Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. Volume 07 Nomor 02 Tahun 2025 (Hal : 52-. DOI: https://doi. org/10. 35310/tsarwatica. ISSN 2685-8320 (Prin. ISSN 2685-8339 (Onlin. AuGreen Halal Tourism as a Conceptual Framework for Supporting Sustainable Tourism: A Literature ReviewAy Kuncorosidi kuncorosidi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja Subang. Indonesia kuncorosidi@stiesa. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel : Tgl. Masuk : 10-12-2025 Tgl. Diterima : 17-01-2026 Tersedia Online : 29/01-2026 Keywords: Sustainable tourism and halal tourism have emerged as prominent discourses in tourism studies. however, they are often examined as separate domains within the While sustainable tourism emphasizes the balance between environmental, social, and economic dimensions, halal tourism has predominantly been framed in terms of Sharia compliance and market segmentation. This article aims to conceptualize green halal tourism as an integrative framework for supporting sustainable tourism through a conceptual literature review Drawing on a systematic synthesis of peerreviewed literature on halal tourism, green tourism, and sustainable tourism, this study identifies conceptual intersections, theoretical gaps, and opportunities for integration across these domains. The synthesis indicates that green halal tourism can be understood as a conceptual framework that integrates halal values as an ethical foundation, green tourism practices as operational mechanisms, and sustainable tourism as a strategic This framework highlights the potential role of halal values in strengthening the internalization of sustainability principles within tourism practices, particularly across environmental, social, and economic dimensions. Theoretically, this study contributes to the sustainable tourism literature by explicitly incorporating value-based and ethical perspectives into sustainability frameworks. The proposed conceptualization also provides a foundation for future empirical research to operationalize and examine green halal tourism across diverse tourism contexts. green halal tourism. sustainable tourism. green tourism. conceptual framework PENDAHULUAN Pariwisata menjadi paradigma utama dalam kajian pariwisata kontemporer seiring dengan meningkatnya kesadaran akademisi dan praktisi terhadap peran ganda sektor pertumbuhan ekonomi sekaligus sumber tekanan terhadap lingkungan dan sosial Konseptualisasi awal pariwisata berkelanjutan menekankan keseimbangan antara kelayakan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial, yang umumnya dirumuskan melalui perspektif triple bottom line (Bramwell & Lane, 2. Meskipun konsep ini telah berkembang secara teoritis, implementasi pariwisata berkelanjutan dalam praktik masih khususnya di destinasi yang mengalami Volume 07. No. 02 Ae Januari pertumbuhan pariwisata yang pesat, degradasi lingkungan, serta distribusi manfaat ekonomi yang tidak merata (Hall. Gyssling, & Scott, 2. Seiring diskursus keberlanjutan, pariwisata halal muncul sebagai salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam industri pariwisata global. Pariwisata halal secara umum didefinisikan sebagai aktivitas dan layanan pariwisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, termasuk penyediaan makanan halal, fasilitas ibadah, perilaku etis, serta penyelenggaraan layanan berbasis nilai yang sejalan dengan ketentuan syariah (Battour & Ismail, 2016. El-Gohary, 2. Pada awalnya, pariwisata halal diposisikan sebagai pasar ceruk yang melayani Muslim, perkembangannya konsep ini berevolusi menjadi model pariwisata yang lebih luas dengan penekanan pada konsumsi etis, tanggung jawab sosial, dan sensitivitas budaya (Henderson, 2. Literatur terkini menunjukkan bahwa landasan filosofis pariwisata halal memiliki kesesuaian inheren dengan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Nilai-nilai Islam menekankan konsep pengelolaan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah, prinsip moderasi . , serta masyarakatAinilai-nilai dengan kerangka keberlanjutan modern (Zamani-Farahani & Henderson, 2. Oleh menegaskan bahwa pariwisata halal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan memberikan kontribusi nyata terhadap konservasi lingkungan, kesejahteraan masyarakat lokal, dan keberlanjutan destinasi dalam jangka panjang (Battour. Ismail, & Battor, 2. Pada saat yang sama, konsep green tourism semakin mendapat perhatian sebagai pendekatan pariwisata yang Green tourism menekankan upaya meminimalkan dampak ekologis melalui efisiensi energi, pengurangan limbah, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, serta perilaku ramah lingkungan dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata (Han. Hsu, & Sheu, 2. Berbagai penelitian empiris menunjukkan bahwa penerapan praktik green tourism dapat meningkatkan citra destinasi, kepuasan wisatawan, serta daya saing destinasi dalam jangka panjang, terutama pada destinasi yang sensitif secara ekologis (Gyssling & Peeters, 2. Meskipun pariwisata halal dan green tourism berkembang secara paralel dalam diskursus keberlanjutan, literatur yang ada konseptual yang cukup jelas. Sebagian besar penelitian pariwisata halal masih berfokus pada segmentasi pasar, atribut layanan, dan kepuasan wisatawan, sementara dimensi lingkungan sering kali dibahas secara implisit atau ditempatkan sebagai aspek sekunder (Battour & Ismail. Vargas-Synchez & Moral-Moral. Sebaliknya, penelitian green perspektif nilai religius atau etika sebagai komponen penting dalam kerangka Pemisahan teoretis yang komprehensif menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip halal dan praktik ramah lingkungan dapat diintegrasikan secara sistematis untuk mendukung pariwisata berkelanjutan. Sejumlah kajian tinjauan terbaru dalam bidang pariwisata secara eksplisit menyerukan perlunya integrasi konseptual yang lebih kuat serta pengembangan teori yang melampaui analisis deskriptif yang terfragmentasi (Bramwell et al. , 2. Menanggapi pengembangan pariwisata halal hijau . reen halal touris. sebagai suatu menawarkan peluang yang menjanjikan untuk memperkaya pengembangan teori pariwisata berkelanjutan. Kerangka ini berpotensi menjembatani dimensi etika, lingkungan, dan sosial-ekonomi secara simultan, sehingga memberikan kontribusi yang lebih holistik terhadap diskursus Berdasarkan latar belakang tersebut. Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. mengembangkan pariwisata halal hijau sebagai kerangka konseptual dalam mendukung pariwisata berkelanjutan melalui pendekatan literature review. Dengan mensintesis temuan-temuan dari literatur pariwisata halal, green tourism, dan pariwisata berkelanjutan, studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual bagi penelitian empiris dan perumusan kebijakan pariwisata di masa Dalam pariwisata global, terdapat kecenderungan pertumbuhan kuantitatif menuju kualitas dan keberlanjutan pengalaman wisata. Pergeseran ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran terhadap dampak negatif . , degradasi lingkungan, serta erosi nilai sosial dan budaya lokal yang semakin sering dilaporkan dalam berbagai studi pariwisata berkelanjutan (Hall et al. , 2015. Bramwell et al. , 2. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan pendekatan pariwisata alternatif yang tidak hanya berorientasi pada pasar, tetapi juga berbasis nilai, etika, dan tanggung jawab jangka panjang terhadap lingkungan dan Dalam konteks ini, nilai-nilai etika dan moral semakin mendapat perhatian pengembangan pariwisata berkelanjutan. Sejumlah peneliti menekankan bahwa semata-mata merupakan isu teknis atau manajerial, melainkan juga persoalan normatif yang berkaitan dengan sistem nilai, perilaku manusia, dan tata kelola sumber daya (Bramwell & Lane, 2. Pendekatan berbasis nilai ini membuka ruang bagi integrasi perspektif religius dan kulturalAi termasuk nilai-nilai IslamAisebagai bagian dari diskursus keberlanjutan yang lebih Pariwisata halal, dalam hal ini, pariwisata berkelanjutan karena secara inheren didasarkan pada prinsip-prinsip etika, tanggung jawab sosial, dan manusia dan alam. Konsep-konsep seperti . , . anggung jawa. , dan larangan terhadap pemborosan . memberikan landasan normatif yang kuat untuk mendorong praktik pariwisata yang lebih berkelanjutan (Zamani-Farahani & Henderson, 2. Namun demikian, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kerangka konseptual yang sistematis dalam literatur pariwisata kontemporer. Lebih lanjut, meskipun green tourism telah berkembang sebagai pendekatan lingkungan dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, sebagian besar kajiannya masih berfokus pada instrumen teknis dan perilaku pro-lingkungan tanpa mempertimbangkan dimensi nilai dan etika secara mendalam (Gyssling & Peeters. Han et al. , 2. Akibatnya, diposisikan sebagai strategi operasional semata, bukan sebagai bagian dari kerangka normatif yang lebih luas yang mengarahkan perilaku pelaku industri dan wisatawan secara berkelanjutan. Kesenjangan menunjukkan bahwa integrasi antara prinsip-prinsip halal dan pendekatan green tourism belum memperoleh perhatian yang memadai dalam literatur akademik. Padahal, integrasi tersebut berpotensi menghasilkan suatu model pariwisata yang tidak hanya ramah lingkungan dan sesuai syariah, tetapi juga mampu menjawab tantangan keberlanjutan secara holistikAimencakup dimensi lingkungan, sosial, ekonomi, dan etika secara Dengan pengembangan konsep green halal tourism tidak hanya relevan sebagai respons terhadap kebutuhan pasar wisata Muslim, tetapi juga sebagai kontribusi teoretis terhadap pengayaan kerangka pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan suatu menjembatani literatur pariwisata halal dan green tourism dalam satu kerangka teoritis yang koheren. Pendekatan ini diharapkan dapat memperjelas posisi green halal tourism dalam diskursus Volume 07. No. 02 Ae Januari memberikan arah yang lebih jelas bagi pengembangan penelitian lanjutan dan perumusan kebijakan berbasis nilai dan KERANGKA TEORITIS Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Touris. Pariwisata merupakan konsep normatif dan memastikan bahwa pengembangan kebutuhan wisatawan dan destinasi kemampuan generasi mendatang Konsep ini secara luas dikembangkan berdasarkan prinsip ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang dikenal sebagai pendekatan triple bottom line (Bramwell & Lane, 2. Dalam keberlanjutan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari dampak jangka panjang terhadap ekosistem, komunitas lokal, dan warisan budaya. Sejumlah bahwa pariwisata berkelanjutan harus dipahami sebagai proses adaptif yang kepentingan, termasuk pemerintah, pelaku industri, masyarakat lokal, dan wisatawan (Hall et al. , 2. Oleh karena itu, keberhasilan pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada tata kelola yang inklusif, praktik bisnis yang bertanggung jawab, serta kesadaran etis dalam pengambilan Namun demikian, implementasi prinsip-prinsip tersebut masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam konteks destinasi yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Pariwisata Halal (Halal Touris. Pariwisata halal merujuk pada penyediaan produk, layanan, dan pengalaman wisata yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Konsep ini mencakup aspek yang luas, mulai dari ketersediaan makanan dan minuman halal, fasilitas ibadah, hingga lingkungan wisata yang menjunjung nilai etika, kesopanan, dan keadilan sosial (Battour & Ismail, 2. Dalam literatur akademik, pariwisata halal tidak lagi dipahami semata-mata sebagai bentuk pariwisata religius, melainkan sebagai model pariwisata berbasis nilai . alue-based touris. Perkembangan menunjukkan bahwa pariwisata halal memiliki dimensi sosial dan etika yang kuat, seperti penghormatan terhadap budaya lokal, keadilan dalam transaksi ekonomi, serta tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar destinasi (Henderson, 2. Battour et al. menegaskan bahwa nilai-nilai Islam seperti maslahah . emanfaatan bersam. , amanah . anggung jawa. , dan larangan terhadap eksploitasi berlebihan dapat berkontribusi pada diterjemahkan secara tepat dalam praktik pariwisata. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian pariwisata halal masih terfokus pada perspektif permintaan, seperti kepuasan wisatawan, niat berkunjung, dan loyalitas, sementara dimensi lingkungan dan keberlanjutan sering kali belum terintegrasi secara eksplisit dalam kerangka konseptual yang digunakan (Battour & Ismail. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperluas melampaui kepatuhan syariah menuju pendekatan yang lebih holistik dan Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. Pariwisata Hijau (Green Touris. Green dampak lingkungan dari aktivitas Konsep ini menekankan praktik-praktik meminimalkan jejak ekologis, seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah, konservasi sumber daya alam, serta penerapan perilaku ramah lingkungan oleh pelaku industri dan wisatawan (Gyssling & Peeters, 2. Dalam diposisikan sebagai strategi manajerial dan operasional untuk mendukung keberlanjutan lingkungan destinasi Penelitian empiris menunjukkan bahwa penerapan praktik green tourism dapat memberikan manfaat ganda, yaitu perlindungan lingkungan sekaligus peningkatan citra destinasi dan daya saing industri pariwisata (Han et al. , 2. Namun, kritik terhadap pendekatan ini menyoroti kecenderungan green tourism yang terlalu teknokratis dan berorientasi pada instrumen, tanpa landasan nilai dan etika yang kuat untuk membentuk pemangku kepentingan. Dalam konteks tersebut, green tourism sering kali dipandang sebagai pendekatan parsial yang memerlukan integrasi dengan sistem nilai yang lebih luas agar mampu berkontribusi secara optimal terhadap tujuan pariwisata Integrasi ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan pariwisata halal, yang secara inheren mengandung dimensi etika dan moral yang dapat memperkuat orientasi Sintesis Awal: Menuju Konsep Green Halal Tourism Berdasarkan landasan konseptual tersebut, dapat disimpulkan bahwa pariwisata berkelanjutan, pariwisata halal, dan green tourism memiliki irisan nilai dan tujuan yang signifikan, namun selama ini berkembang dalam jalur kajian yang relatif terpisah. Pariwisata berkelanjutan menyediakan kerangka normatif dan tujuan jangka panjang, pendekatan operasional berbasis lingkungan, sementara pariwisata halal menghadirkan fondasi etika dan nilai Ketiadaan integrasi konseptual yang sistematis antara ketiga domain pengembangan green halal tourism sebagai kerangka teoretis yang menyatukan prinsip keberlanjutan lingkungan, nilai etika Islam, dan tujuan Sintesis inilah yang menjadi dasar bagi pengembangan kerangka konseptual pada bagian selanjutnya. Kesenjangan Konseptual Sintesis Literatur Meskipun pariwisata berkelanjutan, pariwisata halal, dan green tourism telah berkembang secara signifikan, kajiankajian tersebut menunjukkan adanya fragmentasi konseptual yang cukup Dalam literatur pariwisata berkelanjutan, fokus utama umumnya ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui pendekatan kebijakan, tata kelola, serta pengelolaan destinasi (Bramwell & Lane, 2011. Hall et al. Namun, kerangka tersebut cenderung bersifat normatif dan belum secara eksplisit mengintegrasikan sistem nilai atau prinsip etika tertentu Di sisi lain, penelitian pariwisata halal sebagian besar berkembang dalam perspektif pemasaran dan Volume 07. No. 02 Ae Januari perilaku konsumen. Banyak studi wisatawan Muslim, niat berkunjung, loyalitas, serta atribut layanan halal di destinasi wisata (Battour & Ismail. Battour et al. , 2. Meskipun beberapa penelitian mulai mengaitkan keberlanjutan, dimensi lingkungan sering kali diperlakukan secara implisit dan belum dikembangkan sebagai komponen inti dalam kerangka teoritis pariwisata halal. Sementara itu, literatur green tourism secara konsisten menekankan pentingnya praktik ramah lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Namun, pendekatan ini umumnya bersifat teknis dan instrumental, dengan fokus pada efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pengelolaan limbah, tanpa mempertimbangkan secara mendalam dimensi nilai, moral, atau etika yang membentuk perilaku jangka panjang (Gyssling & Peeters, 2015. Han et al. Sintesis terhadap ketiga aliran literatur tersebut menunjukkan adanya kekosongan konseptual utama, yaitu ketiadaan kerangka teoritis yang secara sistematis mengintegrasikan prinsip-prinsip halal sebagai fondasi etika, praktik green tourism sebagai pendekatan operasional, dan tujuan orientasi jangka panjang. Akibatnya, kontribusi pariwisata halal terhadap keberlanjutan sering kali dinilai secara dieksplorasi dalam kajian akademik. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa diperlukan suatu pendekatan konseptual yang mampu menyatukan ketiga domain tersebut dalam satu kerangka yang koheren. Pendekatan memperkaya diskursus teoretis, tetapi juga menyediakan dasar analitis yang lebih kuat bagi pengembangan penelitian empiris dan perumusan kebijakan pariwisata yang berbasis nilai dan keberlanjutan. Dalam konteks inilah, konsep green halal tourism diposisikan sebagai upaya sintesis fragmentasi literatur yang ada. Kerangka Konseptual Green Halal Tourism Berdasarkan sintesis literatur dan identifikasi kesenjangan konseptual, green halal tourism dalam artikel ini sebagai kerangka konseptual yang mengintegrasikan tiga elemen utama: nilai-nilai halal, praktik green tourism, dan tujuan pariwisata berkelanjutan. Kerangka ini memposisikan pariwisata halal bukan sekadar sebagai bentuk melainkan sebagai fondasi etika yang membentuk orientasi dan perilaku Dalam kerangka ini, nilai-nilai halalAiseperti amanah . emanfaatan bersam. , wasatiyyah . , dan . Aiberperan pengambilan keputusan pariwisata. Nilai-nilai tersebut membentuk sikap memandang relasi antara aktivitas wisata, lingkungan, dan masyarakat lokal (Zamani-Farahani & Henderson. Selanjutnya, praktik green tourism operasional dalam menerjemahkan nilai-nilai halal ke dalam tindakan Praktik Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. pengelolaan energi dan air secara penerapan standar operasional ramah lingkungan di destinasi dan fasilitas pariwisata (Gyssling & Peeters, 2. Dengan demikian, green tourism menjadi jembatan antara prinsip normatif dan implementasi praktis Integrasi antara nilai halal dan praktik green tourism tersebut pada akhirnya diarahkan untuk mendukung kesejahteraan sosial masyarakat lokal, serta kelangsungan ekonomi destinasi wisata dalam jangka panjang. Dalam kerangka ini, green halal tourism dipahami sebagai sistem yang saling terkait, di mana dimensi etika, operasional, dan tujuan strategis saling Secara konseptual, kerangka green halal tourism yang diusulkan menempatkan nilai halal sebagai fondasi, praktik green tourism sebagai proses, dan pariwisata berkelanjutan sebagai hasil . Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih holistik terhadap peran pariwisata halal dalam mendukung keberlanjutan, analitis yang dapat digunakan untuk pariwisata di berbagai konteks. Dengan tersusunnya kerangka konseptual ini, artikel selanjutnya dapat mengarah pada pembahasan implikasi teoretis dan praktis dari green halal tourism, serta peluang penelitian empiris di masa mendatang. Kerangka ini juga membuka ruang bagi pengembangan indikator dan model pengukuran keberlanjutan berbasis nilai halal dan praktik ramah Tinjauan pariwisata berkelanjutan, pariwisata halal, dan green tourism menunjukkan berkembang secara dinamis, namun sebagian besar masih berada dalam jalur kajian yang terpisah. Literatur konsisten menekankan pentingnya ekonomi, sosial, dan lingkungan sebagai tujuan utama pembangunan pariwisata jangka panjang (Bramwell & Lane, 2011. Hall. Gyssling, & Scott. Namun, digunakan dalam banyak studi masih bersifat normatif dan umum, dengan dalam menjelaskan peran sistem nilai atau etika tertentu keberlanjutan para pelaku pariwisata. Dalam literatur pariwisata halal, fokus kajian didominasi oleh perspektif permintaan dan pemasaran, seperti kepuasan wisatawan Muslim, niat berkunjung, serta atribut layanan halal di destinasi wisata (Battour & Ismail. Battour. Ismail, & Battor, 2. Meskipun beberapa studi mengakui adanya keterkaitan antara pariwisata halal dan keberlanjutan, dimensi sebagai bagian inti dari kerangka konseptual pariwisata halal. Akibatnya, kontribusi pariwisata halal terhadap keberlanjutan masih dipahami secara parsial dan belum terintegrasi secara Sementara itu, kajian green tourism memberikan penekanan kuat pada praktik operasional ramah lingkungan, seperti efisiensi energi, konservasi sumber daya alam, dan aktivitas pariwisata (Gyssling & Peeters, 2015. Han. Hsu, & Sheu. Volume 07. No. 02 Ae Januari Namun, umumnya berfokus pada aspek teknis praktik ramah lingkungan tersebut dengan dimensi nilai, etika, dan budaya yang membentuk perilaku jangka panjang pelaku industri dan Sintesis terhadap ketiga aliran adanya kesenjangan konseptual yang signifikan, khususnya terkait ketiadaan kerangka teoretis yang mampu mengintegrasikan nilai halal sebagai fondasi etika, praktik green tourism sebagai mekanisme operasional, dan Fragmentasi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat irisan nilai dan tujuan antara pariwisata halal dan green tourism, integrasi keduanya dalam satu kerangka keberlanjutan dalam literatur akademik. Berdasarkan kondisi tersebut, pengembangan konsep green halal tourism diposisikan sebagai upaya menjembatani fragmentasi literatur yang ada. Dalam konteks tinjauan pustaka ini, green halal tourism dipahami sebagai pendekatan yang mengaitkan nilai-nilai halal dengan praktik ramah lingkungan dalam kerangka pariwisata berkelanjutan, tanpa melampaui batas analisis literatur yang ada. Dengan demikian, kerangka konseptual yang diusulkan sebagai hasil sintesis teoretis, yang menjadi dasar bagi pembahasan dan analisis lebih lanjut pada bagian METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian pendekatan literature review konseptual . onceptual literature revie. dengan tujuan mensintesis dan mengintegrasikan temuan-temuan teoretis terkait pariwisata halal, green tourism, dan pariwisata berkelanjutan ke dalam satu kerangka konseptual yang koheren. Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak bertujuan mengumpulkan data primer, melainkan untuk mengembangkan pemahaman konseptual dan kontribusi teoretis melalui analisis kritis terhadap literatur yang telah ada (Snyder, 2019. Webster & Watson. Literature review konseptual sesuai digunakan ketika bidang kajian masih menunjukkan fragmentasi konseptual dan membutuhkan integrasi teori lintas domain, sebagaimana terjadi pada kajian green halal tourism yang berada pada persilangan antara nilai religius, praktik lingkungan, dan tujuan keberlanjutan (Snyder, 2. Sumber Data dan Strategi Penelusuran Literatur Sumber data penelitian ini berasal dari dipublikasikan dalam jurnal terindeks Scopus dan Sinta, guna menjamin kualitas akademik dan kredibilitas sumber. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data akademik utama, seperti Scopus dan Google Scholar, dengan fokus pada publikasi jurnal . eer-reviewed Strategi menggunakan kombinasi kata kunci A Auhalal tourismAy A Augreen tourismAy A Ausustainable tourismAy A AuIslamic values and sustainabilityAy A Auenvironmental tourismAy Kata kunci tersebut digunakan secara individual maupun kombinasi dengan operator Boolean (AND. OR) untuk memastikan cakupan literatur yang relevan dan komprehensif. Penelusuran Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. difokuskan pada artikel berbahasa Inggris dan Indonesia yang dipublikasikan dalam rentang waktu yang relevan dengan pariwisata berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi metodologis dalam literature review yang menekankan transparansi dan sistematisasi proses pencarian sumber (Tranfield. Denyer, & Smart. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Literatur Untuk menjaga fokus dan kualitas analisis, penelitian ini menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut: Kriteria inklusi: Artikel yang membahas pariwisata halal, green tourism, dan/atau konseptual atau empiris. Artikel yang dipublikasikan dalam jurnal terindeks Scopus atau Sinta. Artikel yang menyajikan kerangka teoretis, model konseptual, atau diskusi mendalam mengenai nilai, etika, dan keberlanjutan pariwisata. Kriteria eksklusi: Publikasi non-ilmiah seperti laporan populer, artikel opini, atau sumber tanpa proses peer review. Artikel yang hanya membahas aspek teknis operasional tanpa relevansi konseptual terhadap keberlanjutan atau nilai. Studi duplikat atau publikasi dengan kontribusi teoretis yang terbatas. Penerapan kriteria ini bertujuan untuk dianalisis memiliki relevansi konseptual dan kualitas akademik yang memadai (Webster & Watson, 2. Prosedur Analisis Literatur Analisis literatur dilakukan melalui beberapa tahap sistematis. Pertama, artikel yang teridentifikasi melalui proses penelusuran diseleksi berdasarkan judul dan abstrak untuk memastikan kesesuaian dengan fokus penelitian. Kedua, artikel yang lolos seleksi awal dibaca secara konsep utama, kerangka teoretis, serta temuan kunci yang relevan dengan tujuan Pada tahap berikutnya, dilakukan . hematic analysi. terhadap literatur berdasarkan tiga domain utama, yaitu pariwisata berkelanjutan, pariwisata halal, dan green Pendekatan mengidentifikasi pola, kesamaan, dan perbedaan konseptual antar studi, serta menelusuri hubungan antar konsep yang muncul dalam literatur (Snyder, 2. Selanjutnya, hasil analisis tematik digunakan untuk melakukan sintesis konseptual, yaitu proses penggabungan dan integrasi konsep-konsep utama ke dalam kerangka teoritis yang lebih Sintesis ini tidak bertujuan untuk melakukan generalisasi statistik, pemahaman konseptual yang lebih mendalam dan terstruktur (Tranfield et al. Validitas dan Keandalan Kajian Dalam konteks literature review konseptual, validitas penelitian dijaga melalui penggunaan sumber literatur bereputasi dan proses analisis yang Keandalan kajian diperkuat dengan konsistensi penerapan kriteria seleksi literatur serta pendekatan analisis tematik yang sistematis. Selain itu, penggunaan berbagai sumber dan perspektif dalam literatur membantu meminimalkan bias interpretasi dan konseptual (Snyder, 2. Keterbatasan Metodologis Sebagai penelitian berbasis literature review, studi ini memiliki keterbatasan pada ketergantungan terhadap literatur yang tersedia dan interpretasi konseptual Penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hubungan kausal atau menghasilkan temuan empiris, sehingga hasil yang diperoleh bersifat teoretis dan Namun keterbatasan ini sejalan dengan tujuan penelitian, yaitu pengembangan kerangka konseptual sebagai dasar bagi penelitian Volume 07. No. 02 Ae Januari empiris di masa mendatang (Webster & Watson, 2. Penegasan Metodologis Dengan menggunakan pendekatan sistematis, penelitian ini menempatkan membangun sintesis teoretis yang kuat dan koheren. Metode ini sesuai dengan tujuan penelitian dan memberikan landasan metodologis yang sahih untuk pengembangan kerangka konseptual green halal tourism dalam mendukung pariwisata berkelanjutan. Tabel Ringkasan Proses Metodologi Literature Review Tahap Penelitian Identifikasi Awal Literatur Penyaringan Awal Seleksi Kelayakan Artikel Terpilih Deskripsi Proses Penelusuran artikel dilakukan melalui basis data Scopus Google Scholar kata kunci Auhalal tourismAy. Augreen tourismAy. Ausustainable tourismAy, secara individual maupun kombinasi dengan operator Boolean. Artikel berdasarkan judul dan abstrak untuk relevansi dengan Artikel secara penuh . ulltext revie. untuk kontribusi teoretis. Artikel memenuhi seluruh kriteria inklusi dan Jumlah Artikel n = 214 n = 126 n = 58 n = 32 Tahap Penelitian Sintesis Literatur Deskripsi Proses digunakan sebagai halal tourism. Artikel dianalisis secara konseptual untuk pola, kesenjangan. Jumlah Artikel n = 32 Tabel Klasifikasi Literatur Terpilih Berdasarkan Fokus Kajian Fokus Kajian Jumlah Artikel Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Touris. Pariwisata Halal (Halal Touris. Green Tourism Keberlanjutan Lingkungan Total Artikel Tabel Jenis Pendekatan Studi dalam Literatur Terpilih Jenis Pendekatan Jumlah Artikel Konseptual / Teoretis Empiris Kuantitatif Empiris Kualitatif Literature Review Bibliometrik Total Artikel Penjelasan Metodologis Tabel-tabel tersebut menggambarkan proses seleksi literatur secara sistematis direkomendasikan dalam metodologi literature review konseptual (Webster & Watson, 2002. Snyder, 2. Penyajian jumlah artikel pada setiap tahap bertujuan untuk memperjelas alur penyaringan dan justifikasi pemilihan sumber, bukan untuk menunjukkan generalisasi statistik. Meskipun sebanyak 32 artikel dianalisis dalam proses literature review, hanya sumber-sumber kunci yang paling Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. relevan disitasi secara eksplisit dalam naskah untuk mendukung sintesis konseptual, sementara artikel lainnya digunakan sebagai dasar pemetaan tema tanpa dikutip secara langsung HASIL DAN PEMBAHASAN Integrasi Nilai Halal dan Keberlanjutan dalam Diskursus