Deskripsi Hasil Artikel publikasi di Jurnal Artikel Ilmiah Abdimas Prakasa Dakara Laporan kemajuan program Laporan Kemajuan PkM Poster kegiatan pelatihan & Poster Kegiatan TTG Video dokumenter Dokumentasi Video pelaksanaan kegiatan Buku panduan penggunaan EBuku Ber-ISBN Commerce Dokumen pendukung Laporan Administratif Jenis Luaran Wajib Status Dalam proses 100% selesai 100% selesai 100% selesai 80% proses 100% selesai Selain luaran wajib, kegiatan pengabdian ini juga menghasilkan sejumlah luaran tambahan yang memperkuat dampak program terhadap kemandirian ekonomi Luaran tersebut meliputi: Tabel 7. Capaian Luaran Tambahan Jenis Luaran Tambahan Deskripsi Hasil Logo resmi AuKeripik Desain Logo Produk Singkong Nurul HudaAy Desain Kemasan Produk Akun Shopee & Instagram Tim Kewirausahaan Santri Kerja Sama Pemasaran Draft Artikel Media Massa Tiga desain kemasan baru Kanal digital promosi dan Kelompok santri pengelola Kolaborasi dengan koperasi pesantren lokal Artikel berita kegiatan Status 100% selesai Aktif Aktif berjalan Dalam 90% selesai Capaian kegiatan menunjukkan bahwa program telah terlaksana dengan baik hingga tahap pertengahan, dengan hasil yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam aspek branding produk, keterampilan digital santri, efisiensi produksi, dan semangat kewirausahaan pesantren. Hasil sementara ini diharapkan menjadi dasar kuat bagi pengembangan tahap lanjutan, sekaligus kontribusi nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi pesantren di era digital. Gambar 5. Luaran Wajib dan Luaran Tambahan Program. (Dokumentasi Tim PKM, 2. Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 174 PEMBAHASAN Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut. Depok, menunjukkan keselarasan dengan berbagai hasil pengabdian dan penelitian terdahulu, serta memberikan temuan kontekstual baru dalam pemberdayaan ekonomi pesantren berbasis digital. Tabel 8. Perbandingan Hasil Pengabdian dengan Penelitian Terdahulu Hasil Program di Temuan Studi Keterangan Aspek Pesantren Nurul Sebelumnya Perbandingan Huda Fadhilah & Pratiwi Peningkatan literasi . : Pelatihan digital santri hingga Digital digital marketing Digital 80%, aktif di Marketing Marketing. Shopee dan jangkauan pasar Instagram UMKM 50% Efisiensi produksi Utami et al. , . meningkat 30% TTG meningkatkan Penerapan Penerapan dengan mesin kapasitas dan TTG TTG. kualitas produk spinner minyak UMKM Tersedia 3 desain Rahmawati . Branding & kemasan baru dan 1 Branding pesantren Branding & Kemasan logo resmi, mulai meningkatkan citra Kemasan Produk digunakan 85% dan loyalitas Produk. Program Saryono et al. Terbentuk Tim . : Pelatihan Kewirausahaan Pemberdayaan berbasis praktik Santri (TKS) yang Santri aktif mengelola keterampilan kader santri pelaku Program Usaha keripik Utami . Kemandirian Singkong mulai UMKM mitra Ekonomi dikelola mandiri, kampus mulai Pesantren sudah memiliki mandiri setelah identitas digital pendampingan TTG Berdasarkan tabel diatas, tergambar bahwa kegiatan pengabdian di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut menunjukkan efektivitas yang sebanding, bahkan lebih unggul dalam beberapa aspek utama. Peningkatan kemampuan santri dalam memanfaatkan media digital untuk promosi mencapai 80%, melampaui hasil kegiatan serupa yang dilaporkan oleh Fadhilah & Pratiwi . , serta Meilya et 175 | Saryono. Utami & Febriansyah , . , yang mencatat peningkatan sekitar 50Ae60% pada UMKM umum. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pelatihan partisipatif berbasis praktik langsung . earning by doin. lebih efektif diterapkan di lingkungan pesantren karena mampu mengatasi kendala literasi digital dasar dan membangun kepercayaan diri peserta. Pada aspek penerapan teknologi tepat guna, hasil kegiatan ini konsisten dengan temuan Utami et al. , . , dan Usmayanti et al. , . , di mana penerapan alat sederhana seperti mesin pemotong dan spinner minyak dapat meningkatkan efisiensi produksi hingga 30Ae35%. Capaian serupa pada program ini menegaskan bahwa penggunaan TTG bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran santri terhadap pentingnya inovasi dan standar higienitas dalam pengolahan pangan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa lingkungan pesantren dapat beradaptasi dengan teknologi modern jika diberikan pendampingan yang tepat. Dalam konteks branding dan desain produk, capaian kegiatan ini juga sejalan dengan hasil penelitian Rahmawati . , dan Aedi . , yang menekankan bahwa identitas merek berbasis nilai religius mampu meningkatkan citra dan kepercayaan konsumen terhadap produk pesantren. Pengembangan tiga desain kemasan baru dan satu logo resmi tidak hanya memperkuat daya saing produk, tetapi juga menjadi simbol identitas pesantren dalam dunia usaha modern. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini menunjukkan efektivitas pendekatan integratif antara pelatihan, penerapan teknologi, dan pendampingan Model pelaksanaan berbasis partisipasi aktif santri terbukti mampu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus memperkuat karakter kewirausahaan Integrasi antara nilai keagamaan, inovasi digital, dan semangat kemandirian ekonomi menjadi keunggulan utama yang membedakan kegiatan ini dari pengabdian serupa. Dengan demikian, hasil program ini memberikan kontribusi nyata bagi literatur pengabdian kepada masyarakat dalam konteks transformasi digital pesantren dan pemberdayaan ekonomi berbasis spiritualitas Islam. Permasalahan yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Kegiatan Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan program pengabdian di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut. Depok, ditemukan empat kendala utama yang memengaruhi optimalisasi hasil kegiatan. Permasalahan ini mencakup aspek teknis, manajerial, dan partisipatif yang saling berkaitan. Pertama, penggunaan kemasan baru produk keripik Singkong belum sepenuhnya konsisten. Sebagian produksi masih menggunakan kemasan lama karena stok bahan kemasan sebelumnya masih tersisa. Hal ini menyebabkan tampilan produk belum seragam di pasaran dan berpotensi mengurangi kekuatan identitas merek yang baru dibangun. Kedua, konten digital yang dihasilkan oleh santri masih terbatas, baik dari sisi kualitas visual maupun kuantitas unggahan. Santri sudah memahami dasar-dasar penggunaan media sosial dan marketplace, tetapi belum terbiasa membuat variasi konten promosi yang menarik dan konsisten. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlanjutan strategi digital marketing pesantren. Ketiga, santri menghadapi kesulitan dalam manajemen waktu antara kegiatan belajar, ibadah, dan keterlibatan dalam usaha pesantren. Padatnya aktivitas rutin pesantren mengakibatkan sebagian peserta tidak dapat mengikuti seluruh sesi pendampingan secara penuh. Hal ini berdampak pada Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 176 kecepatan adaptasi terhadap teknologi maupun penyusunan strategi promosi digital. Keempat, pada aspek teknis, teknologi produksi masih dalam tahap adaptasi. Beberapa santri membutuhkan waktu tambahan untuk terbiasa mengoperasikan mesin pemotong Singkong dan spinner peniris minyak dengan benar. Pendampingan teknis masih diperlukan agar proses produksi dapat berlangsung efisien dan aman. Kendala-kendala tersebut juga ditemukan dalam kegiatan pengabdian lain, seperti program pemberdayaan UMKM berbasis limbah kreatif oleh Nugraheny et , . , di mana konsistensi produksi dan keterampilan mitra menjadi faktor penentu keberhasilan program. Dengan demikian, kendala yang dihadapi dalam kegiatan ini bersifat wajar dalam konteks pemberdayaan berbasis komunitas, terutama ketika kegiatan masih berada pada tahap awal penerapan teknologi dan transformasi digital. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim pengabdian menerapkan strategi adaptif berupa pelatihan tambahan, pendampingan intensif, dan penyusunan panduan operasional sederhana bagi santri. Strategi ini diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi serta memastikan keberlanjutan penggunaan teknologi dan penerapan strategi branding secara konsisten. Tabel 9. Permasalahan dan Strategi Penanganan Dampak Permasalahan Strategi/ Solusi yang Utama Diterapkan Program Penggunaan Penggunaan stok Identitas kemasan baru lama dihabiskan merek belum belum konsisten secara bertahap seragam di karena masih sambil produksi ada stok lama kemasan baru Konten digital masih minim Promosi Pelatihan lanjutan . ualitas dan produk belum pembuatan konten optimal di dan jadwal unggahan media sosial Santri kesulitan Partisipasi Penjadwalan ulang waktu antara kegiatan dan sistem belajar, ibadah, kelompok kerja kecil tidak merata dan usaha Adaptasi Efisiensi Pendampingan teknis tambahan dan produksi masih pengoperasian alat Status Perbaikan Dalam proses Sedang Teratasi Dalam tahap 177 | Saryono. Utami & Febriansyah SIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut. Depok, berdasarkan data dari laporan kemajuan program tahun 2025, menunjukkan hasil yang positif dan relevan terhadap upaya peningkatan kemandirian ekonomi pesantren. Pelaksanaan program melalui lima tahapan yaitu sosialisasi dan identifikasi masalah, pelatihan keterampilan, penerapan teknologi tepat guna (TTG), pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program terbukti mampu meningkatkan kemampuan santri dalam aspek teknis dan manajerial. Secara umum, capaian utama program ini meliputi peningkatan keterampilan digital santri hingga 80%, efisiensi produksi sebesar 30% melalui penggunaan TTG, serta terciptanya tiga desain kemasan baru dan satu logo resmi sebagai identitas produk keripik Singkong. Selain itu, pembentukan Tim Kewirausahaan Santri (TKS) menjadi langkah penting dalam memastikan keberlanjutan program. Capaian ini sejalan dengan temuan kegiatan serupa dalam literatur sebelumnya, yang menegaskan pentingnya integrasi antara inovasi teknologi, literasi digital, dan nilai-nilai religius dalam pemberdayaan pesantren. Namun demikian, hasil evaluasi menunjukkan adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan, seperti ketidakkonsistenan penggunaan kemasan baru, keterbatasan konten digital, tantangan manajemen waktu santri, serta adaptasi penggunaan teknologi produksi. Permasalahan ini bersifat wajar pada tahap implementasi awal dan telah diantisipasi melalui pendampingan tambahan serta strategi adaptif di Dengan demikian, kegiatan ini berhasil meletakkan dasar yang kuat bagi pengembangan kewirausahaan santri berbasis teknologi dan digital marketing. Program ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga memperkuat budaya kerja, kemandirian, dan kreativitas santri dalam mengelola potensi ekonomi pesantren di era transformasi digital. Berdasarkan hasil dan temuan program hingga tahap laporan kemajuan, beberapa saran dapat diajukan untuk pelaksanaan lanjutan maupun replikasi kegiatan di masa mendatang. Pertama, diperlukan pendampingan lanjutan dalam pengelolaan konten digital dan strategi pemasaran daring agar keberlanjutan promosi produk dapat terjaga secara konsisten. Kegiatan mentoring rutin atau kolaborasi dengan mahasiswa bidang komunikasi dan desain grafis dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan kualitas dan variasi konten. Kedua, pesantren perlu meningkatkan kapasitas manajemen waktu santri melalui integrasi kegiatan kewirausahaan ke dalam kurikulum pesantren atau jadwal kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, kegiatan produksi dan pemasaran dapat berjalan seimbang dengan kegiatan belajar dan ibadah. Ketiga, pelatihan teknis lanjutan dalam penggunaan dan pemeliharaan alat TTG perlu dilakukan agar efisiensi produksi dapat terus meningkat dan kualitas produk tetap terjaga. Selain itu, perlu disiapkan sistem rotasi tugas santri agar transfer pengetahuan terkait teknologi produksi dapat Keempat, penguatan jejaring kemitraan eksternal dengan koperasi pesantren, toko oleh-oleh lokal, dan platform pemasaran digital lainnya perlu diperluas untuk memperbesar jangkauan pasar dan meningkatkan nilai jual produk. Terakhir, untuk mendukung keberlanjutan program, disarankan agar hasil kegiatan ini dikembangkan menjadi program pengabdian lanjutan berbasis inovasi produk, seperti diversifikasi rasa dan kemasan, serta penyusunan business plan pesantren yang terukur. Dengan langkah-langkah ini. Pondok Pesantren Nurul Huda Rumbut Pemberdayaan UMKM Berbasis Pesantren A | 178 berpotensi menjadi model pemberdayaan pesantren berbasis digital marketing dan teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia atas dukungan pendanaan melalui skema Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP) Tahun 2025. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STKIP Kusuma Negara atas bimbingan dan fasilitasi administratif selama proses pelaksanaan program. Penghargaan setinggi-tingginya juga diberikan kepada Pondok Pesantren Nurul Huda, khususnya kepada KH. Ahmad Juaini Thoyalisi beserta seluruh pengurus, santri, dan warga pesantren atas keterbukaan, komitmen kolaboratif, serta semangat pembelajaran yang luar biasa selama pelaksanaan kegiatan. Terakhir, terima kasih kepada seluruh mahasiswa yang telah berperan aktif dalam pelatihan, pendampingan, dan dokumentasi program ini. DAFTAR PUSTAKA