Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Hegemoni Balian Desa dalam Aktivitas Ritual Hindu di Desa Pedawa I Putu Mardika*. I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara. Komang Agus Darmayoga Kantina Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Bali. Indonesia *putumardika88@gmail. Abstract Balian Desa, a religious ritual leader who is trusted by the Bali Aga community, especially Pedawa Village. The Balian Desa position has vital duties and responsibilities in leading the procession of religious rituals of the Bali Aga community. In the perspective of Sociology, the position of the Balian Desa has the highest authority in terms of religious rituals carried out in Pedawa Village, the Balian Desa has enormous hegemonic power and has a strong influence on the continuity of community life in terms of religious ritual This study aims to examine the hegemonic power possessed by a Balian Desa in the implementation of religious rituals that affect the community, especially in Pedawa Village. This research uses a qualitative approach with data collection methods in the form of observation, interviews, literature studies, and documentation. The results of this study show that a person who occupies a position as a Balian Desa has a great influence in the form of hegemony on religious ritual activities in Pedawa Village. This can be seen because the Balian Desa is chosen abstractly and through a sacred procession, and can legitimize every religious ritual. In addition, the hegemony of the village balian that influences the community is very strong through ideology, language, and folklore that strengthens people's trust in the Balian Desa figure, which has an impact on the socioreligious implications of the life of the Pedawa Village community. The conclusion of this research is that the Balian Desa has a strong position because it is chosen abstractly in the ritual aspect, in terms of hegemony, the village balian influences the ideology of the community through the form of language, sacred symbols, and beliefs . which make his position very strong, and this hegemony will have an impact on the socioreligious life of the Pedawa Village community. Keywords: Hegemoni. Balian Desa. Ritual. Hindu. Pedawa Village Abstrak Balian Desa, sosok pemimpin ritual keagamaan yang dipercaya oleh masyarakat Bali Aga khususnya Desa Pedawa. Posisi Balian Desa memiliki tugas dan tanggung jawab vital dalam memimpin prosesi ritual keagamaan masyarakat Bali Aga. Posisi Balian Desa dalam perspektif sosiologi memiliki otoritas tertinggi dari segi ritual keagamaan yang dilaksanakan di Desa Pedawa. Balian Desa memiliki kekuatan hegemoni yang sangat besar dan memberikan pengaruh kuat dalam kelangsungan kehidupan masyarakat dari segi aktivitas ritual keagamaan. Penelitian ini bertujuan, mengkaji kekuatan hegemoni yang dimiliki oleh seorang Balian Desa dalam pelaksanaan ritual keagamaan yang berpengaruh kepada masyarakat khususnya di Desa Pedawa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi kepustakaan, serta dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan seseorang yang menduduki posisi sebagai Balian Desa memiliki pengaruh besar dalam bentuk hegemoni pada aktivitas ritual Hindu di Desa Pedawa. Hal tersebut terlihat karena Balian Desa dipilih secara niskala dan melalui prosesi sakral, serta dapat melegitimasi setiap ritual Selain itu hegemoni dari Balian Desa yang mempengaruhi masyarakat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sangat kuat melalui ideologi, bahasa, serta folklor yang memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sosok Balian Desa, yang berdampak pada implikasi sosioreligi kehidupan masyarakat Desa Pedawa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah. Balian Desa memiliki posisi yang kuat karena dipilih secara niskala dalam aspek ritual, dari segi hegemoni. Balian Desa mempengaruhi ideologi masyarakat melalui bentuk bahasa, simbol sakral, dan kepercayaan . yang menjadikan posisinya sangat kuat, serta hegemoni ini akan berdampak pada kehidupan sosioreligi masyarakat Desa Pedawa. Kata Kunci: Hegemoni. Balian Desa. Ritual. Hindu. Desa Pedawa Pendahuluan Desa Pedawa yang terletak di Kecamatan Banjar. Kabupaten Buleleng merupakan salah satu Desa Bali Aga di Bali Utara yang memiliki keunikan dalam sistem kepemimpinan ritualnya. Bali Aga, yang juga dikenal sebagai Bali Mula atau Bali Kuna, merujuk pada komunitas masyarakat asli Bali yang telah ada sebelum ekspansi kerajaan Majapahit ke Bali pada abad ke-14 (Qodim, 2. Masyarakat Bali Aga memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan masyarakat Bali Modern atau Bali Dataran yang mendapat pengaruh Majapahit (Reuter, 2. Perbedaan mendasar tersebut tercermin dalam beberapa aspek, seperti tidak adanya praktik pembakaran jenazah . , sistem sosial yang egaliter tanpa kasta, dan ketiadaan konsultasi dengan Sulinggih (Pedand. dalam pelaksanaan ritual (Ardika et al. , 2. Masyarakat Bali Aga tidak menggunakan mantra Sanskerta dalam persembahyangan dan memiliki sistem pemilihan pemimpin desa yang unik berdasarkan senioritas perkawinan yang disebut Ulu Apad (Schaublin & Kartaschoff, 2. Secara konteks sosio-kultural. Ramstedt . mengungkapkan bahwa identitas Bali Aga terbentuk melalui proses historis yang panjang dan kompleks (Ramstedt, 2. Masyarakat Bali Aga memiliki sistem kepercayaan yang lebih berorientasi pada pemujaan leluhur dan kekuatan alam, yang tercermin dalam berbagai ritual dan upacara adatnya (Pitana, 1. Menurut Covarrubias . , keunikan sistem kepemimpinan ritual di desa-desa Bali Aga merupakan manifestasi dari ketahanan budaya lokal terhadap pengaruh eksternal (Covarrubias, 2. Dimensi politik dalam analisisnya tentang masyarakat Bali Aga, menjelaskan bagaimana sistem Ulu Apad berfungsi sebagai mekanisme checks and balances dalam struktur sosial masyarakat (Fox, 2. Sistem kepemimpinan di desa-desa Bali Aga mencerminkan filosofi keseimbangan antara dunia sakral dan profan (Schyublin, 2. Ritual menjadi ranah kehidupan yang sangat penting bagi masyarakat Bali Aga, khususnya di Desa Pedawa. Aktivitas ritual membuktikan peran vital pemimpin spiritual dipegang oleh seorang Balian Desa. Saat ini, posisi tersebut dijabat oleh Pan Karpani . yang beralamat di Banjar Dinas Desa. Desa Pedawa, dan telah menjabat sejak tahun 1999 menggantikan kakaknya. Balian Desa memiliki otoritas penuh dalam memimpin berbagai upacara besar seperti ritual kematian, ngangkid, melasti, dan sabha atau pujawali. Ritual yang lebih kecil seperti kepus pungsed atau nampi. Balian Desa dapat mendelegasikan kepemimpinan kepada permas yang telah ditunjuk. Peran Balian Desa juga mencakup aspek kehidupan pribadi warga, seperti memberikan pertimbangan dalam pendirian Sanggah Kemulan Nganten dan penentuan tata letak rong dalam rumah Proses pelaksanaan upacara di Desa Pedawa memiliki tahapan yang sistematis dan terstruktur. Sebagai contoh, dalam upacara ngangkid, prosesi dimulai dengan paruman . antara keluarga dan desa, dilanjutkan dengan permintaan kepada Balian Desa untuk memimpin upacara dan menentukan waktu pelaksanaan. Keunikan lainnya terletak pada penggunaan bahasa lokal yang disebut Sesapa oleh Balian Desa dalam memimpin upacara, berbeda dengan mantram Sanskerta yang umumnya digunakan dalam ritual Hindu di Bali. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Otoritas Balian Desa di Desa Pedawa tidak hanya mencakup aspek ritual tetapi juga memiliki dimensi sosial-politik yang kuat. Pemilihan Balian Desa dilakukan berdasarkan kehendak niskala, di mana orang yang terpilih tidak memiliki pilihan untuk Keyakinan masyarakat terhadap otoritas ini diperkuat oleh berbagai kejadian yang dianggap sebagai bukti kekuatan spiritual, seperti kasus-kasus di mana upaya penggantian peran Balian Desa dengan Sulinggih berakhir dengan kejadian tidak Fenomena ini menunjukkan adanya hegemoni yang kuat dalam struktur sosial-religius masyarakat Pedawa. Hegemoni Balian Desa dapat dianalisis menggunakan teori hegemoni Gramsci . yang menekankan bahwa dalam lapangan sosial selalu ada pertarungan untuk memperebutkan penerimaan publik (Ali, 2. Kelompok subordinat, yang terdiri dari individu-individu dengan pengalaman sosial yang berbeda seperti kelas, gender, ras, atau umur sering kali memiliki pandangan yang berbeda dari ideologi kelompok dominan (Suwena & Kaler, 2. Dalam konteks Desa Pedawa, hegemoni ini termanifestasi dalam berbagai bentuk, termasuk otoritas dalam memimpin upacara seperti melasti, ngeyehin karang, upacara ngangkid, dan ritual di kahyangan wilayah Desa Pedawa hingga tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates (Gunawan et al. , n. Hegemoni tidak hanya dimaknai secara umum sebagai penguasaan bangsa maupun kota tetapi juga desa. Balian Desa di Pedawa memegang peran dominan tidak hanya sebagai pemimpin spiritual tetapi juga sebagai otoritas dalam struktur sosial. Balian Desa dalam aktivitas ritual Hindu bertindak sebagai penghubung antara manusia dan dunia spiritual. Peran ini tidak hanya bersifat religius, tetapi juga politis dan sosial, di mana Balian Desa menentukan waktu, bentuk, dan pelaksanaan ritual yang memengaruhi solidaritas sosial, pembagian peran, serta penegakan norma dalam Posisi Balian Desa dalam struktur sosial Desa Pedawa terintegrasi dengan sistem kekuasaan lokal yang melibatkan kelian desa adat dan tokoh-tokoh masyarakat. Hubungan simbiosis ini menciptakan jaringan kekuasaan yang memadukan domain spiritual dan politik. Legitimasi spiritual yang dimiliki Balian Desa sering kali diperlukan dalam pengambilan keputusan administratif, sementara dukungan kekuasaan lokal memperkuat posisinya dalam masyarakat. Sejalan dengan perspektif teori hegemoni Gramsci . Balian Desa mempraktikkan hegemoni melalui konsensus, bukan paksaan. Kesepakatan . merupakan sebuah rantai kemenangan yang didapat melalui mekanisme konsensus ketimbang melalui penindasan terhadap kelas sosial lainnya (Ali, 2. Aturan adat ketika dipandang sebagai teks, selain membawa konteks terhadap ideologi yang melatarbelakangi otoritas Balian Desa, juga membawa konteks terhadap laku ritual krama Desa Pedawa. Menurut Thompson . dalam Ideology and Modern Culture, ideologi dipahami sebagai nilai-nilai, gagasan, dan aturan yang mempengaruhi posisi dan hubungan sosial dalam struktur sosial yang ada (Thompson, 2. Berger & Luckmann . dalam The Social Construction of Reality menjelaskan bahwa proses penting dalam konstruksi ideologi ini adalah institusionalisasi, yaitu masuknya nilai-nilai atau aturan tertentu ke dalam kerangka kebudayaan masyarakat yang diikuti oleh proses enkulturasi, sosialisasi, dan internalisasi (Berger & Luckmann. Sejalan dengan ini. Bourdieu . dalam The Logic of Practice mengembangkan konsep habitus yang menjelaskan bagaimana praktik-praktik sosial dan ritual terbentuk melalui disposisi yang diwariskan dan diinternalisasi secara mendalam dalam masyarakat (Bourdieu, 1. Secara konteks Desa Pedawa. Reuter . dalam Custodians of the Sacred Mountains mengamati bahwa legitimasi Balian Desa diperkuat melalui sistem kepercayaan yang telah terinstitusionalisasi dalam struktur sosial masyarakat (Reuter, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Picard . dalam From Agama Hindu Bali to Agama Hindu and back menambahkan dimensi penting tentang bagaimana praktik-praktik keagamaan lokal bertahan di tengah standardisasi agama Hindu di Bali (Picard, 2. Gayut dengan penelitian Hauser-Schyublin . dalam The Politics of Sacred Space yang menunjukkan bagaimana otoritas ritual tradisional mempertahankan posisinya melalui kontrol atas ruang sakral dan praktik keagamaan (Schyublin, 2. Penelitian ini memiliki tiga urgensi utama yang perlu dikaji secara mendalam. Pertama, pentingnya memahami bagaimana Balian Desa mempertahankan otoritas dan hegemoninya dalam memimpin ritual, meskipun terdapat kecenderungan umum penggunaan Sulinggih di kalangan umat Hindu Bali. Kedua, perlu dilakukan analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang memperkuat kedudukan Balian Desa dalam pelaksanaan ritual. Ketiga, penting untuk mengkaji implikasi hegemoni tersebut terhadap kehidupan sosial-religius masyarakat Pedawa. Guna mengkaji fenomena ini, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif antropologi budaya dan sosiologi agama. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan Balian Desa, tokoh masyarakat, dan warga Desa Pedawa, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori hegemoni Gramsci . sebagai kerangka teoretis utama, didukung oleh konsep-konsep terkait ritual dan kekuasaan dalam masyarakat tradisional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pemahaman tentang dinamika kekuasaan dalam konteks ritual masyarakat Bali Aga, khususnya di Desa Pedawa. Studi ini juga bertujuan untuk mendokumentasikan sistem kepemimpinan ritual tradisional yang unik sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya di tengah arus modernisasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi kajian antropologi agama dan budaya Bali Aga, serta memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran pemimpin spiritual tradisional dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual masyarakat. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi (Creswell & Poth, 2. , yang berfokus pada kajian Antropologi Budaya Hindu terkait hegemoni Balian Desa dalam aktivitas ritual Hindu di Desa Pedawa. Pendekatan etnografi dipilih karena kemampuannya dalam mengungkap makna budaya dan praktik sosial dari perspektif partisipan (Spradley, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi sumber primer dan sekunder, di mana data primer diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan informan kunci yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Informan kunci meliputi Pan Karpani (Balian Des. Wayan Sukrata (Tokoh Ada. Putu Mardika (Perbekel Des. I Wayan Sudiastika (Bendesa Ada. , dan beberapa krama desa terpilih. Data primer diperkuat dengan dokumentasi visual dan observasi partisipatif terhadap aktivitas ritual dan interaksi sosial. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur akademik, artikel ilmiah, dan penelitian terdahulu yang Instrumen penelitian yang digunakan mencakup pedoman wawancara semi terstruktur, lembar observasi terstruktur, dan peralatan dokumentasi, yang semuanya dirancang untuk memastikan pengumpulan data yang sistematis dan komprehensif. Proses analisis data mengadopsi model analisis interaktif yang meliputi pengumpulan data berkelanjutan, reduksi data, penyajian data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menerapkan triangulasi sumber, metode, dan teori Gramsci. Pendekatan ini memungkinkan pemeriksaan silang informasi dari berbagai perspektif untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan penelitian. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hasil dan Pembahasan Masyarakat Bali Aga, khususnya di Desa Pedawa. Kecamatan Banjar. Kabupaten Buleleng, memiliki struktur adat yang unik dan ritual yang dipimpin oleh Balian Desa. Peran sentral Balian Desa dalam ritual pernikahan melalui pembuatan Sanggah Kemulan Nganten (Purniati et al. , 2. Selain itu. Anggraini & Ardiyasa . mencatat bagaimana Balian Desa memimpin ritual SaEskara menggunakan bahasa lokal Pedawa. Dalam tradisi Manak Salah, menyoroti keterlibatan Balian Desa bersama Tata Lungguh (Ulun Des. dalam upacara melasti, menegaskan otoritas Balian Desa dalam aktivitas ritual (Artama et al. , 2. Kajian-kajian ini menunjukkan bagaimana Balian Desa memegang kendali dalam menjalankan dan mempertahankan tradisi desa, sekaligus menciptakan hegemoni tanpa perlawanan dari masyarakat. Desa Pedawa menganut sistem adat Tata Lungguh berdasarkan senioritas, dengan 53 tetua desa yang mengatur kehidupan adat. Posisi-posisi seperti Pengulu Desa hingga Penugelan berperan dalam pelaksanaan upacara, pemeliharaan tempat suci, dan pengelolaan benda adat. Sistem ini, yang juga dipengaruhi konsep Pancawara, memperlihatkan harmoni antara adat, struktur sosial, dan keagamaan, memperkuat peran