AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Legenda Ubi Langalese Batu Merah Yang Menyimpan Penyesalan Di Desa Pido Kecamatan Alor Timur Laut Kabupaten Alor Sifra Eunike Lauring1. Saptarika Mikidori2 . Siria Mei Kamutlaka3. Silpa Maiko4. Trivonia Ata5. Petrus Mau Tellu Dony6 Universitas Tribuana Kalabahi Email: lauringsifra@gmail. com1 saptarikarika51@gmail. siriameikamutlaka2@gmail. com3, silpamaiko@gmail. com4 attaivon@gmail. petrusdony2@gmail. Abstrak Legenda Ubi Langalese adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari Desa Pido. Kecamatan Alor Timur Laut. Kabupaten Alor. Legenda Ubi Langalese ini sangat menarik untuk diteliti karena ceritanya diwariskan secara lisan oleh masyarakat setempat sehingga memiliki cerita yang bervariasi dan bersifat pralogis. Kisah ini mengandung nilai-nilai budaya, tradisi, dan moral yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Cerita ini tidak hanya menceritakan kehidupan keluarga Ubi Langalese, seorang perempuan yang cerdas, pemberani, dan penuh kasih, tetapi juga menggambarkan konflik yang muncul akibat pengambilan keputusan tanpa komunikasi yang baik dalam keluarga. Batu Ubi Langalese. Batu Lagawa, dan Batu Longbuk, sebagai simbol-simbol yang berasal dari legenda ini, memiliki makna mendalam bagi masyarakat Desa Pido. Legenda ini mencerminkan hubungan yang erat antara manusia dengan alam sekaligus menjadi pengingat pentingnya menghormati adat dan tradisi leluhur. Selain itu, legenda ini menyampaikan pesan moral yang relevan dengan kehidupan modern, seperti pentingnya komunikasi dalam keluarga, penghormatan terhadap pusaka adat, introspeksi atas kesalahan, dan pengendalian diri dalam menghadapi emosi. Melalui penelitian ini, legenda Ubi Langalese dikaji secara mendalam untuk mengungkap nilai-nilai budaya, moral, dan simbolis yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis, melibatkan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, observasi lapangan di situssitus bersejarah, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Ubi Langalese tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya lokal, tetapi juga memiliki potensi sebagai media edukasi dan refleksi moral bagi generasi mendatang. Dengan mendokumentasikan legenda ini, diharapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas kolektif masyarakat Desa Pido. Kata Kunci: Legenda. Ubi Langalese. Batu Merah. Tradisi. Desa Pido PENDAHULUAN Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya yang mencerminkan identitas dan nilai-nilai suatu masyarakat. Menurut Dundes . , cerita rakyat memiliki AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 peran krusial dalam membangun solidaritas sosial dan merefleksikan nilai-nilai yang dipegang oleh suatu komunitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Sisyono, dkk . yang menyatakan bahwa cerita rakyat adalah salah satu karya sastra yang lahir, hidup, dan berkembang di beberapa generasi dalam masyarakat tradisional, baik masyarakat tersebut telah mengenal huruf maupun belum. Cerita-cerita ini disebarkan secara lisan, mengandung unsur survival, bersifat anonim, dan berkembang di antara kolektif tertentu dalam kurun waktu yang cukup lama. Cerita rakyat juga tidak hanya disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi, tetapi kini telah banyak dipublikasikan secara tertulis melalui berbagai media, sebagaimana dijelaskan dalam The Freencylopedia . Hal ini menunjukkan bahwa cerita rakyat tetap relevan dalam kehidupan modern, tidak hanya sebagai bentuk hiburan tetapi juga sebagai media pelestarian budaya dan edukasi. Legenda Ubi Langalese dari Desa Pido. Kecamatan Alor Timur Laut, merupakan salah satu contoh cerita rakyat yang memiliki nilai historis dan simbolis mendalam bagi masyarakat setempat. Batu Ubi Langalese, yang menjadi pusat legenda ini, tidak hanya berfungsi sebagai simbol hubungan antara manusia dengan alam, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan legenda Ubi Langalese serta