Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 2 Juni 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Tersedia : https://journal. id/index. php/jbpab Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Joko Adi Pradana Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga. Indonesia *Penulis korespondensi: joko2019@sekha. Abstract. This study explores the role of Vihara Buddhagaya Watugong as a center for the revival of Buddhism in post-independence Indonesia. The main objective is to understand how this vihara contributed to the revitalization of Buddhism through historical, cultural, and spiritual lenses. A qualitative descriptive approach was employed, involving archival research, in-depth interviews, architectural observation, and oral history. Findings reveal that Vihara Buddhagaya Watugong serves multiple functions as a place of worship, cultural hub, and interfaith dialogue platform. Its architectural features, such as the Avalokitesvara Pagoda and other sacred elements, illustrate a fusion of Buddhist values and local wisdom. The vihara actively engages in education, tradition preservation, and the strengthening of Buddhist religious identity within a multicultural society. These results suggest that the revival of Buddhism in Indonesia is not solely a spiritual phenomenon but also contributes to the national narrative of cultural identity and social harmony. Thus. Vihara Buddhagaya Watugong stands as a significant symbol of religious revitalization, cultural heritage, and social cohesion in modern Indonesia. Keywords: Buddhist Architecture. Buddhist Revival. Cultural Identity. Interfaith Dialogue. Religious Heritage. Abstrak. Penelitian ini mengkaji peran Vihara Buddhagaya Watugong sebagai pusat kebangkitan agama Buddha pascakemerdekaan Indonesia. Tujuan utama studi ini adalah untuk memahami bagaimana vihara ini berkontribusi terhadap revitalisasi agama Buddha melalui pendekatan historis, kultural, dan spiritual. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif, melalui studi arsip, wawancara mendalam, observasi arsitektural, dan sejarah Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vihara Buddhagaya Watugong memainkan peran multifungsi sebagai tempat ibadah, pusat budaya, dan ruang dialog antariman. Struktur arsitekturnya seperti Pagoda Avalokitesvara dan elemen sakral lainnya menunjukkan perpaduan nilai-nilai Buddhis dan kearifan lokal. Vihara ini juga aktif dalam pendidikan, pelestarian tradisi, dan penguatan identitas keagamaan umat Buddha di tengah masyarakat Temuan ini menyoroti bagaimana kebangkitan agama Buddha di Indonesia tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga berperan dalam membentuk narasi nasionalisme dan harmoni sosial. Dengan demikian. Vihara Buddhagaya Watugong menjadi representasi penting dari revitalisasi agama, warisan budaya, dan kohesi sosial di Indonesia modern. Kata kunci: Agama Buddha. Arsitektur Vihara. Dialog Antariman. Identitas Budaya. Revitalisasi Agama. LATAR BELAKANG Buddhisme memiliki akar sejarah yang kuat dalam perkembangan peradaban di wilayah kepulauan Indonesia. Sejak abad ke-7 hingga ke-15, penyebaran agama Buddha terjadi melalui jalur perdagangan dan interaksi budaya, didukung oleh kekuasaan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit yang menjadikan ajaran Buddha sebagai bagian penting dalam tata kehidupan keagamaan dan pemerintahan (Ali et al. , 2. Namun, kemunduran Kerajaan Majapahit dan munculnya kesultanan Islam seperti Demak pada abad ke-16 menandai awal dari penurunan pengaruh agama Buddha, terutama di wilayah Jawa. Islamisasi yang berlangsung cepat membuat agama Buddha tergeser dari ruang publik, meskipun sebagian komunitas seperti masyarakat Tengger tetap mempertahankan unsur-unsur kebudayaan Buddhis dalam kehidupan mereka (Fatjerin & Budirahayu, 2021. Karim & Raya, 2. Naskah Masuk: 15 April 2025. Revisi: 22 Mei 2025. Diterima: 20 Juni 2025. Terbit: 30 Juni 2025 Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Salah satu peninggalan monumental yang menjadi simbol kuat kejayaan masa lalu agama Buddha di Indonesia adalah Candi Borobudur. Selain sebagai situs keagamaan. Borobudur juga merepresentasikan warisan budaya bangsa yang sangat berharga. Keberadaan Candi Borobudur dalam narasi kebudayaan nasional pasca-kemerdekaan Indonesia telah memainkan peran signifikan dalam membangkitkan kembali kesadaran keagamaan dan identitas Buddhis, terutama di kalangan komunitas Tionghoa-Indonesia (Agustin et al. , 2023. Xie & Ma, 2. Penetapan Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO semakin memperkuat posisinya sebagai ikon spiritual dan kebudayaan nasional, menarik perhatian baik peziarah maupun wisatawan domestik dan internasional. Seiring dengan pergeseran politik dan sosial pasca-kemerdekaan tahun 1945, lanskap keagamaan Indonesia mulai terbuka terhadap pengakuan atas keragaman agama. Pemerintah mendorong semangat toleransi dan pluralisme, memberikan ruang bagi agama-agama minoritas termasuk Buddha untuk tumbuh dan berkembang kembali (Ali et al. , 2. Dalam konteks ini, muncul tokoh penting seperti Ashin Jinarakkhita yang menjadi pelopor kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Melalui upaya dakwah, pendidikan, dan pendirian vihara, ia memainkan peranan sentral dalam membentuk komunitas Buddhis modern Indonesia (Karim & Raya, 2. Penahbisan Ashin Jinarakkhita sebagai bhikkhu pada tahun 1953 menjadi peristiwa bersejarah yang menandai kebangkitan kembali institusionalisasi agama Buddha di Indonesia setelah lima abad. Tindakan ini tidak hanya merevitalisasi praktik keagamaan Buddhis tetapi juga menghubungkan kembali umat dengan akar spiritual masa lalu yang sempat terlupakan (Fatjerin & Budirahayu, 2. Ia turut mendirikan berbagai organisasi dan pusat pendidikan Buddhis, serta memfasilitasi forum dialog antaragama dalam rangka memperkuat posisi agama Buddha di tengah keberagaman Indonesia (Agustin et al. , 2023. Xie & Ma, 2. Kebangkitan agama Buddha di Indonesia, sebagaimana terjadi pula di negara-negara Asia Tenggara pascakolonial lainnya, erat kaitannya dengan upaya pencarian identitas nasional dan pelestarian warisan budaya lokal. Dalam konteks ini, revivalisme agama tidak sekadar menjadi fenomena spiritual, melainkan juga ekspresi nasionalisme kultural yang berfungsi sebagai mekanisme perlawanan terhadap homogenisasi budaya akibat globalisasi (Lestari et , 2. Identitas keagamaan yang dihidupkan kembali ini menegaskan pentingnya keberagaman dan toleransi sebagai fondasi dalam membangun integrasi nasional yang inklusif (Lesmana et al. , 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 Di tengah keberagaman keyakinan yang ada, lembaga-lembaga keagamaan Buddhis mengambil peran strategis dalam membangun harmoni antarumat beragama. Melalui nilai-nilai seperti toleransi, welas asih, dan dialog, institusi Buddhis seperti vihara dan organisasi keagamaan aktif mengadakan forum lintas iman serta kegiatan sosial kemasyarakatan yang melibatkan berbagai kalangan (Lestari et al. , 2023. Syukur, 2. Praktik-praktik ini, termasuk pemanfaatan narasi-narasi simbolik seperti relief Gandavyuha di Borobudur, memberikan kontribusi besar dalam membentuk kesadaran kolektif tentang pentingnya saling pengertian dan empati di tengah perbedaan (Yatno, 2. Dengan demikian, studi tentang kebangkitan agama Buddha pasca-kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui studi kasus Vihara Buddhagaya Watugong, tidak hanya penting dalam konteks sejarah keagamaan, tetapi juga dalam memahami dinamika sosial, budaya, dan politik yang membentuk identitas Indonesia modern. Studi ini berupaya menunjukkan bagaimana kebangkitan agama Buddha bukan hanya merupakan fenomena spiritual, tetapi juga representasi dari daya hidup budaya lokal yang adaptif dalam menghadapi perubahan zaman. KAJIAN TEORITIS Kebangkitan agama dalam konteks transformasi sosial-politik telah menjadi fokus sejumlah teori penting. Teori ekonomi agama yang dikemukakan oleh Stark dan Bainbridge menyatakan bahwa perilaku keagamaan beroperasi menurut prinsip-prinsip pasar, di mana persaingan antara berbagai keyakinan mendorong keterlibatan dan partisipasi yang lebih tinggi dari para penganut (Aarts et al. , 2. Dalam konteks perubahan politik, teori ini menunjukkan bahwa individu cenderung mencari alternatif keagamaan yang lebih selaras dengan identitas baru mereka, sehingga mendorong munculnya kembali praktik keagamaan yang sebelumnya meredup (Liwerant, 2. Selain itu, ketidakstabilan sosial-politik sering kali memicu kebutuhan akan makna dan stabilitas, yang diwujudkan dalam bentuk ketertarikan kembali pada ajaran dan komunitas keagamaan (Yongjia, 2. Namun, fenomena ini sangat bergantung pada konteks budaya dan wilayah tertentu. Dalam komunitas Buddhis, vihara memainkan peran ganda yang signifikanAisebagai pusat spiritual dan sosial. Secara spiritual, vihara berfungsi sebagai pusat pendidikan, meditasi, dan ibadah komunitas yang membantu umat memahami ajaran Buddha secara mendalam (Chia, 2. Vihara menjadi tempat transmisi nilai dan ajaran Buddhis dari generasi ke generasi, menjaga kesinambungan tradisi di tengah perubahan zaman. Secara sosial, vihara menjadi pusat interaksi komunitas, menyelenggarakan layanan sosial, acara budaya, serta dialog lintas agama yang memperkuat kohesi sosial dan pemahaman antarumat (Sasiwongsaroj Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. et al. , 2. Fungsi ganda ini menegaskan pentingnya vihara tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai institusi sosial yang vital dalam masyarakat Buddhis kontemporer. Monastik TheravAda di Asia Tenggara menunjukkan ciri arsitektur yang khas dan mencerminkan nilai-nilai agama Buddha, seperti kesederhanaan, kontemplasi, dan kehidupan Arsitektur vihara umumnya menampilkan halaman terbuka, kuti . el bhikkh. , dan ruang meditasi yang dirancang untuk menciptakan suasana tenang demi mendukung praktik spiritual (Bornali & Handique, 2. Penggunaan bahan bangunan lokal seperti kayu dan batu bata mencerminkan keselarasan dengan alam dan ajaran tentang ketidakkekalan (Bunyom. Selain itu, kehadiran stupa dan vihara menjadi simbol aspirasi menuju pencerahan, serta memiliki fungsi edukatif bagi umat awam dalam memahami perjalanan spiritual (Nasing et al. Konsep geografi sakral juga memainkan peran penting