Pembaharuan Nahwu Menurut Shauqi Dhaif dan Ibrahim Musthafa Fatkhur Roji Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta fatkhurroji661@gmail. Abstrak Nahwu merupakan dasar dari ilmu bahasa Arab yang muncul pada abad pertama hijriyah. kemudian nahwu berkembang luas terbukti dengan banyaknya buku-buku kajian tentang nahwu yg membahas metode-metode di dalamnya, ditambah dengan munculnya kelompok-kelompok yang melakukan pendekatan tertentu sejak abad kedua hijriyah, munculkan kelompok Basroh. Kufah. Bagdad. Andalus dan kelompok Mesir hingga adab kelima hijriyah. Dalam Abad modern ini telah tampak upaya dari ahli bahasa Arab untuk merekonsktrusi bahasa Arab agar mudah dipahami oleh pelajar modern baik di Arab maupun non Arab. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi pustaka yang menggunakan pendekatan studi tokoh. Adapun yg menjadi sumber primer dalam penelitian ini adalah Kitab Ihyaun Nahwi karangan Ibrahim Musthofa dan Tajdidun Nahwi karangan Syauqi Dhoif. Data yang diperolah dianalisis dengan dua tahap, tahap pertama menggunakan analisis taksonomi dan kedua menggunakan analisis komparatif. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan Ibrahim Musthofa mendasari upaya pembaruan nahwu dengan pendekatan makna dan ini serupa dengan pemikiran J. R Firth. Syauqi Dhoif mendasari upaya pembaruan nahwunya dengan pendekatan fonologi menunjukkan pengaruh dari pemikiran Bloomfield. Adapun aspek persamaan dalam konsep pembaruan adalah menolak adanya istilah alamat farAoiyah dalam iAorob, mereka juga meniadakan bab A EIAdan saudaranya. A I EAdan saudaranya dalam bab al-marfuAoat, mereka juga menyepakati bahwa isim yang jatuh setelah A IAbukan merupakan tarkib isnadi. Aspek perbedaan keduanya dapat diringkas dari dasar landasan pembaruan dan dalam menyusun beberapa bab nahwu. Kata Kunci: Pembaharuan. Nahwu. Shauqi Dhaif. Ibrahim Musthafa Abstract Nahwu is the basis of Arabic science that emerged in the first century hijrah. then nahwu widespread evidenced by the many books the study of nahwu that discuss the methods in it, coupled with the emergence of groups that perform particular approach since the second century hijrah, trigger group basroh. Kufa. Baghdad, andalus and groups of Egyptians until adab to five hijrah. In this modern century has seemed the efforts of Arabic linguists to reconstruct the Arabic language to be easily understood by modern scholars in both the Arab AA38AA AAFatkhur RojiAA and non Arab. This research includes research literature that uses characterAA AAstudy approach. As for who becomes the primary source in this study was theAA AA Syauqi dhoif bouquet. AEIO O A bouquet andAEIOuOABook of Ibraham Musthofa AAThe data obtained were analyzed in two stages, the first stage using taxonomicAA analysis and the second using comparative analysis. The results of this studyAA AAindicate underlying Ibrahim Musthofa nahwu reform efforts with this approachAA AAis similar to the meaning and thought JR Firth. Syauqi dhoif underlying reformAA AAefforts nahwunya with phonological approach shows the influence of theAA AAthought of Bloomfield. As for the aspect of equality in the concept of renewal isAA AOON EI Arefused their term far'iyah address in i'rob, they also negate chapterAA AA, in chapter al-marfu 'at, they also agreed that isim that occurAOON EIA AA ,Aspects of the differences between them can beAuEIOEO A notAOON IAafterAA AAsummarized from the foundation of the reform and in preparing severalAA AAchapters nahwu. AAKeywords : Apdate. Nahwu. Shauqi Dhaif. Ibrahim Musthafa AIEAA AuI EIO AE II EOI EO OIN II ECI EOE ENO I I NO I OA ANO EE EO EIO II O IINNA UAOEE N EI EIOO IIA AECI EIO O ECI EI EOIC I EIO EOA . AOAO CI EIA C ONA AIOE O II EI EE EO EOO ONOE EIO EIEIOI EE EO AO EOA AOEIA . AO E AO N E EI EIOI EINO EI II EA AII EE EO NO uNOI IAAO OOCO OAA . AON E IEOA AIE IIN EAO OOEOI E uO EIO I uNOI IAAO O O EIO IA AOCO OA IA O AONA UAOOIE E EOEOI AONA UAEOE EAIOAO O