Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 ARTICLE HISTORY: Received: 2025-11-01. Revised: 2025-12-01. Accepted: 2025-12-30. https://doi. org/10. 37729/jpse. Kuis lisan sebagai Dita Yuzianah. Isneni Maryam. Nila Kurniasih Universitas Muhammadiyah Purworejo e-mail: ita. yuzianah88@gmail. ABSTRAK Salah satu kemampuan terpenting yang harus dimiliki mahasiswa adalah kemampuan Menggunakan tes lisan sebagai alat pembelajaran merupakan salah satu cara untuk membantu mahasiswa menjadi lebih mahir dalam berargumentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah mahasiswa, khususnya dalam formulasi klaim, penyajian bukti, serta penalaran dan sanggahan. Penelitian tindakan kelas adalah jenis penelitian ini. Terdapat empat tahap dalam penelitian tindakan kelas: . persiapan, . pelaksanaan, . observasi, dan . Delapan belas mahasiswa semester IV A menjadi subjek penelitian. Untuk mengumpulkan nama-nama mahasiswa semester IV A, instrumen penelitian ini adalah dokumentasi. Lembar observasi, yang terdiri dari komponenkomponen berikut: klaim, bukti, penalaran, kualifikasi, pendukung, dan sanggahan, berfungsi sebagai alat penelitian untuk mengukur kemampuan mahasiswa selama tes lisan. Ketika kuis digunakan, hasil observasi digunakan untuk menentukan metode analisis data untuk penelitian Kesimpulan penelitiaan ini adalah kuis lisan terbukti efektif dan menarik dalam meningkatkan keterampilan argumentatif mahasiswa. Ini terlihat dari peningkatan ketrampilan argumentasi dari siklus 1 yang memenuhi minimal 3 indikator sebanyak 56% meningkaat menjadi 94% pada Selain menumbuhkan keberanian berbicara, kuia lisan mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi efektif. Penggunaan kuis lisan secara terstruktur dan konsisten dapat menjadi solusi bagi Dosen yang ingin meningkatkan ketraampilaan argumentatif mahasiswa dan kualitas diskusi di kelas. Kata Kunci: Argumentatif. kuis lisan PENDAHULUAN Dalam keterampilan esensial yang mendukung mahasiswa dalam mengemukakan gagasan secara logis, kritis, dan persuasif. Kemampuan ini tidak hanya diperlukan dalam diskusi akademik, tetapi juga dalam berbagai situasi kehidupan profesional dan sosial. Terutama pada mahasiswa FKIP dimana setelah lulus mereka akan menjadi seorang Guru, dan seorang Guru harus mempunyai kemampuan argumentatif yang baik. Hal ini diperkuat oleh pendapat (Fina Fakhriyah. Ani Rusilowati. Sunyoto Eko Nugroho, 2. yang menyatakan kemampuan berargumentasi menjadi salah satu kemampuan yang JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 penting dimiliki oleh mahasiswa. Pada tingkat pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut memiliki keterampilan argumentatif yang kuat sebagai bagian dari kemampuan berpikir kritis, komunikasi akademik, dan pemecahan masalah. Namun, pada praktiknya masih banyak mahasiswa yang kesulitan menyampaikan argumen secara lisan dengan runtut, logis, dan berbasis data atau konsep ilmiah. Proses pembelajaran di perguruan tinggi cenderung masih menekankan penyampaian materi dan evaluasi tertulis, sehingga kesempatan mahasiswa untuk melatih argumentasi lisan secara aktif dan terstruktur relatif terbatas. Hal tersebut didukung hasil observasi yang peneliti lakukan selama mengajar banyak mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam menyusun argumen secara sistematis serta mengomunikasikan pendapat dengan percaya diri. Selain itu, pembelajaran berbasis argumentasi memberi siswa kesempatan untuk berbicara dengan berspekulasi, berdebat, dan menantang karena ketika mereka berbicara, mereka akan menjelaskan argumen mereka dan mencoba mempertahankan pemahaman konseptual mereka, dan siswa lain akan menantang, berbagi penjelasan mereka, dan mengajukan pertanyaan tentang kemungkinan alternatif. penjelasan yang tidak unik untuk fenomena tersebut tetapi berbentuk beberapa penjelasan, serta realisasi