Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 8. No 2. Novenber 2024 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: 10. 32696/ajpkm. v%vi%i. INISIASI PROGRAM AuKUPATAy (AKU PAHAM AMANAT GURUKU) SEBAGAI TAWARAN ALTERNATIF PENINGKATAN LEVEL LITERASI INFORMASI PELAJAR Titik Ayu Sri Rahayu1. Faudyan Eka Satria2 Sekolah Dasar Negeri Werungotok 2. Nganjuk. Indonesia Departemen Ilmu Komunikasi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Indonesia *Korespondensi : titikrahayu76@admin. Abstrak Gerakan Literasi Sekolah belakangan menjadi agenda yang marak digalakkan di setiap sekolah di Indonesia. Hal itu untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didk melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat. Namun, pada kasus Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Werungotok Kabupaten Nganjuk, terdapat suatu dorongan yang membuat program gerakan literasi mesti dispesifikkan karena kurangnya pelajar yang tergolong memiliki kemampuan literasi yang mahir. Melalui laporan ilmiah ini, peneliti ingin mempromosikan satu agenda alternatif untuk meningkatkan kemampuan literasi bagi para pelajar, khususnya dalam aspek literasi informasi. Agenda tersebut bernama KUPAT (Aku Paham Amanat Guruk. Dengan mengadaptasi mengadaptasi metode penelitian tindakan kelas, laporan ilmiah ini bermaksud menyajikan data dan analisa soal sejauh apa Program KUPAT dapat meningkatkan kemampun literasi pelajar di SDN 2 Werungotok. Berdasarkan pengamatan terhadap 154 pelajar SDN 2 Werungotok, laporan ini menunjukkan bahwa aktivitas peningkatan aspek menulis dan menyimak pelajar pada Program KUPAT ini berkorelasi positif dengan kemampuan mereka dalam mengolah dan mendalami pesan suatu informasi, khususnya dari amanat-amanat yang diberikan oleh pembina upacara Senin rutin yang mereka ikuti. Kata kunci: Kemampuan menulis. Kemampuan menyimak. Literasi informasi. Abstract The School Literacy Movement has recently become a popular agenda in every school in Indonesia. This is to develop the studentsAo character through acculturating the school literacy ecosystem which is realized in the School Literacy Movement that leads them to become lifelong learners. However, in the case of Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Werungotok in Nganjuk Regency, there is an impetus that makes the literacy movement program must be specific because of the lack of students who are classified as having proficient literacy skills. Through this scientific report, the researcher wants to promote an alternative agenda to improve literacy skills for students, especially in the aspect of information literacy. The agenda is called KUPAT (I Understand My Teacher's Mandat. By adapting the classroom action research method, this paper aims to present data and analysis on how far the KUPAT program can improve the literacy skills of students at SDN 2 Werungotok. Based on observations of 154 students at SDN 2 Werungotok, this report shows that the KUPAT Program's writing and listening activities positively correlate with their ability to process and explore the message of information, especially from the messages given by the master of ceremonies on Monday. Keywords: Information literacy. Listening skills. Writing skills. Submit: Juni 2024 Diterima: Agustus 2024 Publis: November 2024 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Vol. 8 No. November 2024 tujuan gerakan literasi sekolah, secara menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didk melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat. Selain itu, kegiatan ini juga memiliki tujuan yang lebih khusus, yaitu . untuk menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis pelajar di . meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar . menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beteragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi Pada tahun 2016, tepatnya sejak Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, dunia pendidikan Indonesia semakin digencarkan untuk melakukan apa yang disebut sebagai Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan meningkatkan daya literasi pelajar dan menjadikan sekolah sebagai organisasi penceetak pembelajar sepanjang hayat (Urfaupratiwi, dkk. , 