DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 7, nomor 1, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/diksi. Implementasi Student Well Being di Sekolah Dasar: Studi Kasus SDN 1 Ncera Bima Dedi Purwanto*. Ahmadin STKIP Taman Siswa Bima. Bima. Indonesia *Coresponding Author: perseusibrahim@gmail. Article history Dikirim: 01-04-2026 Direvisi: 06-04-2026 Diterima: 08-04-2026 Key words: Implementasi. Student Well Being. Sekolah Dasar. Abstrak: Penelitian ini menjadi penting karena student well-being memiliki hubungan yang erat dengan kualitas pendidikan secara Kesejahteraan siswa yang baik dapat mendorong peningkatan prestasi belajar, pengembangan karakter positif, serta kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan di Penelitian mendeskripsikan implementasi student well-being di sekolah dasar melalui studi kasus di SDN 1 Ncera Bima. Student wellbeing merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan akademik maupun non-akademik peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, dan siswa yang dipilih secara purposive. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi student well-being di SDN 1 Ncera Bima dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu: penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif, . penguatan hubungan positif antara guru dan siswa, . penerapan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada siswa, serta . dukungan terhadap kesehatan mental dan emosional siswa. Meskipun demikian, masih terdapat kendala seperti keterbatasan pemahaman guru tentang konsep student well-being dan minimnya fasilitas pendukung. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan bagi guru serta dukungan kebijakan sekolah untuk mengoptimalkan implementasi student well-being. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa implementasi student well-being memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan kesejahteraan siswa di sekolah dasar. Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan kapasitas guru, pengembangan program berbasis kesejahteraan siswa, serta kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. PENDAHULUAN Pendidikan dasar memiliki peran strategis dalam membentuk fondasi perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan moral peserta didik. Pada tahap ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai lingkungan yang mendukung kesejahteraan menyeluruh siswa(Widodo. Konsep student well-being atau kesejahteraan peserta didik menjadi salah satu @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA isu penting dalam pendidikan modern karena berhubungan langsung dengan kualitas proses belajar, perkembangan karakter, serta keberhasilan jangka panjang siswa. Student well-being mencakup kondisi emosional yang positif, rasa aman, keterhubungan sosial, kenyamanan psikologis, serta kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai potensi dirinya. Secara ideal, implementasi student well-being di sekolah dasar seharusnya terintegrasi dalam seluruh aspek penyelenggaraan Lingkungan sekolah yang ideal adalah lingkungan yang aman, inklusif, ramah anak, dan mendukung kebutuhan akademik maupun non-akademik siswa. Guru berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang memahami kondisi psikologis siswa, mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, serta memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri(Fitriatin, 2. Dalam konteks ini, kurikulum, metode pembelajaran, manajemen kelas, serta budaya sekolah diharapkan selaras dengan prinsip-prinsip kesejahteraan siswa, seperti rasa memiliki . ense of belongin. , keterlibatan aktif, dan dukungan emosional yang berkelanjutan (Hardiansyah et al. , 2. Realitas yang terjadi implementasi student well-being di sekolah dasar, khususnya di daerah non-perkotaan, sering kali belum sepenuhnya berjalan secara Berbagai tantangan masih dijumpai, mulai dari keterbatasan pemahaman guru tentang konsep student well-being, fokus pembelajaran yang cenderung berorientasi pada capaian akademik semata,hingga keterbatasan sarana dan prasarana pendukung(Firdausi, 2. Di beberapa sekolah, perhatian terhadap kondisi emosional dan sosial siswa belum menjadi prioritas utama, sehingga aspek kesejahteraan siswa sering kali terabaikan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Hal ini juga dipengaruhi oleh beban administrasi guru, keterbatasan pelatihan profesional, serta budaya sekolah yang belum sepenuhnya ramah terhadap kebutuhan psikologis anak. SDN 1 Ncera sebagai salah satu sekolah dasar negeri di wilayah Kabupaten Bima memiliki karakteristik dan dinamika tersendiri dalam mengimplementasikan student well-being. Berdasarkan pengamatan awal, sekolah ini telah menunjukkan upaya-upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, seperti hubungan guru dan siswa yang relatif dekat, suasana kelas yang kekeluargaan, serta adanya nilai-nilai lokal yang menjunjung kebersamaan dan saling Namun, di sisi lain, masih terdapat tantangan dalam mengintegrasikan konsep student well-being secara sistematis dan terstruktur ke dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah. Implementasi yang dilakukan cenderung bersifat praktis dan intuitif, belum