Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA EDIBLE FILM DENGAN BAHAN BAKU PATI GARUT DAN GLISEROL SEBAGAI PLASTICIZER Rafi Renaldy Tamalea1*. Luh Dian Rna Fajarini2. Nur Syamsi Ibrahim3. Syerina Raihatul Jannah4 Universitas Udayana. Program Studi Teknologi Pangan Jl. Kampus Bukit Unud. Jimbaran. Kab. Badung. Bali, 701812 Politeknik Gorontalo. Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Pangan Jl. Muchlis Rahim. Desa Panggulo Barat. Kecamatan Botupingge. Kabupaten Bone Bolango. Provinsi Gorontalo, 96583 Politeknik Negeri Sriwijaya. Program Studi D3 Teknologi Pangan Jl. Srijaya Negara. Bukit Besar. Palembang. Sumatera Selatan, 30139 Email: rafirenaldy@unud. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak variasi konsentrasi gliserol terhadap sifat fisik dan kimia dari Edible film berbasis pati garut, sekaligus menilai pengaruh jenis pati garut terhadap karakteristik fisik dan kimia dari Edible film yang dihasilkan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan enam kombinasi perlakuan dan tiga Perlakuan yang digunakan adalah jumlah pati garut 3 gram dan 4 gram serta konsentrasi gliserol 1,25%, 1,5%, 1,75%. Kesimpulan pada penelitian adalah hasil dari analisis kadar air, ketebalan, kelarutan dan warna . menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan menggunakan uji F pada taraf 5% kecuali parameter warna kecerahan (L) dengan kadar pati yang berbeda menunjukkan adanya pengaruh atau perbedaan yang signifikan tetapi tidak ada pengaruh ataupun perbedaan yang signifikan antara perbedaan Kata Kunci: Edible Film. Pati garut. Gliserol. Kelarutan. Ketebalan. ABSTRACT The purpose of this study was to examine the effect of glycerol concentration on the physical and chemical characteristics of edible film produced based on arrowroot starch and to examine the effect of arrowroot starch material on the physical and chemical characteristics of edible film produced. This study used a completely randomized design experimental design method with 6 treatment combinations and 3 replicates. The treatments used were the amount of arrowroot starch 3 grams and 4 grams and the concentration of glycerol 1. 5%, 1. The conclusion of the study is the results of the analysis of water content, thickness, solubility and color . show no significant difference using the F test at the 5% level except for the brightness color parameter (L) with different starch levels showing an effect or significant difference but there is no effect or significant difference between the different concentrations. Keywords: Edible Film. Arrowroot Starch. Glycerol. Solubility. Thickness PENDAHULUAN Edible film merupakan lapisan tipis yang dibuat dari polimer alami yang berasal dari . , karbohidrat . , dan lemak . Ketiga jenis polimer ini Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 film yang kokoh. Namun, kelemahan dari pati adalah daya tahan yang rendah Keunggulan utama dari polimer ini adalah terhadap air serta kemampuan yang kurang berasal dari sumber daya yang dapat diperbarui dan mampu terurai secara alami Kekurangan ini dapat berdampak pada di lingkungan . (Kusnadi, penurunan masa simpan produk makanan. Edible film menjadi pilihan unggul Oleh karena itu, diperlukan penambahan film karena mampu membentuk lapisan . dan memiliki tampilan menambahkan zat antimikroba, untuk yang menarik secara estetika. Hal ini meningkatkan kinerja edible film tersebut. berbeda dengan plastik konvensional yang (Winarti, 2. Umbi garut memiliki bersifat nonbiodegradable dan berpotensi 98,74%, negara-negara yang belum menerapkan berpotensi dijadikan bahan utama dalam sistem daur ulang . Bahan pembuatan edible film. Pati dari garut utama untuk membuat edible film dibagi merupakan jenis karbohidrat alami yang menjadi tiga kategori, yaitu hidrokoloid, memiliki kemampuan pengentalan dua kali lipida, dan komposit. Edible film berbasis lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pati lainnya, sehingga mampu menghasilkan protein atau polisakarida. Salah satu kemasan dengan tampilan yang lebih sumber polisakarida adalah pati, yang Berbagai penelitian mengenai