Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. PENGARUH PERCEIVED QUALITY. PERCEIVED AUTHENTICITY DAN PRICE FAIRNESS TERHADAP PURCHASE INTENTION KONSUMEN PRODUK HYGEE Schato Valencio Sanbudhi1. Sandy Lenandi Soetrisno Laksmono 2. Santho Vlennery Mettan3* *Email Penulis Penghubung: vlennery@ukwms. Program Studi Kewirausahaan. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya1,2,3 Prosesi Artikel Abstract: Generation Z is a cohort whose mental health may be vulnerable to disruption. considerable proportion of youth currently experience mental disorders, such as anxiety, stress. Diunggah: depression, and insomnia. The increasing prevalence of social media usage has been recognized as a 13-05-2025 major factor contributing to the mental health issues faced by today's Generation Z youth. Generation Direvisi: Z's ability to effectively use social media for various purposes, such as work, education, and 18-05-2025 communication, plays a significant role in this phenomenon. This study examines the relationship Diterima: between social media use and mental health disorders among Generation Z children. This research seeks to determine the perceptions of potential Hygee consumers regarding herbal beverages. The study 31-05-2025 will begin with an examination of product quality (Perceived Qualit. , proceed to an analysis of product authenticity (Perceived Authenticit. , and conclude with an assessment of price fairness (Price Fairnes. This research utilizes a quantitative methodology and employs a purposive sampling The data collection process employed Google Forms, distributed online through a Likert scale questionnaire. Data analysis was conducted utilizing multiple linear regression through IBM SPSS Statistics 26 software. The research included three variables. X, and one variable. Y, comprising 17 indicators and involved a sample of 112 respondents. This study's findings indicate that Perceived Quality and Perceived Authenticity significantly affect the Purchase Intention of HYGGE products. The study indicated that price fairness did not significantly affect purchase Keywords: Perceived Quality. Perceived Authenticity. Price Fairness. Purchase Intention Abstrak: Generasi Z merupkan generasi yang kesahatan mentalnya dapat dengan mudah terganggu. Tak sedikit anak muda zaman sekarang memiliki gangguan mental dari gangguan kecemasan, stres, depresi, dan juga insomnia. Meningkatnya angka penggunaan media sosial juga berpengaruh besar terhadap kesehatan mental anak Generasi Z saat ini. Banyak faktor yang mendukung gangguan kesehatan mental pada penggunaan media sosial, seperti contoh penggunaan gadget yang sangat memudahkan Generasi Z untuk dapat melakukan banyak hal dari segi pekerjaan, pendidikan, komunikasi, dan sebagainya. Sehingga banyak anak Generasi Z yang bergantung pada media sosial. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana pandangan calon konsumen Hygee terhadap minuman herbal. Mulai dari kualitas produknya (Perceived Qualit. , keaslian produknya (Perceived Authenticit. , dan harga yang wajar (Price Fairnes. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data kuisioner dilakukan dengan menggunakan Google Form dan disebarkan secara online berdasarkan skala likert. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan software IBM SPSS Statisctic 26. Penelitian ini menggunakan 3 variabel X dan 1 variabel Y, lalu terdapat 17 indikator, dan mendapatkan sampel sebesar 112 Hasil penelitian ini menunjukan bagaimana Perceived Quality dan Perceived Authenticity berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention produk HYGGE. Sedangkan Price Fairness tidak berpengaruh terhadap Purchase Intenton. Kata Kunci: Perceived Quality. Perceived Authenticity. Price Fairness. Purchase Intention DOI: https://doi. org/10. 33508/jes. Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. PENDAHULUAN Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh dalam era digital dan menjadi generasi yang paling terpelajar dan mahir dalam teknologi. Generasi ini memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya karena mereka tumbuh dengan menggunakan ponsel pintar, internet dan media sosial sejak usia dini (Meirina, 2. Generasi Z menjadi harapan masa depan dan diprediksi akan memimpin Indonesia Emas di tahun 2045. Dengan kemajuan teknologi yang pesat membuat Generasi Z dianggap memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah sehingga rentan mengalami masalah atau gangguan kesehatan yang dapat berdampak pada sosial dan ekonomi selama bertahuntahun dan dapat merugikan kehidupan mereka di masa depan jika tidak segera ditangani (Khalish, 2024. Generasi Z, juga sebagai populasi digital native yang akan menjadi tulang punggung Indonesia Emas 2045, menghadapi tantangan serius dalam hal kesehatan mental akibat tekanan sosial, paparan media sosial, dan stres hidup Salah satu pendekatan preventif yang dapat mendukung kesehatan mental generasi ini adalah pola hidup sehat, termasuk konsumsi makanan dan minuman Kecenderungan Generasi Z yang sadar akan pentingnya pola makan sehat menciptakan peluang bagi industri makanan dan minuman sehat untuk berkembang pesat. Kesehatan mental adalah bagian penting dari definisi kesehatan (Haryanti et al. , 2. Mental yang baik didefinisikan sebagai tingkat kesejahteraan di mana seseorang mampu mengatasi tekanan sehari-hari, bekerja dengan produktif, dan berkontribusi kepada komunitas (Rifky, 2. Generasi Z menghadapi berbagai macam tekanan dan tantangan yang berbeda di era digital dan sosial media yang terus berkembang (Chubb. McKinsey Health Institute menyatakan bahwa gender perempuan Generasi Z dua kali lipat lebih berisiko memiliki masalah kesehatan mental dibanding dengan gender laki-laki. Laporan survei yang sama menunjukan bahwa Generasi Z sering menghabiskan lebih dari dua jam dalam sehari untuk menggunakan media sosial dan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental. Generasi Z dengan gender perempuan mengatakan bahwa media sosial berdampak negatif pada mereka. Mereka takut kehilangan tren baru atau FOMO (Fear of Missing Ou. , khawatir tentang citra tubuh, dan kehilangan kepercayaan diri (Khalish. Survei yang dilakukan oleh Gallup Walton Family Foundation Generasi menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Anakanak Generasi Z cenderung tidak menilai dibandingkan generasi yang lebih tua pada saat itu (Meirina, 2. American Psychological Association menemukan bahwa generasi Z memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk melaporkan masalah kesehatan mental dibandingkan dengan generasi lain. Lebih dari 90% responden menyatakan bahwa mereka pernah mengalami setidaknya satu gejala fisik atau emosional yang disebabkan oleh stres dan depresi. Hanya setengah dari mereka yang dapat mengendalikan stres dengan baik (Dumbi, 2. Menurut Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), survei kesehatan mental nasional pertama yang mengukur jumlah kasus gangguan mental pada remaja berusia 10 hingga 17 tahun di Indonesia menyatakan bahwa 15,5 juta remaja dari 24,5 juta remaja secara keseluruhan diidentifikasi memiliki gangguan mental (Gloriabarus, 2. Tercatat bahwa gangguan kesehatan mental yang dikhawatirkan masyarakat Indonesia yang menempati urutan pertama adalah stres/burnout sebesar 56%, dilanjutkan dengan gangguan tidur sebesar 42,6%, kecemasan sebesar 28,2%, kesepian sebesar 24,9%, depresi sebesar 20,7%, dan gangguan kognitif sebesar 9,1% (Simbolon, 2. Salah satu pemicu yang menyebabkan stres/burnout, gangguan tidur, kecemasan, kesepian, depresi, dan gangguan kognitif adalah penggunaan media sosial. Media sosial adalah platform yang sangat membantu dalam berkomunikasi dan menyampaikan berbagai informasi kepada semua penggunanya. Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. Dengan menggunakan media sosial, individu tidak perlu khawatir tentang jarak dan waktu yang diperlukan untuk berbagi informasi atau Bagi Generasi Z, media sosial memberikan kemudahan dan kenyamanan seperti dapat dengan mudah untuk mengekspresikan diri, mengekspresikan kreativitas, hingga mengakses informasi yang beragam (Najwa, 2. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Sebanyak 167 juta populasi di Indonesia menggunakan media sosial dan paling tidak sebanyak 78,5% dari pengguna internet pasti memiliki paling tidak satu akun sosial media. Media sosial dapat meningkatkan kesehatan mental pengguna dengan membantu teman sebaya, membangun hubungan sosial dengan bergabung ke komunitas online (Zsila & Reyes, 2. Hal ini dapat meningkatkan dukungan emosional yang dapat dirasakan oleh individu. Selain itu, pertemanan dan interaksi sosial yang positif dan saling menguntungkan serta hiburan dari media sosial juga dapat membantu mengurangi stres yang dapat berdampak pada kesehatan mental. Sebaliknya, penelitian lain menunjukan efek negatif dari penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental. Media sosial dinilai dapat menyebabkan ketidakpuasan citra tubuh, risiko kecanduan, keterlibatan cyberbullying, dan dampak negatif pada suasana hati. Individu yang terlalu sering menggunakan media sosial mengalami rasa kesepian, takut ketinggalan dan penurunan kepuasan dalam hidupnya (Zsila & Reyes. Adapun berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan mental terutama dari dampak negatif penggunaan sosial media, yaitu dengan melakukan aktifitas lain seperti olahraga secara rutin, melakukan hobi, tidur cukup dan berkualitas, mengekspresikan perasaan, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater, dan menerapkan pola hidup sehat. Adapun pola hidup sehat yang dapat diterapkan dengan mengonsumsi makanan atau minuman sehat yang dapat membantu (Tim Medis Siloam Hospitals, 2. Menurut Unilever Food Solutions Indonesia, 7 dari 10 orang Indonesia mengatakan bahwa mereka ingin makan makanan sehat secara teratur dan konsisten. Generasi Z diperkirakan menjadi populasi orang yang mengonsumsi makanan sehat dikarenakan mereka ingin menjadi lebih sehat secara fisik dan mental melalui konsumsi makanan yang sehat, mereka tidak khawatir untuk mengeluarkan banyak uang untuk makan makanan yang sehat (Amadea, 2. Dari kesadaran masyarakat akan konsumi makanan sehat tersebut dapat meningkatkan minat beli dari produk makanan dan minuman sehat. Namun, konsumsi makanan sehat tidak serta-merta menjamin terjadinya pembelian produk. Konsumen, terutama Generasi Z yang sangat selektif dan kritis, menilai keputusan pembelian berdasarkan persepsi mereka terhadap kualitas produk . erceived qualit. , keaslian produk . erceived authenticit. , dan keadilan harga . rice fairnes. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana ketiga faktor tersebut memengaruhi minat beli . urchase intentio. terhadap produk makanan dan minuman sehat, khususnya pada merekmerek baru atau yang sedang berkembang. Minat beli . urchase intentio. adalah perilaku konsumen dimana seseorang memiliki keinginan untuk membeli atau memilih sesuatu produk berdasarkan pengalaman mereka memilih, menggunakan, atau bahkan menginginkannya. Minat beli mengacu pada keinginan konsumen untuk membeli produk tertentu untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka pada waktu tertentu dengan sebuah informasi (Dewi et , 2. Harga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli karena kemampuan konsumen untuk membeli produk ditentukan oleh jumlah uang yang mereka miliki (Tanata & Christian, 2. Oleh karena itu, dalam Kaura . , faktor paling penting ketika konsumen ingin membeli suatu produk adalah keadilan harga . rice fairnes. (Pratiwi & Pratomo, 2. Dalam Rai . , price fairness didefinisikan sebagai penilaian konsumen terhadap suatu produk, hal ini yang akan menentukan Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. apakah selisih harga yang diberikan dianggap masuk akal dan dapat diterima oleh konsumen (Rivai & Asep Hermawan, 2. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi price fairness adalah Perceived Authenticity . easlian yang dirasaka. Rivera . mengatakan bahwa perceived authenticity adalah seberapa otentik perasaan yang dapat diterima, dilihat, dirasakan, dan dinilai oleh seorang individu. Kesadaran konsumen terhadap keaslian produk akan memengaruhi minat beli mereka. Perceived quality diketahui menjadi salah satu faktor yang menjadikan seseorang membeli sebuah produk (Nanjaya & Wijaya, 2. perceived quality . ersepsi kualita. merupakan persepsi konsumen mengenai kualitas atau keunggulan produk secara keseluruhan dibandingkan dengan pilihan lain (Keller, 2. Menurut (Durianto & Sugiarto, 2. , persepsi kualitas merupakan seberapa baik kosnumen melihat kualitas atau keunggulan suatu produk yang berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Indikator dalam perceived quality dapat berupa kualitas produk yaitu kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya, reputasi produk yaitu persepsi produk yang dimiliki oleh orang lain terhadap suatu produk, karakteristik produk yaitu kondisi yang membuat produk berbeda dari produk pesaing, dan kinerja produk yaitu sejauh mana produk dapat memenuhi harapan konsumen atau memberikan manfaat kepada konsumen (Durianto & Sugiarto, 2. Penelitian ini menjadi penting untuk memberikan wawasan empiris bagi pelaku usaha makanan dan minuman sehat, khususnya dalam mengembangkan strategi pemasaran yang efektif bagi Generasi Z. Selain itu, hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan produk dan komunikasi merek yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan konsumen modern yang semakin memperhatikan kesehatan mental dan fisik mereka. Sehingga dari latar belakang dan fenomena yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Perceived Quality. Perceived Authenticity, dan Price Fairness Terhadap Purchase Intention Produk HyggeAy KAJIAN PUSTAKA Perceived Quality Perceived quality merupakan persepsi konsumen terhadap kualitas atau keunggulan suatu produk atau layanan dibandingkan dengan produk atau layanan lainnya (Kotler & Keller, 2. Persepsi tersebut mengacu pada pemahaman konsumen mengenai kualitas dan wujud dari suatu barang atau jasa yang mereka lihat dan rasakan. Persepsi kualitas juga dapat didefinisikan sebagai persepsi konsumen tentang kualitas umum atau keunggulan satu produk atau layanan, dengan perhatian pada tujuan produk atau layanan tersebut, dibandingkan dengan alternatif lain (Setiawan, 2. Beberapa indikator dalam perceived quality menurut (Wicaksana et al. , 2. , yaitu: Rasa dari produk adalah baik. Kemasan dari produk adalah baik. Yakin dengan kandungan dan bahan-bahan yang digunakan. Produk aman karena telah dibuat secara efektif. Perceived Authenticity Perceived authenticity diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu objektif yang berarti keaslian berasal dari orisinalitas, konstruktif yang berarti objek harus memiliki identitas dan makna, dan eksistensial yang berarti tertarik kepada keunikan dari objek yang menjadikan hal itu menjadi keaslian dari suatu objek (Wang, 1999 dalam Kim et al. Menurut Morhat et al. , . 3 dalam Tanazal et al. , 2. perceived authenticity dapat digunakan sebagai cara konsumen melihat persepsi produk yang sebelumnya pernah Sehingga bagaimana produk tersebut dapat membuat para konsumen menjadi loyal terhadap produk tersebut. Disimpulkan bahwa perceived authenticity merupakan penyelesaian proses yang dimana konsumen menilai suatu produk berdasarkan persepsi sebelumnya yang pernah didengar (Morhat et al. , 2013 dalam Tanazal et al. Beberapa indikator dalam perceived authenticity menurut Shane et al. , 2. ,yaitu: Rasa yang unik. Rasa yang eksotis. Sedangkan menurut Sidali et al. , . , yaitu: Nama yang dapat dipercaya. Keaslian komposisi Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. Konsumsi produk dapat membantu mengatasi insomnia Price Fairness Harga merupakan sejumlah uang yang harus dikorbankan oleh konsumen untuk mendapatkan suatu barang atau jasa (Prasastono et al. , 2017 dalam Sudarso & Sukiman, 2. Untuk mendapatkan keuntungan, perusahaan harus menetapkan harga yang pantas karena harga tersebut akan berdampak pada peningkatan pendapatan (Kotler & Keller, 2. Price fairness merupakan sebuah persepsi konsumen dimana perbedaan antara harga yang diterima layak untuk dibandingkan dengan yang lain, dapat dipertimbangkan atau harga tersebut dapat diterima atau masuk akal (Matzler et al. 2007 dalam Adrian & Kevin, 2. Menurut Diller . 8 dalam Reyhansyah, 2. dalam terdapat 5 elemen penting dari price fairness. Price Reliability : ketaatan harga yang ditetapkan pada kontrak pembelian. Pricing Honesty : kejujuran terkait kebenaran dan kejelasan informasi tentang harga. Consistency : prosedur penetapan harga kepada mitra selalu menggunakan sistem yang sama. Respect and Regard for The Partner : sikap mendasar yang dapat membangun hubungan jangka panjang dengan menghormati satu sama lain. Beberapa indikator dalam price fairness menurut (Mustafa & Setiawan, 2. , yaitu: Harga yang diberikan untuk suatu barang atau jasa Potongan harga untuk barang atau Manfaat yang diperoleh konsumen berdasarkan harga yang diberikan. Sedangkan menurut Harsha & Siregar, . , yaitu: Harga yang wajar dan dapat Purchase Intention Menurut (Nuseir, 2. , purchase intention adalah faktor penting dalam perilaku pembelian yang terjadi secara nyata dan didefinisikan sebagai proses dimana seseorang mengambil keputusan untuk membeli dengan mempertimbangkan situasi, kondisi, atau alasannya. Minat beli merupakan respon konsumen karena ketertarikannya terhadap sebuah produk (Shane et al. , 2. Menurut Kotler & Keller, . , purchase intention atau minat beli adalah perilaku konsumen yang muncul sebagai tanggapan terhadap objek yang menunjukan keinginan konsumen untuk melakukan pembelian. Keputusan konsumen untuk membeli suatu produk memerlukan proses yang sangat kompleks. Minat beli dapat berubah karena faktor harga, kualitas, dan nilai produk (Mirabi et al. , 2015 dalam Johari & Keni, 2. Beberapa indikator dalam purchase intention menurut Mulyaputri & Sanaji, . Tertarik untuk mencari informasi tentang produk: Konsumen akan lebih termotivasi untuk menemukan lebih banyak informasi jika kebutuhannya Terdapat dua level kebutuhan konsumen, yaitu pencarian informasi yang lebih ringan atau penguatan perhatian dan level aktif mencari informasi dengan membaca literatur, bertanya pada teman, atau melihat produk di toko. Mempertimbangkan untuk membeli : Konsumen mempelajari merek yang bersaing dan fitur merek tersebut berdasarkan pengumpulan informasi, lalu melakukan evaluasi pilihan mereka dan mulai mempertimbangkan untuk membeli produk. Tertarik untuk mencoba : Konsumen akan menemukan keuntungan tertentu dari solusi produk dan menilainya setelah berusaha memenuhi kebutuhan mereka, mempelajari merek yang bersaing dan fitur merek tersebut. Proses evaluasi ini dianggap berorientasi kognitif yang dimana konsumen dianggap menilai suatu produk secara sadar dan logis sehingga tertarik untuk Ingin memiliki produk : Para konsumen akan sangat memperhatikan fitur yang Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. menawarkan keuntungan yang mereka Setelah itu, mereka akan mengambil sikap . ilihan, preferens. terhadap produk melalui evaluasi fitur tersebut dan menetapkan keinginan untuk membeli atau memiliki produk yang mereka sukai. Gambar 1. Model Penelitian Sumber : Modifikasi dari Wicaksana et al. Tanazal et al. , 2021. Kim et al. , 2019 Pengembangan Hipotesis Hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai berikut: H1. Perveived Quality berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention produk Hygge. H2. Perceived Authenticity berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention produk Hygge. H3. Price Fairness berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention produk Hygge. METODE PENELITIAN Metode yang di gunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Objek penelitian pada penelitian ini adalah produk Hygee. Hygee merupakan bisnis start-up di Surabaya yang bergerak di bidang minuman kesehatan. Tujuan di dirikannya bisnis Hygee adalah untuk membantu masyarakat agar dapat meningkatkan kualitas tidur sehingga dapat mengatasi terjadinya insomnia. Ketika kualitas tidur menjadi baik dan individu minim mengalami insomnia, maka pemicu tingkat stres dan depresi dari individu tersebut dapat berkurang. Produk dari Hygee juga dapat memberikan efek relaksasi dan menenangkan pikiran dengan menggunakan bahan alami seperti bunga telang dan daun Sehingga target pasar atau subyek dari produk Hygee adalah individu yang mengalami gangguan sulit tidur . Populasi dalam penelitian ini adalah individu yang mengalami gangguan tidur . di Indonesia, khususnya dari kalangan Generasi Z . ahir tahun 1997Ae2. yang memiliki ketertarikan atau kesadaran terhadap gaya hidup sehat, dan berpotensi menjadi konsumen produk makanan dan minuman sehat seperti Hygge. Berdasarkan data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) dan laporan Simbolon . , sebanyak 42,6% masyarakat Indonesia mengaku mengalami gangguan tidur. Jika dikaitkan dengan total populasi Generasi Z di Indonesia yang diperkirakan mencapai 75 juta jiwa, maka estimasi jumlah populasi yang mengalami insomnia dan menjadi sasaran penelitian ini mencapai sekitar: 75 juta x 42,6% = 000 jiwa Namun, karena jumlah populasi yang sangat besar, maka penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Hygge akan mengambil data langsung dari lapangan yang dimana data tersebut merupakan data primer dengan karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut A Usia 18 Ae 40 Tahun A Berdomisili di Surabaya. Sidoarjo, dan Gresik A Orang yang pernah mengalami A Orang yang mengonsumsi minuman A Orang yang mengetahui produk HYGGE Jumlah sampel pada penelitian ini sebesar 112 responden hasil ini didapat dari minimal responden yang berdasarkan pendekatan Hair et al. , yaitu minimal 5Ae10 responden per indikator variabel. Jika dalam penelitian ini terdapat total 17 indikator . isalnya dari variabel perceived quality, perceived authenticity, price fairness, dan purchase intentio. , maka minimal jumlah sampel yang diambil adalah: 17 indikator x 6= 102 Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. Peneliti akan menyebarkan kuesioner secara online untuk mengumpulkan data dari responden. Kuesioner yang dibagikan berisi pernyataan-pernyataan jawaban menggunakan skala liker 1-5. Setelah data didapat, data tersebut akan diolah menggunakna teknik analisis Regresi Linear Berganda dengan software IBM Statistics (SPSS). HASIL DAN PEMBAHASAN adalah 154 dan 124 dengan kriteria responden tinggal di kota-kota padat penduduk seperti Surabaya. Sidoarjo, dan Gresik, berusia 18 - 40 tahun, dan belum atau sudah pernah membeli produk HYGGE, pada 154 responden dilakukanlah test screening dan berkurang sebanyak 30 responden dan menjadi 124 data yang terkumpul dan memenuhi kriteria. Dari 124 data responden yang terkumpul dilakukan uji outlier dan berkurang sebanyak 12 responden, menjadi 112 data responden. Setelah dilakukan proses screening dan outlier telah ditentukan sebanyak 112 data responden yang akan digunakan dalam penelitian ini. Kuisioner untuk pengumpulan data penelitian disebarkan melalui link . Google form yang berisikan pernyataan Ae pernyataan terkait variabel - variabel yang Jumlah responden yang terkumpul Tabel 1. Demografi Responden Variabel Kategori Frekuensi . Persentase (%) Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Usia (Tahu. <18 Tahun 18 Ae 29 Tahun 30 Ae 40 Tahun > 40 Tahun Surabaya Sidoarjo Gresik Domisili Responden Sumber: Data Diolah . Uji Validitas dan Reliabilitas Tabel 2. Hasil Uji Validitas Variabel Indik Perceived Quality X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. X3. X3. X3. X3. Authenticit Price Fairness Purchase Intention Hitun 0,726 0,655 0,746 0,685 0,738 0,713 0,734 0,697 0,673 0,683 0,670 0,725 0,693 0,758 0,791 0,738 Sig. Keteran 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid 0,706 0,000 Valid Sumber: Data Diolah 2024 Pada Tabel 2, dapat dilihat bahwa hasil dari uji validitas menunjukkan bahwa semua indikator dinyatakan valid karena nilai signifikan <0,05 dan nilai r hitung di >0,1510 maka indikator tidak ada yang tidak valid Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas Variabel Perceived Quality Perceived Authenticity Price Fairness Purchase Intention Cronbach Alpha 0,658 0,752 0,623 0,731 Sumber: Data diolah . Pada Tabel 3, dapat dilihat bahwa ke-4 variabel dalam penelitian ini dapat dikatakan reliabel karena semua nilai Cronbach Alpha lebih > 0,60. Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. Tabel 4. Uji Multikolineritas Variabel Perceived Quality Perceived Authenticity Price Fairness Collinearity Statistics Tolerance VIF 0,489 2,046 0,469 2,133 0,517 1,934 Sumber: Data Diolah 2024 Pada Tabel 4. dapat dilihat bahwa antara ketiga variabel independen tidak terjadi korelasinya satu sama lain, karena semua nilai Tolerance > 0,10 dan nilai VIF <10. Sumber: Data diolah . Nilai R pada Tabel 6. menunjukkan bahwa variabel independen, yaitu Perceived Quality. Perceived Authenticity, dan Price Fairness mempengaruhi variabel dependen. Purchase Intention sebesar 0,573 atau 57,3%. Dan sisanya sebesar 42,7% merupakan adanya variabel/faktor lainnya diluar model yang mempengaruhi variabel dependen yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Tabel 7. Uji Hipotesis No. Gamber 2. Uji Heteroskedastisitas Sumber: Data Diolah 2024 Pada Gambar 2, dapat dilihat bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas karena tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Tabel 5. Uji Model Model Regression Residual Total Sum of Squares 17,100 12,730 29,830 0,108 0,111 Mean Sig. Square 5,700 48,357 0,000 0,118 Sumber: Data diolah . Pada Tabel 5. dapat dilihat bahwa nilai F adalah 48,357 dan memiliki nilai probabilitas 0,000, maka dari itu nilai-nlai tersebut menunjukan bahwa model penelitian sesuai dengan data karena F tabel adalah 2,65 dan nilai probabilitas signifikansi dibawah 0,05. Tabel 6. Uji Koefisien Determinasi R Adjusted R Square Square 0,757 0,573 0,561 Std. Error of the Estimate 0,34332 Hipotesis Konstanta 0,499 Perceived Quality 0,310 Purchase Intention Perceived Authenticity signifikan 0,428 Purchase Intention Price Fairness 0,156 Purchase Intention Signifi Keteran hitung kansi 3,068 0,003 4,583 0,000 1,807 0,074 Diterima Diterima Ditolak Sumber: Data diolah . Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 7. dengan nilai t tabel 1,97453, dapat disimpulkan bahwa: Perceived Quality berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap Purchase Intention karena nilai t hitung . > t tabel . ,97. dan nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 . ,003 < 0,. Perceived Authenticity berpengaruh secara signifikan terhadap Purchase Intention karena nilai t hitung . > t tabel . ,97. dan nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 . ,000 < 0,. Price Fairness tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Purchase Intention karena nilai t hitung . < t tabel Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. ,97. dan nilai signifikan lebih besar dari 0,05 . ,074 > 0,. Persamaan regresi dari penelitian ini adalah: Y = 0,499 0,310X1 0,428X2 0,156X3 Dari hasil persamaan regresi di atas, nilai konstanta sebesar 0,499 menjelaskan bahwa sebelum adanya variabel independen yang mempengaruhi niat beli, konsumen hygee memiliki minat untuk membeli produk HYGGE. Nilai koefisien regresi X1 adalah sebesar 0,310, yang artinya jika X1 ditingkatkan, maka Y akan ikut mengalami peningkatan sebesar 0,310. Satuan Price Fairness X3 tidak mempengaruhi Y secara signifikan, sehingga nilai koefisien regresi X3 Kesimpulannya adalah variabel X1 dan X2 memiliki pengaruh paling besar terhadap variabel Y. Pengaruh Perceived Quality terhadap Purchase Intention Pada hipotesis 1 memiliki nilai B sebesar 0,310 dengan nilai t hitung 3,068 > nilai ttabel yaitu 1,97419 dan nilai signifikan sebesar 0,003 < 0,05. Dari nilai original sample diketahui bahwa pengaruh yang didapat adalah positif dan memiliki nilai pvalue yang signifikan, maka dari itu hipotesis 1 menyatakan bahwa Perceived Quality memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Purchase Intention diterima. Tabel 4. 9 menunjukkan bahwa responden sangatsetuju dengan pertanyaan bahwa bahan-bahan yang digunakan produk HYGEE berkualitas dengan nilai rata-rata tertinggi 4,41 karena masyarakat lebih mengutamakan kualitas produk yang akan dibeli, dan kualitas produk tersebut cenderung mengarah pada bahan-bahan yang Sedangkan penilaian terendah pada variabel ini dengan pernyataan yang menyatakan bahwa rasa dari produk HYGEE enak nilai rata-rata 4,17 karena tidak semua responden menyukai rasa dari selada yang dibuat sebagai minuman, minuman HYGEE cenderung memiliki rasa tawar, dan tidak semua responden pernah mencicipi rasa dari produk HYGEE. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Rismaeka & Susanto, 2. yang menyatakan bahwa produk berkualitas tinggi akan lebih disukai dan dipilih oleh konsumen dibandingkan dengan produk lain dalam kategori yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Menurut (Sari, 2. , produk berkualitas tersebut menjadi kunci utama yang memengaruhi persepsi dan Produk berkualitas tersebut dapat berupa rasa dari sebuah produk hingga bahan baku yang digunakan oleh sebuah produk. Penelitian yang dilakukan oleh (Welsa et al. , 2. sejalan dengan hasil penelitian ini yang dimana Perceived Quality berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention. Produsen produk minuman kesehatan harus memberikan persepsi kualitas yang baik mengenai produk minuman kesehatan yang mengandung faktor-faktor berupa bahan berkualitas hingga kehigenisan dari sebuah produk yang konsumen sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Pengaruh Perceived Authenticity terhadap Purchase Intention Pada hipotesis 2 memiliki nilai B sebesar 0,428 dengan nilai t hitung 4,583 > nilai ttabel yaitu 1,97419 dan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05. Dari nilai original sample diketahui bahwa pengaruh yang didapat adalah positif dan memiliki nilai pvalue yang signifikan, maka dari itu hipotesis 1 menyatakan bahwa Perceived Authenticity memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Purchase Intention diterima. Tabel 4. 