Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 Menguak Kerentanan Gender dalam Love Scam dan Strategi Perlindungannya Rumangga Putratama Napitupulu 1. Adrianus E. Meliala2 Kriminologi. Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Indonesia. Jl. Prof. Dr. Selo Soemardjan. Depok. Jawa Barat 16424. Indonesia Korespondensi Email : napitupulu. angga72@gmail. Abstract This study is motivated by the increasing cases of love scams in Indonesia, a form of online fraud that exploits gender vulnerabilities through emotional manipulation for financial or emotional gain. This phenomenon is exacerbated by patriarchal culture, low digital literacy, and legal limitations, with significant impacts on victims, particularly women and non-binary individuals. The research method employed is a systematic literature review of 32 national and international journals, analyzing perpetratorsAo targeting patterns, victimization risk factors, and gender-based protection The findings indicate that women are the primary targets due to social pressures, patriarchal norms, and emotional needs, while non-binary individuals are vulnerable due to social Emotional manipulation, social stigma, and vulnerabilities in online dating platforms are the main factors contributing to victimization, with additional risks such as identity theft and psychological trauma. Proposed protection strategies include digital literacy education, gendersensitive counseling, and legal reforms. The study concludes that love scams are a multidimensional phenomenon requiring an intersectional approach and cross-sectoral collaboration for early detection and effective prevention to reduce victimization and promote social justice for victims. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus love scam di Indonesia, sebuah bentuk penipuan daring yang mengeksploitasi kerentanan gender melalui manipulasi emosional untuk keuntungan finansial atau emosional. Fenomena ini diperparah oleh budaya patriarki, rendahnya literasi digital, dan keterbatasan hukum, dengan dampak signifikan terhadap korban, terutama perempuan dan kelompok non-biner. Metode penelitian yang digunakan yaitu kajian literatur sistematik terhadap 32 jurnal nasional dan internasional, yang menganalisis pola penargetan pelaku, faktor risiko viktimisasi, dan strategi perlindungan berbasis gender. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan menjadi target utama karena tekanan sosial, norma patriarki, dan kebutuhan emosional, sementara kelompok non-biner rentan akibat isolasi sosial. Manipulasi emosional, stigma sosial, dan kerentanan platform kencan daring menjadi faktor utama viktimisasi, dengan risiko tambahan seperti kejahatan identitas dan trauma psikologis. Strategi perlindungan yang diusulkan meliputi edukasi literasi digital, konseling sensitif gender, dan reformasi hukum. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa love scam adalah fenomena multidimensional yang membutuhkan pendekatan interseksional dan kolaborasi lintas sektor untuk deteksi dini dan pencegahan efektif, guna mengurangi viktimisasi dan mendukung keadilan sosial bagi korban. Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 Kata kunci: Love scam. Kerentanan Gender. Viktimologi. Literasi Digital. Manipulasi Emosional. Strategi Perlindungan. Budaya Patriarki. Pendahuluan Perkembangan teknologi digital dan maraknya penggunaan platform daring, seperti aplikasi kencan dan media sosial, telah membuka peluang baru bagi interaksi sosial, tetapi juga membawa tantangan serius berupa kejahatan siber, salah satunya adalah love scam. Love scam adalah bentuk penipuan daring di mana pelaku memanipulasi korban dengan membangun hubungan emosional palsu untuk mendapatkan keuntungan finansial atau emosional (Aborisade. Ocheja, & Okuneye. Fenomena ini menjadi perhatian utama di Indonesia, di mana data dari Bareskrim Polri . 