Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Pengelolaan Kebun Pangan Berbasis Pekarangan dengan Pendekatan Partisipatif untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Dusun Nagrog Kabupaten Ciamis Nita Riyanti1. Resti Rismawati2. Irfan Fauzi Badru Salam3. Gebi Chicilia Sigalingging4. Iqbal Fatur Rahman5. Ahmad Hamdan*6 1,2,3,4,5,6Program Studi Pendidikan Masyarakat. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Siliwangi. Indonesia *e-mail: nitariyanti098@gmail. com1, restirismawati06@gmail. com2, irfanfauzi080703@gmail. gebyg50@gmail. com4, iqbalfaturahman32@gmail. com5, ahmad. hamdan@unsil. Abstrak Masyarakat Dusun Nagrog, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar belum sepenuhnya memanfaatkan pekarangan rumah secara produktif. Padahal wilayah Dusun Nagrog dikenal memiliki potensi pertanian yang tinggi. Program kebun pangan berbasis pekarangan dirasa penting untuk meningkatkan kesadaran KWT Mawar dan masyarakat dalam mendukung ketahan pangan Dusun Nagrog skala rumah Metode pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui empat tahapan yaitu, tahap perencanaan meliputi, identifikasi permasalahan dan output yang diharapkan masyarakat serta strategi penyusunan program. Tahap pelaksanaan meliputi, pembersihan lahan, penyemaian dan penanaman bibit tanaman, pemetaan layout lahan dan tanaman, finishing, sosialisasi dan edukasi program serta pemberian bibit tanaman kepada KWT Mawar dan masyarakat Dusun Nagrog. Tahap evaluasi, meliputi jumlah bibit yang berhasil tumbuh dan tingkat pemahamam KWT Mawar serta masyarakat terhadap ketahanan pangan skala rumah tangga. Terakhir, tahap tindak lanjut yaitu, melakukan monitoring terhadap pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan. Hasil yang didapatkan dari pengabdian kepada masyakat ini yaitu, peningkatan kesadaran KWT Mawar dan masyarakat Dusun Nagrog terhadap ketahanan pangan rumah Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan fungsional pekarangan rumah masyarakat yang menjadi lebih produktif. Adapun dampak konkret dari program kebun pangan berbasis pekarangan ini yaitu, mitra KWT Mawar dan sebagian masyarakat Dusun Nagrog mampu mengelola kebun pangan rumah tangga secara Kata kunci: Kebun Pangan. Ketahanan Pangan. Pemberdayaan Masyarakat Abstract The people of Nagrog hamlet, especially the Women's Farmer Group (KWT) Mawar, have not fully utilized their home gardens productively. In fact, the Nagrog hamlet is known to have high agricultural The Home Garden-Based Food Crop Program is considered important to raise awareness among KWT Mawar and the community in supporting food security at the household level in Nagrog hamlet. This community service method is carried out through four stages: the planning stage includes identifying issues and expected outputs from the community as well as developing program strategies. The implementation stage involves land clearing, sowing and planting seedlings, mapping the layout of land and plants, finishing, socialization and education about the program, and providing plant seedlings to KWT Mawar and the Nagrog hamlet community. The evaluation stage includes the number of seedlings that successfully grow and the level of understanding of the Mawar Women Farmers Group (KWT) and the community regarding household-scale food security. Finally, the follow-up stage involves monitoring the sustainable use of home gardens. The results obtained from this community service are an increase in awareness of the KWT Mawar and the Nagrog Hamlet community about household food security. This can be seen from the functional changes in the home gardens of the community that have become more productive. The concrete impact of this Home Garden-Based Food Garden program is that the KWT Mawar partners and some members of the Nagrog Hamlet community are able to independently manage their household food gardens. Keywords: Community