Planta Simbiosa Jurnal Tanaman Pangan dan Hortikultura e-ISSN 2685-4627 https://doi. org/10. 25181/jplantasimbiosa. vXiX. x Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan Buah Lerak terhadap Pertumbuhan Gulma Rottboellia exaltata Testing the Formulation of Praxelis clematidea Extract and Lerak Fruit on the Growth of Rottboellia exaltata Weeds Hidayat Pujisiswanto1*. Nanik Sriyani1 Herry Susanto2 Jurusan Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung Corresponding Author. E-mail address: hidayat. pujisiswanto@fp. Submitted: 16/10/2025. Accepted: 19/10/2025. Published: 30/10/2025. ABSTRAK Keberadaan gulma Rottboellia exaltata menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan panen pada lahan pertanian seperti budidaya jagung. Gulma Praxelis clematidea dan buah lerak ditemukan memiliki pengaruh alelopati dalam menekan pertumbuhan banyak tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap pertumbuhan gulma R. Penelitian dilaksanakan pada Juli hingga Oktober 2025 di Kota Bandar Lampung dan Laboratorium Ilmu Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 5 ulangan, perlakuan ini terdiri dari 5 Formulasi ekstrak P. clematidea dan buah lerak yaitu kontrol . anpa ekstra. clematidea 50% . ekstrak buah lerak 50% . ekstrak P. clematidea 25% ekstrak buah lerak 75% ekstrak P. clematidea 50% ekstrak buah lerak 50%, ekstrak P. clematidea 75% ekstrak buah lerak 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pascatumbuh formulasi campuran ekstrak clematidea buah lerak mampu menghambat pertumbuhan gulma. Daya hambat ekstrak P. clematidea 75% ekstrak buah lerak 25% lebih tinggi dibandingkan formulasi yang lain terhadap tinggi tajuk gulma, jumlah daun, bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan bobot kering gulma total. Nisbah tajuk/akar yang rendah, tingkat keracunan gulma sebesar 78,67 % dan persentase penekanan gulma R. exaltata tertinggi sebesar 67,64%. Kata Kunci: Alelopati. Herbisida Metabolit. Pascatumbuh ABSTRACT The presence of Rottboellia exaltata weeds is one of the factors causing crop failure in agricultural land such as corn cultivation. Praxelis clematidea weeds and lerak fruit were found to have allelopathic effects in suppressing the growth of many plants. This study aims to determine the effect of P. clematidea and lerak fruit extract formulations on the growth of R. exaltata weeds. The study was conducted from July to October 2025 in Bandar Lampung City and the Weed Science Laboratory. Faculty of Agriculture. University of Lampung. The study used a completely randomized block design (CRBD) with 5 replications. The treatments consisted of 5 formulations of P. and lerak fruit extracts, namely control . ithout extrac. 50% P. clematidea extract. 50% lerak fruit 25% P. clematidea extract 75% lerak fruit extract. 50% P. clematidea extract 50% lerak fruit extract. 75% P. clematidea extract 25% lerak fruit extract. The results showed that post-emergence application of a mixture of P. clematidea extract lerak fruit extract inhibited weed The inhibitory effect of 75% P. clematidea extract 25% lerak fruit extract was higher than that of other formulations on weed height, number of leaves, dry weight of shoots, dry weight of roots, and total dry weight of weeds. The low crown/root ratio, weed toxicity level of 78. 67%, and the highest weed suppression percentage of R. exaltata at 67. Keywords: Allelopathy. Metabolite Herbicide. Postemergance. Copyright A 2025 Author. This work is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. PENDAHULUAN Gulma pengganggu yang dapat merugikan manusia dalam bidang pertanian. Kehadiran gulma selama proses budidaya tanaman selain berkompetisi dengan tanaman dalam memperebutkan sarana tumbuh, seperti hara, air, cahaya, maupun ruang tumbuh, gulma juga dapat merugikan tumbuhan disekitarnya dan tanaman budidaya secara tidak langsung melalui alelopati dapat menghambat pertumbuhan, menurunkan