pemahaman konseptual yang sebanding dan lebih mudah dipahami (Driver. Newton. & Osborne, 2. Klaim (Pitorini. Suciati. , & Ariyanto, 2. bahwa instruktur belum menyediakan wadah untuk mengembangkan kemampuan argumentasi dan bahwa kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru adalah alasan mengapa keterampilan argumentasi siswa rendah. Bentuk debat ilmiah lisan dan tertulis dimungkinkan (Ginanjar. Utari. , 2015. Konstantinidou. , & Macagno, 2013. Probosari. Ramli. Harlita. Indrowati. , 2. (Fina Fakhriyah. Ani Rusilowati. Sunyoto Eko Nugroho, 2021. Konstantinidou. , & Macagno, 2. Argumentasi lisan akan menjadi fokus utama penelitian ini. Argumentasi lisan merupakan fokus utama penelitian ini. Menggunakan kuis dan penilaian lisan sebagai alat bantu mengajar merupakan salah satu cara untuk membantu siswa menjadi lebih mahir dalam berargumen. Kuis lisan mengharuskan siswa untuk menjawab pertanyaan secara impulsif, merumuskan argumen yang kuat, dan mempertahankan posisi mereka di depan audiens, berbeda JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 dengan kuis tertulis yang lebih berfokus pada keterampilan mengingat fakta. Menurut buku Arifin, penilaian lisan mengharuskan siswa untuk memberikan tanggapan secara Sesuai dengan pertanyaan atau instruksi yang diberikan, siswa akan menyampaikan tanggapan tersebut dengan kata-kata mereka sendiri (Arifin, 2. Selain itu, ujian lisan membantu siswa belajar berpikir cepat, memahami berbagai sudut pandang, dan berbicara dengan jelas. Keyakinan bahwa ujian lisan memungkinkan siswa mengomunikasikan tanggapan dan penjelasan mereka secara lugas dan lancar mendukung hal ini (Ngadiwarno, 2. Baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi yang efektif sangatlah penting. Siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengomunikasikan konsep secara jelas dan efektif dengan mengikuti ujian lisan. Metode kuis lisan juga dapat meningkatkan komunikasi antara siswa dan guru, membuat kelas lebih hidup, dan mendorong keberanian dalam keterlibatan aktif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam kemampuan mereka berargumen dan berkomunikasi, yang akan bermanfaat bagi pengembangan keterampilan akademik dan profesional mereka. Kemampuan berpikir kritis dan logis tentang hubungan antara konsep dan situasi dikenal sebagai kemampuan argumentasi (Soekisno, 2. Siswa yang memiliki kemampuan ini mampu menjelaskan hubungan antara fakta, prosedur, konsep, dan metode penyelesaian yang saling terkait. Salah satu temuan penelitian ini adalah semakin mahir seseorang dalam penalaran matematika, semakin efektif pula mereka dalam memberikan justifikasi atas suatu solusi atau tanggapan. Secara spesifik, klaim, data, warrant, kualifikasi, cadangan, dan sanggahan adalah indikator argumentasi keenam Toulmin. Berdasarkan observasi ilmiah, klaim adalah pernyataan tentang kejadian alami. Klaim juga dapat menjelaskan bagaimana dua variabel atau lebih saling Data, yang sering disebut bukti, adalah fakta-fakta khusus yang mendukung klaim. Rasional untuk menghubungkan bukti dengan klaim dikenal sebagai warrant atau penalaran. Kualifikasi menunjukkan kekuatan data terhadap warrant dan dapat membatasi pernyataan universal menggunakan frasa seperti terutama, biasanya, selalu, atau terkadang. Dukungan adalah dukungan terhadap argumen untuk JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 memberikan dukungan lebih lanjut pada warrant. Elemen terakhir adalah sanggahan, yang merupakan respons alternatif untuk menolak klaim, informasi, atau warrant karena dianggap kurang sesuai (Dwi Retno Fatmawati. Harlita, 2. Gab dan Kebaruan pada penelitian ini adalah: Penelitian terdahulu umumnya telah membahas pengembangan keterampilan argumentatif mahasiswa melalui: metode diskusi kelas dan debat akademik, penugasan esai dan presentasi, pendekatan berbasis problem-based learning atau inquiry. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji kuis lisan sebagai strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan argumentatif mahasiswa masih sangat terbatas. Kuis lisan lebih sering diposisikan sebagai alat evaluasi pemahaman materi, bukan sebagai sarana latihan argumentasi. Padahal, kuis lisan berpotensi melatih mahasiswa berpikir kritis secara spontan, menyusun argumen secara cepat, serta mempertahankan pendapat secara akademik. Hal ini diperkuat pendapat Muthia Azizah. Remiswal, . teknik tes ujian lisan ini masih sangat sedikit digunakan untuk evaluasi hasil belajar dikarenakan memakan waktu yang cukup lama dan juga panjang, akan tetapi Teknik tes ujian lisan ini dinilai efektif dalam penilaian evaluasi belajar karena guru akan langsung mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik akan materi yang diujikan. Kesenjangan inilah yang menjadi fokus penelitian ini. Kebaruan dalam penelitian ini diantaranya: . Fokus pada Keterampilan Argumentatif, banyak penelitian di pendidikan matematika berfokus pada kemampuan kognitif seperti pemecahan masalah atau penalaran matematis. Namun, keterampilan argumentative yang mencakup kemampuan menyusun klaim, memberikan bukti, dan menyampaikan penalaran masih kurang dieksplorasi, padahal sangat penting dalam pembelajaran matematika tingkat lanjut dan dalam membentuk calon guru yang reflektif dan kritis. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan (Karlina. , & Heffi, 2. bahwa pembelajaran di sekolah hanya berfokuskan pada aspek kognitif, namun belum melatih peserta didik dalam bernalar. Kontribusi terhadap Pendidikan Calon Guru. Penelitian ini menargetkan mahasiswa program studi pendidikan matematika, yang nantinya akan menjadi guru. Dengan meningkatkan keterampilan argumentatif mereka, penelitian ini berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran matematika di masa depan, karena guru yang mampu berargumentasi JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 dengan baik cenderung lebih efektif dalam menjelaskan konsep dan membimbing siswa berpikir kritis. integrasi asesmen formatif dan komunikasi lisan. Kuis lisan tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran aktif. Ini menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari kesalahan, menerima umpan balik langsung, dan memperbaiki cara mereka menyampaikan argumen secara real-time sebuah pendekatan yang belum banyak diteliti dalam konteks pendidikan matematika di Indonesia. Hal ini diperkuat pendapat winnie-Karen G. Lucas Deutzmann, . Previous studies indicate that debate as an instructional strategy prompts students to develop and defend arguments spontaneously, contributing to the improvement of their argumentative skills both orally and in writing. Dampak dari terselesaikannya masalah dalam penelitian ini dapat dirasakan dalam beberapa lapisan, baik secara akademik maupun praktis diantaranya: . peningkatan kompetensi mahasiswa, mahasiswa menjadi lebih terampil dalam menyusun argumen yang logis, sistematis, dan berbasis bukti. Ini sangat penting dalam pembelajaran matematika, terutama dalam kegiatan seperti pembuktian, diskusi konsep, dan pemecahan masalah terbuka. transformasi metode pembelajaran . Dosen atau pengajar memiliki alternatif strategi pembelajaran yang lebih interaktif dan Kuis lisan mendorong partisipasi aktif, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat komunikasi ilmiah secara lisan. kontribusi terhadap kualitas calon Guru. Mahasiswa pendidikan matematika yang memiliki keterampilan argumentatif yang baik akan lebih siap menjadi guru yang mampu membimbing siswa berpikir kritis dan menyampaikan materi dengan pendekatan dialogis. penguatan budaya akademik. Dengan terbiasanya mahasiswa menyampaikan argumen secara lisan, budaya akademik yang sehat dan kritis dapat tumbuh, seperti diskusi terbuka, debat ilmiah, dan evaluasi ide secara konstruktif. Dampak jangka panjang pada pendidikan Matematika. Jika strategi ini diadopsi secara luas, bisa terjadi pergeseran paradigma dari pembelajaran yang pasif menjadi aktif dan berbasis dialog. Ini berpotensi meningkatkan kualitas pendidikan matematika secara nasional. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemempuan argumentasi ilmiah mahasiswa khususnya dalam menyusun klaim, memberikan bukti dan menyampaikan penalaran serta sanggahan. JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 METODE PENELITIAN Penelitian tindakan kelas adalah jenis penelitian ini. Menurut (Arikunto, 2. , penelitian tindakan kelas terdiri dari empat tahap: . persiapan, . pelaksanaan, . observasi, dan . Pada siklus 2, isu-isu yang ditemukan pada siklus I menjadi fokus utama untuk menemukan solusi. Dengan penyesuaian yang dilakukan seperlunya untuk mengatasi isu-isu di setiap siklus, kegiatan-kegiatan dalam siklus 2 mengikuti fase yang sama seperti siklus sebelumnya, yang meliputi persiapan, tindakan, observasi, dan siklus penelitian tindakan kelas, yaitu. Tahap perencanaan adalah tahap pertama dari proses penelitian yang berfokus pada mendapatkan berbagai persyaratan pembelajaran dan gadget yang siap digunakan selama penelitian. Gadget ini termasuk lembar observasi mahasiswa, modul instruksional, materi pembelajaran, dan RPS . encana pembelajaran semeste. Tahap implementasi desain yang disiapkan sebelumnya, yang berkaitan dengan modul pengajaran yang dibuat, dikenal sebagai tahap tindakan. Tahap observasi adalah ketika Anda menyaksikan prosedur ujian lisan dalam tindakan. Peneliti melakukan observasi terhadap proses pembelajaran. Langkah penilaian yang berkaitan dengan temuan observasi dikenal sebagai refleksi. Pada tahap ini, dilakukan tinjauan terhadap temuan proses pembelajaran, termasuk manfaat dan Berikut panduan lengkap beserta ilustrasi pendukung: Gambar 1. Prosedur Penellitian JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 Penelitian ini dilaksanakan di program studi maatematika Universitas Muhaammadiyah Purworejo pada mata kuliah Matematika diskret yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan komunikasi lisan Delapan belas mahasiswa semester IV A menjadi subjek Penelitian dilakukan dalam setting perkuliahan reguler yang berlangsung di ruang kelas sesuai dengan jadwal perkuliahan. Strategi kuis lisan diterapkan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk melatih mahasiswa menyusun, menyampaikan, dan mempertahankan argumen secara lisan dalam konteks akademik. Instrumen penelitian ini adalah dokumentasi untuk mengumpulkan nama-nama mahasiswa semester IV A. Lembar observasi digunakan sebagai alat penelitian untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam penilaian lisan yang mencakup berbagai hal: claim, evidence, reasoning, qualifier, backing dan rebuttal . erdasarkan model Toulmin atau McNeill & Krajci. Saat kuis diterapkan, hasil observasi digunakan untuk menentukan metode analisis data dalam penelitian ini. Data kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Data kuantitatif dapat berupa kualitatif maupun numerik (Sugiyono. , 2. Data statistik akan disajikan dalam bentuk persentase. ycE= ycIycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa y 100% ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Kuis lisan dikatakan meningkatkan kemampuan argumentatif apabila setelah diberi tindakan terjadinya peningkatan argumen mahasiswa atau Ou 75% mahasiswa dengan kategori minimal Memenuhi 3 aspek pada ketrampilan beragumen. Ini diperkuat dengan pendapat Rhahmadanny. Anwari Adi Nugroho . dalam pembelajaran disebutkan apabila telah mencapai ketuntasan secara klasikal > 75% maka silkus berhenti. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2024Ae2025, yang dimulai pada awal Maret 2025 dan berakhir pada September 2025. Subjek penelitian ini adalah delapan belas mahasiswa semester empat Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo. Penelitian ini dilaksanakaan pada matakuliah Matematika Diskrit. Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 24 Maret 2025. Kuis dilaksanakan diakhir waktu perkulihan. Materi pada siklus 1 adalah relasi dan fungsi. JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 Pada siklus 1 dari 18 Mahasiswa 7 mahasiwa mampu memenuhi semua kategori, kategori claim terlihat dari mahasiswa tersebut mampu menjawab kuis dengan alasan yang ilmiah pada soal yang diberikan yaitu membagi habis mahaasiswa mampu menyebutkaan sifaat relasi yang terdapat dalam soal yaitu refleksif dan transitif tetapi tidak memenuhi simetris. Memenuhi kategori evidence Mahasiswa dapat memberikan data bilangan bulat yang habis dibagi. Kategori reasoning mahasiswa mampu memberikan alasan sifat yang memenuhi dengan data yang ada mengunakan rumus dari sifat relasi. Kategori qualifier mahasiswa dapat menyampaikan bahwa relasi membagi habis pada bilangan bulat tidak berlaku untuk bilangan real. Pada kategori backing mahasiwa menyampaikan jika 4 habis dibagi 2 tetapi 2 tidak habis dibagi 4. Pada kategori rebuttal mahasiwa daapat menyanggah jika relasi dirubah maka sifat relasi yang memenuhi juga akan berubah. 3 Mahasiwa memenuhi 3 indikator yaitu indicator claim, evidence dan reasoning. Menurut Wardani. Yuliati. , dan Taufiq . , mahasiswa tidak mampu memberikan argumen yang meyakinkan untuk pandangan mereka karena argumen mereka kurang bukti, justifikasi, dan dukungan, sehingga penalarannya tetap lemah dan rentan terpecah-pecah. Hal ini konsisten dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa mahasiswa tidak mampu membangun argumen atau memberikan argumen yang meyakinkan untuk mendukung pernyataan (Eskin. , & Ogan-Bekiroglu, 2. Untuk 8 mahasiswa yang lain belum mampu memenuhi indikator Tabel 1. Data presentase Ketrampilan Argumentasi Kategori Claim Evidence Reasoning Rebuttal Jumlah Presentase Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa anak yang memenuhi minimal 3 indikator aadalah 56% ini berarti belum memenuhi minimal 75%. Maka akan dilanjutkan ke silkus Refleksi padaa siklus 1 diantaraanyaa: kurang siapnya mahasiswa terhadap kuis lisaan karena kuis lisan belum pernaha diguaakan, waktu yang diberikaan untuk belajar kurang lama. Solusi yang dikalukan untuk perbaikan disiklus berikutnya adalah JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 memberitahikan terlebih dahulu jika pertemuan berikutnya akan diadakan lagi kuis lisan, sehingga mahasiswa mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Kelebihan pada siklus 1 adalah sudaah ada mahaasiswa yang memenuhi semua kriteria, ini menunjukan beberapa maahasiswa sudah siap dengan kuis lisan dan sudah mempunyai komunikasi yang baik. Siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2025 materi pada siklus 2 adalah aljabar Boolean. Pada siklus 2 mahasiswa yang memenuhi semua kreteria sebanyak 10 mahasiswa, memenuhi 4 kreteria 5 mahasiswa, memenuhi 2 kreteria 3 mahasiswa. Raangkuman kegiaataan mahasiswa untuk setiap kreteria adalah sebagai berikut. Kategori claim mahasiswa mampu menyampaikan Aljabar Boolean sangat efektif dalam merancang dan menyederhanakan logika sistem digital. Kategori evidence mahasiswa mamapu melalui aturan seperti hukum distributif, identitas, dan De Morgan, kita bisa menyederhanakan rangkaian logika kompleks menjadi bentuk yang lebih efisien. Kategori reasoning mahasiswa mampu menyederhanakan ekspresi Boolean, jumlah gerbang logika dalam rangkaian digital bisa dikurangi, sehingga mempercepat proses dan menghemat biaya produksi. Penguasaan konsep dan Kemampuan bernalar . mahasiswa dapat terlihat dari argumentasi yang dihasilkan (Sudarmo et al, 2. Kategori qualifier