PENDAMPINGAN PEMBUATAN KURIKULUM TAHFIDZ ALQUR'AN DI MADRASAH ALIYAH AL-ISLAMIC AMALIA KOTA TEBING TINGGI Muliatno Sekolah Tinggi Agama Islam Tebingtinggi Deli muliatno@staittd. Abstrak Pendampingan penyusunan kurikulum Tahfidz Al-Qur'an di Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia Kota Tebing Tinggi dilakukan untuk mengatasi tantangan dalam pengelolaan pembelajaran Tahfidz yang sebelumnya belum memiliki kerangka kurikulum yang jelas dan terstruktur. Proses pendampingan ini menggunakan pendekatan learner-centered curriculum (Tyler, 1. yang fokus pada kebutuhan siswa dan berorientasi pada pencapaian target hafalan dengan pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter Islami. Tahapan penyusunan melibatkan identifikasi kebutuhan, perencanaan kurikulum berbasis kompetensi, implementasi, dan evaluasi berbasis hasil belajar siswa. Kurikulum yang dihasilkan mencakup komponen-komponen kunci, yaitu: . struktur target hafalan per semester sesuai tingkat kemampuan siswa, . metode pembelajaran berbasis talaqqi, murojaah, dan drilling, . integrasi nilainilai akhlak Islami dalam setiap tahap pembelajaran, serta . mekanisme evaluasi berbasis capaian hafalan dan perubahan karakter siswa. Hasil implementasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam capaian hafalan siswa, di mana 85% siswa mampu memenuhi target hafalan minimal 5 juz dalam satu tahun, dibandingkan sebelumnya yang hanya mencapai 60%. Selain itu, terdapat penguatan karakter Islami siswa yang teramati dalam perilaku sehari-hari, seperti peningkatan disiplin, tanggung jawab, dan ketaatan beribadah. Studi ini menegaskan pentingnya pengembangan kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan lokal dan berbasis partisipasi, sebagaimana diusulkan oleh Taba . dalam teori pengembangan kurikulum partisipatif. Kurikulum yang disusun secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terbukti mampu menghasilkan pembelajaran yang lebih terarah dan Hasil ini memberikan implikasi bahwa pendekatan serupa dapat diadopsi di madrasah lain, dengan penyesuaian terhadap konteks budaya dan kebutuhan siswa. Kata Kunci: Pendampingan. Kurikulum Tahfidz. Pendidikan Karakter Islami. Madrasah Aliyah. Pengembangan Kurikulum. Talaqqi. Murojaah. Evaluasi Pembelajaran Abstract Assisting in the preparation of the Tahfidz Al-Qur'an curriculum at Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia Tebing Tinggi City was conducted to overcome the challenges in the management of Tahfidz learning that previously did not have a clear and structured curriculum framework. This mentoring process uses a learner-centered curriculum approach (Tyler, 1. that focuses on the needs of students and is oriented towards memorization targets with the integration of Islamic character education values. The preparation stage involves the identification of needs, curriculum planning based on competence, implementation, and evaluation based on student learning outcomes. The curriculum that was created contains key components, namely: . memorization target structure each semester according to the student's ability level, . learning methods based on talaqqi, murojah, and drilling, . integration of Islamic moral values at each stage learning. , and . evaluation mechanism based on memorization ability and student character change. The results of the implementation show a significant increase in the memorization achievement of students, where 85% of students can achieve the minimum memorization target of 5 juz in each year, compared to before only achieving 60%. In addition, there is a strengthening of the Islamic character of students that is observed in their daily behavior, such as the improvement of discipline, responsibility, and obedience to worship. This study emphasizes the importance of curriculum development that is responsive to local needs and based on participation. INOVASI 43 Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 according to Taba . in the theory of participatory curriculum development. Collaboratively designed curricula involving all stakeholders are proven to produce more focused and effective This result gives the implication that the same approach can be adopted in other madrasahs, with the adjustment of the cultural context and the needs of the students. Keywords: Accompanying. Tahfidz Curriculum. Islamic Character Education. Madrasah Aliyah. Curriculum Development. Talaqqi. Murojaah. Learning Evaluation PENDAHULUAN Tahfidz Al-Qur'an memiliki posisi strategis dalam pendidikan Islam, khususnya di lembaga pendidikan seperti madrasah. Selain sebagai upaya menjaga kemurnian Al-Qur'an, kegiatan Tahfidz juga berperan dalam membentuk karakter peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai Islami, sebagaimana ditegaskan oleh Azra . , bahwa pendidikan Islam harus mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual, dan moral. Namun, pelaksanaan program Tahfidz di banyak madrasah, termasuk Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia Kota Tebing Tinggi, masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal penyusunan kurikulum yang sistematis dan terukur. Kurikulum sebagai pedoman utama dalam proses pembelajaran harus disusun secara terencana dan berbasis kebutuhan peserta didik . earner-centered curriculu. Tyler . menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum idealnya berfokus pada tujuan pendidikan yang jelas, pengalaman belajar yang relevan, dan mekanisme evaluasi yang tepat. Di Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia, absennya kurikulum Tahfidz yang terstruktur mengakibatkan proses pembelajaran berjalan secara sporadis, tanpa target hafalan yang jelas dan metode evaluasi yang efektif. Hal ini berdampak pada pencapaian hafalan siswa yang tidak optimal dan kurang terintegrasi dengan pembentukan akhlak mulia. Pendekatan partisipatif dalam penyusunan kurikulum Tahfidz menjadi solusi strategis untuk mengatasi tantangan ini. Taba . menekankan pentingnya pelibatan seluruh pemangku kepentingan, seperti guru, kepala madrasah, siswa, dan orang tua, dalam proses pengembangan kurikulum. Dengan pendekatan ini, kurikulum yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar pendidikan, tetapi juga relevan dengan kebutuhan lokal dan mampu menjawab tantangan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendampingi Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia dalam merancang kurikulum Tahfidz Al-Qur'an yang terintegrasi, berbasis kompetensi, dan berorientasi pada pembentukan karakter Islami siswa. Pendampingan ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kurikulum yang efektif, tetapi juga meningkatkan kualitas pembelajaran Tahfidz, membangun budaya belajar yang terstruktur, dan mendorong internalisasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan siswa. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan model kurikulum Tahfidz yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya yang ingin mengembangkan program serupa. Selain itu, kajian ini juga memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan lokal yang menekankan penguatan nilai spiritual dan karakter. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan participatory action research (PAR) atau penelitian tindakan partisipatif, yang bertujuan untuk memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia dalam penyusunan kurikulum Tahfidz AlQur'an. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, seperti kepala madrasah, guru Tahfidz, siswa, dan orang tua, dalam proses penyusunan kurikulum. PAR dipilih karena sifatnya yang kolaboratif, relevan untuk pengembangan program berbasis kebutuhan lokal, sebagaimana diungkapkan oleh Kemmis dan McTaggart . , yang INOVASI 44 Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 menyatakan bahwa PAR ideal untuk mengatasi masalah praktis melalui siklus tindakan dan Penelitian ini dilakukan melalui empat tahapan utama: Identifikasi Masalah. Pada tahap ini, dilakukan wawancara, diskusi kelompok terarah . ocus group discussio. , dan observasi untuk memahami kebutuhan serta tantangan yang dihadapi madrasah terkait program Tahfidz. Data yang dikumpulkan meliputi kondisi awal pelaksanaan Tahfidz, hambatan yang dihadapi guru dan siswa, serta harapan pemangku kepentingan terhadap kurikulum yang diinginkan. Perencanaan Kurikulum. Berdasarkan temuan awal, tim peneliti bersama pihak madrasah merancang kurikulum Tahfidz yang mencakup: o Tujuan pembelajaran: Target hafalan yang terukur per semester. o Strategi pembelajaran: Metode talaqqi, murojaah, dan evaluasi rutin. o Integrasi nilai karakter: Pembentukan akhlak Islami dalam proses Tahfidz. Penyusunan kurikulum mengacu pada prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Tyler . , yaitu merumuskan tujuan pendidikan, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, dan mengevaluasi pencapaian. Implementasi dan Pengamatan. Kurikulum yang telah disusun diimplementasikan di kelas Tahfidz dalam periode tertentu. Tim peneliti melakukan observasi untuk mengamati pelaksanaan pembelajaran, pencapaian target hafalan, serta dampaknya terhadap motivasi dan akhlak siswa. Evaluasi dan Revisi. Tahap terakhir adalah evaluasi kurikulum yang dilakukan melalui wawancara dengan guru, siswa, dan orang tua, serta analisis hasil hafalan siswa. Berdasarkan data yang diperoleh, kurikulum direvisi untuk menyempurnakan komponen yang belum efektif. Teknik Pengumpulan Data Wawancara Mendalam: Untuk menggali informasi dari kepala madrasah, guru Tahfidz, dan orang tua mengenai kebutuhan dan harapan terhadap kurikulum Tahfidz. Observasi Partisipatif: Mengamati langsung pelaksanaan pembelajaran Tahfidz dan interaksi antara guru serta siswa. Dokumentasi: Mengumpulkan dokumen terkait, seperti rencana pembelajaran, catatan evaluasi siswa, dan program kegiatan madrasah. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif, dengan menggunakan metode analisis tematik (Braun & Clarke, 2. untuk mengidentifikasi pola-pola penting dari data yang Setiap tahap siklus PAR dianalisis secara reflektif untuk memberikan masukan pada tahap berikutnya, sebagaimana disarankan oleh Kemmis dan McTaggart . HASIL DAN PEMBAHASAN Pendampingan penyusunan kurikulum Tahfidz Al-Qur'an di Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia Kota Tebing Tinggi menghasilkan kurikulum yang terstruktur dan integratif. Kurikulum ini dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan lokal, kapasitas siswa, serta visi dan misi madrasah dalam mencetak generasi penghafal Al-Qur'an yang berkarakter Islami. Beberapa hasil utama dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Struktur Kurikulum yang Jelas. Kurikulum disusun berdasarkan target hafalan per semester, dengan rincian capaian minimal 5 juz dalam satu tahun untuk setiap siswa. Kurikulum juga mencakup panduan untuk guru Tahfidz, yang meliputi metode pembelajaran, waktu murojaah, dan evaluasi berkala. Metode Pembelajaran yang Efektif. Pendekatan pembelajaran berbasis talaqqi, murojaah, dan drilling diterapkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menghafal Al-Qur'an. Metode ini mengacu pada prinsip-prinsip yang dikemukakan Hasan . , bahwa hafalan yang efektif memerlukan pengulangan terstruktur dan pembimbingan langsung oleh guru. INOVASI 45 Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 Integrasi Nilai Karakter Islami. Kurikulum mengintegrasikan nilai-nilai akhlak mulia, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesabaran. Misalnya, jadwal harian siswa mencakup waktu khusus untuk murojaah hafalan sebelum shalat berjamaah, yang secara tidak langsung membentuk kebiasaan disiplin beribadah. Evaluasi dan Monitoring yang Terstruktur. Sistem evaluasi dirancang dengan ujian hafalan per minggu, per bulan, dan per semester. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 85% siswa mencapai target hafalan dengan tingkat kelancaran hafalan rata-rata 80%. Selain itu, siswa yang sebelumnya kurang termotivasi menunjukkan peningkatan semangat setelah penerapan kurikulum baru. Efektivitas Kurikulum dalam Meningkatkan Hafalan Al-Qur'an. Penyusunan kurikulum Tahfidz yang berbasis kebutuhan siswa terbukti meningkatkan kemampuan hafalan secara Hal ini sejalan dengan teori learner-centered curriculum (Tyler, 1. , yang menekankan bahwa kurikulum yang dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan peserta didik lebih efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Pengaruh Integrasi Nilai Islami terhadap Karakter Siswa. Implementasi nilai-nilai Islami dalam kurikulum tidak hanya membantu siswa mencapai target hafalan, tetapi juga membentuk akhlak yang lebih baik. Ini mendukung temuan Azra . , yang menyatakan bahwa pendidikan Islam yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan spiritual mampu mencetak individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Peningkatan Keterlibatan Pemangku Kepentingan. Pendekatan partisipatif dalam penyusunan kurikulum meningkatkan keterlibatan pemangku kepentingan, seperti guru dan orang tua. Hal ini mendukung teori Taba . , yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan komunitas. Hambatan dan Tantangan. Meskipun hasilnya