[VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Dengan Pendekatan Behavior Terhadap Perilaku Bullying Siswa Kelas Vi Di SMP N 1 Demak Khusnul Khafidhiyah 1. Siti Fitriana2. Venty3 1,2Universitas PGRI Semarang. Jl. Sidodadi Timur No. 24 Semarang. Karang Tempel. Kec. Semarang Tumur. Kota Semarang. Jawa Tengah 50232, telp. e-mail: khusnulkhafidhiyah2715@gmail. Abstract. This study aims to determine the effect of group counseling services with a behavior approach on bullying behavior of class Vi students at Demak 1 Public Middle School. This type of research is quantitative. The research method used in this study was a pre-experimental design with a one group pretest posttest research design. The population of this research is the research population of 313 students. The sample taken was class Vi B, which consisted of 32 students using purposive sampling technique. The data in this study were obtained through a psychological scale. Abnormal data using the Wilcoxon test is significant . -taile. From the basis of the decision in the calculation of the Wilcoxon test, the sig. 005 <0. 05 which means that the proposed hypothesis is "accepted". There is a difference between the results of bullying behavior after being given treatment in the form of group counseling services using behavioral contract techniques at the pretest and posttest, so that it can be said that "there is an influence of group counseling services with a behavior approach on bullying behavior in class Vi students of SMP Negeri 1 Demak". Based on the results of this study, the suggestion that can be conveyed is that group counseling services with a behavior approach can be used by counseling teachers to reduce student bullying behavior. Keywords: Group Counseling. Behavior. Bullying Behavior Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior terhadap perilaku bullying siswa kelas Vi di Smp Negeri 1 Demak. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-Eksperimen design dengan desain penelitian one group pretest posttest. Populasi penelitian ini adalah Populasi penelitian berjumlah 313 siswa. Sampel yang diambil kelas Vi B yang berjumlah 32 siswa dengan teknik purposive sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui skala psikologis. Data tidak normal menggukan uji Wilcoxon disignifikan . -taile. sebesar 0,005. Dari dasar keputusan dalam perhitungan uji Wilcoxon maka nilai sig. 0,005 < 0,05 yang artinya bahwa hipotesis yang diajukan AuditerimaAy. Terdapat perbedaan antara hasil perilaku bulliying setelah diberikan perlakuan berupa layanan koneling kelompok teknik behavioral contract pada pretest dan posttest, sehingga dapat dikatakan bahwa Auada pengaruh layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior terhadap perilaku bulliying siswa kelas Vi SMP Negeri 1 DemakAy. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat disampaikan adalah layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior dapat digunakan guru BK untuk mengurangi perilaku bullying siswa. Kata Kunci : Konseling Kelompok. Behavior. Perilaku Bullying [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . PENDAHULUAN Pendidikan merupakan upaya mencerdaskan bangsa Indonesia, dan melahirkan individu yang pintar serta bermanfaat. Dalam pendidikan formal mengenal pendidikan dasar, menengah, serta pendidikan tinggi (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat . Pendidikan formal ialah pendidikan yang diperoleh di sekolah secara tertib, sistematis, bertahap serta menjajaki syarat yang jelas. Pada masa kini tidak sedikit permasalahan yang berada pada pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sekolah adalah salah satu faktor penentu bagi perkembangan karakter siswa. Karakter tersebut meliputi cara berperilaku, sopan santun, dan berkepribadian yang Namun masih terdapat kasus-kasus yang terjadi di Sekolah Menengah Pertama yaitu, kasus bullying. Dimana siswa yang berperilaku negatif terhadap siswa lain misalnya dengan membuat teman sebaya atau siswa lain merasa tertekan dan tertindas. Apabila siswa merasa tertekan dan tindakan tersebut dilakukan secara berulang-ulang, maka efek yang ditimbulkan akan lebih berbahaya seperti depresi . alam Maulidinda, 2021:134-. Penelitian yang dilaksanakan oleh Ana Andiani . tentang Konseling Kelompok Behavior untuk Mengurangi Perilaku Bullying Siswa di SMP Sunan Ampel Kabupaten Jombang, bahwa perilaku bullying di sekolah adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok, sehinga korban merasa tertekan, trauma, tidak berdaya, dan peristiwanya terjadi berulang-ulang. Siswa kelas Vi-C SMP Sunan Ampel Jombang ada beberapa siswa yang melakukan tindakan bullying, seperti memalak, memukul, menggosipkan, dan lain-lain. Perilaku tersebut sampai saat ini dianggap hal yang sangat biasa, hanya sebtas bentuk relasi sosial antar anak, padahal hal tersebut sudah pada bentuk perilaku bullying. Peneliti menggunakan konseling kelompok behavior digunakan untuk menghapus perilaku yang kurang baik. Hasil analisis data terhadap tanggapan responden tentang perilaku bullying menunjukkan perilaku [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . bullying siswa dalam pemberi layanan konseling kelompok behavior adalah dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 11 November 2022 dengan guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 1 Demak, ditemukan perilaku bullying sering terjadi pada siswa kelas Vi di sekolah tersebut. Berdasarkan fakta masalah perilaku bullying yang dialami oleh siswa berupa perilaku bullying verbal dan fisik seperti menghina, mengejek temannya dari segi fisik, menimpuk teman, mendorong kursi, melempar penghapus ke teman. Selain itu perilaku bullying pada siswa dengan meneror teman sendiri lewat pesan whatsApp maupun lewat story. Ada beberapa upaya yang dilakukan guru BK untuk mengatasi perilaku bullying. Guru BK sudah berupaya mengatasi perilaku bullying dengan metode konseling individual dan melakukan pertemuan berkala dengan orang tua siswa. Namun upaya tersebut belum terbilang efektif untuk menangani kasus perilaku bullying pada siswa. Peneliti melakukan wawancara lebih lanjut dengan siswa kelas Vi-B pada tanggal 11 November 2022, hasil wawancara sebagai berikut : diketahui bahwa siswa kelas Vi-B ada siswa yang merasa dibully teman sendiri, seperti menyindir, mengejek,difitnah teman, dipanggil nama orang tua, memukul, dan saling menjatuhkan, mempermalukan teman di depan Siswa yang membully mengatakan bahwa tidak bermaksud menyakiti hati teman sendiri, karena merasa tidak tahan kalau melihat suasana di kelas sepi, sehingga berusaha menghidupkan suasana kelas dengan membuat lelucon lucu terhadap teman di kelas. Pelaku perilaku bullying juga mengatakan yang paling berkuasa di kelas karena teman lain pada takut. Hal tersebut membuat siswa menjadi tidak percaya diri. Peneliti menjelaskan bahwa layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior dapat digunakan untuk mengatasi masalah perilaku Hal ini dikarenakan beberapa faktor penyebab perilaku bullying di sekolah yaitu faktor keluarga, faktor lingkungan, dan faktor teman sebaya. Faktor keluarga yang kurang harmonis dan kurang perhatian kepada anak, [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . seperti orang tua bertengkar melakukan tindakan agresif mendorong anak tersebut meniru perilaku orang tua, dan dipraktekkan di lingkungan sekolah dengan didukung oleh faktor lingkungan dan faktor teman sebaya. Perilaku bullying perlu di cegah karena dapat berdampak buruk pada prestasi akademis siswa, serta gangguan kecemasan, depresi, kesehatan mental, dan fisik siswa. Dalam hal ini peneliti akan menggunakan layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior. Dari penjelasan di atas peneliti tertarik untuk meneliti dengan judul AuPengaruh Layanan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Behavior Terhadap Perilaku Bullying Siswa Kelas Vi di SMP Negeri 1 DemakAy. LANDASAN TEORI Perilaku Bullying Pengertian Perilaku Bullying Menurut Coloroso . alam Maulidinda, dkk, 2021:. Perilaku bullying adalah bentuk perlakuan intimidasi secara sengaja oleh pihak dominan terhadap pihak yang lebih lemah yang berbentuk serangan fisik, verbal dan psikis. Menurut Olwes . alam Ira Permata, 2022:. mengatakan bahwa perilaku bullying adalah perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang dalam keadaan tidak nyaman atau terluka dan terjadi berulang ulang yang ditandai dengan ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Menurut Sewija . alam Nasution, dkk, 2021:. perilaku bullying merupakan situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok. Selaras dengan Astuti . perilaku bullying yaitu sebuah hasrat untuk menyakiti seseorang, hasrat ini yang diperlihatkan ke dalam aksi yang menyebabkan seseorang menjadi menderita, aksi ini dilakukan secara langsung oleh individu maupun kelompok yang lebih kuat dan berkuasa, tidak bertanggung jawab. Bullying tidak memilih umur ataupun jenis kelamin korban, yang [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . menjadi korban pada umumnya adalah anak yang lemah, pemalu, pendiam atau seseorang yang tercatat special cantik, pandai tapi pelit. Dari pengertian perilaku bullying dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying adalah suatu bentuk perilaku agresif atau negatif yang dilakukan seseorang individu atau kelompok yang merasa paling kuat dan memiliki kekuasaan dengan tujuan ingin menyakiti orang-orang yang dianggap lemah. Aspek-aspek Perilaku Bullying Menurut Rigby . alam Saifullah, 2015:. mengemukakan empat aspek perilaku bullying antara lain : Perilaku Bullying Fisik Bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa. Tindakan intimidasi yang bersifat fisik, misalnya menendang, memukul, dan menganiaya orang yang dirasa mudah dikalahkan dan lemah secara fisik. Perilaku Bullying Verbal Penindasan yang paling umum digunakan baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki, kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang desawa Bullying serta teman sebaya tanpa menggunakan kata-kata, menghina, menggosip, dan memberi nama ejekan pada korban. Selain itu, bullying verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan yang tidak benar. Perilaku Bullying Isyarat Tubuh Suatu bentuk komunikasi non verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu dan mengancam dengan gerakan dan gertakan. Perilaku Bullying Berkelompok [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . Penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, membentuk koalisi dan membujuk orang untuk mengucilkan Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aspekaspek yang mempengaruhi perilaku bullying adalah sebagai berikut : Fisik yaitu menendang, memukul, dan menganiaya orang yang dirasa mudah dikalahkan dan lemah secara fisik, . Verbal yaitu menghina, menggosip, dan memberi nama ejekan pada korban, . Isyarat tubuh yaitu mengancam dengan gerakan dan gertakkan, . Berkelompok yaitu membentuk koalisi dan membujuk orang untuk mengucilkan seseorang. Faktor-faktor Perilaku Bullying Menurut Sugiharto . alam Nasir, 2018:73-. mengemukan tiga faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku bullying yaitu : Hubungan Keluarga Karakteristik faktor latar belakang dari keluarga yang memengaruhi perilaku bullying pada individu, yaitu sebagai berikut : Lingkungan emosional yang beku dan kaku dengan tidak adanya saling memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang hangat, pola asuh yang permissive dengan pola asuh serba membolehkan, sedikit sekali memberikan aturan, membatasi untuk perilaku, struktur keluarga yang kecil. pengasingan keluarga dari masyarakat, kurangnya keterlibatan keluarga dalam aktivitas bermasyarakat, konflik yang terjadi antara orangtua, dan ketidakharmonisan dalam keluarga, penggunaan disiplin, orangtua gagal untuk menghukum atau malah penghargaan, pola asuh orang tua yang otoriter dengan menggunakan kontrol dan hukuman sebagai bentuk disiplin yang tinggi, orang tua mencoba untuk membuat rumah tangga dengan aturan yang standard [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] an kaku. Teman Sebaya Pada usia remaja, anak lebih banyak menghabiskan waktunya diluar Pada masanya remaja memiliki keinginan untuk tidak lagi terlalu bergantung pada keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok sebayanya, oleh karena itu salah satu faktor yang sangat besar dari perilaku bullying pada remaja disebabkan oleh teman sebaya yang memberikan pengaruh negatif dengan cara memberikan ide baik secara aktif maupun pasif bahwa bullying tidak akan berdampak apa-apa dan merupakan suatu hal yang wajar dilakukan. Pencarian identitas diri remaja dapat melalui penggabungan diri dalam kelompok teman sebaya atau kelompok yang diidolakannya. Pengaruh Media Program televisi yang tidak mendidik akan meninggalkan jejeak pada benak pemirsanya. Akan lebih berbahaya lagi jika tayangan yang mengandung unsur kekerasan ditonton anak-anak pra sekolah perilaku agresi yang dilakukan anak usia remaja sangat berhubungan dengan kebiasaannya dalam menonton tayangan di televisi. Alasan perilaku bullying di sekolah saat ini semakin meluas salah satunya pengalaman mereka kepada pihak yang mempunyai kekuatan untuk megubah cara berfikir mereka dan menghentikan siklus perilaku bullying, yaitu pihak sekolah dan orang tua. Layanan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Behavior Pengertian Layanan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Behavior Menurut Prayitno . alam Nasution, 2021:. layanan konseling kelompok merupakan upaya untuk membantu kelompok siswa agar memanfaatkan dinamika kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . pengembangan individu, pencegahan, dan pengentasan masalah. Menurut Suherman . alam Andiani, 2021:. layanan konseling kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu melalui suasana kelompok yang memungkinkan individu dapat mengembangkan wawasan dan pemahaman tentang suatu permasalahan tertentu, mengeksplorasi dan menentukan alternatif terbaik untuk memecakan masalah dalam upaya pengembangan Menurut Arifin . alam Jabbar, 2019:. layanan konseling kelompok merupakan kegiatan yang diselengarakan dalam kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok yang terjadi didalam sebuah kelompok tertentu. Tujuan Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Behavior Menurut Prayitno . alam Jabbar, 2019:. konseling kelompok adalah berkembangannya kemampuan sosialisasi peserta didik, khususnya dalam kemampuan komunikasi, melalui layanan konseling kelompok hal-hal yang dapat menghambat kemampuan sosialisasi dan komunikasi peserta didik dapat diungkap berkembang secara optimal. Menurut Thoresen . alam Sudyana, 2020:. menyatakan tujuan konseling behavior adalah membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu dalam penekanan istilah belajar dalam mengubah perilaku. Menurut Palmer . alam Yaudiatama, 2019:. pendekatan behavior bertujuan untuk mengubah perilaku manusia yang bisa diamati dan bisa diukur. Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior adalah membantu konseli berani berbicara kepada banyak orang dalam dinamika kelompok yang dirapkan dapat mengentaskan permasalahan- [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . mengubah perilaku yang lebih sesuai. Dan dalam penelitian ini konseling kelompok bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terkait dengan perilaku bullying agar dapat mengurangi perilaku bullying terjadi di sekolah. Tahap-tahap Layanan Konseling Kelompok dengan Pendekatan Behavior Menurut Prayitno . alam Edi Kurnanto, 2013:136-. mengungkapkan bahwa tahap-tahap layanan konseling kelompok, antara lain : Tahap Pembentukan Dalam konseling kelompok, tahap pembentukan kelompok merupakan tahap awal yang sangat berpengaruh dalam proses konseling selanjutnya. Karena tahap ini mempunyai pengaruh besar terhadap keberlangsungan proses konseling, maka sebelum pembentukan kelompok dilakukan ada bebrapa persiapan yang harus dilakukan oleh seorang konselor. Tahap Peralihan Tahap peralihan merupakan jembatan antara tahap pertama dengan tahap ketiga. Adapun tujuan dari tahap peralihan adalah terbebaskan anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu, atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya, menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap berikutnya, meningkatkan keikutsertaan . Tahap Kegiatan Dalam konseling kelompok, tahap pertama dan kedua pada dasarnya adalah tahap penyiapan agar semua anggota kelompok telah siap untuk melakukan proses konseling kelompok yang [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . Konselor menyiapkan kondisi psikologis konseli untuk dapat memasuki sesi konseling kelompok dengan penuh . Tahap Penutupan Tahap penutupan merupakan penilaian dan tindak lanjut, adanya kesan-kesan pelaksanaan kegiatan, terungkap hasil kegiatan kelompok yang telah dicapai yang dikemukakan sceara mendalam dan tuntas, terumuskan rencana kegiatan lebih lanjut, tetap dirasakan hubungan kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMP N 1 Demak yang beralamat di Jalan Sultan Trenggono No. 79 Desa Katonsari. Kecamatan Demak. Kabupaten Demak. Provinsi Jawa Tengah. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang mejadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2016: . Variabel bebas atau X dalam penelitian ini adalah layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat atau variabel Y dalam penelitia ini adalah perilaku Pemberian layanan konseling kelompok dalam penelitian ini dengan menggunkan teknik behavior sebagai variabel dependen . diberikan kepada siswa kelas Vi SMP N 1 Demak untuk meminimalisir terjadinya perilaku bulliying. Jenis penelitian ini adalah Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-Eksperimen design dengan desain penelitian one group pretest Populasi penelitian ini adalah Populasi penelitian berjumlah 313 siswa. Sampel yang diambil kelas Vi B yang berjumlah 32 siswa [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] dengan teknik purposive sampling. Dalam penelitian untuk mendapat perolehan data sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peneliti, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner . Kuesioner . adalah teknik pengumpulan data yang disusun secara sistematis baik itu berupa pertanyaan atau pernyataan berdasarkan variabel penelitian, untuk mendapatkan data dari subjek penelitian dan diberikan secara langsung ataupun tidak Selanjutnya untuk melakukan pengukuran data secara kuantitatif maka diperlukannya skala pengukuran. Adapun skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Linkert untuk mengukur perilaku bulliying. HASIL PENELITIAN Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dan dianalisis menggunakan bantuan IBM SPSS statistic Base 22. Berdasarkan hasil perhitungan panjang kelas interval diatas adalah 38 maka tabel distribusi frekuensi bergolong dengan kesesuaian pengkategorian pada jawaban skala perilaku bulliying adalah sebagai berikut: Tabel 3. Kategori Interval Interval Kelas Frekuensi Presentase Kategori Rendah Sedang Tinggi Sumber : Hasil Perhitungan Pre Test 2023 Grafik 1 Diagram Batang Pengkategorian Hasil Pre Test [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Sumber : Hasil Perhitungan Pretest 2023 Dari diagram batang diatas dapat diketahui bahwa siswa yang masuk dalam tingkat kategori perilaku bulliying rendah terdapat 39% atau sebanding dengan 121 siswa. Sedangkan untuk tingkat kategori perilaku bulliying tinggi terdapat 61% atau sebanding dengan 192 siswa. Dan untuk siswa yang masuk dalam tingkat kategori tinggi sebanyak 0% atau sama dengan tidak ada yang masuk dalam kategori tersebut. Grafik 2 Diagram Batang Perbandingan Hasil Nilai Pre Test dan Post Test [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Berdasarkan hasil pretest perilaku bulliying dari 10 peserta didik yang dijadikan sebagai kelompok eksperimen diperoleh jumlah rata-rata 82,6. Hasil yang berbeda setelah 10 peserta didik yang diadikan kelompok eksperimen diberikan layanan konseling kelompok teknik behavioral contract diperoleh hasil posttest jumlah rata-rata 63,1. Sehingga dapat diketahui bahwa sebelum dan sesudah pemberian layanan konseling kelompok teknik behavioral contract dari jumlah rata-rata pretest dan posttest mengalami penurunan 19,7. Berdasarkan perhitungan pretest dan posttest bahwa layanan konseling kelompok teknik behavioral contact dapat mengatasi permasalahan perilaku bulliying pada peserta didik kelas Vi SMP Negeri 1 Demak. Maka dari itu dapat dirangkum bahwa terdapat penurunan pada peserta didik yang mengalami perilaku bulliying yang diawal masuk dalam kategori sedang setelah diberikan layanan konseling kelompok teknik behavioral contract menjadi rendah. Tabel 3. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai signifikan yang diperoleh dari hasil perhitungan uji normalitas denagn bantuan IBM SPSS 22. 0 statistic for windows sebesar 0. maka dapat diketahui bahwa sig. 0,000 < 0,05 yang artinya data Data menggunakan uji Wilcoxon. Tabel 3. Hasil Uji Wilcoxon Mean Rank Sum of Ranks Positive Ranks 0b posttest - Negative pre test Ranks Ties Total nilai dari Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,005. Dari dasar keputusan dalam perhitungan uji Wilcoxon maka nilai sig. 0,005 < 0,05 yang artinya bahwa hipotesis yang diajukan AuditerimaAy. Terdapat perbedaan antara hasil perilaku bulliying setelah diberikan perlakuan berupa layanan koneling kelompok teknik behavioral contract pada pretest dan posttest, sehingga dapat dikatakan bahwa ada pengaruh layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior terhadap perilaku bulliying siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Demak. PEMBAHASAN Penelitian ini membahas tentang pengaruh layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior terhadap perilaku bulliying siswa [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] kelas Vi di SMP Negeri 1 Demak. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini maka peneliti melakukan penyebaran instrument penelitian berupa pretest dan posttest. Peneliti memberikan pretest kepada peserta didik untuk mengukur perilaku bulliying awal sebelum diberikan perlakuan berupa layanan konseling kelompok teknik behavioral contract, setelah diberikan perlakuan barulah peneliti memberikan posttest untuk mengukur perilaku bulliying setelah siswa mengikuti perlakuan layanan konseling kelompok teknik behavioral contract. Peneliti menggunakan alat ukur skala psikologis dalam bentuk skala linkert untuk mengukur perilaku bulliying berdasarkan indikator masing-masing. Skala yang digunakan dalam peelitian ini terdiri dari tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Penggunaan kategori tersebut dimaksudakan untuk menghindari pemilihan jawaban yang asal-asalan karena terpaksa memilih jawaban yang artinya peneliti tidak memberikan kesempatan kepada peserta didik memilih jawaban yang netral. Untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini dilakukan analisis deskripsi statistik dan uji hipotesis. Hasil dari penelitian ini peneliti berhasil mengetahui tingkat presntase perilaku bulliying setelah diberikan tes awal atau pretest. Pada kategori rendah peserta yang masuk dalam kategori tersebut terdiri dari 39% atau sama dengan 121 orang, untuk kategori sedang memiliki presentase 61% atau setara dengan 192 orang, dan kategori tinggi sebesar 0% atau tidak ada peserta didik yang masuk dalam kategori tersebut. Berdasarkan hasil dari test statistics dapat dikatahui bahwa nilai dari Sig. sebesar 0,005. Dari dasar keputusan dalam perhitungan uji Wilcoxon maka nilai sig. 0,005 < 0,05 yang artinya bahwa hipotesis yang diajukan Ha AuditerimaAy dan Ho AuditolakAy. Terdapat perbedaan antara hasil perilaku bulliying setelah diberikan perlakuan berupa layanan konseling kelompok teknik behavioral contract pada pretest dan posttest, sehingga dapat dikatakan bahwa ada pengaruh layanan konseling [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . kelompok dengan pendekatan behavior terhadap perilaku bulliying siswa kelas Vi di SMP Negeri 1 Demak. PENUTUP Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan oleh peneliti maka dapat disimpulkan bahwa hasil uji hipotesis perhitungan uij Wilcoxon dapat diketahui bahwa negatif rank atau selisih negatif antara perilaku bulliying setelah diberikan layanan konseling kelompok teknik behavioral contract dari 10 peserta didik yang dijadikan sebagai kelompok eksperimen mengalami penurunan baik dari mean rank . ata-rat. yaitu sebesar 5,50 dan sum of rank . otal ran. sedangkan untuk positif rank 10 peserta didik kelompok eksperimen tidak ada yang mengalami kenaikan baik itu mean rank ataupun sum of ranks. Untuk ties . ilai yang sama persi. sebesar 0 sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada nilai yang sama persis antara pretest dan posttest. Dari hasil perhitungan test statistic diperoleh nilai sig. 0,005 yang dimana sesuai dengan dasar pengambilan keputusan nilai sig. 0,005 < 0,05 maka Ha AuditerimaAy dan Ho AuditolakAy. Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini terjawab bahwa ada pengaruh layanan konseling kelompok dengan pendekatan behavior terhadap perilaku bulliying siswa kelas Vi SMP Negeri 1 Demak. Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan maka peneliti terdapat beberapa saran yang akan diberikan untuk berbagai pihak yang terkait dalam penelitian ini. Bagi peserta didik belajar alangkah lebih baiknya saling menjaga dan saling meguatkan. Guru BK diharapkan bisa memberikan ruang untuk menambah keakraban mulai dari pembuatan pemanggilan dijam istirahat untuk mengantisipasi terjadinya pembuliyan yang bisa jadi guru tidak mengetahui. Bagi Peneliti dan Peneliti Selanjutnya tidak sedikit pengalaman yang didapat oleh peneliti oleh sebab jangan mudah berpuas hati, peneliti harus lebih mendalami untuk [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] . penelitian berikutnya. Hasil peelitian ini bisa diajdikan referensi untuk peneliti selanjutnya dengan teknik yang lebih kreatif dan inovatif. DAFTAR RUJUKAN Andiani,Ana. Konseling Kelompok Behavior untuk Mengurangi Perilaku Bullying Siswa SMP. Jurnal thalaba pendidikan Indonesia. Astuti. Meredam Bullying . Cara Efektif Mengatasi Kekerasan Pada Ana. Jakarta: PT. Grasindo. Departemen Pendidikan Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Jabbar. Afan. Purwanto. Fitriyani. Marjo. , & Hanim. Konseling Kelompok Menggunakan Pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk Meningkatkan Kematangan Karir. Jurnal Selaras: Kajian Bimbingan Dan Konseling Serta Psikologi Pendidikan. Kurnanto. Edi. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta. Maulidinda. Dalimunthe. , & Wibowo. Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Mutual Storytelling Untuk Mereduksi Kecemasan Korban Bullying. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling. Nasir. Amin. Konseling behavioral: Solusi alternatif mengatasi bullying anak di sekolah. Journal of Guidance and Counseling. Nasution. Nani. Barorah. , & Samosir. Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Dengan Teknik Sosiodrama Terhadap Pelaku Bullying Siswa. Indonesian Counseling And Psychology. Permata. Ira. Dampak Bullying Terhadap Perilaku Remaja. Studi Kasus pada Pelajar SMA Negri Palembang. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan. Saifullah. Fitrian. Hubungan antara konsep diri dengan bullying. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi. Sudyana. Satria. , & Winantra. Konseling Behavioral dan Penguatan Positif dalam Meningkakan Perilaku Sosial Peserta Didik. Widyanatya. [VOLUME 1 NOMOR 1. AGUSTUS] Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Yaudiatama. Mulyaningsih. , & Nugroho. Pengaruh Konseling Kelompok dengan Pendekatan Behavior Terhadap Perubahan Perilaku Agresif Siswa. Advice: Jurnal Bimbingan dan Konseling.