Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam AMEENA JOURNAL e-ISSN: 2986-0016 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam: Epistemologis dan Aksiologis Iswan Fadlin Institut Agama Islam Almuslim Aceh Email: ahmadzaveer@gmail. ABSTRACT This article discusses the realm of Islamic education in terms of epistemological and axiological concepts. The aim of this article is to further explain the epistemological and axiological concepts from the perspective of Islamic education. To elaborate on these terms, this article employs a technique combined with annotated bibliography as a guide to provide literature descriptions and analyze arguments. This article presents several related discussions that will help in understanding the concepts within the realm of Islamic education. Epistemology serves as a philosophical method in formulating knowledge. On the other hand, axiology can be used as a philosophical guideline to understand the existence of values and to affirm the essence of fundamental values in Islamic education. Keywords: Philosophy. Epistemological. Axiological ABSTRAK Artikel ini membahas ruang Pendidikan Islam dalam bentuk konsep epistemologi dan aksiologi. Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan lebih lanjut konsep epistemologi dan aksiologi dari sudut pandang pendidikan Islam tersebut. Dan untuk menjelaskan istilah tersebut, maka artikel ini menggunakan teknik yang dipadukan dengan bibliografi beranotasi sebagai panduan untuk membubuhi keterangan literatur dan menganalisis argumentasi. Artikel ini menyajikan beberapa pembahasan terkait yang akan membantu memahami konsep-konsep dalam ruang pendidikan Islam. Epistemologi sebagai metode filosofis dalam merumuskan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, aksiologi dapat dijadikan pedoman filosofis untuk memahami keberadaan nilai-nilai untuk menegaskan hakikat nilainilai fundamental dalam pendidikan Islam. Kata Kunci: Filsafat. Epistemologis. Aksiologis PENDAHULUAN Bidang filsafat meliputi epistemologi, ontologi, dan aksiologi. Epistemologi merupakan teori pengetahuan yang menjawab pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan dapat diperoleh dari apa yang ada dalam hati (Sol & Heng, 2. Ontologi adalah konsep "menjadi", atau berpikir, yaitu berpikir (Hausser, 2. AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 36 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam Aksiologi adalah teori nilai yang mempertimbangkan nilai, kegunaan dan fungsi benda yang bersangkutan (Wibowo et al. , 2. Ketiga sistem ini dimulai secara berurutan dari ontologi, epistemologi, dan Dari definisi sederhana dapat kita katakan: ada sesuatu yang dipikirkan . , kemudian kita mencari cara memikirkan hal tersebut . , kemudian makna yang memberi nilai atau apa maknanya . untuk pengembangan pemikiran tersebut. Perkembangan ini berupa perkembangan tertulis dan verbal. Karena di seluruh dunia, pendidikan Barat telah mempengaruhi pendidikan Islam dengan cara yang berbeda-beda, melalui metode, gagasan, dan teknologi pendidikan yang berbeda. Pendidikan Islam hendaknya mampu meredam segala tanda permasalahan akhlak yang terjadi pada generasi muda saat ini. Sebab salah satu tujuan pendidikan Islam itu sendiri adalah menanamkan prinsip-prinsip spiritual, keagamaan dan akhlak sehingga mampu melahirkan sosok peserta didik yang berbudi tinggi dan berkepribadian Islam. Keutamaan dan akhlak tersebut tidak cepat berubah atau gagal dalam menghadapi perkembangan teknologi yang menimbulkan dampak negatif terhadap perilaku peserta didik. Maka, untuk mencapai salah satu tujuan pendidikan Islam ini adalah mengkaji dan mengevaluasi pandangan filosofis pendidikan Islam yang berkaitan dengan bidang epistemologi dan aksiologi. Selain itu, dalam artikel ini penulis akan menjelaskan konsep-konsep pokok terkait pengertian epistemologi dan aksiologi dalam bingkai filsafat pendidikan Islam. METODE KAJIAN Penelitian yang ditulis pada artikel ini adalah penelitian kepustakaan dengan sumber datanya yang meliputi buku, makalah