Mutiara Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. No. Oktober 2024 e-ISSN 3025-1028 Available at: https://jurnal. tiga-mutiara. com/index. php/jimi/index Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman1. Muh. Mukhlis Rahman2 1,2Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar E-mail: fadiyahazzah71@gmail. rmukhlis16@gmail. Abstract This study aims to describe the errors made by students in solving story problems using NewmanAos procedure analysis and in terms of studentsAo learning styles. The type of research used is descriptive qualitative research. The subjects of this study were students of class ViA Awith a total of 23 students and selected using purposive sampling as many as 9 students based on visual, auditory and kinetic learning styles. The data collection technique in this study used a learning style questionnaire test which was tested with 23 students of class ViAA, a story problem test on the system of linear equations of two variables which was tested with 9 students who were selected based on learning style groups and interviews. Based on the results of the study there were 10 students with visual learning styles, 9 students with auditory learning styles and 4 students with kinaesthetic learning styles. Obtained from the research data are: . Students with visual learning styles made errors based on NewmanAos procedure in understanding the problem and writing the final answer. Students with auditory learning styles made errors based on NewmanAos procedure on understanding the problem, transformation, process skills and writing the final answer, . Students with kinaesthetic learning styles made errors based on NewmanAos procedure on understanding the problem, transformation, process skills and writing the final answer. Keywords: Learning Style. Newman Procedure. Story Problems. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam membentuk kehidupan sosial umat Islam, dengan memeriksa konteks sosio-historis turunnya Kajian ini relevan untuk memahami bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Al-QurAoan dapat diterapkan dalam kehidupan sosial umat manusia, terutama di era modern. Ayat-ayat Makkiyah, yang diturunkan sebelum hijrah, lebih menekankan pada pembentukan keimanan dan moralitas individu, sedangkan ayat-ayat Madaniyah, yang diturunkan setelah hijrah, mengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, termasuk hukum, sosial, ekonomi, dan politik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan pustaka . ibrary researc. , yang mengkaji literatur dan teks-teks Al-QurAoan serta tafsiran para ulama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ayat-ayat Makkiyah memberikan dasar nilai-nilai universal, seperti tauhid, keadilan, dan tanggung jawab moral, yang membentuk karakter individu dan masyarakat. Sementara itu, ayat-ayat Madaniyah memberikan panduan praktis yang sangat relevan untuk mengatur kehidupan komunitas yang lebih kompleks dan Penelitian ini menegaskan pentingnya memahami konteks sosio-historis wahyu Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 236 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 dalam penerapannya terhadap dinamika sosial umat Islam, serta memperlihatkan bagaimana ayat-ayat Al-QurAoan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Kata-kata Kunci: Konteks Sosio-Historis. Makkiyah. Madaniyah. PENDAHULUAN Al-QurAoan, sebagai kitab petunjuk hidup umat Islam, mengandung wahyu yang diturunkan dalam berbagai konteks sosial, politik, dan historis yang berbeda. Proses turunnya wahyu ini terjadi dalam dua fase utama dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, yakni pada masa di Makkah . ebelum hijra. dan masa di Madinah . etelah hijra. Oleh karena itu, wahyu yang turun di dua periode ini sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan politik yang berbeda. Untuk memahami secara mendalam isi dan pesan wahyu dalam Al-QurAoan, penting bagi umat Islam untuk memerhatikan konteks sosio-historis di balik turunnya ayat-ayat tersebut, baik yang diturunkan di Makkah maupun yang diturunkan di Madinah. Pemahaman konteks sosial-historis sangat penting dalam memahami wahyu yang terkandung dalam Al-QurAoan. Sebab, wahyu Al-QurAoan tidak hanya sekadar teks yang terlepas dari kondisi zaman dan masyarakat tempat wahyu itu diturunkan, tetapi merupakan respons Allah terhadap permasalahan yang dihadapi umat manusia pada saat itu. Al-QurAoan diturunkan secara bertahap, dengan setiap ayat atau surah memiliki latar belakang yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan politik pada masa tersebut. Oleh karena itu, dengan memerhatikan konteks tersebut, seorang muslim akan dapat memahami lebih dalam mengenai maksud dan tujuan wahyu tersebut, serta bagaimana ia seharusnya diterapkan dalam kehidupan umat Islam pada masa kini. Al-QurAoan secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis ayat berdasarkan waktu dan tempat penurunannya, yakni ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah. Ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, ketika beliau berada di Makkah. Pada masa ini, masyarakat Makkah terdiri dari suku-suku Arab yang mayoritas menyembah berhala, dan dakwah Islam belum memiliki struktur sosial dan politik yang kuat. Oleh karena itu, ayat-ayat Makkiyah umumnya lebih banyak menekankan pada pembentukan dasar-dasar keimanan, seperti keesaan Allah . , kebangkitan Ali Romdhoni. AuAl-Quran: Memerangi Illiteracy. Mencipta Peradaban Ilmu Pengetahuan,Ay Journal of QurAoan and Hadith Studies 1, no. : 3Ae22, https://journal. id/index. php/journal-of-quranand-hadith/article/view/1318/1171. Ali Romdhoni. Al-QurAoan dan Literasi: Sejarah Rancang Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (Depok: Literatur Nusantara, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 237 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan setelah mati, serta nilai-nilai moral dan akhlak. Ayat-ayat ini lebih bersifat persuasif dan menghadirkan tantangan bagi umat Islam yang masih sedikit jumlahnya dan terpinggirkan oleh masyarakat Makkah. Di sisi lain, ayat-ayat Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, dimana beliau memimpin sebuah masyarakat yang sudah terbentuk sebagai negara Islam pertama. Pada masa Madinah, umat Islam sudah memiliki komunitas yang lebih terstruktur, dan kehidupan sosial, politik, serta hukum Islam mulai diterapkan. Oleh karena itu, ayat-ayat Madaniyah lebih banyak mengatur berbagai aspek kehidupan, seperti hukum, tata negara, hubungan antar umat beragama, serta etika sosial dan politik. Pada masa ini, wahyu tidak hanya berbicara tentang keimanan, tetapi juga bagaimana mewujudkan keadilan sosial, tata kelola negara, dan hubungan yang harmonis antara individu dan masyarakat. Untuk memahami isi dan pesan wahyu dengan tepat, tidak cukup hanya dengan membaca teks Al-QurAoan secara tekstual. Pemahaman yang mendalam harus melibatkan konteks sosial dan historis yang menyertainya. Dalam hal ini, pembahasan tentang perbedaan antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana wahyu Al-QurAoan hadir sebagai respons terhadap dinamika kehidupan sosial, ekonomi, dan politik pada waktu itu. Ayat-ayat Makkiyah lebih banyak berfokus pada pembinaan karakter individu dan penguatan akidah, sementara ayat-ayat Madaniyah lebih menekankan pada pengaturan kehidupan sosial dan negara. Melalui analisis terhadap perbedaan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah ini, tulisan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bagaimana konteks sosio-historis mempengaruhi turunnya wahyu Al-QurAoan. Dengan mengetahui latar belakang turunnya wahyu, kita dapat lebih mudah menginterpretasikan dan menerapkan ajaran-ajaran Al-QurAoan dalam kehidupan modern yang penuh tantangan dan kompleksitas. Dalam tulisan ini, akan dibahas secara rinci mengenai perbedaan karakteristik antara ayat Makkiyah dan Madaniyah, bagaimana masing-masing ayat dipengaruhi oleh kondisi sosialhistoris pada masa tersebut, serta relevansinya dalam kehidupan kontemporer. Dengan demikian, diharapkan pembaca dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai Juli Farhaini Julaiha et al. AuMakkiyah dan Madaniyah,Ay Jurnal Pendidikan dan Konseling 5, no. : 3267Ae3272, https://journal. id/index. php/jpdk/article/view/11515. JaAofar. Makkiyah-Madaniyah dalam Al-QurAoan (Surabaya: Pustaka Idea, 2. Mohammad Ali. AuKontekstualisasi Al Quran: Studi Atas Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah Melalui Pendekatan Historis dan Fenomenologis,Ay Hunafa: Jurnal Studia Islamika 7, no. : 61Ae68, https://jurnalhunafa. org/index. php/hunafa/article/view/109. Taufik Adnan Amal. Rekonstruksi Sejarah Al-QurAoan (Yogyakarta: Alvabet, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 238 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 pentingnya memahami konteks sosio-historis dalam tafsir Al-QurAoan sebagai pedoman hidup umat Islam. METODE PENIELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan pustaka . ibrary researc. , yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam membentuk kehidupan sosial umat Islam. Pendekatan pustaka dipilih karena fokus utama penelitian ini adalah menganalisis teks-teks Al-QurAoan, tafsir, dan literatur relevan lainnya yang dapat memberikan pemahaman tentang konteks sosio-historis serta nilai-nilai yang terkandung dalam kedua jenis ayat tersebut. 7 Metode kualitatif memungkinkan penelitian ini untuk menggali makna-makna mendalam dalam teks, yang tidak hanya berfokus pada kata-kata yang tertulis, tetapi juga pada konteks historis, sosial, dan budaya yang melatarbelakangi turunnya wahyu. Dalam penelitian ini, analisis dilakukan dengan pendekatan tematik, yang mengidentifikasi tema-tema utama yang ada dalam ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah. Pendekatan tematik ini membantu mengorganisir informasi dari berbagai sumber dan menemukan pola-pola yang mendalam mengenai hubungan antara nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut dan kehidupan sosial umat Islam. Selain itu, pendekatan sosio-historis digunakan untuk memahami latar belakang dilihat dari kondisi sosial, politik, dan budaya pada masa turunnya wahyu, yaitu Al-QurAoan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menganalisis teks secara tekstual, tetapi penelitian ini juga mengkaji situasi sosial yang memengaruhi turunnya wahyu tersebut. Prosedur analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah bersifat deskriptif-analitis, artinya di mana peneliti memaparkan hasil temuan dengan cara yang sistematis dan Data dianalisis secara hermeneutis, yakni dengan menginterpretasikan teks-teks Al-QurAoan untuk menangkap makna yang terkandung dan relevansinya terhadap konteks sosial serta untuk menjawab tantangan zaman sekarang. Saifuddin Azwar. Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1. Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. Moh. Soehadha. Metode Penelitian Sosial Kualitatif untuk Studi Agama (Yogyakarta: Suka Press. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 239 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan HASIL DAN PEMBAHASAN Pentingnya Memahami Konteks Sosio-Historis dalam Al-QurAoan Memahami konteks sosio-historis dalam Al-QurAoan adalah langkah mendasar yang tidak hanya memberikan pemahaman mendalam tentang isi wahyu, tetapi juga membantu menjelaskan bagaimana wahyu itu relevan dengan dinamika kehidupan manusia. Al-QurAoan, sebagai kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi umat Islam, tidak diturunkan dalam ruang hampa. Sebaliknya, setiap ayat dalam Al-QurAoan merupakan respons Allah terhadap situasi tertentu yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan komunitasnya. Dengan memahami konteks sosial, budaya, dan politik yang melatarbelakangi turunnya wahyu, kita dapat menghargai bagaimana pesan-pesan Ilahi dirancang untuk menjawab tantangan dan kebutuhan spesifik umat manusia pada zamannya, sekaligus memberikan pedoman universal yang tetap relevan dan aplikatif dalam berbagai situasi hingga masa kini. Adapun maksud pendekatan sosio-historis mencakup berbagai aspek, seperti kondisi masyarakat Arab pra-Islam, struktur sosial, adat istiadat, serta sistem kepercayaan dan nilainilai yang dianut oleh masyarakat pada saat itu. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab hidup dalam kondisi yang disebut Jahiliyah, yang ditandai dengan penyembahan berhala, ketimpangan sosial, dan praktik-praktik yang merendahkan martabat manusia, seperti perbudakan dan pembunuhan bayi perempuan. Dalam situasi ini, wahyu turun secara bertahap untuk memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, baik dalam aspek individu maupun sosial. Pemahaman pendekatan sosio-historis menjadi semakin penting ketika umat Islam menyadari bahwa Al-QurAoan diturunkan dalam dua fase utama, yaitu fase Makkiyah dan fase Madaniyah. Fase Makkiyah terjadi sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah, saat umat Islam masih kecil jumlahnya dan menghadapi tekanan serta penganiayaan dari masyarakat Quraisy. Pada fase ini, wahyu Al-QurAoan lebih banyak berfokus pada pembentukan fondasi keimanan, menanamkan keyakinan tentang keesaan Allah, hari kebangkitan, dan tanggung jawab moral. Ayat-ayat Makkiyah bersifat universal, menggunakan gaya bahasa yang kuat dan retorik untuk menarik perhatian masyarakat, serta menyerukan kepada nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan, kebaikan, dan belas kasih. Muhammad Kadar Yusuf. Studi Al-QurAoan (Jakarta: Amzah, 2. Muhammad Yasir dan Ade Jamaruddin. Studi Al-QurAoan (Pekanbaru: CV. Asa Riau, 2. Muhammad Husni. AuStudi Al-QurAoan: Teori Al Makkiyah dan Al Madaniyah,Ay Al-Ibrah: Jurnal Pendidikan Keilmuan Islam . 68Ae84, https://w. id/index. php/alibrah/article/view/77. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 240 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 Setelah hijrah ke Madinah, konteks sosial berubah secara drastis. Nabi Muhammad SAW tidak lagi hanya menjadi seorang nabi dan pembawa pesan, tetapi juga seorang pemimpin politik dan sosial. Komunitas Muslim yang awalnya terpinggirkan kini menjadi kelompok mayoritas yang memerintah. Dalam kondisi ini, wahyu yang turun di Madinah mengatur berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, seperti sistem hukum, hubungan antaragama, tata kelola ekonomi, dan struktur politik. Ayat-ayat Madaniyah memberikan panduan praktis tentang bagaimana membangun masyarakat yang adil dan harmonis berdasarkan nilai-nilai Islam. Dengan memahami perbedaan konteks antara ayat Makkiyah dan Madaniyah, seorang muslim dapat melihat bagaimana Al-QurAoan tidak hanya memberikan ajaran spiritual tetapi juga solusi konkret untuk tantangan sosial. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang konteks sosio-historis, ada risiko besar untuk salah menafsirkan ayat-ayat Al-QurAoan. Misalnya, sebuah ayat yang diturunkan untuk menjawab persoalan spesifik pada masa itu mungkin tidak dapat diterapkan secara langsung dalam situasi modern tanpa memperhatikan perubahan konteks. Memahami latar belakang historis dari turunnya ayat-ayat Al-QurAoan memungkinkan umat Islam untuk menangkap esensi pesan wahyu, yaitu nilai-nilai universal yang dapat diterapkan di berbagai tempat dan Hal ini juga membantu dalam menjembatani kesenjangan antara teks Al-QurAoan yang bersifat tetap dan realitas kehidupan manusia yang terus berubah. Selain itu, memahami konteks sosio-historis juga memberikan penghargaan yang lebih besar terhadap kebijaksanaan Allah dalam menyampaikan wahyu. Allah memilih untuk menurunkan Al-QurAoan secara bertahap selama lebih dari dua dekade, menyesuaikan pesanNya dengan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Proses ini menunjukkan bahwa Al-QurAoan adalah kitab yang dinamis, berinteraksi dengan manusia dalam realitas mereka, dan memberikan solusi secara kontekstual. Dengan memahami bagaimana wahyu itu relevan bagi masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam dapat menemukan cara-cara kreatif untuk menerapkan nilai-nilai Al-QurAoan dalam menghadapi tantangan zaman Pemahaman terhadap konteks sosio-historis juga memperkaya tafsir Al-QurAoan. Tafsir tidak hanya bertujuan menjelaskan makna kata-kata dalam Al-QurAoan, tetapi juga menggali pesan-pesan moral, spiritual, dan sosial yang terkandung di dalamnya. Dengan Muhammad Ali Chozin. AuMengkaji Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dengan Pendekatan Sosiologi Agama,Ay Al-Muntaha: Jurnal Kajian Tafsir dan Studi Islam 1, no. : 16Ae29, https://ojs. id/index. php/mth/article/view/2444. Aunur Rafiq. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 241 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan mempertimbangkan latar belakang sosial dan historis, para mufassir dapat memberikan interpretasi yang lebih mendalam dan relevan. Hal ini juga membantu menjawab kritik terhadap Al-QurAoan yang kadang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai modern, karena interpretasi yang kontekstual dapat menunjukkan bahwa pesan Al-QurAoan bersifat universal dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Sebagaimana diketahui, bahwa dunia ini terus berubah, tantangan yang dihadapi umat manusia menjadi semakin kompleks. Masalah seperti ketidakadilan sosial, konflik antaragama, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan ekonomi menuntut solusi yang tidak hanya pragmatis tetapi juga berlandaskan nilai-nilai moral dan spiritual Al-QurAoan, dengan pesan-pesannya yang abadi, tetap relevan sebagai panduan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Namun, relevansi tersebut akan lebih dipahami jika konteks sosiohistoris setiap wahyu digali dengan mendalam. Dengan pendekatan ini. Al-QurAoan tidak hanya menjadi kitab suci yang dihafal dan dibaca, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang nyata dalam membimbing umat Islam menuju kehidupan yang lebih bermakna dan Karakteristik Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan Karakteristik ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan mencerminkan perbedaan konteks sosio-historis, audiens, serta tujuan yang ingin dicapai oleh wahyu dalam dua fase kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah, sedangkan ayat-ayat Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan setelah peristiwa hijrah. Perbedaan waktu, tempat, serta kondisi sosial dan politik masyarakat saat itu menjadi faktor utama yang membedakan karakteristik antara kedua jenis ayat ini. Ayat-ayat Makkiyah diturunkan di tengah masyarakat Makkah yang mayoritas adalah penyembah berhala dengan struktur sosial yang didominasi oleh kekuasaan kabilahkabilah Quraisy. Pada masa itu, dakwah Islam masih berada pada tahap awal, di mana Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sering kali menghadapi penindasan, penganiayaan, dan marginalisasi dari pihak Quraisy. Oleh karena itu, ayat-ayat Makkiyah umumnya berfokus pada pembentukan dasar-dasar keimanan umat Islam. Ayat-ayat ini menekankan tauhid, yakni keyakinan tentang keesaan Allah, serta mengajarkan tentang kebangkitan di akhirat, hari pembalasan, dan tanggung jawab moral manusia. Dalam ayat-ayat Makkiyah. Allah Hafidz Abdurrahman. Ulumul Quran Praktis. Pengantar untuk Memahami Al-Quran (Bogor: CV. Idea Pustaka Utama, 2. Ajahari. Ilmu-ilmu Al QurAoan (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 242 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 sering kali menyebut tanda-tanda kebesaran-Nya melalui fenomena alam untuk mengajak manusia merenungkan kekuasaan-Nya. Selain itu, ayat-ayat Makkiyah juga banyak memuat kisah-kisah umat terdahulu, seperti kisah Nabi Nuh. Nabi Ibrahim. Nabi Musa, dan umatumat yang dihancurkan karena mendustakan para rasul. Kisah-kisah ini berfungsi sebagai pelajaran dan pengingat bagi masyarakat Quraisy tentang akibat dari penolakan terhadap Gaya bahasa dalam ayat-ayat Makkiyah cenderung singkat, padat, dan penuh dengan retorika yang kuat. Hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian audiens yang pada saat itu banyak yang menolak Islam. Dengan gaya penyampaian yang penuh keindahan sastra dan daya persuasi, ayat-ayat Makkiyah sering kali mengundang masyarakat Quraisy untuk merenungkan isi wahyu meskipun mereka belum menerima ajaran Islam secara keseluruhan. Ayat-ayat ini juga cenderung menghindari detail hukum dan lebih menekankan pada nilainilai universal seperti keadilan, kasih sayang, dan kebenaran. Ayat-ayat Makkiyah juga menggunakan seruan langsung seperti Ya Ayyuha Al-Nas (Wahai manusi. , yang menunjukkan sifat ajakannya yang lebih umum, mencakup