Balian Desa sebagai pemimpin spiritual sekaligus pengendali tradisi. Meski memiliki posisi yang kuat dalam konteks religius magis. Balian Desa juga memiliki hubungan yang kolaboratif dengan Pemerintah Desa Pedawa. Tokoh Adat maupun Ulun Desa dalam pelaksanaan ritual. Alasan Kuatnya Kedudukan Balian Desa Desa Adat di Bali memiliki otoritasnya sendiri dalam berbagai aktifitas ritual. Menurut Covarrubias . desa adat bisa disebut merupakan republik kecil (Covarrubias, 2. Gagasan ini tidak bisa dilepaskan dari adanya kenyataan yakni, pertama, desa pakraman memiliki wilayah yang jelas batas-batasnya bisa disahkan secara Kedua, desa adat memiliki penduduk sebagai warganya. Ketiga, desa adat memiliki sistem pemerintahan berbentuk dewan desa atau krama desa yang dipimpin oleh sejumlah orang yang menduduki posisi tertentu dan membentuk suatu kesatuan secara fungsional yang disebut prajuru desa Adat. Prajuru desa adat diketuai oleh seorang ketua yang disebut bendesa adat atau klihan adat. Keempat, desa adat memiliki hak untuk membuat tata aturan sendiri dan sekaligus menerapkan dan mengenakan sanksi bagi pelanggarnya. Tata aturan yang dibuat oleh desa pakraman disebut awig-awig desa adat. Kelima, desa adat memiliki kekayaan dan atau bisa pula dia menggali sendiri modal guna menjaga kelangsungan hidupnya. Kekayaan desa adat bisa berbentuk tanah pertanian . awah, tegala. , kuburan, tanah pemukinan yang ditempati oleh krama desa . arang des. , pura, dan benda-benda berharga lainnya, misalnya berbagai benda simbol agama pratima yang disucikan yang disimpan di pura (Atmadja, 2. Desa Adat Pedawa juga memiliki kewenangan dalam pelaksanaan tata ritual dengan ciri dan karakteristik masyarakat Bali Aga. Krama Desa Pedawa tidak menggunakan Sulinggih (Pendet. Sri Mpu. Resi. Bhagawan atau dukuh seperti Bali Dataran pada umumnya untuk memuput atau menyelesaikan upacara ritual di Pedawa. Masyarakat Pedawa dalam memimpin jalannya ritual di tingkat desa, menggunakan Balian Desa, yang perannya sangat vital dalam tata ritual masyarakat Desa Pedawa baik dari Dewa Yadnya. Rsi Yadnya. Manusa Yadnya. Pitra Yadnya hingga Bhuta Yadnya. Ritual-ritual dalam lingkup desa adat maupun keluarga batih menggunakan jasa Balian Desa untuk muput . Berdasarkan wawancara dengan tokoh masyarakat Pedawa. Wayan Sukrata Balian Desa memiliki posisi tawar yang sangat kuat dalam pelaksanaan upacara di Desa Pedawa. Kuatnya pengaruh Balian Desa bukan karena disebabkan ia mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Bukan juga karena memiliki harta kekayaan. Namun, karena ia mendapat legitimasi secara sekala dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH niskala. Bahkan, tidak ada yang bisa menolak jika sudah mendapat mandat sebagai Balian Desa dari sisi niskala (Wawancara, 25 April 2. Menurut Wayan Sukrata Balian Desa ini merupakan pemimpin ritual tertinggi di Desa Pedawa. Karena dia diposisikan seperti Sulinggihnya orang Pedawa, bahkan ritual-ritual yang tidak dipimpin oleh Balian Desa justru dipertanyakan keabsahannya, karena dampaknya bisa secara sekala dan niskala, kuatnya pengaruh inilah, masyarakat tidak berani bertaruh, karena metoh pati . ertaruh nyaw. sudah banyak membuktikan (Wawancara, 25 April 2. Berdasarkan wawancara tersebut, semakin menguatkan bahwa Balian Desa punya posisi tawar yang kuat dalam pelaksanaan ritual di Desa Pedawa. Peran Balian Desa tidak bisa digantikan dalam urusan religius magis. Kondisi inilah membuat Balian Desa di Pedawa memiliki otoritas dalam tata ritual. Ada empat alasan kuat mengapa Balian Desa memiliki otoritas yang kuat, diantaranya: Dipilih Secara Niskala Balian Desa di Pedawa tidak dipilih secara sembarangan. Ada kekuatan magis . yang membuat menunjuk seseorang hingga akhirnya dinobatkan sebagai Balian Desa. Penolakan terhadap penunjukan secara niskala justru akan berdampak buruk kepada orang yang dititahkan sebagai Balian Desa. Begitu pula, krama desa Pedawa tidak bisa mengajukan diri agar dipilih menjadi Balian Desa dengan pertimbangan apapun, baik dari sisi status sosial, wawasan . maupun pertimbangan tingkat pendidikan formal maupun informal. Hasil penelitian menyebutkan. Pan Karpani sebagai Balian Desa di Pedawa saat ini, pernah menolak untuk dinobatkan sebagai Balian Desa. Hal ini karena dirinya merasa belum siap mengemban tugas berat sebagai pemucuk . dalam ritual di Desa Pedawa. Namun, yang terjadi Pan Karpani dan keluarga mengalami persoalan yang tidak pernah putus. Mulai dirinya pernah mengalami peristiwa nahas yang nyaris saja menghilangkan nyawanya. Seperti diseruduk sapi bahkan pernah mengalami peristiwa Uniknya. Pan Karpani selalu selamat dari maut. Anak dan istrinya sakit lama, bahkan sampai bebainan . eriak-teria. Disana Pan Karpani sampai mencari Balian . untuk pengobatan medis di wilayah Labuhan Aji. Temukus. Akhirnya dia mendapat petunjuk, jika penyakit yang dialami istri dan anaknya akan hilang jika dia berkenan ngayah sebagai Balian Desa. Rupanya saat itu Pan Karpani juga tidak Sampai sampai hasil panen kebunnya tidak sesuai pemasukannya. Wayan Sukrata selaku tokoh Desa Adat Pedawa menyatakan bahwa ia juga mengalami rejeki seret sebagai hukuman karena menolak menjadi Balian Desa. Sampai akhirnya Pan Karpani mepeluasan ke Balian di Ringdikit untuk mendapat kepastian apa penyebab Pan Karpani dan keluarga selalu dirundung masalah. Nah disanalah Balian Desa (Wawancara, 25 April 2. Pemilihan Balian Desa dipandang sebagai takdir yang tidak dapat ditolak, didorong oleh kekuatan niskala. Penolakan untuk ngayah sebagai Balian Desa diyakini membawa konsekuensi berat, termasuk ancaman terhadap nyawa keluarga, seperti yang dialami Pan Karpani, seorang Balian Desa yang awalnya menolak peran tersebut namun akhirnya menyerah pada kehendak spiritual. Menjadi Balian Desa tidak membutuhkan modal budaya, simbolik, sosial, ekonomi, atau pendidikan tinggi, melainkan kesiapan mental untuk memimpin ritual Penobatan Balian Desa bersifat sakral dan tidak berkaitan dengan syaratsyarat duniawi seperti jabatan keagamaan lainnya. Berbeda dengan Balian Desa. Sulinggih atau pedanda dari kaum Brahmana di Bali Nagari memerlukan modal yang beragam untuk bisa melinggih atau menduduki jabatan spiritual. Modal ini mencakup pengetahuan agama mendalam, gelar simbolik, jaringan sosial, dan dukungan ekonomi untuk mendukung upacara keagamaan. Selain itu. Sulinggih juga memiliki otoritas dalam masyarakat, memimpin pelaksanaan ritual, dan memberikan nasihat spiritual. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Proses menjadi Sulinggih melibatkan pendidikan tinggi dan pelatihan, sesuai dengan konsep sasana kawikon, yang mencakup kode etik dan tugas-tugas keagamaan. Dengan modal tersebut, kaum brahmana menunjukkan peran sebagai pemimpin agama yang memiliki otoritas dan pengaruh besar dalam masyarakat Hindu Bali. Penolakan yang dilakukan oleh Pan Karpani, yang sebelumnya menolak untuk dinobatkan sebagai Balian Desa, memberikan contoh konkret bagaimana hegemonik dominasi beroperasi dalam masyarakat Bali. Penolakan terhadap penunjukan ini tidak hanya melibatkan faktor individu, tetapi juga melibatkan kekuatan magis yang memiliki dampak sosial dan budaya yang dalam. Penolakan terhadap penunjukan sebagai Balian Desa dapat dianggap sebagai suatu tindakan yang menantang struktur hegemoni yang ada dalam masyarakat. Namun, karena kekuatan niskala dianggap lebih tinggi, maka Pan Karpani akhirnya terpaksa menerima penunjukan tersebut. Dalam hal ini, masyarakat Pedawa secara kolektif menerima bahwa kekuasaan ritual lebih kuat daripada pertimbangan individu atau sosial. Kekuasaan niskala yang menentukan penunjukan Balian Desa tidak hanya menjadi alat pengontrol spiritual tetapi juga menjadi alat untuk mempertahankan konsensus sosial. Hegemoni ini terwujud dalam keyakinan bahwa kekuatan spiritual lebih tinggi dari segala faktor rasional atau duniawi. Ini mengarah pada keberlanjutan kekuasaan Balian Desa dalam masyarakat Pedawa, yang diterima oleh warga meskipun tanpa adanya legitimasi berdasarkan status