REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. Pemanfaatan Metode Debat terhadap Keterampilan Berbicara pada Mahasiswa Received: 16/07/2024 Accepted: 13/12/2024 Published: 14/12/2024 Shilvy Maulani UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia email: shilvymaulani01@gmail. Nadia Andi Rahmalia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia Muhammad Dzaki Mubarok UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia A 2024 The author. Lisensi REFEREN. Artikel ini bersifat open access yang didistribusikan di bawah syarat dan ketentuan Creative Commons Attribution (CC-BY) license. ttp://creativecommons. org/licenses/by/4. 0/). Elvi Susanti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan keterampilan berbicara melalui metode debat pada mahasiswa UIN Jakarta angkatan 2023. Metode debat dipilih karena dianggap efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara, berpikir kritis, dan keterampilan argumentatif mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui observasi, , dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode debat secara signifikan membantu mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan berbicara, memperluas wawasan, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi. Selain itu, ditemukan pula bahwa keterlibatan aktif dalam debat mendorong mahasiswa untuk lebih kritis dan analitis dalam memandang isu-isu terkini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode debat merupakan alat yang efektif untuk mengembangkan keterampilan berbicara mahasiswa dan merekomendasikan penggunaannya secara luas dalam kegiatan akademik. Kata kunci: keterampilan berbicara. metode debat. Abstract This study aims to explore the utilization of speaking skills through the debate method among UIN Jakarta students of the 2023 cohort. The debate method was chosen because it is considered effective in enhancing students' speaking abilities, critical thinking, and argumentative skills. This research employs a qualitative approach with a case study method, where data were collected through observations, in-depth interviews, and document analysis. The findings indicate that the debate method significantly aids students in developing their speaking skills, broadening their horizons, and boosting their confidence in communication. Additionally, active involvement in debates encourages students to be more critical and analytical in viewing current issues. This study concludes that the debate method is an effective tool for developing students' speaking skills and recommends its widespread use in academic activities Keywords: speaking skills. debate method. REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. PENDAHULUAN Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa merupakan sarana untuk berkomunikasi antarmanusia. Bahasa sebagai alat komunikasi berfungsi memenuhi sifat manusia sebagai makhluk sosial yang perlu Bahasa dianggap sebagai alat yang paling sempurna dan mampu membawakan pikiran dan perasaan, baik mengenai hal-hal yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan. Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Mahasiswa harus menguasai keempat aspek tersebut agar terampil berbahasa. Pembelajaran keterampilan berbahasa di sekolah tidak hanya menekankan pada teori saja, tetapi mahasiswa dituntut untuk mampu menggunakan bahasa sebagai mana fungsinya, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi. Salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh mahasiswa adalah berbicara, sebab keterampilan berbicara menunjang keterampilan lainnya (Cahyani dan Hodijah, 2007:. Menurut Yuliastri . dalam jurnalnya yang berjudul AuKeterampilan Berbicara menjadi Sebuah ProfesiAy berpendapat bahwa berbicara dapat digunakan sebagai suatu profesi, dan yang terpenting adalah tanamkan rasa percaya diri untuk mau berlatih agar mampu menyampaikan informasi, ide, gagasan, maupun pendapat dengan baik. Keterampilan ini bukanlah suatu jenis keterampilan yang dapat diwariskan secara turun temurun walaupun pada dasarnya secara alamiah setiap manusia dapat Namun, keterampilan berbicara secara formal memerlukan latihan dan pengarahan yang intensif. Stewart dan Kennert Zimmer (Haryadi dan Zamzani, 1997:. memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan setiap individu maupun kelompok. Mahasiswa yang mempunyai keterampilan berbicara yang baik, pembicaraannya akan lebih mudah dipahami oleh penyimaknya. Pada prinsipnya bahasa Indonesia merupakan sebuah fakta sosial dan pendekatan pembelajaran bahasa dan sastra yang digunakan sehingga keduanya saling terkait. Pada satu sisi bahasa Indonesia merupakan sarana komunikasi, dan sastra merupakan salah satu hasil budaya yang menggunakan bahasa sebagai alat kreativitasnya, sedangkan pada sisi lain bahasa dan sastra Indonesia sebaiknya diajarkan kepada siswa melalui pendekatan tertentu sesuai dengan hakikat dan Pendekatan pembelajaran bahasa lebih menitikberatkan aspek performansi atau kinerja bahasa dan fungsi bahasa sehingga pendekatan yang tepat digunakan adalah pendekatan komunikatif (Depdiknas, 2003:2-. REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. Selanjutnya. Depdiknas . menjelaskan bahwa secara garis besar keterampilan berbahasa yang terealisasikan ke dalam wujud performansi bahasa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keterampilan berbahasa bersifat: . reseptif, yaitu penggunaan bahasa untuk memahami pesan, pendapat, perasaan dan sebagainya yang disampaikan oleh orang lain, yang dapat berupa kegiatan mendengarkan dan membaca, dan . produktif, adalah penggunaan bahasa untuk mengomunikasikan pesan, gagasan, perasaan, dan sebagainya kepada orang lain, yang dapat berupa kegiatan berbicara dan menulis. Pengertian debat menurut Tarigan . dan Wiyanto . adalah suatu argumen atau silang pendapat tentang topik tertentu untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu. Silang pendapat itu biasanya ada kelompok pendukung, yang disebut afirmatif dan pihak penyangkal. Debat itu terjadi melalui dialog formal yang terorganisasi. Debat juga dimaknai dengan proses komunikasi untuk menyampaikan argumentasi karena harus mempertahankan pendapat yang disebut debat menurut Isah Cahyani dan Hodijah . Menurut buku AuKeterampilan BerbicaraAy Elvi Susanti . Bahkan ada istilah debat kusir, yaitu debat yang tidak disertai dengan alasan yang masuk akal. Debat didefinisikan sebagai suatu kegiatan untuk menguji argumentasi yang dilakukan antar-individu maupun kelompok. Jadi debat memiliki arti yang luas. Para ahli menyusun pengertian debat berdasarkan pemikiran dan kajian literasi. Menurut Ismawati . 2:20-. mengatakan AuDebat pada hakikatnya adalah saling adu argumentasi antarpribadi atau antarkelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak. Dalam debat setiap pribadi atau kelompok mencoba menjatuhkan lawannya, supaya pihaknya berada pada posisi yang benarAy. Sedangkan pendapat Nurdin . mengemukakan metode debat dapat memicu keberanian mahasiswa untuk dapat berbicara, menyampaikan pendapat, menanggapi pendapat yang lain, mempertahankan pendapat, sehingga mahasiswa secara maksimal aktif diskusi. Febryana, dkk. menjelaskan bahwa penerapan model pembelajaran debat aktif yang dilaksanakan sesuai prosedur sangat berperan meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Indonesia dan membuat siswa berani untuk mengemukakan pendapatnya secara lisan di depan umum. Debat memberikan banyak manfaat dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Menurutnya, program tersebut memberikan kontribusi yang besar bagi siswa, terutama dalam pengembangan kurikulum dan bahkan bagi masyarakat (Santoso 2004: . Pengaitan keterampilan berbahasa tidak selalu melibatkan keempat keterampilan berbahasa sekaligus. Keterampilan berbahasa bisa hanya menggabungkan dua keterampilan saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan Pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi masih terkesan belum maksimal. Dosen terkesan terlalu banyak menyuapi materi, di sisi lain mahasiswa kurang mempunyai kemauan untuk aktif menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Proses pembelajaran di kelas yang tidak relevan dengan yang diharapkan REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. mengakibatkan kemampuan berbicara mahasiswa menjadi rendah. Satu di antara alternatif yang dapat dilakukan dalam pembelajaran keterampilan berbicara mahasiswa di Perguruan Tinggi adalah dengan penerapan pendekatan pengalaman berbahasa, khususnya dalam praktik berbicara melalui debat bahasa Indonesia dalam mata kuliah Pembelajaran Berbicara. Penelitian ini difokuskan pada mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2023. Mahasiswa di jenjang perguruan tinggi dituntut mesti memiliki keterampilan berbicara yang baik dengan tujuan agar bisa menyampaikan ide. Pada kenyataannya, menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam berbicara dengan baik dan percaya diri. Salah satu stimulus yang dapat meningkatkan keterampilan berbicara ialah metode debat. Lewat debat, mahasiswa bukan hanya sekadar belajar bicara di depan umum, melainkan