seluruh umat manusia tanpa memandang status sosial, agama, atau kebangsaan. Berbeda dengan ayat-ayat Makkiyah, ayat-ayat Madaniyah diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Setelah hijrah, umat Islam mulai membentuk sebuah komunitas yang terorganisir, bahkan menjadi kelompok mayoritas yang memimpin kehidupan sosial dan politik di Madinah. Konteks ini membawa perubahan signifikan dalam tema dan gaya penyampaian wahyu. Ayat-ayat Madaniyah lebih banyak berbicara tentang pengaturan kehidupan bermasyarakat, termasuk hukum-hukum yang mengatur hubungan antarindividu, tata kelola negara, ekonomi, dan hubungan antaragama. Misalnya, dalam ayat-ayat Madaniyah terdapat aturan tentang pernikahan, warisan, zakat, puasa, jihad, dan tata cara beribadah yang lebih terperinci. Selain itu, ayat-ayat Madaniyah juga memuat ketentuan tentang perjanjian, hubungan diplomasi, serta aturan tentang perang dan damai, yang relevan dengan posisi umat Islam sebagai komunitas yang berdaulat. Ayat-ayat Madaniyah sering kali menggunakan seruan Ya Ayyuha Al-Ladzina Amanu (Wahai orang-orang yang berima. , yang menunjukkan bahwa audiens utama wahyu ini Deprizon Depri. AuAyat Makkiyah dan Madaniyah Serta Implikasi terhadap Penafsiran QurAoan,Ay Jurnal Islamika 5, no. : 61Ae72, https://ejurnal. id/index. php/JSI/article/view/3647. Quraish Shihab. Wawasan Al-QurAoan: Tafsir MauduAoi Atas Berbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 2. Ali. AuKontekstualisasi Al Quran: Studi Atas Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah Melalui Pendekatan Historis dan Fenomenologis. Ay Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 243 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan adalah komunitas Muslim. Seruan ini mengindikasikan bahwa umat Islam pada masa itu sudah memiliki identitas keimanan yang lebih jelas dan tanggung jawab yang lebih besar dalam melaksanakan ajaran Islam. Berbeda dengan ayat-ayat Makkiyah yang bersifat universal, ayat-ayat Madaniyah lebih spesifik dalam mengatur kehidupan komunitas Muslim, sehingga kandungannya sering kali bersifat teknis dan detail. Gaya bahasanya cenderung lebih panjang dan argumentatif, memberikan penjelasan rinci tentang ketentuanketentuan syariat serta hikmah di baliknya. Selain itu, ayat-ayat Madaniyah juga mencerminkan dinamika hubungan antara umat Islam dengan kelompok lain di Madinah, termasuk kaum Yahudi. Nasrani, dan kaum Dalam ayat-ayat ini. Allah memberikan petunjuk tentang bagaimana umat Islam seharusnya berinteraksi dengan kelompok-kelompok tersebut, baik dalam konteks perdamaian maupun konflik. Wahyu yang turun di Madinah juga berfungsi untuk menguatkan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin spiritual dan politik, sehingga ayat-ayat Madaniyah sering kali memuat perintah untuk menaati Rasulullah serta menjelaskan peran beliau dalam membimbing umat. Perbedaan karakteristik antara ayat Makkiyah dan Madaniyah mencerminkan kebijaksanaan Allah dalam menurunkan wahyu secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi umat Islam. Ayat-ayat Makkiyah berfokus pada penguatan keimanan dan pembentukan moral individu sebagai fondasi utama. Sementara itu, ayat-ayat Madaniyah melanjutkan upaya ini dengan menyusun kerangka sosial, hukum, dan politik yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Kedua kelompok ayat ini saling melengkapi, menciptakan keseimbangan yang harmonis antara aspek spiritual dan praktis dalam ajaran Islam. Pemahaman terhadap karakteristik ayat Makkiyah dan Madaniyah bukan hanya penting untuk kajian tafsir, tetapi juga relevan dalam memahami bagaimana Al-QurAoan dapat diterapkan dalam berbagai konteks sosial dan zaman. Dengan memahami karakteristik ini, umat Islam dapat menangkap esensi pesan wahyu yang tetap relevan dan universal, meskipun ia diturunkan dalam konteks sejarah tertentu. Hal ini menegaskan bahwa AlQurAoan adalah kitab yang tidak hanya cocok untuk masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pedoman hidup yang abadi bagi umat manusia di berbagai tempat dan waktu. JaAofar. Makkiyah-Madaniyah dalam Al-QurAoan. Ali Akbar Rambe dan Akbar Tanjung. AuMakkiyah dan Madaniyah,Ay JPDK: Jurnal Pendidikan dan Konseling . 202Ae209, https://journal. id/index. php/jpdk/article/view/10898. JaAofar. Makkiyah-Madaniyah dalam Al-QurAoan. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 244 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Membentuk Kehidupan Sosial Umat Islam Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah memainkan peran fundamental dalam membentuk kehidupan sosial umat Islam, baik di masa Nabi Muhammad SAW maupun dalam perkembangan masyarakat Muslim di berbagai zaman. Al-QurAoan diturunkan secara bertahap untuk merespons secara langsung tantangan dan kebutuhan masyarakat pada Hal ini menciptakan suatu dinamika yang kaya dalam pengajaran dan penerapan ajaran Islam, dimulai dari pembentukan individu hingga pengaturan masyarakat yang Kedua jenis ayat ini, meskipun diturunkan dalam konteks waktu dan tempat yang berbeda, saling melengkapi dalam memberikan panduan menyeluruh tentang bagaimana umat Islam harus membangun kehidupan sosial