5th Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang AuPeningkatan Kinerja Dosen Melalui Penelitian dan Pengabdian MasyarakatAy 4 Oktober 2023 KETERLIBATAN MAHASISWA DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MBKM DALAM MEMPERKUAT KECAKAPAN KERJA UTAMA Agus Prianto1. Firman2 STKIP PGRI Jombang agustkip@gmail. 2namrif63@gmail. Abstract In dealing with disruptions in various fields of life, universities need to develop learning innovations to prepare graduates who are skilled, capable, creative, tenacious, and ready to work after graduation. Responding to various problems and challenges that have occurred in recent years, the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia then issued a policy that gives freedom to universities to carry out learning activities in accordance with the potential, challenges and characteristics of each within the MBKM framework. This study examines how the intensity of student involvement in MBKM-based learning, and how it impacts on the growth of students' core work skills. Descriptive analysis is used to answer the problems raised in this study. The results of the study revealed that learning models that had a very strong influence on the growth of student learning involvement were successively entrepreneurial activity-based learning. Thematic KKN, and teaching assistance. The three MBKM-based learning models show a very strong role in developing core work skills, which include: human learning skills, communication skills, team work skills, and problem solving skills. The learning models that are the most powerful in developing core work skills are learning based on entrepreneurial activities, thematic KKN, and teaching assistance, respectively. Further study is needed to identify various factors that can strengthen core work skills, as a means for students to enter the job market after graduation. Key words: MBKM, learning involvement, core work skills Abstrak Dalam menghadapi disrupsi berbagai bidang kehidupan, maka inovasi pembelajaran diperlukan agar perguruan tinggi mampu menyiapkan lulusan yang unggul, terampil, cakap, kreatif, ulet, dan tanggap dalam merespon tantangan jaman. Menyikapi berbagai permasalahan dan tantangan yang terjadi pada tahun-tahun terakhir ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kemudian menerbitkan kebijakan yang memberikan keleluasaan kepada perguruan tinggi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan potensi, tantangan, dan karakteristik masing-masing kampus dalam kerangka MBKM. Penelitian ini mengkaji bagaimana intensitas keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis MBKM, dan bagaimana dampaknya terhadap pertumbuhan kecakapan kerja utama mahasiswa. Analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan model pembelajaran yang berpengaruh sangat kuat bagi tumbuhnya keterlibatan belajar mahasiswa secara berturut-turut adalah pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha. KKN Tematik, dan asistensi mengajar. Ketiga model pembelajaran berbasis MBKM menunjukkan peran yang sangat kuat dalam menumbuhkembangkan kecakapan kerja utama, yang meliputi: kecakapan menjadi manusia pembelajar, kecakapan komunikasi, kecakapan kerja dalam tim, dan kecakapan pemecahan masalah. Model pembelajaran yang paling kuat dalam menumbuhkembangkan kecakapan kerja utama, secara berturut-turut adalah pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha. KKN tematik, dan asistensi mengajar. Perlu kajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat memperkuat kecakapan kerja utama, yang sangat dibutuhkan para mahasiswa sebagai bekal memasuki bursa kerja kelak setelah lulus. Kata kunci: MBKM, keterlibatan belajar, kecakapan kerja utama PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi, dan pandemik global menyebabkan disrupsi di berbagai bidang dan aspek Kehadiran perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang canggih telah mengubah cara orang beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai aspek kehidupan