mengeksplorasi makna dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan mendasarkan pada pendapat ahli dan analisis mendalam, diharapkan legenda ini dapat terus hidup sebagai bagian penting dari identitas kolektif masyarakat Desa Pido dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ialah data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi lapangan dan Wawancara dilakukan dengan beberapa tokoh yaitu . Bapak Marten Maure . Bapak Harim Lauring, dengan Teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis deskriptif kualitatif. AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 HASIL PENGABDIAN DAN PEMBAHASAN CERITA RAYAT Legenda Ubi Langalese dimulai dengan kehidupan harmonis Ubi Langalese, bersama suaminya Lagawa, seorang raksasa, dan anak mereka, yang bernama Longbuk yang tinggal di kampung atemang. Ubi Langalese dikenal sebagai seorang perempuan yang cerdas, penuh kasih, dan pemberani. Lagawa, di sisi lain, adalah seorang raksasa tangguh yang sangat dihormati di kampung mereka. Keluarga ini hidup sederhana tetapi bahagia. Mereka memiliki moko, pusaka berharga yang diwariskan dari leluhur. Moko ini adalah simbol kehormatan dan kekayaan, yang harus dijaga dengan penuh kehormatan. Pada suatu hari, saudara laki-laki Ubi Langalese dari susurmana datang meminta bantuannya. Ia membutuhkan moko untuk membayar denda adat di kampungnya. Dengan niat baik dan keberanian sebagai seorang perempuan. Ubi Langalese menyerahkan moko itu tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Lagawa suaminya. Ketika Lagawa mengetahui bahwa istrinya ubi langalese telah memberikan pusaka keluarga mereka kepada saudaranya. Lagawa sangat marah. Ubi Langalese mencoba menjelaskan, namun lagawa tidak menerima penjelasan apapun dari istrinya, karna bagi Lagawa, tindakan itu adalah pelanggaran kepercayaan dan adat. Lagawa, yang merasa terluka dan dikhianati, memutuskan untuk meninggalkan rumah bersama anak mereka. Longbuk. Dengan penuh amarah. Lagawa berjalan menjauh dari Atemang. Longbuk, anak kecil yang lugu, ikut bersama ayahnya. tengah perjalanan. Longbuk jatuh sakit. Meskipun Lagawa adalah seorang raksasa yang kuat, ia tidak sanggup merawat anaknya dalam kondisi seperti itu. Dengan berat hati, ia meninggalkan Longbuk di sebuah tempat. Tempat itu kini dikenal sebagai Longbuk, di mana sebuah batu besar berdiri. Batu itu diyakini sebagai wujud Longbuk, yang terus menggigil dan bergetar sebagai tanda kesedihan seorang anak yang ditinggalkan. Lagawa melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Sungai Lagawa, sebuah sungai besar yang berarus deras. Giluwa, roh penjaga sungai, merasa ketakutan melihat kedatangan Lagawa. Giluwa tahu bahwa jika Lagawa turun ke sungai seluruh alam akan hancur. Lagawa, yang masih diliputi amarah, akhirnya memilih berhenti di sana. Dengan penuh kesedihan, ia berubah menjadi sebuah batu hitam besar yang kini dikenal sebagai Batu AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Lagawa. Batu itu berdiri kokoh di tepi sungai, menjadi simbol kekuatan, kemarahan, dan Sementara itu. Ubi Langalese yang ditinggalkan merasa sangat menyesal. Ia sadar bahwa keputusannya telah memisahkan dirinya dari keluarganya. Dengan hati yang penuh luka, ia meninggalkan Atemang dan berjalan ke arah timur, mencari tempat untuk merenungkan kesalahannya. Ubi Langalese tiba di sebuah tempat bernama Bultamane. sana, ia menetap dan merenungkan segala kesalahannya. Tubuhnya kemudian berubah menjadi Batu Ubi Langalese, batu merah besar yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Batu ini kini menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati masyarakat Desa Pido. Jika cahaya kuda merah muncul di sisi batu itu, itu menjadi pertanda bahwa tahun tersebut akan membawa keberuntungan dan panen yang melimpah. PESAN MORAL Legenda Ubi Langgalese. Lagawa, dan Longbuk memberikan pelajaran berharga bagi Pentingnya Komunikasi dalam Keluarga. Keputusan sepihak tanpa berdiskusi dapat merusak keharmonisan. Keluarga