n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan NILAI RELIGIUSITAS DIMENSI EXPERENTIAL DALAM SYAIR SEUDATI ACEH Subhayni1*. Muhammad ARA. Sehat Ikhsan Shadiqin3. Eli Nurliza4 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh, 24415. Indonesia. Prodi S3 Pendidikan Agama Islam. Program Pascasarjana. Universitas Islam Negeri Ar Raniry. Banda Aceh, 23111. Indonesia Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Serambi Mekkah. Banda Aceh, 23245. Indonesia. *Email korespondensi : eli. nurliza@serambimekkah. Diterima April 2025. Disetujui Juni 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: This study focuses on the experiential dimension of religiosity in Seudati poetry, providing constructive insights for researchers and readers regarding the experiential aspects found within its verses. Seudati poetry, as a cultural treasure of Acehnese oral tradition, deserves preservation due to its profound religious valuesAiparticularly those reflecting the consequences of an individual's beliefs, practices, experiences, and daily religious knowledge. Using a descriptive-qualitative method and a literary hermeneutic approach, the study interprets Seudati poetry as a reflection of universal truths about religiosity in the lives of the Acehnese people and Muslims globally. The analysis reveals that the experiential values in Seudati poetry include feeling close to Allah and sensing that prayers are answered, feeling grateful, having faith, being patient in facing trials, and experiencing inner peace. These findings confirm that the experiential dimension of religiosity is deeply embedded in the hearts of Muslims, especially among the people of Aceh, and serves as a meaningful way to draw closer to Allah SWT, the Lord of all creation. Keywords : religiusitas, dimensi experential, seudati Abstrak: Penelitian ini menetapkan fokus religiusitas dimensi experential dalam syair seudati. Kajian ini memberikan informasi yang konstruktif bagi peneliti dan pembaca tentang experential dalam syair seudati. Peneltian ini menarasikan syair seudati secara harfiah yang berarti sebagai khasanah budaya tuturan lisan Aceh yang perlu dilestarikan karena mengandung nilai religiustitas yang tinggi, terutama nilai experential yang berhubungan dengan identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Data dianalisis melalui pendekatan hermeneutika sastra agar penafsiran syair seudati dapat dianggap sebagai kebenaran universal dalam kehidupan masyarakat Aceh dan umat Islam di dunia mengenai konsep religiusitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai experential dalam syair seudati sebagai berikut: . merasa dekat dengan Allah, merasa doAoa terkabul, . perasaan bersyukur kepada Allah, . bertawakal kepada Allah, . sabar dalam menghadapi cobaan, dan . merasakan ketenangan hidup. Hal ini menegaskan nilai religiusitas khususnya dimensi experential begitu melekat dan terpatri erat dalam sanubari umat Islam khususnya masyarakat Aceh, bahwa dimensi ini merupakan wujud untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagai Tuhan Sekalian Alam. Kata kunci : religiusitas, dimensi experential, seudati Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi PENDAHULUAN karya sastra lisan merupakan bentuk karya sastra yang disampaikan secara lisan (Sukmawati, 2. Sebelum kemajuan teknologi dan penyebaran tulisan, orang-orang biasanyamenyampaikan pengetahuan, nilainilai, dan cerita melalui tuturan dan nyanyian. Adapun menurut (Halamy & Kibat, 2. tradisi lisan ini berfungsi sebagai cara bagi masyarakat untuk meneruskan warisan budaya mereka dari satu generasi ke generasi Menulis sastra lisan yang berkembang dalam masyarakat mengandung berbagai nilai. Salah satunya adalah nilai religius, yang juga sering disebut dengan religiusitas. Pada periode kelahiran karya seni tersebut sering identik dengan terjadinya peristiwa penting baik bidang sosial, politik, ekonomi, maupun kebudayaan. Karenanya sastra lisan tidak pernah berdiri sendiri dari masyarakat. Karya sastra lisan telah menjadi bagian integral dari budaya lisan masyarakat sejak zaman kuno (Sukmawati, 2. , (Nurliza, 2. Sastra lisan sebagai produk seni, perkembangan atau gejala yang muncul akhirnya tidak terlepas dari bagaimana perkembangan kesenian secara keseluruhan yang juga terikat pada faktor-faktor non seni dan sistem sosial yang membentuk dan mempengaruhinya. Sebagaimana disampaikan oleh (Yunus et al. , 2. bahwa seni adalah hal krusial dalam sendi-sendi hidup kita, proses kemajuannya dipersuasi oleh sesuatu yang tidak berhubungan dengan keindahan, dan yang paling krusial adalah sesuatu yang berhubungan dengan politik, sosial, dan ekonomi. Sastra lisan sesungguhnya merupakan sublimasi dari situasi sosial tertentu. Dalam konteks ini, sastralisan biasa mengidealkannya, menirukannya, atau kedudukannya dalam posisi tinggi (Gurvitch, 1. Menurut (Wicaksono, 2. Sastra lisan merupakan pelarian dari konflik-konflik sosial dan pengejawantahan daripada konflik-konflik itu. Selama puluhan tahun, penulis dan peneliti produktif di Indonesia. Menurut (Yulianti et al. , 2. dalam hal kajian sejarah lisan dikatakan sangat menarik, karena penyelidik akan bertemu dengan berbagai pengalaman baru, melihat sejarah dari aspek yang berbeda, serta mengenali lebih banyak personaliti manusia. Selain itu, sejarah lisan juga merupakan satu kaedah atau teknik penyelidikan modern yang bertujuan untuk melestarikan pengetahuan-pengetahuan sejarah melalui pengkisahan. Hal ini juga berlaku pada karya lisan. Karya lisan yang dapat dikelompokkan sebagai sastra lisan dapat berupa prosa . eperti mite, dongeng, dan legend. , puisi rakyat . eperti syair, dan pantu. , seni pertunjukan seperti wayang, ungkapan tradisional . eperti pepatah dan peribahas. , nyanyian rakyat, pertanyaan tradisional, mantra dan teka-teki. Jenis puisi rakyat yang ada di Provinsi Aceh di antaranya seudati. Sastra lisan seudati merupakan jenis sastra lisan yang banyak mengandung muatan dan nilai-nilai sebagai padangan hidup masyarakat Aceh. Seudati mengusung tema dan makna terkait keteguhan, semangat, dan juga jiwa kepahlawanan dari seorang pria Aceh. Awal perkembangannya, seudati hanya dijadikan sebagai sarana penyebaran dakwah Agama Islam yang dilakukan di Aceh. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya syair di dalam tarian seudati yang menceritakan tentang ajaran dan juga nilai-nilai Islam atau religiusitas. Seudati dipandang memiliki relevansi dalam mendorong terbangunnya kesadaran terhadap nilai socioreligious dengan menjadikan unsur seni sebagai media edukasi dalam mengkomunikasikan nilai socio-religius ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 di era media saat ini(Hasan, 2. Agar kajian ini lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, langkah lebih lanjut yang ditempuh dalam kajian ini setelah seluruh data tersedia adalah data tersebut dikelola dengan mendeskripsikannya untuk mengetahui berbagai hal yang terkait dengan tarian seudati sebagai media edukasi sufistik dalam mengembangkan nilai socio-religius masyarakat Aceh(Witara et al. , 2. (Ahimsa Putra, 2. menyatakan bahwa kehidupan berseni adalah sebuah fenomenal kehidupan masyarakat yang hadir dalam bentuk dan kepentingan tertentu dan memiliki kaitan dengan sesama masyarakat Pekerjaan berseni dapat dihubungkan dengan berbagai aktivitas dan keadaan kehidupan sosial seperti politik, ekologi, dan sebagainya. Sebagaimana telah diungkapkan di atas, tentu sudah dimaklumi diketahui untuk kepentingan dakwah sastra lisan sering digunakan sebagai media propaganda atas kepentingan dakwah. Muatan yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan sastra lisan sering sekali berhadapan dengan tatanan kehidupan masyarakat, terutama yang berkaitandengan sistem keagamaan atau religiusitas. (Ilyas, 2. penelitian-penelitian sastra lisan Aceh sebelumnya cenderung berfokus pada beberapa aspek. Pertama, penelitian yang fokus pada pendokumentasian dan katalogisasi karya sastra lisan seperti hikayat, pantun, dan legenda Aceh. (Muzakka, 2. mengatakan Penelitian-penelitian ini bertujuan untuk menyelamatkan warisan budaya dari kepunahan. Kedua, penelitian-penelitian yang berfokus pada tema-tema penting seperti kepahlawanan, moralitas, dan spiritualitas, dan menganalisis bagaimana cerita-cerita ini dikonstruksi dan disebarkan secara lisan, sehingga menghasilkan analisis tematik dan struktural. Ketiga, penelitian-penelitian yang lebih difokuskan pada fungsi sosial dan budaya sastra lisan Aceh, khususnya bagaimana karya-karya tersebut digunakan dalam ritual adat, ritual keagamaan, dan konteks kehidupan seharihari untuk menyampaikan nilai dan tradisi, seperti penelitian yang dilakukan(Iswadi & Jannah, 2. Lebih lanjut, mengingat sejarah Aceh penuh dengan konflik dan perjuangan, terdapat pula penelitian yang menyelidiki peran sastra lisan dalam pembentukan identitas budaya dan sebagai alat untuk melawan pengaruh luar. Pengaruh Islam yang begitu dominan di Aceh juga menjadi salah satu fokus peneliti untuk menganalisis bagaimana nilainilai Islam dimasukkan ke dalam narasi lisan, seperti halnya penelitian (Nurhayati, 2. Terakhir, beberapa penelitian terkini mulai membahas transformasi sastra lisan Aceh di zaman modern, termasuk adaptasinya terhadap teknologi digital dan peran generasi muda dalam melestarikan tradisi tersebut, sebagai contoh penelitian (Auliana & Izar, 2. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut masih terfokus pada sastra lisan prosa. Beberapa penelitian terkait seudati hanya sebatas analisis karakter dan budaya, belum ada yang menganalisis nilai-nilai religiusitas. Padahal pengaruh religiusitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana telah di singgung terdahulu, akan melahirkan karya-karya seni yang mencerminkan situasi kondisi pada saatnya. Berangkat dari realitas faktual tersebut, sastra lisan Aceh diperlukan untuk dilakukan kajian atau penelitian yang terkait dengan Berhubung di provinsi Aceh banyak sastra lisan, penelitian kali ini dibatasi pada seudati menggunakan bahasa Aceh. (Santosa, 2. , (Mulyadi, 2. , (Furqon & Busro, 2. mengatakan bahwa sebuah karya sastra tidak Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi lahir dalam ruang hampa budaya. Pengarang dapat memasukkan unsur budaya yang ada di lingkungannya ke dalam cerita yang ditulisnya. Kemunculan seudati menjawab perilaku budaya dalam Islam terhadap konsep experential, khususnya pada masyarakat Aceh sebagai pemilik universal teks, yaitu masyarakat tempat lahirnya teks tersebut. Dengan demikian, penelitian ini mengkaji tentang konsep experential yang terdapat dalam seudati dalam konteks sosial budaya masyarakat Aceh untuk lebih memahami budaya masyarakat Aceh melalui penggunaan bahasanya. KAJIAN PUSTAKA Karya Sastra Karya sastra adalah sebuah karya yang disukai oleh masyarakat Indonesia. Hakikat karya sastra adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan Hal ini sejalan dengan pendapat (Endraswara, 2. yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan ekspresi kehidupan manusia yang tak lepas dari akar masyarakatnya (Nurliza et al. , 2. (Sugihastuti. , 2. menyatakan karya sastra merupakan media yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan pengalamannya. Karya sastra juga dapat merefleksikan pandangan pengarang terhadap berbagai masalah yang diamati di lingkungannya. Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dinikmati khalayak. Oleh karena itu, dalam karya sastra banyak pesan yang terkandung dan disesuaikan dengan kondisi sosial budaya pengarang dan penikmatnya (Nurgiyantoro, 2. Di antara pesan-pesan yang terkandung dalam teks sastra adalah dakwah (Wulandari et al. , 2. Pesan dakwah dalam karya sastra diwujudkan salah satunya melalui nilai religiusitas yang dapat diserap dalam sanubari Dalam bentuk lain, pesan dakwah dalam teks sastra bertujuan untuk mengajak khalayak melakukan sesuatu yang berkaitan dengan dakwah. Oleh karena itu, pemahaman nilai-nilai dalam karya sastra tidak lepas dari konsep bahasa. Bahasa sebagai media yang digunakan penutur untuk menciptakan karya sastra akan membentuk medan makna yang dapat digunakan oleh khalayak. Dalam kajian sastra hal ini disebut stilistika (Lafamane, 2. Hal serupa juga terjadi pada syair seudati dalam bahasa Aceh yang memuat nilai-nilai religiusitas dimensi experential yang dikonsep melalui diksi. Salah satu cara yang dapat dilakukan manusia untuk meraih pengalaman religius adalah dengan meningkatkan kepekaannya menangkap simbol atau lambang-lambang yang ada di sekelilingnya. Dengan menangkap simbol atau lambang-lambang itu manusia akan memperoleh pengalaman estetik, dan pengalaman estetik itulah yang akan mengarahkan atau membangkitkan pengalaman religius. Di sinilah letak keeratan hubungan antara pengalaman estetis dan pengalaman religius. Jika diibaratkan sebuah simpul, dalam pengalaman estetis simpul baru mulai diuraikan, sedangkan dalam pengalaman religius simpul sudah terurai (Jannah et al. , 2024. Makna Religiusitas dalam Karya Sastra (Fridayanti, 2. menyebutkan bahwa religiusitas adalah sebuah level pemahaman individu untuk agama serta level keteguhan hati individu untuk agamanya. Level konseptualisasi merupakan level pemahaman ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 individu untuk agamanya, lain halnya dengan level keutuhan hati terhadap hal-hal yang harus dimengertisecara komprehensif, sehingga memiliki teknik-teknik untuk seseorang untuk mencapai tingkatan religius. Perlu keseriusan untuk menjadi seseorang yang religius. (Glock & Stark, 1. mengatakan agama merupakan aturan simbol, aturan keyakinan, aturan nilai, dan aturan perilaku yang terorganisir, yang keseluruhan tersebut bermuara pada masalah-masalah yang dipedomani sebagai yang termaknawi. (Thouless & Husein, 1. menerjemahkan bahwa agama merupakan kaitan praktis yang diyakini dengan apa yang diimani sebagai ciptaan atau bentuk tertinggi daripada manusia. James menerjemahkan pengertian agama dengan feeling serta hal yang dialami seseorang sehingga merasakan bahwa mereka berkaitan dengan apa yang dianggapnya sebagai Tuhan. (Jannah et al. , 2024. dalam Islam, religiusitas itu pernah dialami dalam perwujudan berupa akidah, syariah, dan akhlak, atau dengan ungkapan lain:iman. Islam, dan ihsan. Jika ini sudah dipunyai oleh individu, individu tersebut dapat dikatakan sebagai insan beragama yang sesungguhnya. (Agus Firmansyah, 2. memberikan penegasan perbedaan definisi religi atau agama dengan sebutan Agama atau religi merujuk pada aspek formal yang berhubungan dengan norma-norma dan keharusan-keharusan, sedangkan religiusitas merujuk pada aspek yang diyakini oleh seseorang. Hal ini seirama dengan argumen Dister yangmenerjemahkan religiusitas sebagai keberagamaan, yang berarti adanya unsur yang diwujudkan dalam agama itu dalam diri seseorang. Lindridge menyebutkan bahwareligiusitas dapat dinilai dengan munculnya organisasi religius dan perlunya agama di alam kehidupan sehari-hari. Religiusitas Dimensi Experential . Aspek keyakinan . merupakan faktor penting pada seorang Muslim. Keyakinan ini merupakan landasan bagi praktek beragama yang dilakukan, yang selanjutnya akan membuat orang tersebut memperoleh pengalaman bermanfaat dari keyakinan dan praktek agamanya (Razak, 2. Dimensi experiential menggambarkan pengalaman spiritual dan emosional seseorang saat menjalani kehidupan Seperti rasa kedekatan diri dengan Tuhan, perasaan tenang, rasa bersyukur, atau kesadaran akan makna hidup yang mendalam. Dalam perspektif Islam, pengalaman yang sangat bermakna dalam beragama akan dirasakan individu bila praktek beragama dilakukan dengan intensi kepatuhan, ketundukan dan pengabdian kepada Allah semata, yang telah disebut di atas sebagai perilaku yang bernilai ibadah. Dalam hal ini, pengalaman seperti kebahagiaan, ketenangan, rasa dekat dengan Tuhan, kemampuan meregulasi diri dan sebagainya akan dapat dirasakan oleh individu bila dalam melakukan aktivitas keagamaan baik ritual maupun aktivitas lainnya dilakukan dengan hati yang tunduk dan patuh kepada Allah (Razak, 2. Artinya, terdapat keterkaitan berupa efek positif praktek beribadah terhadap kehadiran pengalaman personal dalam beragama, karena dalam Islam ibadah bertujuan untuk mensucikan roh atau jiwa sehingga yang bersangkutan dapat menuju pada kecenderungan melakukan perbuatan baik dan positif bagi kehidupan. Ibadah sholat, puasa, haji dan ibadah-ibadah lainnya semua merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan juga merupakan sarana latihan untuk regulasi diri, menghargai sesama, melatih kepedulian, berbagi . , dan juga merupakan