dalam pemilihan lokasi dan pengembangan situs-situs keagamaan Buddhis. Lanskap sakral mencerminkan keterkaitan spiritual dengan lingkungan fisik, di mana vihara sering kali dibangun di tempat yang tenang dan alami guna mendukung praktik meditasi (Bayuseto, 2. Pemilihan lokasi sering didasarkan pada nilai historis atau mitologis, mengaitkan tempat tersebut dengan tokoh atau peristiwa yang dihormati dalam tradisi Buddhis (Yulianti, 2. Hubungan antara geografi dan spiritualitas ini terlihat dalam kecenderungan membangun vihara di daerah pegunungan atau terpencil sebagai simbol transendensi dari dunia profan (Nasing et al. , 2. Penyebaran awal agama Buddha ke kepulauan Nusantara dapat ditelusuri melalui berbagai sumber sejarah yang menyoroti jalur perdagangan, prasasti, dan patronase kerajaan. Salah satu bukti penting adalah Prasasti Kedukan Bukit tahun 682 M yang menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Prasasti ini menunjukkan peran sentral Sriwijaya sebagai kekuatan maritim yang mendorong pertukaran budaya dan memungkinkan masuknya ajaran Buddha ke wilayah Indonesia (Abdillah et al. , 2023. Andi et al. , 2. Selain sumber lokal, catatan dari pedagang Tiongkok dan Arab juga menggambarkan interaksi mereka dengan Sriwijaya, memperlihatkan pentingnya kerajaan ini dalam menyebarkan agama Buddha sejak abad ke-7 (Phunthasane, 2025. Sen, 2. Patronase kerajaan turut berperan sentral dalam perkembangan agama Buddha. Raja-raja Sriwijaya dan kemudian Majapahit mendukung pembangunan vihara dan penyebaran ajaran Buddha di kalangan rakyat (Mazya et al. , 2024. Phunthasane, 2. Penemuan arkeologis seperti patung Amoghapasa menjadi bukti konkret adanya hubungan antara masyarakat lokal dengan pengaruh budaya India, yang menciptakan sintesis antara unsur lokal dan asing dalam perkembangan agama Buddha di Nusantara (Adi et al. , 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 Gerakan kebangkitan agama sering kali melibatkan upaya pelestarian warisan budaya dan pengembangan pariwisata keagamaan. Praktik ini menekankan pentingnya pelestarian situs sejarah sebagai bagian dari identitas keagamaan yang berkelanjutan (Purnomo et al. Southworth, 2. Di Indonesia, organisasi keagamaan yang mendukung kebangkitan Buddhisme kerap menginisiasi restorasi kompleks candi seperti Borobudur, dengan menggabungkan pelestarian situs dan pengembangan pariwisata sebagai sarana edukasi dan perenungan spiritual (Sewell, 1906. Sutanto et al. , 2. Strategi ini tidak hanya menjaga nilainilai keagamaan tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi melalui peningkatan kunjungan wisata yang memperkaya kehidupan masyarakat sekitar (Abdillah et al. , 2. Lebih lanjut, gerakan keagamaan revivalis sering menjalin kerja sama dengan pemerintah maupun organisasi non-pemerintah untuk memperoleh dukungan finansial dan sumber daya dalam proyek restorasi. Kolaborasi ini memungkinkan nilai-nilai budaya tertanam dalam kerangka ekonomi lokal, menjadikan warisan budaya sebagai bagian yang hidup dari masyarakat (Phunthasane, 2025. Putra et al. , 2. Dalam konteks ini, peran gerakan keagamaan tidak hanya terbatas pada dimensi spiritual, tetapi juga mencakup peran sosial, pendidikan, dan ekonomi yang mendalam. Upaya mereka turut mendorong dialog antaragama, apresiasi lintas budaya, dan penguatan identitas kolektif yang berbasis pada keberagaman dan warisan sejarah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami dinamika historis kebangkitan agama Buddha di Indonesia pasca-kemerdekaan melalui studi kasus Vihara Buddhagaya Watugong. Metode kualitatif deskriptif dianggap sesuai karena memungkinkan peneliti untuk menggambarkan dan menginterpretasi makna sosial-budaya serta keagamaan yang terdapat dalam narasi sejarah, struktur arsitektural, dan praktik keagamaan di vihara tersebut. Metode kualitatif deskriptif kerap digunakan dalam kajian sejarah keagamaan di kawasan Asia Tenggara karena memberikan ruang bagi penelusuran makna secara kontekstual melalui beragam sumber data. Metode ini mencakup wawancara, studi arsip, observasi etnografis, dan analisis teks. Penelitian ini berfokus pada penggunaan studi pustaka sejarah dan dokumen arsip, wawancara dengan tokoh agama dan pengelola vihara, serta observasi langsung terhadap elemen arsitektural dan aktivitas keagamaan yang berlangsung di lingkungan Vihara Buddhagaya (Dewi et al. , 2. Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Studi arsip digunakan untuk menelusuri dokumen-dokumen sejarah seperti catatan pendirian vihara, kegiatan perayaan Waisak pertama di Borobudur, hingga jejak aktivitas Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Dokumen-dokumen ini membantu membangun narasi historis tentang kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia serta peran penting vihara dalam proses tersebut. Sumber-sumber arsip juga termasuk laporan kegiatan vihara, foto dokumentasi lama, dan catatan dari organisasi-organisasi Buddhis yang berafiliasi dengan Vihara Buddhagaya. Wawancara dilakukan secara mendalam kepada informan yang relevan seperti bhikkhu, pengurus vihara, dan umat senior yang telah lama terlibat dalam kegiatan keagamaan di vihara. Wawancara