Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Desember 2022 Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Uang Panai Sebagai Harga Diri Perempuan Suku Bugis Bone (Antara Tradisi dan Gengs. Rinaldi1. Achmad Hufad2. Siti Komariah3 Muhammad Masdar4 Pendidikan Sosiologi. FIPS Universitas Pendidikan Indonesia Email: rinaldi@upi. Pendidikan Sosiologi. FIPS Universitas Pendidikan Indonesia Email : achmadhufad@upi. Pendidikan Sosiologi. FIPS Universitas Pendidikan Indonesia Email : sitikomariah@upi. Sosiologi Pendidikan. STKIP Cokroaminoto Email : muhammadmasdar710524@gmail. Abstract. This article aims to understand the meaning of Uang Panai as the self-esteem of Bugis Bone women both in terms of tradition and in terms of prestige. Panai Money is traditionally something that must be fulfilled by men before marrying a Bugis woman, giving Panai Money is sometimes influenced by prestige so that the amount of panai money demanded by women's families is very large. This research uses a case study method with a qualitative approach. The data collection technique is through interviews, observation, and documentation studies. The data is then analyzed by looking at the tradition of giving panai money to women from the Bugis Bone tribe which is then influenced by prestige. The results showed that: . Giving panai is traditionally an obligation that must be fulfilled by the men, without panai there can be no marriage. The tradition of panai money becomes prestige in the Bugis Bone community so that the amount of panai money is very high. When you want to see the social status of women, look at the amount of pennies that men give to women, the higher the money that is given, the higher the social status of women. Keywords : Panai Money. Social Status. Tradition. Prestige. Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk memahami makna uang panai sebagai harga diri perempuan suku Bugis Bone baik dari segi tradisi maupun dari segi gengsi, uang panai secara tradisi merupakan sesuatu yang harus dipenuhi pihak laki-laki sebelum menikahi perempuan suku bugis, pemberian uang panai terkadang dipengaruhi gengsi sehingga jumlah uang panai yang diminta keluarga perempuan sangatlah besar. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Data kemudian dianalisis dengan melihat tradisi pemberian uang panai kepada perempuan suku Bugis Bone yang kemudian dipengaruhi oleh gengsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Pemberian uang panai secara tradisi merupakan kewajiban yang harus dipenuhi pihak laki-laki, tanpa uang panai maka tidak ada pernikahan. Tradisi uang panai menjadi gengsi dalam masyarakat suku Bugis Bone sehingga jumlah uang panai sangat tinggi. Ketika ingin melihat status sosial perempuan lihatlah berapa jumlah uang panai yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, semakin tinggi uang panai yang diberikan maka semakin tinggi status sosial perempuan. Kata Kunci : Uang Panai. Status Sosial. Tradisi. Gengsi PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki masyarakat multikultural dengan ragam budaya dan adat istiadat yang tersebar dari pelosok desa sampai kepusat kota yang mencerminkan identitas lokal disetiap daerah yang membedakannya dengan daerah lain. Keragaman budaya setiap daerah berbeda-beda dan memiliki karakteristik tertentu sesuai dengan tradisi adat istiadat dalam suatu Dalam kehidupan masyarakat suku bugis, nilai tradisi yang masih kental dan membudaya sampai sekarang menggambbarkan bagaimana identititas lokal dan watak masyarakat Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 suku Bugis Bone (Soekanto, 2010. , seperti budaya siriAo na pacce, siri yang bermakna: rasa malu . arga dir. , harga diri berkaitan dengan kehormatan seseorang yang tidak bisa dibeli dengan uang, harga diri berkaitan dengan kehormatan seseorang dan setiap orang harus saling menghargai. Sedangkan pacce atau disebut pesse dalam bahasa Bugis yang bermakna: . eras atau memiliki pendirian koko. Pacce bermakna tentang bagaimana seseorang memiliki integritas atau pendirian yang keras dan tegas terhadap suatu persoalan. Budaya yang berkaitan erat dengan budaya siri na pacce yaitu budaya pernikahan pada masyarakat suku bugis tentang pemberian uang panai olek pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Uang panai merupakan tradisi yang melahirkan gengsi dalam masyarakat suku bugis. Sedangkan uang panai menurut Koentjaraningrat . yaitu uang panai yang diberikan keluarga mempelai laki-laki kepada keluarga mempelai perempuan untuk memenuhi kebutuhan pada saat melaksanakan pernikahan, dalam hal ini uang panai juga bisa disebut sebagai uang belanja. Pemberian uang panai melihat kondisi sosial dan hubungan kekeluargaan seorang perempuan, semakin tinggi martabat perempuan maka semakin dihormati dengan memberikan uang panai yang Jumlah pemberian uang panai melihat kondisi dan status pada keluarga pihak mempelai perempuan, semakin tinggi status keluarga perempuan maka uang panai yang diminta akan cukup besar sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan bagi pihak perempuan ketika uang panai yang diminta dapat dipenuhi keluarga mempelai laki-laki. Uang panai juga terkadang menimbulkan berbagai permasalahan sosial dalam masyarakat diantaranya silariang . awin lar. dan hamil diluar Tingginya permintaan uang panai dijadikan sebagai gengsi untuk menunjukkan status sosial dalam masyarakat (Yansa & Perkasa, 2. Besarnya permintaan uang panai mempelai perempuan terkadang membuat mempelai laki-laki akhirnya membatalkan lamarannya dan terkadang membuat keputusan yang melenceng dari budaya siri . asa mal. , seperti kawin lari dan hamil diluar nikah. Permintaan uang panai yang tinggi juga sebagai bentuk penolakan secara halus kepada laki-laki dengan dalih bahwa mempelai laki-laki tidak akan sanggup memenuhi uang panai nya. Pada dasarnya uang panai menurut masyarakat Bugis Bone memiliki tujuh makna yang terkandung didalamnya, diantaranya: adat istiadat yang merupakan nilai utama yang harus dijaga, harga diri keluarga, jenjang Pendidikan, kesanggupan materi, pesta pernikahan, tanggungjawab dan komitmen (Erlangga, 2. Pada perkembangan sekarang ini, masyarakat suku bugis memandang uang panai sebagai gengsi yang menjadi tradisi dan membudaya, sehingga setiap tahun uang panai mengalami peningkatan dan dijadikan sebagai ajang perlombaan untuk mematok anak perempuan dangan uang panai yang tinggi, dengan pemberian uang panai yang tinggi merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan pihak keluarga perempuan. Pembahasan pertama pada saat proses lamaran berlangsung adalah besaran uang panai. Tradisi pemberian uang panai kepada perempuan terkadang menjadi beban pikiran laki-laki jika ingin menikahi perempuan suku bugis apalagi perempuan tersebuat memiliki strata sosial yang tinggi dalam masyarakat, maka membuat pihak laki-laki berpikir panjang untuk melangsungkan lamarannya karena jangan sampai lamarannya berujung pada penolakan. Makna uang panai telah bergeser, dimana pemberian uang panai dijadikan sebagai gengsi yang menjadi tradisi masyarakat suku Bugis yang kemudian memberatkan keluarga mempelai laki-laki (Artasia, 2. Tradisi pemberian uang dalam masyarakat suku Bugis merupakan warisan dari leluhur yang harus dijaga, tradisi uang panai merupakan tardisi yang harus ada dalam pernikahan masyarakat suku Bugis karena tanpa uang panai maka tidak ada pernikah (Alfariz, 2. Pemberian uang panai dari pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan merupakan suatu pembuktian tentang tanggungjawab laki-laki yang ingin menikahi perempuan, hal ini juga merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan untuk keluarga perempuan (Santi, 2. Pada perkembangan masyarakat suku Bugis dimana dulunya uang panai hanya berupa pemberian uang belanja untuk keperluan pesta pernikahan perempuan tapi kini proses pemberian uang panai diikuti juga pemberian berupa harta benda seperti pemberian rumah, mobil, tanah, emas maupun berlian. Hal inilah yang kemudian menjadi gengsi dalam masyarakat, dimana uang panai bukan lagi tradisi tapi kini menjadi sebuah gengsi yang menjadi tradisi dalam masyarakat suku Bugis Bone (Artasia, 2. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Adanya pergeseran makna tersebut menimbulkan problematika di masyarakat suku Bugis Bone, seperti silariang . awin lar. , hamil diluar nikah dan perawan tua. Proplematika tersebut sangat melengceng dari budaya siri dan merupakan aib bagi sebuah keluarga (Daeng. Rumampuk, & Damis. Masyarakat suku Bugis khususunya masyarakat Kabupaten Bone menganggap bahwa pemberian uang panai merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi pihak mempelai laki-laki. Jika pihak laki-laki tidak mampu memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan maka pernikahan tidak jadi atau dibatalkan. Kebiasaan inilah yang berlaku pada masyarakat suku Bugis yang ada di Kabupaten Bone sejak dulu hingga sekarang dan menjadi tradisi yang menimbulkan Uang panai merupakan suatu hal yang wajib dipenuhi pihak laki-laki sebelum melangsungkan pesta pernikahan, hal ini diartikan suatu pemberian berupa sejumlah uang kepada calon mempelai perempuan, faktor yang mempengaruhi tingginya permintaan uang panai diantaranya, status sosial perempuan misalnya keluarga bangsawan, tingkat pendidikan, status ekonomi, kondisi fisik perempuan, dan pekerjaan (Alfariz, 2. Salah satu kabupaten yang ada di provinsi Sulawesi Selatan memilik persfektif yang berbeda dalam memaknai uang panai dan menuai banyak pandangan tentang pemberian uang panai yaitu di Kabupaten Bone, ketika melihat pemberian uang panai kepada pihak mempelai keluarga perempuan yang ada di kabupaten ini yang dimana memiliki patokan uang panai yang cukup besar dibandingkan kabupaten lain yang ada di provinsi Sulawesi Selatan. Perempuan di Kabupaten Bone ini memasang uang panai yang tergolong tinggi, berkisar Rp. 000,00-100. 000,00 bahkan lebih dari itu. Melihat fenomena yang terjadi tentang pemberian uang panai yang begitu tinggi terkadang dijadikan sebagai gengsi dan menimbulkan banyak persepsi di lingkungan masyarakat khususnya masyarakat suku Bugis Bone. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Sedangkan teknik analisis datanya yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Uji keabsahan datanya menggunakan triangulasi. Titik fokus dalam Penelitian yaitu makna uang panai sebagai harga diri perempuan suku Bugis Bone dengan melihat sudut pandang sebagai tardisi dan dan gengsi dalam masyarakat. Untuk memperoleh gambaran yang mendalam mengenai permasalahan tersebut, peneliti akan mengidentifikasi permasalahan dan makna pemberian uang panai kepada mempelai perempuan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Konsep Uang Panai Uang panai dalalm masyarakat Suku Bugis biasa juga disebut uang belanja, hal ini dikarenakan pemberian uang panai dari pihak mempelai laki-laki digunakan sebagai keperluan untuk memenuhi kebutuhan pada saat acara pernikahan. Uang panai merupakan sesuatu yang sangat penting tanpa uang panai maka pernikahan juga tidak ada, proses penentuan besaran uang panai merupakan bembahasan awal antar kedua belah pihak, dan terkadang pernikahan tidak jadi dikarenakan permasalahan besaran uang panai yang diminta keluarga mempelai perempuan. Tingginya permintaan uang panai erat kaitannya dengan budaya siri atau dikenal dengan rasa malu, ketika pemberian uang panai tidak sesuai dengan tingkat pendidikan perempuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan perempuan maka uang panai yang diminta akan besar untuk tetap menjaga kehormatan dan rasa malu keluarga perempuan sehingga permintaan uang panai terkadang dijadikan sebuah gengsi dalam masyarakat yang kemudian menjadi tradisi sehingga nilai-nilai adat istiadat tentang uang panai melenceng, dimana bukan lagi dijadikan sebagai tradisi tetapi dijadikan sebagai gengsi dalam masyarakat (Harmita, dkk, 2019, hlm. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Hubungan antara uang panai dan nilai dalam masyarakat merupakan suatu citra diri perempuan dan keluarganya, (George & Douglas, 2016, hlm. hal ini dikarenakan semakin tinggi uang panai yang diminta keluarga perempuan maka semakin tinggi harga diri perempuan tersebut baik dari segi status sosial misalnya keluarga bangsawan, kekayaan, tingkat pendidikan dan kecantikan perempuan. Uang panai merupakan pemberian sejumlah uang dari pihak mempelai lakilaki kepada pihak mempelai perempuan, pemberian uang merupakan sesuatu yang wajib dipenuhi pihak laki-laki sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada keluarga perempuan dan akan digunakan sebagai uang belanja dalam memenuhi kebutuhan pernikahan (Huda & Eyanti, 2. Pemberian uang panai dalam pandangan islam merupakan sesuatu yang biasa apalagi berkaitan dengan adat istiadat dalam masyarakat, selama uang panai tidak memberatkan salah satu pihak keluarga dan adanya kesepakatan bersama antar kedua belah pihak antara keluarga mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Uang panai dalam proses pernikahan masyarakat suku Bugis Bone merupakan simbol penghargaan dan penghormatan kepada keluarga mempelai perempuan, semakin tinggi uang panai yang diberikan menunjukkan kedudukan dan status sosial keluarga lakilaki dan perempuan (Alimuddin, 2020. Asfahany, 2. Tujuan dari pemberian uang panai merupakan suatu penghormatan kepada keluarga mempelai perempuan, adapun besaran jumlah uang panai dipengaruhi beberapa faktor seperti keluarga bangsawan, faktor ekonomi, tingkat pendidikan, dan fisik atau kecantikan dari pihak calon mempelai perempuan, besaran uang panai yang dipatok pihak keluarga perempuan terkadang menjadi motivasi bagi pihak laki-laki yang ingin melamar perempuan yang disukai, disisi lain tingginya permintaan uang panai sering mengakibatkan kandasnya harapan pihak laki-laki, ini menimbulkan dampak negatif seperti hamil diluar nikah dan kawin lari bahkan ada yang sampai bunuh diri jika pernikahannya tidak direstui (Daeng & Damis, 2019. Nadiyah, 2. Besaran permintaan uang panai dalam masyarakat suku Bugis Bone kisaran angkat 40 juta, 50 juta, 70 juta, 90 juta, bahkan ada yang lebih dari 100 juta. Besaran uang panai ditentukan pada saat negosiasi antara dua belah pihak yaitu keluarga laki-laki dan keluarga perempuan, dimana keluarga perempuan mematok basaran uang panai terlebih dahulu sehingga keluarga laki-laki diberikan kesempatan apakah bisa dipenuhi ataukah tidak bisa dipenuhi sehingga proses negosiasi berlangsung dan sampai kepada keputusan akhir apakah diterima atau tidak. Budaya uang panai merupakan suatu proses penetapan besaran jumlah uang belanja yang diminta pihak keluarga perempuan, jika terlalu besar uang panai yang diminta terkadang menimbulkan berbagai persoalan baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan, dari pihak laki-laki tidak dapat memenuhi permintaan dari keluarga perempuan sehingga terpaksa meminjam hutang kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan uang panai yang diminta keluarga perempuan dan banyak juga laki-laki yang terpaksa mundur sehingga pernikahan tidak dilaksanakan, disisi lain persoalan yang dihadapi perempuan ketika mematok uang panai yang tinggi yaitu laki-laki tidak dapat menyanggupi sehingga perempuan khawatir akan hal itu, dalam hal ini perempuan tersebut akan menjadi Auperawan tuaAy yang merupakan sebuah istilah bagi perempuan yang sudah dewasa atau lanjut usia tapi belum menikah (Arifuddin, 2. Uang Panai Sebagai Harga Diri Perempuan Suku Bugis Bone Tingginya permintaan uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone dipengaruhi oleh status sosial perempuan, sehingga semakin tinggi uang panai yang diberikan pihak laki-laki maka mencerminkan tingkat status sosial perempuan misalnya, keluarga bangsawan, tingkat pendidikan, kekayaan dan pekerjaan perempuan. Besaran uang panai merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan dan merupakan bentuk tanggung jawab laki-laki ketika ingin menikahi perempuan. Uang panai merupakan citra bagi keluarga laki-laki dan perempuan, sehingga banyak keluarga perempuan yang mematok uang panai yang cukup besar apalagi keluarga perempuan tersebut berasal dari keluarga yang dipandang dalam masyarakat, hal ini dapat dilihat dari tingkat pendidikan, kekayaan, kecantikan dan pekerjaan perempuan yang akan mempengaruhi besaran uang panai. Hasil wawancara bersama salah seorang informan warga desa Sijelling yang sudah menikah terkait Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 tingginya permintaan uang panai, besaran uang panai sangat menentukan bagaimana status perempuan, ketika uang panai belum cukup maka laki-laki harus sabar dan berusaha untuk memenuhi permintaan uang panai dari keluarga perempuan, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab laki-laki ketika ingin menikahi perempuan. Uang panai merupakan adat istiadat masyarakat suku Bugis Bone yang harus dipertahakan, pemberian uang panai merupakan keharusan pihak laki-laki yang ingin menikah, besaran uang panai merupakan bentuk penghargaan laki-laki kepada perempuan dan sebaik-baiknya uang panai yaitu tidak merendahkan pihak perempuan dan tidak memberatkan pihak laki-laki. Sebagai seorang lakilaki yang bertanggung jawab harus memberikan yang terbaik untuk perempuan, termasuk memberikan uang panai yang tidak terlalu kecil dengan melihat latar belakang keluarga perempuan, semakin besar uang panai yang diberikan semakin bagus dan membuat keluarga perempuan bangga karena uang panai yang diberikan akan digunakan untuk kelangsungan pesta pernikahan perempuan, ketika uang panai yang diberikan besar maka akan membuat pesta yang besar pula dan ketika uang panai yang diberikan kecil maka pesta yang digelar akan biasa-biasa saja. Uang panai sangat berpengaruh dalam pernikahan masyarakat suku Bugis Bone, tanpa uang panai maka tidak ada pesta pernikahan yang besar. Proses penentuan uang panai sebenarnya ditentukan oleh keluarga laki-laki dan keluarga perempuan, penentuan uang panai bisa diatur, tidak perlu orang lain tau cukup pihak pertama dan kedua yang tau, kalau keluarga perempuan kaya setidaknya uang panai nya kurang, supaya bisa membantu laki-laki apalagi ini persoalan kebaikan, jangan terlalu paksakan pihak laki-laki dengan mematok uang panai yang tinggi. Uang panai bisa diatur dengan baik tanpa memberatkan pihak lakilaki dan disisi lain citra keluarga perempuan tetap terjaga, proses penentuan uang panai sebaiknya hanya kedua belah pihak yang tau antara keluarga inti laki-laki dan keluarga inti perempuan. Status sosial perempuan sangat mempengaruhi tingginya permintaan uang panai yang diminta, hal ini sebagai bentuk citra keluarga perempuan dalam masyarakat, misalnya keluarga Andi` . elar bangsawan bugi. Status pendidikan perempuan juga mempengaruhi tingginya permintaan uang panai, misalnya perempuan lulusan SMA pasti berbeda dengan yang S1 dan S2, ditambah lagi ketika perempuan itu cantik pasti permintaan uang panai nya tinggi, apalagi perempuan tersebut memiliki pekerjaan yang tetap. Permintaan uang panai yang tinggi sudah biasa pada tradisi pernikahan masyarakat suku Bugis Bone, makanya wajar-wajar saja ketika ada keluarga terpandang, pendidikan anak perempuannya tinggi, dan anaknya cantik, serta memiliki pekerjaan meminta uang panai yang besar, disisi lain membuat seorang laki-laki yang ingin melamar jadi ragu dan takut, ragu karena takut ditolak dan takut karena tidak mampu memenuhi permintaan uang panai keluarga Penentuan besaran jumlah uang panai ditentukan oleh keluarga perempuan ketika ada lakilaki yang datang melamar, sehingga terjadi negosiasi antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan tentang kesepakatan jumlah uang panai, keluarga laki-laki sebelum datang melamar perempuan suku Bugis Bone harus mempersiapkan terlebih dahulu uang panai nya karena pada pembahasan awal sebelum melamar yaitu pembahasan tentang uang panai yang merupakan kebutuhan keluarga perempuan pada saat melaksanakan pesta pernikahan untuk menjamu Pemberian uang panai kepada pihak perempuan sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen seorang laki-laki yang ingin menikahi perempuan, sehingga banyak juga pihak laki-laki yang memberikan uang panai yang cukup pantastis kepada pihak perempuan supaya mengurangi resiko penolakan, dan disisi lain juga dapat menunjukkan status keluarga laki-laki. Penentuan besaran uang panai tekadang menjadi formalitas dalam sebuah pernikahan demi menjaga citra keluarga perempuan, dalam artian uang panai yang diminta keluarga perempuan cukup tinggi tetapi dalam pemberian uang panai dari pihak mempelai laki-laki tidak demikian, dimana dalam pemenuhan uang panai terkadang dari keluarga perempuan sendiri yang tanggung, hal ini banyak terjadi dalam masyarakat Bugis Bone. Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Tingginya permintaan uang panai sangat dipengaruhi oleh status sosial perempuan suku Bugis Bone, status sosial perempuan dapat dilihat dari latar belakang keluarga, tingkat kekayaan, kecantikan, pendidikan dan pekerjaan perempuan: Latar belakang keluarga perempuan Masyarakat suku Bugis Bone memiliki latar belakang keluarga bangsawan hal ini dapat dilihat dari namanya seperti. Karaeng dan Andi yang biasa dipanggil kata Puang, menandakan keturunan bangsawan sehingga uang panai nya tergolong besar hal ini dikarenakan status sosial yang melekat pada keluarga perempuan yang harus dihormati, kebanyakan masyarakat yang berlatar belakang bangsawan memilih menikahkan keluarganya yang juga memiliki latar belakang bangsawan. Pemberian uang panai merupakan pertanda harga diri keluarga, baik keluarga laki-laki maupun keluarga perempuan. Uang panai terkadang menghambat pernikahan laki-laki dan perempuan, karena laki-laki tidak dapat menyanggupi permintaan uang panai keluarga perempuan sehingga pernikahan dibatalkan. Tingginya permintaan uang panai merupakan persoalan utama laki-laki dan perempuan sebelum melangsungkan pernikahan, dan banyak orang yang gagal menikah karena tidak mampu memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan. Status ekonomi Tingkat kekayaan perempuan juga mempengaruhi besaran uang panai yang diminta kepada keluarga laki-laki, faktor ini dikarenakan kebutuhan pada saat pernikahan juga sangat besar karena setiap keluarga ingin menjamu tamunya dengan maksimal supaya terhindar dari cerita masyarakat sekitar. Uang panai yang ada dimasyarakat suku Bugis Bone merupakan citra diri keluarga baik laki-laki maupun perempuan, penentuan uang panai juga dipengaruhi tingkat kekayaan keluarga perempuan, kebanyakan orang yang berada meminta uang panai yang tinggi untuk keperluan belanja pada saat pesta pernikahan. Semakin kaya keluarga perempuan maka uang panai nya juga akan banyak, hal ini sesaui dengan kebutuhan keluarga perempuan. Disisi lain status ekonomi perempuan membuat pihak laki-laki ragu untuk datang melamar karena jangan sampai tidak mampu memenuhi permintaan uang panai dari pihak keluarga perempuan yang kemudian bisa membuat malu keluarga laki-laki karena ditolak dengan alasan tidak mampu memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan. Kondisi fisik perempuan Semakin sempurna kondisi fisik perempuan yang akan dilamar maka semakin tinggi pula permintaan uang panai yang diminta. Kondisi fisik perempuan juga sangat mempengaruhi tingginya permintaan uang panai, kondidi fisik seperti kecantikan, tinggi dan kulit putih Jadi walaupun perempuan tersebut bukan dari golongan bangsawan dan tidak memiliki tingkat pendidikan yang tinggi maka kondisi fisik juga akan mempengaruhi besaran uang panai. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan perempuan juga sangat mempengaruhi besar kecilnya permintaan uang panai nya, jika perempuan tidak pernah sekolah maka uang panai nya juga kecil, berbeda halnya dengan perempuan yang menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi maka akan mematok uang panai yang besar hal ini dikarenakan sebagai bentuk citra diri perempuan yang dilamar. Perempuan suku Bugis Bone memiliki patokan uang panai menurut tingkat pendidikan, diantaranya tidak sekolah Rp 20 juta. SD Rp 30 juta. SMP 40 juta. SMA 50 juta. S1 50 juta keatas. S2 100 juta keatas. Semakin tinggi pendidikan seorang perempuan maka semakin tinggi pula permintaan uang panai nya, permintaan uang panai dipengaruhi tingkat pendidikan Pemberian uang panai yang besar sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Pemberian uang panai merupakan bentuk pertanggung jawaban laki-laki sebelum menikahi perempuan, ketika perempuan memiliki pendidikan yang tinggi, seorang laki-laki harus menghargai perempuan yang dilamar dengan memberikan uang panai yang layak sesuai dengan tingkat pendidikan perempuan. Pekerjaan perempuan Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 Ketika perempuan memiliki pekerjaan maka uang panai nya juga besar dibanding perempuan yang tidak memiliki pekerjaan, apalagi ketika perempuan tersebut PNS maka uang panai nya sekitar 50-100 juta bahkan lebih dari itu, hal ini sebagai bentuk penghargaan dan perhormatan kepada perempuan yang akan dilamar. Hasil wawancara dengan informan, yang merupakan pakar atau ahli melihat dari sisi agama tentang uang panai yang ada dalam masyarakat suku Bugis Bone. Sesungguhnya yang besar keberkahannya dalam sebuah pernikahan yaitu yang memudahkan, bukan yang memberikan uang panai yang tinggi, ketika datang laki-laki yang mau melamar sudah memiliki potensi jangan dipersulit, karena uang panai yang diberikan nanti akan habis baik besar maupun kecil semua akan habis ketika selesai pernikahan. Proses penentuan uang panai harusnya melibatkan keluarga inti perempuan saja, karena kalau semua keluarga dilibatkan akan membuat lama dalam penentuan besaran uang panai yang diminta keluarga perempuan. Sebagai masyarakat islam seharusnya yang menjadi standar pernikahan yaitu agama, dalam agama islam yang diwajibkan hanyalah pemberian mahar dan sebaik-baiknya mahar yaitu tidak memberatkan pihak laki-laki, tanpa uang panai pun pernikahan bisa digelar dan itu sah. Untuk memilih perempuan perlu melihat empat hal yaitu, kekayaannya, kecantikannya, keturunannya dan karena agamanya. Hal yang harus diutamakan yaitu dasar agama, sehingga uang panai bukan menjadi persoalan. Masyarakat kebanyakan mengutamakan adat sehingga uang panai harus ada dan uang panai yang diminta tergolong tinggi sehingga dapat memberatkan keluarga laki-laki. Disisi lain ada juga yang menjadikan formalitas besaran uang panai yang diberikan hal ini untuk menjaga citra keluarga perempuan. Uang Panai Sebagai Tradisi Masyarakat Suku Bugis Bone Uang panai menurut masyarakat suku Bugis Bone merupakan tradisi yang ada sejak dulu dan merupakan syarat wajib yang harus ada dalam pernikahan karena tanpa uang panai maka tidak ada Budaya uang panai sampai hari ini masih tetap ada dan eksis dalam masyarakat suku Bugis Bone dan merupakan bentuk penghargaan pihak laki-laki kepada pihak perempuan untuk digunakan pada saat perta pernikahan perempuan. Disisi lain pihak laki-laki terkadang merasa diberatkan dengan permintaan uang panai dari keluarga perempuan apalagi laki-laki tersebut berasal dari keluarga menengah kebawah, keluarga laki-laki harus mempersiapkan uang panai untuk keperluan pesta perempuan dan harus juga mempersiapkan uang untuk keperluan pestanya sendiri, jadi seorang laki-laki menanggu biaya dua acara pernikahan. Seiring perkembangan sekarang uang panai mulai berkembang sampai kesemua lapisan yang ada dalam masyarakat, entah ia keturunan bangsawan, orang biasa dan budak semua mewajibkan pemberian uang panai sebagai syarat adat yang harus dipenuhi pihak laki-laki sebelum menikahi perempuan pujaan hatinya. Uang panai berbeda dengan sompa . , uang panai merupakan uang belanja untuk keperluan pesta pernikahan perempuan tanpa uang maka pernikahan tidak ada karena merupakan sesuatu yang harus dipenuhi pihak mempelai laki-laki, pemberian uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone terkadang diikuti juga pemberian berupa harta benda untuk mempelai perempuan misalnya mobil, tanah, emas bahkan rumah, sedangkan mahar merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi pihak laki-laki tanpa mahar maka pernikahan tidak sah, mahar bisa berupa emas dan bisa berupa sawah atau kebun, sehingga ketika laki-laki ingin menikah harus mempersiapkan terlebih dahulu uang panai dan sompa . karena itu merupakan sesuatu yang harus ada dalam pernikahan masyarakat suku Bugis Bone. Uang panai merupakan pemberian sejumlah uang yang besarnya dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, sekarang uang panai kisaran 50-100 jt bahkan ada yang lebih dari itu, mahar juga terkadang besar misalnya pemberian emas 20 gram yang ketika diuangkan sekitar 20 jt an, ada juga yang berupa sawah atau kebun yang ketika diuangkan bisa mencapai 100 jt atau bahkan lebih dari ini, jadi ketika ditotalkan semua yang harus disiapkan laki-laki itu sekitar 200 jt atau bahkan lebih dari itu karena juga akan menggelar pesta pernikahan untuk Pada dasarnya sebagai masyarakat suku Bugis Bone yang beragama islam seharusnya mengutamakan nilai agama dibandingkan dengan nilai adat, nilai agama dan nilai adat sebenarnya Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 tidak bertentangan hanya saja masyarakat sekarang memiliki sifat gengsi sehingga memberikan patokan uang panai yang tinggi dimana kebanyakan laki-laki tidak mampu memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan sehingga pihak laki-laki merasa berat padahal disisi lain ingin melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu dengan berkeluarga. Dalam adat uang panai harus ada tanpa uang panai maka tidak ada pernikahan dan yang menjadi persoalan yaitu uang panai ini sangat besar jumlahnya sehingga terkadang memberatkan pihak laki-laki apalagi berasal dari keluarga menengah kebawah, dalam syariat islam kewajiban memberikan uang panai kepada keluarga perempuan masih perlu ditinjau supaya tidak banyak yang batal menikah karena persoalan uang panai. Hasil wawancara dengan informan warga desa Sijelling kecamatan Tellusiattinge, bahwa uang panai hanya berlaku di Sulawesi Selatan, uang panai yang ada di masyarakat suku Bugis Bone merupakan tradisi yang ada sejak dulu dan ini hanya berlaku khusus masyarakat di Sulawesi Selatan, uang panai merupakan syarat adat yang harus dipenuhi pihak laki-laki yang ingin melamar perempuan pujaan hatinya. Besaran jumlah uang panai bisa diatur ketika laki-laki dan perempuan saling suka dan keluarganya sepakat, misalnya uang panai yang disampaikan 100 jt padahal yang ditanggung laki-laki itu hanya 50 jt dimana yang 50 jt nya lagi ditanggung keluarga perempuan hanya saja itu persoalan internal kedua mempelai, sehingga yang sampai kepada masyarakat mengenai pemberian uang panai yaitu 100 jt, hal ini untuk membuat bangga keluarga perempuan ketika uang panai yang diberikan banyak. Pada dasarnya uang panai terkadang menjadi permasalahan utama bagi kaum muda yang ingin menikah karena harus mempersiapkan uang yang banyak untuk keperluan pernikahan dan banyak yang batal menikah karena persoalan uang panai. Uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone merupakan tradisi yang menimbulkan gengsi sehingga mempengaruhi besaran permintaan uang panai yang ada dalam masyarakat, setiap tahun permintaan uang panai selalu mengalami peningkatan sehingga terkadang menjadi penghambat bagi laki-laki yang ingin menikah, banyak yang batal menikah karena tidak sanggup memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan. Uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone dipengaruhi oleh tradisi yang terlihat kaku dan sedikit melenceng dari nilai agama islam, agama islam memandang bahwa penikahan merupakan suatu kebaikan tanpa ada unsur paksaan dan unsur memberatkan antar kedua belah pihak. Pada masyarakat suku Bugis Bone dimana uang panai dijadikan sebagai persaingan sosial, adapun besaran uang panai yang diberikan pihak laki-laki merupakan citra diri keluarga laki-laki dan juga gambaran status sosial perempuan. Uang Panai : antara Tradisi dan Gengsi Uang panai merupakan tradisi masyarakat suku Bugis Bone ketika ingin melaksanakan pernikahan, dimana laki-laki harus memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan, ketika pihak laki-laki sanggup memenuhi permintaan uang panai pihak perempuan maka pernikahan bisa dilaksanakan karena lamaran laki-laki dianggap sudah diterima pihak keluarga perempuan, uang panai merupakan syarat adat yang harus dipenuhi pihak mempelai laki-laki ketika ingin menikahi perempuan yang berasal dari suku Bugis Bone, untuk besaran uang panai tergantung kesepakatan antara kedua keluarga mempelai, bisa saja uang panai nya tinggi dan bisa saja rendah hal ini dikarenakan latar belakang perempuan yang menjadi patokan utama seperti, latar belakang keluarga, kekayaan, pendidikan dan pekerjaan perempuan. Uang panai terkadang jadi masalah bagi pemuda yang ingin menikahi pujaan hatinya tetapi belum cukup uang panai nya dan disisi lain uang panai dijadikan sebagai ajang penolakan secara tidak langsung ketika keluarga perempuan tidak menyetujui pernikahan anaknya. Hasil wawancara dengan informan dari desa Waji kecamatan Tellusiattinge, bahwa perkembangan sekarang dimana uang panai yang dulunya merupakan tradisi sebelum melaksanakan pesta pernikahan pada masyarakat suku Bugis Bone kemudian berubah menjadi gengsi, sehingga semakin tinggi pemberian uang panai pihak laki-laki maka semakin tinggi bentuk penghargaan dan penghormatannya kepada keluarga perempuan. Hal ini dapat menimbulkan gengsi bagi keluarga kedua belah pihak sehingga nilai-nilai uang panai mengalami pergeseran makna. Makna dan nilai uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone dijadikan sebagai aktualisasi untuk mendapat penghargaan dan penghormatan yang biasanya melahirkan gengsi sosial. Jika dulu uang panai Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 dijadikan sebagai siri sekarang uang panai dijadikan sebagai gengsi sosial masyarakat dan merupakan kabanggan tersendiri ketika mematok uang panai yang tinggi. Budaya uang panai merupakan syarat wajib yang harus ada dalam pernikahan masyarakat suku Bugis Bone, tanpa uang panai maka tidak ada acara pernikahan dan akan menjadi pembicaraan keluarga dan buah bibir masyarakat sekitar, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka uang panai harus ada dan itu diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan. Budaya ini masih sangat kental dalam masyarakat suku Bugis Bone sehingga menjadi perhatian utama ketika ingin melaksanakan pernikahan. Disisi lain uang panai menjadi kegelisahan bagi laki-laki karena harus mempersiapkan sejumlah uang yang banyak untuk keperluan pesta perempuan dan untuk pestanya sendiri jadi laki-laki menanggung biaya dua pesta pernikahan. Sedangkan pihak perempuan menunggu datangnya lamaran laki-laki yang ingin menikahinya, yang menjadi kegelisahan yaitu ketika laki-laki tidak mampu menyanggupi permintaan uang panai keluarga perempuan sehingga membuat pernikahan batal dilaksanakan. Sesuai dengan adat masyarakat suku Bugis Bone dimana laki-laki dibebani dengan syarat yang banyak dibandingkan perempuan karena laki-laki harus memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap keluarganya nanti. Semua biaya pernikahan perempuan ditanggung oleh laki-laki dan biaya pernikahan laki-laki ditanggung sendiri. Pembahasan Uang panai dulu berbeda dengan uang panai sekarang karena dulu pemberian uang panai merupakan bentuk penghargaan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, sekarang uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone kebanyakan salah pandang terhadap peruntukan uang panai apalagi sekarang dipengaruhi gengsi sosial yang dapat menghilangkan makna dan nilai uang panai itu sendiri. Sehingga banyak yang gagal minikah karena persoalan uang panai. Pemberian uang panai dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan pada mulanya sebagai bentuk penghargaan, penghormatan dan kebanggaan laki-laki terhadap perempuan dan bukan merupakan bentuk uang belanja yang digunakan untuk keperluan pesta perempuan dari awal sampai selesai, meskipun nantinya uang yang diberikan pihak laki-laki sepenuhnya menjadi milik perempuan yang digunakan untuk keperluan pesta pernikahan, akan tetapi makna dan nilai uang panai tetap sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan seorang laki-laki kepada perempuan pujaan hatinya. Jika pemberian uang panai digunakan untuk keperluan pesta pernikahan perempuan mulai awal acara sampai selesai maka besaran biaya yang harus diberikan laki-laki puluhan juta atau bahkan ratusan juta apalagi sekarang semua kebutuhan dasar naik, disisi lain laki-laki juga harus mempersiapkan uang untuk keperluan acara pernikahannya. Hasil wawancara dengan informan dari desa Waji kecamatan Tellusiattinge, bahwa uang panai sekarang telah mengalami pergeseran makna karena dipengaruhi gengsi, hal ini dikarenakan status sosial perempuan yang harus dihargai dengan memberikan uang panai yang tinggi apalagi perempuan memiliki pendidikan misalnya selesai S1 pasti permintaan uang panai nya juga tinggi, pemberian uang panai sekarang biasa diikuti berupa harta benda seperti, rumah, mobil dan tanah. Uang panai masyarakat suku Bugis Bone mengalami pergeseran makna dimana dijadikan sebagai ajang gengsi untuk mendapat pengakuan dari masyarakat dan dijadikan sebagai ajang gengsi untuk memperlihatkan status sosial perempuan dan kemampuan ekonomi secara berlebihan, banyaknya permintaan uang panai dari pihak perempuan terkadang membuat pihak laki-laki harus berhutang atau menjual harta bendanya untuk memenuhi permintaan uang panai keluarga perempuan, karena ketika laki-laki tidak mampu memenuhi permintaan tersebut maka dapat membuat malu keluarga atau . , disisi lain uang panai merupakan senjata penolakan keluarga perempuan ketika laki-laki tersebut tidak disetujui untuk menikahi anaknya. Uang panai dulu hanya berupa pemberian sejumlah uang kepada calon mempelai perempuan, tetapi sekarang karena pengaruh perkembangan waktu uang panai kini ada juga yang berupa pemberian uang yang kemudian diikuti harta benda seperti, tanah, mobil, rumah dan barang-barang lain yang harganya tergolong fantastis sehingga dapat menimbulkan gengsi bagi keluarga yang diberikan uang panai. Pemahaman masyarakat tentang uang panai kini mulai bergeser sehingga Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Des 2022 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P - ISSN : 2339-2401 / E-ISSN: 2477-0221 dalam penetapan uang panai dipengaruhi gengsi yang menyebabkan nilai tradisi dan agama memudar, sehingga banyak yang gagal menikah karena persoalan uang panai. Pemberian uang panai kepada perempuan ternyata memiliki aspek moral, ketika pihak laki-laki memberikan uang panai yang besar kepada pihak perempuan maka kecil kemungkinan untuk ditolak dari keluarga perempuan, bagi masyarakat suku Bugis Bone penolakan pada saat lamaran merupakan suatu yang kurang baik. Jadi semakin tinggi uang panai yang diberikan pihak laki-laki maka semakin kecil kemungkinan untuk ditolak dari keluarga perempuan. Tradisi pemberian uang panai pada masyarakat suku Bugis Bone tidak berlaku bagi pernikahan antara laki-laki suku Bugis Bone dengan perempuan yang bukan suku Bugis, tetapi berlaku bagi lakilaki yang bukan suku Bugis menikahi perempuan suku Bugis Bone maka harus ada uang panai nya, dimana laki-laki harus mengikuti tradisi mempelai perempuan. Pemberian uang panai di kabupaten Bone merupakan sesuatu yang harus dipenuhi pihak laki-laki, tanpa uang panai maka tidak ada pesta pernikahan dan jumlah uang panai ini sangat besar bahkan sampai ratusan juta, proses penentuan uang panai ditentukan oleh keluarga perempuan kemudian laki-laki melakukan negosiasi sehingga terjadi tawar menawar mengenai berapa uang panai yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak KESIMPULAN Dalam masyarakat Bugis Bone, tradisi panai adalah tradisi turun temurun dari nenek moyang Suku Bugis yang ingin mengajarkan bahwa perempuan memiliki harga diri yang tinggi, sehingga layak dihormati dan dihargai. Tinggi rendahnya uang panai tergantung nilai yang melekat dalam diri perempuan seperti keturunan bangsawan, tingkat pendidikan, status ekonomi, kondisi fisik, dan Status sosial perempuan suku Bugis Bone dalam penentuan uang panai terkadang dipengaruhi gengsi, sehingga nilai tradisi kemudian bergeser seiring perjalanan waktu dimana perempuan suku Bugis Bone lebih mengutamakan gengsi dibandingkan tradisi yang ada dalam DAFTAR PUSTAKA