latihan fisik yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi (SyiAoaruddin, 2. Syair Seudati Provinsi Aceh merupakan daerah penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara dan memiliki identitas seni budaya tersendiri. (Usman, 2. mengatakan bahwa kekhususan identitas ini terdapat pada paradigma Islam dan ukuran syariah yangdigunakan sebagai rambu-rambu dalam seluruh aspek socioreligius. Seudati termasuk salah satu tari tradisional Aceh yang dilestarikan dan kini menjadi salah satu kesenian milik masyarakat Aceh. Tari seudati berasal dari kata Syahadat, yang berarti saksi/bersaksi/ pengakuan terhadap Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah. Selain itu, ada pula yang menagatakan bahwa kata Seudati berasal dari kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Seudati mulai dikembangkan sejak agama Islam ke Aceh. Penganjur Islam memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah untuk menegembangkan ajaran agama Islam. Tarian ini berkembang di Aceh. Dalam permainan Seudati terdiri dari beberapa babak/sesi, yaitu: Saleum aneuk, saleum syeh. Likok, saman, kisah, pansi, lanie/gambus pembuka, gambus penutup. Syair-syair Seudati berisi pesan-pesan agama Islam, pesan adat/hadihmaja, pembakar semangat dan kisah-kisah sejarah Aceh. Sejalan dengan perkembangan pembangunan dan dinamika di Aceh, syairnya juga bisa disesuaikan. Seorang syeh ataupun aneuk syahi yang handal, dia dapat menciptakan syair-syair secara spontanitas sesuai dengan kondisi saat tampil. Syairnya berbentuk pantun bersajak ab ab. Tari Seudati ditarikan oleh delapan laki-laki sebagai penari seni Aceh, terdiri dari satu syeh, satu orang pembantu syeh, dua orang pembantu di sebelah kiri . isebut apeetwie, satu orang pembantu di belakang yang disebut peet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi. (Usman, 2. provinsi Aceh merupakan daerah penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara dan memiliki identitas seni budaya tersendiri. Kekhususan identitas ini terdapat pada paradigma Islam dan ukuran syariah yang digunakan sebagai rambu-rambu dalam seluruh aspek socioreligius. Di provinsi Aceh, beberapa waktu yang lampau, seni tradisi lisan pernah menduduki peran strategis sebagai media dakwah dalam proses sosialisasi ajaran Islam kepada masyarakatnya. Kehadiran seni tradisi lisan merupakan ekspresi dari adanya budaya kreatif sekaligus menjadi jawaban cerdas terhadap tuntutan jaman dalam menghadirkan media dakwah yang adaptif dan solutif. Timbulnya tradisi tari Seudati dalam masyarakat Aceh belum ada sebuah data yang akurat. Namun dari sejumlah tulisan Seudati ada beberapa pandangan tentang timbulnya Seudati ini. Timbulnya Seudati pada mulanya di sebuah Desa Gigieng. Kecamatan Simpang Tiga. Kabupaten Pidie. Daerah Aceh awal penyebaran agama Islam ke berbagai daerah dengan budaya seni di antaranya seni tari yaitu Seudati Aceh yang disebut usianya hampir sama dengan usia masuknya Islam ke Aceh. Sehingga, sampai berdirilah kerajaan-kerajaan Islam baik di Sumatera. Jawa. Kalimantan. Maluku dan daerah-daerah lainnya. Aceh yang mempunyai sejarah panjang ini dalam mengusir dua bangsa penjajah yaitu Portugis dan Belanda. Kajian ini bermaksud mencermati konsep experential dalam syair seudati. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif (Zaidan & Rustapa, 1. Digunakan untuk memberikan gambaran sistematis dan faktual terhadap data dan fakta dalam kurun waktu tertentu yang diperoleh (Sugiyono, 2. Data dan fakta diperoleh dari syair seudati. Syair seudati yang dijadikan sumber data adalah syair seudati yang diperoleh melalui buku, melalui perekaman, dan melalui pengamatan. Dari proses ini diperoleh 6 enam syair seudati yang sudah diperoleh datanya. Analisis data dilakukan dengan membaca syair seudati secara berulang-ulang, kemudian memberi warna pada bagian data. Bagian ini menggunakan metode pengkodean (Saldaya, 2. Pengkodean dilakukan secara bertahap: . membaca setiap syair seudati sebagai data mentah penelitian, . menandai bagian-bagian yang mengandung dimensi consequential, . menyiapkan probing untuk pendalaman data, . membuat klasifikasi dan . membangun konsep dengan narasi. Data yang telah selesai pada tahap pengkodean dianalisis dengan menggunakan pendekatan hermeneutika (Wachid, 2. Pendekatan ini cocok digunakan dalam analisis teks sastra karena berkaitan dengan teori penafsiran kitab suci, berfungsi sebagai metode filologis, mengkaji pemahaman kebahasaan, dan berperan sebagai metodologi Aoilmu-ilmu manusiaAo, yakni berusaha memperoleh makna hidup manusia secara keseluruhan, sebagai fenomenologi pemahaman eksistensial, dan sebagai sistem Dengan demikian, pendekatan hermeneutika dalam penelitian ini digunakan untuk menafsirkan teks yang tergolong temuan penelitian. Penafsiran teks dilakukan dengan memahami diksi yang muncul sebagai Konsepnya adalah komunikasi horizontal dan komunikasi vertikal. Komunikasi horizontal menunjukkan kehidupan berkomunikasi antar manusia. Sedangkan komunikasi vertikal muncul sebagai cara tidak langsung dalam menggantungkan harapan kepada Allah (Tuha. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Religius eksperensial adalah perasaan-perasaan atau pengalaman yang pernah dialami dan dirasakan. Misalnya merasa dekat dengan Allah Swt. merasa takut berbuat dosa, merasa doanya dikabulkan, diselamatkan oleh Allah Swt. dan sebagainya. Ancok dan Suroso mengatakan kalau dalam Islam dimensi ini dapat terwujud dalam perasaan dekat atau akrab dengan Swt. perasaan bertawakal . asrah diri dalam hal yang positi. kepada Allah Swt. Perasaan khusyuk ketika melaksanakan salat atau berdoa, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al QurAoan, perasaan bersyukur kepada Allah Swt. perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah Swt. Nilai pengalaman . terdapat dalam Syair. Dimensi eksperensial yang muncul dan dianalisis dalam syair seudati antara lain perasaan dekat dengan Allah Swt, sabar dalam menghadapi cobaan, bertawakal kepada Allah Swt. , perasaan bersyukur kepada Allah Swt. , merasakan ketenangan hidup. Berikut ini dideskripsikan secara kualitas masing-masing bagian yang mengandung nilai eksperensial. Perasan Dekat dengan Allah Swt. Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Perasaan dekat dengan Allah Swt. adalah rasa yang timbul dari hati, yang mencakup cinta, takut, harap, dan yakin akan kebesaran-Nya. Perasaan ini mendorong untuk selalu berbuat baik, taat pada perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, dengan harapan mendapatkan keridhaan-Nya. Berikut data yang diperoleh dalam syair seudati yang berkaitan dengan perasaan dekat dengan Allah Swt. Data Bahasa Aceh Bahasa Indonesia Tabeue ngyn masyn neurasa keudroe. Hambar dan asin rasakan sendiri Bak ureueng nanggroe byk neuceurita. Kepada orang banyak tak perlu dicerita Bykneuceurita bak ureueng nanggroe. Jangan cerita kepada banyak orang Malye that kamoe di keu rakyat ba. Malu sekali kami di depan rakyat Bait syair ini menjelaskan pentingnya menjaga nama baik, kehormatan, dan privasi seseorang yang menerima kita sebagai tamu, meskipun itu hal yang baik maupun buruk menurut kita sebagai bentuk kita mendekatkan diri kepada Allah Swt. Kita sebagai manusia yang diberi nikmat akal dan pikiran oleh Allah Swt. Sudah sepatutnya kita gunakan untuk berpikir dengan benar dan sadar akan hal yang kita lakukan, seperti baik buruknya perbuatan kita kepada orang lain yang dapat membuat mereka merasa bahagia atau sebaliknya merasa tersakiti oleh perbuatan maupun perkataan kita. Di dalam Al-QurAoan dan hadis telah banyak kita ketahui bagaimana anjuran untuk selalu mengormati orang lain, berikut beberapa contohnya: Potongan QS Al-Ahzab:53 AuA. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah nabi kecuali kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak . , tetapi jika kamu dipanggil, maka masuklah kamu dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapanA. Ay HR Muslim Rasulullah saw. bersabda,Ay dan barang siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah Swt. menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Dari contoh di atas telah diperlihatkan jika setiap kita ingin mengunjungi rumah orang lain, kita harus menunjukkan adab yang baik, misalnya menyapa dan menanggapi salam menggunakan bahasa yang sopan, tahu waktu dan menghormati makanan yang telah tuan rumah siapkan. Lezat tidak lezatnya makanan yang telah tuan rumah sajikan kepada kita hendak kita menghomati makanan tersebut dengan tidak mengomentari atau mengatai makanan itu didepan tuan rumah dan orang lain karena itu dapat menjadi aib bagi sang tuan rumah. Mengingat begitu berusahanya sang tuan rumah dalam menyambut kita mulai dari mempersiapkan tempat dan memasak makanan yang diberikan kepada kita, sudah seharusnya kita sadar untuk menjaga baik hatinya agar tidak timbul rasa kecewa kepada kita dan tuan rumah merasa tidak dihargai oleh sikap kita. Saling menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan dengan menjaga lisan bukan hanya penting dalam hal bermasyarakat, tetapi juga dalam kehidupan pribadi kita. Sikap ini dapat membantu kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih memahami ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 Kita semua memiliki peran penting dalam upaya menjaga keharmonian dan perdamain dalam kehidupan Sabar dalam Menghadapi Cobaan dari Allah Swt. Sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah Swt. adalah sebuah sikap tabah dan tenang dalam menerima segala ujian yang datang, tanpa berkeluh kesah atau putus asa. Ini merupakan bentuk kepasrahan dan ketundukan kepada kehendak Allah Swt. , serta keyakinan bahwa setiap cobaan memiliki hikmah di baliknya. Sabar berarti menahan diri dari berbagai jenis masalah serta bisa menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tidak terpuji dan dilarang oleh Allah Swt. Landasan sabar adalah menahan diri untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan akal dan syariat. Berikut data yang diperoleh dalam syair seudati yang berkaitan dengan sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah Swt. Data Bahasa Aceh Bahasa Indonesia Watye geutanyoe masa lam kandyng. Ketika kita dalam kandungan Poma nyang tanggyng mandum derita. Ibu merasakan semua rasa sakit Sakyt lam tubyh sampoe lam tuleueng. Sakitnya di dalam tubuh sampai tulang AoOh kasyb buleuen meutaryng nyawa. Ay Sampai waktu tiba, nyawa jadi taruhan Bait tersebut mencakup dimensi pengalaman, yakni mengisahkan pengalaman seorang ibu yang mengandung dan menderita sakit di dalam tubuhnya hingga mempertaruhkan nyawanya. Meski dalam keadaan, sang Ibu tetap bersabar dalam segala cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. , termasuk cobaan diberikan rasa sakit dalam menanggung derita saat mengandung, sakit dalam tubuh sampai juga sakit dalam tulang. Nilai dimensi pengalaman dalam syair ini ditekankan pada larik AuPoma nyang tanggyng mandum deritaAy. Makna yang terkandung adalah kita sebagai seorang anak haruslah mengingat jasa dan perjuangan yang sudah dilalui oleh ibu. Saat