Available at: https://stt-su. id/e-journal/index. php/immanuel/index Volume 5. No 2. Oktober 2024 . DOI: https://doi. org/10. 46305/im. e-ISSN 2721-432X p-ISSN 2721-6020 Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat: Analisis 1 Timotius 3:8-13 Iman Kristina Halawa, 2Yos Adoni Sesatonis, 3Daniel Pesah Purwonugroho 1Sekolah Tinggi Teologi Arastamar. Bengkulu, 2Sekolah Tinggi Teologi Arastamar. Mataram, 3Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Karanganyar imankristinahalawasttab1@gmail. Abstract: This paper aims to explore the role of church elders in the spiritual growth of the congregation. The role of church elders is examined through the lens of 1 Timothy 3:8-13. Church elders are believers entrusted with significant responsibilities within a local church. It is essential that church elders exhibit good character and integrity, as their attitudes directly influence the spiritual life of the local church they serve. Church elders must align their lives with the truth of GodAos Word. 1 Timothy 3:8-13 outlines the proper attitudes in the context of church ministry. These attitudes, as described in 1 Timothy 3:8-13, should be adopted and lived out by church When elders embody these attitudes, their ministry will have a positive impact on the spiritual growth of the congregation. Through a qualitative descriptive method, it can be concluded that the attitudes in 1 Timothy 3:8-13 must be possessed and expressed in the lives of church elders. When these attitudes are cultivated and become integral to their character, the congregation will experience significant spiritual growth. Keywords: Spiritual growth. church elders. role of church elders. 1 timothy 3:8-13 Abstrak: Tulisan ini dibuat untuk menjelajahi peran majelis gereja dalam pertumbuhan rohani jemaat. Peran majelis gereja tersebut akan diperhatikan dalam perspektif 1 Timotius 3:8-13. Majelis gereja adalah orang percaya yang memegang pelayanan penting di dalam sebuah gereja lokal. Majelis gereja perlu memiliki sikap yang baik dan berintegritas. Kualitas sikap akan mempengaruhi kehidupan rohani dalam sebuah gereja lokal tempat majelis gereja melayani. Majelis gereja perlu membangun hidupnya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. 1 Timotius 3:8-13 menunjukkan sikap-sikap yang tepat sesuai dengan konteks ayat tersebut dalam membangun sebuah pelayanan gereja. Sikap-sikap dalam 1 Timotius 3:8-13 perlu dimiliki dan dihidup oleh para majelis gereja. Saat para majelis gereja memiliki sikap seperti yang dinyatakan dalam 1 Timotius 3:8-13, maka pelayanan majelis gereja akan memberi dampak kepada pertumbuhan rohani jemaat. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa sikap-sikap dalam 1 Timotus 3:8-13 harus dimiliki dan diekspresikan dalam kehidupan majelis gereja. Saat sikap tersebut terbangun dan menjadi karakter majelis gereja, maka jemaat akan mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan. Kata kunci: Pertumbuhan rohani. majelis gereja. peran majelis gereja. 1 timotius 3:8-13 Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 209 I. Halawa. Sesatonis. Purwonugroho: Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan A Pendahuluan Salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan gereja adalah pertumbuhan rohani jemaat. Dalam konteks ini, majelis gereja memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung dan mengembangkan iman warga jemaat. Majelis gereja adalah komunitas yang bertanggung jawab untuk memperlengkapi dan mendewasakan iman warga jemaat. Majelis gereja di beberapa tempat biasanya terdiri dari Penatua dan Diaken. Penatua dan diaken memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dalam pelayanan di jemaat. Penatua disebut sebanyak kurang lebih 60 kali dalam PB dan disebut presbuteros yang berarti orang yang berumur atau penatua. Alasan penatua diidentikkan dengan usia tersebut, sebab menurut Conner yang dikutip oleh Sapan dan Dominggus dalam tulisannya adalah karena usia tua akan berbanding lurus dengan kebijaksanaan dan pengalaman. 1 Selain itu juga terdapat istilah episkopos yang berarti penilik, pengawas tinggi, ataupun uskup. Penatua juga disebut poimen yang berarti gembala atau pendeta. 2 Kata AupenatuaAy disebutkan Rasul Paulus dalam 1 Petrus 5:1 yang menyebut penatua sebagai salah satu jabatan gerejawi. 3 Namun, selain dari pengertian-pengertian tersebut. Penatua dalam 1 Petrus 5:1-4 sebenarnya memiliki tanggung jawab penggembalaan yang oleh Petrus mencakup beberapa hal yakni pelayanan yang dilakukan secara tidak terpaksa, sukarela, tidak mencari keuntungan pribadi, penuh semangat serta menjadi teladan bagi jemaat yang digembalakan atau yang 4 Diaken berasal dari kata diakonos. Kata ini dapat diartikan sebagai pelayan atau hamba. Kata diaken berbeda dengan penatua meskipun penatua dan diaken merupakan dua jabatan gerejawi. Diaken lebih dikhususkan pada pelayanan orang-orang sakit dan orang-orang yang hidup dalam kekurangan. 