Empowerment. Food Garden. Food Security P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan isu penting dalam pembangunan suatu negara, terutama di negara-negara berkembang, di mana sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama. Indeks Ketahanan Pangan (IKP) merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat ketahanan pangan suatu daerah. Data Indeks Ketahanan Pangan (IKP) yang diterbitkan oleh Badan Pangan Nasional (BAPANAS) menunjukkan bahwa ada 70 kabupaten . ,83%) yang memiliki skor IKP rendah, dengan sebaran yang signifikan di setiap wilayah. Meskipun secara umum Kabupaten Ciamis tergolong sebagai wilayah dengan surplus pangan, namun kenyataannya masih terdapat sejumlah permasalahan yang mencerminkan kurangnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Di Kabupaten Ciamis masih ditemukan rumah tangga yang tidak tahan pangan, dengan distribusi rumah tangga menurut tingkat ketahanan pangan menunjukkan adanya rumah tangga rentan pangan, rawan pangan, hingga kurang pangan. Peringkat dan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kabupaten 2023 mencatat Kabupaten Ciamis menduduki posisi 110 dengan IKP sekitar 82,32. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih fokus pada kelompok rentan untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan pangan secara merata. Rumah tangga miskin memiliki daya beli yang rendah, sehingga akses terhadap pangan berkualitas rendah dan memiliki pola konsumsi pangan yang tidak seimbang. Rumah tangga yang menggunakan sebagian besar uangnya untuk konsumsi pangan, tetapi kebutuhan gizinya masih dibawah standar yang dianjurkan berada dalam kondisi rawan pangan . , . , . Dusun Nagrog merupakan sebuah Dusun di Desa Kertabumi. Kecamatan Cijeungjing. Kabupaten Ciamis dengan batas-batas sebelah utara: Desa Karanganyar, sebelah selatan: Desa Pamalayan, sebelah barat: Desa Karanganyar, sebelah timur: Dusun Desa. Sebagian besar penduduk Dusun Nagrog berprofesi sebagai petani dan buruh tani dan di selang waktu bertani biasanya diisi dengan membuat kerajinan anyaman bambu. Profesi selain petani dan pengrajin, warga di Dusun Nagrog mulai merambah menjadi peternak. Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar memiliki peran penting dalam aktivitas pertanian di Dusun Nagrog, khususnya dalam pemanfaatan pekarangan secara kolektif, serta menjadi role model bagi masyarakat Dusun Nagrog dalam pengelolaan pangan skala rumah tangga yang berkelanjutan . Berdasarkan hasil survei awal, sekitar 62% rumah tangga di Dusun Nagrog memiliki lahan pekarangan dengan luas rata-rata 150 mA per rumah, namun hanya 35% yang memanfaatkan pekarangan secara produktif untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, dan buahbuahan. Sebagian besar pekarangan masih digunakan sebagai lahan kosong atau hanya ditanami tanaman hias. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pangan dari luar wilayah masih cukup tinggi, serta belum optimalnya konsumsi pangan keluarga. Padahal ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan, terutama di wilayah pedesaan yang menjadi basis produksi pangan nasional. Terlebih, ketahanan pangan menjadi perhatian utama dalam kehidupan bermasyarakat khususnya di Dusun Nagrog. Sebab usaha untuk memenuhi ketahanan pangan masyarakat Dusun Nagrog sejatinya masih berpotensi untuk bisa dimaksimalkan lagi sedemikian rupa secara efektif dan Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, bergizi untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Banyak potensi yang dapat dikembangkan dan diberdayakan di dalam masyarakat Dusun Nagrog, baik dalam bidang pertanian maupun nonpertanian, yang dimaksudkan untuk mendukung ketahanan pangan . , . Tabel 1. Permasalahan Permasalahan Akar Permasalahan Rendahnya pemahaman masyarakat Pemahaman masyarakat dalam dalam pemanfaatan lahan pekarangan pemanfaatan lahan pekarangan pada umumnya masih rendah