EOEA AICIA . AAI E II N E EEIO AOI EOA :AAC uNOI IAAO AO EA AO EIO AO EN IE EIIOO O II AOA . AOI OCO OA AC IEA AEAO O II EOIAOEA . AOI ON N AO NI A EI Eu EAO OAA A EI OONA UAOE AO EIAOA UAOEO uIOI I OON II uEON O IIA. AOI ON uEA AO C N AO O ONIA UAAO IOC EE EIOOA. AeI EOO A :AOA UAEIOA UAOCO OAA UAuNOI IAAOA. AAEl-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020AA Fatkhur Roji Pendahuluan Upaya dalam memudahkan pengkajian ilmu nahwu telah ada sejak munculnya ilmu nahwu itu sendiri. Berbagai konsep dan metode telah dikemukakan oleh para tokoh nahwu, disadari atau tidak, bahwa perjalanan ilmu nahwu terus berjalan dari abad klasik dimana Ilmu Nahwu klasik yang telah menjadi satu disiplin ilmu di bawah tangan kreatif ulama Bashrah dan Kufah lalu disusul kemudian oleh ulama Baghdad dan Mesir, tidak terlepas dari kekurangan dan kritik konstruktif-epistemologis dari ulama Nahwu di belakangnya. Kritikan yang paling tajam sempat dilontarkan oleh seorang pakar bahasa Arab asal Kordova. Ibn Madla . 592 H) dalam ar-Radd 'ala Nuhat (Penolakan atas Ulama Nahw. yang ditulis sekitar tahun 581 H. Penolakan Ibn Madla dalam kitab ini berkisar pada teori rasionalitas dalam pembentukan ilmu Nahwu klasik yang cenderung AudipaksakanAy, sehingga tak jarang kita menemukan kerumitan-kerumitan dalam memahami logika ilmu Nahwu. Hingga abad modern bahkan kontemporer saat ini. Tentunya terdapat banyak sejarah tokoh, pemikiran-pemikiran, serta perdebatan yang terjadi. yang telah banyak memberikan warna tersendiri dalam khazanah Ilmu Nahwu. Dengan landasan itu, kiranya perlu banyak kajian terhadap Ilmu nahwu dalam rangka menggali lebih dalam sejarah perkembangan nahwu hingga sekarang. Karena sesungguhnya hal itu akan menjadi bukti eksistensi suatu peradaban. Dalam al-Muqaddimah-nya. Ibnu Khaldun memandang AuIlmu NahwuAy sebagai bagianintegral dari seluruh pilar linguistik Arab (AoUlum al-Lisany al Ara. yang terdiri empat cabang ilmu, yakni: Ilmu Bahasa (AoIlm al Lugha. Ilmu Nahwu (AoIlm al Nahw. Ilmu Bayan (AoIlm al Baya. dan Imu Sastra (AoIlm al Ada. 2 Disiplin Nahwu ini pada masa formasinya sangat sederhana dan bersifat praktis. Didorong semangat rasa tanggung jawab terhadap agama, ilmu Nahwu dimaksudkan sebagai pelurusan terhadap bacaan-bacaan bahasa Arab . erutama ayatayat al-QurAoa. yang dianggap menyalahi bacaan konvensional. Kesalahan-kealahan bacaan tersebut dalam tradisi bahasa dan bangsa Arifudin. Akademi Ilmu Tata Bahasa Arab di Andalusia: Kronologi dan Kontribusi. (Surabaya. Jurnal Sastra Arab, 2. Hal. 2Al-Hasyimi. Al-Sayyid Ahmad, al-Qawaid al- Asasiyah Li al-Lughah alArabiyyah, (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Arab disebut Aual-LahnAy, yaitu kekeliruan dalam berbahasa yang karenanya telah dianggap tidak fasih lagi. Adalah Abu Aswad al-Dauli, seorang hakim di kota Bashrah. Irak, pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib merasa prihatin terhadap semakin maraknya lahn. Abu Aswad yang juga sebagai ahli qiraAoat tentu merasa sangat bertanggung jawab untuk menjaga al-QurAoan dari pengaruh lahn. Oleh karena itu, dia mulai merumuskan tanda-tanda bacaan tertentu untuk mempertahankan bacaan yang mutawatir Dalam hal ini bacaan al-QurAoan yang ditulis pada masa khalifah Utsman bin Affan . l-Mushaf al-Utsman. Tanda-tanda bacaan yang dirumuskan oleh Abu Aswad ini sangat sederhana, yakni hanya berupa Autitik-titikAy. Titik dibagian atas sebuah huruf, titik dibagian bawah huruf, dan titik dibagian kiri-atas sebuah 4 Titik-titik pada huruf inilah yang kemudian hari dikenal dengan istilah Aual-fathah, al-Kasrah dan al-DhammahAy, kemudian pada periode perkembangan Nahwu, dalam arti yang sebenarnya, fathah, kasrah dan dhammah menjadi bagian yang terpenting dalam pembicaraan ilmu Nahwu tersebut, yaitu dijadikan sebagai tanda-tanda iAorab (Aoalamat alIAora. Ilmu Nahwu sebagaimana yang kita kenal sekarang ini yang sarat dengan berbagai aturan dan teori meupakan hasil dari sebuah proses yang