Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2025 pp. P-ISSN: 23553790. E-ISSN: 25794655 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm/index PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SDN MODEL TERPADU MADANI Ni Made Sutriyanti1. Astija2. Muh. Yusuf3 1Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 2 Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 3 SDN Model Terpadu Madiani. Indonesia * Corresponding Author: madediana135@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di kelas 4 SD Model Terpadu Madani. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dilaksanakan ini terdiri dari dua siklus. Siklus I mencakup tahap perencanaan I, pelaksanaan tindakan I, pengamatan I, dan refleksi I. Studi ini merupakan suatu bentuk penelitian yang berfokus pada tindakan di dalam kelas. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SDN Model Terpadu Madani yang berlokasi di Kota Palu. Objek dalam penelitian ini mencakup kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar siswa. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas 4 di SDN Model Terpadu Madani yang terdiri dari 30 siswa, dengan rincian 19 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berpotensi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada mata pelajaran matematika di kelas 4 SD Model Terpadu Madani. Hal ini dapat dibuktikan dengan Penguasaan kemampuan berpikir kritis menunjukkan peningkatan dari nilai awal sebesar 63,8 . ukup kriti. menjadi 78,6 . pada kondisi akhir. Persentase siswa yang berpikir kritis pada kondisi awal adalah 40,00%, yang kemudian meningkat pada kondisi akhir menjadi 56,67%. Kata Kunci : Problem Based Learning. Berpikir Kritis. Pembelajaran Abstract This study aims to describe the steps of implementing the Problem Based Learning model in improving students' critical thinking skills in grade 4 of Madani Integrated Model Elementary School. The Classroom Action Research (PTK) that will be implemented consists of two cycles. Cycle I includes planning stage I, action implementation I, observation I, and reflection I. This study is a form of research that focuses on action in the classroom. This Classroom Action Research was conducted at Madani Integrated Model Elementary School located in Palu City. The objects in this study include critical thinking skills and student learning outcomes. This research focused on grade 4 students at Madani Integrated Model Elementary School consisting of 30 students, with details of 19 female students and 11 male students. The application of the Problem Based Learning learning model has the potential to improve students' critical thinking skills and learning outcomes in solving story problems in mathematics subjects in grade 4 at Madani Integrated Model Elementary School. This can be proven by the mastery of critical thinking skills showing an increase from the initial value of 63. uite critica. in the final condition. The percentage of students who thought critically in the initial condition was 40. 00%, which then increased in the final condition to 56. Keywords : Problem Based Learning. Critical Thingking. Learning Ni Made Sutriyanti1. Penerapan Model Pembelajaran PBL PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek krusial yang harus diperhatikan, terutama bagi generasi penerus bangsa saat ini. Perkembangan pendidikan di Indonesia tercermin dalam penerapan kurikulum yang secara berkala diperbaharui untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan sesuai dengan kemajuan zaman. Proses pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk: input peserta didik, sarana dan prasarana pendidikan, bahan ajar, administrasi, serta sumber daya manusia . yang dapat mendukung terciptanya suasana yang kondusif. Proses pendidikan yang memperhatikan komponen pendidikan diharapkan dapat menghasilkan siswa yang berkualitas. Pendidikan memainkan peran krusial dalam menciptakan generasi-generasi berkualitas. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan tujuan pendidikan, yaitu untuk menciptakan generasi bangsa yang secara aktif mengembangkan potensi yang dimiliki. Peserta didik diharapkan dapat mengelola diri dengan baik, memiliki spiritual yang positif, menunjukkan kepribadian yang baik, cerdas Pendidikan memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, berfungsi sebagai alat untuk mengeksplorasi potensi dan meningkatkan kompetensi, serta untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Diskusi mengenai pendidikan mencakup tidak hanya aspek kemampuan, tetapi juga pentingnya pembentukan karakter (Setiyaningsih & Wiryanto, 2. Demikian pula, dalam proses pembelajaran, guru sebagai perancang dan pelaksana kegiatan pembelajaran memiliki peran krusial dalam mengembangkan keterampilan siswa agar dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Di abad ke-21 ini, proses pembelajaran. Pembelajaran abad 21 menekankan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, berpikir analitis, serta berkolaborasi untuk menyelesaikan tantangan, sehingga siswa diharapkan memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang mencakup kolaborasi dan pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran abad 21 menekankan keterampilan siswa dalam merumuskan masalah, mengidentifikasi lokasi yang berbeda, menganalisis secara kritis, serta berperilaku kooperatif dan kolaboratif dalam pemecahan masalah (Hartinah, dkk. 2022: . Pemenuhan kebutuhan keterampilan abad 21 sangat dipengaruhi oleh konteks yang melibatkan berbagai aspek. Wrahatnolo dan Munoto melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa penerapan keterampilan abad 21 memberikan manfaat yang lebih terukur dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk berpikir kritis dan pemecahan masalah, inisiatif, kreativitas, kewirausahaan, komunikasi, kerja tim, metakognisi . erubahan pola piki. , serta sastra digital. Selanjutnya, dinyatakan bahwa proses berpikir kreatif individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan kerja, pengetahuan yang dimiliki, serta kemampuan dalam memecahkan masalah. Di abad ini, pendidikan memainkan peran krusial dalam memastikan siswa memperoleh keterampilan, kemampuan inovasi, kreativitas, kerja tim, serta pemahaman tentang penerapan keterampilan hidup dalam kehidupan Permasalahan timbul dari signifikansi dan keunggulan keterampilan untuk masa depan individu tersebut. Kemampuan berpikir kritis sangat krusial bagi siswa. ketika menghadapi suatu permasalahan, diharapkan peserta didik dapat menemukan solusi dan jalan keluar dari permasalahan tersebut (Evi & Indarini, 2. Pendidik masih belum terbiasa melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam proses pembelajaran, yang mengakibatkan kegiatan belajar menjadi membosankan bagi peserta didik. Ketika ditanyakan mengenai materi pembelajaran, peserta didik mengalami kesulitan dalam memberikan jawaban dan cenderung bersikap pasif. Hal ini disebabkan oleh ketidakmaksimalan pendidik dalam menerapkan model pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk berpikir secara (Hasanah & Fitria, 2. Pendidik seharusnya fokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa, namun kenyataannya siswa sering kali mengalami tekanan dalam pemahaman mereka tanpa P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 | 125 Ni Made Sutriyanti1. Penerapan Model Pembelajaran PBL melibatkan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki. Kurikulum saat ini menekankan pemahaman konsep sebagai prioritas utama bagi pendidik. Masalah yang dihadapi adalah tidak semua pembelajaran matematika peluang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Sering kali, fokus hanya pada pemenuhan jumlah materi yang disampaikan. Hasil penelitian oleh Shalahuddin. Susanto, & Parta . menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa tidak mencapai hasil yang optimal. Masalah lain yang diidentifikasi adalah bahwa guru mengalami kesulitan dalam mengajarkan siswa untuk berpikir kreatif (Bona, 2. Peningkatan mutu pendidikan ini selalu terkait dengan aspek pembelajaran (Yasin, 2. , yang merupakan salah satu upaya untuk menghadapi revolusi Industri. Dalam konteks ini, pendidik berperan sebagai motivator, teladan, evaluator, dan inspirator, serta memiliki kemampuan untuk membentuk karakter peserta didik