1AeApril 2. mencatat 573 kasus love scam, menunjukkan fluktuasi namun konsistensi ancaman yang signifikan terhadap masyarakat. Signifikansi masalah ini tidak hanya terletak pada kerugian finansial, tetapi juga pada dampak psikologis jangka panjang, seperti trauma emosional, rasa malu, dan hilangnya kepercayaan diri, yang sering kali diperparah oleh dinamika gender (Drew & Webster, 2. Love scam sering kali mengeksploitasi kerentanan yang terkait dengan identitas gender, terutama karena budaya patriarki dan norma sosial yang memengaruhi persepsi serta perilaku emosional individu. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan, khususnya yang lajang atau berada dalam kondisi emosional rentan, menjadi target utama karena tekanan sosial untuk menjalin hubungan dan ekspektasi peran gender tradisional (Thumboo & Mukherjee, 2. Sementara itu, laki-laki sering ditargetkan dengan narasi yang menonjolkan status atau keuntungan finansial, sedangkan kelompok non-biner menghadapi risiko tambahan akibat isolasi sosial dan stigma dalam kerangka heteronormatif (Amirkhani et al. , 2. Pola penargetan ini mencerminkan bagaimana pelaku love scam memanfaatkan stereotip gender untuk merancang strategi manipulasi yang efektif, seperti penggunaan profil fiktif sebagai Aupejabat militerAy atau Auprofesional suksesAy untuk menarik korban (Yosiandra & Sakariah, 2. Di sisi lain, love scam juga dipengaruhi oleh dinamika sosial dan struktural yang lebih luas. Viktimologi postmodern menyoroti bahwa faktor seperti kemiskinan, rendahnya literasi digital, dan keterasingan emosional memperparah kerentanan korban, khususnya tenaga kerja wanita (TKW) dan perempuan lajang (Wakhid, 2. Selain itu, budaya patriarki yang memposisikan perempuan sebagai pihak yang lemah secara emosional, ditambah dengan stigma terhadap hubungan intim pranikah, menciptakan celah yang dimanfaatkan pelaku untuk mengeksploitasi korban tanpa risiko dilaporkan (Amirkhani et al. , 2. Fenomena ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki dimensi global, karena love scam sering kali melibatkan pelaku lintas negara yang memanfaatkan platform daring untuk menjangkau korban di berbagai wilayah (Soares & Lazarus, 2. Dengan demikian, diperlukan kajian yang komprehensif untuk memahami kerentanan gender dalam love scam dan merumuskan strategi perlindungan yang responsif terhadap konteks sosial dan budaya. Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 Pentingnya analisis love scam dari perspektif gender didorong oleh pengalaman historis dari kasus-kasus sebelumnya. Misalnya, penelitian oleh Whitty . menunjukkan bahwa perempuan paruh baya yang berpendidikan tinggi sering menjadi korban karena kecenderungan impulsif dan kepercayaan berlebihan terhadap narasi romantis daring. Data dari Soares dan Lazarus . mengungkapkan bahwa 70% pelaku love scam menargetkan perempuan, menunjukkan adanya pola penargetan yang sangat dipengaruhi oleh gender. Di Indonesia, kasus-kasus seperti yang dilaporkan oleh Bareskrim Polri menunjukkan bahwa korban sering kali menghadapi kesulitan melapor karena rasa malu atau stigma sosial, terutama pada perempuan yang dianggap AugagalAy dalam menjalin hubungan (Cross & Holt, 2. Selain itu, kelompok non-biner sering kali terabaikan dalam program perlindungan korban karena kerangka heteronormatif yang dominan, sehingga memperparah ketidakadilan dalam penanganan viktimisasi (Cazanis et al. , 2. Berbagai tantangan dalam penanganan love scam mencakup kurangnya program victim support yang sensitif terhadap gender, rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat, dan terbatasnya koordinasi antara penegak hukum, platform daring, dan komunitas untuk mendeteksi serta mencegah penipuan (Cross & Holt, 2. Sebagai contoh, kasus-kasus di wilayah perkotaan seperti Jakarta dan Bogor menunjukkan bahwa pelaku sering menggunakan narasi emosional, seperti cerita tragis atau janji pernikahan, untuk memanipulasi korban, sementara respons dari pihak berwenang sering kali datang terlambat (Drew & Webster, 2. Di sisi lain, keterlibatan komunitas dan organisasi non-pemerintah dalam edukasi literasi digital terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, seperti yang ditunjukkan oleh kampanye antipenipuan di media sosial (Nomleni, 2. Namun, tantangan seperti stigma sosial dan kurangnya akses ke layanan konseling psikologis yang inklusif masih menjadi hambatan Novelty dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kajian terkini menempatkan deteksi dini love scam berbasis kerentanan gender sebagai pendekatan strategis dengan memadukan viktimologi kritis dan kajian literatur sistematik untuk mengidentifikasi pola penargetan pelaku, faktor risiko korban, serta peran literasi digital dan kolaborasi kelembagaan dalam konteks Indonesia. Melihat kompleksitas tantangan tersebut, deteksi dini terhadap kerentanan gender dalam love scam menjadi esensial untuk mengidentifikasi pola penargetan pelaku dan faktor risiko korban. Pendekatan viktimologi kritis menawarkan kerangka untuk memahami bagaimana norma gender, ketimpangan kekuasaan, dan struktur sosial membentuk pengalaman viktimisasi (Mawby & Walklate, 2. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur sistematik untuk memahami kerentanan gender dalam love scam di Indonesia. Kajian literatur sistematik memungkinkan analisis mendalam terhadap pola penargetan pelaku dan faktor kerentanan korban berdasarkan identitas gender melalui sumber-sumber akademik, laporan resmi, dan data relevan (Vrisaba. Faidah, & Purba, 2. Literatur menunjukkan bahwa kelompok rentan, seperti perempuan lajang dan remaja, sering Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 menjadi target love scam karena keterlibatan aktif mereka di media sosial tanpa literasi digital yang memadai (Vrisaba et al. , 2. Deteksi dini dapat dilakukan dengan memetakan profil korban potensial, mengidentifikasi pola manipulasi pelaku seperti penggunaan identitas fiktif atau narasi emosional, dan mengevaluasi efektivitas kerja sama antara kepolisian siber, penyedia platform daring, dan komunitas berdasarkan temuan literatur (Nomleni, 2. Deteksi dini dalam love scam melalui kajian literatur sistematik bertujuan untuk mengenali indikator kerentanan gender dan merumuskan strategi pencegahan berbasis Literatur menyoroti bahwa pelaku sering memanfaatkan stereotip gender, seperti narasi romantis untuk menargetkan perempuan atau janji keuntungan finansial untuk laki-laki, yang memperparah risiko viktimisasi (Thumboo & Mukherjee, 2. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi faktor risiko, seperti rendahnya literasi digital dan tekanan sosial berbasis patriarki, serta evaluasi terhadap pendekatan perlindungan yang telah ada. Kajian literatur juga mengindikasikan bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk edukasi masyarakat, peningkatan literasi digital, dan konseling psikologis yang sensitif gender, dapat memperkuat pencegahan love scam dan menciptakan lingkungan digital yang lebih aman (Nomleni, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, kebaharuan dalam penelitian ini adalah memberikan deteksi dini love scam berdasarkan gender, terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan gender dalam love scam melalui kajian literatur sistematik, dengan fokus pada pola penargetan pelaku dan faktor risiko korban berdasarkan identitas gender di konteks Indonesia. Penelitian ini juga bertujuan untuk merumuskan strategi perlindungan yang responsif gender berdasarkan temuan literatur, seperti penguatan literasi digital dan pengembangan program victim support yang inklusif. Kajian ini penting untuk mengatasi keterbatasan evaluasi terhadap pendekatan perlindungan korban yang sensitif gender, memperkuat strategi pencegahan berbasis bukti, dan menyesuaikan pendekatan yang kurang efektif guna mendukung keamanan serta kesejahteraan korban love scam di masa mendatang. Metode Metode kajian literatur sistematik dalam penelitian ini dirancang sebagai pendekatan kualitatif-analitis yang dilakukan secara terstruktur, transparan, dan replikatif untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mensintesis temuan-temuan