sosial atau pendidikan. Mengacu teori Gramsci . dominasi Balian Desa di Pedawa bisa dianggap sebagai contoh dari hegemonik kekuasaan yang tidak terlihat tetapi sangat kuat, yakni melalui ritual dan kekuatan spiritual (Ali, 2. Gramsci menekankan pentingnya konsensus dalam mempertahankan dominasi suatu kelompok, dan hal ini tercermin dalam cara masyarakat Pedawa menerima peran Balian Desa meskipun penunjukannya tidak bersifat rasional atau berbasis kriteria sosial. Kekuasaan Balian Desa yang terletak pada pengaruh spiritual dan ritual dapat dipandang sebagai alat hegemoni yang menjaga agar struktur sosial dan budaya di Pedawa tetap terjaga sesuai dengan norma dan praktik yang sudah mapan. Selain itu, musibah yang dialami oleh Pan Karpani setelah menolak penunjukan dan selalu selamat dari maut, dapat dianggap sebagai manifestasi dari penegasan kekuasaan niskala. Balian Desa yang menentang penunjukan tersebut mengalami kesulitan sebagai bentuk peringatan bahwa kekuasaan magis yang beroperasi dalam masyarakat tidak bisa diabaikan begitu saja. Penolakan terhadap penunjukan spiritual dianggap sebagai penolakan terhadap struktur hegemoni yang ada. Berdasarkan Keturunan Yos Gunung Agung Krama Desa Pedawa memiliki dua kawitan yakni kawitan kulit dan kawitan lokal Yos. Kawitan kulit adalah kawitan umum di Bali. Kawitan lokal Yos wajib dimiliki semua warga Desa Pedawa. Yos memiliki dewa yang sangat dimuliakan dan dianggap sebagai dewa pelindung desa. Kata Yos berasal dari kata niosin yang berarti pemujaan atau penghormatan masyarakat terhadap dewa tersebut. Soroh dan Yos adalah dua konsep penting dalam budaya masyarakat Desa Pedawa. Bali. Meskipun memiliki kemiripan, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya Soroh merupakan asal-usul atau keturunan leluhur dari luar Desa Pedawa. Soroh juga dihubungkan dengan kawitan pada umumnya di Bali, yang disebut juga dengan istilah kawitan kulit. Contoh soroh di Desa Pedawa yakni Soroh Pasek Bendesa Mas. Sedangkan Yos merupakan dewa yang disungsung dan dipuja oleh masyarakat Desa Pedawa (Mardika, 2. Yos dipercaya sebagai dewa pelindung desa dan pemberi keselamatan dan kesehatan. Masyarakat meminta restu kepada dewa di Yos untuk mendapatkan berkah. Soroh adalah garis keturunan leluhur, sedangkan Yos adalah dewa yang dipuja. Soroh berasal dari luar Desa Pedawa, sedangkan Yos merupakan dewa pelindung desa. Masyarakat Desa Pedawa menghormati leluhur melalui soroh dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH memohon perlindungan kepada Yos. Desa Adat Pedawa memiliki empat belas . macam Yos diantaranya ialah, . Yos Gunung Agung, . Yos Kemulan Bingin, . Yos Penyarikan, . Yos Bukit Anyar, . Yos Labuan Aji, . Yos Embang. Yos Munduk Duwur. Yos Kemulan Telaga Waja, . Yos Pengempelan, . Yos Rambut Siwi, . Yos Gadung Gaduh, . Yos Muspait, . Yos Kemulan Munduk Madeg-Batan Kadap, . Yos Batur Mekasa (Mardika, 2. Kuatnya posisi Balian Desa juga disebabkan karena dipilih berdasarkan keturunan khususnya dari Yos Gunung Agung. Berdasarkan penjelasan Tokoh Adat Pedawa Wayan Sukrata, sejak dari dulu. Balian Desa selalu berasal dari Yos Gunung Agung. Dipilihnya Yos Gunung Agung karena diyakini Dewa tertinggi berstana di Gunung Agung. Balian Desa yang dijabat oleh Pan Karpani ini dari Yos Gunung Agung. Dulu sebelum dia menjabat sebagai Balian Desa, posisi itu dijabat oleh Kakaknya, bernama I Landrat, namun karena kakaknya meninggal, ia menggantikan. Begitu juga sebelum dijabat oleh I Landrat juga dijabat oleh ayahnya Pan Karpani. Jadi selalu berasal dari Yos Gunung Agung. Yos Gunung Agung ini di Pedawa ada sebanyak dua dadia (Wawancara, 25 April 2. Keberadaan Yos Gunung Agung di Desa Pedawa memiliki kaitan erat dengan proses pemilihan Balian Desa, yang secara niskala melibatkan tradisi nedunang periang. Tradisi ini merupakan upacara sakral untuk menentukan Balian Desa jika tidak ada keturunan langsung yang kajumput . Upacara ini berlangsung di tempat suci pada malam hari selama 12 jam, melibatkan doa dan ritual untuk menerima wahyu dari Ida Bhatara melalui perantara Balian. Nama nedunang periang sendiri melambangkan proses spiritual, di mana wahyu turun . dari dewa-dewi (Hyan. yang memberikan petunjuk tentang siapa yang layak menjadi Balian Desa. Balian Desa harus berasal dari keturunan Yos Gunung Agung, salah satu dari 14 Yos yang dihormati di Desa Pedawa. Sebagai pemimpin spiritual. Balian Desa bertugas memandu upacara adat dan keagamaan, menjaga nilainilai budaya, dan menjadi penghubung antara masyarakat dengan alam spiritual. Posisi ini tidak dapat diajukan secara pribadi tetapi ditentukan oleh Ida Sesuhunan melalui proses niskala. Selain memimpin ritual di Pura Kahyangan. Balian Desa juga memberikan bimbingan spiritual kepada masyarakat dan menjaga kelestarian tradisi leluhur di desa tersebut. Melalui Proses Penobatan Yang Sakral Balian Desa dinyatakan sah menjalankan tugasnya setelah ada prosesi penobatan yang sangat disakralkan. Proses penobatan ini menjadi cerminan masyarakat Desa Pedawa dalam memilih wakil yang nantinya menempati posisi religius magis ketika menjalankan tatanan ritual sebagai warisan Bali Aga. Setelah bersedia menerima untuk ngayah sebagai Balian Desa di Pedawa, maka Balian Desa yang terpilih secara niskala tersebut mulai mempersiapkan diri untuk menjalani tahapan penobatan atau pelantikan. Proses pelantikan dilakukan setelah prajuru desa adat, desa dinas dan tata lungguh sepakat mencari hari baik untuk menobatkan Balian Desa terpilih. Proses penobatan Balian Desa wajib menjalani proses penyucian di tiga lokasi, yakni di Segara (Panta. Labuhan Aji yang terletak di Desa Temukus. Kemudian penyucian selanjutnya adalah di kawasan Danau Tamblingan. Selanjutnya penyucian ketiga dilaksanakan di kawasan Desa Pedawa. Seluruh sarana yang dibutuhkan dalam proses penyucian di tiga lokasi tersebut disiapkan oleh Desa Adat Pedawa. Pertimbangannya, karena Balian Desa ini nantinya akan digunakan seumur hidup oleh Desa Pedawa. Sehingga ada tanggungjawab moral untuk mempersiapkan sarana upacara yang digunakan dalam proses penyucian. Proses penobatan Balian Desa dengan melalui tahapan penyucian atau masepuh jika di Bali Dataran memiliki kemiripan dengan ritual mawinten yang dijalankan oleh Pemangku maupun Pinandita. Tujuannya agar seseorang yang akan menapaki dunia spiritual suci secara lahir dan bathin. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Sebelum menjadi pemangku atau pinandita, seseorang diwajibkan mengikuti upacara pawintenan pemangku sesuai tingkatannya. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri secara lahir dan batin agar siap menjalankan tugas-tugas suci sebagai pemangku atau pinandita. Terdapat beberapa tingkatan pawintenan, yaitu Pawintenan Sari. Pawintenan Gede. Pawintenan Mapedamel Ganapati. Pawintenan Mapedamel Dasa Guna, dan Pawintenan Samskara Ekajati atau Panca Rsi. Setelah menjalani pawintenan, barulah seseorang berhak menjalankan tugas-tugasnya sebagai pemangku atau pinandita. Tugas-tugas tersebut meliputi memimpin upacara keagamaan Hindu, memberikan bimbingan spiritual kepada umat Hindu, dan mendoakan keselamatan masyarakat dan negara (Jirnaya & Paramartha, 2. Hal senada juga diungkapkan oleh Kelian Desa Adat Pedawa. Wayan Sudiastika (Wawancara, 20 April 2. bahwa peran Balian Desa yang vital seluruh pembiayaan yang dikeluarkan dalam pembuatan banten ngadegang Balian Desa akan ditanggung oleh Desa. Upaya ini dilakukan untuk meringankan beban Balian Desa, sehingga bisa lebih fokus dalam mempersiapkan diri melakukan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam peningkatan spiritualitas masyarakat Pedawa. Bila mengacu pada pemaparan di atas, maka dapat diinterpretasikan bahwa masyarakat Pedawa sangat menghormati Balian Desa karena akan ada timbal balik dalam proses pelayanan ritual. Nilai Spiritualitas ini menjadi ideologi masyarakat karena masyarakat Pedawa menggantungkan pelaksanaan tata ritualnya kepada sosok tertinggi yang memiliki kuasa dan pengaruh yakni Balian Desa. Kondisi ini sejalan dengan gagasannya Locklin . yang memberikan makna spiritualitas dalam arti luas, yakni pertama, spiritualitas merupakan keyakinan, nilai, kebiasaan, dan sikap paling mendasar yang ada pada diri seseorang, khususnya pada halhal yang dianggapnya paling penting. Kedua, spiritualitas seseorang mengejawantahkan kepentingan puncak seseorang, yang berarti hal-hal yang dianggap suci atau memiliki nilai puncak dalam kehidupannya. Pendek kata, makna spiritualitas sangat luas, karena mengacu kepada sesuatu yang diposisikan oleh manusia sebagai hal bernilai tertinggi atau puncak bahkan bisa pula dianggap suci bagi kehidupannya. Nilai puncak ini tidak saja sebagai tujuan, tetapi juga memiliki spirit atau bersifat kejiwaan . ohani, bati. yang menggerakkan manusia untuk melakukan tindakan sosial secara meruang dan mewaktu. Gayut dengan pernyataan (LoPresti, 2. menandakan bahwa masyarakat Pedawa menjadikan Balian Desa sebagai sosok yang dianggap suci dalam kehidupannya dan memiliki spirit dalam melaksanakan aktifitas ritual di Pedawa Melegitimasi Pelaksanaan Ritual Pelaksanaan ritual di Desa Pedawa diklasifikasikan menjadi Panca Yadnya, seperti Dewa Yadnya. Rsi Yadnya. Manusa Yadnya. Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya. Ritual-ritual baik yang dilaksanakan dalam tingkat desa adat maupun keluarga batih . memang tidak terlepas dari peran Dane Balian Desa sebagai pemimpin upacara. Kehadiran Dane Balian Desa sangat melegitimasi akan sah atau tidaknya penyelenggaraan ritual di Desa Pedawa. Tokoh Adat Pedawa. Wayan Sukrata menjelaskan, dalam rangkaian atau eedan ritual Sabha sesuai dengan Lelintih Nemugelang yang ada di Desa Pedawa yaitu Sabha Ngelemikin. Sabha Malunin. Sabha Nguja Binih. Sabha Nyenukin. Sabha Muga/Mapag Ratu Ngurah Melayu dan Tradisi Ngaga tidak terlepas dari peran Balian Desa Mardika & Astrini . Semua rangkaian upacara akan selesai setelah dipuput oleh Balian Desa yang didampingi premas. Balian Desa di Pedawa begitu mendapat kekuatan penuh untuk meligitimasi pelaksanaan yadnya sah atau tidak. Sebab, jika tanpa kehadiran Balian Desa dalam ritual itu diyakini upacara sabha dianggap tidak selesai. Tetapi, jika Balian Desa berhalangan karena kondisi force major . dia bisa mendelegasikan pembantunya yakni permas https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH agar bisa menuntaskan. Semua proses sabha itu di wilayah adat Desa Pedawa pasti dipuput . oleh Balian Desa. Peranan Balian Desa/Premas dalam kaitannya dengan upacara Saba besar sekali, karena tanpa kehadiran Balian Desa, maka upacara belum dianggap selesai . , sedangkan, dalam ritual Rsi Yadnya. Balian Desa memiliki peran dalam ritual ngayehang atau masepuh. Ritual ini dilakukan jika ada masyarakat Pedawa yang hendak meningkatkan kualitas spiritualnya. Selain itu, biasanya Balian Desa sering menunjuk orang tertentu sesuai dengan kleteg bayu atau nalurinya untuk membantu menggantikan memuput ritual-ritual kecil di Tingkat keluarga batih. Maka dari itu, dia berhak menunjuk seseorang, dengan catatan orang itu harus menjalani ritual masepuh . enyucikan diri secara niskala melalui ritua. Gambar 1. Balian Desa. Pan Karpani Saat Memimpin Ritual Manusa Yadnya (Sumber: Putu Mardika, 2. Ritual manusa yadnya yang berkaitan daur hidup di Desa Pedawa juga tidak lepas dari peran vital Balian Desa. Seperti upacara Kayeh di Cangkupe atau melukat di Campuhan bagi wanita hamil, upacara kepus pungsed . epas tali pusa. Nampi . pacara bayu berusia sebelah har. yang menggunakan tirta dari Balian Desa. Nanggapang pertama . ayi berusia satu bulan tujuh har. Nanggapang kedua . ayi berusia tiga bula. Nanggapan ketiga . ayi berusia 6 bula. Nyambutin. Nyerimpen. Metatah . otong gig. Pawiwahan . Balian Desa berhak menunjuk orang sebagai pembantunya dalam pelaksanaan ritual di Pedawa. Permas atau Ulem-Uleman berhak di-sepuh oleh Balian Desa agar memiliki legitimasi dalam pelaksanaan ritual yang digelar di Pedawa. Selanjutnya, dalam upacara Manusa Yadnya, di Pedawa memiliki sejumlah ritual yang dijalani sebagai bagian dari pemuliaan manusia . Ritual-ritual ini memang tidak diwajibkan harus dipuput oleh Balian Desa. Akan tetapi. Balian Desa bisa mendelegasikan otoritasnya itu kepada orang lain agar tetap pelaksanaan ritual legitimite. Orang yang ditunjuk bisa Permas. Ulem-Uleman atau Sarati Banten. Sosok Balian Desa senantiasa dijadikan refrensi oleh masyarakat di Desa Pedawa dalam hal memohon padewasan . ari bai. hingga pelaksanaan ritual tersebut. Legitimasi dalam melaksanakan ritual ini memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap otoritas spiritual Balian Desa. Secara tidak langsung. Balian Desa menciptakan ketergantungan masyarakat Pedawa akan kemampuannya berhubungan secara niskala . lam gai. Hal ini memberikan posisi tawar yang tinggi terhadap masyarakat Pedawa. Gayut dengan gagasan Gramsci . Balian Desa menciptakan konsensus melalui legitimasi spiritual dan moral yang diterima masyarakat. Namun, ada elemen koersi simbolis di mana norma adat dan sanksi sosial memperkuat dominasi Balian Desa. Melalui ritual. Balian Desa membangun narasi budaya yang memperkuat posisinya. Ritual menjadi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH arena di mana ideologi dominan diterima tanpa perlawanan oleh masyarakat. Kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses ke pengetahuan spiritual atau peran ritual sering kali berada dalam posisi subaltern, memperkuat ketimpangan struktural. Hegemoni Dalam Aktivitas Ritual Hegemoni Balian Desa Melalui Ideologi Hegemoni secara literal berarti kepemimpinan menawarkan perspektif mendalam untuk memahami bagaimana kekuasaan dapat dipertahankan tidak hanya melalui dominasi politik atau kekuatan koersif, tetapi juga melalui konsensus budaya, ideologi, dan ritual (Arvianto, 2016. Gramsci . Suatu kelompok ketika ingin ditaklukan, tidak harus dengan mengangkat senjata (Siswati, 2. Cukup dengan mempengaruhinya secara budaya dan ideologi, sehingga lambat laun akan menyetujui segala sesuatu yang datang dari kelompok yang ditirunya (Makhsun, 2. Secara konteks di Desa Pedawa. Balian Desa . emimpin spiritua. memainkan peran penting dalam mempertahankan kekuasaan dalam struktur masyarakat melalui mekanisme hegemonik yang kompleks. Hegemoni lebih dekat dengan pendekatan budaya dan sosial. Berkaitan dengan konsep ideologi, masyarakat Desa Pedawa sangat mematuhi tatanan adat istiadat, agama, dan tradisi yang dijalankan secara turun temurun. Dimana ideologi yang terlihat dalam hal ini merupakan kumpulan keyakinan, gagasan, ide-ide, yang menyeluruh secara sistematis dan menyangkut berbagai elemen kehidupan manusia. Sebagai bagian dari Bali Aga. Desa Pedawa memiliki ideologi yang khas dari aktivitas sosial masyarakatnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Masyarakat Desa Pedawa memiliki ideologi sebagai cerminan cara pandang atau cara berpikir yang sekaligus membentuk orang atau masyarakat untuk menuju cita-citanya. Sejalan dengan hal tersebut masyarakat setempat meyakini bahwa ideologi yang dipegang saat ini merupakan sebuah pilihan yang jelas membawa komitmen . untuk mewujudkannya. Hegemoni Balian Desa terhadap masyarakat Desa Pedawa mencerminkan penanaman ideologi yang mendalam melalui gagasan dan nilai-nilai adat. Posisi Balian Desa sebagai pemimpin spiritual utama ditentukan secara niskala . , di mana masyarakat percaya bahwa pemilihan ini melibatkan kekuatan mistis yang sakral. Keyakinan ini menciptakan penghormatan yang tinggi terhadap Balian Desa, yang dianggap sebagai orang suci masyarakat Pedawa. Kepercayaan masyarakat terhadap peran penting Balian Desa dalam kehidupan adat dan ritual, seperti yang dijelaskan oleh Wayan Sukrata, menunjukkan bagaimana ideologi ini membentuk pola pikir kolektif masyarakat Pedawa, bahkan di tengah perubahan globalisasi (Wikandaru & Cathrin. Ketika hendak melaksanakan upacara, masyarakat datang ke Balian Desa dengan istilah nganggur. Saat nganggur ini masyarakat akan mendapat petuah dari Balian Desa bertalian dengan ritual yang dilaksanakan. Masyarakat