cukup panjang dalam sejarah linguistik Arab. Dimulai dengan kegiatan kodifikasi dan sistemisasi kosakata bahasa Arab yang cukup menyita waktu, barulah para ahli bahasa . l-Lughawiyyun, linguisti. membangun dan meletakkan prinsip-prinsip dasar aturan bahasa 5 Prinsip-prinsip dasar nahwu pada mulanya bersifat sangat sederhana, kemudian berkembang menjadi sebuah AuilmuAy yang sangat pelik dan rumit. Nahwu tidak lagi sekedar berfungsi sebagai aturan atau tatabahasa yang bersifat deduktif, tetapi juga telah menjadi . alah sat. instrumen memahami al-QurAoan itu sendiri yang pada gilirannya memunculkan banyak teori nahwu yang dikembangkan oleh para ahli Haniah. Analisis Kesalahan dalam Berbahasa Arab pada skripsi mahasiswa Jurusan Bahasa Arab dan Sastra Arab, (Makassar: Arobi:Journal Of Arabic Studies Vol. 3 No. Hal. 4 Sri Guno Najiib Chaqoqo. Sejarah Nahwu, (Salatiga: LP2M Press IAIN Salatiga Cet. 1, 2. Hal. 5 Zam Zam Afandi. Bias Tiologis dalam Linguistik Arab, (Yogyakarta. Jurnal Adabiyat Vol. 7 No. 5, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Hal ini tentu, paling tidak menurut hemat penulis, justru semakin mempersulit memahami dan mempelajari ilmu Nahwu itu Teori-teori nahwu ini kian tambah rumit setelah ilmu ini juga dikembangkan oleh para teolog dan juga para filosof yang berupaya memasukkan prinsip-prinsip logika dan rasionalitas ke dalam ilmu 6 Kesan rumit dan pelik ini diperparah lagi dengan munculnya aliran-aliran dalam nahwu. aliran Basharh. Kufah. Bagdad dan Andalusia yang masing-masing memiliki karakter dan mengembangkan prinsip-prinsipnya sendiri. Dengan rumitnya masalah nahwu, sehingga penulis perlu merumuskan bahwa pembaharuan nahwu menurut Shauqi Dhaif dan Ibrahim Musthafa, perbedaan-perbedaan pembaharuan nahwu oleh kedua tokoh tersebut. Metode Penelitian Artikel ini merupakan studi literatur atau pustaka dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Sumber primer penelitian ini adalah karya-karya Shauqi Dhaif dan Ibrahim Musthafa. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptis analisis. Disebut deskriftis guna membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, corak serta hubungan7 pembaruan nahwu yang diusung oleh keduanya. Adapun metode analisis ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci terkait pembaharuan nahwu dari keduanya sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan rekomendasirekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang. 8 Metode komparatif tidak luput digunakan dalam penulisan artikel ini untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang perbedaan dan kesamaan Shauqi Dhaif dan Ibrahim Musthafa dalam pembaharuan nahwu. Biografi Shauqi Dhaif Toni Franciska. Konsep I'rob dalam Ilmu Nahwu "sebuah kajian epistemologis", (Yogyakarta: Jurnal al-Mahara Vol. No. 1, 2. Hal. 7 M. Nazir. Metode Penelitian. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1. Hal. Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung: CV. Alfabeta, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji yauqi Dhaif lahir di Aulad Hamam. Mesir pada 13 Januari 1910, dan wafat pada14 Maret 2005, pada usia 95 tahun. 9Syauqi Dhaif mengawali upayanya dalam pembaharuan nahwu dengan pen-tahqiqannya terhadap buku karangan Ibnu Madha yaitu ar-Radd ala an-Nuhat wa al-Masyriq fi an-Nahwi, yang telah memberi warna baru dalam khazanah ilmu nahwu. Beliau merekonstruksi kembali pemikiran nahwu yang telah berkembang selama ini yang dianggap menyulitkan pengajaran nahwu dengan perinsip mudah, gampang, ringkas, sederhana, dan mudah dipahami oleh para pelajar bahasa Arab. Beliau menuangkan pemikirannya tersebut dalam beberapa bukunya yaitu Tajdid al-Nahwi. Taisiraat Lughawiyah, dan Taisiru al-Nahwi al-TaAolimi Qadiman wa Haditsan maAoa Nahji Tajdidihi. Diantara ketiga buku ini, yang paling masyhur dalam khazanah ilmu nahwu adalah yang pertama yaitu Tajdid al-Nahwi, yang menyajikan konsep-konsep yang sempurna dalam pengajaran nahwu, dan