5 Berdasarkan penjelasan di atas maka terlihat bahwa majelis gereja merupakan jabatan gerejawi yang terdiri dari penatua dan diaken dengan fungsi dan tugas masing-masing di dalam jemaat dengan tujuan mengangkat pelayanan di tengah-tengah jemaat Allah. Kesatu, penatua dalam Alkitab mencatat dalam 1 Timotius 3:1-7 dan Titus 1:5-9 mengenai syarat-syarat seorang penatua. Penjelasan Timotius dan Titus keduanya memberi penekanan pada sikap hidup seorang penatua yang harus berdasarkan pada firman Allah yakni menjaga kesucian hidup seperti dapat menahan diri, tidak sombong, tidak serakah, dan dapat menjadi teladan bagi sesama. Syarat-syarat penatua ini kemudian diperlengkapi dengan tugas dan tanggung jawabnya dalam jemaat. Penatua memiliki tugas utama memberikan perhatian pada pelayanan firman dan doa. Paulus menyebutkan penatua sebagai seorang yang mengurus jemaat Allah . 1 Tim. Seorang penatua ditugaskan Dominggus S. AuTanggung Jawab Penggembalaan Berdasarkan Perspektif 1 Petrus 5:14,Ay Jurnal Teologi :Amreta, 2020. 2 Leigh R. Melayani Dengan Efektif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 3 Guthrie D. Teologi Perjanjian Baru 3 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 4 S. AuTanggung Jawab Penggembalaan Berdasarkan Perspektif 1 Petrus 5:1-4. Ay 5 Abineno J. Diaken (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 210 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 5. No 2. Oktober 2024 untuk mengatur urusan gereja, bekerja keras dalam kata-kata dan pengajaran, seorang yang harus menasehati menggembalakan dan menjadi teladan dalam jemaat. Kedua. Diaken (Syama. Sama seperti penatua, seorang diaken dalam jemaat juga memiliki tugas dan tanggungjawab dan syarat-syarat untuk menjadi diaken. Syarat menjadi diaken memang hampir sama dengan penatua yang berpusat pada sifat-sifat pribadi seorang diaken. Namun demikian syarat menjadi penatua dan diaken memiliki perbedaan secara khusus dalam fungsinya kemudian dalam jemaat. Diaken tidak dituntut memiliki kecakapan mengajar, sedangkan penatua harus mampu mengajar. Hal ini karena tugas dan tanggung jawab pokok seorang diaken yakni bidang pelayanan umum seperti melayani orang sakit dan pelayanan pada orang-orang yang berkekurangan. Dengan demikian, tugas seorang diaken berbeda dengan tugas penatua yang berfokus pada pelayanan mengajar dan menyampaikan firman Allah dalam jemaat sedangkan diaken hadir dan dipilih untuk tugastugas khusus sesuai dengan kebutuhan jemaat. Diaken memiliki tugas dan tanggung jawab pada pemeliharaan kemurnian ibadah yakni dengan menunjukkan kasih terhadap yang 7 Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa tugas dan tanggung jawab penatua dan diaken sebagai pemangku jabatan gerejawi dalam jemaat berbeda. Namun, perbedaan tugas dan tanggung jawab tersebut saling melengkapi dalam pelayanan di tengah-tengah jemaat Allah. Perbedaan tugas dan tanggung jawab itu adalah penatua sebagai pengajar dalam jemaat, sedangkan diaken memiliki tugas dalam pelayanan kasih kepada jemaat dan sesama. Kedua tugas ini menuntut sifat pribadi baik dari penatua maupun diaken agar dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang dikehendaki Allah di dalam Yesus Kristus sebagai teladan pelayanan. Banyak majelis gereja hanya melihat tugas mereka sebagai memimpin ibadah dan berdoa, sedangkan penggembalaan jemaat adalah tanggung jawab pendeta. Akibatnya, banyak dari mereka tidak terlibat dan tidak aktif dalam membimbing anggota jemaat secara menyeluruh. Salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh seorang hamba Tuhan adalah sikap yang sesuai dengan firman Tuhan. Ketika seorang hamba Tuhan melakukan tugasnya, dia bertanggung jawab terhadap Tuhan yang telah mempercayakan mereka untuk 8 Jika seorang hamba Tuhan melakukan apa yang dia lakukan tetapi tidak memiliki integritas dalam dirinya, maka apa yang dia lakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan. Integritas dianggap sebagai karakteristik penting dari kehidupan yang dalam Perjanjian Lama, kata AuintegritasAy berarti "kesehatan karakter dan kepatuhan terhadap prinsip moral", yang berarti mereka adalah orang yang memiliki ketulusan dan kejujuran (Kej. Orang-orang dengan moralitas akan dilindungi oleh Tuhan (Ams. dan aman . :21. 10:9. 20:7. Sebagai seorang pemimpin jemaat. Timotius harus memberikan keteladanan dalam hal kasih. Kata yang digunakan yaitu. AA . gapeE), . Melayani Dengan Efektif. Diaken. 8 Yonatan Alex Arifianto. AuPeran Kepemimpinan Misi Paulus Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Misi Masa Kini,Ay Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3. 4, no. https://doi. org/10. 54345/jta. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 211 I. Halawa. Sesatonis. Purwonugroho: Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan A berarti love, that is, affectionor benevolence. a lovefeast:-. east o. charity (-abl. , dear, love berasal dari kata AAO . gapaoE). Dalam arah present kata AAO . gapaoE) Authe characteristic word of Christianity, and since the Spirit of revelation has used it to express ideas previously unknown, enquiry into its use. Ay Penggunaan kata AA . dan agapao dalam Perjanjian Baru selain merupakan sifat Allah. 