dan artikel yang relevan dengan tema yang akan ditulis pada artikel ini. Dan teknik dalam mengumpulkan data yang dilakukan pada penulisan artikel ini adalah dengan menganalisis bibliography yaitu meneliti dan menganalisis daftar referensi dari buku, majalah, artikel, makalah dan sumber lainnya yang dianggap layak dan berkaitan pada topik yang akan dikaji dan diteliti. Kemudian, analisis konten adalah Teknik analisis data dalam penelitian ini sehingga dapat menemukan gagasan dalam menarik kesimpulan secara objektif dan sistematis (Movitaria et al. , 2024. Sugiyono, 2. Metode kajian ini berorientasi pada pendekatan kualitatif dengan model deskriptif-analitis. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis berbagai perspektif yang berkembang dalam filsafat pendidikan Islam, khususnya dalam aspek epistemologi dan aksiologi. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berupaya menguraikan teori yang ada, tetapi juga mengkritisi serta menyajikan sintesis baru berdasarkan analisis literatur yang Pendekatan ini penting karena filsafat pendidikan Islam memiliki landasan yang bersumber dari wahyu, akal, dan pengalaman manusia, sehingga AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 37 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam memerlukan kajian yang mendalam agar dapat memahami implikasinya dalam konteks pendidikan Islam secara komprehensif. Analisis yang dilakukan tidak sekadar deskriptif tetapi juga interpretatif, sehingga mampu mengungkap pemahaman yang lebih mendalam mengenai asumsi dasar filsafat pendidikan Islam. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan konsep pendidikan Islam yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman. HASIL DAN PEMBAHASAN Epistemologi pendidikan Islam Epistemologi Epistemologi berarti pengetahuan dan juga berarti informasi atau Sedangkan menurut Rune, epistemologi adalah yang berkaitan dengan sumber, organisasi, metode, dan pendukung pengetahuan itu sendiri. Kemudian Azyumardi Azra menjelaskan bahwa epistemologi adalah ilmu yang mempertimbangkan reliabilitas, pemahaman, struktur, metode dan validitas ilmu (Turrohma et al. , 2. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah ilmu yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan membahas isinya, serta konsep pengetahuan yang menjelaskan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan daripada benda-benda yang ada dalam pikiran manusia itu sendiri. Dalam bidang epistemologi, hakikat dan kekhasan ilmu dilihat dari realitasnya secara keseluruhan. Epistemologi sangat penting bagi pembangunan Karena dunia ini penuh dengan aliran pemikiran dan ideologi yang berbeda-beda, baik sifatnya maupun strategi dan sistem yang digunakan, yang secara alamiah didasarkan pada pola dan pandangan terhadap realitas dengan semua dengan landasan epistemologis. Pendidikan Islam Sedangkan pengertian pendidikan Islam adalah mengembangkan potensi manusia berdasarkan tuntunan Islam serta mengembangkan keterampilan jasmani dan intelektual pada tataran kehidupan pribadi dan sosial guna membentuk manusia ideal (Makki, 2. upaya untuk memberikan bimbingan. Syekh Muhammad A. Naqib Al-Attas berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah upaya pendidik agar peserta didik dapat mengenali dan mengakui tempat yang tepat bagi manusia itu sendiri dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaannya, dan dengan demikian akan membantu siswa mengenali dan menghargai tempat yang tepat dari Tuhan dalam alam. urutan penciptaan (Hanum, 2. Penciptaan ciptaan mengarah pada penciptaan. Baik bentuk maupun kepribadiannya. Pendidikan Islam berpusat pada bimbingan materiil dan spiritual berdasarkan syariat Islam untuk membentuk karakter berdasarkan ruh Islam, yaitu bimbingan materiil dan spiritual berdasarkan ajaran Islam dalam pembentukan akhlak yang mulia. AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 38 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam Sumber Ilmu dalam Islam Ada tiga bidang sumber ilmu dalam Islam. Yaitu, metafisika yang berasal dari