juga memberi warna-warna baru yang disandarkan atas perinsip-perinsip dasar yang bersumber dari buku Ibnu Madha. Pada dasarnya karya-karya yang disusun beliau dimaksudkan untuk senantiasa dalam mempelajari nahwu menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami, hal ini dimaksudkan supaya pembelajaran nahwu tidak mendapatkan kesulitan dalam memahami bab-bab nahwu. Biografi Ibrahim Musthafa Jika kita membahas tentang Ibrahim Mustafa tidak enak rasanya jika kita tidak mengetahui tentang beliau, beliau dilahirkan di andalus pada tahun 1863 hijriah dan meninggal pada tahun 1927 hijriah, 10 Ibrahim musthafa adalah representasi kritikus dan pembaharu nahwu abad modern yang banyak mengilhami para ahli nahwu lain mengikuti pandangan dan pola berpikirnya. Ibrahim adalah seorang dosen pada fakultas Adab Universitas FuAoad al-Awal . ini menjadi Universitas Kair. Pada tahun 1936 ia menyelesaikan karyanya dibidang nahwu yang ia beri judul AuIhya al-NahwiAy . evitalisasi ilmu nahw. dan setahun Eva Ardinal. Pemikiran Syauqi Dhaif Dan Upaya Pembaharuannya di Bidang Pengajaran Nahwu, (Kerinci: Jurnal Islamika Vol. 13 No. 2, 2. Hal. 10 Rena Umamawati,Min Naqd Ibrahim Musthafa Fi Ba'd Al Masaail Al Nahwiyah Fi Kitabihi Ihya Al Nahwi, (Surabaya: Tesis Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji kemudian yaitu pada bulan Juli 1937 diterbitkan oleh lajnat al-taAolif wa al-tarjamah wa al-nasyr Kairo dengan kata pengantar doktor Taha Husain yang memuji buku tersebut, kitab ini menjadi salah satu dari kitab pertama tentang pembaharuan ilmu nahwu, dia memberi nama kitab ini berdasarkan saran dari doktor Taha Husain. Pada bagian pengantarnya. Ibrahim Musthafa menyatakan sebagai berikut: AyBuku ini membahas tentang nahwu yang aku geluti selama tuju tahun tetapi aku sajikan hanya dalam beberapa lembar saja. Tujuanku adalah untuk mengubah metode nahwu dalam mempelajari bahasa Arab, melenyapkan bahasan nahwu yang memberatkan para pelajar dan menggantinya dengan cara-cara yang mudah dan simpel sehingga mereka dapat dengan mudah mempelajari bahasa Arab, juga uslub-uslubnya . AAy. Dan pada akhir kitabnya dia beliau menyatakan AuiAorab itu tidak ada pada fiil, iAorab itu hanya ada pada ism, karena fiAoil itu tidak bisa diiAorab. Pembaharuan Nahwu Shauqi Dhaif Dalam pen-tahqiq-annya beliau merumuskan bahwa dalam upaya pembaharuan nahwu terdapat enam pokok konsep yang ditawarkan, yang meliputi: Penyusunan kembali bab-bab dalam nahwu yang tumpang tindih, menambahkan, dan mengumpulkan bab-bab yang dianggap Seperti contoh Bab AEI OONAhendaknya dimasukkan pada bab fiAoil lazim. Teori merofaAokan isim dan menasobkan khobar diubah dengan isimnya menjadi failnya dan khobarnya menjadi hal saja. Menghapus dua peng-iAorab-an, yaitu taqdiri dan mahalli. Seperti contoh dari I. rab taqdiri adalah A EAOAdibaca rofaAo tanpa harus menyebutkan rofaAo muqoddar yang aslinya dzommah . Menghapus iAorab yang tidak efisien untuk kebenaran dalam pengucapan. IAorab yang danggap tidak efisien tersebut adalah bab ististnaAo, bab adawat syarat, kam istifhamiyah dan khabariyah, kata AEOIAdan AIAyang disukun. Meletakkan pengertian-pengertian dan kaidah-kaidah yang lebih spesifik pada sebagian bab-bab nahwu. Secara garis besar Syauqi Ade Wahyu. Perkembangan Ilmu Nahwu Kontemporer, (Jakarta: Makalah UIN Syarif Hidayatullah, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Dzaif berpendapat ada tiga definisi topik pembahsan materi nahwu yang perlu diperbaharui, yaitu bab MafAoul Mutlaq. MafAoul maAoah, dan bab hal. Membuang penambahan-penambahan dalam bab nahwu yang Seperti kaidah-kaidah isim alat, karena isim alat bersandar pada simaAoi, dan tidak membuthkan . Penambahan topik yang dianggap signifikan. Seperti penambahan pembahasan khusus yang disertai kaidah-kaidah pengucapan atau makhraj, kerena dapat menumbuhkan kesadaran dalam menjaga al-Qur'an. Beliau berpendapat bahwa fiAoil mudhoriAo yang bersambung dengan nun taukid tidak berbeda