Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau RAHMA PUTRI. FAUZAN KAHFI Sekolah Tinggi Pariwisata Riau Jln. Pattimura No. 54 Pekanbaru-Riau Putri. andita@yahoo. Abstract: Community based ecotourism can be used as a tool for local community to conserve their own local forest . onservation fores. It must be done in order to preserve the forest from anthropogenic problems including illegal logging, wildlife poaching, encroachment, and forest fires. These condition also happen in one of fifty national parks in Indonesia which is Tesso Nilo National Park (TNNP). TNNP Authority and Its partner promote community based ecotourism for local community in TNNP area. In consequence of searching on either single solution or a set of them, for addressing the problems above mentioned and it becomes the background of this study. The aims of this study are to look at the implementation of community based ecotourism activities in TNNP and explain the implication of ecotourism activities, as well as to make ecotourism development strategy in TNNP. This is a descriptive study that combines qualitative and quantitative methods to determine the condition of the management of community-based ecotourism in TNNPAos utilization zone, to see the implication resulting from ecotourism management and ultimately make a recommendation in the form of ecotourism development strategy in TNNP. The result shows that community of Lubuk Kembang Bunga Village in ecotourism management has carried out the process of planning, organizing, actuating, and controlling. The community received many help from various stakeholders in order to manage ecotourism activity in TNNPAos utilization zone. The community has implemented most of community based ecotourism principles and criteria in ecotourism activity and still require improvement. Ecotourism activity in TNNP generate positive benefits for TNNP management and community of Lubuk Kembang Bunga Village. Ecotourism development strategy in TNNP are making collaborative management in TNNPAos utilization zone for community based ecotourism activities and combining in-situ conservation efforts with ecotourism activities. Keywords: community based ecotourism, national park, development strategy Berbagai usaha dilakukan Pemerintah dalam mengatasi permasalahan deforestasi, salah satunya dengan menetapkan sebagian wilayah hutan Indonesia menjadi kawasan hutan konservasi. Undang-Undang No. Tahun Kehutanan, menjelaskan hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta Hutan Konservasi terbagi menjadi Kawasan Suaka Alam (KSA). Kawasan Pelestarian Alam (KPA meliputi: taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata ala. , dan Taman Buru. Isu dan permasalahan di kawasan konservasi terutama di taman nasional banyak terjadi di sekitar wilayah penyangga atau berbatasan dengan kampung atau pemukiman penduduk Untuk itu dilakukan beberapa upaya pencegahan dan penegakan hukum kasus perambahan, illegal logging. Untuk itu dikembangkan konsep konservasi baru . onservasi yang inovatif, kreatif, dan selekti. yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan bisnis yang prospektif yang dapat ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan adanya bisnis yang tercipta, maka akan didapat dana untuk merehabilitasi dan mengendalikan serta menangani kerusakan lingkungan agar tidak semakin parah (Fandeli, 2. Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. Untuk itu dikembangkan konsep konservasi baru . onservasi yang inovatif, dipergunakan untuk mengembangkan bisnis yang prospektif yang dapat mensinergikan antara kepentingan ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan adanya bisnis yang tercipta, maka akan didapat dana untuk merehabilitasi dan mengendalikan serta menangani kerusakan lingkungan agar tidak semakin parah (Fandeli, 2. Seiring waktu dengan adanya keterlibatan dan peran aktif dari masyarakat lokal, konsep ekowisata mengalami perkembangan menjadi ekowisata berbasis Denman . menjelaskan, ekowisata berbasis masyarakat (EBM) mengambil dimensi sosial yang lebih jauh. EBM merupakan sebuah bentuk ekowisata, dimana masyarakat lokal memiliki kendali penuh yang substansial dalam manajemen dan pengembangan ekowisata, dan proporsi keuntungan yang utama menjadi milik Aktivitas konservasi/taman implementasi dari pasal 5 huruf c dalam UU no 5 tahun 1990 yang menyatakan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Penelitian lingkungan melalui kegiatan wisata terbatas telah beberapa kali dilakukan diantaranya Nursyamsiah . dan Hudisaputra menggunakan pendekatan kajian wisata dengan memadukan konsep lansekap dan Hubungan lansekap dan ekowisata dalam kajian ini adalah pada Sementara itu Yan-li, et al. dan Siregar . dalam penelitiannya . ekowisata di kawasan hutan konservasi. Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. Lebih lanjut Lubis . , dan Nugraheni . dalam penelitiannya melakukan ekowisata di kawasan hutan konservasi melalui proses partisipatif dengan memperhatikan sensitifitas ekosistem, potensi sumberdaya alam dan optimalisasi peran serta masyarakat. Hal inilah yang membedakan dengan penelitian yang akan masyarakat serta menetapkan strategi pengembangan ekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo. Taman kawasan dilindungi . rotected area. kategori II berupa daratan dan/atau lautan yang ditunjuk untuk (IUCN, 2. Melindungi integritas ekologi dari satu atau lebih ekosistem bagi generasi sekarang dan generasi masa depan. Menghindari dan/atau penggunaan yang bertentangan dengan tujuan penetapan daerah tersebut dan Memberikan spiritual, ilmu pengetahuan . , pendidikan, dan rekreasi, yang semuanya harus kompatibel atau selaras dengan aspek lingkungan dan budaya. Dalam UU 5 Tahun 1990 dijelaskan bahwa taman nasional adalah mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Ditunjuknya suatu kawasan menjadi taman nasional harus memenuhi kriteriakriteria sebagai berikut (PP no. 28 tahun 2. : Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik berupa jenis flora fauna dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara Merupakan wilayah yang dapat ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan atau zona lainnya sesuai keperluan. Permenhut 56/2006 memungkinkan penetapan ruang taman nasional sampai 7 zona berdasarkan fungsi konservasi dan pemanfaatan. Namun untuk penetapan dan pengaturan tata batas, sebaiknya penataan ruang taman nasional disederhanakan dengan membagi ruang taman nasional menjadi hanya dua zona yakni zona pemanfaatan . ona khusu. dan zona bukan pemanfaatan . ona int. Zona khusus seharusnya merupakan hasil kesepakatan antar pihak yang dikelola secara kolaboratif sebagai satu kesatuan dengan taman nasional, tujuannya untuk menyatukan pembangunan masyarakat dengan konservasi (Mulyana, et al. , 2. Pada konferensi World Tourism Organization (WTO) di Ottawa tahun 1991 dijelaskan wisata . merupakan sekelompok orang untuk menetap di negara atau di tempat-tempat di luar tempat tinggalnya untuk jangka waktu tidak lebih dari satu tahun berturut-turut untuk tujuan rekreasi, bisnis atau tujuan lainnya (WTO. Pembangunan pariwisata memiliki peran signifikan dalam aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Dalam aspek ekonomi, sektor pariwisata mengkontribusi devisa dari kunjungan wisatawan manca negara dan produk domestik bruto (PDB) beserta komponen-komponennya. Dalam aspek sosial, pariwisata berperan dalam penyerapan tenaga kerja, apresiasi seni, tradisi dan budaya bangsa, dan peningkatan jati diri bangsa. Dalam aspek lingkungan, pariwisata khususnya ekowisata dapat mengangkat produk dan jasa wisata seperti kekayaan dan keunikan alam dan laut, dan alat efektif bagi pelestarian lingkungan alam dan seni budaya tradisional (RPJMN 2009-2014 dalam Nugroho, 2. Meningkatnya kesadaran akan isuisu lingkungan, berkaitan dengan kesadaran Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. berlebihan di bidang pariwisata harus ekowisata di garis depan dari berbagai Ekowisata dan juga pariwisata secara keseluruhan harus dikembangkan sejalan dengan program-program pembangunan yang berkelanjutan (Diamanti, 2. Soemarwoto menimbulkan dampak negatif berupa vandalism atau kegiatan manusia yang pencemaran lingkungan yaitu polusi padat, gas, cair dan polusi suara. kerusakan hutan untuk pembuatan shelter atau tempat penginapan yang tidak memperhatikan aspek ekologis dan perilaku merusak seperti berkemah dan berapi unggun, serta dampak sosial Ekowisata berbasis masyarakat menitikberatkan peran aktif komunitas. Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Pemikiran penelitian ini adalah adanya aktivitas ekowisata di kawasan TNTN yang dikelola oleh masyarakat lokal . engan dukungan dari Balai TN Tesso Nilo dan LSM). ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. METODE Objek pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang berada di seksi pengelolaan taman nasional wilayah I Lubuk Kembang Bunga. Sasaran dalam penelitian ini yaitu kelompok masyarakat pengelola ekowisata dan stakeholders yang mendukung kegiatan ekowisata di TNTN. Secara administratif lokasi penelitian berada di zona pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo dan wilayah Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB). Kecamatan Ukui. Kabupaten Pelalawan. Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan strategi konkuren yang menerapkan satu tahap pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif dalam satu waktu. Pada strategi penelitian ini, metode kuantitatif yang kurang dominan ditancapkan . ke dalam metode kualitatif yang lebih dominan (Creswell. Penelitian ini menggunakan data primer sebagai data utama yang diperoleh secara langsung di lapangan dan data sekunder sebagai data pendukung untuk melengkapi hasil penelitian. HASIL Kawasan hutan Tesso Nilo, dahulu dikenal sebagai kawasan Hutan Langgam, pada awalnya ditetapkan sebagai Hutan Produksi Terbatas kebutuhan bahan baku industri dan produk kayu lainnya. Namun, seiring dengan hilangnya hutan maka permasalahan baru juga timbul. Pada tahun 1980 permasalahan gajah sudah mulai timbul karena dibukanya kawasan hutan Tesso Nilo untuk daerah pemukiman transmigrasi. Sejak itu gajah selalu mendatangi kampung dan merusak lahan tanaman masyarakat. Secara Astronomi kawasan TNTN terletak pada koordinat antara 000 05Ao 40" dan 000 20Ao 47" LS, dan antara 1010 35Ao 21," dan 1020 03Ao 57" BT. Secara administrasi TNTN terletak di dua kabupaten di Provinsi Riau yaitu Kabupaten Pelalawan seluas Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. 540 ha dan Kabupaten Indragiri Hulu seluas 533 ha. Berdasarkan survei yang dilakukan di dalam zona pemanfaatan TN Tesso Nilo, diketahui bahwa zona pemanfaatan TNTN memiliki keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna yang tinggi, seperti (Sukmantoro, et al. , 2. : a. pohon endemik dan unik khas TN Tesso Nilo, diantaranya: Meranti (Shorea, sp. Balam (Madhuca serice. Bintangur (Calophyllum macrocarpu. Medang (Litsea resinos. Keranji (Dialium platysepalu. Kulim (Scorodocarpus borneensi. Tampui (Baccaurea sp. Resak (Vatica walichi. Gaharu (Aquilaria sp. Kelat (Eugenia olavimyrtu. jenis burung, diantaranya: Elangular Bido (Spilornis cheel. Enggang Cula (Buceros rhinocero. Sikepmadu Asia (Pernis sp. Takur Tenggeret (Megalaima sp. Cinenen Belukar (Orthotomus atrogulari. Beluk Ketupa (Ketupa ketup. Gagak Hutan (Corvus enc. Bul-bul (Pycnonotus spp. Pekaka Emas (Pelargopsis capensi. Bangau Sandang-lawe (Ciconia episcopu. Bubut Alang-alang (Centropus diantaranya: Beruang Madu. Ungko. Siamang. Tapir. Bajing Kelapa. Bajing Bancirot. Gajah Sumatera. Kera ekor panjang. Ungko Lengan Putih. Berdasarkan potensi kawasan TN Tesso Nilo sebagai lokasi ekowisata dan memperhatikan kondisi masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga, membuat pihak WWF IndonesiaProgram Riau . tau disingkat WWF Ria. masyarakat ekowisata TNTN. Hingga pada tanggal 30 Desember 2011, terbentuklah Desa Lubuk Kembang Bunga yang disebut Kelompok Kempas menyelenggarakan kegiatan ekowisata di zona pemanfaatan TNTN. Berdasarkan dengan informan kunci dan observasi di ekowisata berbasis masyarakat, diketahui ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. ekowisata di kawasan TN Tesso Nilo, masih memiliki beberapa kekurangan, seperti: Belum adanya perjanjian kerjasama diantara pihak Balai TN Tesso Nilo dengan pihak Kempas dalam pelaksanan aktivitas ekowisata di TNTN. Tidak adanya perjanjian kerjasama atau izin tertulis dari Balai