Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education Volume 2 Number 1. Januari . DOI : Penerapan Rhythm Syllables dalam Metode Kodyly untuk Pembelajaran Notasi Ritmis pada Siswa Kelas VII MTs NW Loyok Abidin saofi1*. Ainiawati2. Sapriadi3. Hilmiyatun4 Universitas Hamzanwadi123. Lombok Timur. Indonesia Email: abidinsaopi@gmail. com1*, ainiawatiramadani@gmail. com2, oyoksapriadi17@gmail. hilmiya@hamzanwadi. Riwayat Artikel Abstrak Dikirim : 28 November 2025 Direvisi : 6 Desember 2025 Diterima : 15 Desember 2025 Dipublikasi : 30 Desember Pembelajaran notasi ritmis di tingkat sekolah menengah pertama masih menghadapi tantangan, terutama terkait rendahnya kemampuan siswa dalam membaca, memahami, dan mengeksekusi pola ritme secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan rhythm syllables dalam kerangka Metode Kodyly untuk meningkatkan kompetensi notasi ritmis siswa kelas VII MTs NW Loyok. Penelitian menggunakan desain tindakan kelas dengan dua siklus yang melibatkan observasi awal, intervensi pembelajaran rhythm syllables, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Instrumen utama terdiri atas lembar observasi, tes ritmis, dan dokumentasi kegiatan praktik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam ketepatan pembacaan ritme, kelancaran pelafalan simbol ritmis, serta peningkatan skor tes dari tahap awal ke tahap akhir. Penerapan rhythm syllables terbukti membantu siswa dalam menstrukturkan durasi melalui verbalitas yang sistematis dan mudah diingat. Dapat disimpulkan bahwa integrasi Metode Kodyly berbasis rhythm syllables efektif meningkatkan literasi ritmis siswa dan layak direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran musik di sekolah berbasis Kata Kunci : Rhythm syllables. Metode Kodyly. Notasi ritmis. Pembelajaran musik. MTs. Literasi musik. Abstract Keywords : Rhythm syllables. Kodyly Method. Rhythmic notation. Music learning. Secondary Musical literacy. The teaching of rhythmic notation at the lower secondary school level continues to face challenges, particularly regarding studentsAo limited ability to read, comprehend, and perform rhythmic patterns accurately. This study aims to analyze the effectiveness of applying rhythm syllables within the Kodyly Method framework to improve rhythmic notation competencies among seventh-grade students of MTs NW Loyok. The study employed a classroom action research design consisting of two cycles involving initial observation, instructional intervention using rhythm syllables, and evaluation through pretests and The primary instruments included observation sheets, rhythmic tests, and documentation of practice activities. The results indicate a significant improvement in rhythmic reading accuracy, fluency in pronouncing rhythmic symbols, and increased test scores from pretest to posttest. The implementation of rhythm syllables was effective in helping students structure rhythmic duration through structured and memorable verbalization. It can be concluded that integrating the Kodyly Method with rhythm syllables effectively enhances studentsAo rhythmic literacy and is recommended as a pedagogical strategy for music learning in Islamic junior secondary schools. A 2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International License (CC BY 4. license PENDAHULUAN Pembelajaran notasi ritmis merupakan salah satu komponen fundamental dalam pendidikan musik yang berperan penting dalam membentuk kemampuan musikal awal siswa. Kemampuan tersebut Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 meliputi ketepatan membaca pola ritme, stabilitas tempo, dan pemahaman durasi setiap simbol nada yang menjadi