berubah sangat cepat, dan berbagai kecenderungan di masa depan semakin sulit diprediksi. Untuk menghadapi kecenderungan baru ini, para ahli merekomendasikan kepada semua orang dan berbagai institusi agar lebih cepat belajar cepat berinovasi, dan membuat keputusan dengan cepat . Dalam sebuah era yang cepat berubah seperti saat ini, perguruan tinggi dituntut untuk merespon secara cepat dan tepat dengan melakukan inovasi pembelajaran . Dalam menghadapi disrupsi berbagai bidang kehidupan, maka inovasi pembelajaran diperlukan agar perguruan tinggi mampu menyiapkan lulusan yang unggul, terampil, cakap, kreatif, ulet, dan tanggap dalam merespon tantangan jaman . Menyikapi berbagai permasalahan dan tantangan yang terjadi pada tahuntahun terakhir ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kemudian menerbitkan kebijakan yang memberikan keleluasaan kepada perguruan tinggi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan potensi, tantangan, dan karakteristik masing-masing kampus. Kebijakan inilah yang popular disebut dengan AuMerdeka Belajar. Kampus Merdeka, yang di Indonesia populer disebut kebijakan MBKMAy . Pada prinsipnya, program MBKM dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada kampus, dosen, dan mahasiswa untuk berinovasi, memperkuat kemandirian belajar, dan mengembangkan kreatifitas dalam melaksanakan pembelajaran. Impelemntasi kebijakan MBKM diharapkan memungkinkan para dosen dan mahasiswa untuk mengkreasikan berbagai macam inovasi pembelajaran, yang membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih fleksibel, menyenangkan, dan Kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk perkuliahan tata muka. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa di masyarakat, misalnya: asistensi mengajar pada satuan Pendidikan, praktik kerja lapangan, praktik kegiatan bisnis, pelayanan masyarakat melalui kuliah kernja nyata. dapat dikonversi pada mata kuliah yang relevan. Berbagai inovasi pembelajaran ini diharapkan juga memperkuat kecakapan para mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja kelak setelah lulus kuliah. Dalam 2 tahun terakhir, berbagai perguruan tingi di Jawa Timur telah melaksanakan program MBKM dalam bentuk kegiatan pembelajaran berbasis layanan masyarakat. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan pembelajaran berbasis layanan maka diperlukan kajian untuk mengetahui dampak penerapan kegiatan pembelajaran tersebut dalam menumbuhkan berbagai kecakapan kerja Berbagai penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis layanan terbukti dapat memperkuat berbagai kecakapan kerja dan memberikan berbagai pengalaman belajar untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan . ,5,6,7,8,9,10,. Berbagai peneliti terdahulu merekomendasikan untuk mengeksplorasi lebih lanjut tentang berbagai pendekatan pembelajaran berbasis layanan dan berbasis kerja yang secara teoritik memperkuat berbagai kecakapan kerja utama . ,13,14,15,16,. Penelitian ini akan mendeskripsikan intensitas keterlibatan mahasiswa dalam 3 kegiatan pembelajaran berbasis MBKM yang telah diikuti para mahasiswa lintas bidang ilmu dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur, yaitu: asistensi mengajar di satuan pendidikan, . kuliah kerja nyata tematik, dan . praktik kegiatan wirausaha. Ketiga kegiatan pembelajaran berbasis layanan ini merupakan bagian dari 8 model pembelajaran pada Program MBKM yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia . Selanjutnya, penelitian ini akan mendeskripsikan tumbuh kembangnya kecakapan kerja utama setelah para mahasiswa terlibat dalam 3 kegiatan pembelajaran berbasis layanan. yang dikaji dalam penelitian ini. Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan akan dapat diungkapkan kegiatan pembelajaran berbasis MBKM yang dapat mendorong mahasiswa terlibat intensif dalam pembelajaran. Selanjutnya, penelitian ini diharapkan juga dapat mengungkapkan kegiatan pembelajaran berbasis MBKM yang efektif dapat menumbuhkan kecakapan kerja utama para KETERLIBATAN MAHASISWA DALAM PEMBELAJARAN Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran merupakan faktor penting yang akan menentukan efektifitas belajar mahasiswa. Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran mengacu pada jumlah energi fisik dan psikologis yang dicurahkan siswa untuk memperkaya pengalaman akademik. Dengan demikian, mahasiswa yang terlibat intensif dalam pembelajaran berbasis layanan adalah mereka yang mencurahkan banyak energi untuk belajar, menghabiskan banyak waktu untuk terlibat dalam pembelajaran, berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, dan sering berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa lainnya untuk menyelesaikan tugas pembelajaran. begitu pula sebaliknya . Keterlibatan mengacu pada energi fisik dan psikologis yang dicurahkan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis layanan. Tingkat keterlibatan mahasiswa dapat diukur baik secara kuantitatif, . isalnya, berapa jam yang dihabiskan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan layanan masyaraka. maupun secara kualitatif, . isalnya, apakah mahasiswa melaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis layanan dengan sungguh-sungguh dan menetapkan standar belajar yang Intensitas mahasiswa dalam pembelajaran berbasis layanan akan mempengaruhi perolehan pengalaman belajar dan berbagai kecakapan kerja. Oleh karena itu, salah satu ukuran untuk menilai efektifitas pembelajaran adalah apakah siswa terlibat mendalam dalam pembelajaran . , 20, . Dengan demikian keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran merupakan bentuk keaktifan individu, sehingga dapat dijelaskan dengan menggunakan berbagai kata kerja, seperti: keterkaitan individu, komitmen individu, ketekunan, terlibat, ambil bagian, berpartisipasi, menunjukkan antusiasme untuk, menaruh PEMBELAJARAN BERBASIS MBKM Kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat berdampak signifikan pada perubahan lingkungan sosial, budaya. Kecenderungan baru ini menuntut perguruan tinggi untuk memberikan bekal kompetensi kepada mahasiswa sesuai dengan tuntutan dunia kerja dan tuntutan perubahan masa depan yang sangat Untuk mendorong agar perguruan tinggi dapat menyiapkan mahasiswa dalam menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat, maka Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi mengeluarkan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM). Salah satu poin penting dari kebiajakan MBKM adalah mendorong perguruan tinggi agar dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran inovatif sehingga mahasiswa dapat mengembangkan aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja . Kampus Merdeka diharapkan memberikan ruang yang luas kepada perguruan tinggi untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Kegiatan pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang kelas melalui kegiatan perkuliahan tatap muka, tetapi dapat dilaksanakan oleh dosen dan mahasiswa melalui berbagai ragam kegiatan, seperti kegiatan pengabdian masyarakat, magang, pertukaran mahasiswa, penelitian, kegiatan praktik wirausaha, studi atau proyek independen, dan mengikuti program kegiatan Melalui berbagai kegiatan pembelajaran inovatif ini diharapkan para mahasiswa akan memperoleh pengalaman aktual dan kontekstual, sehingga kelak dapat menjadi bekal untuk memasuki bursa kerja atau menciptakan lapangan kerja baru setelah mereka dinyatakan lulus. Kegiatan pembelajaran dalam Kampus Merdeka merupakan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa . tudent centered learnin. Hal ini akan memberikan tantangan dan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berinovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan dengan mengkaji berbagai permasalahan riil, melakukan interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, memahami tuntutan dunia kerja, belajar menetapkan target dan merumuskan berbagai upaya untuk pencapaiannya. Dengan demikian berbagai kegiatan pembelajaran dalam program merdeka belajar diharapkan akan dapat