kerap dimanfaatkan dalam pembuatan film penggunaan edible film sebagai kemasan biodegradable sebagai alternatif pengganti plastik karena sifatnya yang terbarukan dan mampu memberikan karakteristik fisik yang baik. (Bourtoom, 2. Edible film meningkatkan mutu produk makanan. yang dibuat dari bahan dasar pati memiliki (Rizkyati, 2. melindungi produk dari paparan oksigen, berperan dalam meningkatkan kualitas (Warkoyo, 2. Pati merupakan bahan yang cocok untuk pembuatan edible METODE PENELITIAN Prosedur Pembuatan Edible Film dan Analisis Proses diawali dengan menimbang sejumlah pati Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 garut sesuai variasi yang ditentukan. Pati dihaluskan dimasukkan ke dalam cawan akuades dalam jumlah tertentu dan diaduk dikeringkan dalam oven pada suhu 105AC selama 12 jam. Setelah pengeringan, menggunakan alat stirrer. Setelah itu. Proses dengan bantuan magnetic stirrer hingga diulang hingga diperoleh berat yang stabil, mencapai suhu gelatinisasi pati garut, yaitu yaitu ketika selisih berat penimbangan 70AC. berturut-turut Setelah (Sudarmadji, 1. Kadar air dihitung sebanyak 1,25 mL, 1,5 mL, dan 1,75 mL, lalu diaduk kembali selama 5 menit. Kadar air () = ycaOeyca X 100% ycaOeyca Larutan yang telah tercampur kemudian Keterangan : A = berat cawan . gelembung udara maupun kotoran yang B = berat cawan ditambah sampel sebelum mungkin ada. Selanjutnya, sekitar 150 dikeringkan . gram larutan dituangkan ke dalam cetakan C = berat cawan ditambah sampel setelah kaca berukuran 14 y 2,5 cm, lalu cetakan dikeringkan . tersebut dimasukkan ke dalam oven pada suhu 70AC selama kurang lebih 4 jam. Setelah itu, cetakan dikeluarkan dan didinginkan selama sekitar 20 menit. Tahap akhir adalah melepaskan plastik dari cetakannya untuk kemudian dilakukan analisis terhadap kadar air, kelarutan, ketebalan, dan warnanya. menggunakan mikrometer dengan tingkat ketelitian 0,1 m pada lima titik yang Hasil rata-rata pengukuran tersebut digunakan sebagai (Yuliasih Sugiarto, 2. Cawan porselen yang kosong terlebih dahulu dikeringkan dalam oven selama 60 Pengukuran Kadar Air Ketebalan desikator dan ditimbang. Selanjutnya, sebanyak 2 gram sampel yang telah Kelarutan Pengujian kelarutan edible film dalam air dilakukan dengan merendam potongan film berukuran 2y2 cm ke dalam wadah berisi air. Tingkat kelarutan dinyatakan Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 dalam bentuk persentase bagian film yang dari edible film tersebut dilakukan analisis yang didapatkan hasil dari penelitian ini (Gontard dan Guilbert, 1. berdasarkan analisis variabel yang telah Persen kelarutan = ycaOeyca X 100% yca Kadar Air Keterangan : a : berat awal . b :berat akhir . Warna Sampel dipersiapkan dan alat pembaca (Colour Selanjutnya, target pengukuran nilai L, a*, dan b* ditetapkan, lalu warna sampel Nilai menentukan nilai kromatisitas. (Yuwono ini menerapkan Rancangan Acak Lengkap dengan enam kombinasi perlakuan dan tiga kali pengulangan. Variasi perlakuan kadar air dengan variasi konsentrasi gliserol sebagai plasticizer berkisar antara 11,16 12,87%. Penambahan gliserol sebesar 1,75% dan pati umbi garut dan Susanto. Gambar 1 menunjukkan bahwa Nilai (Lightnes. , serta a* dan b* Penelitian Gambar 1. Kadar air edible film dengan perbedaan konsentrasi pati dan gliserol sebanyak 3 gram (G1/D. dan 4 gram (G2/D. , serta konsentrasi gliserol sebesar 1,25% (K. , 1,5% (K. , dan 1,75% (K. sebanyak 4 gram menghasilkan kadar air tertinggi, yaitu 12,87%, namun masih sesuai dengan batas maksimum yang ditetapkan oleh SNI. Menurut SNI 063735-1995, kadar air maksimal untuk edible film adalah 16%. Analisis sidik konsentrasi gliserol dan pati umbi garut tidak memberikan pengaruh signifikan (P<0,. terhadap kadar air pada edible HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil percobaan bahwa pembuatan edible film berhasil dibuat, lalu Penambahan gliserol dan pati umbi garut selama proses pembuatan film menghasilkan kadar air yang rendah. Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 kelayakannya sebagai kemasan produk berkualitas baik dan mampu melindungi produk yang dikemas. Hasil kadar air memengaruhi sifat fisik dan kimia film, dalam penelitian ini serupa dengan hasil seperti daya tahan terhadap pemanjangan, (Ariska menghasilkan kadar air 11,50% (Deden et Suyatno, 2. ,2. Hasil Ketebalan penelitian ini mirip dengan ketebalan edible film yang dibuat menggunakan tepung pati umbi garut dan minyak sawit, yaitu sebesar 0,1134 mm (Shabrina et al. Fenomena peningkatan konsentrasi pati dan minyak sawit dapat meningkatkan total padatan dalam edible film, sehingga menghasilkan Gambar 2. Ketebalan edible film dengan perbedaan konsentrasi gliserol dan pati umbi garut Gambar 2 menunjukkan bahwa Nilai ketebalan edible film dengan variasi film dengan ketebalan yang lebih besar. Ketebalan edible film sangat dipengaruhi oleh konsentrasi pati yang digunakan (Shabrina et al, 2. konsentrasi gliserol sebagai plasticizer berkisar antara 0,132 hingga 0,243 mm. Kelarutan Penambahan gliserol sebesar 1,25% dan menghasilkan ketebalan tertinggi, yaitu 0,243 Analisis menunjukkan bahwa variasi konsentrasi memberikan pengaruh signifikan (P<0,. terhadap ketebalan edible film. Ketebalan film berperan penting dalam memengaruhi Gambar 3. Kelarutan edible film dengan perbedaan konsentrasi gliserol dan pati umbi garut permeabilitas gas. Ketebalan edible film menjadi faktor krusial dalam menentukan Gambar 3 menunjukkan bahwa Nilai kelarutan edible film dengan variasi Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 konsentrasi gliserol sebagai plasticizer berkisar antara 19,87 hingga 33,36%. Penambahan gliserol sebesar 1,25% dan menghasilkan nilai kelarutan tertinggi, yaitu 33,36%, yang membuat edible film lebih mudah larut dalam air. Namun, konsentrasi gliserol tidak memberikan Gambar 5. Warna a edible film dengan perbedaan konsentrasi gliserol dan pati umbi garut kelarutan edible film. Analisis sidik konsentrasi gliserol dan pati umbi garut (P<0,. terhadap kelarutan film tersebut. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya pada edible film berbahan tepung jali, di menunjukkan perbedaan signifikan dalam kelarutan (Anandito et al, 2. Analisis Warna Gambar 6. Warna b edible film dengan perbedaan konsentrasi gliserol dan pati umbi garut Warna menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli suatu produk, sehingga penelitian ini melakukan pengujian warna edible film menggunakan metode CIE Lab. Sistem Hunter mencakup tiga parameter, yaitu L*, a*, dan b*. Parameter L* menunjukkan tingkat kecerahan dengan rentang nilai antara 0 hingga 100, di mana nilai 0 Gambar 4. Warna L edible film dengan perbedaan konsentrasi gliserol dan pati umbi garut menggambarkan warna hitam dan 100 menunjukkan warna putih. Parameter a* rentang nilai dari -80 sampai 80. menunjukkan warna Journal of Agritech Science. Vol 9 No 1. Mei 2025 merah, sedangkan nilai negatif (-80 hingga memberikan pengaruh signifikan terhadap . menunjukkan warna hijau. Sedangkan nilai b* edible film. parameter b* berkaitan dengan warna KESIMPULAN kekuningan dengan rentang nilai dari -70 Kesimpulan pada penelitian adalah hingga 70, di mana nilai positif . hingga hasil dari analisis kadar air, ketebalan, . melambangkan warna kuning dan nilai kelarutan dan warna . menunjukkan negatif (-70 hingga . melambangkan tidak ada perbedaan yang signifikan warna biru (Suyatma, 2. Gambar 4, 5 dengan menggunakan uji F pada taraf 5% dan 6 menunjukkan nilai hasil pengujian kecuali parameter warna kecerahan (L) warna edible film. Gambar 4 menunjukkan bahwa nilai L* perbedaan yang signifikan tetapi tidak ada konsentrasi gliserol sebagai plasticizer berkisar antara 88,14 hingga 89,35. Hasil DMRT nilai L* edible film, yang didukung oleh hasil uji F. Gambar 5 menunjukkan bahwa nilai a* konsentrasi gliserol sebagai plasticizer berkisar antara Ae0,72 hingga Ae0,83. Hasil DMRT penambahan konsentrasi pati garut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai a* edible film. Gambar 6 menunjukkan bahwa Nilai b* memberikan pengaruh signifikan terhadap konsentrasi gliserol sebagai plasticizer berada dalam rentang Ae1,48 hingga Ae1,77. Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa DAFTAR PUSTAKA