P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Rendahnya pemahaman masyarakat terkait keuntungan dari pemanfaatan Rendahnya pemahaman masyarakat terkait gagasan kreatif dalam pemanfaatan lahan pekarangan Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Masyarakat kurang mengetahui keuntungan dalam memanfaatkan lahan Masyarakat kurang memilki gagasan kreatif dalam memanfaatkan lahan pekarangan Lahan pekarangan merupakan sebidang tanah yang mempunyai batas-batas tertentu di sekitar tempat tinggal yang mempunyai fungsi ekonomi, biofisik/ekologi, maupun sosial budaya. Pekarangan tidak saja dimanfaatkan untuk menciptakan keindahan dan kesejukan, tetapi dapat dioptimalisasikan untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Sayur-sayuran, buah-buahan, obat-obatan dan tanaman hias merupakan jenis tanaman yang biasa ada di pekarangan, yang keseluruhannya dapat menunjang kebutuhan sahari-hari. Terlebih lahan pekarangan merupakan salah satu sumber potensial penyedia bahan pangan yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi bagi keluarga. Pengusahaan lahan pekarangan jika dilakukan secara intensif hasilnya selain dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, juga dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi keluarga . , . , . Pendekatan partisipatif menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan kebun pangan berbasis pekarangan. Melalui pendekatan ini, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan, melalui serangkaian kegiatan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan, masyarakat diberdayakan untuk mengembangkan lahan pekarangan mereka menjadi sumber produksi pangan yang berkelanjutan. Pendekatan partisipatif terbukti mampu meningkatkan rasa memiliki, motivasi, dan tanggung jawab masyarakat terhadap keberlanjutan Sebagaimana penelitian yang dilakukan di Kelurahan Loktabat Utara Kota Banjarbaru menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat secara keseluruhan tergolong tinggi, terutama dalam aspek kebersihan, kelestarian lingkungan, dan keikutsertaan warga, dengan persentase di atas 70%. Sementara itu, penelitian di Kabupaten Gowa yang menjadi lokasi program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) menunjukkan bahwa KWT menjadi ujung tombak dalam pengelolaan pekarangan. Masyarakat dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) aktif mengelola lahan pekarangan dengan menanam tanaman pangan, tanaman obat, dan tanaman Partisipasi anggota KWT dalam program ini cukup tinggi dan menjadi kunci keberlanjutan pengelolaan pekarangan secara produktif . , . Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat ini, difokuskan pada pengembangan kebun pangan berbasis pekarangan dengan pendekatan partisipatif di Dusun Nagrog, yang diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat secara efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan di tingkat desa. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. di bidang pangan dan gizi. Dengan pemberian pemahaman dan keterampilan yang tepat, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal, baik dari segi produktivitas maupun keberlanjutan. Adapun tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga melalui pemanfaatan kebun pekarangan secara produktif. Oleh karena itu, dilaksanakannya kegiatan pengabdian berjudul AuPengelolaan Kebun Pangan Berbasis Pekarangan dengan Pendekatan Partisipatif dalam Mendukung Ketahanan Pangan Dusun Nagrog Kabupaten Ciamis. Ay Diharapkan melalui kegiatan ini, dapat tercipta manfaat ekonomis bagi masyarakat serta terbangunnya model pertanian mikro yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan di lingkungan Dusun Nagrog. METODE Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat terdiri dari beberapa tahap yaitu, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan tahap tindak lanjut. Tahap perencanaan merupakan tahap dimana tim melakukan diskusi