Vol 8. No 2. Maret 2026. org/10. 38189/jtbh. ISSN 2654-5691 . 2656-4904 . Available at: e-journal. id/index. php/jbh Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen Asep Afaradi1 asepafriadi69@gmail. Abstract This study departs from the reality that the concept of hierarchy remains the dominant pattern in various Christian organizations but is often understood within a framework of structural power that is not in harmony with Jesus' teachings on leadership in the Gospels. Matthew 20:20-28 presents a theological perspective that challenges conventional understandings of authority, greatness, and leadership through a redefinition of values in the Kingdom of God. Therefore, this study aims to theologically analyze the text of Matthew 20:20-28 and formulate its implications for the hierarchical paradigm in contemporary Christian leadership. The study uses a descriptive qualitative approach with a theologicalexegetical analysis method that includes a study of the literary context of the Gospel of Matthew, a historical-social analysis of the first-century Mediterranean world, and a linguistic analysis of the Koine Greek text, particularly the terms C. C, and IE. Data was obtained through a literature study of the Bible as the primary source and academic literature as the secondary source, then analyzed interpretively and critically in dialogue with modern Christian leadership theory. The results of the study show that Jesus did not abolish the leadership structure but rather transformed the meaning of hierarchy from domination of power to responsibility for service. Greatness in the community of faith is determined by humility, devotion, and self-sacrifice rooted in the example of Christ as the Son of Man who came to serve. This study concludes that hierarchy in Christian leadership needs to be understood as a structure undergoing theological transformation, in which authority functions as a means of community service, not an instrument of domination, thus offering a conceptual contribution to the reconstruction of a more relational and Christological paradigm of church leadership. Keywords: Christian Leadership. Matthew 20:2-28. Servant Leadership. Theological Analysis Abstrak Penelitian ini berangkat dari realitas bahwa konsep hierarki masih menjadi pola dominan dalam berbagai organisasi Kristen, namun sering kali dipahami dalam kerangka kekuasaan struktural yang kurang selaras dengan ajaran kepemimpinan Yesus dalam Injil. Perikop Matius 20:20-28 menghadirkan perspektif teologis yang menantang pemahaman konvensional tentang otoritas, kebesaran, dan kepemimpinan melalui redefinisi nilai dalam Kerajaan Allah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis secara teologis teks Matius 20:20-28 serta merumuskan implikasinya bagi paradigma hirarki dalam kepemimpinan Kristen kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis teologis-eksegetis yang meliputi kajian konteks literer Injil Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 Matius, analisis historis-sosial dunia Mediterania abad pertama, serta analisis linguistik terhadap teks Yunani Koine, khususnya istilah C. C, dan IE. Data diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap teks Alkitab sebagai sumber primer dan literatur akademik sebagai sumber sekunder, kemudian dianalisis secara interpretatif-kritis dalam dialog dengan teori kepemimpinan Kristen modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus tidak meniadakan struktur kepemimpinan, melainkan mentransformasi makna hierarki dari dominasi kekuasaan menjadi tanggung jawab pelayanan. Kebesaran dalam komunitas iman ditentukan oleh kerendahan hati, pengabdian, dan pengorbanan diri yang berakar pada teladan Kristus sebagai Anak Manusia yang datang untuk melayani. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hierarki dalam kepemimpinan Kristen perlu dipahami sebagai struktur yang mengalami transformasi teologis, di mana otoritas berfungsi sebagai sarana pelayanan komunitas, bukan instrumen dominasi, sehingga menawarkan kontribusi konseptual bagi rekonstruksi paradigma kepemimpinan gerejawi yang lebih relasional dan Kata-kata kunci: analisis teologis. kepemimpinan Kristen. kepemimpinan pelayan. paradigma hierarki. Matius 20:20-28 PENDAHULUAN Gagasan hierarki merupakan konsep yang lazim dalam berbagai bidang masyarakat manusia, dari dunia korporat hingga lembaga keagamaan. Namun, narasi dalam Matius 20:20-28 menyajikan perspektif yang menarik dan tidak konvensional tentang hakikat hierarki, yang menantang pemahaman tradisional tentang kekuasaan, ambisi, motivasi dan Ibu Yakobus dan Yohanes mengajukan permintaan kepada Yesus untuk memberikan kepada kedua putranya posisi kekuasaan dan wewenang dalam kerajaan-Nya. Yesus memberikan sebuah gagasan yang tidak mudah bagi setiap pemimpin Kristen. Russel menilai narasi ini menyajikan perspektif tentang kepemimpinan yang menekankan pelayanan, kerendahan hati, dan pengorbanan diri, yang secara tidak langsung dapat diinterpretasikan sebagai tantangan terhadap model kepemimpinan hierarkis tradisional yang berpusat pada kekuasaan dan otoritas. 