menerima petuah itu dengan penuh keikhlasan tanpa ada paksaan. Tidak ada yang berani menolak petuah itu sebagai bentuk kesanggupan akan menjalankan petunjuk yang disampaikan. Nganggur berarti berkunjung ke rumah seseorang yang dituju dan dilakukan sesuai waktu yang ditentukan oleh Balian Desa setelah kunjungan awal . Proses ritual seperti nganggur menggarisbawahi hubungan erat masyarakat dengan Balian Desa (Puspita & Kaler. Pada saat nganggur, masyarakat memohon petunjuk untuk ritual keagamaan dengan membawa sarana simbolis seperti tatembong, yang melambangkan nilai-nilai luhur leluhur. Selain itu, masyarakat sangat menjaga etika komunikasi dengan Balian Desa, menggunakan panggilan khusus Dane Balian Desa, yang menegaskan kesakralan hubungan ini. Arahan dari Balian Desa, termasuk penentuan hari baik atau padewasan, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH diterima dan ditaati tanpa ragu, mencerminkan kuatnya pengaruh ideologi yang diwariskan secara turun-temurun. Ideologi ini mengikat masyarakat untuk memelihara hubungan spiritual yang harmoni antara pemimpin ritual dan komunitas (Widiasa et al. Gambar 2. Balian Desa. Pan Karpani Saat Menerima Masyarakat Yang Nganggur Memohon Petunjuk Pelaksanaan Upacara Yadnya di Pedawa (Sumber: Putu Mardika, 2. Balian Desa memonopoli narasi spiritual dengan mengklaim otoritas atas interpretasi ajaran agama dan tradisi lokal. Balian Desa dianggap sebagai perantara dengan dunia spiritual, yang menjadikan posisinya sebagai sesuatu yang alami dan tidak dapat diganggu gugat. Mitos-mitos lokal yang menempatkan Balian Desa sebagai individu pilihan oleh kekuatan supranatural menjadi dasar legitimasi kekuasaannya. Hal ini sesuai dengan konsep Gramsci tentang moral dan intelektual leadership. Balian Desa memimpin masyarakat dengan menginternalisasi nilai-nilai spiritual yang sejalan dengan kepentingan masyarakat Pedawa. Penguasaan Balian Desa atas teks sakral, doa, dan tradisi menciptakan hierarki simbolik yang memperkuat posisinya sebagai penguasa spiritual (Das, 2. Balian desa adalah bentuk nyata dari hegemoni budaya. Ritual di Desa Pedawa tidak hanya menjadi ekspresi religius, tetapi juga alat untuk memperkuat dominasi Balian Desa atas masyarakat. Melalui ritual. Balian Desa menampilkan penguasaan atas simbol-simbol sakral, saa . , dan praktik spiritual yang dianggap esoteris dan eksklusif. Ritual-ritual ini juga berfungsi untuk mereproduksi struktur sosial Masyarakat awam yang terlibat dalam ritual berperan sebagai peserta pasif, sementara Balian Desa memegang kendali penuh atas proses dan makna ritual. Dengan demikian. Balian Desa memastikan bahwa otoritasnya diakui dan dipatuhi secara sukarela oleh masyarakat. Gramsci . menekankan pentingnya pendidikan informal dalam membangun dan mempertahankan hegemoni. Dalam konteks di Desa Pedawa. Balian Desa berperan sebagai pendidik spiritual informal yang membimbing masyarakat dalam memahami norma adat dan ajaran agama. Melalui nasihat spiritual, cerita rakyat, dan keterlibatan dalam ritual. Balian Desa menanamkan nilai-nilai yang mendukung status quo. Proses ini menghasilkan konsensus sosial yang mendukung dominasi Balian Desa tanpa memerlukan paksaan langsung. Tokoh Adat Pedawa. Wayan Sukrata menjelaskan, masyarakat menerima otoritas Balian Desa karena nilai-nilai ini telah diinternalisasi sebagai bagian dari budaya lokal sejak Gagasan bahwa pengetahuan Balian Desa adalah warisan eksklusif yang hanya dapat dimiliki oleh Yos Gunung Agung menjadi struktur hegemonik dipertahankan lintas Kesucian, kemampuan Balian Desa dalam memimpin ritual ini sudah diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini di Pedawa. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Bagaimana anak-anak di Pedawa melihat Balian Desa muput, secara tidak langsung sejak dini anak-anak sudah mengetahui peran vital Balian Desa yang harus Makanya, anak-anak, remaja ketika bertemu Balian Desa didik untuk menghormati seperti menyapa dengan salam yang santun, menyebut nama beliau dengan panggilan Dane agar senantiasa tertanam sejak dini, inilah bentuk pendidikannya. Gambar 3. Balian Desa. Saat Memimpin Ritual Ngangkid (Pitra Yadny. (Sumber: Putu Mardika, 2. Keteguhan masyarakat Desa Pedawa dalam menjaga ideologi ini mencerminkan cara pandang khas Bali Aga, yang tetap bertahan meskipun era modernisasi telah hadir. Hubungan antara masyarakat dengan Balian Desa tidak hanya mencerminkan penghormatan, tetapi juga pengakuan atas pentingnya peran Balian Desa sebagai penjaga keseimbangan spiritual dan adat. Kepercayaan yang kuat terhadap pemimpin ritual ini telah menjadi bukti kekuatan ideologi yang tidak hanya mengatur tatanan adat, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Desa Pedawa hingga kini. Hegemoni Balian Desa Melalui Bahasa dan Folklor Hegemoni dikenal sebagai sebuah cara untuk mempengaruhi kelompok melalui pendekatan nilai-nilai dan moral tanpa harus melakukan kekerasan atau ancaman kepada kelompok yang akan didominasi (Bocock, 2. Selain menanamkan ideologi, dalam mensukseskan hegemoni juga ada tahapan penanaman ide-ide, gagasan, bahasa, dan juga Keempat komponen ini menjadi hal yang penting, digunakan pada saat menghegemoni kelompok. Dimana pihak yang mendominasi akan mempelajari situasi dari kelompok yang ingin didominasi, dan apabila komponen-komponen tersebut sudah dipahami maka akan dijalankan sesuai dengan kesepakatan kelompok yang akan Penanaman konsep ide, gagasan, bahasa, folklor ini akan disampaikan guna mensukseskan hegemoni tersebut supaya lebih mudah dipahami oleh kedua belah pihak kelompok, yang akan menemukan kesepakatan bersama. Hegemoni tersebut tidaklah sebuah ancaman melainkan sebuah cara untuk mendominasi secara halus sehingga tidak ada pihak yang dirugikan atau sudah menemukan kesepakatan yang saling Inilah yang menjadi titik utama keberangkatan teori hegemoni terkait dengan proses mempengaruhi. Bahasa Bahasa memegang peran penting sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan informasi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam tatanan sosial Masyarakat (Bourdieu, 1. Bahasa memiliki tiga fungsi metafungsional: ideasional, interpersonal, dan tekstual. Fungsi ideasional menggambarkan realitas fisik-biologis dan pengalaman, fungsi interpersonal mengatur interaksi sosial, sedangkan fungsi tekstual menciptakan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH makna dalam konteks tertentu. Bahasa menjadi alat strategis untuk menyebarkan ideologi dan membentuk pola pikir masyarakat, di mana kelompok yang mendominasi dapat memengaruhi kelompok lain melalui penguasaan bahasa (Ritzer, 2. Hal ini menjadikan bahasa sebagai elemen penting dalam proses hegemoni. Peranan Balian Desa dalam menghegemoni masyarakat sangat terkait dengan penggunaan bahasa yang dianggap sakral. Bahasa yang digunakan oleh Balian Desa dalam ritual keagamaan tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga dipercaya mengandung kekuatan simbolis dan magis. Sebagai contoh, dalam wawancara dengan Wayan Sukrata, disebutkan bahwa masyarakat sangat taat pada arahan Balian Desa, bahkan jika itu terkait larangan pelaksanaan ritual tertentu. Bahasa ini dianggap sebagai representasi langsung dari pesan spiritual atau pawisik yang diterima Balian Desa dari Ida Bhatara, sehingga masyarakat tidak pernah meragukan kebenarannya. Gambar 4. Balian Desa Saat Memimpin Ritual Ngeyehin Karang (Bhuta Yadny. (Sumber: Putu Mardika, 2. Kekuatan hegemoni bahasa Balian Desa terlihat jelas dalam pengaruhnya terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat Desa Pedawa. Bahasa yang disampaikan, seperti larangan melasti karena situasi spiritual tertentu, langsung diikuti oleh masyarakat tanpa pertentangan. Hal ini menunjukkan bahwa hegemoni bahasa bukan hanya tentang komunikasi verbal, tetapi juga menyangkut kepercayaan pada simbol dan nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya (Poloma, 2. Bahasa yang digunakan oleh Balian Desa memengaruhi kesadaran kolektif masyarakat, sehingga tercipta