Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 ENHANCING PROBLEM-SOLVING AND COLLABORATION SKILLS THROUGH PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) WITH COMPUTATIONAL THINKING (CT) IN DIGESTIVE SYSTEM FOR EIGHT GRADES Rigen Utami Pendidikan Sains. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta Email: rigenutami27@gmail. ABSTRAK Rendahnya keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan kolaborasi siswa Indonesia, serta tuntutan keterampilan abad ke-21, mendorong perlunya integrasi model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan Computational Thinking (CT) sebagai solusi inovatif untuk melatih kemampuan menyelesaikan masalah kompleks secara kolaboratif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model PBL yang dipadukan dengan pendekatan CT dalam meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan kolaborasi siswa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan pemecahan masalah siswa . ra-siklus: 52%) serta kebutuhan akan pendekatan inovatif yang mendukung keterampilan abad ke-21. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan model spiral Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian terdiri atas 31 siswa kelas Vi A tahun ajaran 2023/2024. Data dikumpulkan melalui observasi, angket, dan lembar kerja peserta didik (LKPD), kemudian dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada: . keterampilan pemecahan masalah (N-gain = 0,83, kategori tingg. keterampilan kolaborasi (N-gain = 0,. Seluruh indikator ketercapaian terpenuhi pada siklus II sehingga penelitian dihentikan. Integrasi model PBL dengan pendekatan CT terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan kolaborasi. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa integrasi CT dalam model PBL memfasilitasi pembelajaran aktif serta mengembangkan keterampilan abad ke-21. Kata kunci: Problem-Based Learning. Computational Thinking. Keterampilan Pemecahan Masalah. Keterampilan Kolaborasi. Penelitian Tindakan Kelas. Keterampilan Abad ke-21 ABSTRACT The low problem-solving skills and collaboration skills of Indonesian students, along with the demands of the 21st century skills, encourage the integration of Problem-Based Learning (PBL) with Computation Thinking (CT) approach as an innovative solution to train the ability to solve complex problems collaboratively. This study aims to analyze the effectiveness of the Problem-Based Learning (PBL) model integrated with a Computational Thinking (CT) approach in enhancing students' problem- solving and collaboration skills. The research was motivated by students' low problem-solving skills . re-cycle: 52%) and the need for innovative approaches that encourage 21stcentury skills. This type of research is a Classroom Action Research with Kemmis & Mc Taggart spiral model, the study implemented two cycles. The research subjects consisted of 31 students of class Vi A in the 2023/2024 academic year. Data were collected through observation, questionnaires, and student worksheets (LKPD), then analyzed using descriptive quantitative-qualitative methods. The results revealed a significant improvement in: . problem-solving skills (N-gain = 0. 83, high categor. collaboration skills (N-gain = 0. All indicators of achievement were met in cycle II, prompting the cessation of further cycles. The PBL model that integrating with a CT approach effectively enhances problem- solving and collaboration skills. This study provides empirical evidence that the integration of CT into PBL model facilitates active learning and advances 21st-century skills Keywords: Problem-Based Learning. Computational Thinking. Problem-Solving Skills. Collaboration Skills. Classroom Action Research, 21st-Century Skills PENDAHULUAN Era globalisasi dan revolusi digital menjadikan keterampilan problem-solving dan kolaborasi menjadi kunci kesuksesan akademik dan profesional di abad ke-21 (OECD, 2018. Ananiadou, n. (Care et al. , 2018c. Schleicher, n. Keterampilan abad ke-21 menekankan bahwa problem-solving tidak lagi bisa