2 Namun tidak sedikit masalah senioritas, kekerabatan dan penyalahgunaan wewenang menjadi faktor penilaian bahwa seseorang tidak mampu memaknai makna pemimpin-pelayan yang disampaikan Yesus kepada murid-Nya dalam Injil Matius. Injil Matius menyajikan visi tentang "Kerajaan Surga" yang pada dasarnya bertentangan dengan struktur sosial dan politik yang berlaku saat itu. Ajaran dan tindakan Yesus secara konsisten menantang gagasan tentang kekuasaan dan otoritas sebagaimana umumnya dipahami, yang menganjurkan pendekatan yang sangat berbeda terhadap Robert Russell. AuA Practical Theology of Servant Leadership,Ay Proceedings of the Servant Leadership Research. August . : 4Ae6. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen kepemimpinan dan organisasi sosial. Dalam bagian Matius 20:20-28, tanggapan Yesus terhadap permintaan ibu Yakobus dan Yohanes khususnya bersifat terbuka. Alih-alih memberi mereka posisi kekuasaan dan otoritas. Yesus menyatakan bahwa "barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi budakmu". Perubahan hierarki tradisional ini merupakan aspek utama dari visi Yesus tentang Kerajaan Surga. Dreyer menyinggung tentang hierarki dalam organisasi sebagai pendekatan pastoral terhadap kepemimpinan, yang diilustrasikan melalui metafora persahabatan, dapat menjadi alternatif yang menyembuhkan untuk struktur gereja yang terjebak dalam permainan kekuasaan dan 3 Pandangan Dreyer tersebut menawarkan kritik yang tajam sekaligus konstruktif terhadap praktik kepemimpinan gerejawi yang terlalu terstruktur secara vertikal. Ketika hierarki tidak lagi berfungsi sebagai sarana penataan pelayanan, tetapi berubah menjadi arena perebutan pengaruh dan legitimasi, maka relasi yang seharusnya bersifat pastoral dapat tereduksi menjadi relasi kekuasaan. Dalam konteks ini, metafora persahabatan menjadi koreksi teologis yang penting, karena ia menggeser fokus dari dominasi menuju relasi, dari kontrol menuju kebersamaan. Penelitian ini akan mengeksplorasi konsep hierarki sebagaimana digambarkan dalam teks Alkitab ini dan implikasinya bagi pemahaman kontemporer tentang kepemimpinan dan struktur sosial. Bagian yang dimaksud menggambarkan permintaan yang diajukan oleh ibu Yakobus dan Yohanes, yang meminta Yesus untuk memberikan kepada kedua putranya posisi kekuasaan dan otoritas di kerajaan-Nya. Namun, tanggapan Yesus menumbangkan pemahaman umum tentang hierarki, dengan menekankan pentingnya kepemimpinan pelayan dan kesediaan untuk mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang lain. Penelitian ini akan mengeksplorasi konsep hierarki sebagaimana digambarkan dalam teks Alkitab ini dan implikasinya bagi pemahaman kontemporer tentang kepemimpinan dan struktur sosial. Walaupun konsep kepemimpinan pelayan telah memperoleh perhatian luas dalam kajian teologi maupun teori kepemimpinan kontemporer, realitas praktik organisasi masih menunjukkan adanya ketegangan antara struktur hierarkis dan prinsip pelayanan sebagaimana diajarkan Yesus. Tidak sedikit organisasi Kristen tetap mempertahankan model kepemimpinan formal yang menitikberatkan pada otoritas struktural, posisi jabatan, serta sistem komando administratif. Situasi ini memperlihatkan adanya jarak antara ideal teologis Yolande Dreyer. AuWomen and Leadership from a Pastoral Perspective of Friendship,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 58, no. : 47, https://doi. org/10. 4102/hts. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 dan praktik kelembagaan yang berlangsung. Greenleaf menegaskan bahwa kepemimpinan pelayan tidak sekadar merupakan variasi gaya kepemimpinan, melainkan sebuah paradigma yang menempatkan pelayanan sebagai dasar legitimasi kepemimpinan itu sendiri. 4 Oleh karena itu, perikop Matius 20:20-28 menjadi penting untuk ditinjau kembali sebagai fondasi teologis dalam mengevaluasi praktik kepemimpinan Kristen masa kini. Dalam perspektif studi biblika, kisah permohonan ibu Yakobus dan Yohanes sering dipahami sebagai cerminan ambisi eskatologis para murid yang masih dipengaruhi oleh harapan mesianik-politik masyarakat Yahudi abad pertama. Para murid memaknai kerajaan Mesias dalam kerangka kekuasaan duniawi, sehingga posisi di sisi kanan dan kiri Yesus dipandang sebagai simbol kehormatan dan superioritas. 5 Tanggapan Yesus terhadap permintaan tersebut tidak hanya bersifat penolakan, tetapi juga menghadirkan redefinisi mendasar mengenai konsep kebesaran dan otoritas. Dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur melalui dominasi kekuasaan, melainkan melalui kesediaan untuk melayani dan berkorban bagi orang lain. Pemahaman ini menunjukkan adanya transformasi nilai yang bersifat teologis sekaligus sosial. Dari sudut pandang historis-sosial, masyarakat Mediterania abad pertama ditandai oleh sistem patron-klien, budaya kehormatan, serta stratifikasi sosial yang kuat. Hierarki sosial berfungsi sebagai mekanisme utama dalam mempertahankan stabilitas politik dan identitas komunitas. 