Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 DOI: https://doi. org /10. 51352/jim. ANALISIS BIAYA DAN RASIONALITAS PENGOBATAN EKSASERBASI ASMA PASIEN RAWAT INAP Submitted: 13 Desember 2023 Edited: 22 Mei 2024 Accepted: 29 Mei 2024 Amelia Lorensia1*. Marthy Meliana Ariyanti Jalmav2. Lafia Lailatul Fadik1. Fakultas Farmasi. Universitas Surabaya. Surabaya. Indonesia Fakultas Farmasi. Universitas Anwar Medika. Sidoarjo. Indonesia *Email: amelia. lorensia@gmail. lorensia@staff. ABSTRAK Asma adalah penyakit heterogen yang ditandai dengan adanya peradangan saluran nafas kronis dan biaya terkait asma sangat tinggi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui analisa biaya dan mengevaluasi perbedaan biaya riil dengan tarid INA-CBGAos, dan evaluasi rasionalitas pengobatan eksaserbasi asma pada pasien asma. Jenis penelitian adalah retrospektif dengan melihat data rekam medis pasien serangan asma di RSU Anwar Medika Sidoarjo, periode Januari 2020-Desember 2022. Variabel penelitian ini adalah biaya riil dan tarid INA-CBGs, dan kejadian drug-related problems (DRP. data pengobatan pasien selama di rumah sakit. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara melakukan pengamatan pada data rekam medis dan rincian biaya pengobatan. Analisa data menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan biaya riil dan tarid INA-CBGs. Analisa pengobatan rasional dengan MTO disajikan secara deskripif. Jumlah responden sebanyak 108, dengan tingkat asma ringan . ,19%) dan berat . ,81%). Bahwa biaya langsung tertinggi dikeluarkan untuk biaya kamar akomodasi dan biaya laboratorium. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan data bahwa nilai p sebesar 0,096 lebih besar dibandingkan dengan nilai alpha 0,05, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan biaya riil dibandingkan dengan tarid INA-CBGs pada pasien asma. Pasien yang mengalami MTO sebanyak 63 sampel . ,21%) yang mengalami DRP dan 60 sampel . ,78%) tidak mengalami DRP sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase kejadian DRP masih tinggi. Keseluruhan kejadian DRP yang terjadi sebanyak 182 kasus, dan jenis DRP yang paling banyak terjadi adalah obat tidak diperlukan sebanyak 179 kasus . ,35%) dan efek obat tidak optimal sebanyak 3 kasus . ,65%). Kata Kunci: asma, biaya, drug-related problems ABSTRACT Asthma is a heterogeneous disease characterized by chronic airway inflammation and asthmarelated costs are very high. The aim is to determine cost analysis and evaluate the difference in real costs with INA-CBGAos rates, and evaluate the rationality of treating asthma exacerbations. This design is retrospective by looking at medical record data of patients with asthma exacerbations at RSU Anwar Medika Sidoarjo, for the period January 2020-December 2022. The variables are the real costs and rates of INA-CBGs, and the incidence of drug-related problems (DRP. of patient treatment data during in the hospital. The data collection method is by observing medical record data and details of medical costs. Data analysis used Mann-Whitney to determine differences in real costs and rates for INA-CBGs. Analysis of rational treatment with MTO is presented descriptively. The number of respondents was 108, with mild . 19%) and severe . 81%) asthma rates. The highest direct costs were incurred for accommodation room costs and laboratory costs. The results of the Mann-Whitney test showed that the p value of 0. 096 was greater than the alpha value of 0. 05, it was concluded that there was no difference in real costs compared to the INA-CBGs rate in asthma patients. Of the patients who experienced MTO, 63 samples . 21%) experienced DRP and 60 samples . 78%) did not experience DRP, so it can be concluded that the percentage of DRP events is still high. The total number of DRP incidents that occurred was 182 cases, and the types of DRP that occurred most frequently were unnecessary medication in 179 cases . 35%) and suboptimal drug effects in 3 cases . 