ibu mengandung dengan rasa sakit di dalam tubuhnya sampai menusuk tulang. Jasa seorang ibu tentu tidak dapat dibalas dengan apapun, maka kita berkewajiban untuk selalu berbakti kepada ibu. Hal ini dibuktikan dengan sebuah hadis yang bermakna AuSurga di bawah telapak kaki ibuAy. Hadis ini menjelaskan bahwa siapa yang dikehendaki . para ibu, mereka bisa memasukkannya . e surg. siapa yang tidak dikehendaki . idak diridha. , mereka bisa mengeluarkannya . ari surg. Bertawakal kepada Allah Swt. Bertawakal kepada Allah Swt. artinya menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. setelah berusaha Tawakal merupakan sikap mental dan spiritual yang mendalam dalam Islam. Secara harfiah, kata tawakal berasal dari kata wakkala yang memiliki arti menyerahkan, mempercayakan atau mewakilkan urusan kepada orang lain. Tawakal menjadi cara untuk kita menyerahkan segala perkara dan usaha kepada Allah Swt. Berikut data yang diperoleh dalam syair seudati yang berkaitan dengan bertawakal kepada Allah Swt. Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Data Bahasa Aceh Bahasa Indonesia Bak saboh jamok poma meulyt-lyt. Untuk satu nyamuk Ibu rela mengusir Bak saboh pijyt poma meujaga. Untuk satu kutu busuk Ibu rela begadang Dua thyn peunoh ASI katajyb. Pas dua tahun ASI kita minum Tan pry meusiblyt geulakye doAoa. Ay Tidak berhenti sedikitpun memanjatkan doa Bait ini juga mengisahkan pengalaman seorang ibu saat menjaga anaknya. Ia rela tidak terjaga semalaman demi menjaga anaknya tidur dengan tenang dan terhindar dari gigitan nyamuk. Ibu juga rela memberi ASI kepada bayinya selama dua tahun penuh tanpa berhenti agar anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Ibu juga akan selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya tanpa merasa bosan dan semua itu dikembalikan kepada kehendak Allah Swt. Setelah usaha ibu kepada anaknya. Nilai pengalaman juga ditekankan pada larik AuBak saboh pijyt poma meujagaAy. Dari dua penggalan bait syair Kisah ini, dapat disimpulkan bahwa kita sebagai seorang anak tidak boleh melupakan perjuangan seorang ibu yang telah mengandung dan merawat kita dari kecil hingga besar. Ibu melakukan segala cara agar anaknya merasa nyaman dan aman. Rasullah saw. Pernah bersabda yang artinya "Sesungguhnya berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat. " (HR Ibnu Maja. Perasaan Bersyukur kepada Allah Swt. Perasaan bersyukur kepada Allah Swt adalah rasa terima kasih yang tulus dan mendalam atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan-Nya, baik berupa nikmat lahiriah maupun batiniah. Bersyukur adalah sikap menghargai dan mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah Swt. Berikut data yang diperoleh dalam syair seudati yang berkaitan dengan perasaan bersyukur kepada Allah Swt. Data Bahasa Aceh Bahasa Indonesia Uroe jemuAoat jak u mueseujid. Hari JumAoat pergi ke mesjid Ka meunan tanietdi dalam haty Sudah seperti itu niat di dalam hati. Larik tersebut mengandung nilai pengalamanan yang berhubungan dengan perasaan bersyukur kepada Allah Swt. karena masih diberi kesempatan untuk melaksanakan salat JumAoat di mesjid. Larik menjelaskan bahwa seseorang tersebut mengerjakan salat JumAoat dengan niat tulus di dalam hatinya. Larik tersebut juga mengambarkan bahwa orang tersebut mengerjakan salat JumAoat dengan bersungguh-sungguh dan penuh keyakinan serta diikuti dengan rasa syukur yang mendalam. Dalam Islam pergi salat pada hari JumAoat merupakan hal yang wajib bagi para lelaki, dan sunnah bagi para Perempuan. Seperti yang dijelaskan pada nilai praktik ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 agama, bahwasanya mengerjakan salat JumAoat itu banyak sekali keistimewaan dan keutamaan yang tidak dapat diperolehnya di hari-hari lainnya. Begitu juga pada surah Al-Jumuah ayat 9. Dimana menegaskan bahwa wajib untuk melakukan salat JumAoat bagi laki-laki. Selain itu salat JumAoat juga memiliki beberapa keutamaan, yaitu menerima ganjaran layaknya menunaikan ibadah haji. Apalagi rukun Islam yang kelima ini termasuk berat bagi sebagian umat Islam. Imam al-Qadla'i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda yang artinya " JumAoat merupakan hajinya orang-orang fakir. Terkait hadits tersebut. Syekh Ihsan bin Dakhlan pun menjelaskan bahwa "Maksudnya, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju salat JumAoat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Hadits ini memberi dorongan untuk melakukan salat JumAoat. "Salat jumat juga dapat hadiah istimewa yaitu berupa pahala puasa dan salat selama setahun. Tidak hanya itu, menunaikan salat Jumat tentu akan menghapus dosa, namun keutamaan nya yaitu diampuninya dosa selama beberapa hari. Selain itu, jamaah yang berangkat lebih awal mendapat ganjaran pahala seakan-akan telah berkurban. Rasulullah shallu 'alaihi wasallam pernah menyatakan yang artinya: "Ada tiga perkara yang seandainya semua orang mengetahui apa yang ada di dalamnya, tentu mereka akan lari seperti unta untuk memburunya. Ketiganya adalah azan, barisan paling depan, dan berangkat salat JumAoat lebih awal" (HR Al-Bukhari dan Musli. Dimensi ini membahas tentang penghayatan seseorang terhadap ajaran agamanya, bagaimana perasaan mereka terhadap Tuhan, dan bagaimana mereka bersikap terhadap agama. Hal ini tidak bisa dikatakan bahwa seseorang tersebut telah benar dan sempurna dalam beragama, namun pengalaman yang hadir bisa jadi merupakan harapan-harapan yang muncul pada diri seseorang tersebut. Data Bahasa Aceh Bahasa Indonesia Guna dipoma han soe yk balah. Jasa bunda