harus selalu mengutamakan komunikasi dan saling Penghormatan terhadap Tradisi Leluhur. Moko melambangkan nilai-nilai adat yang harus dijaga. Kisah ini mengingatkan pentingnya menghormati warisan budaya. Kekuatan dan Kerendahan Hati. Lagawa, meskipun seorang raksasa kuat, akhirnya berhenti karena menyadari bahwa kekuatan tanpa kendali dapat membawa kehancuran. Penyesalan dan Pembelajaran. Ubi Langalese, yang menyesali keputusannya, menunjukkan bahwa introspeksi adalah langkah penting untuk belajar dari kesalahan, meskipun itu tidak selalu mengembalikan keadaan. AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Gambar Batu Lagawa Gambar Batu Ubi Langalese KESIMPULAN Legenda Ubi Langalese dari Desa Pido. Kecamatan Alor Timur Laut. Kabupaten Alor, merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai budaya, moral, dan simbolis. Kisah ini menggambarkan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, menghormati adat, dan melestarikan pusaka leluhur. Batu Ubi Langalese. Batu Lagawa, dan Batu Longbuk menjadi simbol konkret yang mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai luhur tersebut. Keberadaan situs-situs ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai penanda penting bagi identitas kolektif masyarakat setempat. Secara moral, legenda ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang baik dalam keluarga dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan. Kisahnya memberikan pelajaran bahwa keputusan yang diambil tanpa diskusi dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak Selain itu, legenda ini juga mengingatkan akan dampak negatif dari kemarahan yang tidak terkendali, menegaskan perlunya pengendalian emosi dalam menjaga harmoni keluarga dan masyarakat. Dari sisi simbolis, situs-situs bersejarah yang terkait dengan legenda Ubi Langalese tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya lokal, tetapi juga memiliki makna spiritual yang Situs-situs ini menjadi cerminan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. Melalui cerita ini, masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan tradisi. AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Dokumentasi legenda Ubi Langalese diharapkan dapat membantu melestarikan nilainilai budaya yang terkandung di dalamnya sekaligus menjadi aset yang berharga bagi identitas budaya masyarakat Desa Pido. Dengan terus menghidupkan cerita ini, generasi penerus tidak hanya dapat mengenali akar budaya mereka, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Legenda ini, dengan segala nilai yang dimilikinya, menjadi bukti nyata betapa kaya dan mendalamnya tradisi masyarakat Alor. SARAN Generasi muda Desa Pido perlu diberdayakan untuk memahami, melestarikan, dan menghidupkan kembali cerita legenda Batu Ubi Langalese Dan Batu Lagawa, sehingga nilai-nilai budaya dan moral yang terkandung dalam kisah ini tetap terjaga. Libatkan legenda Batu Ubi Langalese Dan Batu Lagawa dalam program edukasi, seperti kegiatan sekolah atau lokakarya komunitas, untuk memperkenalkan tradisi lokal kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Desa Pido. Angkat simbol-simbol legenda Ubi Langalese, seperti Batu Lagawa dan Batu Longbuk, sebagai ikon budaya Desa Pido dengan mempromosikannya melalui festival budaya, karya seni, atau media digital untuk menarik perhatian wisatawan dan masyarakat luas. Lestarikan situs-situs bersejarah yang terkait dengan legenda ini dengan menjaga lingkungan sekitar, menciptakan kawasan perlindungan budaya, dan melibatkan masyarakat dalam program pelestarian adat. Ciptakan dokumentasi multimedia berupa cerita bergambar, video dokumenter, atau arsip digital yang memuat kisah Ubi Langalese serta makna-makna simbolisnya, untuk menjadikannya warisan yang mudah diakses oleh generasi masa depan. Semoga pengetahuan yang telah dibagikan dapat bermanfaat bagi generasi mendatang dan menjadi inspirasi dalam menjaga warisan leluh. AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 DAFTAR PUSTAKA