wahyu, terhubung dengan realitas yang lebih besar dan pada akhirnya memungkinkan kita memahami Tuhan. Berikutnya, masyarakat yang meliputi pembahasan tentang kehidupan manusia, hubungan manusia dan berbagai aspek ruang dan waktu, psikologi, sosiologi, ekonomi dan lain-lain. Kemudian, materi yang meliputi ilmu yang mempelajari dan mempelajari ciri-ciri tertentu pada makhluk hidup. (Toto, 2. Pengetahuan berasal dari lima sumber utama, yaitu pikiran, akal, persepsi, inspirasi, dan wahyu. Dalam Islam, wahyu dipandang sebagai sumber pengetahuan doktrinal yang berisi hukum dan petunjuk langsung dari Allah. Wahyu hanya diberikan kepada individu yang dipilih Allah sebagai rasul, menjadikannya sebagai anugerah eksklusif yang tidak dapat diperoleh melalui usaha manusia. Namun, di luar wahyu, manusia masih dapat memperoleh pemahaman melalui ilham dan gagasan, yang dianggap sebagai bentuk anugerah Tuhan yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, dalam memahami ajaran Islam dan hukum syariat, diperlukan akal sehat dan metode berpikir yang benar agar tidak terjadi kesalahan dalam penafsiran. Selain wahyu. Islam juga mengakui akal sebagai sumber informasi dan pengetahuan yang penting. Akal memungkinkan manusia untuk berpikir secara rasional, menganalisis fenomena, serta memahami hukum alam dan sosial. Dalam perspektif Islam, akal menjadi sarana utama dalam menemukan kebenaran ilmiah dan mendukung pemahaman terhadap wahyu. Kebenaran yang diperoleh dari hasil pemikiran manusia disebut sebagai kebenaran rasional, yang bersifat relatif dan dapat berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu. Islam tidak menolak akal, tetapi mengarahkan penggunaannya agar tetap sejalan dengan nilai-nilai yang ditetapkan dalam wahyu. Dalam epistemologi Islam, terdapat tiga aspek utama kebenaran ilmiah yang saling berkaitan, yaitu kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu, kebenaran rasional yang diperoleh melalui akal, dan kebenaran emosional yang muncul dari pengalaman batin manusia. Kebenaran wahyu bersifat absolut dan tidak dapat diubah, sementara kebenaran rasional bersifat dinamis dan dapat diuji melalui metode ilmiah. Di sisi lain, kebenaran emosional berkaitan dengan perasaan dan pengalaman subjektif yang dapat memberikan wawasan moral dan spiritual. Ketiga aspek kebenaran ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan berbagai disiplin ilmu dan membentuk cara manusia memahami dunia dalam perspektif Islam. Pada konferensi dunia pertama yang diadakan di Mekkah pada tahun 1977 tentang pendidikan Islam menghasilkan beberapa keputusan, salah satunya adalah membagi ilmu pengetahuan menjadi dua. Ilmu yang abadi adalah ilmu yang AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 39 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam diperoleh dari wahyu Al-Quran dan Hadits An-Nabawiyah. Kedua, pengetahuan yang diperoleh dari hasil pengetahuan yang didapatkan oleh manusia, baik melalui deduksi, penalaran, ataupun kombinasi keduanya. Sumber Pendidikan Islam Materi pendidikan Islam terbagi menjadi dua kategori. Materi normatif, yang terdiri dari seluruh konsep berasal daripada Al-Qur'an dan Hadits AnNabawiyah, kemudian materi sejarah yang terdiri dari. Hasil penelitian ilmiah tentang kepribadian manusia mulai dari psikologi dan sosiologi. Hasil penelitian ilmiah di bidang pendidikan yang mencakupi di dalamnya proses pembelajaran yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sejarah umat Islam dalam pengembangan pendidikan. Nilai-nilai sosial budaya dan tradisi masyarakat Islam yang mendukung perkembangan zaman. Oleh karena itu, materi sejarah ini harus dipandang sesuai dengan semangat ajaran Islam. Metode Epistemologi Pendidikan Islam Metode ini digambarkan sebagai metode penelitian, analisis dan pengumpulan data yang penting bagi pengembangan pendidikan Islam itu sendiri. Pada prinsipnya, metode - metode yang dapat digunakan untuk mempelajari filsafat juga ternyata dapat digunakan untuk memajukan pembelajaran Islam. Ada tiga metode penyelidikan filosofis: kontemplatif, spekulatif, dan deduktif. Yang dalam perkembangannya, metode-metode tersebut bersifat normatif dilakukan dengan pendekatan dogmatis, historis yaitu berdasarkan tatanan waktu dan disebut historis-filosofis, linguistik yaitu analisis bahasa dari aspek rasional, dan kemuadian dianggap kontekstual yang dipahami dari sudut pandang sosial. Dan filsafat tradisional yaitu menelaah sistem yang berlaku, filsafat kritis yang bersifat ilmiah, hermeneutika, yaitu pemahaman kata-kata dalam teks, dan perbandingan yang menentukan kekuatan dan kelemahan gagasan. (Toto, 2. Sistem pendidikan Islam berupaya memperjelas kondisi manusia dalam bidang pendidikan. Namun juga menjelaskan kondisi manusia dalam bidang pendidikan dan cara memperoleh ilmu pengetahuan. Dalam hal ini Tuhan diantara ilmu-ilmu lain merupakan sumber tertinggi dalam urusan pendidikan Islam. Pengetahuan tentang Tuhan itu tidak dapat dipisahkan dalam konteks pendidikan Islam yaitu ketika seseorang berupaya membahas Tuhan sebagai sumber ilmu Pendidikan Islam memperoleh pengetahuan tentang manusia, alam, dan Tuhan dengan menggunakan epistemologi Bayani. Burhani, dan Irfani. Dan ketiga metode yang diuraikan tersebut diatas dapat ditemukan pada semua metode pendidikan Islam pada umumnya. (Muslih, 2. Tiga cara mempelajari Islam adalah cara Bayani. Burhani dan Irfani. Metode Bayani merupakan metode yang menggunakan analisis tekstual. Oleh karena itu sumber penafsirannya adalah teks yang didasarkan pada dua hal: teks Kitab Suci . l-Qura. dan Sunnah Nabi. Para fukahah. Mutaalimin dan Ushulliyin sudah lama menggunakan cara ini. Metode ini digunakan untuk memahami dan menganalisis AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 40 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam teks serta mengekstrak makna kata dan kalimat. Metode penafsirannya didasarkan pada landasan teoritis dari kitab suci yang cukup mempunyai kekuatan untuk menentukan arah kebenaran kitab, dan akal hanya mengendalikan isinya. Yang kedua adalah metode berpikir Burhani. Berpikir kreatif adalah cara berpikir yang memanfaatkan emosi, eksperimen, dan hukum logika. Artinya untuk mengukur atau mengoreksi sesuatu, kita harus menggunakan kemampuan manusia yang berupa pengalaman dan pemikiran. Sumber ilmu Burhani adalah fakta dan referensi kuat terhadap dunia nyata, baik alam maupun sosial. Model yang digunakan adalah pendekatan intervensional yaitu studi kasus. Ketiga, ini adalah cara berpikir filosofis. Yaitu metode Irfani merupakan metode yang digunakan dalam pemikiran Islam untuk memunculkan makna kata dan kata-kata yang ada di dalamnya. Dikenal juga dengan Makrifah Qolbiyah dan Al-Quran. Metode filosofis didasarkan pada alat pengalaman batin - Qolb. Wijdan. Basila dan pemahaman. Metode yang digunakan dalam Manhaj Kasyfi Riyadhah. Mujahadah. Manhaj Iktishafi (Analo. adalah metode menemukan dan mengungkap rahasia ilmu melalui analogi. Sistem Gnostik sebenarnya menolak mitos dan menghilangkannya dari takhayul. Pendekatan Irfani bahkan membimbing umat beragama untuk memahami dasar-dasar hukum Syariah. Aksiologis Pendidikan Islam Aksiologi Aksios artinya pantas atau patut dan logos berarti ilmu, tetapi aksiologi disebut juga teori nilai. Aksiologi merupakan ilmu yang membahas tentang tujuan ilmu itu sendiri dan bagaimana manusia itu sendiri memanfaatkan ilmunya. Dan teori aksiologi ini bertujuan untuk sampai pada hakikat dan manfaat ilmu Aksiologis adalah pertanyaan tentang manfaat ilmu pengetahuan. Dan saat ini, istilah tersebut masuk dalam istilah filosofis. (Tim, 2. Mengenai maksud daripada teori aksiologis adalah keguanaan ilmu. Dari sudut pandang filsafat. Aksiologi merupakan ilmu yang mempertimbangkan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana cara manusia menggunakan Hal terpenting daripada aksiologi adalah nilai yang lahir dari ilmu pengetahuan bagi manusia. Sebaliknya, pokok bahasan aksiologi adalah nilai nilai Karena ilmu pengetahuan harus melakukan perubahan budaya dan etika agar manfaat ilmu pengetahuan berdampak positif bagi