65%). Keywords: asthma, costs, drug-related problems This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. Copyright . 2024 Jurnal Ilmiah Manuntung How to Cite . SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA Lorensia A. Jalmav MMA. Fadik LL. ANALISIS BIAYA DAN RASIONALITAS PENGOBATAN EKSASERBASI ASMA PASIEN RAWAT INAP. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan. : 51-64. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 PENDAHULUAN Asma adalah penyakit heterogen yang ditandai dengan adanya peradangan saluran nafas kronis diikuti dengan gejala pernafasan seperti mengi, sesak nafas, dan batuk yang bervariasi dari waktu ke waktu dengan intensitas yang berbeda dan bersamaan dengan keterbatasan aliran udara saat ekspirasi. ,2,. Beban asma terbesar ditanggung oleh wilayah negara menengah-rendah. Prevalensi asma sangat bervariasi antar negara dengan tingkat pembangunan yang berbeda-beda, hingga 21 kali lipat di antara 70 negara. Pada tahun 2019, kolaborator Global Burden of Disease (GBD) memperkirakan bahwa lebih dari 260 juta orang di seluruh dunia menderita asma yang tidak terkontrol dengan baik, dengan tingginya angka kecacatan dan kematian dini di banyak negara dengan berpenghasilan menengah-rendah . Perburukan episode asma dikenal dengan istilah eksaserbasi asma, adalah keadaan yang ditandai dengan peningkatan progresif dalam gejala sesak nafas, batuk, mengi atau sesak dada dan penurunan progresif dalam fungsi paru-paru, yang dimana memerlukan peningkatan terapi pengobatan asma. Kondisi ini memerlukan penggunaan perawatan darurat, terkadang termasuk masuk rumah sakit, dan dapat menyebabkan kecacatan permanen dini dan kematian dini. Secara keseluruhan biaya terkait pengobatan eksaserbasi asma sangat tinggi. Hal ini dibuktikan pada penelitian sebelumnya oleh Lorensia dan Bahari. , biaya langsung yang dikeluarkan untuk pengobatan asma kategori ringan-sedang berkisar antara 2,7-3,6 juta rupiah di suatu Rumah Sakit di Surabaya. Selain itu. Pratama dan Lorensia. , juga melaporkan biaya pengobatan asma pasien rawat inap di salah satu Rumah Sakit di Jember berada di kisaran 3 juta hingga 10 juta sesuai dengan tingkat keparahan Sehingga dapat disimpulkan bahwa biaya menjadi hal yang sangat penting dalam menyelesaikan permasalahan asma. Biaya sangat mempengaruhi kemampuan pasien dalam melaksanakan prosedur pengobatan sesuai dengan resep untuk menghambat atau mengontrol penyakit asma. Dalam pengobatan asma, biaya layanan kesehatan semakin meningkat karena berbagai faktor, antara lain perubahan penyakit dan pola teknologi canggih, peningkatan permintaan pasien, dan perubahan perekonomian global. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan diselenggarakan melalui mekanisme jaminan sosial wajib berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004. Pelaksanaan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di rumah sakit menggunakan sistem pembayaran dengan tarid paket yaitu Casemix INA-CBGs (Indonesia Case Based Group. Sistem INA-CBGs merupakan model pembayaran yang digunakan oleh BPJS kesehatan untuk mengganti klaim yang ditagihkan oleh rumah sakit dengan menggunakan sistem paket berdasarkan hasil diagnosa penyakit yang diderita oleh pasien. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang lainnya karena dapat menjelaskan biaya langsung medis dan perbandingan tentang biaya riil dengan tarid INA-CBGs pada pasien asma. Biaya langsung yang dimaksud meliputi biaya kesehatan, biaya kamar, jasa dokter, jasa perawat, laboratorium, sewa alat, farmasi dan lain-lain. Pengobatan jangka panjang pasien asma sering mengalami pengobatan polifarmasi sehingga berisiko menimbulkan Drug Related Problems (DRP) yang dapat mengganggu luaran klinis. Oleh karena itu, dalam meningkatkan kualitas hidup pasien salah satunya melalui penyelesaian DRP. , dengan menggunakan pedoman Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) yang dipilih sebagai acuan karena merupakan sistem terstruktur yang terdiri dari masalah, penyebab, intervensi, penerimaan intervensi, dan status DRP. Sehingga evaluasi menggunakan