yang berdasarkan nilai-nilai Ilahi. Ayat-ayat Makkiyah lebih banyak berbicara tentang pembentukan landasan keimanan dan moral sebagai elemen dasar kehidupan sosial. Dalam masyarakat Makkah praIslam, struktur sosial didominasi oleh nilai-nilai kesukuan, ketimpangan, serta perilaku yang jauh dari prinsip keadilan dan kemanusiaan. Ayat-ayat Makkiyah muncul untuk memperbaiki dasar-dasar ini, menanamkan keyakinan tentang keesaan Allah, tanggung jawab moral, dan kesadaran akan kehidupan setelah kematian. Pesan-pesan tersebut memberikan panduan kepada individu untuk memperbaiki dirinya, yang menjadi langkah awal dalam membentuk masyarakat yang lebih baik. Misalnya, penekanan pada tauhid dalam ayat-ayat Makkiyah tidak hanya menantang praktik penyembahan berhala, tetapi juga menawarkan pandangan hidup yang berpusat pada Allah sebagai satu-satunya otoritas Ini mengubah orientasi manusia dari kepatuhan kepada tradisi yang tidak adil menjadi komitmen terhadap keadilan dan kebenaran. Ayat-ayat Makkiyah juga menekankan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan cara ini. Al-QurAoan menanamkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi bagi kehidupan sosial umat Islam. Seruan kepada keadilan dan penghapusan penindasan menjadi pesan utama dalam ayat-ayat Makkiyah, yang relevansinya terus bertahan hingga saat ini. Dalam membentuk kehidupan Redo Saputra. Muhajirin, dan Eko Zulfikar. AuKonsep Harta dalam Al-QurAoan: Analisis Konteks Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir 4, no. 222Ae240. Chozin. AuMengkaji Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dengan Pendekatan Sosiologi Agama. Ay Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 245 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan sosial, ayat-ayat ini mengajarkan pentingnya tanggung jawab individu terhadap komunitas, mendorong sikap dermawan, serta menolak segala bentuk kesewenang-wenangan. Setelah hijrah ke Madinah, wahyu yang turun membawa perubahan signifikan dalam pendekatan Al-QurAoan terhadap kehidupan sosial. Ayat-ayat Madaniyah mencerminkan perkembangan masyarakat Muslim yang mulai terorganisasi sebagai sebuah komunitas. Dalam konteks ini, wahyu memberikan panduan yang lebih rinci untuk mengatur berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Ayat-ayat tersebut mengatur hubungan antarindividu, sistem hukum, ekonomi, dan politik, membangun struktur sosial yang selaras dengan nilainilai Islam. Sebagai contoh, ayat tentang zakat dan larangan riba menunjukkan perhatian Islam terhadap keadilan ekonomi, menekankan pentingnya distribusi kekayaan yang merata untuk mencegah ketimpangan sosial. Ayat-ayat Madaniyah juga memberikan panduan tentang bagaimana umat Islam harus berinteraksi dengan kelompok lain dalam masyarakat yang pluralistik. Pada periode Madinah, umat Islam hidup berdampingan dengan komunitas Yahudi. Nasrani, dan kelompok lain yang memiliki keyakinan berbeda. Wahyu yang turun dalam fase ini memberikan prinsip-prinsip hubungan yang damai, toleransi, serta penghormatan terhadap hak-hak setiap individu. Sebagai contoh, ayat-ayat yang menekankan pentingnya menepati janji dan perjanjian menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis dan saling menghormati. Selain itu, ayat-ayat Madaniyah mencerminkan tanggung jawab sosial yang lebih besar bagi umat Islam. Ketika komunitas Muslim menjadi kekuatan politik yang signifikan, wahyu memberikan panduan tentang tata kelola pemerintahan, hubungan internasional, dan perlakuan terhadap kaum lemah. Aturan-aturan yang diturunkan dalam ayat-ayat Madaniyah, seperti hukum waris, pernikahan, dan penegakan keadilan, dirancang untuk memastikan keseimbangan dalam masyarakat. Ayat-ayat ini memberikan kerangka hukum yang kokoh untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan, di mana hak-hak individu dijaga dan tanggung jawab kolektif dipenuhi. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Ilmu-ilmu Al-QurAoan (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. JaAofar. Makkiyah-Madaniyah dalam Al-QurAoan. Ika Rahmadiningsih et al. AuMakiyah dan Madaniyah,Ay Al-Mubarak: Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir 7, no. : 43Ae61, https://journal. id/index. php/al-mubarak/article/view/1023. Fiimaratus Sholihah et al. AuMakkiyah dan Madaniyah: Pengertian. Karakteristik dan Pembagiannya dalam Al-QurAoan,Ay Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan 1, no. : 337Ae341, https://jurnal. id/index. php/jkis/article/view/1087. Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 246 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 Dalam kehidupan sosial kontemporer, ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah tetap relevan sebagai pedoman bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan modern. Pesanpesan Makkiyah yang menekankan keimanan dan moralitas tetap menjadi dasar dalam membentuk individu yang berintegritas, yang pada gilirannya berkontribusi pada kehidupan sosial yang sehat. Sementara itu, prinsip-prinsip yang terkandung dalam ayat-ayat Madaniyah dapat diterapkan untuk menciptakan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang adil dan berkelanjutan. Pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah memungkinkan umat Islam untuk mengambil nilai-nilai universal dari wahyu Ilahi dan mengadaptasikannya ke dalam konteks zaman modern. Dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis, umat Islam dapat mengacu pada pesan-pesan Al-QurAoan yang mengajarkan keseimbangan antara hak dan tanggung jawab, toleransi dan prinsip, serta keadilan dan kasih Dengan cara ini. Al-QurAoan tetap menjadi pedoman hidup yang relevan bagi umat Islam dalam menciptakan masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera. Implikasi Sosio-Historis Ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Kehidupan Kontemporer Implikasi sosio-historis ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam kehidupan kontemporer sangat signifikan dalam memberikan panduan bagaimana memahami, menafsirkan, dan mengaplikasikan ajaran Al-QurAoan di tengah masyarakat modern. Dengan memahami konteks sosial dan historis tersebut, umat Islam dapat menarik nilai-nilai universal yang terkandung dalam wahyu untuk diterapkan pada tantangan zaman modern yang terus berkembang. Ayat-ayat Makkiyah, yang turun sebelum hijrah, mencerminkan suasana di mana Islam masih berada pada tahap awal penyebarannya. Dalam konteks ini, ayat-ayat Makkiyah berfokus pada pembentukan landasan keimanan, penguatan spiritualitas individu, dan seruan kepada nilai-nilai moral yang universal. Isu-isu yang diangkat dalam ayat-ayat ini seperti keesaan Allah, keadilan, tanggung jawab moral, dan kesadaran akan hari akhir sangat relevan dalam membentuk manusia modern yang sering kali terjebak dalam materialisme dan kehilangan arah spiritual. Ayat-ayat Makkiyah memberikan fondasi kokoh untuk Lukmanul Hakim dan Afriadi Putra. AuSignifikansi Makkiyah Madaniyah dan implikasinya terhadap penafsiran Al-QurAoan,Ay Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam 3, no. : 95Ae113, https://ejournal. id/index. php/rusydiah/article/view/472. SaAoad Abdul Wahid. Studi Ulang Ilmu Al-QurAoan dan Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2. Rambe dan Akbar Tanjung. AuMakkiyah dan Madaniyah. Ay Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 247 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan membentuk karakter individu, menanamkan nilai-nilai moral yang luhur, dan mengajak manusia merenungkan makna eksistensi mereka dalam kehidupan yang sementara ini. Dalam kehidupan modern yang diwarnai berbagai krisis moral dan spiritual, pesanpesan ayat Makkiyah menawarkan solusi mendasar. Misalnya, tantangan individualisme ekstrem yang mengabaikan nilai kebersamaan dapat diatasi dengan menghidupkan kembali pesan tauhid, yang menekankan hubungan manusia dengan Allah dan tanggung jawab terhadap sesama. Ayat-ayat Makkiyah juga mengingatkan pentingnya kesadaran akan hari pembalasan, yang mendorong manusia untuk bertindak adil dan bertanggung jawab, meskipun tanpa pengawasan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ayat-ayat Madaniyah yang turun setelah hijrah ke Madinah menawarkan panduan yang lebih spesifik tentang tata kelola kehidupan bermasyarakat, termasuk hukum, hubungan sosial, ekonomi, dan politik. Ayat-ayat ini mencerminkan kebutuhan untuk mengatur komunitas Muslim yang mulai berkembang menjadi sebuah masyarakat yang Dalam kehidupan modern, ketika kompleksitas hubungan sosial dan tantangan global semakin meningkat, ayat-ayat Madaniyah memberikan pedoman praktis yang Misalnya, ayat-ayat yang mengatur tentang keadilan ekonomi, seperti kewajiban zakat, larangan riba, dan prinsip transaksi yang adil, sangat relevan dalam menghadapi ketimpangan ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi dasar bagi sistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan. Selain itu, ayat-ayat Madaniyah juga memberikan panduan tentang hubungan antaragama dan diplomasi, yang sangat relevan dalam masyarakat pluralistik masa kini. Ketika konflik antaragama dan polarisasi sosial sering kali terjadi, pesan-pesan dalam ayat Madaniyah tentang toleransi, keadilan, dan pentingnya menjaga perdamaian dapat menjadi solusi untuk menciptakan harmoni dalam masyarakat. Misalnya, ayat yang menekankan pentingnya berdialog dengan cara yang baik dan tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain menunjukkan bagaimana Islam mengajarkan pendekatan damai dalam menjalin hubungan lintas agama. Implikasi sosio-historis ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah juga terlihat dalam cara umat Islam merespons perubahan sosial, politik, dan budaya. Ayat-ayat Madaniyah yang Muhammad Misbahul Huda. AuKonsep Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan (Sebuah Kajian Historis-Sosiologis Perspektif Fazlur Rahma. ,Ay Jurnal Al-Mubarak 5, no. : 52Ae72, https://journal. id/index. php/al-mubarak/article/view/459. Hakim dan Afriadi Putra. AuSignifikansi Makkiyah Madaniyah dan implikasinya terhadap penafsiran Al-QurAoan. Ay Rahmadiningsih et al. AuMakiyah dan Madaniyah. Ay Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 248 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. Oktober 2024 memuat hukum-hukum dan aturan sosial sering kali