PENELITIAN ASLI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA: STUDI CROSS-SECTIONAL DI SMA X PONTIANAK SELATAN Chairun Nisa Savitry1. Triyana Sari2 Pendidikan Profesi Kedokteran Universitas Tarumanagara. Jakarta Barat. Indonesia Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Jakarta Barat. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Usia remaja selalu menjadi tahap transisi Tanggal Dikirim: 05 November 2025 yang kompleks dan krusial, dicirikan dengan Tanggal Diterima: 08 Desember 2025 perkembangan sosial, biologis, dan psikologis. Pada Tanggal Dipublish: 08 Desember 2025 periode ini, rasa ingin tahu terhadap seksualitas meningkat, sementara kontrol diri dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi kerap kali masih kurang. Kondisi tersebut turut memicu meningkatnya kecenderungan Kata kunci: pengetahuan. perilaku seksual berisiko dan kasus kehamilan pada perilaku seksual. remaja, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat. Tujuan: untuk menelaah keterkaitan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku seksual pada siswa SMA X Penulis Korespondensi: yang berlokasi di Pontianak Selatan. Chairun Nisa Savitry Metode: Studi ini dilakukan melalui pendekatan Email: chairunnisa. ox@gmail. kuantitatif dengan desain potong lintang . ross-sectiona. Sebanyak 94 responden dipilih menggunakan metode consecutive non-random sampling. Instrumen berupa kuesioner yang telah tervalidasi digunakan untuk pengumpulan data, kemudian analisis dilakukan dengan uji Chi-square menggunakan taraf signifikansi p < 0,05. Hasil: Ditemukan bahwa tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku seksual . = 0,747. OR = 0,. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dan perilaku seksual remaja . = 0,000. OR = 4,. , dimana responden dengan sikap positif kemungkinan berperilaku seksual aman yang lebih besar 4,6 kali dibandingkan dengan mereka yang bersikap Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku seksual. Namun, sikap memiliki hubungan yang signifikan lebih besar terhadap perilaku seksual remaja. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 10 No. 2 Desember 2025 (Hal 95-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Savitry. Chairun Nisa, and Triyana Sari. AuHubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Seksual Remaja: Studi Cross-Sectional Di SMA X Pontianak Selatan. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat 10 . 95Ae104. https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Usia remaja merupakan tahap transisi penting karena adanya perubahan sosial, psikologis, dan biologis yang signifikan. Pada tahapan ini, mulai terjadi perkembangan identitas diri, termasuk pemahaman dan rasa ingin tahu terhadap seksualitas. Namun, keterbatasan pengetahuan serta kontrol diri yang belum matang sering kali membuat remaja rentan terhadap perilaku seksual berisiko. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, masalah kesehatan reproduksi remaja masih menjadi isu serius karena tingginya angka kehamilan pada usia muda. Berdasarkan data Riskesdas . , 867 kasus kehamilan pada remaja berusia 10Ae19 tahun, dengan mayoritas terjadi pada kelompok usia 15Ae19 tahun . Pada tingkat regional. Provinsi Kalimantan Barat menghadapi tantangan besar terkait pernikahan dan kehamilan dini. Sekitar 43,55% perempuan muda telah menjadi ibu sebelum usia 21 tahun, terutama di wilayah pedesaan dengan akses pendidikan terbatas . Selain itu, tercatat 29,8% remaja di Indonesia mengalami kehamilan pada usia muda . Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian remaja di Kalimantan Barat mulai terjerumus dalam tindakan seksual yang tidak diiringi dengan pengetahuan dan kesadaran yang layak untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perilaku seksual remaja merupakan permasalahan multidimensional yang membutuhkan perhatian lintas sektor, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Permasalahan ini berdampak langsung pada kesehatan reproduksi dan kesejahteraan generasi muda. Kehamilan remaja berisiko mencetuskan komplikasi obstetrik seperti lahir kurang bulan, berat badan lahir rendah, dan memperbesar risiko kematian ibu akibat ketidakmatangan fisik. Data Dinas Kesehatan Kalimantan Barat . mencatat bahwa tingkat bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mencapai 5,3%, dan meskipun Pontianak mencatat angka terendah . ,6%), prevalensinya tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya . Sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi yang telah dilakukan belum sepenuhnya efektif dalam menekan faktor risiko, termasuk kehamilan remaja. Sejumlah studi menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti tingkat pemahaman, pandangan pribadi, nilai-nilai sosial, serta kondisi keluarga turut mempengaruhi perilaku seksual pada remaja. Menurut Hegde et al. , pendidikan seksual yang komprehensif berperan penting dalam mengarahkan remaja untuk memahami risiko dan konsekuensi dari perilaku seksual, serta menumbuhkan sikap positif terhadap seksualitas yang sehat dan bertanggung jawab . Namun, studi di Pontianak Barat oleh Fitrian et al. menunjukkan bahwa meskipun remaja telah memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi, perilaku seksual pranikah masih terjadi . Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku aktual remaja dalam konteks seksual. Berdasarkan kondisi tersebut, masih terdapat celah kajian . esearch ga. mengenai keterkaitan antara tingkat pemahaman dan pandangan remaja terhadap perilaku seksual di kawasan Pontianak Selatan yang memiliki karakteristik sosial-budaya berbeda dari wilayah lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap dengan perilaku seksual pada pelajar SMA X di Pontianak Selatan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi bagi elaborasi kebijakan pendidikan kesehatan reproduksi yang lebih efisien di tingkat sekolah, serta menjadi pedoman bagi pembuat kebijakan dalam merancang intervensi berbasis bukti untuk menekan perilaku seksual berisiko di kalangan remaja. Metode Penelitian ini menerapkan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang . ross-sectiona. Pendekatan tersebut digunakan untuk menilai keterkaitan antara tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku seksual remaja pada satu waktu Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggambarkan kondisi aktual perilaku seksual remaja serta menggali faktor-faktor yang memiliki keterkaitan tanpa melakukan intervensi langsung . Penelitian dilaksanakan di SMA X Pontianak Selatan. Kota Pontianak. Provinsi Kalimantan Barat. Pemilihan lokasi diasaskan dengan pertimbangan bahwa wilayah ini memiliki karakteristik sosial dan budaya yang heterogen serta kasus perilaku seksual remaja yang cukup menonjol menurut laporan Dinas Kesehatan setempat . Pengumpulan data dilakukan selama periode Januari 2023. Populasi dalam penelitian ini merupakan semua siswa-siswi SMA X Pontianak Selatan yang terdaftar pada tahun ajaran 2023/2024. Sampel penelitian diperoleh melalui teknik purposive sampling, yang ditetapkan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Kriteria inklusi mencakup: siswa berusia 14Ae17 tahun, bersedia berpartisipasi sebagai responden, serta memperoleh izin dari orang tua atau wali. Sementara itu, kriteria eksklusi meliputi: siswa yang tidak hadir pada saat pelaksanaan penelitian dan tidak mengisi kuesioner secara lengkap. Berdasarkan perhitungan rumus Slovin dengan nilai keliru 5%, didapatkan jumlah minimal sampel sebanyak 94 responden, yang kemudian menjadi jumlah akhir peserta Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang disusun berdasarkan teori perilaku kesehatan dan literatur terdahulu. Kuesioner dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu: karakteristik responden . sia, jenis kelamin, dan latar belakang keluarg. pengetahuan seksual, yang diukur menggunakan 15 pertanyaan pilihan ganda mencakup aspek fisiologis, anatomi reproduksi, dan risiko hubungan seksual. seksual, yang diukur dengan 10 pernyataan menggunakan skala Likert 4 poin . angat setuju Ae sangat tidak setuj. dan perilaku seksual, yang diukur berdasarkan frekuensi keterlibatan dalam aktivitas fisik-afektif . erpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan hubungan seksua. Kuesioner ini diadaptasi dari instrumen penelitian Muflih & Syafitri . yang telah teruji validitas dan reliabilitas pada 30 responden tanpa menginklusi sampel penelitian primer. Hasil uji validitas memperlihatkan nilai r hitung > r tabel . , dan reliabilitas keseluruhan memiliki nilai CronbachAos alpha sebesar 0,87, yang berarti bahwa instrumen memiliki stabilitas internal yang baik . Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner secara langsung di sekolah dengan pendampingan peneliti dan guru bimbingan konseling. Sebelum pengisian kuesioner, peneliti menjelaskan tujuan penelitian, hak responden, dan menjamin kerahasiaan data Setiap responden menandatangani lembar persetujuan . nformed consen. sebelum berpartisipasi. Untuk menjaga obyektivitas, pengisian dilakukan tanpa menyebutkan identitas pribadi secara lengkap. Data yang telah dikumpulkan diperiksa kelengkapan dan konsistensinya sebelum dianalisis. Pengolahan data dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan program Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 26. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik para responden, tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Chi-square untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara variabel independen . engetahuan dan sika. dan variabel dependen . erilaku seksua. Tingkat signifikansi statistik ditetapkan pada p < 0,05 dengan confidence interval (CI) 95%. Hasil uji Chi-square juga disertai dengan Odds Ratio (OR) untuk menilai kekuatan hubungan antar variabel. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara dengan nomor izin 048/KEPK/FK UNTAR/XII/2022. Seluruh proses penelitian ini dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip-prinsip etika penelitian, meliputi kerahasiaan data, persetujuan partisipasi secara sukarela, serta perlindungan identitas responden. Hasil 1 Analisis Univariat Tabel 1. Karakteristik Responden (N=. Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Jenis Kelamin Pria Wanita Usia (Tahu. Perilaku Seksual Aman Berisiko Pengetahuan Baik Kurang Sikap Positif Negatif Jumlah Dari total 94 responden, sebagian besar berjenis kelamin perempuan . ,6%), sedangkan laki-laki 39,4%. Berdasarkan distribusi usia, sebagian besar responden berusia 15 tahun . %), sedangkan usia 16 tahun menempati urutan berikutnya . ,9%), sementara hanya sebagian kecil berusia 14 tahun . ,1%) dan 17 tahun . %). Dari sisi perilaku seksual, sebanyak 49 responden . ,1%) dikategorikan memiliki perilaku seksual aman, sedangkan 45 responden . ,9%) tergolong dalam kelompok berisiko. Tingkat pengetahuan responden menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki pengetahuan yang kurang . ,8%), sedangkan hanya 37,2% yang tergolong memiliki pengetahuan baik. Sementara itu, mayoritas responden menunjukkan sikap positif terhadap seksualitas . ,5%), dan sisanya memiliki sikap negatif . ,5%) (Tabel . Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar remaja memiliki sikap positif terhadap isu seksual, masih terdapat proporsi besar yang memiliki pengetahuan terbatas dan perilaku berisiko, mengindikasikan adanya kesenjangan antara aspek kognitif dan perilaku 2 Analisis Bivariat Hubungan Pengetahuan terhadap Perilaku Seksual Berisiko pada Siswa SMA di Pontianak Selatan Tabel 2 Hubungan Pengetahuan Seksual terhadap Perilaku Seksual Perilaku Pengetahuan Aman Seksual (%) Baik 19 . Total Berisiko (%) 16 . Kurang 30 . Total p Value Odds Ratio 0,747 Hasil analisis mengenai hubungan antara pengetahuan dan perilaku seksual menunjukkan bahwa responden dengan tingkat pengetahuan yang baik cenderung memiliki perilaku seksual yang aman sebesar 54,3%, sedangkan yang berisiko sebesar 45,7%. Pada responden dengan pengetahuan kurang, 50,8% memiliki perilaku aman dan 49,2% berisiko. Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0,747, sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan tidak berhubungan secara signifikan dengan perilaku seksual responden (Tabel . Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan tidak secara langsung memengaruhi perubahan perilaku seksual pada remaja. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kognitif saja tidak cukup untuk mengubah perilaku tanpa adanya faktor pendukung lain seperti sikap, norma sosial, kontrol diri, dan dukungan lingkungan. Hubungan Sikap Seksual terhadap Perilaku Seksual Berisiko pada Siswa SMA di Pontianak Selatan Tabel 3 Hubungan Sikap Seksual terhadap Perilaku Seksual Perilaku Sikap Seksual Total Berisiko N (%) 18 . Positif Aman (%) 37 . Negatif Total p Value Odds Ratio 0,000 Dari total responden, mereka yang memiliki sikap positif cenderung menunjukkan perilaku seksual yang aman sebesar 67,3%, sedangkan mereka yang memiliki sikap negatif menunjukkan perilaku berisiko sebesar 69,2%. Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0,000, yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara sikap dan perilaku seksual pada remaja. Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 4,6 menunjukkan bahwa remaja dengan sikap positif memiliki peluang 4,6 kali lebih besar untuk berperilaku seksual aman dibandingkan dengan remaja yang memiliki sikap negatif (Tabel . Hasil ini menunjukkan bahwa sikap merupakan prediktor yang lebih kuat dibandingkan pengetahuan dalam menentukan perilaku seksual remaja. Pembahasan Karakteristik Sosiodemografis dan Konteks Perilaku Remaja Mayoritas responden dalam penelitian berusia 15 tahun, dimana merupakan masa puncak perubahan biologis dan psikososial. Penelitian Safitri Dewi dan Fitriyah . menyebutkan, pada rentang usia ini kenaikan kadar hormon gonadotropin dan hormon seks steroid memicu munculnya dorongan seksual yang lebih tinggi, sementara perkembangan kognitif dan pengendalian diri belum matang sepenuhnya . Hal ini menjadikan remaja lebih rentan terhadap perilaku eksploratif, termasuk dalam konteks Penelitian Nova dan Safitra . juga menemukan bahwa aktivitas seksual pranikah meningkat di remaja berusia 15Ae24 tahun di Indonesia, sekitar 2,4% telah melakukan hubungan seksual pranikah, dengan angka kejadian lebih tinggi di daerah Faktor pendorong utamanya adalah rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, dan paparan konten seksual melalui media digital. Fenomena ini menegaskan bahwa perilaku seksual remaja tidak semata-mata muncul dari dorongan biologis, tetapi juga merupakan hasil interaksi sosial dan budaya . Studi fenomenologis oleh Alimuddin et al. mendukung temuan ini dengan menyatakan bahwa kurangnya pengawasan orang tua, dukungan teman sebaya, dan kemudahan akses terhadap pornografi merupakan determinan penting dalam perilaku seksual remaja. Dengan demikian, perilaku seksual remaja merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor internal . orongan biologis dan tingkat pengetahua. serta faktor eksternal . orma sosial, komunikasi dalam keluarga, dan pengaruh medi. Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Seksual Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku seksual, dengan nilai p = 0,747. Penemuan ini mengindikasikan bahwa pengetahuan, meskipun berperan penting, tidak selalu berdampak langsung pada perubahan perilaku yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan penelitian Maitimo dan Katiandagho . di Kepulauan Talaud, yang juga menemukan bahwa tingkat pengetahuan tentang seksualitas tidak berkorelasi dengan perilaku seksual remaja . Bahdad et al. melaporkan hasil serupa pada siswa SMA Negeri 5 Palu, di mana pengetahuan rendah tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku seksual berisiko, dengan nilai signifikansi > 0,05 . Temuan ini sejalan dengan teori perilaku kesehatan Health Belief Model (HBM), yang menjelaskan bahwa pengetahuan berperan sebagai landasan dalam membentuk persepsi individu terhadap risiko, namun tidak secara langsung menentukan perubahan perilaku, namun