tidak ada yang sanggup melyngkan Allah Swt. ya balah guna ma. Kecuali Allah Swt. yang membalasnya Larik tersebut termasuk ke dalam cakupan dimensi pengalaman yang menunjukan rasa syukur terhadap segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. Nikmat tersebut dititipkan melalui jasa seorang ibu kepada Dimensi pengalaman ini terdapat pada penghambaan seorang manusia terhadap sang pencipta yang memberikan begitu banyak nikmat termasuk nikmat seorang ibu. berdasarkan ayat suci Al-QurAoan yang terdapat padat QS Ar-Rahman Ayat 60 yang artinya Au tidak ada balasan kebaikan kecuali balasan kebaikan pula. Ay Dalam ayat ini diungkapkan bahwa tiadalah balasan orang yang berbuat kebaikan di dunia melainkan akan memperoleh kebaikan pula di akhirat. Seorang yang beragama Islam wajib meyakini bahwa hanya Allah Swt. yang mampu membalas kebaikan orang tua. Seorang anak tidak mampu membalas jasa ibunya oleh karena itu. Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi sebagai anak diwajibkan berbakti kepada orang tua dengan melakukan apa yang di perintahkan, tidak membantah perkataan orang tua dan juga mendoakannya. Merasakan Ketenangan Hidup Merasakan ketenangan hidup adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa damai, rileks, dan bahagia, bebas dari kecemasan dan kekhawatiran. Ini adalah keadaan mental dan emosional yang dicirikan oleh kedamaian dan ketentraman. Ketenangan hidup merupakan keinginan setiap manusia dan dapat dicapai melalui berbagai cara, seperti meningkatkan relasi dengan Tuhan, melakukan aktivitas positif, dan memiliki rencana Berikut data yang diperoleh dalam syair seudati yang berkaitan dengan merasakan ketenangan dalam Data Bahasa Aceh Bahasa Indonesia Byk ly karu tam tum su beudy. Jangan ribut suara senjata tam,tum. byk ly meupaky saby syydara Jangan lagi bertengkar sesama saudara. Larik tersebut termasuk ke dalam cakupan dimensi pengalaman yang juga masuk ke dalam bagian merasakan ketenangan hidup yang telah diberikan oleh Allah Swt. Ungkapan jangan lagi ribut, jagalah perdamaian dan syukurilah dengan situasi yang diberikan oleh Allah Swt merupakan bentuk ketenangan dalam Suasana tidak dalam kondisi ribut dan suasana tidak dalam keadaan bertengkar merupakan suasana yang sangat dinantikan oleh semua orang karena di dalamnya ada ketenangan dalam hidup. Hal ini dapat diidentifikasi melalui penggunaan bahasa Aubyk ly meupaky saby syydaraAy. Dalam bahasa atau kalimat tersebut mengandung makna saling menasehati antar sesama saudara baik sebangsa maupun sesuku ataupun sekeluarga. Ini menunjukkan adanya merealisasikan nilai-nilai ajaran agama Islam dalam kehidupan untuk mencapai ketenangan dalam hidup. Di dalam syariat Islam adanya anjuran untuk saling menasehati berdasarkan hadis nabi, yang artinya AuAgama adalah nasehat. Para sahabat bertanya, untuk siapa? Beliau menjawab: untuk Allah Swt. kitabNya, rasul-Nya, pemimpin umat Islam dan sesama umat Islam. Ay(HR Musli. Di dalam hadis ini menunjukkan bahwa kita dianjurkan untuk saling menasehati antar sesama dengan tujuan untuk menjaga sesama muslim dari terjerumus dalam keburukan dan dosa. Seorang muslim harus memperlihatkan sikap mencintai perdamaian sesama saudara, mengingatkan kepada sesama untuk saling menyayangi tanpa pertengkaran. Pembahasan Religius eksperensial adalah perasaan-perasaan atau pengalaman yang pernah dialami dan dirasakan. Misalnya merasa dekat dengan Allah Swt. merasa takut berbuat dosa, merasa doanya dikabulkan, diselamatkan oleh Allah Swt. dan sebagainya. Ancok dan Suroso mengatakan kalau dalam Islam dimensi ini dapat terwujud dalam perasaan dekat atau akrab dengan Allah Swt. perasaan bertawakal . asrah diri dalam hal yang positi. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 kepada Allah Swt. Perasaan khusyuk ketika melaksanakan salat atau berdoa, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al QurAoan, perasaan bersyukur kepada Allah Swt. perasaan mendapat peringatan atau pertolongan dari Allah Swt. Nilai pengalaman adalah pemahaman dan pembelajaran yang diperoleh dari pengalaman hidup dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Setiap pengalaman yang kita alami dalam kehidupan kita, baik itu positif maupun negatif, dapat memberikan nilai dan pelajaran berharga yang dapat membentuk dan mengubah cara kita memandang dunia. Pengalaman dapat mengajarkan kita tentang nilai-nilai seperti ketekunan, rasa syukur, kerendahan hati, dan keberanian. Ketika kita menghadapi tantangan atau kesulitan, pengalaman dapat mengajarkan kita untuk tidak menyerah dan terus berusaha mencapai tujuan kita. Pengalaman juga dapat membuat kita lebih menghargai hal-hal kecil dalam hidup dan merasa bersyukur atas apa yang kita miliki. Selain itu, pengalaman juga dapat membantu kita untuk lebih memahami dan menghargai perbedaan. Melalui interaksi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, kita dapat belajar tentang keragaman budaya, agama, dan pandangan hidup. Ini dapat membantu kita menjadi lebih toleran, terbuka, dan menghormati Dalam hidup, pengalaman adalah guru terbaik yang dapat membimbing kita untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu. Setiap pengalaman yang kita alami memberikan nilai berharga yang dapat membentuk sikap, nilai, dan pandangan hidup kita. Nilai Pengamalan terdapat pada bait kesatu larik kedua. AuHala lon-lah lyn tamyng lamseng intanAy artinya: Semoga semua dalam keadaan baik dan sehat. Dari kalimat ini kita dapat menganalisis bahwa ada unsur berdoa yang merupakan salah satu dari bentuk tawakkal