dengan fiAoil mudhoriAo yang di dahului oleh amil nashob dimana keduanya sama-sama berkhir dengan harakat fathah. Seperti pada contoh kalimat AEIA A AAdari AAIA. Sebagaimana telah diketahui bahwa fiAoil mudhoriAoyang bersambung dengan nun taukid mabni fathah. Jika fiAoil mudhoriAo yang bersambung dengan nun taukid berharakat fathah karena nashob, lalu bagaimana dengan contoh: acAE IIA ANA c AI OA. Lafadz acAIIAdinashobkan sedang lafadz tersebut didahukui oleh AEAnahi yang notabene adalah huruf jer. Apakah nashob dan jer bisa berkumpul dalam satu keadaan yang sama? Beliau juga merekomendasikan untuk menyamakan fiAoil mudhoriAo yang bersambung dengan nun niswah dalam IAorab jazem. Seperti pada contoh: AOAIA A EI EIA. AOAIA A EI EIA. AOAIA AEIA Beliau juga menganggap bahwa khobar dapat berupa marfuAo, mansub dan majzum. Ketika nashob seperti contoh: AO Ea IOA . Ketika jer seperti contoh: AEI EEOA AOI aEA Anggapan beliau pada isim A uIAdan saudara-saudaranya sebagai mubtadaAo yang didaca nashob dengan hujjah bahwa mubtadaAo bisa dibaca jer ketika didahului oleh A aAdan huruf jer yang Musthafa Ghalayaini. JamiAoud Durus al AoArabiyyah, (Kairo: Darul Hadits, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji berupa tambahan. Beliau berdalih: Aujika mubtadaAo bisa dibaca jer, kenapa kita tidak mengatakan kalau mubtadaAo bisa dibaca . Pada contoh: A a CO sE IA II AOEAdan AOEO sE EIO E O OENA. lafadz ACOEAdan AEOEAjelas dibaca jer karena sebagai mudhof ilaih, tetapi lafadz tersebut berkedudukan sebagai mubtadaAo. Sedang yang dimaksud oleh Dr. Syauqi Dhoif sebagai mubtadaAo yang dibaca nashob seperti pada contoh: AuI EENa EOI OA Beliau mengatakan Ausesungguhnya mudhaf ilaih itu menyerupai isim yang ikut pada isim yang lain walaupun wajib dibaca jer. Seperti contoh AE CEIA. disini jelas bahwa lafadz ACEIAmengikuti lafadz AEA. Bisa juga kta katakan AECEI EEAsebagai susunan sifat atau badal. Beliau merekomendasikan untuk mengabaikan faAoil ataupun naibul faAoil ketika dalam bentuk dhomir mustatir. contoh: AEA a A IIA. AO CIA. Menurut hemat beliau, tidak perlu repotrepot mengiAorabi kedua contoh yang telah disebut karena faAoil dan naibul faAoil dari keduanya AuhanyaAy dhomir yang tidak terlihat oleh mata. Rekomendasi beliau untuk mengabaikan IAorab pada jumlah. Pada contoh: AI E OAlafadz AOAdiiAorabi jer karena sebagai sifat dari lafadz AEAyang nakiroh. Tetapi pada contoh: AI EEA A OAlafadz AOAdalam keadaan nashob karena sebagai hal. Sebagaimana perkataan para ahli nahwu bahwa Ausetiap jumlah yang jatuh setelah isim nakiroh berupa sifat, tetapi jika setelah maAorifat maka jumlah tersebut berkedudukan sebagai hal. Beliau menganjurkan untuk mendalami penjelasan tentang kedudukan isim mabni, isim manqus, dan isim maqsur. Beliau berpendapat bahwa isim-isim ini perlu pejelasan lebih detail tentang kedudukannya pada kalimat, yang mana pada setiap IAorab yang ditempati, isim-isim ini tetap sama seperti sediakala. Pembaharuan Nahwu Ibrahim Musthafa Redevenisi Nahwu Ali Muzhir Al Yasiri. Al-Fikr al-Nahw Aoinda al AoArb Usulu wa Manahijuhu, (Beirut: al Dar al-Arabiyyah Li al MaushuAoat, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Sebelum mengajukan definisi nahwu menurut versinya. Ibrahim Musthafa terlebih dahulu mengkritik para ulamaAonahwu klasik yang pada umumnya memberi definisi nahwu dengan:Aypengetahuan yang dengannya dapat diketahui posisi akhir kata baik dari segi muAorab maupun mabninyaAy Dengan definisi nahwu seperti itu, lanjut Ibrahim, kajian nahwu hanya berkutat dan terfokus pada pada huruf-huruf terakhir pada sebuah kata-kata, khususnya lagi tentang muAorab dan Definisi seperti ini, kritik Ibrahim, sama dengan mempersempit wilayah kajian nahwu. Bagi Ibrahim pengertian nahwu adalah Auaturan penyusunan kalimat dan penjelasan posisi setiap kata yang ada di dalamnya, posisi kalimat dalam kaitannya dengan kalimat lain yang lebih luas, sehingga menjadi sebuah ungkapan/susunan yang sistematis dan