tidak cukup untuk mengubah perilaku tanpa adanya motivasi internal, dukungan sosial, dan keyakinan akan kemampuan diri . elf-efficac. Dalam konteks remaja, informasi mengenai seksualitas sering kali tidak diterjemahkan menjadi perilaku sehat karena norma sosial dan budaya yang menganggap isu seksualitas sebagai sesuatu yang tabu. Akibatnya, pengetahuan yang dimiliki tidak diinternalisasi ke dalam keputusan perilaku. Namun, hasil ini berbeda dengan temuan Wahyuni et al. di Lhokseumawe, yang mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan yang baik berpengaruh signifikan terhadap perilaku seksual pranikah. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh variasi konteks sosial dan kualitas pendidikan seksual yang diterima responden. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan dapat efektif jika diberikan melalui pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan disertai pembentukan sikap serta nilai moral yang kuat . Di samping itu, temuan dari kuesioner mengindikasikan bahwa mayoritas siswa masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai efektivitas kontrasepsi dan batas perilaku seksual aman. Penelitian Yusnia et al. menemukan bahwa intervensi pendidikan kesehatan reproduksi yang dilakukan secara sistematis dan berbasis bukti dapat meningkatkan pengetahuan seksual remaja secara signifikan . < 0,. Dengan demikian, dibutuhkan strategi edukasi yang lebih interaktif, berbasis diskusi, dan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan remaja agar pengetahuan dapat berdampak pada perilaku nyata. Hubungan Sikap dan Perilaku Seksual Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sikap dan perilaku seksual . = 0,000. OR = 4,. Responden dengan sikap positif memiliki peluang hampir lima kali lipat untuk berperilaku seksual aman dibandingkan dengan mereka yang bersikap negatif. Hal ini menunjukkan bahwa sikap memainkan peran kunci dalam proses pengambilan keputusan seksual remaja. Temuan ini sejalan dengan penelitian Hanifah et al. yang menunjukkan bahwa remaja dengan sikap positif terhadap seksualitas memiliki kecenderungan lebih besar untuk menghindari perilaku berisiko . Sikap positif biasanya terbentuk melalui proses refleksi nilai, norma keluarga, dan pendidikan seksual yang mendorong tanggung jawab dan penghargaan terhadap diri sendiri. Penelitian Theresia et al. juga menegaskan bahwa sikap yang mendukung perilaku seksual bertanggung jawab berkontribusi terhadap keputusan yang lebih sehat dalam konteks hubungan interpersonal . Temuan peran sikap tersebut semakin relevan bila dikaitkan dengan pola perilaku pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja telah melakukan aktivitas fisik awal seperti berpegangan tangan atau bergandengan lengan. Aktivitas ini termasuk dalam kategori touching dengan risiko rendah (Muflih & Syafitri, 2. , tetapi dapat menjadi pintu masuk ke perilaku seksual yang lebih intim jika tidak disertai kontrol diri yang baik . Kemampuan pengendalian diri . elf-contro. menjadi faktor penting dalam mencegah perilaku seksual berisiko. Remaja dengan tingkat kontrol diri tinggi mampu menunda kepuasan jangka pendek demi menghindari konsekuensi negatif jangka panjang (Inanc et al. , 2. Sebaliknya, remaja dengan kontrol diri rendah lebih mudah terpengaruh oleh tekanan sosial dan dorongan emosional . Selain faktor individual, dukungan keluarga juga berperan sebagai pelindung . rotective facto. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak dapat memperkuat batasan moral dan membantu remaja memahami risiko perilaku seksual. Abidah et al. menegaskan bahwa keluarga yang memberikan pengawasan dan dukungan emosional berperan penting dalam mencegah perilaku seksual pranikah. Sebaliknya, tekanan dari teman sebaya, paparan media, dan rendahnya harga diri sering kali menjadi faktor pendorong utama perilaku berisiko . Menurut Teori Pembelajaran Sosial Bandura, perilaku manusia terbentuk melalui observasi dan peniruan terhadap model sosial di sekitarnya. Dalam konteks ini, remaja yang hidup di lingkungan dengan komunikasi terbuka mengenai isu seksual cenderung memiliki sikap yang lebih sehat terhadap seksualitas. Sebaliknya, budaya yang menstigmatisasi pembicaraan tentang seks dapat membentuk sikap negatif yang mendorong perilaku tersembunyi dan berisiko. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih merasa tabu untuk mendiskusikan topik seksualitas, sebagaimana terlihat dari item sikap yang menunjukkan keraguan dalam membicarakan isu tersebut . Hal ini konsisten dengan temuan Rumjaun dan Narod . , yang menjelaskan bahwa pembelajaran sosial di masyarakat konservatif sering kali membentuk persepsi bahwa seksualitas adalah topik yang harus dihindari. Akibatnya, siswa tidak mendapatkan model perilaku yang sehat, sehingga sulit membangun sikap positif dan terbuka terhadap pendidikan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, strategi intervensi perlu melibatkan peran orang tua, guru, dan tenaga kesehatan dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang suportif dan bebas stigma . Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, ukuran sampel yang tergolong kecil dan hanya mencakup satu wilayah (Pontianak Selata. membatasi kemampuan generalisasi temuan ini terhadap populasi yang lebih luas. Kedua, desain penelitian yang bersifat cross-sectional tidak memungkinkan penentuan hubungan kausal secara pasti antara variabel yang diteliti. Ketiga, faktor eksternal seperti pengaruh media, nilai budaya, dan dinamika keluarga tidak diukur secara mendalam. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan penggunaan desain mixed-method dengan melibatkan wawancara mendalam dan observasi perilaku guna memperoleh pemahaman yang lebih holistik. Selain itu, penelitian longitudinal dapat membantu mengidentifikasi perubahan sikap dan perilaku remaja dari waktu ke waktu setelah intervensi pendidikan seksual diberikan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap memiliki hubungan signifikan dengan perilaku seksual remaja, sementara pengetahuan tidak berhubungan secara langsung. Sikap positif berperan sebagai faktor pelindung yang meningkatkan kemungkinan remaja berperilaku seksual aman. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi pendidikan kesehatan reproduksi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap, nilai moral, dan keterampilan pengendalian diri. Implikasinya, sekolah dan tenaga kesehatan perlu berkolaborasi dalam merancang program pendidikan seksual yang komprehensif, kontekstual, dan berbasis nilai, yang mendorong komunikasi terbuka antara remaja, keluarga, dan pendidik. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat perilaku seksual sehat, aman, dan bertanggung jawab di kalangan remaja Indonesia. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku seksual. Namun, sikap memiliki hubungan yang signifikan lebih besar terhadap perilaku seksual remaja. Penemuan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku seksual tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan pengetahuan, tetapi membutuhkan pembentukan sikap yang positif dan kemampuan pengendalian diri. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini, sekolah diharapkan mengintegrasikan program pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum secara sistematis dan Saran bagi penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain longitudinal dengan ukuran sampel yang lebih besar untuk memahami hubungan sebabakibat antara pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual secara lebih mendalam. Selain itu, perlu diteliti faktor-faktor lain seperti pengaruh media sosial, religiusitas, dan komunikasi keluarga terhadap perilaku seksual remaja di berbagai konteks sosial Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada pihak sekolah SMA AuXAy di Pontianak Selatan yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melakukan penelitian. Penulis juga menghargai partisipasi seluruh responden yang telah meluangkan waktu dan memberikan data selama proses penelitian berlangsung. Referensi