Pariwisata Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa diskursus pariwisata berkelanjutan dan pariwisata halal berkembang secara paralel, namun dengan titik tekan yang Literatur menekankan aspek lingkungan, tata kelola, dan dampak sosial ekonomi sebagai prasyarat keberlanjutan destinasi (Bramwell & Lane, 2011. Hall. Gyssling, & Scott. Sebaliknya, pariwisata halal lebih banyak berfokus pada pemenuhan kebutuhan religius wisatawan Muslim, seperti ketersediaan makanan halal, fasilitas ibadah, dan layanan yang sesuai dengan prinsip syariah (Battour & Ismail, 2016. Henderson, 2. Namun demikian, beberapa studi menegaskan bahwa nilai-nilai dasar dalam IslamAiseperti tanggung jawab manusia sebagai khalifah, prinsip moderasi . , dan larangan terhadap pemborosan . Aimemiliki keselarasan prinsip-prinsip (Zamani-Farahani Henderson. Temuan mengindikasikan bahwa pariwisata halal fungsi awalnya sebagai segmentasi pasar berbasis agama. Dalam konteks ini, pembahasan mengenai green halal tourism menjadi relevan sebagai jembatan konseptual yang mengintegrasikan nilai halal dengan tujuan keberlanjutan. Literatur yang dianalisis menunjukkan bahwa integrasi ini masih jarang diformalkan dalam kerangka teoretis yang utuh, meskipun elemenelemennya telah muncul secara terpisah dalam berbagai studi (Battour et al. , 2017. Vargas-Synchez & Moral-Moral, 2. Dengan demikian, green halal tourism dapat dipahami sebagai perluasan konseptual dari pariwisata halal yang secara eksplisit memasukkan dimensi lingkungan dan keberlanjutan sebagai elemen inti. Peran Green Tourism Mekanisme Operasional Keberlanjutan Literatur green tourism menempatkan instrumen utama dalam mengurangi dampak ekologis aktivitas pariwisata. Praktik tersebut mencakup efisiensi energi, pengelolaan limbah, konservasi sumber daya alam, dan penerapan standar lingkungan dalam operasional destinasi dan fasilitas pariwisata (Gyssling & Peeters, 2. Sejumlah penelitian empiris juga menunjukkan bahwa adopsi praktik green tourism dapat meningkatkan citra destinasi dan kepuasan wisatawan, sekaligus memperkuat daya saing jangka panjang (Han. Hsu, & Sheu, 2. Namun, hasil sintesis literatur juga cenderung bersifat teknokratis dan Banyak studi menekankan Auapa yang harus dilakukanAy tanpa secara mendalam membahas AumengapaAy pelaku industri dan wisatawan terdorong untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan secara konsisten (Gyssling & Peeters. Dalam konteks ini, absennya dimensi nilai dan etika sering kali menyebabkan praktik green tourism Integrasi nilai halal dalam kerangka green tourism memberikan dasar normatif yang lebih kuat untuk mendorong internalisasi perilaku berkelanjutan. Nilainilai seperti tanggung jawab . berpotensi memperkuat komitmen jangka kewajiban operasional tetapi sebagai ekspresi nilai moral dan religius. Literatur yang mengaitkan nilai dan keberlanjutan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis nilai cenderung lebih efektif dalam Volume 07. No. 02 Ae Januari dibandingkan pendekatan yang sematamata bersifat teknis (Bramwell et al. Green Halal Tourism sebagai Kerangka Konseptual Integratif Berdasarkan sintesis literatur, green halal tourism dalam artikel ini dipahami sebagai kerangka konseptual yang mengintegrasikan tiga komponen utama: nilai halal sebagai fondasi etika, praktik green tourism sebagai mekanisme operasional, dan pariwisata berkelanjutan sebagai tujuan strategis. Kerangka ini menempatkan pariwisata halal tidak hanya sebagai sistem kepatuhan, tetapi sebagai sumber nilai yang membentuk orientasi keberlanjutan dalam aktivitas pariwisata. Literatur pariwisata berkelanjutan menekankan pentingnya pendekatan holistik yang menggabungkan dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi (Bramwell & Lane, 2. Namun, tanpa fondasi nilai yang eksplisit, pendekatan ini sering kali mengalami kesenjangan antara tujuan normatif dan implementasi praktis. Green halal tourism menawarkan kontribusi konseptual dengan mengisi kesenjangan tersebut melalui integrasi nilai religius yang secara inheren menekankan keseimbangan, tanggung jawab, dan Temuan dari literature review juga menunjukkan bahwa kerangka integratif semacam ini relevan tidak hanya bagi destinasi di negara mayoritas Muslim, tetapi juga dalam konteks global yang semakin menekankan pariwisata etis dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan pariwisata harus bersifat inklusif dan adaptif terhadap konteks budaya dan nilai lokal (Hall et al. , 2. Dengan demikian, green halal tourism dapat diposisikan sebagai pendekatan konseptual yang kontekstual namun memiliki relevansi Relevansi Green Halal Tourism Tujuan Pariwisata Berkelanjutan Diskusi literatur menunjukkan bahwa green halal tourism memiliki keterkaitan yang erat dengan tujuan pariwisata mendukung keberlanjutan lingkungan, keberlangsungan ekonomi destinasi. Nilai halal yang menekankan keadilan dan memperkuat dimensi sosial keberlanjutan, perlindungan lingkungan (Battour et al. Gyssling & Peeters, 2. Dalam dimensi ekonomi, integrasi nilai halal dan praktik ramah lingkungan juga berpotensi menciptakan nilai tambah Literatur menunjukkan bahwa wisatawan semakin menghargai destinasi yang menunjukkan keberlanjutan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan loyalitas dan daya saing destinasi (Han et al. , 2. Dengan demikian, green halal tourism dapat dipahami sebagai strategi konseptual yang mendukung keberlanjutan ekonomi tanpa mengorbankan dimensi lingkungan dan Namun demikian, literatur juga memerlukan pemahaman konseptual yang jelas agar tidak terjebak pada simbolisme atau klaim keberlanjutan yang Tanpa kerangka konseptual yang kuat, green halal tourism berisiko direduksi menjadi label pemasaran semata. Oleh karena itu, pengembangan kerangka konseptual yang sistematis menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa integrasi nilai halal dan green tourism benar-benar mendukung tujuan pariwisata Konsistensi Temuan Metodologi Literature Review Pembahasan didasarkan pada hasil sintesis literatur yang dianalisis melalui pendekatan literature review konseptual. Tidak terdapat klaim empiris atau generalisasi statistik, sesuai dengan desain penelitian yang tidak melibatkan pengumpulan data primer (Webster & Watson, 2002. Snyder. Interpretasi Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. perbandingan antar konsep yang muncul dalam literatur, bukan hasil pengujian Pendekatan ini sejalan dengan menekankan bahwa diskusi dalam artikel pengembangan pemahaman teoretis dan klarifikasi hubungan antar konsep (Snyder. Dengan demikian, pembahasan ini berfungsi sebagai jembatan antara tinjauan pustaka dan implikasi teoretis yang akan dibahas pada bagian Posisi Green Halal Tourism dalam Pengembangan Teori Pariwisata Secara keseluruhan, pembahasan literatur menunjukkan bahwa green halal tourism dapat diposisikan sebagai Kerangka ini memperluas memasukkan dimensi nilai religius dan etika sebagai elemen yang tidak terpisahkan dari praktik ramah lingkungan dan pengelolaan destinasi. Literatur pariwisata berkelanjutan pendekatan yang lebih integratif dan berbasis nilai (Bramwell et al. , 2. Dalam konteks ini, green halal tourism menawarkan perspektif alternatif yang memperkaya teori keberlanjutan dengan memasukkan nilai halal sebagai fondasi Posisi ini konsisten dengan tujuan artikel sebagai literature review konseptual yang berfokus pada sintesis dan pengembangan kerangka teoretis, bukan pengujian empiris. Struktur dan Alur Kerangka Konseptual Green Halal Tourism Berdasarkan sintesis literatur yang telah dibahas, green halal tourism dapat konseptual yang memiliki struktur dan alur logis yang jelas. Kerangka ini tersusun atas tiga komponen utama yang saling terhubung secara hierarkis, yaitu nilai halal sebagai fondasi normatif, praktik green tourism sebagai mekanisme operasional, dan pariwisata berkelanjutan sebagai tujuan akhir . Nilai halalAiseperti amanah . anggung jawa. , maslahah . , dan larangan terhadap pemborosanAiberfungsi sebagai prinsip dasar yang membentuk orientasi dan perilaku pelaku pariwisata. Prinsip-prinsip tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam praktik green tourism yang konkret, termasuk efisiensi energi, konservasi sumber daya, dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab (ZamaniFarahani & Henderson, 2010. Gyssling & Peeters, 2. Melalui alur ini, green halal tourism tidak diposisikan sebagai sekadar label atau pendekatan operasional parsial, melainkan sebagai kerangka konseptual yang menjelaskan bagaimana nilai, terintegrasi secara sistematis. Kontribusi Green Halal Tourism dalam Mendukung Pariwisata Berkelanjutan Dalam konteks mendukung pariwisata berkelanjutan, kerangka green halal tourism bekerja melalui tiga jalur utama yang saling melengkapi. Pertama, pada dimensi lingkungan, integrasi praktik green tourism yang berlandaskan nilai halal berkontribusi pada pengurangan dampak ekologis dan perlindungan sumber daya alam destinasi (Gyssling & Peeters, 2. Kedua, pada dimensi sosial, nilai halal kemaslahatan, dan tanggung jawab sosial kesejahteraan masyarakat lokal sebagai bagian dari ekosistem pariwisata (Battour. Ismail, & Battor, 2. Ketiga, pada dimensi ekonomi, pendekatan berbasis nilai dan keberlanjutan ini berpotensi meningkatkan kepercayaan wisatawan, reputasi destinasi, dan daya saing jangka panjang tanpa mengorbankan prinsip keberlanjutan (Han. Hsu, & Sheu, 2. Dengan demikian, green halal tourism secara konseptual mendukung tujuan pariwisata berkelanjutan melalui integrasi dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam satu kerangka yang koheren dan berbasis literatur. Volume 07. No. 02 Ae Januari Tabel Kerangka Konseptual Green Halal Tourism dalam Mendukung Pariwisata Berkelanjutan Komp Utama Eleme Kons Defini Konse Nilai Halal (Fond Etik. Aman Prinsip Islam Tuhan r daya Pende Prose Prakti Green Touris (Meka Opera Efisie Integr NilaiAe Intern Peran Pariwi Berkel Membe si nilai ata dan Liter Kun Menerj an nilai etika ke n nyata Gyss Peet Han. Hsu. Sheu Mempe Bra l et Zam aniFara Hen Batto Isma Komp Utama Eleme Kons Defini Konse Prakti Pariwi Berkel (Outc Keberl Green Halal Touris (Keran Konse Nilai Ie Kondis Keran i etika. Peran Pariwi Berkel Tujuan Liter Kun Menjel Sinte . Batto ur et Bra Lane Hall. Gyss Scott Komp Utama Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. Eleme Kons Defini Konse Peran Pariwi Berkel Liter Kun Untuk memperjelas struktur dan alur kerangka konseptual yang diusulkan. Tabel komponen utama green halal tourism beserta perannya dalam mendukung pariwisata berkelanjutan berdasarkan literatur yang dianalisis. KESIMPULAN Artikel mengembangkan dan memposisikan green halal tourism sebagai suatu kerangka konseptual dalam mendukung pendekatan literature review konseptual. Dengan mensintesis literatur pariwisata halal, green tourism, dan pariwisata berkelanjutan, studi ini menegaskan bahwa ketiga domain tersebut memiliki irisan nilai dan tujuan yang signifikan, namun selama ini masih berkembang secara terfragmentasi dalam kajian Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa green halal tourism dapat dipahami menyatukan nilai halal sebagai fondasi etika, praktik green tourism sebagai mekanisme operasional, dan pariwisata berkelanjutan sebagai tujuan strategis. Nilai-nilai halal, seperti tanggung jawab . , . , moderasi . , dan larangan pemborosan, berperan dalam berkelanjutan para pelaku pariwisata. Nilai-nilai diterjemahkan ke dalam praktik ramah pendekatan green tourism, sehingga mendukung pencapaian keberlanjutan lingkungan, sosial, dan ekonomi destinasi wisata secara simultan. Secara teoretis, artikel ini memberikan kontribusi pada