memperkuat baik aspek hard skills maupun soft skills mahasiswa . Dalam penelitian ini, ada 3 kegiatan pembelajaran berbasis MBKM yang sedang dikaji, yaitu: kegiatan asistensi mengajar. KKN Tematik, dan praktik Kajian terhadap 3 kegiatan pembelajaran tersebut didasarkan atas asumsi bahwa cukup banyak mahasiswa yang terlibat aktif didalamnya. Tentu saja, setelah mahasiswa terlibat dalam 3 kegiatan pembelajaran tersebut selanjutnya perlu untuk ditelaah. apakah ketiga kegiatan pembelajaran tersebut dapat mengembangkan berbagai kecakapan yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan dunia kerja di masa depan. Berbagai kajian terdahulu telah mengungkapkan dampak penerapan pembelajaran aktif terhadap keterlibatan kognitif, perilaku, emosional, dan sosial para mahasiswa. Model pembelajaran ini terbukti berdampak positip bagi tumbuhnya kepedulian, keterlibatan, dan mengaktifkan perilaku mahasiswa setelah menyelesaikan studi . Sebagai sebuah pendekatan pendidikan. penerapan pembelajaran aktif di universitas diyakini akan memberikan dampak besar dalam membentuk pengalaman belajar mahasiswa . Melalui pembelajaran aktif, misalnya melalui kegiatan pengabdian dan layanan di masyarakat maka mahasiswa berkesempatan untuk mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya di kampus. Dengan demikian pembelajaran aktif dapat memfasilitasi mahasiswa untuk mengejar aspirasi karir mereka sendiri . , . Strategi pengajaran ini telah terbukti memiliki dampak positif pada diri mahasiswa, seperti tumbuhnya rasa kepedulian, empati, dan altruisme mahasiswa. Dengan menghubungkan teori dan pengalaman belajar, mahasiswa dapat merefleksikan dan mengevaluasi nilai dan keyakinan mereka sendiri secara kritis, sehingga dapat memperkuat aspek emosional, sosial, dan kognitif mereka . URGENSI PENGUATAN KECAKAPAN KERJA UTAMA Keberadaan sumber daya manusia yang memiliki banyak kecakapan sangat dibutuhkan oleh dunia kerja dalam sebuah era yang cepat berubah . Dunia kerja dan para pencari kerja dalam era sekarang membutuhkan pekerja yang tidak hanya menguasai kecakapan teknis saja. Mereka juga membutuhkan calon pekerja yang memiliki kemampuan untuk terus belajar dan cepat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang terjadi di dunia kerja. Berbagai lembaga internasional, seperti OECD dan ILO menggunakan istilah kompetensi utama . ore competencie. dan kecakapan utama . ore skill. , untuk menggambarkan bagaimana kesiapan individu untuk bersaing dalam bursa kerja . , . Beragai negara maju seperti USA. Inggris. Australia, dan negara-negara Asean menggunakan istilah kecakapan inti . ore skill. , kecakapan kunci . ey skill. , kecakapan kerja . okplace know-ho. , dan kecakapan employabilitas . mployability skill. Berbagai kajian mengungkapkan tentang kompetensi utama yang dibutuhkan untuk bersaing dalam bursa kerja, meliputi . Berbagai kompetensi yang terkait dengan kemampuan individu untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan bidang keahliannya . elivery-related competencie. Termasuk dalam jenis kompetensi ini meliputi: kemampuan berpikir analitis, kemampuan untuk mewujudkan target kerja secara efisien sesuai target waktu yang ditetapkan . chievement focu. , kemampuan untuk mengembangkan langkah-langkah dalam menjalankan pekerjaan yang efektif dan dapat dipahami oleh pihak lain . rafting skill. , kemampuan berpikir fleksibel, kemampuan mengelola berbagau sumber daya, kemampuan bekerja dalam tim dan kemampuan memimpin. Berbagai kompetensi terkait dengan kemampuan membangun relasi interpersonal . nterpersonal competencie. Termasuk dalam jenis kompetensi ini meliputi: kemampuan untuk fokus pada pemenuhan kebutuhan dan melayani pelanggan . lient focu. , kemampuan berdiplomasi untuk membaca situasi, memahami aspirasi, dan menjaga hubungan baik dengan stakeholder, kemampuan mempengaruhi dan meyakinkan pihak lain . iplomatic ensitivit. , kemampuan meyakinkan orang lain yang dilandasi dengan sikap jujur, rendah hati, dan hormat . , kemampuan bernegosiasi untuk mewujudkan