9 Pendeta bertindak sebagai guru yang bertanggung jawab untuk mengubah jemaat menjadi komunitas orang yang Pendeta adalah seorang pengajar khusus, mengajar secara langsung di kelas katekesasi, mengajar teologi untuk warga jemaat, dan berkhotbah di mimbar Gereja. Oleh karena itu, tanggung jawab seorang gembala sidang terkait dengan pengajaran Firman Tuhan yang diajarkan kepada jemaat. 10 Pendidikan agama Kristen dapat dilakukan di luar gereja jika sudah melalui proses yang baik dan benar dari pendidikan dan pengajaran yang diberikan dalam gereja setempat oleh gembala sidang. 11 Dalam Alkitab. Allah mencari seorang pemimpin yang berkenan di hadapannya. Gereja terus mencari pemimpin yang sesuai dengan harapan gereja sejak lama. Ini dilakukan agar para pemimpin ini mampu menghadapi tantangan dunia yang semakin berkembang saat ini. AuTetapi TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN " . Sam 13:. Ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa Allah mencari dan memilih seorang pemimpin yang sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan menolak Saul sebagai raja dan memilih Daud untuk menggantikan Saul, karena Daud seorang yang berkenan di hati Allah. Mengapa Allah menolak Saul dan memilih Daud. Donald Stamps Daud adalah orang yang berkenan di hati Allah, dalam hal-hal berikut . sudah percaya kepada Allah sejak masih muda . :34,. , . dengan tekun dan tetap ia mencari wajah dan nasehat Allah dengan sikap ketergantungan seorang anak . :2,4, 30:8, 2 Sam 2:1, 5:19,. ia menyembah Allah dengan segenap jiwa raganya dan menyuruh seluruh Israel melakukan hal yang sama . Taw 15-. , . dengan rendah hati diakuinya bahwa Allah adalah Raja Israel yang sesungguhnya dan bahwa dirinya hanyalah wakil Allah . Sam 5:. dalam sebagian besar kelakuannya di hadapan umum ia mentaati Tuhan dan melaksanakan kehendakNya (Kis 13:. Jabatan penilik jemaat tersebut harus mengembangkan karakter Kristus dan memenuhi syarat sebagai pemimpin. Paulus mecatatat 16 . nam bela. karakteristik bagi seorang yang menjabat penilik gereja, antara lain: tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak tamak akan Josina Mariana Riruma. AuINTEGRITAS HAMBA TUHAN MENURUT 1 TIMOTIUS 4:1116,Ay Missio Ecclesiae 6, no. 1 (April 2. : 56Ae96, https://doi. org/10. 52157/me. 10 Yonatan Alex Arifianto. AuPentingnya Pendidikan Kristen Dalam Membangun Kerohanian Keluarga Di Masa Pandemi Covid-19,Ay REGULA FIDEI: Jurnal Pendidikan Agama Kristen 5, no. : 94Ae106. 11 Malik Darius Bambangan. AuGembala Sidang Sebagai Pengajar Dalam Timotius Dan Titus,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 1, no. 1 (July 2. : 18Ae36, https://doi. org/10. 47457/phr. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 212 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 5. No 2. Oktober 2024 uang, peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, bukan seorang yang baru bertobat dan mempunyai nama baik di luar jemaat. Menurut Ronald W. Leigh, syarat utama yang harus dipenuhi oleh para pelayan Kristen adalah: pertama, ia harus benar-benar orang Kristen yang bertumbuh secara rohani. Kedua, harus menguasai ajaran-ajaran Alkitab dengan baik atau dengan kata lain memiliki pemahaman yang cukup mengenai pengenalan akan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. dan ketiga, ia harus memiliki kemampuan untuk hidup sesuai dengan apa yang diketahuinya dan konsisten di dalam memberikan teladan kepada orang lain di dalam kehidupan Kristen yang muncul dari penerapan akan ajaran-ajaran Alkitab di dalam kuasa Roh Kudus. Dengan demikian, seorang pemimpin Kristen haruslah seorang yang memiliki kriteria-kriteria yang dapat dipertanggung jawabkan, khususnya dalam hal sifat, sikap, dan empati yang harus dimiliki sehingga mampu memahami, dan berani bersikap sebagai seorang hamba bagi orang lain yang senantiasa mencari cara untuk melayani. 12 Tak bercacat . nepilhmpton = anepileEmpto. yang juga muncul dalam Perjanjian Baru, 1 Tim 5:7, 6:14 yang berarti Auyang tidak perlu dicelaAy atau Autidak mempunyai kekurangan-kekurangan . erutama di bidang eti. yang menjadikan dia mudah dikritik. Ay Sedangkan tak bercacatAy secara harfiah, ungkapan itu berarti Autidak ada apa yang harus diperbaikiAy yaitu seharusnya dalam kehidupannya sama sekali tidak ada yang dapat digunakan oleh Iblis atau oleh orang yang belum diselamatkan untuk mengkritik atau menyerang jemaat. Memang tidak ada seorangpun manusia yang dapat hidup tanpa dosa, tetapi kita harus berusaha keras untuk hidup tak bercacat. Kewibawaan adalah syarat bagi seorang gembala yang baik untuk memimpin jemaatnya dengan baik. Ketika seorang gembala memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka memiliki kekuatan. Ketika gembala sidang memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan jemaat mereka, itu sangat bermanfaat bagi pertumbuhan gereja. Sementara jemaat mengikut dan menunggu arahan dari gembalanya, gembala berperan sebagai penggerak utama pertumbuhan. Konsep pertumbuhan gereja didasarkan pada Alkitab. Seperti halnya kerajaan Allah diumpamakan biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon yang besar ( Mat. 13: 31-. Gereja juga harus bertumbuh ( Ef 4:. Pertumbuhan itu adalah sesuatu yang harus disengaja, artinya pertumbuhan itu tidak akan terjadi jika tidak ada keinginan dari seseorang yang membuat dirinya bertumbuh. Pertumbuhan rohani adalah sebuah proses dan bukan sebuah hal yang instan. 