mengenai identifikasi permasalahan dan identifikasi output yang diharapkan masyarakat. Kegiatan ini sangat perlu dilakukan agar tim dapat merencanakan konsep program dan menghasilkan output yang P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. diharapkan masyarakat. Selain itu, tim pun melakukan diskusi internal untuk penyusunan konsep Tahap pelaksanaan merupakan tahap pelaksanaan kegiatan. Dalam tahap ini tim melakukan pembersihan lahan, penyemaian bibit, penanaman bibit, pemetaan layout lahan dan tanaman serta finishing untuk pembuatan kebun pangan berbasis pekarangan. Kemudian, tim pun melakukan sosialisasi dan edukasi kebun pangan berbasis pekarangan yang diikuti oleh 30 orang. Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan dari kepala dusun dan perwakilan tim pengabdian, sosialisasi program kebun pangan berbasis pekarangan, dilanjutkan dengan pemberian edukasi dari tim pengabdian kepada KWT Mawar dan masyarakat Dusun Nagrog, kemudian dilanjutkan dengan penutupan serta melakukan pemberian bibit tanaman kepada KWT Mawar maupun masyarakat Dusun Nagrog. Kemudian terdapat tahap evaluasi meliputi, jumlah bibit yang berhasil tumbuh dan tingkat pemahamam masyarakat terhadap ketahanan pangan skala rumah tangga. Keberhasilan program dilihat melalui hasil evaluasi yang mencakup dua aspek utama, yaitu aspek teknis dan aspek pemahaman masyarakat. Untuk mengukur keberhasilan tersebut, disusun instrumen evaluasi berbasis wawancara dan observasi. Instrumen ini dirancang secara sistematis dengan mempertimbangkan tujuan kegiatan, indikator keberhasilan, serta karakteristik masyarakat sasaran, sehingga dapat menilai efektivitas pelaksanaan program dan dampaknya terhadap Wawancara terstruktur dilakukan kepada perwakilan masyarakat, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Dusun Nagrog, serta pihak terkait lainnya, dengan tujuan menggali pendapat mereka mengenai manfaat program, tingkat pemahaman terhadap konsep ketahanan pangan, serta sejauh mana partisipasi mereka dalam kegiatan. Sementara itu, observasi dilakukan secara langsung oleh tim pelaksana di lokasi kegiatan untuk menilai kondisi kebun pangan, perkembangan tanaman, dan keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan rumah. Observasi ini menggunakan lembar ceklist yang mencatat indikator seperti jumlah bibit yang tumbuh, tingkat keterawatan kebun, dan perubahan fisik pada lahan Hasil dari kedua metode tersebut menjadi dasar dalam menilai keberhasilan program secara menyeluruh. Tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. Dalam tahap ini tim melakukan monitoring atau pengecekkan pekarangan rumah warga untuk melihat sejauh mana masyarakat termotivasi untuk ikut serta memanfaatkan pekarangan rumahnya. Adapun target yang ingin dicapai dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu, masyarakat dapat termotivasi untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai kebun pangan, sehingga masyarakat tidak lagi memenuhi kebutuhan pangannya dari luar wilayah Dusun Nagrog. Tabel 1. Tahapan Kegiatan Pengabdian Masyarakat Tahap Uraian Kegiatan Perencanaan Diskusi identifikasi permasalahan dan output yang diharapkan Penyusunan konsep program melalui diskusi internal tim Pelaksanaan Pembersihan lahan Penyemaian dan penanaman bibit Pemetaan layout lahan dan tanaman Finishing kebun pangan Sosialisasi dan edukasi kebun pangan berbasis pekarangan Pemberian bibit kepada KWT Mawar dan masyarakat Dusun Nagrog Evaluasi Evaluasi jumlah bibit yang berhasil tumbuh Evaluasi tingkat pemahaman masyarakat terhadap ketahanan pangan skala rumah tangga Tindak Lanjut Monitoring/pengecekan pekarangan rumah warga Menilai motivasi masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Target Capaian Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Masyarakat termotivasi untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai kebun pangan guna memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri di Dusun Nagrog HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan sejak Februari hingga Mei Kegiatan ini diawali dengan tahap perencanaan yang meliputi, identifikasi permasalahan dan identifikasi output yang diharapkan masyarakat. Dalam tahap ini tim melakukan koordinasi dan diskusi bersama pihak Dusun Nagrog terkait permasalahan dan potensi yang ada di wilayah Hasil identifikasi menunjukkan mayoritas masyarakat Dusun Nagrog bekerja sebagai petani, buruh tani hingga merambah sebagai peternak. Potensi yang terdapat di Dusun Nagrog pun cukup melimpah, terutama di bidang pertanian dan perkebunan. Dusun Nagrog dikenal dengan kesuburan tanahnya. Akan tetapi, hanya 35% masyarakat yang baru memanfaatkan pekarangan rumahnya secara produktif. Tentunya hal tersebut menjadi permasalahan, lantaran Dusun Nagrog merupakan wilayah yang memiliki potensi pertanian tinggi. Akan tetapi, belum sepenuhnya masyarakat Dusun Nagrog memanfaatkan pekarangan rumahnya secara tepat. Pemanfaatan pekarangan sebagai kebun pangan sangat berkaitan erat dengan penguatan pangan skala rumah tangga di wilayah tersebut. Terlebih, pekarangan memiliki fungsi antara lain, sebagai penghasil pangan tambahan, penghasil tambahan uang dan penghasil apotik hidup. Setelah identifikasi dilaksanakan, tim pun melakukan diskusi internal untuk merancang konsep program sebagai alternatif peminimalisiran permasalahan. Kebun pangan berbasis pekarangan merupakan program yang di rancang atas pertimbangan kebutuhan KWT Mawar dan masyarakat Dusun Nagrog terkait ketahanan pangan skala rumah tangga serta untuk keberdayaan masyarakatnya . Gambar 1. Koordinasi bersama pihak Dusun Nagrog Dalam tahap pelaksanaannya pun keterlibatan semua pihak menjadi tolak ukur keberhasilan program. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutif dengan keterlibatan semua potensi dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Dalam pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan melalui beberapa tahap yaitu, pembersihan lahan pekarangan, penyemaian dan penanaman bibit sayuran, pemetaan layout pekarangan dan tanaman, finishing, sosialisasi dan edukasi program kebun pangan yang diikuti oleh 30 orang peserta. Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan dari kepala dusun dan perwakilan tim pengabdian, sosialisasi program kebun pangan berbasis pekarangan, dilanjutkan dengan pemberian edukasi dari tim pengabdian kepada KWT Mawar dan masyarakat Dusun Nagrog, kemudian dilanjutkan dengan penutupan serta melakukan pemberian bibit tanaman kepada KWT Mawar maupun masyarakat Dusun Nagrog. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat mampu memelihara dan mengembangkan pekarangan rumah sebagai kebun pangan untuk pemenuhan pangan keluarga . P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Gambar 2. Pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan Gambar 3. Pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan Gambar 4. Pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan Gambar 5. Sosialisasi dan edukasi program kebun pangan berbasis pekarangan kepada KWT Mawar dan Masyarakat Gambar 6. Pemberian bibit tanaman kepada KWT Mawar dan masyarakat Kemudian dalam pengerjaan program kebun pangan berbasis pekarangan ini terdapat tahap evaluasi. Tahap evaluasi bertujuan untuk menilai sejauh mana sasaran, tujuan, keterlibatan masyarakat bahkan kekuatan dan kelemahan dari program kebun pangan berbasis pekarangan tersebut tercapai. Adapun tahap evaluasi yang dilakukan pada program kebun pangan berbasis pekarangan ini yaitu, jumlah bibit yang berhasil tumbuh dan tingkat pemahamam masyarakat terhadap ketahanan pangan skala rumah tangga. Untuk mengukur keberhasilan tersebut, disusun instrumen evaluasi berbasis wawancara dan observasi. Instrumen ini dirancang secara sistematis dengan mempertimbangkan tujuan kegiatan, indikator keberhasilan, serta