hasil yang saling memperkuat dan menguntungkan satu dengan yang lain . , dan pemahaman yang baik tentang berbagai aspek organisasional, kemampuan memahami struktur organisasi dan berbagai keputusan yang dibuat organisasi . rganiational knowladg. Berbagai kompetensi yang terkait dengan perencanaan strategis untuk menjawab tantangan masa depan . trategic planning for futur. Termasuk dalam jenis kompetensi ini meliputi: kemampuan mengembangkan bakat dan potensi diri sesuai tantangan masa depan . eveloping talen. , kemampuan menyelaraskan diri dengan kebutuhan, prioritas, dan tujuan organisasi, dan mengembangkan berbagai perilaku yang dapat memperkuat organiasi . rganizational allignmen. , kemampuan membangun relasi yang dilandasi sikap yang dapat dipercaya, memperkuat jaringan internal dan eksternal yang akan memperkuat organisasi . trategic networkin. , dan kemampuan untuk mengembangkan cara pandang yang luas, memahami berbagai tantangan yang akan terjadi di masa depan, mengembangkan keunggulan kompetitif untuk menjawab tantangan dan memanfaakan berbagai peluang pasar . trategic thinkin. Berbagai kajian menjelaskan 4 kecakapan utama, yang dapat ditunjukkan dalam berbagai kecakapan spesifik. yang harus dikuasai individu agar ia memiliki employabilitas yang kuat, sebagaimana tampak pada tabel 1 berikut . ,17,28. Tabel 1. Kecakapan kerja utama dan Rincian Kecakapan spesifik Kecakapan utama Kecakapan spesifik C Berpikir abstrak (MP. C Menggunakan berbagai cara belajar untuk memahami dan menerapkan pengetahuan dan kecakapan yang baru (MP. C Mengumpulkan, mengolah, dan menggunakan informasi (MP. C Menginterpretasikan informasi (MP. C Menjadi pembelajar yang mandiri (MP. C Mampu menggunakan metode penemuan untuk Kecakapan untuk menjawab permasalahan (MP. menjadi manusia pembelajar (KMP) C Bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dipelajari dan diterapkan (MP. C Menggunakan waktu dengan efektif (MP. C Menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas (MP. C Memilih cara terbaik untuk menyelesaikan tugas (MP. C Segera memulai, melaksanakan, dan menyelesaikan tugas (MP. C Mengarahkan diri untuk terus belajar (MP. C Mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan C Kecakapan komunikasi (KK) Kerja Tim (KT) C kondisi yang baru (MP. Memiliki kemauan belajar yang kuat (MP. Menggunakan waktu seefisien mungkin tanpa mengurangi kualitas kerja (MP. Kompeten dalam membaca (KK. Selalu mencatat apa yang menjadi kebutuhan pelanggan (KK. Mampu menulis dengan tepat apa yang menjadi permasalahan bisnis (KK. Mampu mendengarkan dan berkomunikasi secara efektif (KK. Memahami persoalan yang didengarkan dan menggunakan sebagai bahan untuk belajar (KK. Mengarahkan diri untuk terus membaca berbagai informasi, situasi, dan kondisi yang sedang dihadapi (KK. Mampu membaca, memahami, dan menggunakan berbagai sumber informasi. termasuk grafik, bagan, dan berbagai data (KK. Mampu berkomunikasi dan memahami bahasa bisnis (KK. Menggunakan bahasa numerik untuk menjelaskan permasalahan secara efektif (KK. Mengartikulasikan beragai ide dan apa yang menjadi visi dirinya (KK. Mampu berinteraksi dengan rekan kerja (KT. Memahami dan berkontribusi untuk mewujudkan tujuan organisasi (KT. Mampu bekerja dalam kelompok kerja sesuai dengan budaya kerja yang berlaku (KT. Merencanakan dan membuat keputusan dengan orang lain dan mendukung hasil dari keputusan yang sudah ditetapkan bersama (KT. Mampu bekerja dalam tim atau kelompok (KT. Menghargai pemikiran dan pendapat orang lain yang ada dalam kelompok (KT. Mampu bertindak sebagai pelatih, atau mentor bagi anggota baru dalam kelompok dan memberikan umpan balik (KT. Mampu memimpin secara efektif (KT. Mampu mengambil peran sebagai pemimpin jika dibutuhkan (KT. Mampu memobilisasi anggota kelompok untuk kinerja terbaik (KT. Mampu mengarahkan diri sendiri di tempat kerja (KT. Pemecahan Masalah (PM) C Bertanggung jawab terhadap berbagai tindakan yang sudah dilakukan (KT. C Membangun kemitraan dan saling bertukar pengalaman untuk