dipahami sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun, semangat di balik aturanaturan ini adalah untuk menciptakan keadilan, keseimbangan, dan keharmonisan dalam Dalam konteks modern, hal ini memberikan fleksibilitas untuk menafsirkan aturan-aturan tersebut sesuai dengan situasi dan kebutuhan masyarakat kontemporer, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang diajarkan dalam Al-QurAoan. Selain itu, pemahaman sosio-historis terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah membantu umat Islam mengatasi tantangan modern dalam hal interpretasi agama. Di era globalisasi dan informasi, umat Islam sering kali dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan nilai-nilai agama dengan tuntutan modernitas. Pemahaman yang mendalam tentang konteks turunnya ayat-ayat Al-QurAoan membantu dalam menafsirkan ajaran Islam secara relevan, menghindari literalitas yang kaku, dan menekankan nilai-nilai universal yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi. Konteks sosio-historis juga mengajarkan umat Islam pentingnya dinamika dan strategi dakwah. Ayat-ayat Makkiyah menunjukkan bahwa dakwah Islam pada tahap awal lebih menekankan persuasi, kasih sayang, dan pendekatan moral untuk menyentuh hati Sebaliknya, ayat-ayat Madaniyah mencerminkan pendekatan dakwah yang lebih terorganisasi, dengan melibatkan struktur sosial dan politik. Implikasi dari hal ini dalam kehidupan modern adalah pentingnya memilih strategi yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini, baik dalam mendakwahkan Islam maupun dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial. KESIMPULAN Pemahaman terhadap ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sangat penting dalam membentuk kehidupan sosial umat Islam, baik pada masa turunnya wahyu maupun dalam konteks kehidupan kontemporer. Ayat-ayat Makkiyah, yang berfokus pada penguatan keimanan, pembentukan moralitas individu, dan penanaman nilai-nilai universal seperti tauhid, keadilan, serta tanggung jawab spiritual, memberikan fondasi yang kokoh bagi pengembangan karakter individu Muslim. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang harmonis, meskipun tantangan sosial yang dihadapi terus Nashruddin Baidan. Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Usman. Ulumul QurAoan (Yogyakarta: Teras Ilmu, 2. Huda. AuKonsep Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan (Sebuah Kajian Historis-Sosiologis Perspektif Fazlur Rahma. Ay Copyright A2024. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 249 Azzah Fadiyah Nurfadhilah Fahman. Muh. Mukhlis Rahman: Memahami Konteks Sosio-Historis Turunnya Wahyu: Analisis terhadap Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah dalam Al-QurAoan berubah dari masa ke masa. Di sisi lain, ayat-ayat Madaniyah, dengan pendekatan yang lebih praktis dan terperinci, menawarkan panduan dalam membangun tata kelola kehidupan Panduan ini mencakup aspek hukum, hubungan sosial, ekonomi, dan politik yang mencerminkan kebutuhan untuk mengatur komunitas Muslim yang berkembang di Madinah. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap hak-hak individu dalam menciptakan struktur sosial yang inklusif dan harmonis. Konteks sosio-historis turunnya wahyu membantu umat Islam memahami relevansi nilai-nilai yang terkandung dalam Al-QurAoan, baik dalam menjawab persoalan-persoalan masa lalu maupun dalam menghadapi tantangan kehidupan modern. Pesan-pesan Al-QurAoan yang bersifat universal memberikan fleksibilitas dalam penerapannya, sehingga mampu menjawab permasalahan global seperti ketimpangan sosial, krisis moral, dan konflik antarindividu maupun antarkelompok. Secara keseluruhan, ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah membentuk harmoni yang saling melengkapi dalam menciptakan kehidupan sosial yang ideal. Al-QurAoan, dengan kekayaan nilai dan panduan praktisnya, tetap menjadi pedoman hidup yang relevan bagi umat Islam dalam membangun masyarakat yang berlandaskan keimanan, keadilan, dan perdamaian di setiap zaman. Implikasi sosio-historis dari ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana Islam merespons dinamika kehidupan manusia. Dengan pemahaman mendalam terhadap pesan ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, umat Islam dapat menerapkan ajaran Islam secara bijaksana, menjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan keterbukaan terhadap perubahan. Hal ini memastikan bahwa nilainilai Al-QurAoan tetap hidup, relevan, dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. REFERENSI Abdurrahman. Hafidz. Ulumul Quran Praktis. Pengantar untuk Memahami Al-Quran. Bogor: CV. Idea Pustaka Utama, 2003. Ajahari. Ilmu-ilmu Al QurAoan. Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2018. Ali. Mohammad. AuKontekstualisasi Al Quran: Studi Atas Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyah Melalui Pendekatan Historis dan Fenomenologis. Ay Hunafa: Jurnal Studia Islamika . 61Ae68. https://jurnalhunafa. org/index. php/hunafa/article/view/109. Amal. Taufik Adnan. Rekonstruksi Sejarah Al-QurAoan. Yogyakarta: Alvabet, 2013. Ash-Shiddieqy. Muhammad Hasbi. Ilmu-ilmu Al-QurAoan. Semarang: PT. Pustaka Rizki