mahasiswa mamapu menyampaikan dalam sebagian besar kasus desain sirkuit digital, aljabar Boolean terbukti memberikan efisiensi tinggi. Pada kategori backing mahasiswa mampu menyampaikan prinsip dasar sistem logika digital yang diajarkan dalam Teknik Elektro dan Informatika, proses minimisasi menggunakan teorema Boolean meningkatkan performa sistem secara signifikan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan bahwa salah satu yang mempengaruhi argumen yang dibuat oleh mahasiswa adalah pengetahuan yang ia miliki (Ogan-Bekiroglu, f. , & Eskin, 2. Padaa kreteria rebuttal mahasiswa mamapu menjelaskan ada software otomatis untuk menyederhanakan rangkaian logika, pemahaman manual tentang aljabar Boolean tetap penting untuk analisis mendalam dan troubleshooting. JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor:2, 2025 Tabel 2. Data Presentase Ketrampilan Argumentasi Kategori Claim Evidence Reasoning Rebuttal Jumlah Presentase Padaa tabel 2 terlihat mahasiswa yang memenuhi minimal 3 kategori ketrampilan aargumentasi sudah lebih dari 75% dan terjaadi peningkatan ketrampilan argumentasi daari siklus satu, maka siklus berhenti di siklus 2. Pada siklus 2 mahasiswa sangat aantusiaas mengikuti kuis lisan salah satu penyebabnya adaalah kesiapan mahasiswa. Pada siklus 1 mahasiswa diberi waktu 15 menit untuk belajar sebelum kuis ini menyebaabkan mahasiswa belum merasa siapa untuk mengikuti kuis lisan, sedangkan pada siklus 2 mahasiswa diberi waktu belajjar dirumaha hingga pertemuan berikutnya sehinggaa mahasiswaa lebih siap untuk beragumentasi pada kuis lisan. Pada siklus 2 maahasiswa terlihat lebih sistematis dan ilmiah dalam menjawab kuis lisan dan sudah mampu memberikan alasan dan sanggahan terhadap pertanyaan yang diberikan secara spontan ketika kuis lisan berlangsung. Tentunya kemampuan beragumentasi menjadi hal yang paling dasar yang harus dimiliki oleh calon Guru. Rangkuman siklus 1 dan 2 dapat dilihat paada taabel berikut: Tabel 3. Data presentase Ketrampilan Argumentasi siklus 1 dan 2 Kategori Claim Evidence Reasoning Rebuttal Siklus 1 (%) Siklus 2 (%) Dari tabel diatas dapat kita lihat adanya peningkatan ketrampilan argumentasi dari siklus 1 yang memenuhi minimal 3 indikator sebanyak 56% meningkaat menjadi 94% pada siklus 2. ternyata kemamapuan ketrampilan argumentasi dapat ditingkatkan dari seringnyaa akita memberikan kuis lisan, tentunyaa ini dibarengi dengan kesiapan dari mahasiswa terhaadap kuis lisan. Hal ini diperkut penelitian yang dilakukan oleh (Putri, 2. Peserta didik harus paham mengenai konsep dari argumen agar bisa JPSE: Kuis lisan sebagai strategi peningkatan . Jurnal Pendidikan Surya Edukasi (JPSE). Volume: 11. Nomor: 2, 2025 meningkatkan kemampuan dalam berpendapat Penerapan kuis lisan memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis secara verbal. Aktivitas ini juga merangsang keterampilan metakognitif siswa karena mereka belajar mengevaluasi dan merevisi argumen berdasarkan masukan dari guru dan rekan. Dengan struktur yang menggabungkan claim, evidence, reasoning, qualifier, backing, dan rebuttal, siswa diajak untuk menyampaikan pendapat dengan kedalaman analisis KESIMPULAN Kuis lisan terbukti efektif dan menarik dalam meningkatkan keterampilan argumentatif mahasiswa. Ini terlihat dari peningkatan ketrampilan argumentasi dari siklus 1 yang memenuhi minimal 3 indikator sebanyak 56% meningkaat menjadi 94% pada siklus 2. Selain menumbuhkan keberanian berbicara, kuis lisan mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi efektif. Penggunaan kuis lisan secara terstruktur dan konsisten dapat menjadi solusi bagi Dosen yang ingin meningkatkan ketraampilaan argumentatif mahasiswa dan kualitas diskusi di kelas. SARAN Untuk penelitian selanjutny penelitian ini dapat dikembangkan atau dimodifikasi dengan teknologi misalnya mengunakan wayground. DAFTAR PUSTAKA