karakteristik masyarakat sasaran, sehingga dapat menilai efektivitas pelaksanaan program dan dampaknya terhadap masyarakat. Sementara itu, observasi dilakukan secara langsung oleh tim pelaksana di lokasi kegiatan untuk menilai kondisi kebun pangan, perkembangan tanaman, dan keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan rumah. Gambar 7. Sebelum pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Gambar 8. Setelah pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Kemudian sebagai representasi dari keberhasilan program, tim pun melakukan monitoring pada pekarangan rumah masyarakat sebagai tahap tindak lanjut dari program pemberdayaan yang dilaksanakan. Kebun pangan berbasis pekarangan diusung bukan tanpa alasan, akan tetapi sebagai strategi untuk menjawab kebutuhan KWT Mawar dan masyarakat terkait pengembangan ketahanan pangan skala rumah tangga. Adapun target yang ingin dicapai yaitu, masyarakat Dusun Nagrog dapat termotivasi untuk ikut mengelola pekarangan rumahnya secara produktif menjadi kebun pangan, agar masyarakat tidak lagi ketergantungan pasokan pangan dari luar wilayah. Selain itu, penguatan pangan Dusun Nagrog pun menjadi target capaian yang diharapkan. Gambar 9. Monitoring pekarangan rumah masyarakat Disamping itu, keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat diukur melalui tingkat partisipasi aktif warga Dusun Nagrog pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan, yang mencakup proses perencanaan, pemeliharaan hingga pengembangan kebun pangan berbasis Pendekatan partisipatif menekankan keterlibatan langsung masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan hanya sebagai penerima manfaat. Sebagaimana studi oleh Sukri et . di Desa Santong Mulia menggunakan pendekatan teknologi budidaya melalui sistem irigasi tetes dalam pemanfaatan lahan pekarangan. Program tersebut berhasil meningkatkan efisiensi penggunaan air dan menghasilkan pertumbuhan bibit tanaman hortikultura secara optimal dan merata. Fokus utama dalam studi tersebut adalah penerapan metode teknis yang sederhana namun inovatif untuk menjawab tantangan keterbatasan air di wilayah tersebut serta tingkat partisipasi masyarakat yang mendorong keberhasilan program tersebut. Di sisi lain, program pengabdian di Dusun Nagrog menitikberatkan pada pendekatan partisipatif berbasis pemberdayaan masyarakat lokal, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar, yang dilibatkan secara aktif sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi dan tindak lanjut. Meskipun kedua pendekatan berbeda secara strategi, keduanya menunjukkan efektivitas dalam mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga. Namun demikian, pendekatan partisipatif memiliki keunggulan dalam membangun rasa kepemilikan dan keberlanjutan program, perbedaan pendekatan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis semata, melainkan juga oleh seberapa besar keterlibatan masyarakat dalam setiap prosesnya. Kombinasi antara teknologi sederhana seperti irigasi tetes dengan pendekatan partisipatif berpotensi menghasilkan kebun pangan yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. karena masyarakat tidak hanya menjadi objek tetapi juga aktor utama dalam perubahan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. yang menekankan inklusivitas, kemandirian, dan partisipasi dalam setiap upaya pembangunan. Oleh karena itu, penggabungan antara pendekatan teknis seperti irigasi tetes dan pendekatan sosial partisipatif seperti yang diterapkan di Dusun Nagrog dapat menjadi strategi sinergis yang ideal, terutama dalam konteks pengembangan kebun pangan berbasis pekarangan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan lokal dan berorientasi jangka panjang. Terlebih, kegiatan kebun pangan bebasis pekarangan dapat dianggap berhasil apabila warga menunjukkan antusiasme dalam berdiskusi, memberikan usulan, serta terlibat langsung dalam aksi kolektif