13 Secara teologis, pertumbuhan jemaat mencakup semua komponen dari sebuah gereja atau jemaat yang bertumbuh menurut Wagner. Ia juga mengatakan bahwa gereja yang bertumbuh berkenaan dengan membawa orang-orang yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan kedalam sebuah persekutuan dengan membawa mereka menjadi anggota gereja yang bertanggung Rudi Sudiyanto Roy Pieter and Yehezkiel Kiuk. Karakteristik Pekerja Kristen, 2022. Yohanes Kurniawan and Andreas E. Nugroho. AuKUALITAS ROHANI MENURUT ROMA 12:11 DAN IBADAH DARING DENGAN PERTUMBUHAN IMAN,Ay The Way Jurnal Teologi Dan Kependidikan 9, no. 1 (April 2. : 67Ae80, https://doi. org/10. 54793/teologi-dan-kependidikan. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 213 I. Halawa. Sesatonis. Purwonugroho: Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan A 14 Pertumbuhan rohani adalah perkembangan kehidupan rohani orang percaya secara berkelanjutan dan meningkat kearah yang benar serta berkualitas, yang dapat dinilai dari karakter hidup. Hal ini ditegaskan Susanto yang mengatakan bahwa pertumbuhan rohani orang percaya merupakan suatu proses yang aktif, dinamis, berkembang sehingga mencapai kesempurnaan Kristus. Majelis gereja memiliki peran yang penting di dalam sebuah gereja lokal. Peran pelayanan majelis gereja haruslah berdampak kepada para jemaat dalam sebuah gereja Majelis gereja perlu membangun kehidupannya dengan sikap-sikap yang benar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. 1 Timotius 3:8-13 adalah hal yang penting untuk diamalkan dan dipegang teguh oleh para majelis gereja agar pelayanan yang dilakukan penuh dengan integritas. Penulis melihat bahwa sikap-sikap di dalam 1 Timotius 3:8-13 perlu dimiliki oleh para majelis gereja agar berdampak bagi pertumbuhan rohani jemaat. Penulis menunjukkan bahwa mengingat masalah ini serta penelitian tentang pertumbuhan gereja,15 serta deskripsi tentang peran majelis,16 masih ada celah yang dapat dieksplorasi lebih lanjut. Penulis menegaskan bahwa sikap-sikap luhur di dalam 1 Timotius 3:8-13 perlu dimiliki oleh para majelis gereja agar jemaat yang dilayani mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan. II. Metode Penelitian Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif di dalam tulisan ini. Penelitian ini akan menerapkan metodologi kualitatif deskriptif. 17 Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian dengan cara tertentu. Penelitian kualitatif dikerjakan dengan model penelitian yang memiliki tujuan menyatakan fenomena secara total dan kontekstual melalui koleksi data kualitatif. 18 Ada data-data kualitatif yang penulis kumpulkan di dalan tulisan ini dengan metode studi pustaka. Darmalaksa menyatakan bahwa studi pustaka adalah metode pengumpulan dokumen kepustakaan dengan data utama dan non-utama yang diperlukan. Senada dengan Darmalaksa. Moloeng menegaskan bahwa studi pustaka mengkoleksi informasi kualitatif dari literatur akademik, seperti buku, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, atau Johny Sumarauw and Made Astika. AuAnalisis Pendayagunaan Karunia-Karunia Roh Terhadap Pertumbuhan Jemaat Gereja Pantekosta Di Indonesia El-Shaddai Makassar,Ay Jurnal Jaffray 13, no. 1 (March 2. : 55, https://doi. org/10. 25278/jj71. David Susilo Pranoto. AuGEORGE WILHELM FRIEDRICH HEGEL: MORALITAS DAN STRUKTUR SOSIAL,Ay Manna Rafflesia, 1970, https://doi. org/10. 38091/man_raf. 15 C. Ginting. AuPengembalaan Berdasarkan 1 Timotius Dan Aplikasi Terhadap Pertumbuhan Rohani Jemaat,Ay PNEUSTOS: Jurnal Teologi Pantekosta 1, no. : 78Ae89, javascript:void. 16 Apriliani Mada. AuPeran Majelis Jemaat Sebagai Pendamping Pendeta Di Jemaat Betania Sinampangnyo,Ay YONG DEI: JURNAL MAHASISWA STT STARAoS LUB 1, no. : 10Ae21. 17 Sugiono. AuMetode Penelitian Metode Penelitian,Ay Metode Penelitian Kualitatif, no. 200, http://repository. id/30547/5/BAB i. 18 Muhammad Rijal Fadli. AuMemahami Desain Metode Penelitian Kualitatif,Ay Humanika 21, 1 . : 33Ae54, https://doi. org/10. 21831/hum. 19 Wahyudin Darmalaksana. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka Dan Studi Lapangan,Ay Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020, 1Ae6. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 214 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 5. No 2. Oktober 2024 20 Penulis menggunakan Alkitab sebagai sumber primer. Penulis menjelaskan peran majelis gereja pada umumnya. Penulis juga memaparkan secara rinci tentang konsep pertumbuhan rohani jemaat dalam konteks teologis. Penulis melakukan eksposisi 1 Timotius 8:1-13 untuk menemukan faktor-faktor penting yang harus dimiliki oleh para majelis gereja agar terciptanya pertumbuhan rohani dalam kehidupan jemaat. Penulis menggabungkan semua temuan data-data kualitatif tersebut lalu menggabungkannya agar yang harus dimiliki oleh majelis gereja sesuai dengan 1 Timotius 3:8-13 dalam rangka meningkatkan pertumbuhan rohani jemaat. Hasil dan Pembahasan Analisis 1 Timotius 3:8-13 Majelis gereja harus mampu menjaga rahasia iman, tidak serakah atau mencari keuntungan pribadi, dan benar-benar bergantung pada Tuhan Yesus Kristus sebagai pemimpin atau pelayan. Majelis gereja harus berfungsi sebagaimana mestinya sesuai degan kebenaran Alkitab Firman Allah. Saat majelis gereja berfungsi sesuai dengan kebenaran Firman Allah, maka jemaat akan melihat kehidupan keteladanan dari majelis gereja. Keteladanan kehidupan majelis gereja tersebut dapat membuat jemaat mengalami pertumbuhan rohani. Kebenaran Firman Allah perlu menjadi dasar bagi majelis gereja untuk membangun kehidupannya sesuai dengan Firman Allah. 1 Timotius 3:8-13 menjelaskan kualitas kehidupan yang harus dihasilkan oleh majelis gereja. Pemahaman konteks sejarah dan budaya dalam surat Timotius diperlukan agar esensi kebenaran dapat ditarik menjadi sebuah parameter bagi majelis dalam rangka membangun kehidupan kerohanian jemaat Surat Timotius adalah surat yang Paulus kirimkan kepada Timotius. Collins menjelaskan bahwa Dalam kanon Perjanjian Baru, surat-surat kepada Timotius muncul setelah suratsurat Paulus kepada tujuh gereja dan sebelum surat kepada Filemon. Thomas Aquinas, teolog Dominikan abad ketiga belas, menggambarkan Surat Pertama kepada Timotius sebagai "secara virtual merupakan aturan pastoral. 21 Ada aturan aturan pastoral yang Paulus sampaikan kepada Timotius untuk dicermati. Aturan-aturan tersebut membantu Timotius yang adalah murid setia Paulus untuk mengelola pelayanan pastoralnya. Arthur. Lawson dan Vereen menegaskan bahwa Timotius, murid setia Paulus, sedang menggembalakan di gereja yang strategis dan penting. Surat Paulus kepada Timotius akan menjadi warisan bagi gereja, yang menentukan baik doktrin yang benar . maupun disiplin yang baik . erilaku yang bena. 22 Surat Paulus kepada Timotius mengandung unsur doktrin yang benar serta bagaimana membangun perilaku dan disiplin yang baik. Tujuan surat Paulus kepada Timotius agar pelayanan pastoral terbangun dari kehidupan para pelayan dimana kehidupan para pelayan termasuk majelis dibangun di atas dasar kebenaran Firman Tuhan. Maka dari itu, konteks sejarah dan budaya dalam surat Timotius adalah sebuah arahan pastoral yang mengandung doktrin yang benar, disiplin serta perilaku hidup yang harus diterapkan kepada gereja masa kini termasuk kepada para majelis gereja. Lexy J Moloeng. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. Raymond F Collins, 1 & 2 Timothy and Titus: A Commentary (Louisville. Kentucky: Presbyterian Publishing Corp, 2. , 1. 22 Kay Arthur. David Lawson, and Bob Vereen, 1 & 2 Timothy/Titus - Walking in Power. Love and Discipline (Eugene. Oregon: Harvest House Publisher, 2. , 29. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 215 I. Halawa. Sesatonis. Purwonugroho: Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan A 1 Timotius 3:8-13 adalah dasar Alkitab untuk membangun kehidupan para majelis. Kehidupan majelis dibangun atas dasar kebenaran 1 Timotius 3:8-13 agar jemaat mengalami pertumbuhan rohani. Dalam konteks 1 Timotius 8:8-13. Paulus menegaskan kepada Timotius beberapa kualifikasi sifat yang harus dimiliki oleh seorang presbiter. Ryken menjelaskan bahwa kualifikasi presbiter adalah tidak bersilat kata, tidak memiliki kebiasaan mabuk, tidak rakus dan serakah dan kualifikasi sifat tersebut dibutuhkan untuk membangun jemaat. 23 Seorang presbiter harus tidak bersilat kata dimana ucapan yang presbiter sampaikan harus sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan. Seorang presbiter juga tidak boleh dikuasai alkohol yang menyebabkan mabuk. Kebiasaan mabuk adalah hal yang dilarang untuk mejadi seorang presbiter. Seorang presbiter juga tidak boleh serakah di dalam pelayanannya. Seorang presbiter harus tidak memiliki rasa cinta akan uang dan dikuasai oleh uang. Paulus sendiri menegaskan bahwa cinta akan uang mendatangkan kejahatan . Tim 6:. Seorang presbiter juga perlu membangun imannya dengan benar dan memegang teguh doktrin keselamatan. Manser menyatakan bahwa doktrin keselamatan tidak ada hubungannya dengan kehidupan baik, doa, persembahan, dll, tetapi bahwa itu bergantung pada Allah yang telah mengkaruniakan PutraNya demi penebusan dosa. 24 Iman di dalam Yesus Kristus sesuai dengan doktrin keselamatan alkitabiah harus dimiliki oleh Seorang presbiter juga perlu memiliki istri yang mendukung kegiatan presbiter. Durken menegaskan bahwa seorang presbiter perlu memiliki istri yang berkontribusi pada tata tertib yang baik di dalam komunitas dan juga memiliki reputasi yang baik. 25 Semua kualifikasi sifat tersebut harus dimiliki oleh seorang presbiter di dalam sebuah komunitas Seorang presbiter juga memiliki peranan penting di dalam komunitas rohani. Stott menjelaskan bahwa pada zaman Perjanjian Baru hampir pasti bahwa episkopos ('pengawas', 'uskup') dan presbyteros ('presbiter',) adalah dua gelar untuk jabatan yang sama. 26 Jabatan presbiter adalah jabatan penting di dalam komunitas rohani. Jabatan tersebut perlu memiliki kualifikasi sifat-sifat yang baik dan unggul untuk dapat memberikan pengaruh positif kepada setiap anggota komunitas rohani. Penulis menyimpulkan bahwa presbiter adalah jabatan pelayanan yang penting di dalam sebuah komunitas rohani dimana diperlukan kualifikasi-kualifikasi sifat unggulan untuk menjadi seorang presbiter. Kualitas presbiter ditentukan oleh Paulus kepada Timotius di dalam 1 Timotius 3:813. Kualitas presbiter yang Paulus tentukan kepada Timotius berfungsi untuk menolong jemaat yang Timotius pimpin pada saat itu. Kualitas sikap yang Paulus tetapkan di dalam 1 Timotius 3:8-13 dapat diterapkan untuk membangun majelis-majelis yang melayani di sebuah gereja lokal. Kualitas ini sangat amat penting karena bersinggungan secara langsung kepada jemaat. Anders menyatakan bahwa Paulus menggambarkan kualitas seorang pelayan, mereka yang melayani orang-orang atas nama Kristus dan gereja. Paulus melakukan ini agar gereja tahu bagaimana memilih untuk jabatan ini pria dan wanita yang melayani dengan baik dan menyenangkan Allah. 27 Majelis perlu memiliki kualitas Philip Graham Ryken, 1 Timothy (New Jersey: P&R Publishing Company, 2. Matrin Manser. The Open Your Bible Commentary: The New Testament Page by Page (Bath. Uk: Creative 4 International, 2. , 2045. 25 Daniel Durken. The New Collegeville Bible Commentary: New Testament (Minnesota: Liturgical Press, 2. , 1102. 26 John Stott. TheMessage of 1 Timothy and Titus (Leicester: InterVarsity Press, 2. , 166. 27 Max Anders. I&II Thessalonians I&II Timothy Titus Philemon (Nashville. Tennessee: Broadman & Holman Publisher, 2. , 267. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 216 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 5. No 2. Oktober 2024 pelayanan sama seperti apa yang Paulus deskripsikan di dalam 1 Timotius 3:8-13. Kualitas tersebut berfungsi untuk melayani jemaat Allah. Kualitas sifat tersebut adalah kualitas yang menyenangkan Allah saat para majelis dalam sebuah gereja lokal membangun hidup agar memiliki klasifikasi tersebut. Kostenberger menjelaskan bahwa ada persyaratan yang harus dimiliki orang pelayan / diaken dalam jabatan formal di sebuah gereja. 28 Klasifikasi sifat ini haruslah menjadi klasifikasi wajib untuk dimiliki oleh para majelis dalam sebuah gereja Oleh karena itu, kualitas seorang majelis haruslah memiliki sikap seperti yang dinyatakan dalam 1 Timotius 3:8-13 dan sikap tersebut haruslah menjadi standard dalam menentukan pengangkatan majelis dalam sebuah gereja lokal. Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan Jemaat Pelayanan majelis gereja adalah pelayanan yang terdapat di dalam sebuah gereja Majelis gereja berperan langsung dengan jemaat gereja. Majelis gereja juga memiliki fungsi yang harus diemban oleh majelis gereja tersebut. Peran majelis gereja harus dilandaskan pada kebenaran Alkitab Firman Allah. 1 Timotius 3:8-13 menjadi dasar majelis gereja memfungsikan dirinya. Hughes dan Chapell menegaskan bahwa fungsi majelis gereja menurut 1 Timotius 3:8-13 adalah untuk untuk melayani dan harus memegang teguh misteri iman "dengan hati nurani yang jelas dan murni. " Artinya, apa yang ia pahami tidak hanya menjadi pengetahuan di hidupnya, tetapi ia juga harus hidup sesuai dengan itu "dengan hati nurani yang jelas. " Iman seseorang dalam kondisi baik ketika hati nuraninya tidak mengecam cara ia hidup. 29 Majelis gereja perlu memiliki fungsi yang jelas yang terekspresi di dalam cara majelis gereja hidup. Keteguhan iman adalah hal yang harus dipegang teguh oleh majelis gereja. Cara hidup majelis gereja harus bersumber dari hati nurani yang jelas dan murni. Hati nurani yang jelas dan murni akan nampak dalam keseharian kehidupan majelis gereja. Kehidupan majelis gereja yang bersumberkan hati nurani yang jelas dan murni akan memberikan dampak positif kepada jemaat yang diayomi oleh para majelis Fungsi hati nurani yang murni dan jelas ini juga harus nyata terlihat di dalam pelayanan-pelayanan yang majelis gereja lakukan. Hendriksen dan Kistemaker menegaskan bahwa para majelis dipilih untuk mengurus gereja, melayani sakramen, memimpin jemaat dalam doa. 30 Pelayanan yang dilakukan oleh para majelis haruslah pelayanan yang berintegritas dan muncul dari kehidupan yang sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Majelis perlu membangun kehidupannya dengan iman yang teguh agar pelayanan yang dilakukan para majelis tidak dikecam. Oleh karena itu, fungsi majelis adalah melayani dalam gereja lokal yaitu mengurus sakramen, memimpin jemaat dalam doa dan pelayanan tersebut haruslah muncul dari hati nurani yang jelas dan murni. Majelis dalam sebuah gereja lokal perlu membangun kehidupan yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Kehidupan yang dibangun sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan akan membawa para majelis memiliki hati nurani yang jelas dan murni. Hati nurani yang jelas dan murni membuat pelayanan yang dilakukan oleh para majelis menjadi berdampak kepada jemaat dalam sebuah gereja lokal. Ada sebuah hubungan yang kuat antara kualitas majelis dan pertumbuhan rohani jemaat. Pandie menegaskan bahwa Andreas J Kostenberger, 1-2 Timothy & Titus (Nashville. Tennessee: B&H Publishing Group, 2. , 162. 29 R Kent Hughes and Brian Chapell, 1 - 2 Timothy and Titus (Illinois 60187: Crossway, 2. 30 William Hendriksen and Simon J Kistemaker. Thessalonians, the Pastorals, and Hebrews (Grand Rapids. Michigan: Baker Books, 2. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 217 I. Halawa. Sesatonis. Purwonugroho: Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan A kepemimpinan yang kuat akan meningkatkan jumlah jemaat, yang berarti lebih banyak orang yang diselamatkan, dan kualitas jemaat, yang berarti lebih banyak pertumbuhan 31 Saat para majelis memiliki nilai kepemimpinan yang kuat, maka nilai kepemimpinan tersebut akan membawa dampak secara langusng kepada jemaat. Pertumbuhan jemaat dapat meningkat secara kualitas dimana para majelis dapat juga memberikan pesan penginjilan sehingga banyak orang yang diselamatkan. Selain pertumbuhan jemaat, kepemimpinan yang kuat yang dimiliki oleh majelis dapat berpengaruh kepada pertumbuhan rohani jemaat. Jemaat akan terpacu untuk memiliki kesungguhan hati dalam hal kerohanian saat melihat para majelis memiliki kehidupan rohani yang bertumbuh dengan benar. Pertumbuhan gereja yang melibatkan para pelayan seperti majelis sudah dinyatakan di dalam Alkitab. Manangsang menyatakan bahwa salah satu rahasia pertumbuhan gereja secara kuantitas dan kualitas yang dinyatakan dalam Alkitab adalah bahwa Allah melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya melalui para pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan dan kepemimpinan yang visioner dari Allah. 32 Allah bertindak melalui para pemimpin di dalam sebuah gereja lokal. Allah juga bertindak melalui para majelis dalam sebuah gereja lokal. Allah bekerja melalui karakter kepemimpinan yang majelis miliki. Majelis gereja perlu membangun kehidupan yang berkarakter dan membangun kepemimpinan yang visioner dari Allah. Saat karakter kepemimpinan yang visioner terbangun, maka pertumbuhan gereja dapat terjadi. Penulis menyimpulkan bahwa ada hubungan antara kepemimpinan majelis dan pertumbuhan jemaat dimana saat para majelis gereja memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, maka pertumbuhan dalam hal kualitas dan kuantitas akan terjadi dalam sebuah gereja lokal. Karakter kepemimpinan adalah karakter yang perlu dimiliki oleh para majelis gereja. Karakter kepemimpinan yang dimiliki majelis gereja dapat berpengaruh kepada pertumbuhan rohani jemaat. Karakter kepemimpinan majelis gereja juga dapat mempengaruhi kuantitas jemaat lokal. Karakter kepemimpinan majelis harus dibangun atas dasar visi dari Allah. Karakter kepemimpinan majelis ini diperlukan oleh para jemaat termasuk di era teknologi ini. Purwonugroho menyatakan bahwa pemimpin harus membangun semangat jemaat agar dapat bertahan dan tidak tergerus oleh dampak negatif dari kemajuan teknologi. 33 Perkembangan teknologi yang pesat dapat membawa dampak buruk kepada jemaat dalam sebuah gereja lokal. Namun hal ini dapat dicegah oleh karakter kepemimpinan majelis yang kuat dan visioner sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Para majelis dapat mengajarkan cara hidup yang benar sesuai dengan Firman Tuhan di era perkembangan teknologi. Para majelis yang memiliki karakter yang kuat dapat memberikan teladan hidup bagi jemaat untuk dapat menggunakan teknologi sebagaimana mestinya tanpa harus dirusak oleh perkembangan teknologi. Para majelis juga dapat melindungi jemaat gereja lokal dari fenomena pasca kebenaran yang terjadi akibat dari perkembangan pesat teknologi. Martinus. Mbuilima dan Pasaribu menegaskan bahwa di era pasca Daud Alfons Pandie et al. AuReaktualisasi Kepemimpinan Gembala Sidang Bagi Pertumbuhan Jemaat,Ay Jurnal Arrabona 6, no. : 84Ae107, https://doi. org/10. 57058/juar. 32 Rivo Manansang. AuPengaruh Karakter Kepemimpinan Dan Kepemimpinan Visioner Para Gembala Terhadap Pertumbuhan Gereja Pantekosta Di Indonesia Di Kota Jayapura,Ay EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 4, no. : 236Ae50, https://doi. org/10. 33991/epigraphe. 33 Daniel Pesah Purwonugroho. AuPeran Gereja Dalam Membangun Keimanan Gen Y & Z Pada Era Revolusi Industri 4. 0 & Society 5. 0,Ay Ritornera-Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 3, no. : 182Ae92. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 218 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 5. No 2. Oktober 2024 kebenaran, pemimpin harus menanggapi dengan memperlengkapi jemaat mereka dan memastikan bahwa dunia terus melihat kebenaran Allah melalui Gereja-Nya yang sejati. Karakter majelis yang bersumberkan kebenaran Firman Tuhan dapat menjagai para jemaat dalam sebuah gereja lokal akan informasi hoax yang kini menjadi kebenaran. Para majelis dengan kepedulian dan kasih dapat membawa jemaat untuk berpegang kepada kebenaran absolut Firman Allah di tengah era pasca kebenaran ini. Maka dari itu, tantangan dan peluang majelis gereja di era kontemporer ini adalah para majelsi harus membangun semangat jemaat agar terhindar dari dampak buruk perkembangan teknologi dan para majelis dapat membimbing jemaat memegang teguh kebenaran Firman Tuhan di era pasca kebenaran ini. Implikasi Teologis dan Praktis Karakter majelis memegang peranan penting di dalam sebuah gereja lokal. Para majelis dalam sebuah gereja lokal perlu membangun dirinya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. 1 Timotius 3:8-13 memberikan sebuah implikasi teologis dan praktis kepada para majelis. Implikasi teologis dari 1 Timotus 3:8-13 dapat membangun sisi spiritualitas para majelis yang memegang pelayanan penting dalam sebuah gereja lokal. Gutrhie menjelaskan bahwa majelis gereja perlu memiliki kedalaman iman dan memegang doktrin yang kuat tentang Injil. 35 Doktrin yang kuat tentang Injil haruslah dipegang kuat oleh para Doktrin tentang Injil ini harus menjadi prinsip teologis para majelis yang melayani di dalam sebuah gereja lokal. Doktrin Injil yang kuat dapat berpengaruh kepada pelayanan para majelis gereja. Doktrin tentang Injil dapat memberikan sebuah kehidupan spiritual bagi majelis gereja yang berdampak pada kehidupan majelis gereja di tengah-tengah jemaat. Buulolo menegaskan bahwa spiritualitas majelis gereja adalah sebuah bentuk kehidupan rohani serta hubungannya dengan Kristus yang ditunjukkan oleh perilaku, perasaan, dan pandangan hidupnya. 36 Saat para majelis gereja membangun hidupnya sesuai dengan doktrin Injil, maka karakter Kristus dapat terlihat di dalam kehidupan para majelis gereja. Sikap dan tindakan para majelis gereja akan menjadi sikap dan tindakan yang benar sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Doktrin tentang Injil juga dapat memberikan pengaruh positif kepada keteladanan para majelis gereja. Doktrin Injil dapat membangun keteladanan bagi para majelis gereja. Sonda. Belopadang dan Patelangan menegaskan bahwa keteladan yang harus dimiliki adalah sikap saling melayani, yang mencakup rela berkorban, merendahkan hati, dan saling mengasihi, yang berarti bersedia untuk mengampuni kesalahan orang lain dan melayani satu sama lain tanpa mempertimbangkan status sosial. 37 Keteladanan yang kuat oleh para majelis gereja harus dibangun dengan meneladani Yesus Kristus. Keteladanan ini dapat membuat Ayub Abner Martinus. Mbuilima and Ferdinan Pasaribu. AuGereja Di Tengah Pusaran Era Post Truth,Ay SCRIPTA : Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kontekstual 13, no. : 75Ae89. 35 Donald Guthrie. The Pastoral Epistles (Nottingham: Inter-Varsity Press, 2. , 129. 36 Fauduzanolo Buulolo et al. AuSpiritualitas Gembala Sidang Dan Implikasinya Bagi Keteladanan Pembinaan Warga Gereja,Ay CARAKA: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika 2, no. 161Ae74, https://doi. org/10. 46348/car. 37 Adriana Sonda B. Yiska Belopadang, and Laura Patelangan. AuKajian Teologis Makna Pembasuhan Kaki Dalam Ibadah Kamis Putih Dan Sungbangsihnya Bagi Peningkatan Pelayanan Di Gereja Toraja Jemaat Meriba Manggau,Ay Voice of HAMI: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 5, no. : 99Ae110, http://w. id/ojs/index. php/hami/article/view/69. Copyright 2024 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 219 I. Halawa. Sesatonis. Purwonugroho: Peran Majelis Gereja dalam Pertumbuhan A pelayanan yang majelis jalankan memiliki dampak positif secara langsung kepada kehidupan jemaat gereja lokal. Para majelis yang memegang teguh doktrin Injil yang kuat dapat berfungsi secara praktis di dalam kehidupan jemaat gereja lokal. Mounce menjelaskan bahwa selalu ada pula karunia-karunia yang lebih "praktis" seperti administrasi dan pelayanan, karunia-karunia yang memungkinkan orang percaya untuk menangani kebutuhan sehari-hari gereja dalam memenuhi kebutuhan harian jemaat. 38 Saat para majelis membangun kehidupannya sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, maka para majelis akan berfungsi untuk melayani jemaat. Para majelis juga dapat berfungsi untuk menangani kebutuhan-kebutuhan gereja lokal. Para majelis melakukan pelayanan tersebut dengan sukacita dan dengan hati nurani yang murni karena kehidupan pelayanan para majelis gereja dilandaskan dalam kebenaran Firman Tuhan. Maka dari itu, saat para majelis membangun kehidupannya sesuai dengan 1 Timotius 3:8-13, para majelis akan berpegang teguh kepada doktrin tentang Injil yang membuat para majelis memiliki kehidupan spiritual, kedalaman iman serta keteladanan Yesus Kristus untuk melayani jemaat dalam sebuah gereja lokal. IV. Kesimpulan Majelis gereja adalah orang percaya yang memegang sebuah jabatan penatalayanan di dalam sebuah gereja lokal. Majelis gereja di dalam sebuah gereja lokal memiliki peranan yang penting di dalam kehidupan jemaat gereja. Karakter jemaat serta keyakinan warga jemaat dapat dibangun dengan majelis gereja yang memiliki karakter yang kuat. Karakter majelis gereja perlu dibentuk oleh kebenaran Firman Tuhan. 1 Timotius 3:8-13 menjelaskan sikap-sikap apa saja yang dibutuhkan oleh para majelis gereja. Saat para majelis gereja memiliki sikap-sikap yang tertuang di dalam 1 Timotius 3:8-13, maka integritas majelis gereja akan muncul. Integritas majelis gereja membuat jemaat menjadi menghormati fungsi majelis gereja karena kebenaran Firman Allah. Saat majelis gereja memiliki integritas yang benar sesuai dengan 1 Timotius 3:8-13, maka kehidupan rohani jemaat akan terpacu karena adanya keteladanan yang ditularkan melalui sikap dan sifat para majelis gereja. Pelayanan yang dilakukan oleh para majelis gereja akan berdampak dan tidak mengalami cibiran negatif akibat dari terbangunnya sifat karakter majelis gereja yang benar. Oleh karena itu, para majelis gereja perlu membangun karakter kehidupannya sesuai dengan 1 Timotius 3:813 agar memberi dampak signifikan kepada pertumbuhan rohani jemaat. Referensi