memperkuat kinerja (KT. C Memperkuat konsensus kelompok yang diperlukan dalam membuat keputusan (KT. C Menghargai masukan orang lain (KT. C Menerima umpan balik, dan menyelesaikan konflik (KT. C Berpikir kreatif (PM. C Mampu memecahkan masalah secara mandiri (PM. C Menguji berbagai asumsi (PM. C Mengidentifikasi berbagai permasalahan (PM. C Membaca data sesuai dengan konteks dan situasi lingkungan (PM. C Mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru (PM. C Mampu mengidentifikasi dan menawarkan berbagai ide baru untuk menyelesaikan pekerjaan (PM. C Mengumpukan, menganalisis, dan mengelola informasi sebagai dasar memuat perencanaan dan pengembangan organisasi (PM. C Mampu merencanakan dan mengelola waktu, uang, dan berbagai sumber daya untuk mewujudkan tujuan (PM. Berbagai kecakapan utama tersebut sangat diperlukan oleh siapa pun untuk mendukung apa pun aktifitasnya, baik ketika ia sedang menempuh studi di kampus, menyelesaikan pekerjaan, dan menjalankan aktifitas di rumah . Semua orang saling berkomunikasi di sepanjang waktu, dan semakin banyak menggunakan perangkat TIK. Seseorang yang mampu berkomunikasi dengan efektif, mampu membelajarkan diri sendiri, dan mampu bekerja dalam tim, biasanya mampu mengelola aktifitas dengan baik, mampu memecahkan masalah dengan efektif, memiliki prestasi belajar yang baik, dan berhasil menjalankan tugas pekerjaan. Berdasakan berbagai kajian tersebut maka dapat dijelaskan bahwa para calon pekerja tidak hanya dituntut untuk menguasai kecakapan teknis yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Tetapi lebih dari itu, mereka harus mampu berkomunikasi secara efektif dengan pelanggan, mampu bekerja dalam tim, memiliki kecakapan interpersonal yang baik, mampu memecahkan masalah, memiliki dorongan yang kuat untuk terus belajar agar dapat memperbaharui pengetahuan dan kecakapan sesuai yang diminta dunia kerja. Berbagai kecakapan utama yang ersifat non teknis sangat diperlukan agar calon pekerja memiliki kesiapan memasuki dunia kerja dan terus dapat mengikuti berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia kerja. METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini adalah para mahasiswa di Jawa Timur yang mengikuti program MBKM, khususnya bagi mereka yang mengikuti 3 kegiatan pembelajaran, yaitu: . asistensi mengajar di satuan pendidikan, . kuliah kerja nyata tematik, dan . praktik kegiatan wirausaha. Sampel penelitian ditetapkan dengan menggunakan teknik accidental sampling, dengan mempertimbangkan luasnya cakupan populasi yang ada. Para responden yang mengisi kuesioner dan terlibat dalam salah satu diantara 3 kegiatan pembelajaran tersebut ditetapkan sebagai sampel penelitian. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan teknik Lemeshow karena mempertimbangkan jumlah populasi yang sangat besar . Dengan menetapkan nilai z = 1,96. maksimal estimasi = 50%, dan sampling error = 10% maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 192 mahasiswa di Jawa Timur, yang secara proporsional diambil dari mereka yang terlibat dalam 3 kegiatan model pembelajaran, sehingga masing-masing kelompok pekerja akan diwakili oleh 64 responden. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan mengunakan angket model likert skala 5. Pengembangan angket penelitian dilakukan dengan memperhatikan berbagai indikator tentang keterlibatan belajar mahasiswa dalam pembelajaran berbasis MBKM dan indikator tentang kecakapan kerja utama. sebagaimana yang dikaji dalam penelitian ini. Penyebaran angket dilakukan peneliti dengan menggunakan perangkat google form. Untuk mendeskripsikan tingkat keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran dan tingkat pertumbuhan kecakapan kerja utama digunakan kreteria, sebagaimana tampak pada tabel Tabel 2. Tingkat Keterlibatan Belajar dan Kecakapan Kerja Utama Skor Tingkat keterlibatan belajar Tingkat kecakapan kerja utama 1,00 Ae 1,80 Sangat rendah Sangat rendah 1,81 Ae 2,60 Rendah Rendah 2,61 Ae 3,40 Sedang Sedang 3,41 Ae 4,20 Tinggi Tinggi 4,21 Ae 5,00 Sangat Tinggi Sangat Tinggi Analisis data ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif . , yang dilakukan peneliti dengan memotret keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis layanan. Selanjutnya peneliti mendeskripsikan perkembangan kecakapan kerja utama para mahasiswa setelah mereka terlibat dalam kegiatan pembelajaran berbasis layanan. Deskripsi tentang keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis layanan dilakukan dengan menggunakan berbagai indikator keterlibatan, yang meliputi: keterkaitan individu . ttach oneself t. , komitmen individu . ommit neslef t. , ketekunan . evote oneself t. , intensitas keterlibatan . ngage i. , kesediaan untuk mengambil bagian dalam kegiatan . artake o. , tingkat partisipasi . articipate i. , antusiasme mengikuti kegiatan pembelajaran . how enthusiasm fo. , dan perhatian pada kegiatan pembelajaran . ake an interest i. Perkembangan kecakapan kerja utama para mahasiswa diukur dengan menggunakan indikator sebagaimana ditampilkan pada Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen angket yang disebarkan kepada responden melalui perangkat google form. Responden diminta untuk mengungkapkan pendapatnya tentang tingkat religiusitasnya, resiliensi, keterlibatan kerja, dan kinerjanya. Responden dalam penelitian ini adalah para pekerja, mereka yang sudah lulus sekolah menengah atas atau lulus dari bangku kuliah, sehingga diasumsikan mampu mengungkapkan berbagai hal yang terkait dengan penelitian ini . , 33,34,35,36,37,. HASIL DAN PEMBAHASAN Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis layanan Hasil penelitian mengungkapkan berbagai informasi terkait dengan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran berbasis layanan yang dilaksanakan melalui program MBKM. Secara keseluruhan, keterlibatan mahasiswa dalam 3 model kegiatan pembelajaran berada dalam kategori sangat Skor rerata keterlibatan mahasiswa pada program asistesi mengajar sebesar 4,3475, program KKN Tematik sebesar 4,88. dan program wirausaha sebesar 4,90 . ihat gambar . Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa program pembelajaran yang lebih banyak menuntut kemandirian mahasiswa terbukti menumbuhkan keterlibatan yang lebih kuat. Program KKN Tematik dan wirausaha adalah 2 model pembelajaran berbasis layanan yang menuntut kemandirian belajar para Hasil penelitian ini megungkapkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran ilihat dari 7 indikator yang digunakan dalam penelitian ini berada pada skor yang sangat tinggi. Sedangkan kegiatan pembelajaran dalam bentuk asistensi mengajar memiliki skor keterlibatan yang lebih rendah, khususnya untuk indikator keterkaitan mahasiswa dalam program kegiatan dan kesediaan mahasiswa untuk mengambil bagian dalam kegiatan pembelajaran berada pada skor 4 . Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kegiatan pembelajaran yang memberikan ruang kemandirian kepada mahasiswa untuk berekspresi akan menumbuhkan keterlibatan belajar yang sangat tinggi. Gambar 1. Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran berbasis layanan Perkembangan kecakapan kerja utama Hasil penelitian mengungkapkan berbagai kecakapan kerja utama yang ditunjukkan para mahasiswa setelah mengikuti kegiatan pembelajarn berbasis Kecakapan menjadi manusia pembelajar Hasil penelitian ini mengungkapkan dorongan para mahasiswa untuk menjadi manusia pembelajar setelah mengikuti kegiatan asistensi mengajar. KKN Tematik, dan kegiatan wirausaha. Tiga model pembelajaran yang dikaji terbukti mampu menumbuhkan berbagai kecakapan terkait dengan dorongan untuk menjadi manusia pembelajar. Dilihat dari semua indikator, kegiatan wirausaha terbukti mampu menumbuhkan kecakapan sebagai manusia pembelajar yang sangat kuat, kemudian diikuti oleh kegiatan KKN tematik, dan asistensi mengajar . ihat gambar . Kegiatan asistensi mengajar dominan dapat menumbuhkan kecakapan mahasiswa untuk menjadi manusia pembelajar, dilihat dari 5 indikator. meliputi: . mengumpulkan, mengolah, dan menggunakan