dilakukan secara individual, melainkan secara kolaboratif, karena permasalahan di dunia nyata memerlukan berbagai perspektif dan keahlian dari berbagai pihak (Trilling dan Fadel, 2015. Binkley et al, 2. Kolaborasi membantu memperkaya Solusi dari suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang problem-solving bahwa proses pemecahan masalah diarahkan secara logis dan efektif. problem-solving sebagai bagian dari reflective thinking, yaitu proses berpikir sistematis dalam menghadapi sebuah situasi dan bertujuan menemukan Solusi logis dan efektif. Sedangkan, kolaborasi menurut Vygotsky . merupakan bagian proses belajar yang https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 378 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . dibangun melalui interaksi sosial yang mampu mengingatkan pemahaman lebih tinggi ketika bekerja sama dengan orang lain. The World Economic Forum (WEF) menyatakan bahwa 60% pekerja secara global tidak memiliki keterampilan problem-solving yang memadai untuk pekerjaan modern (WEF. Sedangkan. The programme for international student assessment (PISA) melaporkan bahwa rata-rata skor problemsolving peserta didik secara global di 81 negara mencapai 472 . kala 0 Ae . , turun dibandingkan PISA 2018 yang mencapai 478. Sedangkan, di Indonesia skor problem-solving mencapai 378 . i bawah rata-rat. dan hanya 2% peserta didik yang mencapai level 4 . evel Kemahiran tingg. Data TIMSS . menunjukkan bahwa hanya 12% peserta didik di Indonesia yang mampu menyelesaikan soal matematika yang membutuhkan problemsolving kompleks. Tidak hanya itu, studi nasional kemendikbudristek . melalui (AKM) memperoleh hasil rata-rata kemampuan literasi numerasi . ndikator problem-solvin. peserta didik tergolong sangat rendah mencapai WEF . melaporkan bahwa keterampilan kolaborasi masuk 3 besar keterampilan yang dibutuhkan tahun 2025, meningkat 24% sejak tahun 2020. Meski tergolong rendah. Laporan OECD . berdasarkan survei di 38 negara memperoleh hasil bahwa hanya 35% peserta didik usia 15 tahun memiliki keterampilan kolaborasi tingkat menengah-tinggi. Sedangkan studi oleh Kemendikbudristek . melalui survei karakter peserta didik menunjukkan bahwa hanya 35% peserta didik yang menunjukkan kemampuan kolaborasi aktif dalam proyek Hal ini juga sejalan dengan TIMSS . yang menyatakan bahwa 40% peserta didik di Indonesia . elas V. masih kesulitan dalam tugas kelompok yang membutuhkan Hal ini didukung pula hasil observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran pra siklus, dapat disimpulkan bahwa keterampilan problem-solving peserta didik kelas ViA masih tergolong rendah. Peserta didik menunjukkan cara mengatasi masalah yang tidak sesuai dengan konteks. Sama halnya dengan keterampilan kolaborasi. Peserta didik masih terlihat tidak berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan permasalahan dan menolak untuk bergabung dengan kelompok yang telah dibentuk oleh guru. Maka dari itu, penting bagi guru untuk mengembangkan keterampilan problem-solving dan kolaborasi peserta didik. Salah satu solusinya dengan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 memungkinkan peserta didik berkolaborasi dalam memecahkan masalah melalui model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan computational thinking (CT). PBL adalah model inkuiri yang mana peserta didik mempelajari konten melalui proses pemecahan 34masalah . odergen, 2. Sedangkan. CT adalah serangkaian keterampilan dan proses mental yang digunakan memecahkan masalah yang kompleks melibatkan konsep-konsep komputasi, yaitu dekomposisi atau membuat masalah menjadi bagian kecil . , . , . lgorithmic thinkin. (Liu & Tseng, 2023. Bacconi et al, 2022. Wardani et al, 2022. Antonella, 2. Integrasi keduanya terbukti mampu meningkatkan keterampilan problemsolving dan kolaborasi secara signifikan (Sari. Hal ini karena CT mampu memberikan kerangka berpikir yang terstruktur dalam PBL memberikan konteks nyata dan sosial dalam menerapkan pemikiran secara kolaboratif. Penelitian oleh (Yadav et al. , 2. menunjukkan