2022. Aulia, dkk. Hal ini menjadi masuk akal mengingat, menurut Satgas GLS Kemendikbud . alam Aulia, dkk. , gerakan literasi memiliki tujuan untuk menciptakan kemampuan kognitif-sosial kompleks, yakni dalam hal membaca, menulis, numerasi, digital, sains, finansial, budaya, hingga kewarganegaraan. Implementasi gerakan literasi sekolah sendiri dapat meliputi: . memahami buku bacaan secara mandiri. penguatan karakter mandiri. memahami informasi secara mandiri. keterampilan menulis karya ilmiah secara mandiri (Urfaupratiwi, , 2. Karenanya, tidak mengherankan jika GLS menjadi prioritas dalam dunia Indonesia belakangan ini. Hal ini karena ada suatu kesadaran bahwa kemampuan dan kualitas berliterasi pelajar akan membantunya dalam meningkatkan kualitas diri, baik secara akademik (Budiharto, dkk. , 2. Pendidik di lingkup sekolah tentu memiliki tanggung jawab sosial yang besar dalam memfasilitasi peserta didik untuk mendapati optimalitas GLS Hal itu, antara lain, dapat berupa upaya mempersiapkan sarana prasarana yang menunjang kegiatan belajar dan mengajar. alat-alat bantu . udio/visual/kinesteti. dan sumber literatur yang relevan. menciptakan kondisi emosional serta sosial yang bermanfaat dalam proses hingga merencanakan kegiatan belajar yang lebih efektif (Hasni, dkk. Lebih lanjut, secara spesifik, komitmen GLS untuk menjadi platform katalisator daya literasi pelajar dan penceetak pembelajar sepanjang hayat tersebut bahkan juga sudah tersemat pada tujuan GLS pada buku saku GLS (Kementerian Pendidikan Kebudayaan, 2. yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada bagian tersebut, disebutkan bahwa Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Untuk itulah, pendidik di lingkup sekolah mesti memahami mengimplementasikan gerakan literasi Hal itu di antaranya adalah, karakeristik setiap peserta didiknya. Kedua, mengenai itu, menyadari bahwa gerakan literasi harus berimbang dengan mengguankan ragam teks dan memperhatikan hal yang memang menjadi kebutuhan pesrta didik. Ketiga, menyelenggarakan agenda GLS yang bersifat terintegrasi dan holistik di semua area kurikulum. Keempat, memastikan kegitan literasi harus Kelima, komunikasi lisan dan yang keenam harus mempertimbangkan keberagaman sesui prinsip diferensiasi. Vol. 8 No. November 2024 Aspek literasi di situ, yang perlu dispesifikkan dalam tulisan ini, merujuk pada literasi informasiAiyang menguak bagaimana pelajar belum mampu menenukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks serta membuat interpretasi sederhana. Karenanya, mempromosikan satu agenda alternatif literasi bagi para pelajar, khususnya dalam aspek literasi informasi. Agenda tersebut bernama KUPAT (Aku Paham Amanat Guruk. Aktivitas ini diterapkan dengan mempertimbangkan adanya asset sekolah berupa kegiatan rutin upacara bendera setiap hari Senin, yang didalamnya termuat agenda pemberian amanat pembina upacara. Agenda pemberian amanat itu, secara bergiliran, diisi oleh kepala sekolah dan guru dalam rangka memberikan petuahpetuah baik dan penting yang perlu dipahami pelajar. Ketika melihat perkembangan implementasi agenda literasi bagi pelajar ke wilayah yang lebih spesifik, tepatnya pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Werungotok Kabupaten Nganjuk, terdapat suatu dorongan yang membuat program gerakan literasi mesti dispesifikkan. Hal ini merujuk Dokumen Rapor Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2022 per Mei 2022, yang menyajikan suatu fakta bahwa, pada SDN 2 Werungotok Kabupaten Nganjuk, baru terdapat 16% pelajar yang tergolong memiliki kemampuan literasi yang mahir. Lebih lanjut, 56% pelajar lainnya pada sekolah tersebut berada dalam level cakap, sedangkan 20% pelajar yang lain berada dalam level dasar. Sementara itu, pada level literasi yang tergolong Aoperlu mendapat intervensi khususAo, terdapat 8% pelajar sekolah tersebut yang mengisinya. Yang ingin peneliti tekankan di sini adalah bagaimana melalui agenda pemberian amanat pada upacara tersebut, pelajar dapat sekaligus didorong level literasi informasinya pesan-pesan amanat upacara yang mereka dapat pada buku amanat pembina upacara. Dengan pelaksanaan aktivitas ini, mengalami peningkatan kemampuan menganalisa dengan seksama atas informasi-informasi yang disampaikan pembina upacara pada sesi amanat sumber pencarian kebajikan hidup para Ide ini masuk akal secara Saputra, dkk. kegiatan menulis merupakan suatu aktivitas kompleks Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) yang tidak saja berguna sebagai sarana pengungkapan kata, namun juga pencarian makna atau pesan. Tentu saja, kemampuan menulis yang baik tidak dapat diperoleh tanpa kemampuan menyimak/membaca yang baik. Hal ini karena dengan memiliki kemampuan tersebut, seseorang akan mendapatkan informasi yang lebih luas, pengalaman yang didapatkanpun lebih banyak sehingga kosakata yang dimiliki oleh pembaca akan lebih beragam. Lagipula, memang selalu berkaitan dengan optimalisasi kemampuan seseorang dalam keterampilan membaca dan menulis (Komalasari & Riani, 2. Perihal itu, tulisan ini bermaksud untuk membedah satu pertanyaan: sejauh apa Program KUPAT dapat meningkatkan kemampun literasi pelajar di SDN 2 Werungotok? Vol. 8 No. November 2024 pertanyaan penelitian, mengumpulkan data, menganalisis apa yang telah mereka pelajari, dan menulis tentang temuan mereka (Khasinah, 2. Proses kuantitatif ini, secara spesifik, akan perkembangan anak dalam melakukan kegiatan ini. Skala perkembangan tersebut dibagi menjadi tiga tahapan, yakni belum berkembang, berkembang, dan berkembang sesuai harapanAi penjelasan detail mengenai apa saja parameter penskalaan tersebut akan peneliti lampirkan di segmen hasil dan pembahasan tulisan ini. Data itu sendiri akan dikumpulkan melalui instrumen berupa survei. Lebih jauh, pada proses penyampaian hasil pengumpulan data, untuk memperkuat poin pikiran kegiatan ini, peneliti lantas melakukan pengecekan analisis kepada referensireferensi ilmiah lain yang relevan dengan kajian laporan ilmiah ini. METODE PELAKSANAAN Penyelenggaraan berbasis penelitian tindakan kelas ini, yang terinspirasi dari pandangan Borg, . alam Khasinah, 2. , pada menghasilkan lima manfaat. Pertama, berkontribusi pada teori dan basis pengetahuan yang diperlukan untuk Kedua, mendukung pengembangan profesional praktisi dengan membantu mereka memahami dan memanfaatkan temuan penelitian dan melakukan penelitian sendiri bila perlu. Ketiga, membangun pendidik, bahkan pelajar dan orang tua, bekerja sama. Keempat, membantu praktisi mengidentifikasi masalah dan mencari solusi secara sistematis. Kelima, menjadi rujukan pelaksanaan Lokasi implementasi program KUPAT terselenggara di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Werungotok Kabupaten Nganjuk. Kegiatan ini berlangsung sepanjang bulan Agustus pelajaran 2022/2023, di mana subjek kegiatannya adalah seluruh pelajar SDN 2 Werungotok dari kelas satu hingga kelas enam yang berjumlah 154 orang. Penjabaran laporan ilmiah hasil pelaksanaan program ini mengadaptasi metode penelitian tindakan kelas. Melalui metode ini, penelitiAi yang sekaligus berperan sebagai kepala sekolah yang menginisiasi program di SDN 2 WerungotokAi memeriksa praktik mereka sendiri hati-hati Hal itu, secara spesifik. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) agenda serupa di semua tingkatan dan di semua bidang pendidikan, seperti sarana pelatihan dalam jabatan untuk kepala Vol. 8 No. November 2024 berkembang . ihat tabel . Hal ini kemudian, melalui program KUPAT, diupayakan untuk dinaikkan dengan beberapa aktivitas, di antaranya: HASIL DAN PEMBAHASAN Menyimak amanat disampaikan oleh pembina upacara . uru/kepala sekola. sepanjang acara upacara rutin sekolah hari Senin berlangsung Menuliskan kembali inti dari amanat yang disampaikan oleh guru dalam buku amanat pembina upacara yang diberikan kepada mereka masing-masing Pada tulisan ini, peneliti perlu menggarisbawahi kembali terlebih dahulu bahwa ada tiga skala kemampuan literasi informasi yang berlaku pada pelajar SDN 2 Werungotok Kabupaten Nganjuk ketika mengikuti program KUPAT ini. Tiga skala tersebut terdiri dari: . mulai berkembang. berkembang sesuai harapan. Adapun parameter kategorisasi setiap skala dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Melalui tersebut, peneliti kemudian dapat mengukur kemampuan konsentrasi Tabel 1. Kategorisasi skala pelajar dalam menangkap sebuah kemampuan literasi informasi peserta Program KUPAT sebagai bahan perenungan ulang Indikator/Skala Rubrik mereka ke depan atas pesan moral yang Belum Mulai Berkembang ada termuat dalam informasi tersebut. Aktivitas Berkembang Berkembang Peserta penting dari Peserta didik sudah penting dari Harapan Pelaksanaan program tersebut lantas menghasilkan peningkatan yang cukup signifikan, khususnya dalam Peserta didik sudah mentransformasi kemampuan literasi informasi yang menuliskan awalnya berada pada skala belum Hal ini dapat dilihat pada penting dari tabel 2. Tabel 2. Hasil skrining awal dan akhir skala kemampuan literasi informasi peserta Program KUPAT Hasil Pemantauan No. Kategori Sebelum Jumlah Berdasarkan aktivitas skrining awal, data menunjukkan sebagian besar pelajar yang berjumlah 98 orang memiliki kemampuan literasi informasi yang berada pada skala belum Sesud Belum Berkembang Juml Pela 63,6 23 14,9 Mulai Berkembang Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Berkembang sesuai Harapan Jumlah Vol. 8 No. November 2024 mengekspresikan pikiran atau perasaan dengan itu tulisannya dapat dimengerti kepada orang lain, tapi juga bersamaan oleh pembaca. Seperti menulis yang dapat merangsang beberapa penelitian sebelumnya juga mengonfirmasi urgensi kemampuan menyimak untuk turut meningkatkan level jenis literasi itu pada seseorang, khususnya dari kalangan pelajar. Hal ini, salah satunya, terepresentasikan lewat argumen Susanto . yang menyebut keterampilan menyimak merupakan syarat mutlak untuk memahami dan menguasai informasi baik berupa ilmu pengetahuan secara bersungguh sungguh dengan penuh mendengarkan untuk memperoleh Pendapat Susanto ini didukung oleh argumen Tarigan . alam Susanto, 2. yang menyebut aspek menyimak sebagai suatu proses penting untuk melakukan apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh isi atau komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melalui ujaran. Urgensi keterampilan ini diperkuat juga oleh Handayani, . Pada penelitiannya, mereka menyatakan keterampilan menyimak bagaimanapun pertama yang mesti dipelajari setiap individu sejak usia dini, dikarenakan peserta didik sebelum belajar berbicara, membaca dan menulis terlebih dahulu mempelajarinya dengan menggunakan keterampilan menyimak menjadi faktor perkembangan peserta didik. Urgensi meningkatkan level literasi informasi, sebagaimana yang turut termuat dalam agenda KUPAT ini, bahkan didukung oleh penelitian sebelumnya dari Tarrant, dkk. Dalam penelitian mereka, disebutkan bahwa salah satu kunci kemampuan pelajar untuk menggunakan dan mengomunikasikan informasi dengan cara yang tepat dan efektif adalah dengan meningkatkan Argumentasi ini, secara spesifik diberangkatkan dari amatan mereka terhadap mahasiswa keperawatan yang mengambil gelar pasca-registrasi dalam keperawatan yang tidak memiliki Kondisi itu membuat para pelajar tersebut pada akhirnya sering kali tidak menyadari cara memformat makalah akademis dan juga cara menggunakan literatur kesehatan secara efektif untuk menginformasikan dan mendukung penyelidikan mereka. Dengan peningkatan kemampuan menulis, penelitian Tarrant, dkk. terhadap literasi informasi mereka sendiri yang dirasa oleh mereka meningkat secara substansial. Secara konseptual, hal ini kembali dibenarkan Habibaturrahmah . , di mana menulis dianggap sebagai aktivitas dalam berbahasa yang cukup kompleks karena meliputi berbagai unsur yang harus diterapkan Dengan kemampuan menulis, seorang pelajar pada akhirnya tidak hanya dapat Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) KESIMPULAN Vol. 8 No. November 2024 menulisAimaupun menyimakAiyang merepresesntasikan mendengarAi bagaimanapun mendukung proses peningkatan kecakapan pelajar dalam mengolah dan memahami informasi. Artikel laporan ilmiah berbasis literasi pelajar dalam menangkap dan mengolah suatu informasi menjadi pesan yang bermakna terbukti dapat meningkat melalui penyelenggaraan Program KUPAT. Hal ini terlaksanakan Pertama, mendorong pelajar untuk menyimak baik-baik amanat yang disampaikan oleh pembina upacara . uru/kepala sekola. sepanjang acara upacara rutin sekolah hari Senin berlangsung. Kedua, mendorong pelajar untuk memparafrase inti dari amanat yang disampaikan oleh guru dalam buku amanat pembina upacara yang diberikan kepada masingmasing pelajar. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam agenda KUPAT. REFERENSI