positif, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu guru untuk membimbing secara intensif dan perbedaan kemampuan siswa dalam menghafal. Oleh karena itu, kurikulum direvisi untuk memberikan fleksibilitas lebih dalam waktu pencapaian target bagi siswa dengan kemampuan Kontribusi terhadap Pengembangan Kurikulum Lokal. Kurikulum yang dihasilkan mencerminkan prinsip local wisdom, di mana pendekatan yang digunakan tidak hanya menyesuaikan dengan standar nasional, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik budaya dan kebutuhan lokal. Hal ini relevan dengan kajian Suyadi . mengenai pentingnya pendidikan berbasis nilai-nilai lokal dalam memperkuat identitas peserta didik. SIMPULAN DAN SARAN Pendampingan penyusunan kurikulum Tahfidz Al-Qur'an di Madrasah Aliyah Al-Islamic Amalia Kota Tebing Tinggi telah berhasil menghasilkan kurikulum yang terstruktur, integratif, dan berbasis kebutuhan lokal. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa kesimpulan utama yang dapat diambil adalah sebagai berikut: Efektivitas Kurikulum dalam Meningkatkan Hafalan Siswa. Kurikulum yang disusun dengan target hafalan yang jelas, metode pembelajaran berbasis talaqqi dan murojaah, serta evaluasi berkala terbukti meningkatkan kemampuan hafalan siswa secara Sebanyak 85% siswa mencapai target hafalan minimal 5 juz per tahun, yang sebelumnya hanya dicapai oleh 60% siswa. Penguatan Karakter Islami Melalui Integrasi Nilai-Nilai Al-Qur'an. Integrasi nilai-nilai karakter Islami, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kejujuran, dalam kurikulum Tahfidz membantu membentuk akhlak siswa yang lebih baik. Hal ini tercermin dari perubahan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari, seperti kedisiplinan waktu, komitmen dalam belajar, dan peningkatan ketaatan beribadah. Keterlibatan Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Kurikulum. Pendekatan partisipatif dalam penyusunan kurikulum meningkatkan rasa memiliki . INOVASI 46 Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 1 November 2024 seluruh pemangku kepentingan, termasuk guru, kepala madrasah, siswa, dan orang tua. Hal ini menjadikan implementasi kurikulum lebih efektif, karena didukung oleh semua pihak yang terlibat. Relevansi Kurikulum dengan Nilai Lokal dan Standar Nasional. Kurikulum Tahfidz yang dihasilkan tidak hanya relevan dengan kebutuhan lokal, tetapi juga sejalan dengan prinsip pendidikan nasional yang berbasis kompetensi. Pendekatan ini memastikan bahwa siswa tidak hanya mampu menghafal Al-Qur'an, tetapi juga memiliki kecakapan karakter yang mendukung mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa rekomendasi yang diajukan adalah: Peningkatan Kompetensi Guru Tahfidz. Guru Tahfidz perlu diberikan pelatihan rutin terkait metode pengajaran Al-Qur'an yang lebih inovatif dan efektif, seperti teknik hafalan berbasis teknologi atau penggunaan aplikasi pendukung hafalan. Hal ini akan membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendukung keberhasilan implementasi kurikulum. Pengembangan Sistem Evaluasi yang Lebih Komprehensif. Sistem evaluasi hafalan perlu dikembangkan lebih lanjut dengan menambahkan komponen penilaian pemahaman makna ayat-ayat Al-Qur'an. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya menghafal secara mekanis, tetapi juga memahami pesan moral dan spiritual dari ayat yang dihafal. Replikasi dan Adaptasi Kurikulum di Madrasah Lain. Kurikulum yang telah disusun dapat direplikasi oleh madrasah lain dengan penyesuaian terhadap kebutuhan lokal masing-masing. Oleh karena itu, disarankan untuk mengadakan lokakarya atau seminar berbagi pengalaman mengenai model kurikulum ini kepada lembaga pendidikan Islam Dukungan Kebijakan Madrasah dan Pemerintah. Madrasah perlu memastikan bahwa kurikulum Tahfidz ini menjadi bagian integral dari rencana strategis madrasah. Pemerintah daerah juga diharapkan memberikan dukungan berupa pendanaan, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan agar program Tahfidz dapat berjalan secara Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan. Program Tahfidz yang telah diimplementasikan memerlukan monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan untuk memastikan efektivitas dan relevansinya dengan perkembangan zaman. Hal ini mencakup pengumpulan data secara berkala terkait capaian hafalan siswa dan dampaknya terhadap perkembangan karakter mereka. REFERENSI