memiliki pengertian yang memadaiAy. Penolakan pada amil Sebelum mengkritik dan menolak konsep amil ini. Ibrahim Musthafa terlebh dahulu menggali dan mengambil intisari dari konsep amil tersebut dengan menyatakan sebagai berikut: Aulebih dari seratus ribu tahun mereka menekuni dan mengkaji masalah iAorab dan kaidah-kaidahnya, tetapi apa hasil yang mereka dapat dan kaidah-kaidahnya, tetapi apa hasil yang mereka dapat untuk membongkar rahasia iAorab dan hakikatnya? Pada prinsipnya kajian mereka menyatakan bahwa IAorab adalah wujud adanya pengaruh dari amil baik yang verbal . maupun yang Mereka membicarakan tentang amil, syarat-syaratnya dan cara kerjanya seacara panjang lebar hingga seolah-olah konsep amil bagi mereka adalah nahwu itu sendiriAy. Beliau mengklarifikasikan sebagai berikut:15 Setiap tanda iAorab merupakan pengaruh dari amil, jika amil tersebut tidak disebutkan secara langsung maka harus diperkirakan . , memang ada amil yang harus tidak disebutkan tetapi yang pasti ia wajib ditakdirkan Abdullah, ad- Dars an-Nahwi fi al- qarn al-isyrin, (Kairo: Maktabah Adab, 2. Hal. Hazuar. Konsep I'rab dalam Pandangan Ibrahim Mustafa dan Ibrahim Anis, (Curup : Jurnal Arabiyatuna Vol. 3 No. 1, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji . Dalam satu jumlah bisa terdapat dua amil muqaddar yang tidak sama seperti dalam contoh: " A CONAUAAyuC EENI CO O EEAeCO EEA Dua amil tidak boleh ada dalam waktu bersamaan untuk sebuah maAomul. Kalau kasus ini terjadi maka para ulamaAo nahwu klasik membagi cara kerja keduanya, satu amil mempengaruhi terhadap lafadz sedangkan amil satunya lagi beroperasi pada segi posisinya seperti dalam kasusu kalimat:"A"E NA. Huruf AubaAy pada kata AuhasbikaAy bermal pada lafadz AuhasbikaAy itu sendiri, sedangkan amil ibtidaAonya beramal pada posisinya yang menjadi mubtadaAo. Dari kasusu semacam ini lalu mereka menciptakan teori Aual-TanyzuAoAy . aling betrebut dalam berama. yang sangat rumit dan berbelit-belit. Pada prinsipnya yang dapat menjadi amil adalah fiAoil semata dan hanya beramal pada isim, baik rafaAo nashab. FiAoil hanyaa dapat merafaAokan satu isim saja, menasabkan lebih dari satu isim tetapi dapat merafaAokan dan menasabkan sekaligus. FiAoil yang mutasharrif . ukan jami. memiliki daya beramal sempurna, sedangkan fiAoil jamid dapat berlaku sebagai amil tapi sebagai amil yang lemah. Ia tidak dapat beramal kepada kata yang mendahuluinya, bahkan diantaranya ada dapat menjadi amil setelah memenuhi beberapa syarat tertentu seperti fiAoil yang berfungsi sebagai taAoajub, juga kata niAoma dan biAosa. Sedangkan fiAoil naqis hanya dapat beramal kepada mubtadaAo dan khabar. Isim juga dapat berfungsi sebagai amil karena dipersamakan dulu dengan fiAoil seperti isim faAoil, isim mafAoul dan isim mashdar. Setiap isim yang tidak memiliki kemiripan dengan fiAoil maka ia tidak dapat beramal atau menjadi amil. Cara kerja isim tidak terbatas pada sesama isim saja, tetapi juga dapat beramal pada fiAoil, ia dapat merafaAokan dan menashabkan isim, tetapi terhadap fiAoil ia hanya dapat menjazamkan saja. Huruf memiliki dua cara ia sebagai amil. pertama, ia berdiri sebagai huruf asli dan tidak dipersamakan terlebih dahulu El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji dengan fiAoil, kedua dapat beramal jarena dipersamakan dengan fiAoil. Huruf dapat beramal baik terhadap isim fiAoil, merafaAokan. Terhadap isim, huruf dapat beramal menjazamkan dan menasabkan. Jika huruf tersebut dalam proses amalnya dipersamakan dengan fiAoil, maka kekuatan amalnya dilihat dari sejauhmana huruf tersebut memiliki kemiripan dengan fiAoil baik dari segi makna maupun Huruf AuinnaAy, misalnya, ia dapat beramal karena ia memiliki arti yang berfungsi meperkuat pernyataan . Oleh sebab itu, ia memiliki kesamaan dengan fiAoil dari segi maknanya, disamping itu huruf AuinnaAy juga terdiri dari tiga huruf, karenanya ia mirip dengan fiAoil dari segi Jika AusyiddahAy yang ada pada huruf AuinnaAy itu dihilangkan