didukung oleh pemahaman konseptual yang komprehensif maupun kebijakan sekolah yang secara khusus menekankan kesejahteraan siswa(Faizah et al. , 2. Penelitian ini menjadi penting karena student well-being memiliki hubungan yang erat dengan kualitas pendidikan secara holistik. Kesejahteraan siswa yang baik dapat mendorong peningkatan prestasi belajar, pengembangan karakter positif, serta kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan di jenjang selanjutnya(Sasmito, 2. Dalam konteks sekolah dasar, perhatian terhadap student well-being juga sejalan dengan prinsip pendidikan ramah anak dan penguatan profil pelajar Pancasila, yang menekankan keseimbangan antara aspek akademik, sosial, emosional, dan spiritual(Azizah et al. , 2. Keunikan penelitian ini terletak pada fokus kajian yang menempatkan SDN 1 Ncera sebagai studi kasus dalam konteks Penelitian ini tidak hanya menggambarkan bagaimana konsep student well- @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA being diterapkan, tetapi juga mengeksplorasi praktik-praktik nyata yang berkembang secara alami di lingkungan sekolah, termasuk peran guru, budaya sekolah, serta nilainilai lokal yang memengaruhi kesejahteraan siswa. Pendekatan studi kasus, penelitian ini mampu memberikan gambaran yang mendalam dan kontekstual mengenai implementasi student well-being di sekolah dasar daerah, yang selama ini masih relatif terbatas dalam kajian akademik(Faizah et al. , 2. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian mengenai implementasi student wellbeing di SDN 1 Ncera menjadi relevan dan penting untuk dilakukan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian student well-being pada pendidikan dasar, sekaligus kontribusi praktis bagi sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal. KAJIAN TEORI Teori Student Well-Being (Konu dan Rimpel. Menurut Konu dan Rimpely, student well-being terdiri dari empat dimensi utama, yaitu having, loving, being, dan health. Dimensi having berkaitan dengan kondisi fisik sekolah seperti fasilitas dan keamanan yang mendukung kenyamanan belajar siswa. Dimensi loving menekankan pentingnya hubungan sosial yang harmonis antara siswa, guru, dan lingkungan sekolah(Indriani et al. , 2. Dimensi being mengacu pada kesempatan siswa untuk mengembangkan diri, berpartisipasi aktif, dan mengekspresikan potensi yang dimiliki. Sedangkan dimensi health berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik dan mental siswa. Teori ini memberikan kerangka yang komprehensif dalam memahami kesejahteraan siswa secara menyeluruh, sehingga sangat relevan digunakan untuk menganalisis implementasi student well-being di sekolah dasar (Fadhilaturrahmi, 2. Teori Kesejahteraan Psikologis Teori kesejahteraan psikologis yang dikemukakan oleh Carol D. Ryff menjelaskan bahwa kesejahteraan individu tidak hanya diukur dari kebahagiaan sesaat, tetapi dari fungsi psikologis yang optimal. Ryff mengemukakan enam dimensi utama, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi(Latief, 2. Dalam konteks sekolah dasar, teori ini menekankan bahwa siswa yang memiliki kesejahteraan psikologis yang baik akan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, memiliki hubungan sosial yang sehat, serta menunjukkan motivasi belajar yang tinggi. Implementasi student well-being perlu memperhatikan kondisi emosional dan psikologis siswa sebagai fondasi utama dalam proses pembelajaran (Sholihah & Kurniawan, 2. Teori Hierarki Kebutuhan Teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tersusun secara berjenjang, mulai dari kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Dalam konteks sekolah dasar, siswa perlu terlebih dahulu merasa aman secara fisik dan emosional sebelum dapat belajar dengan baik (Kosasih et al. Kebutuhan akan kasih sayang dan penghargaan dari guru maupun teman sebaya juga sangat penting untuk membangun rasa percaya diri siswa. Jika @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA kebutuhan-kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, maka siswa akan lebih mudah mencapai potensi maksimalnya dalam belajar. Oleh karena itu, implementasi student well-being harus memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar siswa sebagai landasan utama dalam proses pendidikan(Hidayati & Fadhilah, 2. Lingkungan Belajar yang Mendukung Lingkungan belajar yang kondusif merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kesejahteraan siswa. Lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif akan membantu siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar. Guru sebagai bagian dari lingkungan belajar memiliki peran penting dalam menciptakan suasana kelas yang positif, memberikan dukungan emosional, serta membangun interaksi yang sehat dengan siswa(Tanujaya, 2. Implementasi student well-being tidak hanya berfokus pada siswa sebagai individu, tetapi juga pada bagaimana lingkungan sekolah dapat mendukung perkembangan mereka secara optimal(Linggi & Waji. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian ini adalah studi kasus. Alasan menggunakan pendekatan studi kasus karena pendekatan studi kasus sangat cocok untuk mengetahui keadaan langsung di lapangan terkait dengan Implementasi Student well being. Penelitian ini dilakukan di SDN 1 Ncera Partisipan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan Siswa. Teknik pengambilan data dengan menggunakan wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles Huberman. Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif Miles & Huberman yaitu: Langkah langkah dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut: Penyajian Data Pengumpulan Data Reduksi Data Penarikan Kesimpulan Gambar 1. Prosedur Penelitian Pengumpulan data, peneliti melakukan dengan cara menemui narasumber lalu menggunakan pedoman wawancara dalam pengambilan data lapangan. Reduksi data, kemudian peneliti melakukan transkrip data dan melakukan analisis untuk sekaligus mencari tema penelitian dan mereduksi data-data yang tidak relevan dengan penelitian ini. Penyajian data, data-data yang sudah direduksi kemudian dicari tema besar dari penelitian kemudia disajikan ke dalam model analisis. Penarikan kesimpulan. Akhir dari penelitian adalah memberikan pembahasan dan kesimpulan terhadap substansi dari implementasi Student well being @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gambar 2. Hasil Triangulasi Wawancara Guru terkait Student Well Being Pembahasan Perlindungan dan Kesejahteraan Siswa Perlindungan dan kesejahteraan siswa merupakan dua aspek yang saling berkaitan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik. Dalam perspektif Psikologi Pendidikan, perlindungan siswa mencakup upaya menjaga keamanan fisik, emosional, dan sosial dari berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, maupun perundungan. Ketika siswa merasa aman, mereka akan lebih percaya diri dan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan Sementara itu, kesejahteraan siswa . tudent well-bein. mengacu pada kondisi di mana siswa merasa nyaman, bahagia, sehat, dan mampu berkembang secara optimal (Musafiri, 2. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development, kesejahteraan siswa meliputi aspek fisik, emosional, sosial, dan Perlindungan yang baik menjadi dasar terciptanya kesejahteraan tersebut. Secara teoretis. Abraham Maslow menjelaskan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebelum individu mencapai perkembangan Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, serta mendukung hubungan positif antara guru dan siswa. Perlindungan yang optimal akan mendorong terwujudnya kesejahteraan siswa dan berdampak positif pada proses serta hasil belajar (Hasanah, 2. Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru di SDN Ncera mengatakan Bahwa : AuApabila anak ini nakal dikelas maka kita akan melakukan pendekatan persuasif dan menanyakan masalah yang dia hadapin, karena kemungkinan besar anak itu nakal dalam kelas itu karena ketidaksanggungpan mereka dalam proses belajar mengajar. Apabila ada yang bertengkar dalam kelas @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA maka akan di panggil kedua belah pihak untuk di tanyakan masalahnya dan dicarikan Solusi atas masalah merekaAy Dalam konteks sekolah dasar di daerah seperti Bima, implementasi perlindungan dan kesejahteraan siswa juga perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya setempat. Nilai-nilai kearifan lokal, kebersamaan, dan gotong royong dapat dimanfaatkan sebagai modal sosial dalam membangun lingkungan sekolah yang ramah anak. Pendekatan yang kontekstual ini akan membuat program perlindungan dan kesejahteraan siswa menjadi lebih efektif dan berkelanjutan Motivasi Belajar. Nilai saling menghargai dan Bimbingan Keagamaan Dalam dunia pendidikan, keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh aspek akademik semata, tetapi juga oleh faktor psikologis, sosial, dan spiritual siswa(Darmawati et al. , 2. Tiga aspek penting yang saling berkaitan dalam hal ini adalah motivasi belajar, nilai saling menghargai, dan bimbingan Motivasi belajar merupakan kekuatan pendorong yang membuat siswa mau dan bersemangat untuk belajar. Tanpa motivasi, siswa cenderung pasif, kurang fokus, dan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan(Zubairi et al. , 2. Motivasi ini dapat tumbuh dari dalam diri siswa maupun dari lingkungan sekitar, seperti dukungan guru, keluarga, serta suasana belajar yang menyenangkan. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang mampu membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa. Nilai saling menghargai menjadi fondasi dalam membangun interaksi sosial yang sehat di lingkungan Siswa yang terbiasa menghargai orang lain akan lebih mampu bekerja sama, menerima perbedaan, dan menjaga hubungan yang harmonis dengan teman maupun Lingkungan belajar yang penuh dengan rasa saling menghargai akan membuat siswa merasa aman dan nyaman, sehingga mereka lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran(Ferdilla et al. , 2. Sementara itu, bimbingan keagamaan berperan dalam membentuk karakter dan moral siswa. Melalui bimbingan ini, siswa tidak hanya memahami ajaran agama secara teoritis, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti bersikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan saling tolong-menolong. Nilai-nilai keagamaan ini menjadi dasar dalam mengarahkan perilaku siswa agar tetap berada pada norma yang baik. Berdasarkan