bisa mengasah dalam berpikir secara kritis dan logis. Mahasiswa angkatan 2023 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi fokus pada penelitian ini, mengingat bahwa mahasiswa angkatan 2023 masih berada di tahap awal perkuliahan, yang di mana pengemgangan terhadap keterampilan berbicara masih cukup krusial. Dengan menggunakan metode debat pada proses pembelajara, maka dapat diharapkan bisa memberikan efek yang positif terhadap keterampilan berbicara mahasiswa Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji pemanfaatan pada metode debat dalam meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa angkatan 2023 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi pada pengembangan yang lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara. METODE Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif deskriptif. Dengan metode deskriptif akan menggambarkan suatu kondisi yang terjadi. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2023 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jumlah responden sebanyak 25 orang. Data dikumpulkan melalui Google Formulir. Data dalam penelitian ini berupa jawaban dari responden terkait beberapa pertanyaan dan pernyataan mengenai pemanfaatan metode debat terhadap keterampilan berbicara mahasiswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini berupa pengumpulan data, penyajian data dengan menggunakan diagram dari jawaban responden, lalu menganalisis data dan menarik simpulan yang ditunjang dari data. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterampilan berbicara menjadi suatu hal yang penting untuk dipraktikkan. Dengan menggunakan metode debat, keterampilan berbicara seseorang bisa diukur, terkhusus pada mahasiswa. Berdasarkan hasil jawaban dari 25 responden yang terlibat dalam penelitian ini, maka dipaparkan pada bagian ini. Ada 25 responden yang telah REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. menjawab dan memiliki pandangannya sendiri terhadap pemanfaatan metode debat dalam keterampilan berbicara. Berikut paparan mengenai hasil persentase yang sudah disebar melalui Google Form terkait keterampilan berbicara dengan metode debat. Gambar 1. Persentase Perubahan Kenyamanan saat Bicara Gambar di atas adalah sebaran mengenai pertanyaan yang diajukan pada Mahasiswa mayoritas mengalami perubahan pada tingkat kenyamanannya saat berbicara di depan umum. Dengan demikian, terlihat bahwa dengan besarnya persentase sebesar 72% menunjukkan metode debat dapat membantu atau meningkatkan mahasiswa dalam melatih keterampilan berbicaranya. Ada sebanyak 24% mahasiswa yang menyatakan tidak berubah dengan tingkat kenyamanannya dalam berbicara di depan umum. Hal demikian menunjukkan bahwa metode debat efektif digunakan dalam keterampilan berbicara. Gambar 2. Persentase Pernyataan Metode Debat Melatih Keterampilan Berbicara Gambar di atas merupakan sebaran mengenai pernyataan yang diajukan untuk responden, yaitu mahasiswa. Dapat dilihat bahwa sebanyak 52% jumlah persentasenya menunjukkan mahasiswa setuju dengan pernyataan metode debat REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. membantu meningkatkan keterampilan berbicara. Sebanyak 20% mahasiswa bersifat netral terhadap pernyataan tersebut, dan sebanyak 24% mahasiswa sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Semakin besar tingkat persentasenya, terutama pada mahasiswa yang setuju, maka bisa dikatakan bahwa metode debat efektif digunakan dalam keterampilan berbicara pada mahasiswa. Gambar 3. Persentase Aspek Peningkatan Metode Debat Gambar di atas merupakan persentase dari pertanyaan tentang aspek yang menurut mahasiswa paling meningkat karena memakai metode debat dalam keterampilan berbicara. Ada sebanyak 40% mahasiswa yang menyatakan bahwa dengan menggunakan metode debat berbicara menjadi lancar. Sebanyak 20% mahasiswa menyatakan bahwa dengan menggunakan metode debat memiliki kemampuan dalam mendengarkan lawan ketika berbicara. Ada sebanyak 20% mahasiswa yang menyatakan bahwa dengan metode debat penggunaan bahasanya menjadi lebih tepat, dan sebanyak 16% mahasiswa menyatakan bahwa dalam berdebat memiliki struktur argumen yang tepat. Gambar 4. Persentase Kepercayaan Diri Mahasiswa Saat Berpendapat REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. Gambar di atas merupakan persentase dari responden mengenai kepercayaan diri mahasiswa dalam mengungkapkan pendapatnya setelah mengikuti kegiatan debat. Ada sebanyak 48% persentase mahasiswa yang menyatakan bahwa dengan menggunakan metode debat dalam mengungkapkan pendapat bersifat