pengembangan literatur menambahkan perspektif berbasis nilai religius sebagai elemen integral dalam kerangka keberlanjutan. Berbeda dari kajian sebelumnya yang cenderung menempatkan pariwisata halal sebagai isu kepatuhan atau segmentasi pasar, studi ini memposisikannya sebagai sumber nilai normatif yang relevan untuk memperkuat internalisasi prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, green halal tourism tidak hanya dipahami sebagai pendekatan kontekstual bagi destinasi Muslim, tetapi juga sebagai kerangka konseptual yang memiliki relevansi lebih luas dalam diskursus pariwisata etis dan berkelanjutan. Sebagai penelitian konseptual, studi ini memiliki keterbatasan karena tidak melakukan pengujian empiris terhadap kerangka yang diusulkan. Namun, keterbatasan ini sejalan dengan tujuan pengembangan dan klarifikasi konsep. Oleh karena itu, temuan dalam artikel ini dimaksudkan sebagai dasar teoretis yang disempurnakan melalui penelitian empiris di masa mendatang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengoperasionalkan kerangka green halal tourism ke dalam indikator yang terukur dan menguji penerapannya pada berbagai konteks destinasi wisata, baik di negara mayoritas Muslim maupun non-Muslim. Pendekatan empiris tersebut pemahaman mengenai peran green halal tourism dalam mendukung pariwisata berkelanjutan serta memperkuat relevansi praktis dan kebijakan dari kerangka konseptual yang diusulkan. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Implikasi Teoretis Volume 07. No. 02 Ae Januari Studi ini memberikan implikasi teoretis yang signifikan bagi pengembangan literatur pariwisata berkelanjutan dan pariwisata halal. Melalui sintesis literatur, artikel ini memperluas pemahaman konseptual dengan memposisikan green halal tourism sebagai kerangka integratif yang menghubungkan nilai etika halal, praktik green tourism, dan tujuan pariwisata berkelanjutan dalam satu struktur konseptual yang koheren. Pendekatan ini melengkapi literatur pariwisata berkelanjutan yang selama ini dimensi nilai religius sebagai fondasi konseptual yang eksplisit. Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada literatur pariwisata halal dengan menggeser fokus kajian dari orientasi pasar dan kepatuhan syariah semata menuju pendekatan berbasis nilai dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan demikian, green halal tourism dipahami bukan hanya sebagai varian pariwisata halal, tetapi sebagai konstruksi teoretis Kerangka konseptual yang diusulkan juga menyediakan dasar analitis bagi penelitian selanjutnya untuk menguji hubungan antar komponen secara empiris maupun memperluasnya dalam konteks lintas budaya dan destinasi. Implikasi Manajerial Dari perspektif manajerial, temuan konseptual dalam artikel ini memberikan pemahaman awal bagi pengelola destinasi dan pelaku industri pariwisata mengenai pentingnya integrasi nilai halal dan praktik ramah lingkungan dalam pengembangan Kerangka green halal tourism dapat membantu pelaku industri dalam menyelaraskan strategi pariwisata halal dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan sosial, sehingga praktik keberlanjutan tidak dipandang semata-mata sebagai kewajiban operasional, tetapi sebagai bagian dari komitmen nilai yang lebih luas. Pendekatan implementasi praktik ramah lingkungan meningkatkan kredibilitas dan citra destinasi wisata halal. Meskipun artikel ini tidak memberikan panduan operasional yang bersifat teknis, kerangka konseptual yang diusulkan dapat menjadi acuan awal bagi pengambilan keputusan strategis pengembangan produk wisata halal yang Implikasi Kebijakan Dalam konteks kebijakan publik, green halal tourism dapat dipandang sebagai kerangka konseptual yang relevan untuk mendukung integrasi antara kebijakan pembangunan berkelanjutan. Kerangka ini menyediakan perspektif konseptual bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi pengembangan pariwisata yang tidak hanya berfokus pada sertifikasi halal dan peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga pada perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Lebih lanjut, green halal tourism dapat berfungsi sebagai referensi konseptual dalam pengembangan standar dan indikator destinasi pariwisata halal Dengan pendekatan ini, kebijakan pariwisata dapat disusun secara lebih holistik dan selaras dengan komitmen global terhadap keberlanjutan, tanpa mengabaikan nilai budaya dan religius yang menjadi karakteristik Keterbatasan Penelitian dan Arah Penelitian Selanjutnya Sebagai penelitian berbasis conceptual literature review, studi ini memiliki pendekatan metodologis yang digunakan. Pertama, penelitian ini tidak melakukan pengujian empiris terhadap kerangka green halal tourism yang diusulkan, sehingga hubungan antar komponen dalam kerangka tersebut belum diverifikasi secara kuantitatif atau kualitatif. Temuan dan argumen yang disajikan sepenuhnya didasarkan pada sintesis dan interpretasi literatur yang ada. Kedua, penelitian ini bergantung pada ketersediaan dan cakupan literatur yang dianalisis, sehingga kemungkinan masih Islamic Economic. Accounting, and Management Journal (Tsarwatic. terdapat perspektif atau konteks tertentu yang belum sepenuhnya terwakili. Selain itu, proses sintesis konseptual bersifat interpretatif, sehingga terbuka terhadap pengembangan dan penyempurnaan lebih lanjut melalui pendekatan metodologis yang berbeda. Berdasarkan keterbatasan tersebut, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengoperasionalkan kerangka green halal tourism ke dalam indikator yang terukur dan menguji relevansinya melalui studi empiris pada berbagai jenis destinasi Penelitian masa depan juga dapat mengeksplorasi penerapan kerangka ini dalam konteks lintas budaya dan negara, guna memperkuat validitas konseptual serta memperluas kontribusinya terhadap pariwisata berkelanjutan. REFERENCES