wawancara dengan Guru di dapatkan hasil : AuSebelum membuka kelas diberikan motivasi, arahan supaya saling mengharga dan menghormati, sebelum belajar mengajar ada kegiatan bimtak keagamaan yang berfungsi untuk penguatan agama agar siswa siswi tenang dan dekat dengan TuhanAy Salah satu guru juga mengatakan: AuDengan melakukan pendekatan secara khusus, kemudian dilakukan bimbingan kalau ada masalah. Tapi sebelum membuka ada bimtek. Dan pada saat kegiatan belajar mengajar ada kejenuhan di siswa-siswi maka dilakukan ice breaking. Pada saat jam istirahat tetap di kawal dan di control supaya tidak ada kemungkinan terjadi perundungan dan bullyingAy Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Motivasi belajar akan tumbuh lebih optimal dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai saling menghargai. Sementara itu, bimbingan keagamaan memperkuat landasan moral yang mendorong siswa untuk berperilaku positif, termasuk dalam menghargai @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA orang lain dan memiliki semangat belajar yang baik. integrasi ketiga aspek ini dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesejahteraan siswa secara menyeluruh(Munajat et al. , 2. Pendekatan Persuasif. Penyelesaian Konflik dan Perlakuan adil Dalam lingkungan pendidikan, interaksi antara guru dan siswa maupun antar siswa tidak terlepas dari berbagai dinamika sosial. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk menciptakan suasana belajar yang harmonis dan kondusif. Tiga pendekatan penting yang dapat diterapkan adalah pendekatan persuasif, penyelesaian konflik, dan perlakuan adil(Bawamenewi, 2. Pendekatan persuasif merupakan cara membimbing dan mengarahkan siswa melalui komunikasi yang lembut, dialogis, dan penuh empati. Guru tidak menggunakan paksaan atau hukuman yang bersifat menekan, melainkan memberikan pemahaman, motivasi, dan contoh yang baik. Melalui pendekatan ini, siswa akan lebih mudah menerima arahan karena merasa dihargai dan dipahami(Ianah et al. , 2. Pendekatan persuasif juga dapat membangun hubungan yang positif antara guru dan siswa, sehingga tercipta kepercayaan dan keterbukaan dalam proses pembelajaran. Penyelesaian konflik merupakan upaya untuk menangani perbedaan atau pertentangan yang muncul di lingkungan sekolah secara bijaksana dan konstruktif (Nugraha, 2. Konflik dapat terjadi karena perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau latar belakang siswa yang beragam. Dalam hal ini, guru berperan sebagai mediator yang membantu siswa menemukan solusi terbaik melalui dialog, musyawarah, dan saling pengertian(Rachman, 2. Penyelesaian konflik yang baik tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga mengajarkan siswa keterampilan sosial seperti komunikasi, empati, dan pengendalian emosi. Sementara itu, perlakuan adil merupakan sikap memberikan hak dan kewajiban kepada setiap siswa secara proporsional tanpa diskriminasi. Guru perlu memperlakukan semua siswa dengan setara, baik dalam pemberian perhatian, kesempatan belajar, maupun penilaian. Perlakuan adil bukan berarti menyamakan semua hal, tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing sisw (Darmawati et al. , 2. Dengan adanya keadilan, siswa akan merasa dihargai dan diperlakukan secara layak, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi belajar. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan saling mendukung dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang positif. Pendekatan persuasif membantu mencegah munculnya konflik, penyelesaian konflik yang baik menjaga keharmonisan hubungan, dan perlakuan adil memperkuat rasa kepercayaan serta kebersamaan di antara warga Dengan demikian, penerapan ketiga prinsip ini menjadi kunci dalam membangun suasana belajar yang damai, inklusif, dan berorientasi pada perkembangan karakter siswa(Ferdilla et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan student well-being di sekolah dasar merupakan upaya yang penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa secara Implementasi ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup kesejahteraan psikologis, sosial, dan spiritual siswa. Di SDN 1 Ncera @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Purwanto & Ahmadin. Implementasi Student Well Being di Sekolah DasarA Bima, student well-being diwujudkan melalui penguatan motivasi belajar, penanaman nilai saling menghargai, serta pelaksanaan bimbingan keagamaan yang terintegrasi dalam kegiatan sekolah. Motivasi belajar yang baik mendorong siswa untuk lebih aktif dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Nilai saling menghargai menciptakan interaksi sosial yang harmonis dan lingkungan belajar yang Sementara itu, bimbingan keagamaan berperan dalam membentuk karakter dan moral siswa sehingga mereka memiliki sikap disiplin, tanggung jawab, dan empati terhadap sesama. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi utama dalam mendukung terciptanya kesejahteraan siswa di sekolah. Dengan adanya implementasi yang konsisten dan kolaboratif antara guru, sekolah, dan lingkungan sekitar, student well-being dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan memiliki keseimbangan emosional serta spiritual. DAFTAR PUSTAKA