kepada Allah Swt. Terhadap hal-hal yang positif. Tawakal berarti juga menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan urusan kita kepada orang lain. Dalam kaitan ini penyerahan tersebut adalah kepada Allah Swt. Tujuannya, untuk mendapat kemashlahatan dan menghilangkan Secara istilah arti tawakkal adalah menyerahkan suatu urusan kepada kebijakan Allah Swt. mengatur segalanya-galanya. Berserah diri . kepada Allah Swt. adalah salah satu perkara yang diwajibkan dalam ajaran agama Islam. Berserah diri . kepada Allah Swt. dilakukan oleh seorang muslim apabila sudah melaksanakan Ikhtiar . secara maksimal dan sungguh-sungguh sesuai dengan Allah Swt. berfirman dalam Al-QurAoan surat al-Maidah ayat 23 yang artinya: "Dan hanya kepada-Nyalah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman. Berikut ini beberapa contoh perilaku tawakal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari: Selalu bersyukur jika mendapatkan nikmat dari Allah Swt. dan bersabar apabila mendapatkan musibah. Selalu berdoa dan menyerahkan diri atas apa yang kita usahakan sebelumnya. Selalu berprasangka baik terhadap Allah Swt. atas kejadian atau apa yang kita terima. Tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha dan berikhtiar. Menyerahkan segala sesuatu hal terhadap Allah Swt. setelah berusaha keras Seperti yang telah tertulis di poin kedua contoh tawakal dari kalimat tersebut penyair menyebut kan bahwa Ausemoga semua dalam keadaan baik dan sehatAy. Doa merupakan sebuah kebutuhan rohani untuk jiwa manusia, menggambarkan ketiadakberdayaan seseorang tanpa adanya pertolongan dari sesama makhluk, terlebih dari Nilai Religiusitas Dimensi Experential. (Subhayni. AR. Shadiqin, & Nurliza, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 919-936 http://jurnal. id/index. php/dedikasi Tuhannya. Terdapat banyak kelebihan bagi seseorang yang melaksanakannya. Berdoa merupakan suatu hal yang pasti pernah dilakukan setiap manusia. Setiap manusia pasti memiliki keinginan, harapan ataupun cita-cita. Disadari atau tidak, hal ini mendorong manusia untuk berdoa bagaimanapun caranya. Baik hanya dengan harapan ataupun dalam bentuk ritual tersendiri. Kemudian, berdoa ini memiliki pengaruh tersendiri terhadap jiwa manusia. Nilai pengamalan lain juga terdapat pada bait pertama, larik kelima. AuHala beu-labeu na neu beunaAyartinya semoga kebaikan selalu hadir dihati kita. Dari kalimat ini dapat kita analisis bahwa di dalam hati setiap muslim harus ada kebaikan yang tulus mengandung harapan agar kebaikan selalu ada dalam hati setiap individu. Kalimat ini mencerminkan aspirasi untuk selalu berbuat baik dan memiliki niat yang Harapan semacam ini sering ditemukan dalam kata-kata bijak Islami dan pesan-pesan dakwah, yang menekankan pentingnya kebaikan, kesabaran, dan motivasi dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat potensi buruk dalam jiwa manusia adalah ketika dikotori dengan kejahatan atau hal-hal yang sudah dilarang dalam agama Islam. Berdasarkan surah As-Syams juz ke-30, dijelaskan pula bahwa menjaga kesucian jiwa menjadi hal terpenting. Sementara itu, dalam Al-QurAoan juga disebutkan tentang alasan menjaga hati agar selalu bersih yakni surah Asy-SyuAoara ayat 88Ae89 yang memberikan petunjuk bahwa hati manusia harus senantiasa bersih. Begitu pun dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dijelaskan hati inilah yang akan memengaruhi jasad manusia. Bersih atau kotornya hati manusia akan berdampak pada perilakunya sehari-hari. Sebab, di hari akhir nanti yang akan menghadap, itu adalah orang-orang yang memiliki hati yang bersih. Terkait seperti apa kesucian hati itu, bahwa banyak sekali kitab tafsir menjelaskan tentang cara menjaga kesucian hati. Salah satunya dalam Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat Asy-SyuAoara yang disebut dengan qalbun salim atau hati yang bersih. Pertama, terhindar dari kemusyrikan atau menduakan . Ini adalah hal yang paling pokok dalam menjaga hati agar tetap bersih. Baik itu syirik dhohir dalam arti penyembahan secara langsung maupun kesyirikan dalam arti meyakini adanya kekuatan dan datangnya manfaat selain dari Allah Swt. Kedua, terhindar dari sifat sombong. Menurutnya, kesombongan dengan merasa lebih dari yang lain dan bentuk kesombongan lainnya merupakan pupuk kotoran hati. Ketiga, syahwat atau keinginan-keinginan yang tidak dikendalikan, sehingga menjadi penghalang untuk mengetahui kebenaran. Dimensi experential yang muncul dan dianalisis dalam syair seudati antara lain menghargai dan menghormati satu sama lain, berjuang untuk hidup sukses menurut ukuran Islam, menegakkan keadilan dan kebenaran, mendamaikan orang bermusuhan, bersatu dan berbuat baik satu sama lain. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Mencermati dimensi experential dalam syair seudati, tergambar konsep yang kuat nilai religiusitas. Keberadaan nilai religiusitas dimensi experential di dalam syair seudati dituangkan dalam berbagai bentuk ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 919-936 hubungan manusia dengan Allah Swt. Sebagai pencipta isi alam, termasuk pencipta manusia Saran Penelitian ini masih terfokus pada syair seudati, karya sastra lisan Aceh yang fenomenal dan sering Masih banyak sastra lisan lain dalam budaya Aceh. Kedepannya diharapkan ada penelitian terhadap sastra lisan Aceh tersebut dengan menggunakan kerangka yang berbeda untuk mendekati dimensi experential, sehingga konsepnya dalam syair sastra lisan Aceh dapat membuka wawasan serta cakrawala berpikir masyarakat Aceh. DAFTAR PUSTAKA