PCNE dapat meminimalisir terjadinya DRP dan dalam identifikasi DRP lebih mudah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui analisa biaya dan mengevaluasi perbedaan biaya riil dengan tarid INA-CBGAos, dan evaluasi rasionalitas pengobatan eksaserbasi asma pada pasien asma di Rumah Sakit Umum Anwar Medika Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 METODE PENELITIAN Desain Penelitian dan Variabel Penelitian Jenis penelitian penelitian adalah retrospektif dengan melihat data rekam medis pasien dengan asuransi BPJS yang di diagnosis serangan asma di RSU Anwar Medika Sidoarjo, periode Januari 2020-Desember 2022. Variabel penelitian ini adalah biaya riil dan tarid INA-CBGs, dan kejadian drug-related problems (DRP. data pengobatan pasien selama di rumah sakit. Biaya riil adalah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan bukti pengeluaran yang sah. Biaya riil bersumber dari saham biasa, saham preferen, laba yang ditahan atau hutang untuk jangka panjang. tarid INA-CBGs merupakan tarid paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun nonmedis. Perhitungan tarid INA-CBGs berbasis pada data costing dan data koding rumah Data costing merupakan data biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit baik operasional maupun investasi, yang didapatkan dari rumah sakit terpilih yang menjadi presentasi rumah sakit. Data coding diperoleh dari data rumah sakit PPK Jamkesmas. DRP dalam penelitian ini adalah masalah dan penyebab terkait pengobatan pada pasien serangan asma di RSU Anwar Medika Sidoarjo. DRP diklasifikasikan sesuai dengan PCNE Vol 9. berdistribusi normal dan dilanjutkan dengan analisis statistik parametrik menggunakan t-test perbedaan yang signifikan antara biaya riil rumah sakit dengan tarid INA-CBGAos rawat Jika nilai signifikasi . )<0,05 maka data penelitian tidak berdistribusi normal dan dilanjutkan dengan analisis statistik nonparametrik menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui perbandingan median atau nilai tengah 2 kelompok. Analisa pengobatan rasional dengan menganalisa MTO dan disajikan secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Penelitian Penelitian retrospektif dengan melihat data rekam medis pasien untuk mengetahui perbandingan biaya riil dan INA-CBGs. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Anwar Medika Sidoarjo pada bulan November sampai Desember 2022 di bagian Rekam medik dan Keuangan. Berdasarkan data sampel penelitian yang diambil pada periode 20192022. Rekam medis yang memenuhi kriteria Populasi dan Sampel Populasi dan sampel . yang digunakan pada penelitian ini adalah semua pasien dewasa yang terserangan asma dengan rentang umur 25-45 tahun di Rumah Sakit Anwar Medika Sidoarjo periode tahun 20212022. Pengumpulan responden menggunakan total sampling. inklusi adalah sebanyak 108 pasien . ,4%), sedangkan data kriteria eksklusi sebanyak 17 pasien . ,6%). Hal demikian disebabkan karena terdapat adanya penyakit penyerta. etik 164/KE/XI/2022 yang diterbitkan oleh Institutional Ethical Committee Universitas Surabaya. Metode Pengumpulan dan Analisa Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara melakukan pengamatan pada data rekam medis dan rincian biaya pengobatan pada pasien asma peserta BPJS kemudian data dicatat pada lembar pengumpulan data dan tabulasi dalam lembar data Excel. Pada Analisa biaya, uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel >50. Apabila nilai signifikasi . ) >0,05 maka data penelitian Karakteristik Dasar Sampel Penelitian Sebagian adalah perempuan . ,67%) daripada lakilaki . ,33%). Sebagian besar responden berada pada rentang usia 20-44 tahun sebesar 43,52%. Ruang kelas sebagian besar responden adalah kelas i dengan Tingkat keparahan asma ringan . ,67%) (Tabel . Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 Tabel 1. Karakteristik Pasien Berdasarkan Tingkat Keparahan Asma Karakteristik Responden Ringan . Frekuensi Berat . Total . Persentase Persentase Persentase Frekuensi Frekuensi (%) (%) (%) Laki-laki 29,63 3,70 33,33 Perempuan 55,56 11,11 66,67 19-Oct 9,26 0,93 10,19 35,19 5,56 43,52 35,19 7,41 42,59 Ou60 5,56 0,93 6,48 4,63 4,63 8,33 8,33 19,44 20,37 Lama perawatan di 5 rumah sakit 6 23,15 23,15 19,44 1,85 21,30 7,41 2,78 10,19 1,85 5,56 7,41 0,93 2,78 3,70 0,93 0,93 0,93 0,93 28,70 5,56 34,26 Ruang kelas II 15,74 2,78 18,52 i 41,67 5,56 47,22 Jenis Usia Profil Biaya Langsung Profil biaya langsung pasien diketahui dari biaya tindakan, biaya tenaga medis, biaya obat, dan sarana penunjang yang dikeluarkan oleh pasien. Tingkat keparahan merupakan faktor penting untuk diperhatikan dalam menentukan biaya obat. Biaya obat akan semakin meningkat jika pola penyakit semakin kompleks. Analisis biaya dibutuhkan untuk melihat gambaran tarid yang telah ditentukan untuk pasien berdasarkan platform pembayaran dan kelompok kelas bagi pasien JKN. Adapun data komponen biaya yang digunakan dalam terapi pengobatan asma meliputi biaya tindakan, biaya tenaga medis, biaya obat dan lain-lain, serta biaya sarana Berdasarkan hasil penelitian terkait dengan data komponen biaya langsung diketahui bahwa nilai biaya rata-rata kategori tindakan pada sub-kategori biaya prosedur non bedah sebesar Rp. , sedangkan biaya rata-rata tertinggi kategori tenaga medis yaitu pada sub-kategori biaya konsultasi sebesar Rp. Biaya rata-rata tertinggi pada kategori obat dan lain-lain yaitu pada sub-kategori biaya obat sebesar Rp. Pada kategori sarana penunjang nilai biaya tertinggi yaitu pada sub-kategori biaya laboratorium sebesar Rp. 578 (Tabel . Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 Tabel 2. Data Komponen Biaya Terapi Asma Mean (Rp. Std. Deviation Minimum (Rp. Maximum (Rp. 419,98 Biaya tenaga Tenaga medis ahli Biaya 857,51 Biaya obat 790,49 Obat & Lain- Biaya alkes 731,29 Biaya BMHP Biaya sewa 579,40 Biaya kamar 642,66 Biaya 991,95 Biaya 508,09 Biaya 211,42 Kategori Sub-Kategori Frekuensi Tindakan Biaya prosedur non Biaya Sarana Penunjang Catatan: untuk pasien tertentu, data biaya tidak dipilah ke dalam sub-kategori dan ditotal kedalam biaya prosedur non bedah sehingga terlihat nilai minimum sebesar Rp. Profil Biaya Langsung Berdasarkan hasil rata-rata total biaya pada pasien asma dengan penyakit penyerta dan pasien asma tanpa penyakit penyerta secara keseluruhan total biaya langsung medis pasien asma kategori ringan hingga berat di RSU Anwar Medika Sidoarjo berkisar antara 2-3 juta rupiah. Kondisi demikian sesuai dengan hasil beberapa tinjauan terakhir yang dilaporkan beban ekonomi secara nasional akibat asma pada tahun 2011 pada lintas negara seperti di Asia Tenggara sebesar 300 USD untuk setiap pasien. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lorensia dan Bahari. , biaya langsung yang dikeluarkan untuk pengobatan asma kategori ringan hingga sedang berkisar antara 2,73,6 juta rupiah di salah satu Rumah Sakit di Surabaya. Selain itu. Pratama dan Lorensia. , juga melaporkan biaya pengobatan asma pasien rawat inap di salah satu Rumah Sakit di Jember berada di kisaran 3 juta hingga 10 juta sesuai dengan tingkat keparahan Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 Profil Perbedaan Biaya Rill dibandingkan dengan tarid INA-CBGAos Berdasarkan Perbedaan Kelas BPJS Pada perbedaan antara biaya riil dengan tarid INA-CBG di RSU Anwar Medika Sidoarjo, tarid riil dihitung secara Adapun tarid layanan kesehatan pada Rumah Sakit Umum Anwar Medika meliputi komponen jasa sarana, jasa pelayanan, kebutuhan dan jasa medis sesuai masingmasing pelayanan, untuk komponen dan besaran tarid rawat inap terdiri dari jasa sarana, jasa pelayanan, dan jasa medis. Sedangkan perhitungan tarid INA-CBG didasarkan pada akumulasi atau kombinasi kode diagnosa dan kode prosedur/tindakan ke dalam kode INA- CBG yang standar taridnya telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan pada tabel di atas membandingkan tingkat keparahan pasien serangan asma yang dibandingkan berdasarkan kelas BPJS. Diketahui bahwa biaya riil tingkat keparahan asma ringan untuk kelas I. II dan i juga tingkat keparahan asma berat kelas I. II dan i sangat rendah dibandingkan dengan biaya INA-CBGs (Tabel . Pada tabel di atas terdapat uji normalitas dengan nilai P=0,000 untuk kelas I dan i pasien asma ringan dan untuk kelas II pasien berat yang dibandingkan antara biaya rata-rata Riil cost dengan ratarata biaya INA-CBGs yang artinya data tidak berdistribusi normal dikarenakan nilai normalitasnya <0,05, kemudian didapatkan juga uji nilai P=0,002 untuk kelas II pasien asma ringan yang dibandingkan antara biaya rata-rata Riil cost dengan rata-rata biaya INACBGs yang artinya data tidak berdistribusi normal dikarenakan nilai normalitasnya <0,05, lalu didapatkan P=0,200 untuk kelas I pasien asma berat yang dibandingkan antara biaya rata-rata Riil cost dengan rata-rata biaya INA-CBGs yang artinya berdistribusi normal karena nilai normalitasnya >0,05 dan didapatkan juga nilai P=0,200 untuk kelas i pasien asma berat yang dibandingkan antara rata-rata Riil cost dengan rata-rata biaya INACBGs yang artinya data tidak berdistribusi normal karena nilai normalitasnya <0,05 (Tabel . Setelah data uji normalitas didapatkan tidak berdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Uji selanjutnya yang digunakan adalah uji Mann Whitney untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara total biaya riil dengan biaya INA-CBGs. Berdasarkan kelas dan tingkat keparahan pasien didapatkan bahwa nilai P=0,000 untuk kelas I asma ringan yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan, untuk kelas I asma berat didapatkan nilai P=0,303 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Pada kelas II asma ringan didapatkan nilai P=0,053 yang berarti terdapat perbedaan tarid yang signifikan, sedangkan untuk kelas II asma berat didapatkan nilai P=0,480 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan. Pada kelas i asma ringan di dapatkan nilai P=0,520 sedangkan asma berat didapatkan nilai P=0,303 yang berarti keduanya tidak mempunyai perbedaan tarid yang signifikan (Tabel . Tabel 3. Perbedaan Total Biaya Tingkat Keparahan Asma berdasarkan dengan Biaya INA-CBGs biaya riil dibandingkan Tingkat Keparahan Asma Ringan . Ruang Kelas Tarif INA Frekuensi CBGAos (Rp. Normalitas Rata-rata biaya riil Rata-rata biaya riil (Rp. (Nilai P) 0,000 Uji MannWhitney (Nilai P) Kesimpulan 0,000* Tarif INA-CBGAos lebih tinggi daripada rata-rata biaya riil, dan ada perbedaan biaya riil dan tarif INA-CBGAos. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 i 0,002 0,000 0,053 Rata-rata biaya riil lebih tinggi daripada tarif INA-CBGAos, dan tidak ada perbedaan biaya riil dan tarif INA-CBGAos. 0,520 Rata-rata riil lebih tinggi daripada tarif INACBGAos, dan tidak biaya riil dan tarif INA-CBGAos. Tingkat Keparahan Asma Berat . 0,200 0,303 0,000 0,480 i 0,200 0,303 Tarif INA-CBGAos lebih tinggi daripada rata-rata riil, dan tidak ada perbedaan signifikan antara biaya riil dan tarif INA-CBGAos. Rata-rata biaya riil lebih tinggi daripada tarif INA-CBGAos, dan tidak ada perbedaan biaya riil dan tarif INA-CBGAos. Tarif INA-CBGAos lebih tinggi daripada rata-rata riil, dan tidak ada perbedaan signifikan antara biaya riil dan tarif INA-CBGAos. *nilai P<0,05, artinya ada hubungan antara biaya riil dan tarid INA-CBGAos mengenai Analisis Perbedaan Biaya Riil dengan tarid INA-CBGs Rumah Sakit pada Pasien Asma Peserta JKN di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Citra Husada Jember, menyatakan bahwa hasil penelitian terkait analisis biaya riil dibandingkan dengan biaya INA-CBGs pada pasien asma rawat inap di suatu Rumah Sakit Umum Citra Husada Jember pada periode waktu Januari 2017-Desember 2018, disimpulkan bahwa ada perbedaan biaya riil dibandingkan dengan tarid INA-CBGs pasien asma peserta JKN di IGD Rumah Sakit X di Jember. Analisa biaya yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan direct medical cost . iaya medis langsun. yang meliputi prosedur non bedah, konsultasi, tenaga ahli, keperawatan, penunjang, radiologi, laboratorium, kamar, obat, sewa alat. Biaya pasien serangan asma ringan pada kelas I rata rata biaya riil lebih rendah dari pada biaya INA_CBGs, dimana biaya riil sebesar Rp. 952/pasien dan INA CBGs sebesar Rp. 900/pasien. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pratama & Lorensia. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 Profil Kejadian DRP sesuai Klasifikasi PCNE Berdasarkan Masalah dan Penyebab Pada tabel 4 diketahui bahwa jumlah dan persentase DRP yang dialami oleh sampel penelitian saat di IGD dan rawat inap secara keseluruhan memiliki jumlah sampel yaitu 123 sampel dengan persentase dari total sampel IGD yaitu terdapat kejadian DRP sebanyak 63 . ,22%). Jumlah kasus dan persentase dari total kasus yang terjadi di IGD sebanyak 182 . %). Pada pengobatan saat rawat inap jumlah total kasus sebesar 182 . %). Jumlah dan persentase DRP yang terjadi berdasarkan masalah pada pengobatan di IGD dan rawat inap berjumlah 63 sampel. Pada pengobatan di IGD. DRP yang banyak terjadi terdapat pada M3. 1 yaitu obat tidak diperlukan berjumlah 60 . ,78%) sampel dengan jumlah kasus sebesar 179 . ,35%). Pada pengobatan di rawat inap. DRP yang banyak terjadi terdapat pada M3. yaitu obat tidak diperlukan berjumlah 60 . ,78%) sampel dengan jumlah kasus sebesar 179 . ,35%). Berdasarkan pada tabel 4, diketahui bahwa jumlah dan persentase DRP berdasarkan penyebab yang terjadi pada pengobatan di IGD dan rawat inap. DRP yang banyak terjadi terdapat pada P1. 2 yaitu tidak ada indikasi untuk obat tersebut 14 . ,38%) sampel dengan jumlah kasus sebesar 133 . ,07%). Pada pengobatan di IGD. DRP yang banyak terjadi terdapat pada P1. 2 yaitu tidak ada indikasi untuk obat tersebut 14 . ,38%) sampel dengan jumlah kasus sebesar 133 . ,07%). Penelitian sebelumnya menunjukkan hasil serupa pada pasien eksaserbasi asma yang menjalani rawat inap periode tahun 2017-2018. Dari total 96 100 data rekam medis pasien, sebanyak 143 . ,28%) kasus sampel mengalami kasus terkait masalah obat saat pengobatan di IGD dan sebanyak 202 . ,06%) sampel mengalami kasus terkait masalah obat saat menjalani rawat Terapi yang paling banyak terlibat kejadian MTO adalah ceftriaxone dengan jumlah kasus 86 . ,14%) kasus saat pengobatan di IGD dan saat menjalani rawat inap adalah ceftriaxone dengan jumlah kasus sebesar 112 . ,44%) Oleh karena itu pengobatan asma di rumah sakit harus mendapatkan perhatian agar dapat mencapai hasil yang optimal dalam efektifitas dan keamanan. Tabel 4. Profil Kejadian DRP Berdasarkan Jumlah Sampel Klasifikasi DRP Pengobatan di Jenis DRP Jenis DRP Terapi terkait DRP berdasarkan berdasarkan Masalah Penyebab IGD Frekuensi . Berdasarkan Jumlah Kasus Persentase Persentase berdasarkan Jumlah kasus berdasarkan . jumlah kasus responden (%) (%) M1. P3. Metilprednisolone 2,78 1,65 M3. P1. Salbutamol 31,48 18,68 P1. Oksigen 11,11 6,59 Fluticasone 0,93 0,55 Fartison 2,78 1,65 Budesonide 25,00 14,84 Aminophiline 12,96 7,69 Salbutamol ipratropium 3,70 2,20 Efrineprin 1,85 1,10 Metamizole sodium 6,48 3,85 Ranitidine 7,41 4,40 Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 P1. Rawat inap Ondansetron 1,85 1,10 Codein 3,70 2,20 Omeprazole 6,48 3,85 Ambroxol 3,70 2,20 Bromhexine HCL 0,93 0,55 Pantoprazole 2,78 1,65 Erdostein 0,93 0,55 n-acetylcystein 0,93 0,55 Ceftiaxone 13,89 8,24 Cefadroxil 1,85 1,10 Cefixime 0,93 0,55 Azithromycin Dihydrate 1,85 1,10 Levofloxacin 2,78 1,65 Kalium klorida 2,78 1,65 Ceterizine 2,78 1,65 Duplikasi salbutamol MDI salbutamol 2,78 1,65 Duplikasi Methylprednisolon 1,85 1,10 M1. P3. Metilprednisolone 2,78 1,65 M3. P1. Salbutamol 31,48 18,68 P1. Oksigen 11,11 6,59 Fluticasone 0,93 0,55 Fartison 2,78 1,65 Budesonide 14,84 Aminophiline 12,96 7,69 Salbutamol ipratropium 3,70 2,20 Efrineprin 1,85 1,10 Metamizole sodium 6,48 3,85 Ranitidine 7,41 4,40 Ondansetron 1,85 1,10 Codein 3,70 2,20 Omeprazole 6,48 3,85 Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 P1. Ambroxol 3,70 2,20 Bromhexine HCL 0,93 0,55 Pantoprazole 2,78 1,65 Erdostein 0,93 0,55 n-acetylcystein 0,93 0,55 Ceftiaxone 13,89 8,24 Cefadroxil 1,85 1,10 Cefixime 0,93 0,55 Azithromycin Dihydrate 1,85 1,10 Levofloxacin 2,78 1,65 Kalium klorida 2,78 1,65 Ceterizine 2,78 1,65 Duplikasi salbutamol MDI salbutamol 2,78 1,65 Duplikasi Methylprednisolon 1,85 1,10 Klasifikasi DRP: M1. 