masyarakat. Dalam kehidupan manusia, sumber nilai dikategorikan pada dua bagian. pertama, nilai Ilahiyah yang merupakan nilai yang diperintahkan Allah dengan perantara utusannya berupa takwa, iman dan adil serta diabadikan dalam AlQurAoan. Nilai ini tidak berubah dikarenakan mengandung kemutlakan dikehidupan manusia sebagai individu serta bagian dari masyarakat, dan tetap bukan berdasarkan hawa nafsu belaka. (Chumaidah, 2. Disamping itu, nilai ilahiyah ini langsung bersumber dari Allah SWT melalui firman ataupun hadis dari AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 41 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam Nabi-Nya. Dengan demikian, jika ada perubahan dalam nilai ilahiyah ini maka akan berpengaruh terhadap Al-QurAoan dan Hadis sebagai landasan dari nilai Ilahiyah tersebut. Yang kedua adalah nilai-nilai humanis atau kemanusiaan. Nilai ini lahir atas dasar kehidupan manusia yang terus berkembang melalui peradaban manusia. Dan menjadikan nilai tersebut bersifat dinamis namun tidak mutlak. Yang mana kebenarannya bersifat relatif dan terbatas oleh ruang dan waktu (Siswanto, 2. Artinya, sistem nilai ini muncul dari sudut pandang manusia, seperti norma-norma yang telah berjalan dan berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, nilai ini berubah tergantung pada orang-orang pada saat itu. Prinsip Islam adalah seperangkat prinsip hidup yang memuat ajaran - ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia ini, dan prinsip yang satu dihubungkan dengan prinsip yang lain sehingga tercipta suatu kesatuan umum yang tidak dapat dipisahkan dengan cara apapun. Dan yang terpenting semua prinsip-prinsip Islam dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari Aksiologi menjadi sangat penting bila dipadukan dengan pendidikan Islam karena aksiologi menitikberatkan pada nilai-nilai. Pendidikan Islam merupakan upaya sadar untuk membimbing peserta didik menjadi manusia yang hakiki. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus berusaha semaksimal mungkin agar anak sesuai dengan harapan pendidikan Islam. Melalui aksiologi, pendidikan Islam dapat menarik perhatian terhadap maksud dan tujuan program pendidikan. Di sisi lain, opini masyarakat melalui pendidikan Islam mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan mempunyai nilai dan bukan sekedar seperangkat metode rasional. Dengan kata lain, setidaknya berkaitan dengan nilai-nilai (Isla. Tujuan pendidikan Islam Aksiologi pendidikan Islam tidak harus didasarkan pada Al-Quran dan Hadits saja, melainkan juga pada tujuan yang jelas. Jika kita menganalisis tujuan pendidikan Islam secara aksiologis (Al-Syaibani, 1. , kita dapat menemukan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah meliputi penyelenggaraan proses pendidikan yang mentransformasikan perilaku bernilai Islam dalam kehidupan pribadi menuju perdamaian universal atau Rahmatan lil Alamin. Tujuan pendidikan Islam didasarkan pada empat prinsip. Nilai kepemimpinan moral, dan yang kedua adalah nilai peningkatan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di masa depan. Ketiga, nilai bekerja keras demi masa depan yang lebih baik, dan keempat, nilai yang memadukan nilai - nilai kehidupan ini dengan kehidupan lainnya. Prinsip-prinsip yang menjadi tujuan pendidikan Islam harus dipenuhi dengan prinsip-prinsip profetik, yaitu prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 42 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam Nilai profetik dalam Islam Kriteria nilai kebijakannya adalah sebagai berikut (Rahmat, 2. Nilai ibadah, yaitu falsafah pendidikan Islam yang didasarkan pada niat beribadah yang murni dan benar kepada Allah SWT. Yang sesuai dengan firman Allah pada QS Adz-Dzariyat 51 dan QS Ali - Imran 190 - 191. Nilai ihsan, yaitu falsafah pendidikan Islam yang diciptakan untuk berbuat kebaikan pada seluruh alam semesta dan menjauhi segala macam perbuatan buruk. Nilai ini cocok untuk QS Al-Qashash 7 Nilai-nilai masa depan, yaitu falsafah pendidikan Islam, akan mampu menghadapi kemajuan saat ini dan mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. Nilai masa depan ini sesuai dengan QS Al-Hasyr 18 Nilai rahmatan lil 'alamin yaitu falsafah pendidikan Islam yang ditujukan tidak hanya untuk kesejahteraan manusia tetapi juga kesejahteraan alam semesta sesuai firman Allah SWT dalam QS al-Anbiya 7 Nilai amanah, yaitu falsafah pendidikan Islam yang dibangun atas hubungan antara guru dan siswa, yang dikaitkan dengan proses transfer ilmu, berarti juga amanah kepada Allah SWT yang menjadi milik guru dan siswa harus diselesaikan, hal ini berdasarkan isi ayat 2 QS Al-Ahzab Nilai dakwah yaitu falsafah pendidikan Islam yang dibangun merupakan aktualisasi sebagai bentuk transmisi kebaikan dan kebenaran dalam proses amar makruf wa nahi munkar, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. QS Al. - Fushilat Prinsip tabsyir, yaitu falsafah pendidikan Islam yang dirancang untuk memberikan rasa optimisme terhadap masa depan pada masyarakat. Uru a dabara pada QS Al-Baqarah 119 Metode Ae metode aksiologis pendidikan Islam Penanaman niai-nilai tehadap peserta didik bisa dimulai dengan memberikan pengajaran tentang nilai, selanjutnya membutuhkan figur yang bisa dicontoh sebagai teladan yang baik serta peserta didik dibiasakan dalam melakukan suatu hal yang benar sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Maka dalam penanaman nilai Ae nilai tersebut menggunakan tiga metode yang bisa dilakukan, yaitu pengajaran, keteladanan dan pembiasaan. Di samping metode pengajaran, keteladanan dan pembiasaan dalam menanamkan nilai kepada peserta didik ada literatur yang berbeda, yang menjelaskan bahwa VCT atau Value Clarification Technique bisa dijadikan sebagai model pembelajaran dalam menanamkan nilai. VCT ini juga dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk menanamkan dan menggali serta mengungkapkan nilai-nilai tertentu pada diri peserta didik. (Pahala, 2. Bila metode tersebut berhasil dilakukan tentunya akan berimplikasi AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . 43 Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam terhadap perkembangan peserta didik. Implikasi tersebut akan jelas terlihat pada. Nilai spiritual, yaitu memperkuat keimanan dan ketakwaan peserta didik. Nilai moral, membentuk karakter dan akhlak yang mulia, 3. Nilai intelektual, mampu mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif. Nilai sosial, mampu beradaptasi dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. PENUTUP Epistemologi pendidikan Islam adalah pokok bahasan ilmu, cara memandang ilmu dan benar atau tidaknya ilmu yang berkaitan dengannya. Dari proses pengembangan karakter, perilaku, pengembangan sifat kepribadian dan lain-lain. Siapa yang menjadi muslim yang baik, pemikir yang shaleh dan kuat, beriman, berguna bagi dirinya dan lingkungannya, serta pengguna hak asasi manusia yang paling efektif untuk mencapai kebahagiaan di dunia. Apakah justru sebaliknya? Epistemologi keilmuan Islam yang terbagi dalam metode penjelas, metode Burhani dan Irfani, tidak hanya sekedar memperoleh ilmu pengetahuan. Maksud dan tujuan epistemologi adalah keinginan untuk menggunakan kekuatan ilmu dan kemungkinan memperoleh ilmu melalui pembelajaran Islam. Aksiologi sekarang secara umum mengacu pada ilmu yang mengkaji hakikat nilai dari sudut pandang filosofis. Dari sudut pandang filsafat, aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang tujuan ilmu pengetahuan dan cara manusia menggunakan ilmunya. Dan yang terpenting adalah yang ditonjolkan pada aksiologi adalah nilai ilmu pengetahuan bagi kemanusiaan. Sebaliknya, pokok bahasan aksiologi adalah nilai nilai pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan harus melakukan perubahan budaya dan etika agar manfaat ilmu pengetahuan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Nilai-nilai itu umum, tetapi keberadaannya sulit. Keberadaan prinsip tidak dapat dipahami dengan empirisme yang didasarkan pada panca indera, atau dipahami dengan akal atau logika. AMEENA JOURNAL |Volume . Nomor . Asumsi Dasar Filsafat Pendidikan Islam DAFTAR PUSTAKA