dasar bagi keterampilan musikal tingkat lanjut (Putri & Safrina, 2024, hlm. Dalam konteks pendidikan formal, penguasaan ritme memegang peranan strategis karena menjadi prasyarat untuk mempelajari elemen musik yang lebih kompleks seperti melodi, harmoni, dan interpretasi Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ritmis siswa usia sekolah menengah di Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah ketidakkonsistenan metode pembelajaran ritmis yang digunakan guru serta minimnya pendekatan sistematis yang berorientasi pada literasi ritmis (Clarita et al. , 2. Kondisi ini menuntut adanya strategi pedagogis yang tidak hanya efektif, tetapi juga mampu mengakomodasi karakteristik belajar siswa pada jenjang Metode Kodyly hadir sebagai salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab kebutuhan Pendekatan ini menempatkan musical literacy sebagai tujuan utama, dengan menekankan bahwa proses belajar musik harus dimulai dari pengalaman auditori dan vokalisasi sebelum siswa diperkenalkan pada bentuk notasi formal (Sihombing, 2. Elemen-elemen pembelajaran dalam metode ini, seperti rhythm syllables, hand signs, dan tonic solfa, bertujuan membantu siswa memahami pola ritme melalui asosiasi verbal yang konkret dan mudah diingat. Sistem rhythm syllables seperti taAe ti-tiAeta-a tidak hanya memperjelas durasi, tetapi juga membantu siswa menginternalisasi ritme secara kinestetik melalui suara dan gerak tubuh (Putra, 2. Efektivitas pendekatan Kodyly telah dibuktikan melalui berbagai penelitian pada tingkat SD. SMP, hingga SMA, sehingga penerapannya dalam konteks MTs menjadi relevan untuk dikaji lebih lanjut (Thaib & Karlan, 2. Observasi awal yang dilakukan di MTs NW Loyok memperkuat urgensi penelitian ini. Dari 21 siswa kelas VII yang terlibat, mayoritas masih mengalami kesulitan dalam membaca simbol ritmis dasar seperti not seperempat, not seperdelapan, dan not dua ketuk. Ketika diberi tugas membaca pola ritme sederhana dalam birama 4/4, sebagian besar siswa menunjukkan ketidaktepatan durasi dan kehilangan ketukan, terutama pada pola ti-tiAetaAeta-a. Pola ini menjadi salah satu pola yang paling sering salah dilafalkan dan tidak stabil. Temuan tersebut sejalan dengan laporan Kinanti et al. yang menyatakan bahwa siswa tingkat menengah kerap mengalami kesulitan mengenali pola durasi tanpa dukungan verbal terstruktur. Bahkan, beberapa guru di lapangan masih mengandalkan metode konvensional seperti tepuk tangan tanpa penjelasan fonetik ritmis, sehingga tidak secara optimal membentuk literasi notasi (Otodogo, 2. Kondisi inilah yang menunjukkan perlunya model pembelajaran ritmis yang lebih terarah dan berbasis prinsip pedagogi musik yang kokoh. Secara teoretis, rhythm syllables memiliki keunggulan karena dapat memperkuat koordinasi vokalAe motorik melalui proses pengulangan yang sistematis (Fioni & Wijayanti, 2. Verbalitas ritmis juga terbukti lebih efektif daripada metode hitungan angka . ne-and-two-an. dalam membantu siswa mencapai ketepatan tempo (Clarita et al. , 2. Kendati demikian, terdapat perdebatan di antara para peneliti mengenai apakah rhythm syllables sebaiknya digunakan sebagai metode permanen atau hanya sebagai scaffolding menuju notasi ritmis murni (Pangestu, 2. Perdebatan ini memperlihatkan adanya ruang kajian yang masih perlu dikembangkan, khususnya terkait efektivitas rhythm syllables dalam konteks pembelajaran di madrasah yang memiliki karakteristik siswa, kurikulum, dan gaya belajar yang berbeda dari sekolah umum. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas rhythm syllables dalam konteks pembelajaran notasi ritmis di MTs NW Loyok. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berlangsung dalam dua siklus untuk melihat proses perubahan kemampuan ritmis siswa secara komprehensif. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis pengaruh penerapan Metode Kodyly menggunakan rhythm syllables terhadap peningkatan kemampuan membaca notasi ritmis. menggambarkan perubahan keterlibatan, respons musikal, dan pemahaman siswa selama proses pembelajaran. menguji konsistensi peningkatan tersebut pada dua siklus tindakan kelas. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi teoretis bagi literatur pedagogi musik, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi guru seni budaya dalam menerapkan strategi pembelajaran ritmis yang efektif, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik pembelajaran di madrasah. Januari, 2026 | Issue 01 | Volume 02 M. Abidin saofi. Ainiawati. Sapriadi. Hilmiyatun / Penerapan Rhythm Syllables dalam Metode Kodyly untuk Pembelajaran Notasi Ritmis pada Siswa Kelas VII MTs NW Loyok METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Pendekatan kualitatif dipilih karena memberikan ruang bagi peneliti untuk memahami proses perubahan kemampuan ritmis siswa secara lebih mendalam, melalui pengamatan intensif, interaksi langsung, serta refleksi berkelanjutan setiap kali pembelajaran Dalam konteks pembelajaran musik berbasis vokal, pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti menangkap dinamika kelas secara natural, termasuk bagaimana siswa merespons instruksi guru, bagaimana pola vokalisasi berkembang dari pertemuan ke pertemuan, serta bagaimana proses internalisasi ritme terjadi melalui pengulangan sistematis dan praktik ketukan yang terstruktur (Putri & Safrina, 2024, hlm. Dengan demikian, pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih holistik terkait keberhasilan maupun tantangan dalam penerapan rhythm syllables di lingkungan madrasah. Subjek penelitian terdiri atas 21 siswa kelas VII MTs NW Loyok yang ditetapkan melalui teknik total sampling. Seluruh siswa dilibatkan karena pembelajaran ritmis dalam konteks kelas musik membutuhkan kondisi kooperatif, dimana perkembangan individu dan kelompok saling memengaruhi. Penelitian dilaksanakan di ruang kelas seni budaya yang memiliki ruang gerak cukup untuk melakukan aktivitas vokalisasi, tepuk pola ritmis, hingga latihan ketukan secara berkelompok. Observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mampu membaca pola ritme dasar secara tepat, terutama pada pola ti-tiAetaAeta-a dalam birama 4/4. Siswa tampak mengandalkan intuisi ketukan alih-alih aturan durasi formal, sehingga diperlukan intervensi berbasis rhythm syllables yang telah direkomendasikan dalam literatur Kodyly sebagai strategi penguatan literasi ritmis (Kinanti et al. , 2022. Otodogo, 2. Setiap siklus dalam penelitian ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, dan setiap pertemuan berdurasi 2 y 40 menit . sesuai alokasi waktu madrasah. Struktur pembelajaran pada setiap pertemuan mengikuti prinsip Kodyly yang menempatkan pengalaman auditori-vokal sebagai tahap awal sebelum siswa diperkenalkan pada notasi formal. Kegiatan dimulai dengan pemanasan vokal ritmis, latihan respons ketukan, pengucapan rhythm syllables secara bertahap, hingga pengaitannya dengan simbol notasi tertulis (Putri & Safrina, 2. Seluruh rangkaian pembelajaran dirancang untuk membantu siswa mengembangkan stabilitas tempo, akurasi pelafalan ritme, dan konsistensi ketukan Data penelitian dikumpulkan melalui observasi terstruktur, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengidentifikasi kemampuan siswa dalam melafalkan ritme, menjaga tempo, merespons ketukan guru, serta memperlihatkan koordinasi vokalkinestetik sesuai karakter pembelajaran Kodyly (Sihombing, 2. Wawancara singkat dilakukan kepada beberapa siswa untuk memperoleh pemahaman mengenai persepsi mereka terhadap penggunaan rhythm syllables, khususnya terkait kemudahan memahami durasi dan kejelasan pola ritme. Dokumentasi berupa foto, rekaman vokalisasi, serta catatan lapangan digunakan untuk menangkap detail perilaku musikal yang sulit ditangkap melalui observasi saja, seperti perubahan ekspresi, spontanitas siswa ketika merespons instruksi, maupun pola kesalahan ritmis yang sering muncul. Analisis data dilakukan menggunakan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan Proses reduksi dilakukan untuk memilih data yang relevan dengan fokus penelitian, seperti perubahan stabilitas tempo, ketepatan vokalisasi, atau dinamika kelas selama intervensi berlangsung. Data kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif naratif untuk mempermudah peneliti melihat pola perkembangan kemampuan ritmis siswa dari siklus I ke siklus II. Seluruh temuan kemudian dianalisis dengan triangulasi sumber agar hasil penelitian lebih valid, khususnya karena penelitian berbasis Kodyly membutuhkan kesesuaian antara data observasi, rekaman vokal, dan wawancara untuk memastikan bahwa perubahan yang terjadi benar-benar mencerminkan internalisasi ritmis siswa (Fioni & Wijayanti. Clarita et al. , 2. Pendekatan triangulatif ini juga mendukung esensi PTK yang berorientasi pada perbaikan praktik pembelajaran secara berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan rhythm syllables dalam Metode Kodyly memberikan peningkatan yang jelas dan bertahap terhadap kemampuan membaca notasi ritmis 21 siswa kelas VII MTs NW Loyok. Perubahan tersebut ditemukan melalui observasi langsung selama dua siklus 22 Volume 02 | Issue 01 | Januari, 2026 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 pembelajaran, masing-masing terdiri dari dua pertemuan dengan durasi 2 y 40 menit . Seluruh proses pembelajaran berlangsung secara alami, sehingga dinamika respons siswa dapat diamati secara detail mulai dari tahap awal hingga tahap akhir. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti mencatat perkembangan-perkembangan kecil tetapi signifikan yang muncul selama aktivitas vokalisasi, latihan ketukan, dan proses pengenalan notasi. Hal ini sejalan dengan pandangan Putri & Safrina . bahwa pembelajaran musik berbasis vokal tidak hanya menekankan hasil akhir tetapi juga proses internalisasi ritmis yang terjadi melalui interaksi langsung. Pada tahap pra-siklus, ditemukan bahwa sebagian besar siswa belum menunjukkan stabilitas ritmis yang memadai. Catatan lapangan menunjukkan bahwa pola ti-tiAetaAeta-a dalam birama 4/4 menjadi pola yang paling sulit dilafalkan secara konsisten. 17 dari 21 siswa mengalami keraguan atau ketidaktepatan Mereka cenderung mengandalkan intuisi dan bukan aturan ritmis, sebuah fenomena yang juga dilaporkan dalam penelitian Kinanti et al. pada konteks siswa kelas menengah yang masih membutuhkan dukungan verbal struktural. Kondisi ini menunjukkan bahwa siswa membutuhkan metode pembelajaran yang lebih konkret dan terarah, sesuai dengan karakteristik Metode Kodyly yang mengutamakan pengalaman auditori-vokal sebagai dasar pembentukan literasi musik. Selama Siklus I, perubahan kemampuan ritmis mulai terlihat meskipun belum sepenuhnya stabil. Melalui pengucapan rhythm syllables secara berulang, siswa mulai membentuk pola vokalisasi yang lebih konsisten. Meskipun beberapa siswa khususnya mereka yang berada pada kategori kemampuan awal rendah masih mengalami kesulitan mempertahankan tempo, pola ritmis mulai terdengar lebih sinkron pada latihan pertemuan kedua. Interaksi antar siswa juga mulai terbentuk, misalnya ketika mereka saling memberi tahu apabila ada ketukan yang terdengar terlalu cepat atau melambat. Temuan ini sejalan dengan pemikiran Clarita et al. bahwa struktur vokalisasi berbasis syllables membantu siswa memperjelas durasi dan mempermudah transisi menuju pembacaan ritme yang lebih stabil. Pada Siklus II, peningkatan terlihat lebih kuat dan konsisten. Hampir seluruh siswa mampu melafalkan pola ritmis tanpa berhenti, dan pergeseran durasi yang sebelumnya terjadi mulai berkurang secara signifikan. Pada sesi latihan vokalisasi cepat, siswa menunjukkan kemampuan mempertahankan tempo meski guru meningkatkan kecepatan ketukan secara bertahap. Ini memperkuat temuan Nagori . bahwa latihan bertahap dan pengulangan merupakan inti efektivitas Metode Kodyly dalam membangun sensitivitas ritme. Koordinasi antara vokal dan pola tepuk juga meningkat, ditandai dengan ketepatan ketukan yang lebih stabil dan minimnya jeda selama pengucapan syllables. Selain peningkatan aspek teknis, perubahan sikap belajar siswa juga tampak secara nyata. Pada awal pra-siklus, siswa menunjukkan ekspresi ragu dan cenderung pasif ketika diminta membaca notasi. Namun, seiring berjalannya intervensi, keterlibatan siswa meningkat. Mereka mulai menikmati proses membaca ritme, menyimak suara ketukan teman-temannya, dan menunjukkan antusiasme ketika berhasil melafalkan pola ritmis yang sebelumnya terasa sulit. Sesuai dengan konsep Kodyly bahwa musik harus Audiajarkan melalui keterlibatan penuh tubuh dan suara,Ay aktivitas vokalisasi membuat siswa merasa lebih percaya diri (Sihombing, 2. Beberapa siswa bahkan menyatakan bahwa syllables seperti AutaAy dan Auti-tiAy terasa lebih mudah diingat dibanding hitungan angka. Temuan ini mendukung argumen Clarita et al. bahwa verbalitas ritmis lebih efektif dalam mencapai ketepatan tempo dibanding metode hitungan numerik. Proses pengenalan notasi tertulis yang dilakukan setelah tahap vokalisasi juga memberikan hasil Pada awal penelitian, menghubungkan simbol notasi dengan durasi menjadi tantangan bagi Namun, setelah mengikuti struktur pembelajaran Kodyly yang mengutamakan vokalisasi sebelum penulisan notasi siswa mampu mengaitkan simbol ritmis dengan pola durasi secara alami. Hal ini selaras dengan pandangan Putra . bahwa rhythm syllables dapat menjadi Aujembatan konseptualAy yang mempermudah siswa memahami durasi notasi formal. Pada akhir siklus II, mayoritas siswa mampu membaca pola ritmis langsung dari notasi tanpa harus mendengarkan contoh terlebih dahulu. Selain itu, temuan penelitian juga menunjukkan peningkatan pada dimensi musikal yang lebih luas, seperti fluiditas pelafalan, kelenturan mengikuti perubahan tempo, dan kemampuan melakukan koordinasi antara vokalisasi dan gerakan tubuh. Aspek-aspek ini memperkuat argumen Wulandari . bahwa pendekatan Kodyly bukan hanya berfokus pada kemampuan membaca musik, tetapi juga pada pembentukan pengalaman musikal yang menyeluruh melalui tubuh, suara, dan persepsi ritmis. Dengan demikian, pembelajaran bukan hanya meningkatkan kemampuan teknis ritmis, tetapi juga memperkuat kecerdasan musikal siswa. Januari, 2026 | Issue 01 | Volume 02 M. Abidin saofi. Ainiawati. Sapriadi. Hilmiyatun / Penerapan Rhythm Syllables dalam Metode Kodyly untuk Pembelajaran Notasi Ritmis pada Siswa Kelas VII MTs NW Loyok Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan rhythm syllables dalam Metode Kodyly memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan ritmis siswa, baik dari segi stabilitas tempo, ketepatan pelafalan, pemahaman durasi, maupun sikap belajar. Proses peningkatan tersebut berlangsung secara bertahap dan teramati jelas melalui rangkaian dua siklus pembelajaran. Temuan ini menegaskan relevansi rhythm syllables sebagai strategi pembelajaran ritmis yang efektif di tingkat madrasah, terutama bagi siswa yang masih berada pada tahap awal literasi musik. Selain peningkatan yang tampak dalam perilaku vokal dan ketepatan ketukan, perkembangan kemampuan ritmis siswa juga terlihat melalui kecenderungan mereka untuk mengorganisasi pola ritme secara lebih mandiri. Pada siklus kedua, siswa mulai mampu memprediksi pola durasi sebelum guru memberikan contoh, menunjukkan bahwa proses internalisasi ritmis telah terbentuk dan berfungsi secara kognitif maupun motorik. Pola ini tampak ketika siswa diminta membaca notasi baru yang belum pernah diperkenalkan sebelumnya. sebagian besar siswa dapat melafalkan ritme dengan urutan syllables yang tepat, tanpa bergantung sepenuhnya pada arahan guru. Temuan ini relevan dengan gagasan Thaib & Karlan . bahwa ritme yang dipelajari melalui vokalisasi sistematis akan lebih mudah ditransfer ke pola ritmis baru karena siswa telah memiliki kerangka durasi yang tertanam dalam memori jangka Dengan demikian, perkembangan yang terjadi tidak hanya bersifat perilaku, tetapi juga menunjukkan peningkatan kemampuan representasi mental terhadap struktur ritme, sehingga aspekaspek keterampilan ritmis siswa dapat dianalisis lebih rinci sebagaimana disajikan dalam Tabel 1 No Aspek Fluency Flexibility Originality Elaboration Metaphorical Thinking Tabel 1. Aspek Keterampilan Ritmis Siswa Indikator Keterampilan Kelancaran membaca pola ritme tanpa berhenti. artikulasi ritmis Kemampuan beradaptasi dengan perubahan tempo dan pola ritmis. Kreativitas dalam menginterpretasi pola ritmis melalui latihan vokal Ketepatan detail dalam melafalkan durasi dan ketukan sesuai notasi Kemampuan memahami struktur ritme melalui asosiasi verbal dan pola Data kuantitatif hasil pretest dan posttest direkap dalam Tabel 2 yang menunjukkan peningkatan skor secara konsisten untuk seluruh aspek keterampilan ritmis. Tabel 2. Rangkuman Hasil Pretest dan Posttest Kemampuan Notasi Ritmis Aspek Keterampilan Pretest (Mea. Posttest (Mea. Peningkatan Fluency Flexibility Elaboration Stability Tempo Hasil grafik berikut menggambarkan peningkatan skor ritmis siswa secara visual, mendukung temuan bahwa pembelajaran berbasis rhythm syllables menghasilkan peningkatan yang stabil dan signifikan. 24 Volume 02 | Issue 01 | Januari, 2026 Eduversity: Journal of Future Interdisciplinary Education E-ISSN: 3109-1679 Gambar 1. Grafik Peningkatan Kemampuan Membaca Notasi Ritmis Siswa Kelas VII MTs NW Loyok KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan rhythm syllables dalam Metode Kodyly secara efektif meningkatkan kemampuan membaca notasi ritmis siswa kelas VII MTs NW Loyok. Peningkatan terlihat pada aspek kelancaran, ketepatan durasi, stabilitas tempo, dan pemahaman pola ritmis yang sebelumnya sulit dikuasai siswa. Melalui latihan vokal ritmis yang terstruktur dan berulang, siswa mampu menginternalisasi pola durasi dengan lebih cepat dan konsisten sehingga menghasilkan perubahan signifikan antara skor pretest dan posttest. Proses pembelajaran yang berfokus pada pelafalan ritmis juga memperkuat memori musikal siswa sehingga mereka lebih percaya diri dalam melafalkan dan mengeksekusi pola ritme selama kegiatan pembelajaran. Secara keseluruhan, penggunaan rhythm syllables terbukti memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan literasi ritmis dan menjadi pendekatan pembelajaran yang relevan dan efektif untuk diterapkan pada pendidikan musik tingkat DAFTAR PUSTAKA