pola kepatuhan yang diterima secara sukarela oleh komunitas. Keputusan terkait ritual selalu berdasarkan firasat spiritual yang baik. Jika firasatnya kurang baik. Balian Desa akan menunjuk orang lain untuk melaksanakan ritual, dan yang ditunjuk tidak berani menolak. Kepercayaan masyarakat terhadap bahasa Balian Desa sebagai alat komunikasi spiritual memperlihatkan betapa kuatnya hegemoni yang tertanam dalam kehidupan sosial dan ritual masyarakat Desa Pedawa. Hegemoni bahasa ini terus berlangsung, memperkuat tatanan adat dan spiritualitas yang menjadi ciri khas budaya Bali Aga. Folklor Folklor memiliki peran penting sebagai penopang hegemoni melalui sistem kepercayaan, opini, dan tahayul yang diwariskan secara turun-temurun. Folklor mencakup kebudayaan tradisional yang tidak resmi dan tersebar di antara kelompok masyarakat melalui cerita lisan, gerak isyarat, atau alat pengingat (Endraswara, 2. Sebagai bagian dari kebudayaan, folklor tidak hanya bersifat etnik, tetapi juga memiliki aspek nasional yang berfungsi mengikat kolektif masyarakat tanpa kekerasan, sehingga menerima dan mengikuti pengaruh pihak yang mendominasi. Hal ini menjadikan folklor sebagai elemen penting dalam membangun gagasan dan identitas budaya masyarakat. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Di Desa Pedawa, folklor memiliki peran sentral dalam memperkuat hegemoni melalui cerita dan kepercayaan masyarakat terhadap Balian Desa. Kepercayaan ini diwariskan secara lisan dan memengaruhi cara masyarakat memahami peran Balian Desa sebagai pemimpin ritual keagamaan yang dianggap sakral. Berdasarkan wawancara dengan Pan Karpani. Balian Desa dipilih berdasarkan garis keturunan tertentu, yang tidak dapat diambil alih oleh sembarang orang. Selain itu, cerita-cerita tentang kekuatan magis Balian Desa, seperti kemampuan menerima petunjuk gaib terkait ritual keagamaan, juga memperkuat posisi dalam masyarakat. Kepercayaan ini menciptakan keterikatan kuat antara masyarakat dan Balian Desa. Hubungan antara folklor dan kearifan lokal bersifat saling mendukung, di mana cerita rakyat mengandung nilai-nilai lokal yang dilestarikan dari generasi ke generasi. Folklor berfungsi sebagai media ekspresi identitas, ideologi, dan cara hidup masyarakat, khususnya Bali Aga. Sebagaimana dijelaskan oleh Danandjaja . Reuter . , cerita rakyat tidak hanya menjadi penghubung tradisi tetapi juga menjaga eksistensi etnis dan budaya di tengah perubahan zaman. Dengan mempertahankan folklor, masyarakat Desa Pedawa berhasil menjaga identitas Bali Aga melalui tradisi dan nilai-nilai yang Selain itu spirit menyama braya yang menjadi karakter Bali Aga dijiwai oleh foklor sebagai merupakan praktik hidup yang sangat diperlukan demi keharmonisan hidup umat bermasyarakat (Fatmawati, 2. Gambar 5. Balian Desa Saat Memimpin Ritual Mecaru di Desa (Bhuta Yadny. (Sumber: Putu Mardika, 2. Tokoh Adat Pedawa. Wayan Sukrata menjelaskan, hubungan antara Balian Desa sebagai tokoh ritual dengan tokoh adat seperti Ulun Desa mencerminkan hubungan Setiap peran memiliki porsi otoritas dan tanggung jawab yang saling melengkapi dalam menjaga tradisi dan spiritualitas desa. Narasi ini menggambarkan bagaimana harmoni peran tersebut tercipta dan dipertahankan tanpa memicu konflik atau Balian Desa bertanggungjawab dalam urusan religius magis yang berakar pada tradisi lokal dan kepercayaan animistik yang menjadi bagian integral dari identitas Desa Pedawa. Balian Desa menjadi rujukan utama dalam penyelesaian masalah spiritual yang bersifat individu, seperti penyembuhan penyakit atau pengusiran energi negatif. Sementara Ulun Desa bertugas mengerahkan krama Pedawa untuk ngayah mensukseskan jalannya upacara dan mengatur secara teknis jalannya upacara. Tidak ada tumpang tindih kewenangan antara Balian Desa dengan Ulun Desa dan tokoh adat. Semua berjalan sesuai tugasnya masing-masing. Balian Desa urusannya ke niskala . lam gai. dan Ulun Desa yang merupakan struktur masyarakat di Pedawa urusannya sekala bagaimana mengerahkan krama, mengatur secara teknis agar berjalan beriringan. Balian https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Desa berfungsi sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah . dan praktik adat yang telah lama ada. Balian Desa memiliki posisi strategis dalam mengontrol dan menjaga kelangsungan ritual adat, yang berfungsi sebagai mekanisme untuk mempertahankan kekuasaan sosial dan budaya (Warren, 1. Hegemoni Balian Desa dalam ritual keagamaan di Desa Pedawa sangat kuat, ditopang oleh ideologi, bahasa, dan folklor. Posisi Balian Desa sebagai pemimpin spiritual dihormati oleh masyarakat tanpa adanya konflik atau kekerasan. Folklor, sebagai pendukung hegemoni, tetap relevan karena masyarakat masih mempercayai cerita-cerita turun-temurun yang memengaruhi pola pikir dan perilaku krama Desa Pedawa. Dalam konteks ini, hegemoni Balian Desa menunjukkan bagaimana tradisi dan kepercayaan kolektif dapat menjadi alat efektif untuk mengatur dan mempersatukan masyarakat dalam tatanan sosial dan budaya yang harmonis. Implikasi Balian Desa terhadap Aktivitas Ritual di Desa Pedawa Posisi Balian Desa di Desa Pedawa memegang peranan penting dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat pedawa, terutama dalam konteks sosio-religi bagi masyarakat Pedawa. Balian Desa sendiri merupakan sebuah jabatan yang diperoleh atau diwariskan secara turun temurun pada satu keluarga di Pedawa. Hal ini menunjukan bahwa untuk menjadi Balian Desa tidak bisa atau diambil dari luar keluarga yang memiliki silsilah sebagai Balian Desa. Tokoh Adat Pedawa. Wayan Sukrata, menjelaskan Balian Desa hanya bisa dipilih secara turun temurun pada satu keluarga tersebut berdasarkan pawisik atau proses nunasang ke balian . enanyakan kepada orang pintar secara spiritua. tentang siapa yang ditunjuk untuk melanjutkan mengemban tugas sebagai Balian Desa tersebut. Struktur sosial desa ini bersifat hierarkis dengan Balian Desa berada di puncak otoritas spiritual. Masyarakat pedawa tidak memiliki keberanian untuk mengambil posisi sebagai Balian Desa jika tidak memiliki garis keturunan langsung dari Balian Desa yang ditunjuk oleh ida Sesuhunan sebelumnya. Hal ini dikarenakan jika yang mengambil atau mengemban tugas sebagai Balian Desa bukan dari keturunan Balian Desa terkahir maka akan mempertaruhkan nyawanya dan berujung pada kematian. Posisi Balian Desa di Pedawa memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan sosial dan religius. Meskipun tokoh yang telah ditunjuk untuk menjadi Balian Desa seringkali menolak tanggung jawab tersebut. Namun akhirnya menerima peran itu setelah mengalami peristiwa-peristiwa spiritual yang mengingatkan individu yang ditunjuk akan konsekuensi besar dari penolakan tersebut. Salah satu contoh nyata adalah kakek dari Balian Desa Pan Karpani, setelah kehilangan putra kesayangannya karena penolakan terhadap tugas tersebut, akhirnya menerima tanggung jawab sebagai Balian Desa. Ini menunjukkan bahwa keberanian untuk menerima tugas tersebut muncul setelah adanya pertimbangan mendalam dan konsekuensi yang sangat berat. Peristiwa yang dialami oleh Balian Desa juga memberikan gambaran betapa besar tanggung jawab yang diemban. Ketika menolak, konsekuensinya adalah tidak hanya menghadapi kesulitan pribadi seperti kecelakaan atau penyakit, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi, termasuk kekurangan hasil panen yang seharusnya mencukupi kebutuhan hidup. Masyarakat Pedawa sangat meyakini bahwa Balian Desa memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual. Dalam hal ini, teori tindakan beralasan (Theory of Reasoned Actio. dari Icek Aizen dan Martin Fishbein bisa diterapkan, yang menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh niat yang muncul setelah mempertimbangkan dampak dan informasi yang ada. Keputusan Balian Desa untuk menerima atau menolak tugas didasarkan pada evaluasi matang terhadap konsekuensinya, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH baik secara pribadi maupun sosial. Proses pemilihan Balian Desa ini juga