bahwa gabungan CT dalam PBL mendorong peserta didik mengembangkan strategi dalam pemecahan masalah yang sistematis dan efisien serta memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam kelompok. Sintak PBL terintegrasi CT dalam penelitian ini sebagai berikut: . orientasi dan dekomposisi masalah, guru menyajikan masalah sehingga peserta didik mampu mendekomposisikan maslah menjadi bagianbagian kecil. mengorganisasikan dan mengenal pola permasalahan, peserta didik mempelajari pola dari masalah berdasarkan pengalaman dan Menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah. melakukan investigasi/penyelidikan secara algoritma, peserta didik bersama kelompok menemukan dan menggunakan berbagai sumber valid untuk memecahkan masalah secara berurutan. kemudian menyajikan hasilnya. evaluasi solusi secara abstraksi, peserta didik melakukan refleksi terhadap solusi yang ditawarkan kemudian memilih solusi yang paling efektif (Arini & Heri, 2. Indikator problem-solving digunakan dalam penelitian ini yaitu: . tujuan/rencana. merumuskan alternatif . menerapkan solusi. evaluasi (Franestian & Wiyono, 2020. Lertysbordin & Maneewan, 2021. Putra & Pamungkas, 2. Sedangkan, indikator keterampilan kolaborasi dalam penelitian ini yaitu: . bergabung dengan https://ejournal. id/index. php/mp | 380 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . kelompok heterogen. merumuskan masalah yang ingin diselesaikan secara berkelompok. berkontribusi memberikan gagasan. ikut bertanggung jawab terhadap selesainya tugas. ikut berusaha menemukan dan memberikan opini atau ide terhadap permasalahan. bertanya kepada teman ketika menemukan . membantu teman jika memerlukan . menghargai pendapat teman. menyampaikan komentar dan opini secara sopan (Trilling & Fadel et al, 2. (Ahmad, dan(Slavin, 2. Penelitian ini memberikan jawaban tiga celah utama, yaitu: . terbatasnya penelitian mengenai model PBL yang terintegrasi dengan pendekatan CT untuk materi biologi SMP (Fan & Li, 2. kurangnya bukti empiris efektivitas model hibrid di negara berkembang (Garcya-Peyalvo, 2. , dan . belum adanya panduan operasional CT mengenai topik sistem pencernaan (Hsu, n. Kebaruan penelitian ini terletak pada: . pengembangan sintak PBL dengan pendekatan CT spesifik Pencapaian N-gain problem-solving . yang lebih tinggi dibandingkan studi yang sejenis di Asia Tenggara (Wong et al. , 2. Temuan ini diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan model PBL berbasis CT di pendidikan menengah negara berkembang ((Voskoglou, n. )). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan dan menganalisis hasil penerapan model problem based learning dengan keterampilan problem-solving dan kolaborasi peserta didik kelas ViA SMP Negeri 11 Yogyakarta materi sistem pencernaan. METODE Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model spiral Kemmis dan MC Taggart yang observasi dan refleksi. Tahap perencanaan meliputi pengembangan perangkat ajar yang observasi keterampilan kolaborasi, instrumen penilaian problem-solving, dan instrumen penilaian diri. Pada tahap pelaksanaan, pembelajaran dengan model problem-based learning dengan pendekatan computational thinking dilaksanakan sesuai dengan sintak. Observasi dilakukan bersamaan dengan Tindakan yang sesuai dengan tahap persiapan dan sistematis. E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Gambar 1. Model Spiral Kemmis dan MC Taggart Sampel dan Populasi Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 11 Yogyakarta yang berlokasi di jalan HOS Cokroaminoto nomor 127. Tegalrejo. Kec. Tegalrejo. Kota Yogyakarta. Provinsi D. Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas ViA dengan jumlah 31 peserta didik pada mata Pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA). Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Analisis Kualitatif Analisis kualitatif pada penelitian ini menggunakan sumber data hasil observasi keterampilan kolaborasi dan observasi pelaksanaan pembelajaran. Analisis Kuantitatif Analisis data kuantitatif pada penelitian ini menggunakan sumber data hasil test problem-solving peserta didik. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji N-gain dan uji paired t-test. Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan data Uji N-gain digunakan untuk (Arikunto, 2. Uji paired t-test digunakan untuk menganalisis perbedaan rata-rata data pre-test dan post-test dari kelompok yang sama dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel (Cooper, 1. Indikator Keberhasilan Kriteria keberhasilan penelitian ini dianggap berhasil apabila terdapat peningkatan skor keterampilan problem-solving dan mencapai KKM 75 dengan frekuensi peserta didik mencapai 80% dari jumlah subjek penelitian atau memperoleh minimal nilai dalam kategori B . https://ejournal. id/index. php/mp | 381 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 HASIL PENELITIAN Penelitian Tindakan kelas dilaksanakan di kelas ViA SMP Negeri 11 Yogyakarta tahun ajaran 2023/2024. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan dan mengevaluasi hasil penelitian yang meliputi data perencanaan, proses pembelajaran, tingkat keterampilan problem-solving dan kolaborasi peserta didik pada mata Pelajaran IPA materi sistem Data perencanaan mencakup pengembangan modul ajar beserta perangkat ajar lainnya. Sedangkan, proses pembelajaran mencakup kegiatan awal, inti, dan akhir. Hasil problem-solving dan data hasil observasi keterampilan kolaborasi peserta didik yang diukur menggunakan instrumen tes dan sebelum pembelajaran. Pada kegiatan inti, peneliti membagikan LKPD dan memberikan orientasi dan mendekomposisikan masalah. Kemudian, peserta didik mengorganisasikan dan mengidentifikasi pola dari permasalahan yang tersaji dalam kejadian sehari-hari. Kemudian, peserta didik melakukan percobaan penyajian hasil dan evaluasi dan solusi secara Pada kegiatan inti, guru melakukan pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran Deskripsi data pelaksanaan tindakan Siklus 1 dilakukan dalam empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Berikut ini merupakan deskripsi setiap tahapan: Perencanaan Tahap perencanaan dimulai dengan menentukan kompetensi yang akan disasar pada penelitian ini. Peneliti memilih capaian kompetensi fase D yaitu melakukan analisis untuk menemukan keterkaitan sistem organ dan fungsinya serta kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem pencernaan. Instrumen yang disiapkan adalah perangkat anjar yang terdiri dari modul ajar, bahan ajar, penilaian, media ajar. LKPD, penilaian diri keterampilan kolaborasi, lembar penilaian problem-solving keterampilan kolaborasi. Pada siklus ini, peserta didik menggunakan LKPD yang berisi menyelesaikan permasalahan yang disajikan oleh peneliti. Observasi pelaksanaan pembelajaran Pelaksanaan Kegiatan pembelajaran dimulai dengan pendahuluan, mengondisikan peserta didik, apersepsi, motivasi, dan pre-test untuk mengukur kemampuan awal peserta didik Observasi Rekapitulasi hasil observasi terhadap keterlaksanaan pembelajaran, keterampilan kolaborasi dan hasil keterampilan problemsolving peserta didik pada siklus 1 disajikan sebagai berikut: Tabel 1 Rekapitulasi Hasil Observasi Guru Siklus 1 Indikator Skor Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup Faktor Penunjang Jumlah Rata-rata Kriteria Sangat Baik Hasil pembelajaran pada siklus 1 menunjukkan capaian yang sangat baik dengan total skor 76 dari 84 . ,5%). Kegiatan inti pembelajaran menjadi kontributor paling besar dengan nilai 41, diikuti factor penunjang . , penutup . , dan pendahuluan . Nilai rata-rata yang diperolah adalah 3,6 dan dapat disimpulkan bahwa seluruh komponen pembelajaran telah dilaksanakan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi kategori sangat baik. Observasi Keterampilan kolaborasi Berikut ini merupakan hasil observasi keterampilan kolaborasi peserta didik pada Tabel 2. Hasil observasi keterampilan kolaborasi berdasarkan indikator Indikator A Bergabung dengan kelompok heterogen A Merumuskan masalah yang ingin diselesaikan secara berkelompok A Berkontribusi memberikan gagasan A Ikut bertanggung jawab terhadap selesainya tugas A Ikut berusaha menemukan dan memberikan opini atau ide terhadap A Ikut berusaha menemukan dan memberi opini atau ide terhadap Frekuensi 77,4% 69,5% 71,5% 68,5% 85,2% 68,6% Kategori Baik Cukup Baik Cukup Baik Cukup https://ejournal. id/index. php/mp | 382 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Indikator A Bertanya kepada teman ketika menemukan masalah A Membantu teman jika memerlukan bantuan A Menghargai pendapat teman A Menyampaikan komentar dan opini secara sopan Hasil observasi keterampilan kolaborasi menunjukkan variasi pencapaian pada masingmasing indikator yang diamati. Indikator Aubertanya kepada teman ketika menemukan masalahAy mencapai skor tertinggi . ,2%. Sebaliknya. Aumembantu teman jika memerlukan bantuanAy menjadi indikator dengan skor terendah . ,6%). Secara umum. Sebagian besar indikator . telah mencapai kategori Namun, meski begitu, terlihat skor yang dicapai masih mendekati skor dengan kategori cukup sehingga perlu peningkatan pada masing-masing kolaborasi pada siklus 2. Hasil keterampilan problem-solving Berikut ini merupakan skor keterampilan problem-solving pada siklus 1. Tabel 3 Hasil Skor Keterampilan Problem-Solving Indikator Skor Kategori Identifikasi Masalah Cukup Menentukan Kurang Tujuan/Rencana Merumuskan Kurang Alternatif Solusi Menerapkan Solusi Cukup Evaluasi Kurang Berdasarkan tabel 3, dapat diketahui bahwa hasil analisis keterampilan problemsolving menunjukkan dominasi kategori kurang dengan skor terendah masih mencapai 25% pada indikator menentukan tujuan/rencana dan Hal ini mengindikasi lemahnya kemampuan perencanaan dan refleksi peserta Namun, pada indikator identifikasi masalah mencapai 75% . , peserta didik masih kesulitan dalam merumuskan solusi kreatif dan menerapkannya secara konsisten. Data ini menjadi sorotan untuk intervensi khusus dalam melatih keterampilan problemsolving. Refleksi Pada siklus I terdapat beberapa refleksi perbaikan untuk siklus selanjutnya, di antaranya yaitu: . hasil skor keterampilan problem-solving mencapai indikator ketercapaian penelitian. pada saat pelaksanaan pembelajaran, peneliti perlu memanajemen waktu pembelajaran dengan baik agar semua yang telah direncanakan pada modul ajar terlaksana E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Frekuensi 89,2% 66,6% 69,2% 77,2% Kategori Baik Cukup Cukup Baik dengan baik. peneliti hanya bertindak sebagai fasilitator yang memfasilitasi diskusi peserta didik tanpa ikut terlibat. pada saat pembentukan kelompok, sebaiknya perlu dibedakan lagi anggotanya agar lebih meningkatkan kolaborasi dengan peserta didik lain dalam kelompok heterogen. masih terdapat peserta didik yang mengeluh dan melakukan negosiasi untuk membentuk kelompok sendiri, artinya pada indikator dan . masih banyak kelompok yang belum menuntaskan pekerjaan yang ada di LKPD uji makanan. Deskripsi data pelaksanaan tindakan Siklus 1 dilakukan dalam empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Berikut ini merupakan deskripsi setiap tahapan: Perencanaan Adapun langkah-langkah perencanaan yang dilakukan peneliti pada siklus II ini tidak jauh berbeda dengan siklus I, yaitu sebagai berikut: . membuat modul ajar yang menggunakan model pembelajaran PBL. menyiapkan media ajar. membuat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. menyusun LKPD dengan pendekatan CT. lembar observasi keterampilan kolaborasi. angket penilaian diri keterampilan . keterampilan problem solving. keberhasilan penelitian. Pelaksanaan Berdasarkan hasil perencanaan, maka pembelajaran siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 31 Juli 2023 dan Rabu, 2 Agustus 2023 materi sistem pencernaan dan zat aditif pada Pada siklus II, tindakan diawali dengan kegiatan pembukaan yang berisi motivasi, dan pre-test untuk mengukur kemampuan awal peserta didik sebelum Pada kegiatan inti, peneliti membagikan LKPD dan memberikan orientasi dan mendekomposisikan masalah. Kemudian, mengidentifikasi pola dari permasalahan yang tersaji dalam kejadian sehari-hari. Kemudian, peserta didik melakukan percobaan secara https://ejournal. id/index. php/mp | 384 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . algoritma, pengembangan dan penyajian hasil dan evaluasi dan solusi secara abstrak. Pada kegiatan inti, guru melakukan posttest, refleksi, simpulan kegiatan pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Observasi Hasil pelaksanaan pembelajaran dan peserta didik pada siklus 1 disajikan sebagai berikut: Observasi Proses Pembelajaran Berikut ini merupakan tabel hasil observasi proses keterlaksanaan pembelajaran. Tabel 4 Hasil Observasi Proses Keterlaksanaan Pembelajaran Indikator Skor Pendahuluan Kegiatan Inti Penutup Faktor Penunjang Jumlah Nilai Maksimal Rata843,8 E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Indikator Kriteria Skor Sangat Baik Berdasarkan tabel 6 diperoleh data bahwa hasil keterlaksanaan pembelajaran menunjukkan kinerja sangat baik dengan total skor 81 dari 84 . ,4%). Kegiatan inti pada kontributor terbesar . ,1%), diikuti faktor penunjang, penutup, dan pendahuluan. Nilai rata-rata 3,8 menunjukkan skor yang mendekati skor maksimal, memberi Gambaran bahwa seluruh aspek pembelajaran telah terlaksana dengan optimal. Observasi keterampilan kolaborasi Berikut ini merupakan tabel hasil observasi keterampilan kolaborasi dalam Tabel 5 Hasil observasi keterampilan kolaborasi siklus 2 Indikator Frekuensi Kategori Bergabung dengan kelompok heterogen Baik Merumuskan masalah yang ingin diselesaikan 81,2% Baik secara berkelompok Berkontribusi memberikan gagasan Baik Ikut bertanggung jawab terhadap selesainya tugas Baik Ikut berusaha menemukan dan memberikan opini Baik atau ide terhadap permasalahan Ikut berusaha menemukan dan memberi opini atau Baik ide terhadap permasalahan Bertanya kepada teman ketika menemukan masalah Sangat Baik Membantu teman jika memerlukan bantuan 81,2% Baik Menghargai pendapat teman 83,5% Baik Menyampaikan komentar dan opini secara sopan Sangat Baik Hasil observasi keterampilan kolaborasi pada siklus 2 menunjukkan peningkatan yang signifikan pada semua indikator. Kategori di dominasi dengan AuBaikAy dan AuSangat BaikAy. Terdapat dua indikator unggulan yang mencapai 90% (Aubertanya kepada temanAy dan AuMenyampaikan sopanA. Sementara indikator lain seperti kontribusi gagasan, tanggung jawab, dan kerja kelompok heterogen secara konsisten berada pada kisaran 81-83%. Tidak di temukan lagi indikator dengan kategori AucukupAy. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbaikan secara menyeluruh. Hasil keterampilan problem-solving Berikut ini merupakan tabel hasil keterampilan problem-solving. Tabel 6 Hasil Skor Keterampilan Problem-Solving Indikator Identifikasi masalah Menentukan tujuan/rencana Merumuskan alternatif solusi Menerapkan solusi Evaluasi Hasil analisis keterampilan problemsolving menunjukkan dominasi indikator dalam kategori baik. Indikator terkuat dengan kategori Skor Kategori Sangat baik Baik Baik Baik Baik sangat baik terletak pada mengidentifikasi masalah dengan skor rerata 89% dan merumuskan alternatif Solusi dengan 82%. https://ejournal. id/index. php/mp | 384 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . Target peningkatan keterampilan problemsolving menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan siklus 1. Refleksi Tindakan pada siklus II secara keseluruhan telah sesuai dengan rencana tindakan yang dibuat. Hasil refleksi pada siklus II yaitu: . 80% dari total peserta didik telah mencapai skor di atas KKM 75 untuk keterampilan problem solving. Hasil penilaian observasi dan angket penilaian diri juga menunjukkan bahwa peserta didik telah mengalami peningkatan dibandingkan siklus I dan telah mencapai 80% dari total peserta didik yang tuntas KKM. PEMBAHASAN Penelitian ini membahas mengenai validitas model Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan Computational Thinking (CT) dalam meningkatkan keterampilan problem-solving dan kolaborasi peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan problem-solving dengan N-gain 0. 83 kategori tinggi dan 0. untuk kolaborasi. Temuan ini sejalan dengan teori (Vygotsky. , 1. yang menekankan Hal ini sejalan dengan teori (John Dewey et al. , n. ) mengenai dasar pemecahan masalah, yaitu pemikiran reflektif. Integrasi PBL dan CT mampu menciptakan lingkungan belajar yang sistematis mendorong keterampilan abad-21 khususnya problemsolving dan kolaborasi (Trilling & Fadel et al. Slavin, 2. Siklus 1 pada penelitian ini menunjukkan bahwasanya kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah masih rendah, terutama pada menentukan tujuan . %) dan evaluasi Solusi . %). Hal ini mengindikasi bahwasanya peserta didik masih belum terbiasa dengan pendekatan terstruktur CT. Pada siklus 2, terjadi intervensi model PBL dengan pendekatan CT. Pada siklus 2 ini, terjadi peningkatan drastis, khususnya pada indikator mengidentifikasi masalah . %) dan Solusi . %). Peningkatan ini menjadi bukti bahwa CT memberikan kerangka berpikir logis saat memecahkan suatu masalah yang kompleks. Hal ini sesuai dengan teori (Bocconi, 2. dan (Liu et al. , 2. yang menyampaikan bahwa suatu masalah yang kompleks akan mampu di uraikan menjadi masalah kecil dan mampu dipecahkan secara logis dengan struktur CT. Sementara itu, keterampilan kolaborasi peserta didik juga mengalami kemajuan pesat dengan indikator bertanya kepada teman dan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 menyampaikan pendapat secara sopan mencapai 90%. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Sari, 2. bahwasanya kombinasi PBL dan CT mampu memperkuat dinamika kelompok melalui tugas-tugas berbasis dengan masalah. Temuan dari penelitian ini memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan Pendidikan secara global. Mengacu pada data (PISA, 2. dan TIMSS . menunjukkan bahwa tingkat problem-solving dan kolaborasi peserta didik Indonesia masih tergolong rendah, sejalan dengan hasil pra siklus penelitian ini yang menunjukkan skor Ngain problem-solving 0. 83 dan 0. 91 untuk Maka, adanya integrasi PBL dengan pendekatan CT, menjawab kebutuhan mengantisipasi tuntutan WEE . mengenai pentingnya keterampilan problem-solving dan kolaborasi di dunia kerja. Penelitian ini memiliki keterbatasan dari segi sampel yang terbatas hanya pada satu kelas serta ketergantungan pada instrumen observasi yang berpotensi Untuk disarankan mengukur sampel yang lebih luas dan mampu mengukur dampak jangka panjang pada model ini (Care et al. , 2018. Secara keseluruhan, penelitian ini memberi bukti empiris bahwa model PBL berpendekatan CT efektif dalam meningkatkan keterampilan abad 21, khususnya problemsolving dan kolaborasi. Implikasinya, guru dan mempertimbangkan integrasi CT ke dalam model pembelajaran PBL maupun model lain yang bersifat konstruksional, tidak hanya terbatas pada mata Pelajaran IPA namun juga bidang lain. Selain itu, pelatihan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang berbasis PBL dengan pendekatan CT menjadi kunci keberhasilan implementasi yang lebih luas. Dengan demikian, temuan ini tidak hanya berkontribusi terhadap perkembangan teori belajar namun juga praktik Pendidikan yang lebih adaptif terhadap era digital. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran problem-based learning (PBL) Computational Thinking (CT) keterampilan problem-solving (N-gain 0. dan kolaborasi (N-gain 0. secara signifikan peserta didik kelas ViA pada materi sistem Peningkatan ini tergambarkah jelas berdasarkan hasil perbandingan siklus 1 dan siklus 2. Penelitian ini membuktikan bahwa efektivitas model pembelajaran PBL dengan https://ejournal. id/index. php/mp | 386 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desember . pendekatan CT dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21 dan memberikan rekomendasi pada praktisi pendidikan untuk menerapkan model ini dengan memperhatikan manajemen waktu dan pengelompokan peserta didik secara heterogen. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam lingkup sampel, namun temuan ini menawarkan strategi pembelajaran inovatif yang beradaptasi pada tantangan era DAFTAR PUSTAKA