ini memberikan narasi personal tentang pengalaman religius, makna simbolik dari arsitektur vihara, serta dinamika perubahan sosial yang dirasakan oleh komunitas Buddhis sejak masa awal pendirian vihara hingga saat ini. Wawancara bersifat semi-terstruktur untuk memberikan fleksibilitas dalam eksplorasi topik dan mendalami pengalaman informan. Observasi etnografis diterapkan dengan menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan seperti puja bakti mingguan, perayaan hari besar (Waisak. Asadha. Magha Puj. , serta kegiatan meditasi terbuka untuk umum. Dalam proses ini, peneliti mendokumentasikan pola aktivitas keagamaan, partisipasi umat, serta simbolisme dalam ritual dan penggunaan ruang. Kehadiran langsung memungkinkan pemahaman terhadap bagaimana vihara tidak hanya sebagai situs ibadah tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial dan budaya. Selain metode di atas, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan sejarah lisan dan observasi arsitektural untuk menggali hubungan antara memori kolektif masyarakat dengan struktur fisik vihara. Sejarah lisan atau oral history menangkap narasi-narasi pribadi, tradisi lokal, dan pengalaman keagamaan dari generasi awal yang turut membangun dan menghidupkan kembali aktivitas Buddhis di Vihara Buddhagaya (Banindro, 2. Ceritacerita ini merekonstruksi pemahaman tentang motivasi pembangunan vihara, semangat kebangkitan agama Buddha, serta dinamika kehidupan spiritual umat. Di sisi lain, observasi arsitektural dilakukan untuk menganalisis struktur fisik vihara seperti Pagoda Avalokitesvara. Kuti Bhikkhu. Dhammasala, hingga taman dan area meditasi. Analisis ini mencakup desain bangunan, gaya arsitektur, fungsi ruang, hingga material yang Setiap elemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bagian fisik dari vihara, tetapi juga memiliki makna simbolik yang merefleksikan nilai-nilai Buddhis seperti kesederhanaan, ketenangan batin, dan pencerahan (Nuha, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 Dengan menggabungkan sejarah lisan dan observasi arsitektural, penelitian ini menyajikan pemahaman multidimensional tentang warisan keagamaan Vihara Buddhagaya. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana struktur fisik vihara tidak hanya dibentuk oleh nilai spiritual, tetapi juga bagaimana masyarakat lokal memaknai dan meresapi warisan tersebut sebagai bagian dari identitas kolektif (Rahmah & Martin, 2. Dimensi ini penting untuk menunjukkan kesinambungan antara warisan material dan nilai-nilai budaya yang hidup dalam komunitas Buddhis kontemporer. Secara keseluruhan, metode penelitian ini mengedepankan pemahaman holistik dan kontekstual terhadap fenomena kebangkitan agama Buddha di Indonesia melalui pendekatan historis dan etnografis. Penekanan pada kualitas data dan narasi memungkinkan eksplorasi makna yang lebih dalam tentang bagaimana vihara berperan sebagai titik balik kebangkitan spiritual sekaligus sebagai ruang sosial yang mendukung harmoni keberagaman di masyarakat Indonesia modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Arsitektur Keagamaan dan Simbolisme Pagoda Avalokitesvara memiliki makna simbolik yang mendalam baik dalam tradisi Buddhisme TheravAda maupun MahAyAna. Dalam MahAyAna, pagoda dianggap sebagai lambang belas kasih dan welas asih, yang melekat pada sosok Avalokitesvara, bodhisattva kasih sayang. Pagoda tidak hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga dianggap sebagai wadah spiritual tempat disimpannya uarra . elik suc. , yang diyakini membawa berkah bagi umat dan memfasilitasi keterlibatan spiritual melalui penghormatan dan pemujaan (Kim, 2024. Shim. Dalam tradisi TheravAda, struktur serupa yakni stupa juga dianggap suci dan menjadi pusat perhatian dalam praktik meditasi serta ritual komunal (Sugata, 2. Evolusi arsitektur dari stupa ke pagoda mencerminkan pergeseran teologis dan adaptasi budaya yang menandai kekayaan tafsir antartradisi Buddhis. Dalam kedua tradisi tersebut, arsitektur berperan penting dalam memperkuat keterlibatan spiritual dengan mengarahkan fokus batin umat kepada nilainilai transendental melalui simbolisme dan ritual (He et al. , 2. Kehidupan Monastik dan Kuti Bhikkhu Kuti Bhikkhu, atau tempat tinggal para bhikkhu, merupakan fasilitas dasar dalam komunitas monastik TheravAda. Struktur ini didesain secara sederhana, berfungsi sebagai ruang tidur, tempat meditasi pribadi, dan kebutuhan dasar lainnya. Arsitekturnya mencerminkan nilai-nilai kesederhanaan dan pelepasan duniawi, sejalan dengan prinsip Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. monastik Buddhis tentang kebijaksanaan dan perhatian penuh (Bornali & Handique, 2. (McLellan & White, 2. Vihara memainkan peran sentral dalam membina interaksi antara umat awam dan sangha. Sebagai ruang untuk aktivitas keagamaan sekaligus pertemuan komunitas, vihara menjadi tempat penyampaian ajaran dan praktik spiritual yang memperkuat perkembangan religius para pengikut (McLellan & White, 2. Arsitekturnya pun memberikan rasa kepemilikan dan identitas kolektif, memperkuat ikatan sosial melalui praktik-praktik bersama seperti dana . , makan bersama, dan perayaan ritual lainnya (Cassaniti, 2. Elemen Sakral (Pohon Bodhi dan Batu Watugon. Pohon Bodhi, pohon di bawah naungan Buddha mencapai pencerahan, memiliki peran simbolik dan ritualistik yang penting dalam Buddhisme. Pohon ini merepresentasikan hubungan antara alam dan pencerahan spiritual, menjadi tempat untuk meditasi dan Nilai simboliknya mencakup konsep impermanensi dan jalan menuju kebuddhaan, sekaligus menjadi pusat komunitas dalam pelaksanaan ritual (Nyaupane, 2024. Wonglangka & Han, 2. Objek alamiah sakral seperti Watugong dan pohon-pohon warisan seringkali tetap menjadi bagian penting dari lanskap keagamaan modern. Keberadaan mereka dalam ruang urban mencerminkan integrasi kesadaran ekologis dan praktik spiritual. Elemen-elemen ini melestarikan kesinambungan budaya sekaligus memperkuat identitas komunitas dalam menghadapi perubahan zaman dan urbanisasi (Nyaupane, 2024. Wonglangka & Han, 2. Fungsi Pendidikan dan Perpustakaan Vihara di Indonesia dan Asia Tenggara berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan transmisi budaya. Aktivitas pendidikan di vihara mencakup retret meditasi, kelas bahasa, serta diskusi tentang filsafat dan etika Buddhis (Yan et al. , 2. Pendekatan pedagogis modern juga diadopsi untuk menjangkau generasi muda, memastikan pelestarian nilai-nilai Buddhisme sekaligus meningkatkan kohesi sosial (Soejatminah, 2. Perpustakaan vihara memegang peranan penting dalam menjaga pengetahuan keagamaan dan memperluas jangkauan pendidikan Buddhis. Sebagai penyimpan naskah suci dan tafsir kontemporer, perpustakaan menjadi sumber literasi spiritual bagi sangha dan umat awam (Wonglangka & Han, 2. Berbagai kegiatan seperti lokakarya, program membaca, dan digitalisasi naskah telah meningkatkan akses publik terhadap ajaran Buddha, khususnya bagi generasi muda (Sirat, 2017. Wonglangka & Han, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 Kegiatan Keagamaan Publik dan Keterlibatan Lintas Iman Puja bakti mingguan memiliki peran signifikan dalam memperkuat kepatuhan religius dan partisipasi komunitas. Kegiatan ini mempererat hubungan antarumat dan dengan ajaran Buddha, memberikan kerangka waktu spiritual yang teratur dalam kehidupan sehari-hari (Artaningsih, 2024. Yu, 2. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wahana pendidikan yang mengembangkan pemahaman umat terhadap prinsip-prinsip Buddhis (Apriyanto et al. , 2. Kegiatan lintas iman yang diorganisir oleh lembaga Buddhis turut berkontribusi terhadap promosi toleransi dan harmoni sosial. Melalui forum dialog dan kolaborasi antaragama, kegiatan ini menciptakan ruang pertukaran nilai yang mengurangi stereotip dan memperkuat pemahaman bersama (Artaningsih, 2024. Sulastri & Alleynisa, 2. Nilai-nilai universal seperti kasih sayang dan pelayanan sosial sering menjadi dasar kegiatan lintas iman, memperkuat solidaritas dan kohesi sosial dalam masyarakat majemuk (Beauchamp et al. Vihara Buddhagaya Watugong telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan agama Buddha di Pulau Jawa dan Indonesia secara umum melalui representasi arsitekturalnya, integrasi budaya, serta perannya dalam mendorong toleransi antarumat Kompleks vihara ini menampilkan pagoda bertema Avalokitesvara yang khas, menggambarkan adaptasi lokal terhadap arsitektur Buddhis dan berkaitan dengan konteks sejarah penyebaran agama Buddha di Jawa, yang sejak berabad-abad telah berdampingan dengan Islam dan Hindu (Afif & Pigawati, 2015. Sen, 2. Selain sebagai situs spiritual. Vihara Buddhagaya Watugong juga berfungsi sebagai pusat budaya di Kota Semarang, yang berkontribusi dalam menyebarkan ajaran Buddha yang berfokus pada kasih sayang dan hidup berdampingan (Afif & Pigawati, 2015. Pangalila et al. Dengan menarik peziarah maupun wisatawan, vihara ini turut memperkuat dialog lintas iman dan apresiasi lintas budaya dalam masyarakat Indonesia yang majemuk (Badrun et al. Upaya tersebut tidak hanya memperkuat pariwisata lokal, tetapi juga menyebarkan nilainilai Buddhisme yang sejalan dengan lanskap keagamaan nasional Indonesia, sekaligus memperlihatkan sinergi antara tradisi dan modernitas (Pangalila et al. , 2. Kasus Vihara Buddhagaya mencerminkan ketahanan spiritual dan semangat revivalisme dalam masyarakat pascakolonial. Melalui revitalisasi praktik keagamaan Buddhis dan promosi harmoni antaragama, vihara ini menjadi simbol transformasi identitas spiritual Indonesia yang berpijak pada semangat pluralisme dan toleransi pascakemerdekaan (Chia, 2. Desain arsitektural vihara menampilkan sinkretisme antara kepercayaan lokal dan tradisi Buddhis, mencerminkan lanskap budaya Indonesia yang bersifat hibrid (Banindro, 2. Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Peran Vihara Buddhagaya dalam kebangkitan agama Buddha di Jawa sangat penting, khususnya dalam menyediakan ruang interaksi komunitas dan kegiatan budaya yang menegaskan kembali nilai-nilai Buddhisme (Nurhakim et al. , 2. Dalam konteks di mana agama Buddha sempat terpinggirkan, kehadiran vihara ini memungkinkan umat untuk menegaskan kembali identitas spiritual mereka. Selain itu, vihara ini semakin menarik perhatian dari berbagai kelompok keagamaan, menjadi ruang dialog antariman yang memperkuat kohesi sosial (Chia, 2. Figur seperti Parwati Soepangat menunjukkan bagaimana perspektif feminisme pascakolonial dalam Buddhisme mulai mendapatkan tempat di Indonesia. Ia memperkuat peran perempuan dalam kepemimpinan religius dan penafsiran ajaran Buddhis dalam konteks budaya Indonesia yang unik (Chia, 2. Hal ini memperkaya narasi keberagaman dan mendorong rekonstruksi peran gender dalam lembaga keagamaan. Vihara Buddhagaya dengan demikian menjadi contoh nyata bagaimana institusi keagamaan dapat menjadi alat untuk menyeimbangkan narasi identitas dan tradisi di tengah perubahan budaya. Reinstitusionalisasi agama Buddha di Indonesia modern menunjukkan interaksi yang kompleks antara nilai budaya lokal dan identitas nasional, terutama dalam dinamika Fenomena ini mencerminkan meningkatnya minat terhadap praktik lokal tradisional dan kebangkitan kembali identitas budaya yang sempat ditekan pada masa kolonial. Sejak era reformasi tahun 1998, terjadi pergeseran menuju penghargaan terhadap keragaman budaya dan perlindungan terhadap identitas lokal, dan dalam konteks ini, agama Buddha tampil kembali sebagai ekspresi sah dari wajah multikultural Indonesia (Erb, 2. Vihara Buddhagaya menjadi wujud nyata dari interaksi tersebut melalui integrasi tradisi lokal dalam berbagai praktik keagamaannya, menciptakan bentuk Buddhisme yang unik dan selaras dengan nilai serta identitas masyarakat Indonesia (SyaAoBana & Park, 2. Selain itu, promosi nilai Buddhis seperti kasih sayang sejalan dengan semangat nasional AuBhinneka Tunggal IkaAy, dan memperkuat dialog lintas iman sebagai sarana mempererat persatuan bangsa (Hertzman, 2. Kebangkitan agama Buddha juga turut menginspirasi upaya untuk mengintegrasikan cerita rakyat lokal dalam konteks pendidikan dan budaya, memperkuat jati diri nasional yang inklusif (Sugihartono & Purnomo, 2. Dengan demikian, reinstitusionalisasi agama Buddha di Indonesia bukan sekadar gerakan spiritual, melainkan juga merupakan gerakan sosial yang mencerminkan aspirasi terhadap otonomi budaya, pelestarian warisan leluhur, dan perwujudan identitas nasional dalam kerangka masyarakat yang beragam secara etnis dan agama (Erb, 2005. Jones, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyoroti peran penting Vihara Buddhagaya Watugong dalam kebangkitan agama Buddha di Indonesia pascakemerdekaan. Sebagai salah satu vihara TheravAda terbesar di Jawa Tengah, vihara ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol revitalisasi spiritual dan warisan budaya Buddhis. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, ditemukan bahwa struktur arsitektur, elemen sakral seperti Pagoda Avalokitesvara dan Pohon Bodhi, serta kegiatan sosial-keagamaan di vihara memainkan peran strategis dalam membangun identitas Buddhis modern yang selaras dengan nilai-nilai lokal dan semangat Vihara ini juga berfungsi sebagai wadah dialog lintas agama, pusat pendidikan, dan pelestarian tradisi Buddhis, mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai keagamaan, budaya, dan nasionalisme Indonesia. Diperlukan upaya berkelanjutan dari pemangku kepentingan keagamaan, pemerintah, dan komunitas lokal untuk mendukung pelestarian situs keagamaan bersejarah seperti Vihara Buddhagaya Watugong. Selain itu, program pendidikan dan kegiatan lintas agama perlu diperkuat untuk memperluas jangkauan inklusivitas, toleransi, dan pemahaman antar umat Studi lanjutan diharapkan dapat mengeksplorasi lebih dalam interaksi antara arsitektur keagamaan dan pembentukan identitas budaya dalam konteks Indonesia yang DAFTAR REFERENSI Aarts. Need. Grotenhuis. , & Graaf. Does duration of deregulated religious markets affect church attendance? Evidence from 26 religious markets in Europe and North America between 1981 and 2006. Journal for the Scientific Study of Religion, 49. , 657Ae672. https://doi. org/10. 1111/j. Abdillah. Putri. , & Artavi. Enterprise digital payment trends survey post COVID-19 situation. Scientific Journal of Informatics, 10. , 105Ae112. https://doi. org/10. 15294/sji. Adi. Mahanani. Soedewo. , & Faisal. Spiritual landscape characterization of Muara Takus temple compound and surroundings area. Spafa Journal, 7, 116Ae135. https://doi. org/10. 26721/spafajournal. Afif. , & Pigawati. Pengembangan kawasan Vihara Buddhagaya Watugong sebagai objek wisata di Kota Semarang. Jurnal Pengembangan Kota, 3. , 128Ae138. https://doi. org/10. 14710/jpk. Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Agustin. Kosasih. Linardy. Enrico. , & Gautama. Pandangan masyarakat Buddha terhadap wawasan Buddhayana dalam konteks komunikasi sosial. JGSB, 1. , 24Ae30. https://doi. org/10. 60046/jgsb. Ali. Sulistiyono. , & Hum. Maritime heritage and the Belt and Road Initiative: A historiographical perspective on MalaysiaAos journey as a maritime nation. Sejarah, 32. , 269Ae300. https://doi. org/10. 22452/sejarah. Andi. Gunawan. Utami. Rizki. , & Azzahra. The role of Cultural Reservation Center (BPCB) Jambi in preserving history site: Situs Bukit Siguntang. Historia: Jurnal Pendidik Peneliti Sejarah, 4. , 1Ae8. https://doi. org/10. 