sesuai dengan ketentuan dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 yang mencakup aspek kemampuan bernalar kritis sebagai salah satu ciri pelajar Pancasila. Sejalan dengan program Pelajar Pancasila, tren global PISA atau Programme for International Student Assessment telah melakukan survei di beberapa negara pada tahun 2018 terkait sains dan matematika. Indonesia menempati posisi 62 dari 71 negara (Hewi & Shaleh, 2. Jika dibandingkan dengan negara Cina dan Singapura yang menempati posisi pertama dan kedua dengan skor 555 dan 549 (Lestari & Annizar, 2. Indonesia menunjukkan posisi yang masih jauh di bawah kedua negara tersebut. Di tahun 2018, skor Indonesia dalam PISA menunjukkan penurunan antara 5 hingga 20 poin dibandingkan dengan tahun 2015 (Hewi & Shaleh, 2. Berdasarkan pencapaian tersebut, peserta didik di Indonesia dapat dikategorikan sebagai hanya mampu memahami dasar teori dan belum sepenuhnya mampu menjelaskan serta mengaitkan fakta-fakta sains (Hadi, 2. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa pemahaman konsep sains dan kemampuan bernalar kritis peserta didik berada pada tingkat yang rendah. Oleh karena itu, pendidik diharapkan dapat merancang pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi berbagai Salah satu metode yang dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan proses pembelajaran dan merangsang peningkatan kemampuan berpikir siswa adalah melalui penerapan Model Problem Based Learning. Fauzia . 8: . menjelaskan bahwa Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat dalam proses belajar. Model ini berfokus pada permasalahan yang otentik dan relevan, yang harus dipecahkan oleh peserta didik dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, serta melalui sumber-sumber yang dapat mendukung pemecahan masalah tersebut. Nadiya . menyatakan bahwa model pembelajaran PBL dirancang untuk mendukung siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Model PBL juga berkontribusi pada pengembangan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah siswa, memfasilitasi pemahaman peran orang dewasa yang otentik, serta mendorong kemandirian siswa. Ini memungkinkan pergerakan menuju tingkat pemahaman yang lebih luas, menciptakan peluang untuk transfer pengetahuan baru, serta mengasah pemikiran kritis dan keterampilan kreatif. Selain itu, model ini berperan dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, memotivasi siswa untuk belajar, dan membantu mereka dalam mentransfer pengetahuan ke dalam situasi baru. Penelitian yang dilakukan oleh Ariyani & Prasetyo pada tahun 2021 berjudul Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Problem Solving terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar menunjukkan bahwa model problem based learning lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dibandingkan dengan model problem solving. Hasil analisis menunjukkan bahwa uji hipotesis menggunakan uji ancova menghasilkan f hitung sebesar 3,462, yang lebih besar dari f tabel 3,20. Selain itu, nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,079, yang juga lebih besar dari 0,05. Dengan demikian. P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 | 126 Ni Made Sutriyanti1. Penerapan Model Pembelajaran PBL HCe ditolak dan HCa diterima, yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan dalam penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dan Problem Solving terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD dalam pembelajaran tematik. Penelitian yang dilakukan oleh Masrinah dan rekan-rekan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis dapat ditingkatkan melalui pembelajaran berbasis masalah (PBL). Metode ini menuntut siswa untuk tidak hanya memahami masalah, tetapi juga berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang ada, sehingga mengembangkan kemampuan dan keterampilan siswa, terutama dalam hal berpikir kritis. Model pembelajaran Problem Based Learning dapat diterapkan di semua tingkat pendidikan, termasuk pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Dengan mempertimbangkan uraian yang telah disampaikan serta hasil-hasil penelitian sebelumnya, peneliti