menekankan adanya norma sosial yang kuat, di mana keputusan yang diambil oleh Balian Desa dianggap sah dan tidak bisa digantikan oleh pemimpin adat lainnya seperti Sulinggih atau Pemangku. Ketika pelaksanaan upacara adat. Balian Desa memiliki posisi utama, meskipun tidak hadir dalam setiap upacara. Kehadiran Balian Desa terutama diperlukan dalam upacara dewa yadnya dan ritual tertentu, seperti upacara nebusin dan nguningang. Namun, dalam beberapa ritual lainnya, seperti mepandes, upacara bisa dilaksanakan tanpa kehadiran Balian Desa, tetapi wajib menunjuk Permas untuk menggantikan. Menurut Bourdieu . , habitus adalah sistem disposisi yang dihasilkan dari pengalaman sosial dan budaya individu, yang membentuk cara bertindak, berpikir, dan merasakan (Bourdieu, 2. Dalam konteks Desa Pedawa, habitus masyarakat dibentuk oleh nilai-nilai adat dan kepercayaan spiritual yang diwariskan lintas generasi. Balian Desa memainkan peran penting dalam membentuk dan mereproduksi habitus ini melalui ritual, ajaran spiritual, dan pendidikan informal. Kekuasaan simbolik yang dimiliki oleh Balian Desa berasal dari kemampuan untuk mengontrol simbol-simbol sakral yang memiliki makna mendalam dalam budaya lokal. Kekuasaan ini memungkinkan Balian Desa untuk mempertahankan legitimasi meskipun terjadi perubahan sosial. Sebagai contoh, penggunaan saa . antram menggunakan Bahasa loka. doa, dan simbol-simbol tradisional dalam ritual menciptakan aura otoritas Balian Desa yang sulit ditantang oleh masyarakat awam di Pedawa. Ritual ini menciptakan modal simbolik yang menurut Bourdieu, adalah sumber kekuasaan yang berasal dari pengakuan dan penghormatan sosial terhadap seseorang atau kelompok. Balian Desa di Pedawa juga berfungsi sebagai penjaga norma-norma sosial dan agama di desa tersebut. Teori tindakan beralasan menjelaskan bahwa sikap, niat, dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor pribadi dan sosial. Dalam hal ini, keputusan Balian Desa untuk hadir atau tidak dalam sebuah upacara sering kali didasari oleh firasat atau pawisik yang diterima, yang dianggap sebagai wahyu dari para dewata. Masyarakat Pedawa secara sosial mengakui dan mengikuti keputusan Balian Desa, mempercayai bahwa keputusan tersebut mengandung petunjuk yang lebih besar terkait dengan kesejahteraan spiritual dan material desa. Gayut dengan gagasan Nordholt . menunjukkan bahwa kekuasaan secara umum masyarakat di Bali sangat bergantung pada kemampuan para pemimpin adat, termasuk Balian Desa di Pedawa, untuk mengontrol dan memanfaatkan ritual sebagai sarana untuk memperkuat posisi Balian Desa dalam masyarakat (Mishra, 2. Ritual menjadi medium di mana Balian Desa memegang otoritas moral dan spiritual, serta menjadi penghubung antara masyarakat dengan dunia gaib yang dianggap memiliki kekuatan untuk mengubah nasib. Balian Desa di Pedawa menggunakan ritual dan praktik keagamaan untuk menciptakan suatu konsensus yang diterima oleh masyarakat tentang nilai-nilai yang dianggap sah dalam kehidupan bersama, hegemoni merupakan sebuah konsensus atau kesepakatan yang menghasilkan ketertundukan melalui ideologi penerimaan kelas. Implikasi dari peran dominan Balian Desa ini adalah terjaganya struktur sosial yang kohesif di Desa Pedawa. Norma sosial yang terbentuk di sekitar Balian Desa memberikan dampak pada pola perilaku masyarakat yang cenderung patuh pada keputusan-keputusan yang diambil oleh Balian Desa. Teori norma subyektif dalam teori tindakan beralasan menyatakan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh norma-norma yang dipegang oleh kelompok sosial. Kondisi ini menciptakan sebuah sistem sosial yang memperkuat posisi Balian Desa, menjaga keutuhan adat istiadat, dan melindungi desa dari pengaruh luar yang dapat merusak integritas sosioreligius, meskipun dalam era modernisasi dan globalisasi. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan analisis teori tindakan beralasan maka dapat disimpulkan bahwa implikasi dari hegemoni Balian Desa di Pedawa adalah terbentuknya sebuah sistem perilaku yang didasarkan pada hasil evaluatif terhadap tindakan-tindakan sebelumnya dimana output-nya adalah masyarakat tidak berani melanggar akan apa yang sudah menjadi pengalaman masa lalu mamupun apa yang sudah menjadi hasil dari pewahyuan yang diterima oleh Balian Desa dalam hal ritual keagamaan. Hal ini juga membentuk sebuah pola prilaku dimana masyarakat Pedawa yang bukan berasal dari keturunan Balian Desa tidak berani untuk menobatkan dirinya sebagai seorang Balian Desa. Kondisi ini sejalan dengan pemikiran Gramsci disini adalah lebih kepada penanaman ide-ide, dan tidak semata-mata mengutamakan kekerasan atau kekuatan fisik dalam mengatur tatanan sosial dan politik, serta harus terdapat persetujuan dari yang dikkuasai, disamping itu juga harus mematuhi norma-norma penguasa tanpa harus melakukan kekerasan (Pozzolini, 2. Konsep hegemoni Gramsci, segala bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai yang ada di kehidupan masyarakat yang dominan, dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, dan juga secara kritis dari segi kemampuan, melalui konsensus. Sehingga konsensus inilah yang nantinya akan menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah sosial tentang pola yang sudah ditentukan melalui birokrasi . asyarakat domina. Hal kedua yang dapat ditarik sebagai implikasi dari hegemoni Balian Desa adalah terjaganya adat istiadat di Desa Pedawa ditengah gempuran arus modernisasi dan globalisasi saat ini, hal ini tentu besar dipengaruhi oleh posisi Balian Desa yang hingga saat ini masih dipercaya semua perkataannya yang berhubungan tata laksana upacara serta ritual sebagai sebuah bentuk pewahyuan yang diberikan oleh para dewata agar upacara tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. Tradisi dan budaya lokal di Bali Aga ini ditopang oleh spirit kebersamaan yang berkeadilan, yang dibalut dalam pelaksanaan Hegemoni dari Balian Desa tersebut juga membantu masyarakat Pedawa untuk tetap berada pada struktur masyrakatnya secara original tanpa harus mengalami perubahaan secara sosioreligius (Putra, 2. Kesimpulan Kedudukan Balian Desa di Desa Pedawa. Kecamatan Banjar. Kabupaten Buleleng, memiliki legitimasi kuat yang didasarkan pada empat faktor utama, proses pemilihan melalui niskala, keharusan berasal dari garis keturunan Yos Gunung Agung, proses penobatan yang sakral, serta peran dalam menentukan sah atau tidaknya upacara Dalam konteks teori Otoritas Dahrendorf. Balian Desa merupakan pemegang otoritas penuh atas pelaksanaan ritual, sementara krama Desa Adat Pedawa berada di bawah kuasanya. Balian Desa juga dianggap sebagai pemegang mandat religius-magis dari Ida Panembahan, yang memberikan wewenang untuk memimpin ritual dan mengesahkan upacara keagamaan. Hegemoni ini membuat masyarakat mematuhi sepenuhnya otoritas Balian Desa tanpa konflik, karena posisi ini diyakini sebagai perantara penting dalam menjaga keharmonisan tradisi religius. Hegemoni Balian Desa dalam ritual keagamaan mencakup dominasi ideologi, bahasa, dan folklor yang memperkuat pengaruhnya di masyarakat. Sebagai tokoh yang dihormati. Balian Desa tidak hanya menjadi simbol religius, tetapi juga agen penyebaran nilai-nilai budaya Bali Aga melalui tradisi lisan dan cerita turun-temurun. Penggunaan bahasa simbolis oleh Balian Desa dipercaya mampu membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat. Proses pemilihan Balian Desa melalui pewahyuan menunjukkan eksklusivitas jabatan ini, mempertegas legitimasi dan norma yang diterima masyarakat tanpa perlawanan. Implikasi dari hegemoni ini adalah pelestarian tradisi lokal di tengah modernisasi, sehingga struktur sosioreligi Desa Pedawa tetap kokoh dalam identitas aslinya. Hegemoni https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Balian Desa di Desa Pedawa memperkuat dominasi nilai-nilai adat, mengintegrasikan kekuasaan tradisional dengan struktur negara, serta mempertahankan kestabilan sosial melalui kontrol spiritual dan sosial yang terpusat pada figur pemimpin agama. Daftar Pustaka