kuantitas dan kualitas produk pertanian sehingga dapat merugikan petani. Praxelis clematidea merupakan gulma invasif famili Asteraceae. Banyak tumbuhan dari famili Asteraceae yang memiliki potensi alelopati dan jumlah alelokimia yang berbeda-beda tergantung pada spesies tumbuhan dan bagian clematidea sditemukan memiliki efek alelopati dalam menekan perkecambahan dan pertumbuhan banyak Ekstrak P. clematidea dapat pertumbuhan daun sawi (Brassica juncea ) dan padi (Oryza sativa L. ) (Patsai. Thepphakhun dan Suphannika. Menurut Wardini et al. menyatakan bahwa ekstrak air P. clematidea mengandung fenolik, alkaloid, dan terpenoid. Ekstrak P. mampu menekan perkecambahan biji, waktu perkecambahan biji, panjang tunas, jumlah daun, biomassa, dan kandungan klorofil total Asystasia gangetica. Selain itu, ekstrak etanol buah lerak (Sapindus rara. mengandung golongan senyawa metabolit sekunder alkaloid, saponin, tannin, kuinon, steroid/terpenoid, dan fenol (Fajriaty et al. , 2. Saponin menjadi kandungan metabolit sekunder tertinggi terdapat pada bagian buah lerak (Syahroni dan Prijono, 2. Adanya kandungan saponin yang bersifat menjadikan buah lerak bersifat surfaktan (Fatmawati, 2. Pujisiswanto et al. menyatakan bahwa ekstrak buah lerak dengan aquades dapat menghambat pertumbuhan gulma Leptochloa chinensis dan Fimbristylis milacea pada konsentrasi 50% dan 75%. Dampak negatif alelokimia yaitu membran, transportasi air dan nutrisi, respirasi, sintesis protein dan asam (Pujisiswanto et al. , 2. Rumput berajangan (Rottboellia exaltat. adalah spesies rumput dari keluarga Poaceae. Gulma ini termasuk salah satu tumbuhan invasif utama di berbagai wilayah karena kemampuannya tumbuh sangat cepat, yang dapat menyebabkan kegagalan panen di banyak area pertanian. Rumput ini diduga berasal dari India dan tersebar luas di daerah tropis dan subtropis (Maddox et al. serta dijumpai pada persawahan di Thailand. Philippines. Indonesia, dan Myanmar (Galinato et al. Gulma ini menjadi salah satu faktor penyebab utama kegagalan panen pada pertanian padi gogo, jagung, tebu, dan lahan pertanian lainnya. Cepatnya penyebaran dan pertumbuhan gulma yang tinggi menyebabkan berbagai masalah di banyak negara, terutama sebagai gulma dominan di wilayah pertanian (Saroyo et , 2. Penelitian ini akan mempelajari pengaruh formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap pertumbuhan gulma R. Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. METODE PENELITIAN dikumpulkan, kemudian dipotong 1 Ae 2 Bahan buah lerak yang akan digunakan terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran dan daging buah dipisahkan dari kulit dan bijinya. Kemudian sampel dikeringkan menggunakan oven selama 48 jam pada suhu 40 oC lalu digiling dengan blender dan diayak . Mes. sehingga diperoleh bubuk P. dan buah lerak. Ekstraksi bahan dilakukan dengan metode maserasi menurut Tanganurat et . dimodifikasi, bubuk P. clematidea dan buah lerak masing-masing ditambahkan ke dalam air . erbandingan 1:10 . erat per volume. ) selama 2 jam pada suhu 30 AC . uhu ruanga. dan Kemudian disentrifugasi pada 4. 000yg selama 15 menit dan kemudian menggunakan vacum rotary evaporator pada suhu 50 oC untuk diperoleh ekstrak kental. Penelitian di laksanakan Kampung baru. Bandar Lampung. Lampung . itik koordina. Laboratorium Ilmu Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini berlangsung pada Juli hingga Oktober Bahan yang digunakan adalah daun, batang, dan akar gulma P. daging buah lerak, biji dan bibit gulma R. exaltata, kertas saring Whatman No. pupuk kandang dan tanah, aquades, dan Alat utama yang digunakan dalam pembuatan ekstrak adalah timbangan digital, gelas ukur, corong, oven, erlenmeyer, blender, pengaduk, saringan, knapsack sprayer, pot, label. Pembuatan ekstrak dilakukan di Laboratorium Ilmu Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Metode pembuatan ekstrak yaitu bahan sampel ekstrak gulma P. clematidea yang