netral. Sebanyak 32% persentase mahasiswa menyatakan bahwa dalam mengungkapkan pendapat menggunakan metode debat sudah percaya diri. Sebanyak 12% persentase mahasiswa yang menyatakan masih kurang percaya diri dalam mengungkapkan pendapatnya dalam berdebat, dan ada sebanyak 8% persentase mahasiswa yang menyatakan sangat setuju dengan menggunakan metode debat jadi lebih berani dalam mengungkapkan sebuah pendapat. Gambar 5. Persentase Pengaruh Metode Debat Gambar di atas merupakan persentase dari pengaruh metode debat terhadap perkembangan belajar mahasiswa. Ada sebanyak 92% mahasiswa menyatakan setuju dengan metode debat dapat merasa tertantang untuk belajar dan lebih berkembang lagi dan ada sebanyak 8% mahasiswa yang menyatakan tidak setuju dengan metode debat karena masih belum tertantang untuk belajar dan belum berkembang. Hal demikian membuktikan bahwa selain meningkatkan keterampilan berbicara, metode debat juga dapat meningkatkan proses belajar mahasiswa dan perkembangan proses belajar mahasiswa juga meningkat. REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. Gambar 6. Persentase Keterlibatan Mahasiswa pada Kegiatan Debat Gambar di atas merupakan persentase keterlibatan mahasiswa pada kegiatan debat, baik terlibat ketika masih di jenjang sekolah ataupun di perguruan tinggi. Ada sebanyak 60% persentase mahasiswa yang menyatakan masih jarang dengan keterlibatannya pada kegiatan debat, kemudian ada sebanyak 20% persentase dari mahasiswa menyatakan sering dalam keterlibatannya di kegiatan debat, baik sekolah maupun di perguruan tinggi. Sebanyak 12% persentase mahasiswa yang sangat sering dalam keterlibatannya pada kegiatan debat, dan sebanyak 8% persentase dari mahasiswa yang menyatakan tidak pernah terlibat dalam kegiatan debat, baik di sekolah maupun di bangku perkuliahan. Table data penelitian Pertanyaan Setelah mengikuti kegiatan debat, apakah ada perubahan dalam tingkat kenyamanan Anda saat berbicara di depan Apakah metode debat membantu meningkatkan keterampilan berbicara Anda. Data Positif Ada 72% yang merasa terbantu dalam kegiatan debat dan kenyamanan saat berbicara di depan Sebanyak 52% menunjukkan bahwa mahasiswa setuju dengan metode debat yang membantu meningkatkan keterampilan berbicara Data Negatif 24% mahasiswa menyatakan tidak berubah dengan tingkat kenyamanannya dalam berbicara di depan umum pada kegiatan debat. Sebanyak 20% mahasiswa yang netral merasa terbantu pada peningkatan keterampilan berbicara pada metode REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. Aspek mana dari keterampilan berbicara yang menurut Anda paling meningkat karena metode Ada sebanyak 40% mahasiswa yang menyatakan bahwa menggunakan metode debat dalam berbicara mereka menjadi lancar dan penggunaan Bahasanya menjadi lebih Apakah Anda merasa lebih Sebanyak 48% persentase percaya diri dalam mahasiswa yang mengemukakan pendapat menyatakan bahwa setelah mengikuti mereka menggunakan kegiatan debat. metode debat dalam Saya menikmati proses debat dan merasa tertantang untuk belajar dan berkembang Seberapa sering Anda terlibat dalam kegiatan debat di kelas pada masa SMA dan kuliah Sebanyak 92% mahasiswa merasa tertantang dan menyatakan setuju dengan metode debat untuk belajar. Hanya 12% persentase mahasiswa yang sangat sering dalam keterlibatan pada kegiatan debat. Tidak ada mahasiswa yang tidak mempunyai aspek dari keterampilan berbicara yang paling meningkat karena metode 12% persentase mahasiswa yang menyatakan bahwa mereka masih kurang percaya diri dalam pendapatnya dalam Sebanyak 8% mahasiswa yang menyatakan tidak setuju dengan metode debat karena masih belum tertantang untuk belajar. 60% persentase mahasiswa yang menyatakan masih jarang dengan keterlibatan pada kegiatan debat. SIMPULAN Berdasarkan pada hasil yang sudah dipaparkan pada bagian sebelumnya mengenai pemanfaatan metode debat. Jika melihat data, maka dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan metode debat dalam keterampilan berbicara cukup efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari respons mahasiswa. Mahasiswa merasa percaya diri setelah mengikuti kegiatan debat, mahasiswa menantang untuk belajar dan mengembangkan semangat dalam belajar. Respons yang baik dari mahasiswa menggambarkan bahwa metode debat sangatlah berguna bagi mahasiswa, terutama untuk mengasah keterampilan berbicara. Sejatinya mahasiswa dituntut untuk berani berpendapat dan berpikir kritis, maka dari hal itulah bisa menggunakan metode debat. REFEREN. Vol. , 2024, 139Ai148 E-ISSN: 2830-652X DOI: 10. 22236/referen. DAFTAR PUSTAKA