pengelolaan kebun pangan. Pembangunan partisipatif merupakan suatu pendekatan dalam metodologi pengabdian masyarakat yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam perencanaan dan pelaksanaan program Pendekatan ini berlandaskan pada prinsip bahwa masyarakat memiliki pengetahuan lokal, pengalaman langsung, serta kepentingan yang signifikan dalam menentukan P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. arah pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus berperan aktif dalam merumuskan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Tujuan utama dari kegiatan pengabdian ini adalah mendukung ketahanan pangan rumah tangga melalui pengembangan kebun pangan berbasis pekarangan dengan pendekatan partisipatif. Mengingat sasaran utama adalah KWT Mawar Dusun Nagrog yang telah memiliki pengetahuan cukup baik mengenai budidaya tanaman, maka peran tim pengabdian lebih ditekankan pada aspek fasilitasi, pendampingan, dan penataan kebun secara fungsional dan estetis . , . Tolak ukur pertama adalah tingkat partisipasi aktif masyarakat, khususnya sejauh mana KWT Mawar terlibat dalam setiap tahapan kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga Keberhasilan pada aspek ini diukur melalui kehadiran peserta, dokumentasi diskusi kelompok, serta respons dan masukan yang muncul selama proses berlangsung. Tolak ukur kedua adalah peningkatan kualitas penataan kebun pangan yang dapat diamati dari perubahan kondisi lahan pekarangan dari yang awalnya kurang tertata menjadi lebih terstruktur, produktif, dan kaya jenis tanaman. Evaluasi dilakukan melalui dokumentasi visual berupa foto sebelum dan sesudah, hasil observasi langsung di lokasi, serta tingkat pemahaman masyarakat terkait ketahanan pangan skala rumah tangga. Hasil akhir kebun yang mencerminkan keseimbangan antara produktivitas pangan dan aspek estetika menjadi indikator penting pada tolak ukur keberhasilan pengabdian ini. Di samping itu, kepuasan dan persepsi masyarakat terhadap hasil kegiatan menjadi tolak ukur yang tak kalah penting. Ini diukur melalui wawancara singkat, survei sederhana, atau diskusi kelompok terfokus untuk mengetahui sejauh mana masyarakat merasa terbantu dan puas dengan hasil yang dicapai. Terakhir, keberhasilan juga dilihat dari aspek keberlanjutan, yakni sejauh mana KWT Mawar maupun masyarakat Dusun Nagrog berkomitmen untuk melanjutkan pengelolaan kebun pangan dan ikut serta memanfaatkan pekarangan rumahnya secara produktif setelah program berakhir. Tolak ukur keberhasilan dalam aspek ini meliputi adanya rencana tindak lanjut, pembentukan jadwal perawatan bersama, atau kegiatan lanjutan serta pemanfaatan pekarangan rumah secara produktif yang tetap berjalan secara mandiri oleh masyarakat. Adapun keunggulan dari kebun pangan berbasis pekarangan yaitu, meningkatnya ketahanan pangan dapat memastikan kebutuhan pangan secara cukup. Dengan adanya kebun pangan berbasis pekarangan, keluarga bisa memproduksi bahan makanan sendiri seperti sayuran, cabai, tomat, daun bawang, lidah buaya, tanaman obat dan sebagainya. Hal ini berdampak langsung pada pemenuhan gizi yang lebih baik dan aman serta pengurangan biaya belanja rumah tangga. Dengan demikian, pemanfaatan pekarangan untuk tanaman hortikultura menjadi strategi efektif dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Tentunya hal ini berimplikasi pada menurunnya ketergantungan terhadap pasar dan meningkatnya kemandirian pangan rumah tangga, sehingga mengedepankan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang tersedia untuk budidaya berbagai tanaman pangan dan hortikultura, disertai dengan pelibatan aktif masyarakat dalam seluruh prosesnya. Disamping itu, terdapat kelemahan dari kebun pangan berbasis pekarangan yaitu, keterbatasan benih dan sarana produksi yang tidak tersedia secara berkelanjutan. Ketergantungan terhadap benih dari luar dan kurangnya diversifikasi tanaman juga dapat