telah Tabel 1. Skoring visual keracunan gulma Nilai Skor Kategori Persentase (%) Tidak Rendah >0 Ae 25 Sedang >25 - 50 Tinggi >50 Ae 75 Sangat >75 - 100 Kriteria Bentuk daun dan warna daun dan atau pertumbuhan gulma Bentuk daun dan warna daun dan atau pertumbuhan gulma tidak normal Bentuk daun dan warna daun dan atau pertumbuhan gulma tidak normal Bentuk daun dan warna daun dan atau pertumbuhan gulma tidak normal Keterangan Tidak ada gejala keracunan Perubahan warna daun / klorosis rendah, dan atau deformasi, terlihat pada beberapa bagian Perubahan warna daun / klorosis yang berat dan atau deformasi sedang, tanpa nekrosis Nekrosis pada beberapa daun, disertai deformasi pada daun dan kuncup, serta gulma kerdil. Bentuk daun dan warna daun dan atau pertumbuhan gulma tidak normal sampai gulma mati Kerusakan daun > 75% . aun gulma mengering / sedikit yang berwarna hija. sampai gulma Keterangan : Deformasi . odifikasi morfologi gulma atau bagiannya . ermasuk aka. yang membuatnya menyimpang dari normal. Ini termasuk pengeritingan, penggulungan, pengerdilan atau pemanjangan, perubahan ukuran atau volume dan termasuk lay. Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. Penelitian Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan 5 ulangan. Perlakuan formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan ekstrak buah lerak, yaitu P0 = kontrol . anpa ekstra. P1 = ekstrak clematidea 50% . P2 = ekstrak buah lerak 50% . P3 = ekstrak P. 25% ekstrak buah lerak 75% . P4 = ekstrak P. clematidea 50% ekstrak buah lerak 50%. P5 = ekstrak P. 75% ekstrak buah lerak 25% sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam yang sebelumnya telah diuji homogenitas ragamnya dengan uji Barlett dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf 5%. Pengaplikasian clematidea dan buah lerak dilakukan menggunakan alat semprot punggung . napsack spraye. dengan nozel merah. Sebelum aplikasi, terlebih dahulu dilakukan kalibrasi sprayer dengan menggunakan metode luas untuk menentukan volume semprot pada petak Volume semprot untuk satu petak perlakuan dengan luas 10 m2 diperoleh air sebanyak 400 ml dengan volume semprot 400 l/ha. Pengaplikasian dilakukan satu kali selama pengujian pada uji pascatumbuh diaplikasi pada 7 hari setelah gulma pindah tanam. Variabel pertumbuhan dilakukan dengan cara sebagai berikut . tinggi tajuk gulma . , bobot kering akar . , bobot kering tajuk . , dan bobot kering total gulma . Nisbah tajuk/akar, pertumbuhan gulma / PPG (%) yaitu: PPG = BK kontrol Oe BK perlakuan x 100 % BK Kontrol Tingkat diklasifikasikan menggunakan (Tabel . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian uji pertumbuhan gulma R. exaltata menunjukkan bahwa formulasi tunggal dan campuran ekstrak clematidea dan buah lerak mampu menghambat pertumbuhan tinggi tajuk gulma R. exaltata sampai 2 MSA. Namun pada 3 dan 4 MSA menunjukkan formulasi campuran campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak yang mampu menghambat tinggi tajuk gulma. Hal tersebut terlihat tinggi tajuk gulma pada dibandingkan kontrol, sedangkan daya hambat tertinggi terhadap tinggi tajuk gulma pada formulasi ekstrak campuran clematidea 75% buah lerak 25% hingga 4 MSA (Tabel . Alelokimia dapat mengubah kandungan zat pengatur ketidakseimbangan pada hormon yang mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Rahayu et al. Hasil uji pertumbuhan R. menunjukkan bahwa formulasi tunggal dan campuran ekstrak P. clematidea dan pertumbuhan jumlah daun gulma R. exaltata sampai 2 MSA. Hal tersebut terlihat jumlah gulma pada formulasi ekstrak lebih rendah dibandingkan Pada 3 dan 4 MSA menunjukkan ekstrak buah lerak tidak mampu menghambat jumlah daun gulma, karena tidak berbeda dengan kontrol. Daya hambat tertinggi terhadap jumlah daun gulma pada formulasi ekstrak campuran P. Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. clematidea 75% buah lerak 25% hingga 4 MSA (Tabel . Tabel 2. Pengaruh formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap tinggi tajuk gulma . exaltata 1- 4 MSA Formulasi Ekstrak Kontrol clematidea 50% Buah lerak 50% clematidea 25% buah lerak 75% clematidea 50% buah lerak 50% clematidea 75% buah lerak 25% BNT 5% 1 MSA 23,12 a 18,20 b 18,20 b 16,20 b 15,40 bc 12,90 c 3,05 Tinggi tajuk gulma . 3 MSA 2 MSA 32,00 a 28,80 a 27,20 ab 22,80 bc 80 ab 24,20 b 19,60 c 19,20 c 13,40 d 3,77 4 MSA 34,60 a 31,20 ab 27,60 ab 26,40 b 25,20 b 17,00 c 7,54 Keterangan : Angka sekolom yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Tabel 3. Pengaruh formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap jumlah daun gulma R. exaltata 1 - 4 MSA Formulasi Ekstrak Kontrol clematidea 50% Buah lerak 50% clematidea 25% buah lerak 75% clematidea 50% buah lerak 50% clematidea 75% buah lerak 25% BNT 5% 1 MSA 5,20 a 4,40 b 4,40 b 4,00 bc 3,80 c 2,80 d 0,58 Jumlah daun gulma 3 MSA 2 MSA 6,200 a 6,00 a 5,00 b 5,00 b 5,20 5,20 b 4,40 b 4,80 b 3,00 c 1,05 0,70 4 MSA 5,60 ab 4,80 b 2,40 c 0,91 Keterangan : Angka sekolom yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Gambar 1. Pengaruh formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap tingkat keracunan gulma R. exaltata 1 - 4 MSA Keterangan : P0 = kontrol . anpa ekstra. P1 = ekstrak P. clematidea 50% . P2 = ekstrak buah lerak 50% . = ekstrak P. clematidea 25% ekstrak buah lerak 75% . P4 = ekstrak P. clematidea 50% ekstrak buah lerak 50%. P5 = ekstrak P. clematidea 75% ekstrak buah lerak 25%. Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. Persentase keracunan gulma R. exaltata dilakukan berdasarkan nilai skoring visual dalam pengujian efikasi herbisida (Gambar . Hasil penelitian uji pengaplikasian formulasi tunggal dan campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak menunjukkan terdapat gejala keracunan pada gulma R. Formulasi ekstrak P. clematidea yang diaplikasikan dengan formulasi tunggal dan campuran pada gulma R. menimbulkan gejala yang hampir sama yaitu daun gulma layu ditunjukkan dengan warna daun menguning kecoklatan dan ujung daun menggulung. Senyawa alelokimia diduga menjadi penyebab keracunan pada gulma dengan gejala daun menguning, pertumbuhan abnormal, klorosis dan kematian jaringan gulma (Pujisiswanto et al. , 2. Keracunan gulma R. exaltata pada 1 MSA menunjukkan gejala daun yang menguning kecoklatan dan terhambatnya pucuk daun dibandingkan dengan kontrol. Persentase keracunan gulma R. mencapai 18 - 48% sehingga termasuk kedalam kategori tingkat keracunan ringan - sedang, sedangkan pada 2 MSA terjadi keracunan mencapai 34,67 - 66% termasuk kedalam kategori keracunan sedang Ae tinggi. Pada 4 MSA, tingkat keracunan gulma R. exaltata pada formulasi ekstrak campuran P. 75% buah lerak 25% termasuk kategori sangat tinggi sebesar 78%, yang menyebabkan daun gulma mengering / sedikit yang berwarna hijau sampai kematian gulma (Gambar 2 ). 2 MSA Kontrol 4 MSA Kontrol Gambar 2. Pengaruh formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap persentase keracunan gulma R. exaltata 2 dan 4 MSA Keterangan : P0 = kontrol . anpa ekstra. P1 = ekstrak P. clematidea 50% . P2 = ekstrak buah lerak 50% . = ekstrak P. clematidea 25% ekstrak buah lerak 75% . P4 = ekstrak P. clematidea 50% ekstrak buah lerak 50%. P5 = ekstrak P. clematidea 75% ekstrak buah lerak 25%. Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. Tabel 4 menunjukkan bahwa semua formulasi ekstrak mampu menekan bobot kering tajuk gulma R. Daya hambat tertinggi pada formulasi ekstrak P. clematidea 75% buah lerak 25%, namun daya hambat tidak berbeda dengan P. clematidea 25% buah lerak 75% dan P. clematidea 50% buah lerak 50%. Daya hambat tertinggi terhadap bobot kering akar gulma pada formulasi ekstrak P. clematidea 75% buah lerak 25%namun tidak berbeda dengan formulasi ekstrak P. clematidea 50% buah lerak 50%. Semua formulasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan gulma R. Daya hambat tertinggi pada formulasi ekstrak clematidea 75% buah lerak 25%, hal tersebut terlihat bobot kering gulma total lebih rendah dibandingkan kontrol dan formulasi lain, namun daya kendali tidak berbeda dibandingkan formulasi ekstrak clematidea 50% buah lerak 50%. Kandungan klorofil yang diturunkan oleh senyawa alelokimia dapat mempengaruhi fotosintesis dan pertumbuhan gulma. Penurunan bobot segar dan bobot kering gulma dipengaruhi oleh penurunan kapasitas gulma dalam mengakumulasi klorofil (Shofiyatin et al. , 2. Formulasi ekstrak tunggal dan campuran P. clematidea dengan buah lerak mampu menekan pertumbuhan gulma R. exaltata, persentase penekanan terendah pada ekstrak buah lerak sebesar 26,067%, penekanan tertinggi pada formulasi campuran ekstrak P. clematidea 75% buah lerak 25% sebesar 67,64 %. penelitian yang menggunakan gulma sebagai herbisida nabati untuk menekan atau mengendalikan pertumbuhan gulma Hal ini disebabkan karena beberapa gulma tersebut memiliki kandungan alelopati (Tampubolon et al. 2018 (Gambar . Tabel 4. Pengaruh Formulasi ekstrak campuran P. clematidea dan buah lerak pada bobot kering akar, bobot kering tajuk, bobot kering total dan nisbah tajuk/akar gulma R. Formulasi Ekstrak Kontrol clematidea 50% Buah lerak 50% clematidea 25% buah lerak 75% clematidea 50% buah lerak 50% clematidea 75% buah lerak 25% BNT 5% Bobot kering tajuk 0,14 a 0,08 b 0,10 b 0,07 bc 0,07 bc 0,04 c 0,03 Bobot kering akar 0,036 a 0,030 ab 0,036 a 0,028 ab 0,024 bc 0,019 c 0,009 Bobot kering total 0,17 a 0,11 bc 0,13 b 0,10 bc 0,09 cd 0,05 d 0,04 Nisbah tajuk/akar 3,95 a 3,08 ab 2,79 b 2,55 bc 3,01 b 1,68 c 0,92 Keterangan : Angka sekolom yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%. Tabel 4 menunjukkan bahwa nisbah tajuk/akar terendah pada formulasi ekstrak clematidea 75% buah lerak 25%, namun tidak berbeda dibandingkan formulasi ekstrak P. clematidea 25% Hal Planta Simbiosa Volume 7 . Oktoer 2025: 121-129 menunjukkan bahwa pertumbuhan akar lebih dominan daripada tajuk. Kondisi ini sering kali menjadi respons tanaman terhadap cekaman lingkungan, termasuk aplikasi herbisida metabolit pada senyawa Sedangkan nisbah tajuk/akar Pujisiswanto, et. : Pengujian Formulasi Ekstrak Praxelis clematidea dan. tertinggi pada perlakuan kontrol, namun tidak berbeda dengan formulasi ekstrak P. Hal menunjukkan bahwa pertumbuhan bagian atas . lebih dominan dibandingkan Ini bisa terjadi pada kondisi lingkungan yang optimal, di mana ketersediaan air dan nutrisi memadai atau tidak terjadi fitotksisitas atau terjadi fitotoksisitas ringan pada gulma R. exaltata sehingga tumbuhan tidak perlu mengalokasikan banyak energi untuk memperpanjang atau memperbanyak akar. Gambar 3. Pengaruh aplikasi formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerak terhadap perrsentase penekanan gulma R. exaltata pada 4 MSA Keterangan : P0 = kontrol . anpa ekstra. P1 = ekstrak P. clematidea 50% . P2 = ekstrak buah lerak 50% . = ekstrak P. clematidea 25% ekstrak buah lerak 75% . P4 = ekstrak P. clematidea 50% ekstrak buah lerak 50%. P5 = ekstrak P. clematidea 75% ekstrak buah lerak 25% KESIMPULAN Kesimpulan aplikasi pascatumbuh formulasi campuran ekstrak P. clematidea dan buah lerah mampu menghambat pertumbuhan gulma. Daya hambat tertinggi terdapat pada formulasi campuran ekstrak P. 75% ekstrak buah lerak 25% terhadap tinggi tajuk, jumlah daun gulma hingga 4 MSA, bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan bobot kering gulma total. Nisbah tajuk/akar yang rendah menunjukkan pertumbuhan akar yang dominan dibandingkan tajuk sebagai respon terhadap cekaman senyawa alelokimia. Tingkat keracunan gulma dengan kriteria sangat tinggi dan persentase penekanan gulma R. exaltata tertinggi. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini didukung hibah DIPA BLU Penelitian Terapan Universitas Lampung tahun 2025, dengan kontrak nomor 2106/UN. 21/PN/2025. Kami dukungan dana yang diberikan. DAFTAR PUSTAKA