10 menunjukkan bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan yang menyatakan bahwa produk HYGEE menggunakan bahan-bahan herbal asli dengan nilai rata-rata tertinggi 4,47. Hal ini sejalan dengan hasil yang menunjukan bahwa produk HYGEE berkualitas dikarenakan produk minuman kesehatan yang baik tentunya harus menggunakan bahan-bahan herbal yang berkualitas agar dapat menunjang manfaat yang akan diberikan kepada calon Sedangkan penilaian terendah Sanbudhi et al. / Journal of Entrepreneurial Studies (JES) Vol. 2 No. 1 pp. pada variabel ini dengan pernyataan yang menyatakan bahwa produk HYGEE memiliki rasa yang eksotis/khas dengan nilai rata-rata 4,12 dan produk HYGEE memiliki rasa yang unik dengan nilai rata-rata 4,11 Kedua pernyataan tersebut memiliki nilai rata-rata yang tidak berbeda jauh dikarenakan produk HYGEE cenderung memberikan rasa tawar sehingga tidak semua orang menganggap rasa dari produk HYGEE unik dan eksotis/khas. Selain itu, tidak semua responden pernah mencicipi rasa dari produk HYGEE. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Jang et al. , . 2, dalam Tanazal et al. yang menyatakan bahwa konsumen mempersepsikan keaslian suatu makan sehingga dapat meningkatkan kepuasan yang berpengaruh terhadap niat beli. Keaslian suatu makanan dapat dilihat dari berbagai aspek seperti cara memasak, resep, dan juga bahan-bahan sangat memengaruhi keinginan konsumen untuk mencoba karena informasi yang diketahui oleh konsumen akan menarik minat untuk mencoba sebuah produk (Shane et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh oleh Tanazal et al. , . sejalan dengan hasil penelitian ini yang dimana Perceived Authenticity berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention. Produsen minuman kesehatan harus memiliki keaslian dari sebuah produk agar dapat meningkatkan kepuasan konsumen. Pendekatan keaslian produk dapat dimulai dengan memberikan bahan-bahan yang khas/unik, manfaat yang sesuai dengan informasi yang diberikan, hingga rasa produk yang unik/khas. Pengaruh Price Fairness terhadap Purchase Intention Pada hipotesis 3 memiliki nilai B sebesar 0,156 dengan nilai t hitung 1,807 < nilai ttabel yaitu 1,97419 dan nilai signifikan sebesar 0,074 > 0,05. Dari nilai original sample diketahui bahwa tidak ada pengaruh yang didapat dan memiliki nilai p-value yang tidak signifikan, maka dari itu hipotesis 3 menyatakan bahwa Price Fairness berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention produk Hygge ditolak. Tabel 4. 11 menunjukkan bahwa responden sangat setuju dengan pernyataan yang menyatakan bahwa harga produk HYGEE wajar dan dapat diterima dengan nilai rata-rata tertinggi 4,47 dikarenakan responden merasa dengan harga produk HYGEE sebesar Rp. 000/pouch isi 10 dianggap wajar. Sedangkan penilaian terendah pada variabel ini dengan pernyataan yang menyatakan bahwa produk HYGEE harus memberikan potongan harga dengan nilai rata-rata 4,07 dikarenakan responden merasa bahwa dengan harga produk HYGEE sebesar Rp. 000/pouch isi 10 sudah dianggap wajar, terjangkau, dan memiliki manfaat yang sesuai dengan Sehingga responden menganggap bahwa produk HYGEE tidak harus memberikan potongan harga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wicaksana et al. , 2. yang menyatakan bahwa Price Fairness tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap purchase intention. Konsumen cenderung fokus pada manfaat dan kualitas produk yang diberikan dibanding dengan harga dari sebuah produk minuman kesehatan. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan dari Pengaruh Perceived Quality. Perceived Authenticity, dan Price Fairness Terhadap Purchase Intention Produk Hygge, dapat disimpulkan sebagai berikut: Perceived Quality berpengaruh secara signifikan terhadap Purchase Intention Perceived Authenticity berpengaruh secara signifikan terhadap Purchase Intention Price Fairness berpengaruh secara signifikan terhadap Purchase Intention SARAN