dan menjadi AuinAy saja, maka ia akan kehilangan daya kemiripannya dengan fiAoil yang berarti pula semakin lemah beramalnya. Huruf baru bisa beramal setelah ia menjadi pasangan khusus bagi kata-kata atau kalimat tertentu. Huruf AulanAy dan AulamAy misalnya, keduanya dapat beramal terhadap fiAoil mudhariAo sebab keduanya memang hanya dapat berpasangan dengan fiAoil mudhariAo. Ini berbeda misalnya dengan huruf AuqadAy, huruf ini tidak dapat beramal seba ia tidak memiliki pasangan khusus, ia dapat masuk pada fiAoil mudhariAo maupun fiAoil madhi. Sebuah huruf dapat beramal yang tidak sama dalam menurut konteks dan posisinya, misalnya seperti hurur AulyAy, ia terkadang dapat beramal sebagaimana amalnya AulaisaAy dan juga beramal seperti huruf AuinnaAy. Posisi amil berada sebelum maAomulnya, tetapi jika amil itu termasuk kategori amil yang kuat, maka ia dapat diletakkan setelah maAomulnya. Pada prinsipnya antara amil dan maAomul harus terkait langsung, tidak ada pemisah diantara keduanya, namun jika amil termasuk kategori yang kuat maka ia dapat dipisah dengan maAomulnya. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Amil-amil yang bekerja untuk fiAoil memiliki posisi lebih lemah daripada amil-amil yang bekerja untuk isim. Sebab amil-amil yang bekerja untuk fiAoil terkadang dapat dihilangkan jika telah terpenuhi syarat-syaratnya seperti huruf-huruf yang berfungsi sebagaiAuadawyt al-syarthiAy. Sebuah kata, dapat berfungsi sebagai amil dan juga maAomul sekaligus, tetapi dua kata tidak dapat saling beramal. Bagian kata saja tidak dapat berperana sebagai amil. Ada beberapa amil yang hanya dapat beramal dari segi AumahalnyaAy saja, bukan pada lafadznya karena adanya halhal tertentu yang membuatnya demikian. Sekelompok huruf yang memiliki cara beramal sama, maka mereka akan dimasukan dalam sebuah keluarga seperti AuinnaAy dan AukynaAy. Masing-masing dari keluarga huruf tersebut memiliki cara kerja yang lebih luas. Itu sebabnya, ia disebut sebagai Auummul babAy . nduk dari ba. , masingmasing mereka juga memiliki hak beramal yang tidak dimiliki yang lain di luar kelompok mereka. Penyatuan tempat antara mubtada, fail dan naibul fail Menurut beliau disatukannya ketiga bab tersebut karena antara ketiganya itu sama-sama isim, karena ketiga hukumnya sama-sama rafaAo, kata beliau Aujika kita melihat bab ini, kita akan menemukan bab yang menyebabkan ketiganya itu bisa dimasukkan dalam satu babAy. Fathah bukanlah alamat IAorob Jika selama ini tanda IAorab yang dikenalkan dalam nahwu ada tiga macam yaitu. fathah, kasrah dan dhammah, maka menurut Ibrahim musthafa fathah tidak dimasukkan ke dalam salah satu tanda iAorab. Jadi menurutnya, tanda iAorab itu hanya ada dua yaitu dhammah dan kasrah, keduanya muncul bukan karena adanya pengaruh dari amil tetapi dari sipembicara sendiri untuk menentukan makna dari kalimat. Dhlommah adalah tanda dari isnad, sedangkan kasroh adalah tanda dari idlafah. Dalam kategori yang dibuat Ibrahim ada dua bahasan nahwu yang termasuk menerima tanda kasrah ini atau yang disebut idafah yaitu idafah konvensional . ata majmu. dan idafah yang didahului oleh huruf . seperti huruf Aumin. ilaAo Aoan. AoalaAo fiAo El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji dan lain sebagainya yang olehnya disebut sebagai huruf idhafah . uryf al-Idhafa. Sedangkan fathah menurut beliau bukanlah termasuk dalam tanda IAorab karena menurut beliau fathah tidak enimbulkan atau menunjukkan maAona apapun, adi sebenarnya fathah itu adalah tanda yang disukai orang arab dikarenakan fathah itu lebih ringan dari tanda yang lainnya. Penolakan terhadap alamat IAorab fariyah . Disamping iAorab asli . hammah, kasrah dan fatha. , para ahli nahwu klasik pada umumnya juga menciptakan iAorab cabang atau yang biasa disebut dengan Aual-AoAlymat al-FarAoiyyahAy yang beperan sebabagi pengganti dari iAorab yang asli. Dalam kasus al-AsmaAo al-Khamsah, seperti contoh-contoh berikut ini: "A I OEAUA O EAUAAy OEA, menurut