berkeinginan untuk melakukan analisis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui model Problem Based Learning. Penelitian ini berjudul AuPenerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SDN Model Terpadu Madani. Ay Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa terkait penyelesaian soal cerita di kelas 4 SD Model Terpadu Madani. Penerapan model ini melibatkan jenis penelitian yang dikenal sebagai Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang akan dilaksanakan ini terdiri dari dua Siklus I mencakup tahap perencanaan I, pelaksanaan tindakan I, pengamatan I, dan refleksi I. METODE PENELITIAN Studi ini merupakan suatu bentuk penelitian yang berfokus pada tindakan di dalam Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SDN Model Terpadu Madani yang berlokasi di Kota Palu. Objek dalam penelitian ini mencakup kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar siswa. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas 4 di SDN Model Terpadu Madani yang terdiri dari 30 siswa, dengan rincian 19 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Dalam Penelitian Tindakan Kelas, terdapat beberapa siklus yang perlu dianalisis secara mendalam. Dalam perencanaan penelitian yang akan dilakukan, terdapat dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Dalam siklus I, permasalahan yang diidentifikasi diikuti dengan perencanaan tindakan I, pelaksanaan tindakan I, pengamatan I, dan refleksi I. Selanjutnya, pada siklus II, terdapat beberapa langkah yang diambil berdasarkan analisis dari permasalahan baru yang muncul setelah refleksi I, yaitu perencanaan tindakan II, pelaksanaan tindakan II, pengamatan II, dan refleksi II. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan model penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc Taggart, yang terdiri dari empat tahap: perencanaan, tindakan, pengamatan/pengumpulan data, dan refleksi. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian mencakup soal cerita dalam bentuk uraian, wawancara, lembar kuesioner, dan Metode yang diterapkan untuk pengumpulan data mencakup tes serta non-tes. Data yang diperoleh dari hasil tes adalah soal cerita yang disajikan dalam bentuk uraian. Data yang diperoleh berasal dari metode non-tes, yaitu wawancara, kuesioner, dan observasi. Data yang diperoleh pada siklus I dan siklus II dianalisis dan dibandingkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil kemampuan berfikir kritis siswa dapat dijabarkan dalam tabel 1 berikut: Tabel 1. Data Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa No Indikator Situasi Awal Situasi Akhir P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 | 127 Ni Made Sutriyanti1. Penerapan Model Pembelajaran PBL Kriteria Kemampuan Analisis Kemampuan Bertanya Kemampuan Menjawab Kemampuan Pemecahan Masalah Kemampuan Menyimpulkan Keseluruhan (Cuku. (Cuku. (Cuku. (Cuku. (Cuku. (Cuku. Jumlah Siswa ,33 %) ,66 %) ,66 %) ,66 %) ,66 %) Kriteria (Bai. (Bai. (Bai. (Bai. (Bai. (Bai. Jumlah Siswa ,67%) ,34 %) ,34 %) ,34 %) ,34 %) ,67 %) Analisis tabel 1 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada kondisi awal, dari indikator 1 hingga indikator 5, berada dalam kriteria cukup kritis. Persentase jumlah siswa yang mencapai tingkat minimal pada indikator 2 hingga indikator 5 berada di bawah 50%. Berdasarkan analisis kuesioner akhir siklus II, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada indikator 1 hingga indikator 5 berada dalam kategori baik dalam kritis. Persentase jumlah siswa yang berada pada tingkat kecukupan yang memadai. Indikator 1 sampai indikator 5 menunjukkan nilai di bawah 50%. Hasil dari kemampuan berpikir kritis tersebut konsisten dengan definisi berpikir kritis, yaitu kemampuan individu dalam mengidentifikasi informasi dan solusi dari suatu masalah melalui proses bertanya kepada diri sendiri untuk mengeksplorasi informasi terkait masalah yang dihadapi. Tabel 2. Data Hasil Pengamatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Siklus 1 & 2 Siklus 1 Siklus 2 No Indikator Skor Skor Kemampuan Analisis 88 (Cuku. 110 (Bai. Kemampuan Bertanya 99 (Cuku. 116 (Bai. Kemampuan Menjawab 87 (Cuku. 109 (Bai. Kemampuan Pemecahan Masalah 99 (Cuku. 119 (Bai. Kemampuan Menyimpulkan 95 (Cuku. 118 (Bai. Keseluruhan 93, 6 (Cuku. 114 (Baik Rata-Rata Presentase 63,33 % Menurut tabel 2, kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I secara keseluruhan, berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh nilai rata-rata sebesar 2,3 . ukup kriti. Persentase total siswa yang menunjukkan sikap kritis pada siklus I adalah 63,33%, yang setara dengan 19 siswa yang memenuhi kriteria minimum cukup kritis. Secara keseluruhan, kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus II, berdasarkan hasil pengamatan, mencapai rata-rata 3,1 . Persentase total siswa yang bersikap kritis Dalam siklus II, persentase mencapai 80% atau sebanyak 24 siswa yang memenuhi kriteria baik. Observasi yang dilakukan untuk memperkuat hasil kuesioner kemampuan berpikir kritis siswa sejalan dengan definisi observasi, yang menekankan perlunya pengamatan yang teliti serta pemikiran yang sistematis dan logis. Oleh karena itu, pengertian observasi identik dengan mengamati, bukan sekadar melihat (Atika. , & Tarigan. , 2014:. Pembahasan P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 | 128 Ni Made Sutriyanti1. Penerapan Model Pembelajaran PBL Studi ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada sesi 1 dan 2 di setiap siklus yang dilakukan. Komponen pembelajaran Problem Based Learning telah berhasil diterapkan selama penelitian sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dalam RPP. Pada pertemuan 1-2, peneliti menerapkan model langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning, yang mencakup orientasi siswa pada masalah, pengorganisasian siswa untuk belajar, pembimbingan pengalaman individual atau kelompok, pengembangan dan penyajian hasil karya, serta analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Penerapan langkah-langkah model pembelajaran Problem Based Learning dapat diimplementasikan dalam setiap proses pembelajaran. Peningkatan kemampuan berpikir kritis teridentifikasi melalui analisis kuesioner yang diisi oleh siswa pada kondisi awal dan akhir, serta didukung oleh pengamatan langsung yang dilakukan oleh peneliti. Pada indikator pertama, terdapat peningkatan dari 60,00 yang menunjukkan kondisi cukup kritis menjadi 75,00 yang menunjukkan kondisi baik dalam Indikator kedua menunjukkan peningkatan dari 62,00 yang berada pada kategori cukup kritis menjadi 78,00 yang tergolong baik. Indikator ketiga menunjukkan peningkatan dari 67,00 yang tergolong cukup kritis, menjadi 79,00 yang dapat dianggap baik dalam kritis. Indikator keempat menunjukkan peningkatan dari 64,00, yang tergolong cukup kritis, menjadi 80,00, yang dapat dianggap baik. Indikator kelima menunjukkan adanya peningkatan dari 66,00 yang tergolong cukup kritis, menjadi 81,00 yang dapat dianggap baik. Secara keseluruhan terdapat nilai dari situasi awal sebanyak 63,8% . ukup kriti. menjadi 78,6 % . Selain dianalisis dari nilai, peningkatan kemampuan berpikir kritis juga dapat diukur melalui persentase jumlah siswa yang menunjukkan sikap kritis. Indikator pertama menunjukkan peningkatan dari 43,33% . ukup kriti. menjadi 56,67% . Indikator kedua menunjukkan peningkatan dari 36,67% . ukup kriti. menjadi 63,67% . Indikator ketiga menunjukkan peningkatan dari 46,67% . ukup kriti. menjadi 53,34% . Indikator keempat menunjukkan peningkatan dari 46,67% . ukup kriti. menjadi 53,34% . Indikator kelima menunjukkan peningkatan dari 36,66% . ukup kriti. menjadi 63,43% . Secara keseluruhan, peningkatan persentase kondisi awal dari 40,00% . angat tidak kriti. menjadi 56,67% . pada kondisi akhir, dengan goal 70%, menunjukkan peningkatan sebesar 50%. Peneliti melakukan pengamatan untuk menganalisis dan memperkuat data peningkatan yang signifikan dari hasil kuesioner. Observasi dilaksanakan pada pertemuan pertama dan kedua di setiap siklus. Indikator pertama menunjukkan peningkatan dari 88, yang cukup kritis, menjadi 110, yang tergolong kritis. Indikator kedua menunjukkan peningkatan dari 99 yang berada pada tingkat cukup kritis, menjadi 119, yang kini tergolong Indikator ketiga menunjukkan peningkatan dari 87, yang tergolong cukup kritis, menjadi 109, yang dapat dianggap kritis. Indikator keempat menunjukkan peningkatan dari 99, yang dianggap cukup kritis, menjadi 119, yang tergolong kritis. Indikator kelima menunjukkan peningkatan dari siklus I yang tercatat pada angka 95 . ukup kriti. ke siklus II yang mencapai angka 118 . Indikator secara keseluruhan menunjukkan peningkatan sebesar 20,5, dari siklus I yang mencatat nilai 93,6 . ukup kriti. ke siklus II yang mencapai nilai 114 . Hasil penelitian ini juga berfungsi untuk melengkapi dan memperkuat temuan sebelumnya, seperti yang diungkapkan oleh Agustin. 