6 Dalam konteks tersebut, ajaran Yesus tentang kepemimpinan sebagai pelayanan dapat dipahami sebagai kritik profetis terhadap struktur kekuasaan yang bersifat dominatif dan eksploitatif. Dengan demikian. Matius 20:20-28 tidak hanya mengandung pesan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial-etis yang menantang budaya dominasi pada zamannya. Analisis terhadap latar sosial ini menunjukkan bahwa Yesus tidak menghapus struktur sosial, melainkan mentransformasikan orientasi penggunaan kekuasaan. Dalam perkembangan teologi kepemimpinan kontemporer, sejumlah sarjana menekankan bahwa kepemimpinan Kristen perlu dipahami sebagai praktik relasional yang berakar pada teladan Kristus sendiri. Wright menegaskan bahwa pewartaan Kerajaan Allah oleh Yesus menghadirkan model komunitas baru yang menolak pola dominasi kekuasaan imperial dan menggantikannya dengan solidaritas yang berlandaskan pelayanan. Robert K. Greenleaf. Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness (New York: Paulist Press, 2. , 67. France. The Gospel of Matthew (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 27 https://scholar. com/scholar?q=R. France Gospel of Matthew Eerdmans. Bruce J. Malina and Richard L. Rohrbaugh. Social-Science Commentary on the Synoptic Gospels (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 123. Wright. Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 54. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen Pandangan ini menunjukkan bahwa konsep hierarki dalam kekristenan tidak dapat disamakan secara langsung dengan model organisasi sekuler. Jika hierarki tetap dipertahankan, maka keberadaannya harus ditafsirkan ulang melalui nilai kerendahan hati, tanggung jawab etis, serta orientasi pelayanan terhadap komunitas iman. Bertolak dari latar belakang tersebut, penelitian ini berupaya menjembatani kesenjangan antara kajian eksegetis teks Injil Matius dan refleksi praktis mengenai struktur kepemimpinan Kristen kontemporer. Sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas mengaitkannya dengan rekonstruksi paradigma hierarki organisasi berdasarkan analisis tekstual yang spesifik. Oleh karena itu, studi ini bertujuan melakukan analisis teologis terhadap Matius 20:20-28 guna merumuskan kembali pemahaman tentang hierarki dalam kepemimpinan Kristen sebagai struktur yang ditransformasikan oleh nilai pelayanan, bukan dihilangkan secara institusional. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan teologi kepemimpinan sekaligus menawarkan refleksi kritis bagi praktik organisasi gerejawi masa kini. METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis teologis-eksegetis terhadap perikop Matius 20:20-28. Pendekatan tersebut digunakan karena fokus penelitian terletak pada penafsiran makna teologis teks Alkitab serta relevansinya dalam membangun kerangka konseptual kepemimpinan Kristen. 8 Proses analisis dilakukan melalui langkah-langkah eksegesis Perjanjian Baru yang mencakup kajian konteks literer dalam keseluruhan narasi Injil Matius, penelusuran latar historis-sosial dunia Mediterania abad pertama, serta analisis linguistik terhadap teks Yunani Koine. Penelaahan terhadap istilah-istilah kunci seperti C. C, dan IE bertujuan untuk mengungkap dimensi semantik dan teologis yang membentuk pesan utama perikop. Dengan demikian, interpretasi yang dihasilkan tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial dan teologis yang melandasi narasi Injil. Selanjutnya, temuan eksegetis dianalisis melalui perspektif teologi konstruktif dengan mengaitkannya pada diskursus kepemimpinan Kristen kontemporer guna merumuskan implikasi konseptual bagi paradigma hierarki kepemimpinan gerejawi. Sumber data utama penelitian ini adalah teks Alkitab Perjanjian Baru, sementara berbagai literatur Kevin Gary Smith. Writing and Research, vol. 1 (Langham Global Library, 2. , 105. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 akademik seperti komentar biblika, leksikon bahasa Yunani, serta kajian teologi kepemimpinan digunakan sebagai sumber sekunder dalam kerangka studi kepustakaan . ibrary researc. Analisis data dilakukan secara interpretatif dan kritis dengan membandingkan hasil eksegesis dengan teori kepemimpinan modern untuk menghasilkan sintesis teologis yang kontekstual. 9 Melalui metode tersebut, penelitian ini berupaya merumuskan pemahaman mengenai hierarki kepemimpinan Kristen yang berakar pada teks biblika sekaligus relevan bagi praktik organisasi gereja masa kini. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Belakang Penulisan Kitab Injil Matius Sebagai kitab pembuka dalam kanon Perjanjian Baru. Injil Matius masuk dalam kategori Injil Sinoptik bersama dengan Markus dan Lukas. Dari segi teologi dan sastra, kitab ini berperan sebagai penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebab kitab ini menyajikan Yesus sebagai wujud nyata dari penggenapan janji mengenai Mesias bagi bangsa Israel. 