memengaruhi keberlanjutan dan efektivitas program dalam jangka panjang menyebabkan siklus tanam menjadi terganggu, kurangnya pengetahuan teknis masyarakat dalam melakukan perbanyakan benih secara mandiri juga menjadi faktor yang memperkuat ketergantungan terhadap distribusi bibit dari luar terutama dalam program yang bertumpu pada kemandirian pangan rumah tangga. Dalam banyak kasus, masyarakat hanya mendapatkan bibit pada awal program, biasanya melalui bantuan pemerintah. Namun setelah fase awal tersebut berakhir, tidak ada sistem berkelanjutan yang menjamin pasokan benih, sehingga masyarakat kesulitan melanjutkan kegiatan bertanam . P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Gambar 11. Grafik jumlah keseluruhan bibit yang tumbuh Adapun tingkat kesulitan dari pelaksanaan program kebun pangan berbasis pekarangan yaitu, kurangnya pengetahuan dan konsistensi KWT Mawar maupun masyarakat Dusun Nagrog dalam mengelola, memelihara hingga mengembangkan program yang telah dilaksanakan. Hal ini tentunya menjadi tantangan dalam mewujudkan penguatan pangan di tingkat rumah tangga di Dusun Nagrog. Akan tetapi, dengan adanya pendampingan serta penguatan kelembagaan KWT Mawar, kebun pangan berbasis pekarangan mempunyai potensi besar sebagai solusi nyata dalam meningkatkan ketahanan pangan di level rumah tangga. Terlebih, pengembangan kebun pangan berbasis pekarangan sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. khususnya di bidang pangan dan gizi. Dalam jangka panjang, jika kebun pangan berbasis pekarangan direplikasi dan diperluas berpotensi menjadi model pemberdayaan masyarakat pangan lokal yang berkelanjutan serta ramah lingkungan. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan sejak Februari hingga Mei 2025 cukup memperoleh hasil yang positif yaitu, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan fungsional pekarangan rumah masyarakat yang menjadi lebih produktif. Terlebih program pengabdian ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. di bidang pangan dan lingkungan. Terlepas dari itu, adapun kelemahan dari program pengabdian ini yaitu, keterbatasan benih tanaman dan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap perbanyakan benih tanaman. Hal ini cukup menjadi tantangan yang perlu ditanggulangi untuk keberlanjutan program. Oleh karena itu, pendampingan serta penguatan kelembagaan KWT Mawar menjadi strategi yang tepat dalam keberlanjutan dan replikasi program. Terlebih kebun pangan berbasis pekarangan ini menjadi bukti nyata strategi pemberdayaan masyarakat secara efektif yang berorientasi pada ketahanan pangan lokal berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan penuh rasa hormat, penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada masyarakat Dusun Nagrog, khususnya KWT Mawar yang senantiasa menjadi mitra kolaborasi dalam kegiatan pengabdian ini. Partisipasi aktif dan antusiasme menjadi bukti nyata bahwa perubahan dapat dimulai melalui kesadaran dan kolaborasi aktif dari seluruh pihak. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada tokoh masyarakat yang telah memberikan kepercayaan penuh kepada tim pengabdian selama proses perencanaan hingga tindak lanjut Bimbingan serta dukungan tiada henti diberikan, sehingga program kebun pangan berbasis pekarangan menjadi pengabdian nyata sebagai pembelajaran untuk menjawab kebutuhan masyarakat Dusun Nagrog terkait pengembangan ketahanan pangan di level rumah P-ISSN 2775-3034 | E-ISSN 2775-3026 Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. No. 6 Desember 2025. Hal. DOI: https://doi. org/10. 52436/5. Akhir kata, semoga upaya kecil ini dapat menjadi pijakan untuk langkah-langkah besar Terlebih, kebun pangan berbasis pekarangan ini diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan masyarakat Dusun Nagrog dalam skala rumah tangga serta dapat menjadi strategi pemberdayaan yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA