Pelatihan Expository Preaching sebagai Strategi Pemberdayaan Pelayan Jemaat di GPIBI Immanuel Worship Yogyakarta Winardi Tarigan*. Yohanna Cristiani Oktavia Malau. Frendy S. Gilberth Ebzan Onora Universitas Kristen Immanuel Email koresponden: winardi_tarigan@ukrim. Submit: 16-06-2025 Review: 07, 08-08-2025 Direvisi: 12-08-2025 Diterbitkan: 30-08-2025 Keywords: community service Kata Kunci: expository preaching, pemberdayaan jemaat, p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2025. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract This community service program aimed to empower the congregation of GPIBI Immanuel Worship Yogyakarta in the ministry of the Word. Many members, especially youth, lacked confidence to preach due to the absence of formal training. There was also a common belief that preaching is solely the responsibility of pastors or those with special spiritual gifts. In fact, preaching is a communication skill that can be learned and developed. address this need, an expository preaching training was conducted to equip participants with the ability to interpret Scripture contextually and deliver it systematically. The training methods included interactive lectures, group discussions, sermon simulations, evaluations, and The research method used is qualitative with a descriptive approach, where data is collected through observation, questionnaires, interviews, and literature analysis. The results showed significant improvement in participantsAo biblical understanding, confidence, and engagement in preaching, both in church and within their communities. This training strengthened a participatory and text-centered preaching culture, contributing to healthier and more contextual church growth. Abstrak Kegiatan memberdayakan jemaat GPIBI Immanuel Worship Yogyakarta dalam pelayanan firman. Banyak jemaat, khususnya pemuda, merasa kurang percaya diri untuk berkhotbah karena belum pernah mendapat pelatihan formal. Masih berkembang anggapan bahwa berkhotbah hanya tugas gembala atau mereka yang memiliki karunia khusus. Padahal, berkhotbah adalah keterampilan komunikasi yang dapat Untuk menjawab kebutuhan tersebut, diselenggarakan pelatihan expository preaching guna membekali jemaat memahami teks Alkitab secara kontekstual dan menyampaikannya secara sistematis. Kegiatan yang dilakukan dalam pelatihan ini meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi, evaluasi, dan pendampingan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, data melalui observasi, kuesioner, wawancara, serta analisis literatur. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman, kepercayaan diri, dan keterlibatan jemaat dalam pelayanan firman, baik di gereja maupun dalam komunitas mereka. Pelatihan ini memperkuat budaya pelayanan yang partisipatif, berbasis teks Alkitab, serta mendukung pertumbuhan gereja yang lebih sehat dan kontekstual. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 PENDAHULUAN Pemberdayaan jemaat dalam pelayanan merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan spiritual dan pertumbuhan gereja. Gereja yang bertumbuh adalah gereja dimana anggotanya berfungsi dengan baik, terlibat aktif dalam pelayanan, dan memiliki keterampilan yang memadai (Simson Hutagalung. Janes Sinaga, 2. Dalam konteks ini, pemberdayaan jemaat tidak hanya mencakup pelatihan teknis tetapi juga penguatan spiritualitas yang mendalam, agar pelayanan yang dilakukan dapat membawa dampak yang nyata bagi pertumbuhan iman jemaat. Gereja memiliki tanggung jawab untuk memotivasi dan memfasilitasi jemaat agar siap terlibat dalam pelayanan, termasuk menyampaikan firman Tuhan secara sistematis dan mendalam (Winardi & Tarigan. Salah satu pendekatan yang dapat mendukung tujuan ini adalah expository preaching, yaitu metode khotbah yang berfokus pada penjelasan teks Alkitab secara mendalam dan kontekstual. Expository preaching tidak hanya menyampaikan pesan firman Tuhan secara harfiah, tetapi juga mengungkap makna, relevansi, dan aplikasi dari teks Alkitab dalam kehidupan sehari-hari. Penekanan pada konteks historis, latar budaya, dan pesan teologis dari teks memungkinkan jemaat untuk lebih memahami firman Tuhan secara holistik. Menurut Robinson, expository preaching merupakan cara yang efektif untuk menggali pesan yang terkandung dalam Alkitab dan menyampaikannya dengan cara yang relevan bagi pendengar (Robinson, 2. Namun, di banyak gereja, pelayan sering menghadapi tantangan dalam menyampaikan khotbah berbasis teks. Beberapa pelayan cenderung menggunakan pendekatan tematis atau naratif yang kurang memperhatikan konteks asli Alkitab. Pendekatan ini, meskipun dapat memberikan wawasan yang relevan bagi jemaat, seringkali mengabaikan pesan mendalam yang terkandung dalam teks (Ayub Rusmanto. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan pemahaman teologis di antara jemaat. Akibatnya, khotbah-khotbah ini seringkali berisi banyak humor dan hal-hal yang tidak relevan, sehingga mengurangi porsi pengajaran Alkitab yang mendalam. Kesetiaan pengkhotbah terhadap teks Alkitab dalam khotbah sangat penting, pengkhotbah adalah hamba firman, bukan penyampai pendapat pribadi atau keuntungan pribadi (Sunarto. Menurut Stanley dan Jones dalam Communicating for a Change, penyajian firman Tuhan seharusnya berpusat pada transformasi audiens melalui pesan firman Tuhan. Namun, dalam praktiknya, beberapa khotbah seringkali berfokus pada elemen hiburan yang tidak relevan, seperti penggunaan humor yang berlebihan atau cerita yang tidak terkait langsung dengan teks Alkitab. Humor memang penting tetapi bukan isi utama dari khotbah dan tidak boleh disampaikan secara berlebihan (Solibut, 2. Akibatnya, khotbah menjadi kurang efektif dalam menggali makna mendalam dari firman Tuhan dan tidak memberikan pemahaman teologis yang komprehensif kepada jemaat. Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI) Immanuel Worship memiliki jemaat dengan karakteristik yang beragam, baik dari segi usia, pekerjaan, maupun latar belakang budaya. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri dalam kehidupan Pelatihan Expository Preaching A (W. Tarigan. Malau. Frendy S. Onor. komunitas gereja karena setiap anggota membawa pengalaman, talenta, dan perspektif yang unik. Namun, dinamika tersebut juga memunculkan tantangan, khususnya dalam pemberdayaan jemaat agar terlibat aktif dalam pelayanan yang efektif dan bermakna. Berdasarkan pengamatan penulis, salah satu tantangan utama yang muncul adalah terkait kesempatan berkhotbah atau memimpin renungan. Gereja memberikan peluang bagi jemaat untuk menyampaikan firman dalam berbagai wadah pelayanan seperti kelompok kecil, persekutuan lingkungan, ibadah rumah tangga, maupun acara persekutuan di tempat kerja. Akan tetapi, sebagian besar anggota jemaat dalam sesi wawancara mengakui bahwa mereka merasa kurang percaya diri dan takut salah dalam menyampaikan khotbah karena belum pernah menerima pelatihan yang memadai mengenai teknik penyampaian, penafsiran Alkitab yang benar, maupun penyusunan materi khotbah yang sistematis dan relevan. Permasalahan ini bukan hanya menyangkut kurangnya keterampilan teknis, tetapi juga berkaitan dengan minimnya pemahaman teologis tentang hakikat khotbah sebagai sarana pewartaan firman Allah yang memerlukan kesungguhan, tanggung jawab, dan persiapan rohani yang matang. Tidak jarang, jemaat memandang kesempatan berkhotbah hanya sebagai tugas formal atau pengisi acara ibadah, bukan sebagai bagian dari panggilan pelayanan yang kudus. Lebih jauh, tantangan ini juga berhubungan dengan beberapa aspek lain, seperti: Pertama, kesadaran akan pentingnya kualitas khotbah dalam ibadah. Jemaat masih belum memahami bahwa khotbah yang baik dapat membangun iman, menguatkan jemaat, dan menuntun pertumbuhan rohani, sementara khotbah yang kurang terstruktur dapat mengurangi dampak ibadah secara keseluruhan. Kedua, konsistensi persiapan. Biasanya jemaat hanya mempersiapkan materi secara singkat menjelang hari ibadah, sehingga isi khotbah cenderung dangkal dan kurang aplikatif. Ketiga, pendekatan komunikasi yang Biasanya jemaat yang menyampaikan firman kesulitan menyesuaikan gaya penyampaian dengan konteks audiens, terutama di tengah jemaat yang beragam secara generasi dan latar belakang. Keempat, pembinaan berkelanjutan. Kurangnya program pelatihan dan pendampingan khusus bagi jemaat yang ingin terlibat dalam pelayanan khotbah menyebabkan potensi pelayanan tidak berkembang maksimal. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya strategis dan terencana untuk membekali jemaat dalam keterampilan berkhotbah, memperkuat pemahaman teologis, dan membentuk sikap rohani yang benar, sehingga kesempatan berkhotbah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi pelayanan yang penuh makna dan memberi dampak positif bagi pertumbuhan rohani gereja. Di samping itu juga jemaat perlu memahami bahwa khotbah harus mendapat perhatian penting dalam ibadah baik dalam tahap persiapan dan juga proses penyampaiannya harus dengan baik dan benar (Lisaldy et al. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk membekali jemaat dengan keterampilan yang memadai dalam menyampaikan firman Tuhan. Pelatihan expository preaching dirancang untuk menjawab kebutuhan ini dengan membekali jemaat kemampuan menganalisis teks Alkitab secara komprehensif, memahami konteks historis dan budaya dari teks tersebut, serta menyusunnya menjadi khotbah yang relevan dan Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Hal ini perlu dilakukan secara serius, baik dan benar karena khotbah merupakan pemberitaan pesan Allah bagi umat-Nya berdasarkan penggalian Alkitab sebagai firman Allah (Wijaya, 2. Pelatihan ini juga bertujuan untuk mengatasi kesenjangan antara keinginan jemaat untuk terlibat dalam pelayanan khotbah di ibadah-ibadah yang dilakukan dengan keterampilan yang mereka miliki. METODE PELAKSANAAN Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif secara khusus pendekatan Metode ini digunakan untuk mengetahui fenomena yang bersifat konkret melalui pengumpulan informasi dan data melalui wawancara, observasi serta analisis literatur atau dokumen-dokumen yang terkait, sehingga data yang diperoleh merupakan apa yang dilihat, didengar, dialami di lapangan. Sedangkan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan metode seminar, diskusi dan workshop. Metode seminar, diskusi, dan workshop merupakan pendekatan pembelajaran partisipatif yang sering digunakan dalam pelatihan atau kegiatan pengembangan kapasitas. Seminar digunakan untuk menyampaikan informasi secara ilmiah oleh narasumber, diskusi untuk membangun dialog dan berpikir kritis antarpeserta (Siregar, 2. , sedangkan workshop bertujuan melatih peserta melalui praktik langsung dengan bimbingan fasilitator (Kamlasi & Salu, 2. Hal ini saling melengkapi dalam membangun pemahaman teoritis dan keterampilan praktis secara Metode pelaksanaan pelatihan ini menggunakan metode seminar, yaitu kombinasi antara pembelajaran teori, diskusi, praktik langsung, serta evaluasi dan Pelaksanaan pelatihan expository preaching dirancang dengan pendekatan yang menggabungkan teori dan praktik secara integratif guna membekali peserta dengan pemahaman mendalam serta keterampilan menyampaikan khotbah yang efektif. Kegiatan dimulai dengan sesi teori, peserta mempelajari konsep dasar expository preaching berdasarkan literatur utama yang dibagikan kepada peserta dalam bentuk modul, yang menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks historis, budaya, dan linguistik dalam menafsirkan teks Alkitab. Dalam sesi praktik, peserta diberikan teks untuk dianalisis dan diminta menyusun serta menyampaikan khotbah mereka melalui simulasi, dengan evaluasi berdasarkan pemahaman teologis, keterampilan komunikasi, dan relevansi penyampaian. Selanjutnya, sesi diskusi dan tanya jawab menjadi ruang refleksi atas tantangan peserta dalam menyusun khotbah, didampingi oleh masukan mentor dan prinsip komunikasi, khususnya tentang kejelasan pesan. Terakhir, pendampingan dan evaluasi dilakukan melalui sesi individual dan perbandingan hasil pre-test dan post-test. Pelatihan yang berbasis teori, praktik, dan evaluasi ini diharapkan membentuk keterampilan expository preaching yang kuat, berkelanjutan, dan berdampak dalam pelayanan jemaat. Pelatihan Expository Preaching A (W. Tarigan. Malau. Frendy S. Onor. HASIL DAN PEMBAHASAN Expository Preaching dan Langkah-langkahnya Khotbah ekspositori . xpository preachin. adalah metode pengkhotbah yang menempatkan teks Alkitab sebagai dasar utama dalam menyusun khotbah. Dengan pendekatan ini, pengkhotbah melakukan eksegese mendalam yang meliputi analisis historis, gramatikal, dan kontekstual untuk mengungkap maksud asli penulis serta relevansinya bagi kehidupan saat ini (Robinson, 2. Berdasarkan kajian itu, pengkhotbah merumuskan satu ide besar . ig ide. yang muncul secara organik dari teks, lalu menyampaikannya secara sistematis baik secara verse-by-verse maupun melalui bagian yang lebih besar dengan tujuan agar pendengar memahami, mengalami, dan merespon Firman Allah sesuai konteks hidup mereka (Evans, 1. Di samping itu juga, khotbah bertujuan agar umat percaya kepada Allah, dan diselamatkan (Parningotan & Siskawaty, 2. serta menjangkau yang orang-orang yang belum percaya (M. Sibarani. Pada hakekatnya, khotbah ekspositori tidak sekadar menjelaskan teks, melainkan membiarkan Alkitab berbicara melalui pengkhotbah, dihayati oleh Roh Kudus, dan diterapkan dalam kehidupan nyata jemaat (Azurdia i, 2. Adapun manfaat expository preaching dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yakni manfaat bagi pengkhotbah dan manfaat bagi pendengar atau umat. Manfaat bagi Pengkhotbah di antaranya adalah: menumbuhkan tanggung jawab dan integritas, memupuk percaya diri yang benar, memberi dukungan wibawa dalam aplikasi, menumbuhkan pengetahuan Alkitab yang menyeluruh, menyediakan bahan khotbah yang tak pernah habis, mengangkat stres dalam memilih topik. Sedangkan manfaat bagi pendengar adalah: memberi makanan rohani yang sehat, menumbuhkan pemahaman Alkitab yang utuh, menumbuhkan kekaguman pada firman Tuhan, memberi makanan rohani yang seimbang (Blegur et al. , 2025. Solihin, 2. Jenis expository preaching dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: pertama, khotbah tekstual, yakni khotbah yang persiapan pertama-tama dilakukan pengkhotbah adalah menyelidiki teks atau ayat dalam Alkitab. Apakah itu satu ayat atau beberapa ayat bahkan mungkin saja satu kitab pendek. Kedua, khotbah tekstual, yakni khotbah yang dalam persiapannya, yang pertama-tama ditemukan adalah topiknya, bisa berupa khotbah biografi atau tokoh khotbah teologi atau doktrin dan khotbah isu atau masalah masa kini. Khotbah yang dipilih untuk dipersiapkan dalam pelatihan ini adalah khotbah tekstual, sedangkan khotbah topikal diberikan gambaran, langkah dan contohnya secara umum (Anggraito, 2. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam mempersiapkan khotbah tekstual adalah sebagai berikut: pertama, memilih nats atau teks Kitab Suci. Kedua, menemukan amanat teks melalui proses eksegesis. Ketiga, membuat amanat dan tujuan khotbah. Keempat, merancang struktur khotbah. Kelima, mengembangkan isi khotbah melalui penjelasan, ilustrasi dan aplikasi. Kelima, membuat pendahuluan dan penutup khotbah. Keenam, menyampaikan khotbah dengan kuasa Roh Kudus dan teknik public speaking yang baik dan benar (Brotosudarmo, 2017. Hutauruk et al. , 2021. Solihin, 2. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Dalam rangka memberdayakan pelayan jemaat melalui pelatihan khotbah ekspositori . xpository preachin. , diperlukan strategi yang terencana dan terstruktur agar peserta pelatihan tidak hanya menguasai teknik, tetapi juga memiliki pemahaman teologis yang benar serta keterampilan praktis dalam menyampaikan Firman Tuhan. Berdasarkan konteks pelayanan di GPIBI Immanuel Worship, strategi yang ditawarkan penulis mencakup hal-hal berikut: Pertama, pembekalan teori dan pemahaman teologis yang kuat. Sebelum mempraktikkan penyusunan khotbah, peserta perlu memahami konsep dasar khotbah ekspositori, perbedaan dengan metode khotbah lain, serta prinsip teologis yang Tahap ini meliputi: penjelasan definisi dan tujuan expository preaching, pembahasan peran khotbah sebagai sarana pewartaan Firman Allah yang setia pada teks, pemahaman akan peran Roh Kudus dalam proses persiapan dan penyampaian. Tujuannya adalah membentuk pola pikir . bahwa khotbah bukan sekadar komunikasi publik, melainkan pelayanan rohani yang berakar pada kebenaran Alkitab. Kedua, pelatihan keterampilan menafsirkan Alkitab. Pelayan jemaat perlu dibekali kemampuan menafsir teks Alkitab secara akurat menggunakan metode historis, gramatikal, dan kontekstual. Langkah ini meliputi: memilih teks secara tepat dan menggali makna teks melalui studi bahasa asli . ila memungkinka. , latar sejarah, dan struktur literer. merumuskan big idea yang muncul organik dari teks. Dengan keterampilan eksegesis yang kuat, pengkhotbah dapat menghindari penafsiran yang keliru dan memastikan bahwa isi khotbah setia pada maksud penulis Alkitab. Ketiga, penyusunan struktur khotbah yang sistematis. Pelatihan diarahkan agar peserta mampu menyusun kerangka khotbah yang logis dan mudah diikuti pendengar. Strategi ini mencakup: menentukan tujuan khotbah . nformasi, transformasi, atau membagi isi ke dalam poin-poin utama yang mengalir logis. penjelasan, ilustrasi, dan aplikasi yang relevan. Struktur yang rapi akan membantu jemaat menangkap pesan utama dengan jelas. Keempat, pengembangan teknik penyampaian . elivery skill. Selain penguasaan materi, khotbah ekspositori perlu disampaikan dengan cara yang menarik dan efektif. Pelatihan ini mencakup: teknik public speaking . ntonasi, artikulasi, bahasa tubu. pemanfaatan media pendukung seperti slide, gambar, atau alat peraga. pengendalian rasa gugup dan membangun kontak mata dengan audiens. Penguasaan teknik penyampaian akan meningkatkan daya tarik khotbah dan membuat pesan lebih mengena. Kelima, latihan praktik dan simulasi berkhotbah. Strategi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan langsung proses penyusunan dan penyampaian khotbah di hadapan rekan peserta dan mentor. Proses ini meliputi: presentasi khotbah simulasi. penerimaan masukan . dari pelatih dan rekan. perbaikan dan penguatan berdasarkan evaluasi. Pendekatan learning by doing ini membantu peserta menginternalisasi keterampilan yang dipelajari. Keenam, pendampingan dan mentoring berkelanjutan. Agar keterampilan berkhotbah terus berkembang, dibutuhkan bimbingan pasca-pelatihan. Strateginya meliputi: menugaskan peserta berkhotbah di ibadah kecil terlebih dahulu sebelum di Pelatihan Expository Preaching A (W. Tarigan. Malau. Frendy S. Onor. ibadah utama. memberikan coaching secara personal oleh hamba Tuhan senior. melakukan evaluasi rutin dan refleksi pelayanan. Pendampingan ini memastikan proses belajar tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Ketujuh, penanaman etika dan spiritualitas pelayan firman. Keberhasilan expository preaching tidak hanya diukur dari teknik dan isi, tetapi juga dari karakter rohani Strategi ini mencakup: mengajarkan integritas pribadi dan keteladanan mendorong disiplin rohani . oa, pembacaan Alkitab, meditas. sikap rendah hati dan ketergantungan pada Allah. Spiritualitas yang sehat akan membuat pelayanan khotbah lebih berkuasa dan berdampak. Hasil dari pelatihan expository preaching menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan peserta. Berdasarkan data evaluasi yang dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, serta observasi langsung selama sesi pelatihan, beberapa capaian utama yang berhasil dicapai adalah sebagai berikut: Peningkatan Pemahaman dan Keterampilan Expository Preaching Peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam khotbah ekspositori merupakan indikator utama keberhasilan pelatihan ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, serta observasi selama sesi pelatihan, terlihat peningkatan yang signifikan dalam pemahaman peserta tentang metode ekspositori dalam berkhotbah. Sebelum pelatihan dimulai, dilakukan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai expository preaching. Hasilnya menunjukkan bahwa: Pertama, 20% peserta memiliki pemahaman dasar tentang expository preaching. Kedua, 45% peserta memiliki pemahaman yang terbatas, hanya mengetahui konsepnya tanpa memahami penerapannya. Ketiga, 35% peserta belum pernah mengenal metode ini Setelah pelatihan, dilakukan post-test dengan hasil sebagai berikut: pertama, 85% peserta mampu menjelaskan konsep expository preaching dengan benar. Kedua, 70% peserta dapat menyusun garis besar khotbah ekspositori yang sesuai dengan prinsip-prinsip homiletika. Ketiga, 60% peserta merasa lebih percaya diri dalam menyampaikan khotbah berbasis eksposisi. Peningkatan ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh pembicara dengan mengisi modul yang ada, yang menekankan pentingnya sistematika dan struktur dalam penyampaian firman. Salah satu tantangan utama dalam expository preaching adalah memahami teks Alkitab secara kontekstual. Pelatihan ini membekali peserta dengan teknik hermeneutika yang menitikberatkan pada beberapa hal, yakni, pertama, analisis konteks historis. Peserta diajarkan untuk memahami latar belakang sejarah teks Alkitab sebelum mengaplikasikannya dalam khotbah. Kedua, pendekatan linguistik, yakni menggunakan sumber-sumber seperti tafsir Alkitab untuk memahami makna kata-kata asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani. Ketiga, penerapan teologi sistematis. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap interpretasi selaras dengan doktrin Alkitab yang benar. Selain pada pemahaman, pelatihan juga meningkatkan keterampilan peserta yang terlihat saat sesi Latihan Praktik dan Simulasi. Untuk meningkatkan keterampilan peserta, pelatihan ini menekankan pada praktik langsung. Setiap peserta diberikan Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 kesempatan untuk: Menyusun Garis Besar Khotbah, dengan menggunakan model yang dikembangkan oleh peserta terlibat langsung mengerjakan ataupun membuat garis besar khotbah sesuai dengan petunjuk di lembar kerja Dalam pelatihan, peserta mengerjakan terlebih dahulu membuat khotbah ekspositori berdasarkan 7 tahapan pada nats Matius 6: 5-8. Kemudian, menyampaikan Khotbah Simulasi: Peserta menyampaikan khotbah mereka di depan mentor dan mendapat evaluasi langsung. Evaluasi dilakukan berdasarkan aspek teologis, struktur khotbah, dan efektivitas komunikasi. (Gambar 1: Peserta dengan rela mempraktikkan khotba. Selain itu, peningkatan kepercayaan diri dalam berkhotbah merupakan salah satu manfaat utama dari pelatihan ini adalah peningkatan kepercayaan diri peserta dalam menyampaikan firman Tuhan. Hal ini sejalan dengan prinsip andragogi yang menekankan bahwa orang dewasa belajar lebih efektif ketika diberikan kesempatan untuk menerapkan langsung keterampilan yang mereka pelajari (Hamidah & Syakir, 2021. Malik, 2. Dari hasil observasi dan wawancara pasca-pelatihan, ditemukan bahwa 90% peserta merasa lebih percaya diri dalam berkhotbah setelah mengikuti pelatihan ini. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman teoritis tetapi juga mendorong aplikasi praktis dalam pelayanan gereja. Dengan adanya peningkatan ini, diharapkan peserta dapat menerapkan keterampilan expository preaching dalam berbagai konteks pelayanan, baik dalam ibadah formal maupun dalam persekutuan kecil, sehingga firman Tuhan dapat disampaikan dengan lebih efektif dan berbasis teks Alkitab yang benar. Peningkatan Keterlibatan Jemaat dalam Pelayanan Firman Peningkatan keterlibatan jemaat dalam pelayanan firman merupakan salah satu indikator utama keberhasilan dari pelatihan expository preaching ini. Berdasarkan hasil Pelatihan Expository Preaching A (W. Tarigan. Malau. Frendy S. Onor. observasi dan data evaluasi, terjadi peningkatan signifikan dalam partisipasi jemaat dalam kegiatan pelayanan gerejawi setelah mengikuti pelatihan. Pertama. Peningkatan Partisipasi Jemaat dalam Renungan dan Khotbah. Sebelum pelatihan ini dilaksanakan, banyak jemaat merasa kurang percaya diri dalam menyampaikan firman, baik dalam ibadah formal maupun kelompok kecil. Hasil pre-test menunjukkan bahwa hanya sekitar 25% peserta pernah menyampaikan renungan di gereja atau komunitas kecil mereka. Namun, setelah mengikuti pelatihan, angka ini meningkat hingga 80%, peserta mulai aktif menerima tanggung jawab sebagai pembawa renungan dalam persekutuan gereja. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman teoritis tetapi juga membangun keberanian dan keterampilan dalam menyampaikan firman. Orang dewasa lebih mudah belajar ketika mereka diberikan kesempatan untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dalam lingkungan nyata. Pendekatan berbasis praktik dalam pelatihan ini memungkinkan peserta untuk langsung menerapkan teori yang telah dipelajari, sehingga mempercepat proses internalisasi keterampilan berkhotbah. Kedua. Implementasi dalam Kelompok Kecil dan Ibadah Minggu. Pelatihan ini mendorong peserta untuk aktif dalam berbagai kegiatan gerejawi, terutama dalam: Persekutuan Doa dan Kelompok Kecil: Sebanyak 65% peserta mulai rutin membagikan renungan dalam kelompok kecil mereka, dibandingkan dengan hanya 30% sebelum Dan. Kegiatan Misi dan Penginjilan. Pelatihan ini juga berdampak pada peningkatan keterlibatan dalam pelayanan luar gereja. Beberapa peserta yang bekerja di lingkungan sekuler mulai menggunakan keterampilan expository preaching dalam berbagi firman dengan rekan kerja dan komunitas mereka. Ketiga. Pengaruh terhadap Kualitas Penyampaian Firman. Selain peningkatan jumlah peserta yang terlibat dalam pelayanan firman, terdapat pula peningkatan dalam kualitas penyampaian khotbah. Berdasarkan evaluasi gembala sebagai pemimpin gereja, setelah pelatihan: 75% peserta dapat menyusun khotbah dengan struktur ekspositori yang lebih jelas dan sistematis. 60% peserta menunjukkan peningkatan dalam penggunaan teknik komunikasi yang lebih baik, termasuk artikulasi, intonasi, dan kontak mata dengan audiens. 50% peserta mulai menerapkan prinsip hermeneutika yang lebih mendalam dalam memahami dan menyampaikan teks Alkitab. Evaluasi ini menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan jemaat tetapi juga meningkatkan kualitas dalam penyampaian firman. Keempat. Keberlanjutan Program dalam Gereja. Untuk menjaga kesinambungan hasil pelatihan ini, beberapa langkah tindak lanjut telah dilakukan, di antaranya: . Pembentukan Kelompok Studi Khotbah: Jemaat yang telah mengikuti pelatihan dianjurkan untuk bergabung dalam kelompok studi di gereja untuk terus mengasah keterampilan mereka. Pendampingan oleh Mentor (Gembala. Dosen dan Mahasiswa Penanggung jawa. : Gembala dan pemimpin gereja terus memberikan bimbingan bagi peserta yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang expository preaching. Rotasi Pembawa Renungan dalam Ibadah: Gereja mulai menerapkan sistem rotasi bagi jemaat yang telah mengikuti pelatihan untuk menyampaikan firman dalam berbagai kesempatan gerejawi. Jurnal PkM Setiadharma Volume 6 Nomor 2. Agustus 2025 Gambar 2: Penjelasan Materi dan Tanya Jawab Tersusunnya Modul Pelatihan Sebagai bagian dari hasil pelatihan, modul expository preaching telah dikembangkan untuk digunakan dalam sesi pelatihan lanjutan dan sebagai bahan ajar mandiri bagi jemaat yang ingin memperdalam keterampilan mereka. Modul ini mencakup prinsip dasar eksposisi Alkitab, teknik interpretasi teks, serta panduan praktis dalam menyusun dan menyampaikan khotbah ekspositori berdasarkan model yang dikembangkan dari literatur yang berkualitas dan Injili. Respons Positif dari Peserta dan Dokumentasi Berdasarkan kuesioner umpan balik, 90% peserta merasa bahwa pelatihan ini sangat membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menyampaikan Beberapa peserta memberikan testimoni bahwa mereka sebelumnya merasa ragu dan takut untuk berkhotbah, tetapi setelah pelatihan ini mereka merasa lebih siap dan percaya diri. Selama pelatihan, dilakukan dokumentasi dalam bentuk foto, video, dan transkrip diskusi untuk digunakan sebagai bahan evaluasi serta referensi bagi pelatihan Dokumentasi ini juga berguna untuk memantau perkembangan peserta dan memberikan umpan balik yang lebih spesifik berdasarkan rekaman penyampaian khotbah mereka. Dengan capaian-capaian ini, pelatihan espository preaching tidak hanya berdampak pada individu peserta, tetapi juga pada komunitas gereja secara keseluruhan, menciptakan budaya berkhotbah yang lebih sistematis dan berbasis teks Alkitab serta menyampaikannya kepada pendengar dengan benar, baik dan indah (Y. Sibarani, 2. Pelatihan Expository Preaching A (W. Tarigan. Malau. Frendy S. Onor. (Gambar 3: Dokumentasi. Peserta. Panitia PkM dan Gembala Sidan. KESIMPULAN Pelatihan expository preaching di GPIBI Immanuel Worship Yogyakarta telah berhasil menjawab permasalahan kurangnya keterampilan, kepercayaan diri, dan pemahaman teologis jemaat dalam pelayanan firman. Melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan pembekalan teori, latihan eksegesis, penyusunan struktur khotbah, pengembangan teknik penyampaian, praktik simulasi, serta pendampingan berkelanjutan, peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman Alkitab, kemampuan menyusun khotbah secara sistematis, dan keberanian untuk berkhotbah di berbagai konteks pelayanan. Hasil evaluasi pre-test dan post-test, observasi, serta wawancara membuktikan adanya peningkatan partisipasi jemaat dalam pelayanan firman, baik di ibadah formal maupun kelompok kecil, disertai peningkatan kualitas penyampaian yang lebih setia pada teks dan relevan bagi pendengar. Modul pelatihan yang dihasilkan juga menjadi sarana berkelanjutan bagi pengembangan kemampuan jemaat di masa depan. Dengan demikian, pelatihan expository preaching terbukti efektif sebagai strategi pemberdayaan pelayan jemaat, memperkuat budaya berkhotbah yang berbasis teks Alkitab, dan mendorong pertumbuhan gereja yang sehat dan kontekstual. Untuk keberlanjutan, gereja perlu mengintegrasikan pelatihan ini ke dalam program pembinaan rutin, menyediakan kesempatan praktik yang konsisten, serta memastikan adanya monitoring dan evaluasi berkala agar keterampilan yang diperoleh terus berkembang dan berdampak. DAFTAR PUSTAKA