17509/historia. Apriyanto. Anjani. Burmansah. , & Tupari. Buddhayana: Memahami peran Ashin Jinarakkhita dalam pengembangan spiritual umat Buddha. JGSB, 1. , 1Ae9. https://doi. org/10. 60046/jgsb. Artaningsih. Menggali sejarah Kongco di Pura Batur sebagai jembatan toleransi dalam mencegah gejolak multikultural di Bali. Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan, 3. , 15Ae21. https://doi. org/10. 56127/jushpen. Badrun. Warsah. Morganna. Carles. , & Sendi. Multiculturalism of IndonesiaAos multireligious communities: The portrayal of multicultural competence and its contributing factors. International and Multidisciplinary Journal of Social Sciences, 1Ae20. https://doi. org/10. 17583/rimcis. Banindro. The transition of Hindu era Garuda visual element into Islamic era batik patterns in Java. Ndi, 8. , 467Ae489. https://doi. org/10. 62476/ndi82467 Bayuseto. Eco-Dhamma: Buddhist philosophies for environmental stewardship in Sukabumi. Indonesia. Smaratungga Journal of Education and Buddhist Studies, 3. , 117Ae132. https://doi. org/10. 53417/sjebs. Beauchamp. Ruissen. Dunlop. Estabrooks. Harden. Wolf. Liu. Schmader. Puterman. Sheel. , & Rhodes. Groupbased physical activity for older adults (GOAL) randomized controlled trial: Exercise Health Psychology, 37. , 451Ae461. https://doi. org/10. 1037/hea0000615 Bornali. , & Handique. Buddhist vihara as institution of the Tai communities: A study of Assam. India. International Journal for Multidisciplinary Research, 7. https://doi. org/10. 36948/ijfmr. Bunyom. The Buddhist cultural heritage of Cambodia and its Indian linkages: An exploration of evidence and significant inscriptions. International Journal of Research and Scientific Innovation, 12. , 24Ae35. https://doi. org/10. 51244/ijrsi. Cassaniti. The precarious spaces between us: The exchange of food and merit in ThailandAos affective moral economy during the COVID-19 pandemic. Journal of Religious Ethics, 51. , 737Ae760. https://doi. org/10. 1111/jore. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 Chia. Singing to Buddha: The case of a Buddhist rock band in contemporary Indonesia. Archipel, 100, 175Ae197. https://doi. org/10. 4000/archipel. Chia. WomenAos dharma: Parwati Soepangat and Buddhist feminist theology in postcolonial Indonesia. Journal of Religious History, 48. , 423Ae441. https://doi. org/10. 1111/1467-9809. Dewi. Izziah. , & Maharani. Environmental aspects and historical development of colonial architectural heritage in Aceh. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1361. , https://doi. org/10. 1088/17551315/1361/1/012044 Erb. Shaping a Aunew ManggaraiAy: Struggles over culture and tradition in an eastern Indonesian Asia Pacific Viewpoint, 46. , 323Ae334. https://doi. org/10. 1111/j. Fatjerin. , & Budirahayu. The struggle of Tengger tribal youths using higher education to get social and cultural status in society. Jurnal Sosiologi Dialektika, 16. , 64Ae75. https://doi. org/10. 20473/jsd. He. Zhang. Chen. Fu. Zhang. , & Xie. Study on the protection of the spatial structure and artistic value of the architectural heritage Xizi Pagoda in Hunan Province of China. Sustainability, 15. , 8352. https://doi. org/10. 3390/su15108352 Hertzman. An international turn: Rebuilding Chinese temple networks in Indonesia 20 years after the Suharto era. Global Networks, 23. , 616Ae632. https://doi. org/10. 1111/glob. Jones. Indonesian cultural policy in the reform era. Indonesia, 93. , 147Ae176. https://doi. org/10. 1353/ind. Karim. , & Raya. The acculturation dynamics of the Sekaten tradition in modern Indonesia. Dialog, 45. , 29Ae40. https://doi. org/10. 47655/dialog. Kim. From stupa to pagoda: Re-examining the sinification and transformation of Buddhist Indian Religions, 15. , https://doi. org/10. 3390/rel15060640 Lesmana. Marta. , & Girivirya. The practice of humanistic Buddhism for IndonesiaAos national integrity. Jurnal Riset Komunikasi, 4. , 179Ae197. https://doi. org/10. 38194/jurkom. Lestari. Nadia. Andriyaningsih. Sumarwan. , & Sutiyono. Buddhayana: Tradisi agama Buddha yang membawa kesatuan dalam kebhinekaan Indonesia. JGSB, 1. , 10Ae16. https://doi. org/10. 60046/jgsb. Liwerant. Globalization and collective identities. Social Compass, 49. , 253Ae https://doi. org/10. 1177/0037768602049002009 Mazya. Ridho. , & Irfani. Religious and cultural diversity in Indonesia: Dynamics of acceptance and conflict in a multidimensional perspective. International Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Journal Current Science https://doi. org/10. 47191/ijcsrr/v7-i7-32 Research Review, 7. McLellan. , & White. Social, religious, and Auspirit-basedAy capital within Cambodian and Lao Buddhist communities in Ontario. Studies in Religion/Sciences Religieuses, 44. , 160Ae177. https://doi. org/10. 1177/0008429815580781 Nasing. Rodhetbhai. , & Kirtiburana. Royal Buddhist monasteries in Rattanakosin period: Potential development guidelines for promoting cultural tourism. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 3. https://doi. org/10. 6007/ijarbss/v3-i9/254 Nuha. Acculturation of Islam in Kabumi cultural tradition of Lebuawu Village. Jepara. Harakah: Jurnal Budaya Islam, 26. , 94Ae112. https://doi. org/10. 18860/eh. Nurhakim. Yuliati. , & Putra. Services of the worship house of the Padepokan Dhammadipa Buddhist house of worship for people with disabilities. Journal of ICSAR, 6. , 7Ae15. https://doi. org/10. 17977/um005v6i12022p007 Nyaupane. Intangible cultural heritage practices in sacred garden of Lumbini. Journal Lumbini Engineering College, 6. , 84Ae92. https://doi. org/10. 3126/lecj. Pangalila. Rotty. , & Rumbay. The diversity of interfaith and ethnic relationships of religious community in Indonesia. Verbum et Ecclesia, 45. https://doi. org/10. 4102/ve. Phunthasane. The higher royal decrees of Indonesia from the 7th to the 16th centuries as a source for the history of Buddhist practices in the archipelago. oACANAA nEA: yENUA oa, 161Ae174. https://doi. org/10. 7256/2454-0609. Purnomo. Mahanaim. Lo. Ardaniah. , & Ardhianto. Visual language of Javanese script on shoe design as cultural identity. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 19. , 105Ae113. https://doi. org/10. 33153/glr. Putra. Hermanto. Sukoco. Suryanto. Lian. , & Harahap. The effect of tourist objective photos of tourist festival on sport tourism (Asian Game. in Palembang. Indonesia. Halaman Olahraga Nusantara, 4. , 350Ae360. https://doi. org/10. 31851/hon. Rahmah, & Martin. Efforts to improve student learning achievement by applying PAIKEM Attasyrih, 8. , 61Ae73. https://doi. org/10. 55849/attasyrih. Sasiwongsaroj. Wada. Okumiya. Imai. Ishimoto. Sakamoto. Fujisawa, . Kimura. Chen. Fukutomi. , & Matsubayashi. Buddhist social networks and health in old age: A study in central Thailand. Geriatrics and Gerontology International, 15. , 1210Ae1218. https://doi. org/10. 1111/ggi. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 33-48 Sen. Maritime Southeast Asia between South Asia and China to the sixteenth Trans-Regional and -National Studies of Southeast Asia, 2. , 31Ae59. https://doi. org/10. 1017/trn. Sewell. Antiquarian notes in Java. Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland, 38. , 419Ae439. https://doi. org/10. 1017/s0035869x00034420 Shim. The view of Buddhist stupa beliefs and folklore. The Journal of Buddhist Thought and Culture, 7, 43Ae68. https://doi. org/10. 33521/jbs. Sirat. ASEANAos flagship universities and regional integration initiatives. Higher Education Evaluation and Development, 11. , 68Ae80. https://doi. org/10. 1108/heed07-2017-0004 Soejatminah. ASEAN University Network in enhancing student mobility. Journal of Interdisciplinary Studies Education, 7. , 19Ae33. https://doi. org/10. 32674/jise. Southworth. The myth of KauNsinya in Southeast Asia. Entangled Religions, 13. https://doi. org/10. 46586/er. Sugata. Keterkaitan aktivitas pradaksina pada ragam tipologi bangunan stupa. Serat Rupa: Journal of Design, 1. , 247Ae260. https://doi. org/10. 28932/srjd. Sugihartono. , & Purnomo. The potential of theriantrophic characters in folk stories for animation. ADS, 106, 1Ae8. https://doi. org/10. 7176/ads/106-05 Sulastri. , & Alleynisa. Conversion and revitalization of Buddhist otera in Japan: A religiosity-historicity study. International Journal of Religion, 5. , 63Ae72. https://doi. org/10. 61707/b8razn52 Sutanto. Wardaya. , & Budi. Reconstruction of creative products using a design thinking approach: AuSpirit of MajapahitAy case study. Ultimart: Jurnal Komunikasi Visual, 16. , 39Ae49. https://doi. org/10. 31937/ultimart. SyaAoBana. , & Park. A study on the applicability of batik for public transportation design in Indonesia. Mechatronics. Electrical Power and Vehicular Technology, 11. , 75Ae85. https://doi. org/10. 14203/j. Syukur. Theological debate among Buddhist sects in Indonesia. HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 78. https://doi. org/10. 4102/hts. Wonglangka. , & Han. Green heritage and Lanna urban identity: A study of Chiang Mai Sustainability, 16. , https://doi. org/10. 3390/su16156574 Xie. , & Ma. Identification with Buddhism among young Chinese Indonesians: Multicultural dynamics and generational transitions. Humanities and Social Sciences Communications, 10. https://doi. org/10. 1057/s41599-023-02494-0 Kebangkitan Agama Buddha Pascakemerdekaan Indonesia (Studi Historis dan Kultural Vihara Buddhagaya Watugon. Yan. Dean. Feng. Hue. Koh. Kong. Ong. Tay. Wang. , & Xue. Chinese temple networks in Southeast Asia: A WebGIS digital humanities platform. Religions, 11. , 334. https://doi. org/10. 3390/rel11070334 Yatno. Penguatan moderasi umat Buddha dalam perspektif nilai simbol relief Gandawyuha Candi Borobudur. Strukturasi: Jurnal Ilmiah Magister Administrasi Publik, 5. , 54Ae64. https://doi. org/10. 31289/strukturasi. Yongjia. Religious revival in rural China and the fate of AureligionAy in China. Chinese Journal of Sociology, 3. , 268Ae290. https://doi. org/10. 1177/2057150x17703282 Yu. Liuli in Buddhist rituals and art in medieval China. Hualin International Journal of Buddhist Studies, 1. , 231Ae268. https://doi. org/10. 15239/hijbs. Yulianti. The birth of Buddhist organizations in modern Indonesia, 1900Ae1959. Religions, 13. , 217. https://doi. org/10. 3390/rel13030217 Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - VOLUME. 3 NOMOR. 2 JUNI 2025