3:36-. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan Model Pembelajaran PBL dapat meningkatkan hasil belajar matematika, dengan nilai rata-rata pada siklus I mencapai 68,14 dan persentase tuntas belajar klasikal sebesar 70,59%. Pada siklus II, nilai rata-rata yang diperoleh mengalami peningkatan menjadi 84,31, sementara persentase tuntas belajar klasikal mencapai 92,16%. Penelitian ini juga berfungsi untuk melengkapi dan memperkuat temuan dari Vitasari. 3:1-. yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat berkontribusi pada peningkatan hasil belajar matematika di kalangan siswa SD. P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 | 129 Ni Made Sutriyanti1. Penerapan Model Pembelajaran PBL Hasil penelitian ini konsisten dengan pengertian berpikir kritis, yang merujuk pada kemampuan individu dalam mengidentifikasi informasi dan solusi untuk suatu masalah. Proses ini melibatkan eksplorasi mendalam terhadap isu yang dihadapi melalui refleksi pribadi (Christina. , & Kristin. , 2016:. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dapat mengakses informasi dan menyelesaikan masalah secara efektif. Penelitian ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, karena fokus pada pengukuran kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini dilakukan melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dalam mata pelajaran matematika yang sesuai dengan kurikulum 2013 di Sekolah Dasar. Selanjutnya, untuk menilai kemampuan berpikir kritis siswa, peneliti menerapkan kuesioner yang didukung oleh pengamatan yang dilakukan oleh guru. Di samping itu, hasil belajar dievaluasi melalui soal tes berbentuk uraian untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh lebih tepat. Wawancara dengan guru dilakukan untuk mendukung hasil yang diperoleh dari peningkatan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran Problem Based Learning. SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa simpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berpotensi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita pada mata pelajaran matematika di kelas 4 SD Model Terpadu Madani. Hal ini dapat dibuktikan dengan Penguasaan kemampuan berpikir kritis menunjukkan peningkatan dari nilai awal sebesar 63,8 . ukup kriti. menjadi 78,6 . pada kondisi akhir. Persentase siswa yang berpikir kritis pada kondisi awal adalah 40,00%, yang kemudian meningkat pada kondisi akhir menjadi 56,67%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan adalah agar siswa supaya dapat meningkatkan lagi kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar yang telah diasah melalui penelitian ini, lebih meningkatkan kerjasama dan kekompakan antar siswa. bagi Guru, perlunya bimbingan kepada siswa ketika siswa mengisi lembar kuesioner supaya keakuratan jawaban siswa dapat dipertanggungjawabkan. pemberian motivasi kepada siswa harus ditingkatkan agar minat siswa dalam mengikuti pembelajaran meningkat sehingga semua komponen yang terdapat dalam pembelajaran Problem Based Learning dapat terlaksana dengan baik. bagi Kepala Sekolah disarankan supaya kepala sekolah lebih memberikan masukan maupun dukungan kepada guru dalam hal meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar dan bagi Peneliti Selanjutnya sebaiknya siswa juga perlu diwawancarai untuk memperkuat data penelitian, disarankan agar mengkaji lebih banyak sumber maupun referensi yang terkait dengan model pembelajaran Problem Based Learning agar hasil yang didapatkan dapat lebih baik dan lengkap. DAFTAR PUSTAKA