TN tesso Nilo, tidak menjadi sebuah halangan bagi kelompok Kempas untuk menjalankan aktivitas ekowisata di TNTN. Balai TN Tesso Nilo memberikan keleluasaan bagi Kelompok Kempas untuk mengelola aktivitas ekowisata, karena diantara kedua pihak tidak terdapat perbedaan kepentingan yaitu memanfaatkan zona pemanfaatan TNTN untuk kegiatan ekowisata dengan penuh tanggung jawab . alam arti tidak merusak kawasan TNTN). Hal ini sesuai dengan Hernoko . pada dasarnya suatu perjanjian kerjasama berawal dari terjadinya perbedaan kepentingan diantara para pihak yang bersangkutan. Kelompok Kempas secara khusus belum melakukan kegiatan perlindungan flora dan fauna khas kawasan TN Tesso Nilo. Namun, kelompok Kempas selalu menawarkan kegiatan penanaman tanaman yang merupakan tumbuhan asli kawasan TN Tesso Nilo kepada wisatawan. Kegiatan penanaman di zona pemanfaatan merupakan salah satu cara meningkatkan kepedulian wisatawan terhadap kawasan TN Tesso Nilo. Aktivitas ekowisata yang dikelola oleh kelompok Kempas belum memberikan kontribusi dalam pendanaan atau donasi untuk program rehabilitasi kawasan TN Tesso Nilo. Hal ini menjadi sesuatu kelemahan dalam implementasi pengelolaan ekowisata oleh kelompok Kempas di TNTN, sebab pada prinsipnya ekowisata berbasis masyarakat merupakan sebuah alat populer dalam konservasi keanekaragaman hayati. Pengembangan kerajinan tangan . kiran, lukisan, anyaman, ds. , produk makanan khas dan souvenir belum berjalan di dalam pengelolaan ekowisata di TNTN. Hal Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. keterampilan dalam usaha kreatif, dan membutuhkan bimbingan khusus dari orang atau institusi yang berpengalaman dengan usaha kreatif. Dan Kelompok Kempas saat ini belum memiliki pusat informasi sebagai wisatawan perihal kawasan TNTN dan upaya konservasi keanekaragaman hayati di TN Tesso Nilo. dan informasi tentang sejarah, kesenian, dan budaya masyarakat Desa Lubuk Kembang bunga. PEMBAHASAN Strategi pengembangan ekowisata di zona pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo . enggunakan memanfaatkan peluan. , sebagai berikut: Membentuk Kerjasama Pengelolaan Kolaboratif Zona Pemanfaatan TNTN Untuk mendukung pengembangan program ekowisata berbasis masyarakat di zona pemanfaatan TN Tesso Nilo, sebaiknya wilayah zona pemanfaatan TNTN dikelola secara kolaboratif oleh pihak Balai TN Tesso Nilo-Stakeholders- Masyarakat. Dalam mekanisme ini diharapkan seluruh pihak berkolaborasi dan berbagi peran, sehingga diharapkan akan meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas pengelolaan kawasan zona pemanfaatan TNTN serta membuka peluang bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara adil dan Pengelolaan kolaboratif zona pemanfaatan taman nasional untuk kegiatan ekowisata berbasis masyarakat sangat memungkinkan untuk dilakukan, karena hal ini diatur melalui Peraturan Menteri Kehutanan nomor P. 19/Menhut- II/2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan KSA dan KPA. dan diperkuat dengan Permenhut nomor P. 85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan KSA dan KPA. Pengelolaan pemanfaatan Taman Nasional Tesso Nilo diatur dalam peraturan menteri kehutanan dengan ketentuan tidak merubah status kawasan sebagai kawasan konservasi, kewenangan penyelenggaraan pengelolaan ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. tetap berada pada menteri kehutanan, dan kolaborasi yang dilakukan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kolaborasi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Beberapa ekowisata di zona pemanfaatan TNTN berdasarkan hasil kajian pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat pada kawasan TNTN, dan hasil wawancara dengan para pihak, maka hal-hal yang dibutuhkan yaitu: Penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pemenuhan kebutuhan energi listrik di lokasi ekowisata TNTN, yaitu dengan pemasangan pembangkit listrik tenaga matahari . olar pane. atau tenaga angin . incir angi. atau tenaga air . Pembangunan atau perancangan mekanisme pengelolaan sampah dan limbah sanitasi, serta pengurangan polusi udara. Sehingga dengan dibangunnya mekanisme ini dapat meminimalisir dampak negatif lingkungan yang terjadi dari penyelenggaraan aktivitas ekowisata di kawasan TN Tesso Nilo. Pembangunan atau perbaikan fasilitas penunjang atraksi ekowisata. Atraksi ekowisata TNTN menawarkan daya tarik berupa keanekaragaman hayati fauna seperti burung . ird watchin. dan mamalia. Perancangan model atau mekanisme dalam pengumpulan dana atau bantuan finansial dari pengunjung . yang dapat mendukung kegiatan konservasi dan restorasi kawasan TNTN melalui skema donasi atau paket wisata ramah lingkungan misalnya paket wisata adopsi pohon. Pengembangan atau diversifikasi atraksi wisata, dimana kawasan zona pemanfaatan TNTN memiliki bentang alam berupa sungai dan daratan . yang dapat digunakan untuk wisata Paket wisata olahraga yang dapat dikembangkan yaitu bersepeda . orest bikin. , kegiatan olahraga berperahu kano, dan memancing. Untuk itu diperlukan penyediaan sarana atau peralatan yang Pembangunan kantor pusat informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyebaran informasi bagi wisatawan perihal aktivitas ekowisata TNTN, wisata Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. budaya masyarakat lokal, serta informasi perihal kawasan TNTN dan upaya Selain itu, pusat informasi juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat lingkungan dan perpustakaan Aurumah bacaAy bagi masyarakat lokal. ) Peningkatan dan perluasan peluang kerja masyarakat lokal yang mendorong terciptanya usaha kreatif seperti kerajinan tangan . kiran, lukisan, anyaman rotan atau pandan, ds. Peningkatan promosi ekowisata TNTN dengan melakukan perbaikan atau menggunakan metode baru dalam melakukan promosi seperti bekerja sama dengan agen perjalanan, penggunaan media sosial, kerjasama promosi dengan travel blogger dan membuat event khusus seperti mengundang grup atau organisasi wisata minat khusus seperti organisasi bird watcher nasional-internasional dan . Penggunaan sistem tiket untuk mengganti dokumen Simaksi dalam TNTN. Penggunaan sistem tiket dapat memudahkan calon wisatawan untuk berkunjung ke lokasi ekowisata TNTN, tanpa harus mengurus dokumen Simaksi ke kantor Balai TN Tesso Nilo. Hal ini dikarenakan jauhnya jarak kawasan TNTN dengan kantor Balai TN Tesso Nilo A 90 km . etara 3 jam perjalana. Lebih jauh, penggunaan tiket juga dapat mengakomodir kepentingan pemerintah daerah dalam bagi hasil berupa retribusi untuk PAD. Heywood dan Dulloo . keanekaragaman hayati artikel nomor 8 dijelaskan konservasi in-situ mengandung ekosistem, habitat alami dan pemeliharaan populasi spesies di alam sekitarnya. Anonim . menambahkan konservasi in- situ biasanya dilakukan pada lingkungan asal seperti pada kawasan taman nasional atau wilayah dilindungi lainnya seperti kawasan konservasi laut. Pada metode konservasi in-situ, spesies target dijaga di dalam ekosistem di mana spesies berada secara alami, tata guna lahan terbatas pada ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. kegiatan yang tidak memberikan dampak merugikan pada tujuan konservasi habitat dan regenerasi spesies target tanpa manipulasi manusia. Konservasi jenis satwa in-situ, dengan melakukan program reintroduksi TNTN memungkinkan untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan kawasan TNTN memiliki luasan yang cukup sebagai lokasi program reintroduksi satwa. Satwa-satwa potensial yang bisa dimasukkan dalam program reintroduksi adalah satwa yang terlibat konflik dengan manusia atau satwa yang didapat dari hasil penegakan hukum seperti operasi pasar. Satwa-satwa ini harus menjalani program rehabilitasi sebelum akhirnya dilepasliarkan atau direintroduksi ke dalam kawasan TN Tesso Nilo. Strategi konservasi flora-fauna in-situ mutlak diperlukan, sehingga kegiatan ekowisata dapat mendukung kegiatan pengawetan keanekaragaman hayati dan Dengan mengadopsi strategi ini, pengelolaan ekowisata pada akhirnya turut membantu dalam menjaga fungsi kawasan TN Tesso Nilo sebagai tempat perlindungan sistem penyangga kehidupan. Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga Kab. Pelalawan. Kelompok Kempas penyelenggaraan aktivitas ekowisata di TN Tesso Nilo telah menerapkan sebagian dan masih membutuhkan penyempurnaan dalam penerapan prinsip ekowisata berbasis masyarakat yang meliputi aspek konservasi, partisipasi masyarakat. ekonomi berbasis dan pengembangan rencana tapak lokasi ekowisata. Implikasi pengelolaan ekowisata di TN Tesso Nilo yang dilakukan oleh kelompok Kempas yaitu . persepsi dan perilaku yang baik dari masyarakat, . penghijauan kawasan TN Tesso Nilo. dampak lingkungan dari aktivitas ekowisata TNTN. Alternatif strategi pengelolaan kawasan TNTN dan pengembangan kegiatan Membentuk pengelolaan kolaboratif di kawasan zona pemanfaatan TNTN untuk mendukung program ekowisata berbasis masyarakat. Penggabungan usaha konservasi in-situ dengan kegiatan ekowisata. SIMPULAN Dari penelitian ini dapat diambil simpulan sebagai berikut: Kelompok Kempas yang didukung oleh pihak-pihak yang . , melakukan aktifitas pengelolaan lingkungan melalui kegiatan ekowisata di Taman Nasional Tesso Nilo yang meliputi perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Perencanaan bertahap dengan inisiatif datang dari LSM (WWF Ria. Pengorganisasian dalam kelompok Kempas telah memperlihatkan adanya struktur organisasi dan pembagian kerja yang baik. Pelaksanaan aktivitas ekowisata oleh kelompok Kempas sudah tertata dengan baik. Pengendalian terhadap aktivitas ekowisata dilakukan kelompok Kempas secara mandiri dan dibantu oleh pihak Balai TN Tesso Nilo. WWF Riau, dan Agustina. Strategi Pengembangan Ekowisata Jalak Bali Berbasis Masyarakat di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Unud: Tesis (Tidak dipublikasika. Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. DAFTAR RUJUKAN Anggraheni. Pengetahuan Lokal Pemanenan Madu Hutan Tesso Nilo. IPB: Tesis (Tidak Anonim. Tanpa tahun. Ecotourism in Kerinci with Wild Sumatera. http://w. org/do nate/tiger-shop/ecotourism-withwild- sumatra/. November Anonim. Metode Konservasi Genetik. Buletin Konservasi Biodiversitas Raja 4: 2 - 9. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. Ariyanto. tanpa tahun. Pengelolaan Taman Nasional Berbasis Resort. http://tnalaspurwo. org/wpcontent/uploads/2012/04/art_makala h_tn_ basrot. Agustus 2. Azizah. Metoda Analisis Kebutuhan Air Mengembangkan Sumberdaya Air. Lentera: 13-1. Babbie. The Practice of Social Research. Wadsworth Publishing: 12 Edition. Balai Taman Nasional Kutai. Lokakarya Taman Nasional Kutai. Membangun Kesamaan Visi dan Kesatuan Gerakan dalam Upaya Pelestarian Sumberdaya Alam Taman Nasional Kutai Secara Terpadu. http://pdf. gov/pdf_docs/Pnach . Agustus 2. Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Review Rencana Pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo Tahun (Tidak dipublikasika. Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Laporan Tahunan Balai Taman Nasional Tesso Nilo Tahun 2010. (Tidak dipublikasika. Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo Tahun 20152024. (Tidak dipublikasika. Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Zonasi Taman Nasional Tesso Nilo. (Tidak dipublikasika. Basalamah. , et al. Status Populasi Satwa Primata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jawa Barat. Jurnal Primatologi Indonesia. Vol. No. Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. Pusat Studi Satwa Primata. Institut Pertanian Bogor. Bicard. Bicard. dan The Iris Center. Defining Behaviour. http://iris. ase_studies/ICS-015. Bismark. dan Sawitri. Pengembangan dan Pengelolaan Daerah Penyangga Kawasan Konservasi. Makalah Utama pada Ekspose Hasil- Hasil Penelitian: Konservasi Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bjork. Ecotourism from a extended definition of a Unique Tourism International Journal of Tourism Research, 2. Carlson. and Berkes. Comanagement: Concepts Methodological Implications. Journal Environmental Management 75, 65-76. Cresswell. Research Design: Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta: Putaka Pelajar. Damanik. dan H. Weber 2006. Perencanaan Ekowisata, dari Teori ke Aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset. Denman. Guideline for Community Based Ecotourism Development. UK: WWF International. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF Indonesia. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. Prinsip dan Kriteria. Ekowisata Berbasis Masyarakat. Diamanti. Environmental Auditing: A Tool In Ecotourism Development. Eco-Management and Auditing 5: Evans. dan Birchenough. Community-based Management of the Environment: Lessons from the Past and Options for the Future. Aquatic conservation: Marine and Freshwater Ecosystem, 11, 137-147. Fadlilah. Kajian CO-management Dalam Pengelolaan Lingkungan Pada Program Biogas Rumah (Bir. di Kabupaten Ponorogo. Unpad: Tesis . idak dipublikasika. Fandeli. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Fandeli. Bisnis Konservasi. Pendekatan Baru Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Fandeli, dan M. Nurdin. Pengembangan Ekowisata Berbasis Konservasi di Taman Nasional. Yogyakarta: Fakultas Kehutanan dan Pusat Studi Pariwisata UGM. Gillison. Vegetation survey and habitat assessment of the Tesso Nilo forest complex. Biodiversity Survey in Tesso Nilo Sumatera Indonesia. WWF-US. Graburn. What is Tradition? Museum Anthropology 24 . , 611. Gui Yan-li. Fan Yan-gang, dan Liu Ji-sheng. Community-Based Ecotourism Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. in Nature Reserve of China. Chinese Geographical Science Vol. Nomor 3, hal. Hackel. Community Conservation and the Future of Africa's Wildlife. Conservation Biology, 13, 4, 726-734. Hernoko. Hukum Perjanjian Azas Proporsionalitas Dalam Kontrak Komersial. Jogjakarta: Laksbang Mediatama. Heywood. dan M. Dulloo. In-situ Conservation of Wild Plant Species: a critical global review of good practices. IPGRI Technical Bulletin No. Hudisaputra. Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Kiluan. Kabupaten Tanggamus. Melalui Pengembangan Ekowisata. Unpad: Tesis . idak dipublikasika. Indrawan. , et. Co-management and the creation of national parks in Indonesia: positive lessons learned from the Togean Islands National Park. Journal Management, 57, 8, 1183- 1199. Indriyanto. Menghayati Makna Peringatan Hari Bumi. Unila: Artikel Ilmiah. IUCN. Defining Protected Areas: an Almeria. Spain. Gland. Switzerland: International Union for Conservation of Nature. Jogja Tourism Training Center Universitas Gadjah Mada (JTTCUGM). Tanpa Tahun. Faktor Pendukung Ekowisata. http://jttcugm. com/faktorp. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. pendukung-ekowisata/. Juli Kementerian Dalam Negeri. Petunjuk Pelaksanaan Dekonsentrasi. Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Ekowisata Berbasis Masyarakat. Direktorat Jenderal Bina Pembangunan DaerahKementerian Dalam Negeri. Kementerian Kehutanan. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam tahun 2010-2014. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan UNDP. Agenda Pariwisata Untuk Pengembangan Kualitas Hidup Secara Berkelanjutan. Kiss. Is Community-Based Ecotourism a Good Use of Biodiversity Conservation Funds?. TRENDS in Ecology and Evolution Vol. 19 N0. Mitchell. Setiawan, dan D. Rahmi. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Mitchell. Wooliscroft. , dan Higham. Applying Sustainability in National Park Management: Balancing Public and Private Interest Using a Sustainable Market. Journal of Sustainable tourism. 21, 5, 695715. Mulyana. , et al. Kebijakan Pengelolaan Zona Khusus. Dapatkah Meretas Kebuntuan Dalam Menata Ruang Taman Nasional Indonesia? http://w. org/publications/ pdf_files/infobrief/001- BriefI. Agustus 2. Nugroho. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lannon. 12 Rules of Delegation. http://w. com/12-rules-ofdelegation. Agustus 2. Nursyamsiah. Kajian Potensi Pengembangan Ekowisata Pada Lansekap Panaruban. Kabupaten Subang. Unpad: Tesis . idak LIPI (Pusat Penelitian Biolog. dan WWF Indonesia. Keanekaragaman Hayati di Tesso Nilo. Provinsi Riau. (Tidak Dipublikasika. Pusat Penelitian Biologi LIPI dan WWF Indonesia. Keanekaragaman Hayati di Tesso Nilo. Provinsi Riau. Lubis. Rakatama. Kegiatan Ekstraksi Kayu Bakar Dari Taman Nasional Way Kambas Untuk Pemenuhan Energi Rumah Tangga. Unpad: Tesis . idak dipublikasika. Perencanaan Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas Di Kawasan Wisata Tangkahan Kabupaten Langkat Sumatera Utara. USU: Tesis . idak MacKinnon. J dan Kathy Mackinnon. Pengelolaan Kawasan Dilindungi di Daerah Tropika. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. Rice. Community Based Forest Management: The Experience of the Ikalahan. Forest. Trees and Livelihoods, 11, 127-148. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. Riharno, et al. Menuju Pengelolaan Taman Nasional Mandiri: Pengelolaan Berbasis Resort, di Taman Nasional Alas Purwo. Kabupaten Banyuwangi. Jawa Timur. IPB: Artikel Ilmiah. idak Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Rochmantyo. Cadangan Karbon Pada Berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Jogjakarta: Kanisius. Sukmantoro. , et al. Assesment on Ecotourism in Tesso Nilo National Park and Its Surrounding Areas. WWF Indonesia-Program Riau: Technical Report. Rodwell LD. Lowther J. Hunter C. Mangi SC. Fisheries co-management in a new era of marine policy in the UK?: A preliminary assessment of stakeholder perceptions. Marine Policy 45:279Ae286. Sastrayuda. Konsep Resort and Leisure: Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort and Leisure. STBA Yapari-ABA: Handout Mata Kuliah. Sekartjakrarini. Ekowisata: Batasan dan Pengertian. Dalam Seri Ekowisata. Jakarta: IdeA. Sen. , dan Nielsen. Fisheries Co-Management: A Comparative Analysis. Marine Policy, 20, 5, 405418. Senyk. Lessons from the Equator Initiative: Community-based Management Pred Nai Community Forestry Group in the Mangroves Southeastern Thailand. Winnipeg: Natural Resources Institute. University of Manitoba. Shackelton. , et al. Devolution and Community-Based Natural Resource Management: Creating Space for Local People to Participate and Benefit? ODI. Natural Resource Perspective . Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. Soemarwoto. Ekologi. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Djambatan. Sulistiani. , et al. Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat di Desa Malasari. Taman Nasional Gunung Halimun Salak. IPB: Artikel Ilmiah . idak Suwantoro. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi. Sumardi. Penilaian Nilai Budaya Daerah Dalam Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup Daerah Istimewa Yogyakarta Depdikbud. Yogyakarta Syahid. Ecotourism. Pariwisata Berwawasan Lingkungan. http://studipariwisata. com/analisis/ ecotourism-pariwisataberwawasan- lingkungan/. November 2. Terry. Asas-Asas Manajemen. Bandung: Penerbit Alumni. Thakadu. Success Factors in Community-based Natural Resources Management Northern Botswana: Lessons from Practice. Natural Resource Forum. 29, 199-212. Tran. , et al. TouristsAo Preferences Toward Ecotourism ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356 Pengelolaan Lingkungan Melalui Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Taman Nasional Tesso Nilo-Riau (Rahma Putri. Fauzan Kahf. Developtment Sustainable Biodiversity Conservation Protected Areas of Vietnam Ae The Case of Phu My Protected Area. Journal of Agricultural Science. Trimble dan Berkes F. Participatory research towards comanagement: Lessons artisanal fisheries in coastal Uruguay. Journal of Environmental Management 128: 768Ae778. Kalimantan Barat. http://w. id/?40164/Men gelola-EkowisataBerbasisMasyarakat-di-Kalimantan-Barat. November 2. Yara. Studi Pengembangan Ekowisata di Kawasan Karst Citatah Padalarang Bandung. Unpad: Tesis . idak Wahyuni. dan Mamonto. Persepsi Masyarakat Terhadap Taman Nasional dan Sumberdaya Hutan: Studi Kasus Blok Aketajawe. Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Info BPK Manado Vol. No. Wallace. , dan Pierce. Evaluation of Ecotourism in Amazonas. Brazil. Annals of Tourism Research, 23, 4, 843-873. World Agroforestry Center. Tanpa tahun. Pemeliharaan Permudaan Alam. http://worldagroforestry. org/sea/Pub lications/files/book/BK003404/BK0034-04-6. November World Bank. Report from the International Workshop Community-Based natural Resource Management (CBNRM). Washington. DC. World Tourism Organization. UNWTO Technical Manual: Collection of Tourism Expenditure Statistic. http://pub. org/WebRoot/Store Shops/Infoshop/Products/1034/1034 . WWF Indonesia. Mengelola Ekowisata Berbasis Masyarakat Jurnal Daya Saing (Vol. No. 3 Okober 2. ISSN: 2407-800X ISSN: 2541-4356