2 : Efek obat tidak optimal M3. 1 : Obat tidak diperlukan P1. 1 : Pemilihan obat tidak sesuai dengan guidelines . edoman terap. atau formularium . ermasuk kontraindikas. P1. 2 : Tidak ada indikasi untuk obat tersebut P1. 4 : Duplikasi kelas terapi . olongan oba. atau bahan aktif obat yang tidak tepat P3. 1 : Dosis obat terlalu rendah hari sampai maksimal 50 mg/hari, dan 1-2 mg/kg/hari sedangkan pada sampel kurang dari dosis tersebut. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat fartison dengan jumlah kasus 3 . 65%), fluticasone 1 . ,55%), budesonide 27 . ,83%). Penggunaan ICS digunakan jika pasien sistemik tetapi pada sampel untuk terapi kortikosteroid sudah diberikan. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 4 duplikasi kelas terapi . olongan oba. atau bahan Berdasarkan profil kejadian DRP pada sampel penelitian tabel 4 dapat dilihat bahwa jumlah dan persentase DRP berdasarkan masalah dan penyebab pada sampel yang terjadi di IGD dan rawat inap. Pengobatan di IGD dan rawat inap DRP yang terjadi pada sampel yaitu M1. 2 efek obat tidak optimal dengan P3. 1 dosis obat terlalu rendah yang terkait DRP adalah methylprednisolone jumlah kasus sebanyak 3 . ,64%), menurut Global Initiative for Asthma. , dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 1 mg prednisolon/kg/ Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 aktif obat yang tidak tepat dengan jumlah kasus 2 . ,10%) yaitu terapi methylprednisolone dan deksametasone terdapat duplikasi bahan aktif yang beresiko peningkatan biaya dan efek samping maka dari itu sampel seharusnya menggunakan methylprednisolone. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap terapi obat golongan SABA. DRP yang terjadi adalah M3. 1 Obat tidak diperlukan dengan P1. 1 Pemilihan obat tidak sesuai dengan guidelines . edoman terap. atau formularium . ermasuk kontraindikas. yaitu salbutamol jumlah kasus sebanyak 34 . menurut Global Initiative for Asthma. , untuk terapi pengobatan serangan asma tingkat ringan cukup menggunakan salbutamol MDI saja. Pada sampel kebanyakan menggunakan salbutamol nebulizer. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 4 duplikasi kelas terapi . olongan oba. atau bahan aktif obat yang tidak tepat dengan jumlah kasus 3 . ,65%) yaitu terapi salbutamol nebulizer dan salbutamol MDI yang sama-sama mengandung bahan aktif yaitu salbutamol jadi terdapat duplikasi bahan aktif yang beresiko peningkatan biaya dan efek samping maka dari itu sampel seharusnya menggunakan salbutamol MDI saja. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap terapi oksigen. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu oksigen dengan jumlah kasus sebanyak 12 . ,59%) menurut Global Initiative for Asthma. , nilai saturasi oksigen untuk pengobatan serangan asma adalah 93-95%. Pada sampel kebanyakan memiliki nilai saturasi oksigen rentang 93-95%. Jika nilai saturasi oksigen sudah masuk rentang 93-95% maka tidak perlu diberikan oksigen. Terapi oksigen yang terkontrol akan memberikan hasil klinis yang baik. Jenis DRP ini juga sering terjadi, pada penelitian Lorensia & Pratiwi. , di rumah sakit X yang meneliti kejadian DRP pada pasien rawat inap. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap antibiotik. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat ceftriaxone dengan jumlah kasus 15 . ,24%), cefixime dengan jumlah kasus 1 . ,55%), cefadroxil dengan jumlah kasus 2 . ,10%), azithromycin dihidrate dengan jumlah kasus 2 . ,10%), levofloxacin dengan jumlah kasus 3 . ,65%), penggunaan antibiotik tidak terlalu diperlukan pada pengobatan asma karena kurang adanya bukti yang mendukung dalam penggunaan antibiotik terkecuali ada bukti yang kuat jika pasien tersebut terkena infeksi paru-paru . eperti demam, pneumoni. dan pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan setelah pemberian kertikosteroid dan sebaiknya untuk ekaserbasi asma terapi antibiotik tidak diresepkan secara rutin untuk serangan asma. ,21,. Pengobatan di IGD dan rawat inap klasifikasi DRP terhadap obat golongan H2 Reseptor Antagonis. Serotonin Reseptor Antagonis. PPI. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat omeprazole dengan jumlah kasus 7 . ,84%), ranitidine 8 . ,40%), ondansetron 2 . ,10%), pantoprazole 3 . ,65%). Kejadian mual muntah yang dialami pasien asma merupakan hal yang wajar karena asma dapat memicu terjadinya GERD (Gastroesophageal Reflux Diseas. tetapi jika dilihat pada penelitian ini sampel tidak ada keluhan mual muntah sehingga untuk pemberian terapi mual muntah kurang tepat karena tidak ada indikasi untuk tujuan terapi tersebut. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap terapi golongan opioid dan DRP yang terjadi yaitu M3. obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat ambroxol dengan jumlah kasus 4 . ,19%), bromhexine HCL 1 . ,55%), n-acetylcystein 1 . ,55%), codein 4 . erdostein 1 . ,55%). Penggunaan obat batuk pada tidak terlalu direkomendasikan Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 10 No. Hal. 51-64, 2024 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terkait dengan analisis biaya langsung pada pengobatan serangan asma pasien dewasa di RSU Anwar Medika Sidoarjo selama periode 2020-2022, dapat disimpulkan bahwa biaya langsung tertinggi dikeluarkan untuk biaya kamar akomodasi dan biaya laboratorium, dikeluarkan untuk biaya sewa alat dan tenaga Selain itu, terdapat perbedaan rata-rata total biaya langsung pengobatan pada pasien asma tanpa penyakit penyerta dibandingkan pasien asma dengan penyakit penyerta pada setiap kategori asma ringan dan berat serta dalam kelas perawatan yang berbeda-beda yaitu kelas I, kelas I, dan kelas i. Hasil uji Mann-Whitney didapatkan data bahwa nilai p sebesar 0,096 lebih besar dibandingkan dengan nilai alpha 0,05 (Nilai P>Nilai ), disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan biaya riil dibandingkan dengan tarid INACBGs pada pasien asma. Pasien yang mengalami MTO sebanyak 63 sampel . ,21%) yang mengalami DRP dan 60 sampel . ,78%) tidak mengalami DRP sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase kejadian DRP masih tinggi. Keseluruhan kejadian DRP yang terjadi sebanyak 182 kasus, dan jenis DRP yang paling banyak terjadi adalah obat tidak diperlukan sebanyak 179 kasus . ,35%) dan efek obat tidak optimal sebanyak 3 kasus . ,65%). karena batuk merupakan gejala dari asma yang sering muncul pada malam hari dan diagnosis didukung oleh adanya hipperesponsif bronkial. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap terapi golongan SABA SAMA. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat salbutamol ipratropium bromida 4 . ,69%) menurut Global Initiative for Asthma. , penggunaan ICS digunakan jika pasien sistemik tetapi pada sampel untuk terapi kortikosteroid sudah diberikan. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap terapi obat golongan antagonis alfa dan beta adrenergik. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat epinefrin. Global Initiative for Asthma. , epinefrin diindikasikan dalam terapi standar untuk asma akut berkaitan dengan dengan anafilaksis dan angioderma. Ini tidak diindikasikan rutin untuk serangan asma. Pengobatan di IGD dan rawat inap terhadap terapi golongan methylxantine. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat aminophylin dengan jumlah kasus 14 . ,69%). Penggunaan aminophylin dan teofilin seharusnya tidak digunakan dalam manajemen serangan asma karena efikasi yang rendah yang berkaitan dengan keparahan dan efek samping yang fatal. Pengobatan di IGD dan rawat inap antihistamin, analgesik, dan elektrolit. DRP yang terjadi yaitu M3. 1 obat tidak diperlukan dengan P1. 2 tidak ada indikasi untuk obat tersebut yaitu obat ceterizine dan kalium klorida jumlah kasus masingmasing 3 . ,65%), metamizole sodium 7 . ,85%) adalah obat antihistamin dan analgesik, akan tetapi pada sampel tidak ada keluhan sehingga obat tersebut tidak diberikan. DAFTAR PUSTAKA