10 Kesaksian dari gereja perdana secara bulat meyakini kitab ini kepada Matius (Matthaio. , mantan pemungut cukai yang kemudian dipanggil menjadi salah satu murid Yesus (Mat. Para Bapa Gereja awal, termasuk Papias (A130 M). Ireneus, dan Eusebius, mencatat bahwa Matius mengumpulkan ajaran Tuhan khusus untuk kalangan Ibrani. Walaupun nama penulis tidak disebutkan secara tertulis di dalam naskah Injil itu sendiri, penunjukan kepada rasul Matius diterima secara luas oleh tradisi gereja awal. Namun, dalam studi kritis modern, sejumlah ahli memandang Injil ini sebagai hasil karya komunitas Kristen Yahudi yang mendasarkan teologi mereka pada tradisi yang berasal dari rasul Matius. Mayoritas ahli memperkirakan proses penulisan Injil Matius terjadi pada rentang tahun 60 hingga 70 M, meskipun terdapat pendapat lain yang menyarankan waktu setelah peristiwa hancurnya Yerusalem pada tahun 70 M. 12 Mengenai lokasi penulisannya, belum ada kepastian mutlak, namun Antiokhia di Siria sering dijadikan dugaan kuat. Hal ini dikarenakan adanya komunitas Kristen Yahudi yang cukup besar dan signifikan di wilayah tersebut pada masa itu. Maksud dan tujuan penulisan Kitab Injil Matius ialah untuk membuktikan bahwa: Yesus adalah Mesias yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Yesus merupakan Anak Daud sekaligus Raja bagi Israel. Kerajaan Allah telah hadir nyata Kevin Gary Smith. Writing and Research, vol. AuPengantar Full Life: Injil Matius,Ay Education. Lembaga Alkitab Indonesia, 2026. Lembaga Alkitab Indonesia. AuPengantar Full Life: Injil Matius. Ay Bagas Prabowo. AuMemahami Kitab Injil Sinoptik: Matius,Ay Education. Kompasiana, 2026. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen melalui pelayanan serta ajaran Yesus. 13 Tema utama Injil Matius adalah Kerajaan Surga dan Matius 20:20-28 merupakan salah satu redefinisi paling eksplisit tentang struktur kerajaan tersebut. Menurut N. Wright, kerajaan Allah dalam pengajaran Yesus bukanlah sistem kekuasaan baru yang meniru kerajaan dunia, tetapi realitas ilahi yang membalik logika dominasi manusia. 14 Otoritas dalam kerajaan Allah bersifat paradoksal: semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tuntutan pelayanan. Selain itu, dari perspektif literer, perikop ini tidak hadir sebagai unit yang berdiri sendiri, melainkan berfungsi sebagai tanggapan langsung terhadap pemberitahuan sebelumnya mengenai penderitaan Yesus. Matius 20:20-28 menempati kedudukan penting dalam alur naratif Injil Matius karena berada pada tahap peralihan antara pelayanan publik Yesus di Galilea dan puncak kisah sengsara di Yerusalem. Secara keseluruhan. Injil Matius disusun dalam pola naratif-diskursif yang mengintegrasikan tindakan dan pengajaran Yesus guna membentuk pemahaman para murid mengenai identitas Mesias serta hakikat Kerajaan Allah. Berdasarkan analisis struktural yang diajukan oleh R. France. Injil Matius bergerak secara progresif menuju klimaks teologis yang mencapai puncaknya dalam peristiwa penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Bagian-bagian menjelang perjalanan ke Yerusalem berperan sebagai tahap pembelajaran terakhir bagi para murid sebelum mereka menghadapi realitas salib. Oleh karena itu, kisah permohonan ibu Yakobus dan Yohanes tidak dapat dipahami sekadar sebagai narasi etika, melainkan sebagai strategi naratif Injil untuk meluruskan kesalahpahaman para murid mengenai konsep Mesias. 15 Dengan demikian, penempatan perikop ini menunjukkan bahwa pembahasan tentang kepemimpinan muncul tepat pada saat perjalanan Yesus memasuki fase paling krusial dalam pelaksanaan misi penyelamatan-Nya. Pasal 19-23 merupakan rangkaian perjalanan yang memiliki makna teologis dan menggambarkan pergerakan Yesus menuju pusat religius Yahudi sekaligus menuju penderitaan-Nya. Dalam bagian ini, ketegangan teologis semakin meningkat, sementara ajaran Yesus disampaikan dengan tuntutan yang semakin radikal. Ulrich Luz menekankan bahwa unit naratif tersebut berfungsi sebagai proses pembentukan komunitas murid . ommunity formatio. , di mana Yesus merekonstruksi nilai-nilai sosial yang dominan dalam masyarakat Yahudi abad pertama. 16 Tema-tema utama yang berkembang mencakup Universitas STEKOM. AuEnsiklopedia Injil Matius,Ay Education. P2K Stekom. Wright. Jesus and the Victory of God,35. France. The Gospel of Matthew, 58. Luz Ulrich. Matthew 8Ae20: A Commentary (Fortress Press, 2. 54, https://scholar. com/scholar?q=Ulrich Luz Matthew 8-20 commentary. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 relasi antara kekayaan dan Kerajaan Allah (Mat. 19:16-. , perumpamaan para pekerja kebun anggur (Mat. 20:1-. , pemberitahuan penderitaan Yesus, serta redefinisi konsep kepemimpinan (Mat. 20:20-. Susunan tema-tema ini bukanlah kebetulan literer. Perumpamaan sebelumnya menegaskan prinsip pembalikan nilai bahwa Auyang terakhir akan menjadi yang pertamaAy yang kemudian dijelaskan secara konkret melalui ajaran mengenai kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan. Permintaan posisi di kanan dan kiri Yesus menunjukkan bahwa murid masih memahami Mesias dalam kategori politik dan hierarkis. Respons Yesus kemudian menjadi reinterpretasi langsung atas makna otoritas dalam Kerajaan Allah. Dengan demikian, perikop 20:20-28 dapat dipahami sebagai penerapan praktis dari prinsip Kerajaan Surga yang telah diperkenalkan sebelumnya. Analisis Matius 20:20-28 Perikop ini diawali dengan tindakan ibu dari anak-anak Zebedeus yang datang kepada Yesus untuk memohon kedudukan istimewa bagi kedua putranya dalam kerajaanNya. Permintaan tersebut mencerminkan cara pandang mesianik yang masih dipahami dalam kerangka kekuasaan politis dan hierarki kerajaan duniawi. Posisi di sebelah kanan dan kiri seorang raja pada dunia kuno melambangkan otoritas dan kehormatan tertinggi dalam struktur pemerintahan. Dari sudut pandang naratif, kisah ini menghadirkan kontras ironis dengan konteks sebelumnya, yakni pemberitahuan penderitaan Yesus. Ketika Yesus berbicara mengenai pengorbanan yang akan Ia alami, para murid justru memperlihatkan aspirasi status dan Penggunaan kata kerja Yunani EO . menegaskan sifat permohonan formal kepada figur berotoritas, yang menunjukkan bahwa para murid masih menafsirkan Yesus sebagai penguasa kerajaan politis. Dengan demikian, bagian ini mengungkap kesenjangan antara pemahaman murid dan misi mesianik Yesus yang sesungguhnya. Meminum Cawan yang harus Kuminum (Mat. 20:22-. Jawaban Yesus diberikan melalui metafora Aucawan,Ay yang dalam teks Yunani disebut AEA . Dalam tradisi Perjanjian Lama, istilah ini sering digunakan sebagai simbol penderitaan atau pengalaman penghakiman ilahi. Dalam konteks Injil Matius, metafora tersebut menunjuk secara langsung pada penderitaan dan kematian yang akan dialami Yesus. Respons para murid yang menyatakan kesanggupan mereka memperlihatkan keterbatasan pemahaman mereka terhadap makna penderitaan Mesias. Yesus kemudian menegaskan bahwa mereka memang akan turut mengambil bagian dalam penderitaan tersebut, namun distribusi kehormatan dalam kerajaan Allah sepenuhnya berada dalam CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen otoritas Allah Bapa. Pernyataan ini menggeser konsep kepemimpinan dari ambisi menuju partisipasi dalam penderitaan sebagai jalan menuju kemuliaan. Marahlah Kesepuluh Murid yang lain (Mat. Reaksi kemarahan dari sepuluh murid lainnya memperlihatkan bahwa ambisi kekuasaan bukan hanya dimiliki oleh dua murid tersebut, melainkan menjadi persoalan kolektif dalam komunitas murid. Kata Yunani AEO . menunjukkan bentuk kemarahan yang mendalam dan emosional, mencerminkan konflik internal yang Secara naratif, ayat ini berfungsi sebagai pengantar bagi pengajaran Yesus Konflik interpersonal tersebut menjadi konteks pedagogis di mana Yesus menjelaskan prinsip kepemimpinan sejati. Dengan demikian, pengajaran tentang pelayanan lahir dari realitas relasi komunitas yang sedang mengalami ketegangan akibat perebutan Pemerintah bangsa-bangsa lain (Mat. Yesus kemudian mengontraskan pola kepemimpinan murid dengan praktik kekuasaan bangsa-bangsa lain. Dua istilah Yunani yang digunakan, yaitu EIAAsO . dan EAIEO . , menggambarkan penggunaan otoritas secara dominatif dan kontrol penuh atas pihak lain. Istilah-istilah ini mencerminkan sistem kekuasaan imperial yang menekankan dominasi dan subordinasi. Melalui perbandingan ini. Yesus tidak sekadar memberikan deskripsi sosial, tetapi juga menyampaikan kritik teologis terhadap paradigma kekuasaan yang berlandaskan kontrol dan superioritas. Kepemimpinan dalam komunitas murid dipanggil untuk berbeda secara mendasar dari model kekuasaan duniawi tersebut. Barangsiapa ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayan (Mat. 20:26-. Yesus secara eksplisit merumuskan ulang paradigma kebesaran dalam komunitas murid dengan menyatakan bahwa Aubarangsiapa ingin menjadi besar di antara kamuAy harus menjadi pelayan. Dalam teks Yunani, frasa yang digunakan adalah EC a E C AE a cn . os ean thele megas genesthai en hymi. Kata C . berarti Aubesar,Ay Auagung,Ay atau Aumemiliki status penting,Ay sedangkan bentuk infinitif AE Donald A. Hagner. Matthew 14Ae28. Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1. , 128, https://scholar. com/scholar?q=Donald A Hagner Matthew 14-28. Craig S. Keener. A Commentary on the Gospel of Matthew (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , https://scholar. com/scholar?q=Craig Keener Matthew commentary. Warren Carter. Matthew and the Margins (Maryknoll: Orbis Books, 2. , https://scholar. com/scholar?q=Warren Carter Matthew and the Margins. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 . berasal dari kata kerja yang berarti AumenjadiAy atau Aubertransformasi. Ay Dengan demikian, ungkapan tersebut tidak sekadar menunjuk posisi yang telah dimiliki, tetapi proses menjadi besar melalui perubahan identitas dan tindakan. Konsep ini kemudian dijelaskan melalui istilah C . , yang secara harfiah merujuk pada seorang pelayan yang memenuhi kebutuhan orang lain dalam relasi sosial sehari-hari. Dalam konteks dunia Mediterania abad pertama, seorang diakonos bukan figur berotoritas tinggi, melainkan individu yang menjalankan fungsi pelayanan praktis. Oleh karena itu. Yesus menggeser ukuran kebesaran dari status sosial menuju fungsi Kebesaran dalam komunitas Kristen tidak lagi ditentukan oleh struktur hierarkis, melainkan oleh kesediaan melayani sesama. Yesus selanjutnya memperdalam redefinisi tersebut dengan menggunakan istilah C . pada ayat 27, yang berarti AuhambaAy atau Aubudak. Ay Berbeda dengan diakonos yang menekankan pelayanan fungsional, doulos menunjuk pada relasi kepemilikan dan ketaatan total kepada tuannya. Penggunaan istilah ini menunjukkan tingkat kerendahan yang lebih radikal yakni penyerahan diri secara menyeluruh demi kepentingan orang lain. Dengan menempatkan kedua istilah ini secara berurutan. Injil Matius menampilkan suatu progresi makna: kepemimpinan Kristen bergerak dari pelayanan praktis menuju pengabdian total yang bersifat eksistensial. Redefinisi ini memperlihatkan pembalikan nilai yang mendasar dalam etika Kerajaan Surga. Hierarki tidak lagi dibangun atas dominasi atau kekuasaan, melainkan atas kedalaman pengabdian dan kerelaan merendahkan diri. Dengan demikian, kebesaran menurut Yesus bukanlah posisi di atas orang lain, tetapi kesediaan untuk hadir bagi orang lain melalui pelayanan yang rela berkorban. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat. Pernyataan Yesus dalam Matius 20:28 menjadi klimaks teologis dari seluruh perikop dengan menghadirkan dasar kristologis bagi konsep kepemimpinan pelayanan. Teks Yunani menyatakan: uEa A IC E aI a A I A IE . ssper ho huios tou anthrspou ouk elthen diakonethenai alla diakonesa. , yang berarti AuAnak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Ay24 William D. Mounce. Basics of Biblical Greek Lexicon (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 44Ae45. Frederick William Danker. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG), 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2. , 230Ae231. France. The Gospel of Matthew. Ulrich. Matthew 8Ae20: A Commentary. William D. Mounce. Basics of Biblical Greek (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 276Ae278. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen Istilah A IC E aI . o huios tou anthrspo. atau AuAnak ManusiaAy memiliki muatan mesianis yang kuat dan berakar pada visi apokaliptik dalam Daniel 7:13Ae14, di mana figur tersebut digambarkan menerima otoritas dan kemuliaan ilahi. Namun. Injil Matius menghadirkan paradoks teologis: figur yang memiliki otoritas kosmis justru mendefinisikan misinya melalui pelayanan dan pengorbanan diri. Dengan demikian, otoritas dalam Kerajaan Allah tidak diwujudkan melalui dominasi, melainkan melalui solidaritas dengan manusia. Kata kerja IE . merupakan bentuk infinitif aorist aktif dari verba O . , yang secara leksikal berarti Aumelayani,Ay Aumenolong,Ay atau Aumelaksanakan pelayanan bagi orang lain. Ay Bentuk infinitif ini berfungsi untuk menyatakan tujuan . nfinitive of purpos. yang menjelaskan maksud kedatangan Yesus. Dalam konstruksi kalimat a A A A (Aubukan untuk A melainkan untukA. , penggunaan infinitif aorist menunjukkan tindakan yang dipahami secara menyeluruh sebagai suatu misi yang definitif dan terarah, bukan sekadar aktivitas insidental. 26 Dengan demikian, pelayanan tidak dipresentasikan sebagai salah satu aspek pelayanan Yesus, melainkan sebagai orientasi fundamental inkarnasi-Nya. Secara gramatikal, aspek aorist dalam bahasa Yunani Koine tidak terutama menekankan waktu, tetapi memandang tindakan sebagai suatu kesatuan utuh . erfective aspec. Hal ini menegaskan bahwa pelayanan Yesus dipahami sebagai tindakan misiologis yang integral dan lengkap dalam rencana keselamatan Allah. 27 Oleh sebab itu, frasa IE tidak hanya menggambarkan tindakan etis melayani sesama, tetapi menunjuk pada keseluruhan karya Mesianik Yesus yang mencapai puncaknya dalam penderitaan dan pengorbanan diri di salib. Lebih jauh, penggunaan verba O dalam Injil Matius memiliki nuansa teologis yang konsisten dengan tema Kerajaan Allah. Kata ini sebelumnya digunakan dalam konteks pelayanan praktis . isalnya pelayanan kepada kebutuhan orang lai. , namun dalam Matius 20:28 maknanya diperluas menjadi kategori kristologis. Pelayanan Kristus bukan sekadar tindakan sosial, melainkan ekspresi identitas Mesias yang membalikkan pola kekuasaan 28 Dengan demikian, struktur kalimat Yunani tersebut menegaskan bahwa pelayanan merupakan telos atau tujuan eksistensial dari kedatangan Anak Manusia. France. The Gospel of Matthew, 763-765. Daniel B. Wallace. Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament (Rapids: Zondervan, 1. , 590Ae592 https://books. com/books?id=NKx4QgAACAAJ. Constantine R. Campbell. Basics of Verbal Aspect in Biblical Greek (Grand Rapids: Zondervan, 2. , 23-35 https://books. com/books?id=G5nYDwAAQBAJ. Danker. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG). CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 Yesus selanjutnya menyatakan bahwa Ia datang Auuntuk memberikan nyawa-Nya,Ay menggunakan frasa E OIN aE . ounai ten psychen auto. Kata kerja . menegaskan tindakan sukarela, sedangkan OIN . merujuk pada kehidupan atau eksistensi diri secara total. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pelayanan Kristus mencapai puncaknya dalam tindakan pengorbanan diri yang disengaja, bukan sekadar konsekuensi tragis dari konflik historis. Tujuan pengorbanan tersebut dijelaskan melalui ungkapan sEA AE A . ytron anti polls. , yang secara harfiah berarti Autebusan bagi banyak orang. Ay Kata sEA . dalam dunia Yunani-Romawi digunakan untuk menunjuk harga pembebasan seorang budak atau tawanan. Penggunaan istilah ini menunjukkan dimensi soteriologis pelayanan Yesus: kepemimpinan-Nya bersifat membebaskan. Dengan demikian, pelayanan tidak hanya memiliki aspek etis, tetapi juga dimensi penyelamatan yang memulihkan relasi manusia dengan Allah. Secara teologis, ayat ini menempatkan Kristus bukan hanya sebagai pengajar tentang kepemimpinan hamba, tetapi sebagai model eksistensial kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan Kristen karenanya bersifat imitasi kristologis . mitatio Christ. , yakni mengikuti pola hidup Sang Anak Manusia yang memadukan otoritas dan kerendahan hati dalam tindakan pengorbanan diri. Paradigma ini menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan Kristen tidak berasal dari struktur hierarki, melainkan dari kesediaan berkorban demi kehidupan komunitas. Implikasi Bagi Paradigma Hierarki Dalam Kepemimpinan Kristen Reorientasi Konsep Hierarki: dari Otoritas menuju Pelayanan Kajian terhadap Matius 20:20-28 memperlihatkan bahwa Yesus tidak menghapus keberadaan kepemimpinan atau struktur organisasi, melainkan mengubah secara fundamental orientasi makna hierarki itu sendiri. Dalam konteks sosial dunia Mediterania abad pertama, hierarki berkaitan erat dengan kehormatan, status sosial, dan dominasi Akan tetapi, melalui penggunaan istilah Yunani C . dan C . Yesus memindahkan dasar legitimasi kepemimpinan dari posisi struktural kepada praktik pelayanan. Dengan demikian, kebesaran dalam komunitas Kristen tidak lagi ditentukan oleh tingkat otoritas formal, melainkan oleh kesediaan untuk melayani. Craig S. Keneer. The Gospel of Matthew: A Socio-Rhetorical Commentary (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 484Ae486. John Nolland. The Gospel of Matthew (NIGTC. Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 816Ae818. Ulrich. Matthew 8Ae20: A Commentary, 542-545. CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen Implikasinya, hierarki dalam kepemimpinan Kristen seharusnya dipahami bukan sebagai simbol superioritas individu, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan. Keberadaan struktur organisasi tetap dimungkinkan, namun posisi yang lebih tinggi justru menuntut komitmen pelayanan yang semakin besar. Kritik terhadap Paradigma Kepemimpinan Dominatif Perbandingan yang dibuat Yesus antara praktik kepemimpinan para penguasa dunia dan kehidupan komunitas murid menunjukkan adanya kritik teologis terhadap model kepemimpinan yang berbasis dominasi. Sistem hierarkis duniawi berfungsi melalui kontrol kekuasaan dan subordinasi, sedangkan kepemimpinan dalam Kerajaan Allah dibangun atas relasi pelayanan. Dalam konteks organisasi Kristen masa kini, teks ini menuntut refleksi kritis terhadap pola kepemimpinan yang masih menonjolkan otoritarianisme, senioritas yang tidak reflektif, atau privilese jabatan. Tanpa transformasi teologis, struktur gerejawi berisiko mengadopsi kembali pola kekuasaan sekuler. Oleh karena itu, kepemimpinan Kristen tidak diarahkan untuk menolak struktur organisasi, tetapi untuk menolak praktik dominasi dalam struktur tersebut. Hierarki sebagai Relasi Pelayanan, bukan Sistem Status Redefinisi kebesaran yang diajarkan Yesus menempatkan relasi sebagai inti kepemimpinan Kristen. Istilah C menggambarkan pelayanan dalam hubungan sosial konkret, sementara C menegaskan komitmen total kepada kepentingan orang lain. Kedua konsep ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen bersifat relasional dan partisipatif, bukan simbolik atau status-oriented. Implikasinya, struktur gereja idealnya dipahami sebagai jaringan pelayanan yang saling terkait, bukan sebagai piramida kekuasaan. Otoritas tidak semata-mata berasal dari legitimasi administratif, tetapi dari integritas moral dan kepercayaan komunitas. Dalam paradigma ini, pemimpin berfungsi sebagai penggerak pertumbuhan bersama, bukan pusat kontrol organisasi. Kristologi sebagai Sumber Otoritas Kepemimpinan Matius 20:28 menempatkan identitas Anak Manusia sebagai model normatif bagi kepemimpinan Kristen. Penggunaan kata kerja IE . serta pernyataan tentang pemberian diri sebagai tebusan menunjukkan bahwa pelayanan Yesus bersifat pengorbanan diri. Dengan demikian, dasar legitimasi kepemimpinan Kristen bersumber pada teladan Kristus, bukan semata pada struktur institusional. Konsekuensinya, otoritas pemimpin Kristen tidak terutama ditentukan oleh jabatan formal atau kapasitas karismatik, melainkan oleh kesesuaian hidup dengan pola pelayanan Kristus. Semakin besar tanggung CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Jurnal Teologi Berita Hidup. Vol 8. No 2. Maret 2026 jawab kepemimpinan, semakin besar pula tuntutan kerendahan hati, integritas, dan akuntabilitas etis. Rekonstruksi Paradigma Kepemimpinan Gerejawi Kontemporer Berdasarkan temuan eksegetis, paradigma hierarki dalam kepemimpinan Kristen perlu ditata ulang melalui tiga dimensi utama. Pertama, dimensi teologis menegaskan bahwa kepemimpinan berakar pada teladan Kristus sebagai pelayan. Kedua, dimensi etis menempatkan pengorbanan diri dan tanggung jawab moral sebagai ekspresi otoritas. Ketiga, dimensi eklesiologis memahami struktur gereja sebagai sarana pemberdayaan komunitas, bukan mekanisme pelestarian kekuasaan. Pendekatan ini memungkinkan organisasi gerejawi mempertahankan keteraturan struktural sekaligus menjaga identitas teologisnya. Hierarki tetap berfungsi sebagai alat koordinasi pelayanan, tetapi orientasinya diarahkan pada kesejahteraan komunitas iman. Kontribusi Konseptual bagi Studi Kepemimpinan Kristen Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa Matius 20:20Ae28 menawarkan kerangka konseptual alternatif bagi diskursus kepemimpinan modern. Jika teori organisasi sekuler sering memisahkan antara kekuasaan dan pelayanan, teks ini justru mengintegrasikan keduanya melalui pelayanan sebagai sumber otoritas. Kontribusi utama penelitian ini dapat dirumuskan dalam tesis bahwa: Hierarki dalam kekristenan bukan dihapuskan, melainkan ditransformasikan melalui paradigma pelayanan. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen dapat dipahami sebagai bentuk hierarki yang mengalami transformasi teologis, di mana posisi struktural berfungsi sebagai sarana pelayanan komunitas, bukan instrumen dominasi. KESIMPULAN Analisis teologis terhadap Matius 20:20-28 menunjukkan bahwa perikop ini menempati peranan penting dalam alur naratif Injil Matius, terutama dalam konteks perjalanan Yesus menuju Yerusalem serta proses pembentukan pemahaman para murid mengenai Kerajaan Allah. Permohonan ibu Yakobus dan Yohanes mengungkapkan bahwa para murid masih memahami kepemimpinan dalam kerangka kekuasaan mesianik yang bercorak politis dan hierarkis. Melalui tanggapan-Nya. Yesus tidak sekadar menolak permintaan tersebut, melainkan memperkenalkan pemahaman baru tentang kebesaran dalam Kerajaan Surga. Kajian eksegetis atas istilah Yunani seperti C dan C menegaskan bahwa ukuran kebesaran dalam komunitas Kristen tidak terletak pada CopyrightA 2026. Jurnal Teologi Berita Hidup. ISSN 2654-5691 . , 2656-4904 . Asep Afaradi: Analisis Teologis Matius 20:20-28 dan Implikasinya bagi Paradigma Hierarki dalam Kepemimpinan Kristen kedudukan atau otoritas formal, tetapi pada praktik pelayanan dan kesediaan untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Pendekatan linguistik dan analisis historis-sosial lebih lanjut memperlihatkan bahwa ajaran Yesus sekaligus berfungsi sebagai kritik terhadap pola kekuasaan dominatif yang mengakar dalam masyarakat Mediterania abad pertama. Perbandingan antara gaya kepemimpinan para penguasa dunia dan kehidupan komunitas murid menunjukkan adanya pembalikan nilai yang bersifat teologis dan sosial. Penggunaan kata kerja IE dalam Matius 20:28 menegaskan pelayanan sebagai tujuan utama misi Anak Manusia, sehingga konsep kepemimpinan Kristen memperoleh landasan kristologis yang jelas. Dalam perspektif ini, otoritas tidak lagi dipahami sebagai sarana kontrol, tetapi sebagai ekspresi pengorbanan diri dan tanggung jawab relasional yang berakar pada teladan Kristus. Berdasarkan keseluruhan pembahasan, penelitian ini menegaskan bahwa konsep hierarki dalam kepemimpinan Kristen tidak dieliminasi, melainkan mengalami transformasi makna secara teologis. Struktur organisasi tetap diperlukan sebagai sarana keteraturan dan koordinasi, namun orientasinya diarahkan pada pelayanan komunitas, bukan pada dominasi Paradigma tersebut memahami kepemimpinan sebagai praktik relasional yang berlandaskan teladan Kristus dan diwujudkan melalui kerendahan hati, integritas moral, serta komitmen pelayanan kepada komunitas iman. Dengan demikian. Matius 20:20-28 memberikan kontribusi konseptual yang signifikan bagi pengembangan paradigma kepemimpinan Kristen kontemporer sebagai bentuk hierarki yang dimaknai ulang melalui prinsip pelayanan. REFERENSI