ahli nahwu klasik yang pertama alamat rafaAonya ditandai dengan huruf AuwawuAy, yang kedua alamat nasabnya ditandai dengan huruf AualifAy sedang dalam contoh ketiga alamat jarnya ditandai dengan huruf AuyaAoAy Persamaan Menurut Shauqi Dhaif Dan Ibrahim Musthafa Segi Sejarah Keduanya sama-sama terdapat pengaruh dalam pembaharuan nahwu sesuai yang tertuang dalam kitab al-Raddu 'ala al-Nuhah dan sesuai dengan penolakan Ibnu Madha dari Teori 'Amil yang penggunaannya sesuai pendapat ulama terdahulu dalam mabni nahwu araby. Segi Panjangnya Keduanya dalam sepanjang pembaharuan dan mempermudah dari pengembangan nahwu arab dalam kurun waktu 20 tahun, dan keduanya terdapat pembaharuan dalam bahasa Arab sesuai yang terlihat jelas pada karangan kitab keduanya. Segi Pembelajaran Keduanya dari perguruan tinggi mesir dan keduanya dari anggota perkumpulan bahasa Arab. Segi Pemahaman Pembaharuan . Keduanya sepakat menolak tanda i'rob far'iyah dan menolak fathah sebagai tanda I'rob. Keduanya sepakat isim sesudah AEIA tidak ada isim kaana dan tidak ada khabar kaana karna keduanya tidak dari musnad dan musnad ilaih, adapun isim sesudah kaana El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji dinamakan fail kaana dan adapun khabar kaana dinamakan hal . adapun dalam hukum isim sesudah kaada dan saudaranya dan isim musyabihat dengan tanpa menggunakan A EAUAEA Segi Qowaid Nahwu Keduanya sepakat dalam bab A IAdan saudaranya isim sesudah dzanna dinamakan maf'ul dan dan ashlinya mubtada khabar dan keduanya menolak terhadap dasar dan tidak adanya isim sesudah musnad dan musnad ilaih. Perbedaan Shauqi Dhaif dan Ibrahim Musthafa16 Perbedaan Segi Analisis Shauqi Dhaif Ibrahim Musthafa Dalam kita Tajdid al- Pada Nahwu tampak jelas terdapat pada kitab muqodimah Ihya al-Nahwu yang Dasar harakat paling penting dalam Segi Dasar pembaharuannya Pembaharuan pemahaman kalimat ucapan kalimat dan jumlah lafadz maknanya yang di suara dan terjadi pada kumpulkan didalam setiap 'irob untuk jumlah. memperbagus dalam Tidak menambah bab Menambah dalam bab al-Tawabi' khabar dalam bab alseperti al- tawabi' Segi Qowaid nahwu Khalib. terdapat lima bab Membuang bab al- diantaranya na'at. Tanaazi' al- 'athaf, taukit, badal dan isytighal dalam bab al- khabar. Membahas bab alTanaazi' alIsytighal dalam bab al-takmilah al-Bahs. Kisno Umbar. Pembaharuan nahwu versi Ibrahim musthafa dan shauqi dhaif, (Malang : Skripsi UIN Maulana Malik Ibrahim, 2. Hal. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Dalam pembaharuan nahwu tidak terdapat batasan nahwu al-wadhih, dan Segi Pengetahuan dari Nahwu nahwu adalah ilmu berbagai hal pada akhir kata arab dari segi I'rob dan bina'. Nahwu undang-undang dalam menentukan al-Kalam, setiap kata yang wajib dalam kata memecah ibarat dan ma'nanya. Kesimpulan Pembaharuan nahwu menurut shauqi dhaif Dalam kita Tajdid alNahwu tampak jelas dalam muqodimah Dasar harakat pembaharuannya dalam pemahaman ucapan kalimat dan lembutnya lafadz suara dan terjadi pada setiap 'irob untuk memperbagus dalam ucapan. Sedangkan menurut Ibrahim Musthafa Pada dasarnya terdapat pada kitab Ihya alNahwu yang paling penting dalam keadaan akhir kalimat dalam jumlah dan maknanya yang di kumpulkan didalam jumlah. Terdapat perbedaan antara Shauqi Dhaif dan Ibrahim Musthafa hal tersebut dikaitkan dengan segi dasar pembaharuan, segi Qowaid Nahwu dan segi pengetahuan nahwu, hal tersebut dapat dilihat bahwa Dalam kitabnya pembaharuan nahwu tidak terdapat batasan dalam mengetahui nahwu al-wadhih, dan dari mengetahui nahwu menurut ulama terdahulu, nahwu adalah ilmu untuk mengetahui berbagai hal pada akhir kata arab dari segi I'rob dan bina, sedangkan menurut Ibrahim Musthafa Nahwu merupakan undang-undang dalam menentukan al-Kalam, dan penjelasan pada setiap kata yang wajib dalam kata jumlah, jumlah beserta beberapa jumlah, sehingga memecah ibarat dan memungkinkan dalam penekanan ma'nanya. El-Ibtikar Vol 9 No 1 Juni 2020 Fatkhur Roji Daftar Pustaka