empiris terkait kerentanan gender dalam praktik love scam (Booth. Sutton, & Papaioannou, 2016. Snyder, 2. Instrumen penelitian berupa protokol penelusuran literatur yang mencakup perumusan kata kunci, kriteria inklusi dan eksklusi, serta matriks analisis digunakan untuk menjamin konsistensi dan ketelitian dalam proses seleksi dan sintesis data (Kitchenham & Charters, 2. Subjek penelitian tidak berupa individu secara langsung, melainkan korpus literatur ilmiah yang merepresentasikan kelompok korban berdasarkan identitas gender, usia, dan tingkat literasi digital, sehingga memungkinkan Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 analisis kritis terhadap pola viktimisasi yang terbentuk dalam struktur sosial dan relasi kuasa (Mawby & Walklate, 2. Dengan desain riset kajian literatur sistematik, penelitian ini memberikan landasan berbasis bukti untuk memahami dinamika gender dalam love scam serta merumuskan rekomendasi perlindungan korban yang kontekstual dan responsif terhadap keberagaman identitas gender (Creswell & Poth, 2. Hasil dan Diskusi Dari hasil kajian terhadap 32 jurnal penelitian baik dari jurnal nasional maupun jurnal internasional, diketahui sebagai berikut: Dari hasil penelitian di atas, dapat diklasifikasikan hasil penelitian tersebut sebagai berikut: Metode Penelitian dalam Jurnal Tabel di atas menyajikan hasil penelitian terkait kerentanan gender dan strategi perlindungan dalam love scam, memperlihatkan keragaman dalam pendekatan metodologi yang digunakan oleh para peneliti. Metode penelitian menjadi fondasi yang krusial dalam membentuk landasan, memahami dinamika, dan mengeksplorasi aspek-aspek kunci terkait viktimisasi love scam. Sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan kualitatif untuk eksplorasi mendalam terhadap fenomena love scam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali persepsi, pengalaman korban, dan faktor subjektif seperti tekanan sosial, stigma, dan manipulasi emosional yang memengaruhi kerentanan, terutama pada perempuan. Misalnya, studi fenomenologi kualitatif oleh Aborisade et . dan studi kasus kualitatif oleh Amriani & Rinaldi . menyoroti dampak emosional dan faktor budaya dalam viktimisasi. Pendekatan kuantitatif juga digunakan dalam beberapa penelitian untuk memberikan data empiris, seperti Soares & Lazarus . yang menganalisis pola penargetan pelaku dan Whitty . yang mengidentifikasi karakteristik psikologis Pendekatan ini memungkinkan generalisasi temuan, meskipun sering kali kurang mendalam dalam aspek gender. Penelitian dengan pendekatan tinjauan sistematik, seperti Lazarus et al. dan multidisiplin, seperti Liu et al. , mengintegrasikan berbagai perspektif untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif. Selain itu, pendekatan teoretis seperti Arnoud et al. dan Soetjipto . menawarkan kerangka interseksional untuk memahami kerentanan berlapis berdasarkan gender, ras, dan Keragaman metode ini memberikan wawasan yang kaya tentang love scam, mulai dari analisis kualitatif mendalam hingga data kuantitatif yang terukur, serta kerangka teoretis yang mendukung analisis inklusif. Setiap metode memberikan Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 kontribusi unik dalam memahami kompleksitas viktimisasi dan strategi perlindungan dalam konteks love scam. Hasil Deteksi Dini Kerentanan Gender dalam Love Scam Hasil deteksi dini kerentanan gender dalam love scam yang tergambar dari penelitian-penelitian di atas menyoroti elemen krusial yang memengaruhi risiko viktimisasi, terutama pada perempuan dan kelompok non-biner. Banyak penelitian menekankan bahwa perempuan menjadi target utama karena faktor sosial dan budaya, seperti tekanan untuk menikah (Niman et al. , 2. , norma patriarki (Amirkhani et al. , 2. , dan stigma sosial yang memperparah trauma (Santika & Arifin, 2. Temuan utama menunjukkan bahwa manipulasi emosional adalah inti dari love scam, dengan pelaku memanfaatkan kebutuhan emosional dan kesepian korban (Wang & Topalli, 2022. Liu et al. , 2. Perempuan, khususnya yang lajang atau berusia paruh baya, sering menjadi sasaran karena impulsivitas dan kerentanan emosional (Whitty, 2017. Thumboo & Mukherjee, 2. Selain itu, faktor struktural seperti kemiskinan dan rendahnya literasi digital meningkatkan risiko, terutama pada tenaga kerja wanita Indonesia (TKW) (Wakhid, 2. Penelitian juga mengidentifikasi risiko tambahan seperti kejahatan identitas (Cross & Holt, 2. dan dampak psikologis jangka panjang seperti penurunan kepercayaan diri (Wang, 2. Aplikasi kencan menjadi platform utama yang memfasilitasi love scam melalui interaksi intensif dengan orang asing (Diesen et al. Yoshida, 2. Namun, kurangnya perhatian pada dinamika gender non-biner dan laki-laki dalam beberapa penelitian menunjukkan celah dalam literatur saat ini (Lazarus et al. , 2. Berdasarkan hasil analisis tersebut, diketahui bahwa temuan ini mencerminkan kompleksitas kerentanan gender dalam love scam, yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, budaya, dan teknologi. Pentingnya deteksi dini melalui pemahaman pola penargetan dan faktor risiko menjadi kunci untuk mengurangi viktimisasi. Temuan Utama Kompleksitas Fenomena Love Scam dari Perspektif Gender Penelitian ini mengungkap sejumlah temuan utama yang mencerminkan kompleksitas fenomena love scam dari perspektif gender, berdasarkan analisis terhadap 32 jurnal nasional dan internasional. Kasus ini berawal dari adanya manipulasi emosional menjadi inti strategi pelaku dalam mengeksploitasi korban, dengan narasi romantis, janji pernikahan, atau cerita tragis yang membangun kepercayaan secara cepat (Abubakari et al. , 2025. Nomleni, 2023. Wang & Topalli. Perempuan, khususnya yang lajang atau berusia paruh baya, menjadi target utama karena kerentanan emosional, tekanan sosial untuk menikah, dan pengaruh norma patriarki (Niman et al. , 2023. Thumboo & Mukherjee, 2024. Amirkhani et al. Studi oleh Whitty . menunjukkan bahwa perempuan berpendidikan tinggi Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 sering kali impulsif dan responsif terhadap narasi romantis, meningkatkan risiko Kelompok non-biner juga menghadapi risiko signifikan, meskipun kurang mendapat perhatian dalam literatur. Isolasi sosial dan stigma dalam kerangka heteronormatif memperparah kerentanan mereka (Cazanis et al. , 2025. Arnoud et al. Sementara itu, laki-laki lebih sering ditargetkan dengan narasi berbasis status atau keuntungan finansial, namun penelitian tentang kelompok ini relatif terbatas (Vrisaba et al. , 2. Ketiga, faktor struktural seperti kemiskinan dan rendahnya literasi digital, terutama pada tenaga kerja wanita Indonesia (TKW), meningkatkan risiko viktimisasi (Wakhid, 2. Selain itu, penelitian mengidentifikasi risiko tambahan berupa kejahatan identitas, di mana data pribadi korban disalahgunakan (Cross & Holt, 2. , serta dampak psikologis jangka panjang seperti penurunan kepercayaan diri dan trauma emosional (Wang, 2022. Drew & Webster, 2. Aplikasi kencan daring menjadi platform utama yang memfasilitasi love scam melalui interaksi intensif dengan profil fiktif (Diesen et al. , 2025. Yoshida, 2. Stigma sosial dan rasa malu juga menghambat korban untuk melapor, memperparah dampak psikologis dan menghambat upaya perlindungan (Bunga et al. , 2025. Meikle & Cross, 2. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini diketahui bahwa love scam adalah fenomena multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor psikologis . anipulasi emosional, kesepia. , sosial . tigma, norma patriark. , budaya . ekanan untuk menika. , dan teknologi . erentanan platform kenca. Celah dalam literatur, seperti kurangnya fokus pada dinamika gender non-biner dan laki-laki, menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif untuk memahami viktimisasi secara menyeluruh (Lazarus et al. , 2. Strategi Perlindungan Love Scam Berdasarkan temuan penelitian, sejumlah strategi perlindungan telah diusulkan untuk mengurangi viktimisasi love scam dengan pendekatan yang responsif terhadap gender dan konteks sosial, diantaranya: Edukasi literasi digital menjadi strategi utama untuk memberdayakan kelompok rentan, seperti perempuan lajang. TKW, dan pengguna aplikasi kencan. Program edukasi ini harus fokus pada pengenalan pola manipulasi pelaku, seperti deklarasi cinta cepat atau permintaan uang, serta pentingnya verifikasi identitas daring (Amriani & Rinaldi, 2024. Pratama & Nugroho, 2023. Wakhid, 2. Kampanye kesadaran publik juga diperlukan untuk mengurangi stigma sosial yang menghambat pelaporan, sehingga korban merasa aman untuk mencari bantuan (Bunga et al. , 2025. Meikle & Cross, 2. Konseling psikologis sensitif gender direkomendasikan untuk mengatasi trauma emosional dan dampak psikologis jangka panjang, seperti penurunan kepercayaan Program ini harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik perempuan dan non-biner, dengan mempertimbangkan stigma sosial dan norma patriarki yang Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 memperparah pengalaman viktimisasi (Aborisade et al. , 2024. Cazanis et al. , 2. Saluran pelaporan anonim juga diusulkan untuk mendorong korban melaporkan kasus tanpa rasa takut atau malu (Meikle & Cross, 2. Penguatan keamanan platform kencan daring menjadi prioritas untuk mengurangi risiko penipuan. Penyedia platform perlu menerapkan verifikasi identitas yang ketat, algoritma deteksi penipuan, dan sistem keamanan data untuk melindungi pengguna dari profil fiktif dan kejahatan identitas (Diesen et al. , 2025. Yoshida. Cross & Holt, 2. Reformasi hukum diperlukan untuk memperkuat perlindungan korban dan menegakkan sanksi terhadap pelaku. Hukum di Indonesia saat ini dinilai belum memadai, sehingga diperlukan regulasi khusus untuk mengatur platform kencan daring dan menangani pelaku lintas negara (Rachmat, 2023. Syafriana, 2. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, penegak hukum, penyedia platform, organisasi non-pemerintah (LSM), dan komunitas lokal menjadi kunci untuk membangun ekosistem pencegahan yang efektif. Pelatihan bagi lembaga penegak hukum diperlukan untuk mendeteksi pola manipulasi pelaku, sementara LSM dan komunitas lokal dapat memperluas kampanye edukasi dan mendukung pemberdayaan masyarakat (Barnor et al. , 2020. Soares & Lazarus, 2024. Widodo & Lestari, 2. Pendekatan interseksional juga dianjurkan dalam strategi perlindungan untuk memastikan inklusivitas terhadap semua identitas gender, termasuk non-biner dan laki-laki, yang sering terabaikan (Arnoud et al. , 2023. Soetjipto, 2. Strategi ini menekankan pentingnya pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan aspek teknologi, hukum, psikologis, dan sosial untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan mendukung keadilan sosial bagi korban love scam. Stakeholder yang Terlibat dalam Pencegahan Love Scam Aspek pemangku kepentingan . yang terlibat dalam pencegahan love scam memberikan gambaran tentang keragaman dan kompleksitas aktor yang memegang peran krusial dalam mitigasi penipuan romansa daring. Penelitian menunjukkan bahwa berbagai entitas memiliki peran signifikan dalam upaya pencegahan dan perlindungan korban. Pemangku kepentingan utama meliputi: Pemerintah dan Regulator Hukum: Berperan dalam penguatan regulasi untuk melindungi korban dan menegakkan hukum terhadap pelaku (Rachmat, 2023. Syafriana, 2. Penyedia Platform Kencan Daring: Bertanggung jawab untuk menerapkan verifikasi identitas dan sistem keamanan data (Diesen et al. , 2025. Yoshida, 2. Lembaga Penegak Hukum: Membutuhkan pelatihan untuk mendeteksi motivasi pelaku dan pola manipulasi (Barnor et al. , 2020. Soares & Lazarus, 2. Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 Organisasi Non-Pemerintah dan Komunitas Lokal: Berperan dalam kampanye kesadaran dan edukasi literasi digital (Widodo & Lestari, 2024. Pratama & Nugroho, 2. Pakar Psikologi dan Konselor: Memberikan dukungan psikologis sensitif gender untuk korban (Aborisade et al. , 2024. Cazanis et al. , 2. Masyarakat Pengguna Aplikasi Kencan: Sebagai kelompok rentan yang perlu diberdayakan melalui edukasi (Amriani & Rinaldi, 2024. Whitty, 2. Keterlibatan stakeholder ini tidak hanya terbatas pada pencegahan teknis, tetapi juga mencakup aspek kritis seperti mengatasi stigma sosial, meningkatkan literasi digital, dan menyediakan saluran pelaporan anonim. Kompleksitas tantangan, seperti manipulasi emosional dan stigma, membutuhkan kerja sama yang kokoh dan komunikasi terbuka di antara semua pihak. Pemahaman peran stakeholder ini menjadi kunci dalam membangun sistem perlindungan yang inklusif dan efektif. Potensi Gangguan dalam Love Scam Potensi gangguan dalam love scam yang diidentifikasi dari penelitian mencakup berbagai ancaman yang dapat memperparah viktimisasi dan menghambat upaya Penelitian menyoroti beberapa gangguan utama, antara lain: Manipulasi Emosional: Teknik utama pelaku, seperti narasi romantis dan permintaan maaf, membangun kepercayaan korban secara cepat, meningkatkan risiko viktimisasi (Abubakari et al. , 2025. Nomleni, 2. Stigma Sosial dan Rasa Malu: Menghambat korban untuk melapor, memperparah trauma psikologis (Bunga et al. , 2025. Meikle & Cross, 2. Kerentanan Platform Kencan: Kurangnya verifikasi identitas dan keamanan data memfasilitasi penipuan (Diesen et al. , 2025. Yoshida, 2. Kejahatan Identitas: Korban berisiko kehilangan data pribadi yang dapat disalahgunakan (Cross & Holt, 2. Keterbatasan Hukum: Hukum di beberapa negara, termasuk Indonesia, belum memadai untuk melindungi korban atau menangani pelaku (Rachmat, 2. Rendahnya Literasi Digital: Meningkatkan kerentanan, terutama pada kelompok seperti TKW (Wakhid, 2. Ancaman-ancaman ini mencerminkan sifat multidimensional love scam, yang memanfaatkan faktor psikologis, sosial, dan teknologi. Mengatasi gangguan ini memerlukan pendekatan komprehensif, termasuk penguatan keamanan platform, edukasi publik, dan reformasi hukum, dengan melibatkan semua stakeholder untuk memastikan perlindungan yang efektif. Rekomendasi Penelitian Lanjutan Rekomendasi untuk penelitian lanjutan dalam konteks love scam menyoroti beberapa aspek penting yang perlu dieksplorasi lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman dan strategi perlindungan. Penelitian menyarankan fokus pada: Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 Pendekatan Interseksional: Menggali kerentanan gender non-biner dan laki-laki, yang saat ini kurang dibahas (Arnoud et al. , 2023. Soetjipto, 2. Peran Platform Kencan: Mengembangkan teknologi verifikasi identitas dan algoritma deteksi penipuan untuk mengurangi risiko viktimisasi (Diesen et al. Yoshida, 2. Edukasi Literasi Digital: Mengevaluasi efektivitas kampanye literasi digital dalam mencegah love scam, khususnya pada kelompok rentan seperti TKW dan perempuan lajang (Pratama & Nugroho, 2023. Wakhid, 2. Reformasi Hukum: Meneliti kerangka hukum yang lebih efektif untuk melindungi korban dan menangani pelaku (Rachmat, 2023. Syafriana, 2. Dukungan Psikologis: Mengembangkan program konseling sensitif gender yang spesifik untuk korban love scam (Aborisade et al. , 2024. Cazanis et al. , 2. Konteks Budaya Lokal: Menganalisis pengaruh budaya lokal, seperti tekanan sosial untuk menikah, dalam meningkatkan kerentanan di berbagai negara (Niman et al. Thumboo & Mukherjee, 2. Penelitian lanjutan ini penting untuk menghasilkan solusi yang konkret dan inklusif, meningkatkan literasi digital, memperkuat regulasi, dan memastikan dukungan psikologis yang responsif terhadap keberagaman identitas gender. Dengan demikian, penelitian dapat berkontribusi pada sistem perlindungan yang lebih kokoh dan terpercaya untuk mencegah love scam di masa depan. Keterbatasan Penelitian Kajian literatur sistematik ini, yang menganalisis 32 jurnal nasional dan internasional, memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan untuk memahami cakupan temuan dan merumuskan arah penelitian lanjutan. Keterbatasan ini diantaranya: Sebagian besar penelitian cenderung berfokus pada kerentanan perempuan sebagai korban love scam, sehingga dinamika gender non-biner dan laki-laki kurang mendapat perhatian (Lazarus et al. , 2023. Cazanis et al. , 2. Misalnya, studi seperti Thumboo & Mukherjee . dan Amriani & Rinaldi . terbatas pada perempuan lajang atau pengguna aplikasi kencan, meninggalkan celah dalam pemahaman viktimisasi pada kelompok gender lain. Banyak penelitian memiliki keterbatasan geografis, dengan fokus pada konteks spesifik seperti Nigeria (Aborisade et al. , 2. Iran (Amirkhani et al. , 2. , atau Korea Selatan (Choi et al. , 2. Hal ini membatasi generalisasi temuan terhadap konteks global atau bahkan konteks Indonesia, yang memiliki dinamika budaya dan sosial yang unik, seperti tekanan untuk menikah atau stigma terhadap hubungan pranikah (Niman et al. , 2. Beberapa penelitian, seperti Barnor et al. dan Abubakari et al. , lebih menekankan perspektif pelaku daripada korban, sehingga kurang mendalami faktor kerentanan gender secara spesifik. Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 Pendekatan metodologi dalam beberapa studi juga menunjukkan keterbatasan. Penelitian kuantitatif, seperti Soares & Lazarus . dan Whitty . , sering kali tidak cukup mendalam dalam mengeksplorasi aspek gender karena fokus pada generalisasi data empiris. Sebaliknya, studi kualitatif seperti Drew & Webster . terbatas pada sampel kecil atau konteks spesifik, yang dapat mengurangi representativitas temuan. Beberapa jurnal, seperti Sims et al. , menggunakan data yang relatif usang, sehingga kurang relevan dengan perkembangan teknologi digital terkini yang memengaruhi love scam. Kurangnya pendekatan interseksional dalam banyak penelitian menjadi keterbatasan signifikan. Meskipun Arnoud et al. dan Soetjipto . mempertimbangkan interaksi antara gender, ras, kelas, atau faktor struktural lainnya secara komprehensif. Hal ini menghambat pemahaman tentang kerentanan berlapis, terutama pada kelompok seperti TKW atau non-biner (Wakhid, 2024. Cazanis et al. , 2. Keterbatasan akses terhadap data empiris terkini, terutama di Indonesia, serta minimnya penelitian yang mengevaluasi efektivitas strategi perlindungan seperti edukasi literasi digital atau konseling sensitif gender, membatasi kemampuan untuk merumuskan solusi yang sepenuhnya berbasis bukti (Rachmat, 2023. Syafriana, 2. Keterbatasan ini menunjukkan perlunya penelitian lanjutan yang lebih inklusif, dengan pendekatan interseksional, cakupan geografis yang lebih luas, dan evaluasi terhadap efektivitas intervensi untuk mengatasi love scam secara holistik. Kesimpulan Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa love scam merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, budaya, dan teknologi, dengan kerentanan gender, khususnya pada perempuan dan kelompok non-biner, menjadi elemen sentral dalam viktimisasi. Penelitian menunjukkan bahwa manipulasi emosional, stigma sosial, dan rendahnya literasi digital memperparah risiko, sementara keterbatasan hukum dan kerentanan platform kencan daring menjadi tantangan utama dalam pencegahan. Keragaman metode penelitian, mulai dari kualitatif hingga kuantitatif, memberikan wawasan mendalam tentang dinamika love scam, namun celah seperti kurangnya fokus pada gender non-biner dan laki-laki menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, penyedia platform, penegak hukum. LSM, konselor, dan masyarakat, menjadi kunci dalam membangun strategi perlindungan yang efektif. Dengan demikian, deteksi dini, edukasi literasi digital, reformasi hukum, dan dukungan psikologis sensitif gender diperlukan untuk Journal of Citizenship Volume 1. Issue 1. Mei 2025 E-ISSN 2829-6028 mengurangi viktimisasi dan memperkuat sistem perlindungan terhadap love scam di masa depan. Ucapan Terimakasih Terima kasih kepada Prof. Adrianus E. Meliala yang sudah membantu membimbing dan membantu dalam penelitian ini yang merupakan profesor dari Departemen Kriminologi. Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Indonesia. Terimakasih juga kepada para pihak yang sudah membantuk dalam proses dari awal penelitian sampai dalam tahap menyusun paper ini. Referensi