informasi, . menginterpretasikan dan mengkomunikasikan informasi, . mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang baru, . menggunakan waktu dengan efektif, dan . memiliki kemauan belajar yang kuat. Gambar 2. Kecakapan mahasiswa untuk menjadi manusia pembelajar Kegiatan KKN Tematik dominan dapat menumbuhkan kecakapan mahasiswa untuk menjadi manusia pembelajar, dilihat dari 4 indikator. meliputi: . mampu menggunakan metode penemuan untuk menjawab permasalahan, . menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas, . mengarahkan diri untuk terus belajar, . menggunakan waktu seefisien mungkin tanpa mengurangi kualitas kerja. Kegiatan wirausaha dominan dapat menumbuhkan kecakapan mahasiswa untuk menjadi manusia pembelajar, dilihat dari 5 indikator. meliputi: . mampu berpikir abstrak, . menjadi pembelajar mandiri, . bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dipelajari dan dijalankan, . kemampuan memilih cara terbaik untuk menyelesaikan tugas, dan . kemampuan untuk segera memulai, melaksanakan, dan menyelesaikan tugas. Kecakapan komunikasi Secara keseluruhan, kegiatan wirausaha merupakan model pembelajaran berbasis layanan yang mampu menumbuhkan kemampuan komunikasi yang sangat kuat, disusul oleh kegiatan asistensi mengajar, dan kegiatan KKN Tematik . ihat gambar . Kegiatan asistensi mengajar dominan dapat menumbuhkan kecakapan komunikasi para mahasiswa, dilihat dari 4 indikator. kompeten dalam membaca, . mampu mendengarkan dan berkomunikasi secara efektif, . mampu membaca, memahami, dan menggunakan berbagai sumber informasi. termasuk grafik, bagan, dan berbagai data, . menggunakan bahasa numerik untuk menjelaskan permasalahan secara efektif. Kecakapan Komunikasi KK1 KK2 KK3 KK4 Asistensi Mengajar KK5 KK6 KK7 KKN Tematik KK8 KK9 KK10 Rerata Wirausaha Gambar 3. Kecakapan komunikasi mahasiswa Kegiatan KKN Tematik dominan dapat menumbuhkan kecakapan komunikasi mahasiswa, dilihat dari 2 indikator. meliputi: . memahami persoalan yang didengarkan dan menggunakan sebagai bahan untuk belajar, dan . mengarahkan diri untuk terus membaca berbagai informasi, situasi, dan kondisi yang sedang dihadapi. Kegiatan wirausaha dominan dapat menumbuhkan kecakapan komunikasi mahasiswa, dilihat dari 5 indikator. meliputi: . selalu mencatat apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, . mampu menulis dengan tepat apa yang menjadi permasalahan bisnis, . mampu berkomunikasi dan memahami bahasa bisnis, dan . mengartikulasikan beragai ide dan apa yang menjadi visi dirinya. Kecakapan kerja tim Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa model pembelajaran KKN tematik dan pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha terbukti mampu menumbuhkan kecakapan kerja tim yang sangat kuat, kemudian disusul oleh kegiatan asistensi mengajar . ihat gambar . Kegiatan asistensi mengajar dominan dapat menumbuhkan kecakapan kerja tim para mahasiswa, dilihat dari 3 indikator. meliputi: . mampu bertindak sebagai pelatih, atau mentor bagi anggota baru dalam kelompok dan memberikan umpan balik, . mampu memimpin secara efektif, . mampu memobilisasi anggota kelompok untuk kinerja terbaik. Kegiatan KKN Tematik dominan dapat menumbuhkan kecakapan kerja tim mahasiswa, dilihat dari 7 indikator. meliputi: . mampu berinteraksi dengan rekan kerja, . memahami dan berkontribusi untuk mewujudkan tujuan organisasi, . mampu bekerja dalam kelompok kerja sesuai dengan budaya kerja yang berlaku, . merencanakan dan membuat keputusan dengan orang lain dan mendukung hasil dari keputusan yang sudah ditetapkan bersama, . mampu bekerja dalam tim atau kelompok, . menghargai pemikiran dan pendapat orang lain yang ada dalam kelompok, dan . memperkuat konsensus kelompok yang diperlukan dalam membuat Kegiatan wirausaha dominan dapat menumbuhkan kecakapan kerja tim mahasiswa, dilihat dari 5 indikator. meliputi: . mampu mengarahkan diri sendiri di tempat kerja, . bertanggung jawab terhadap berbagai tindakan yang sudah dilakukan, . membangun kemitraan dan saling bertukar pengalaman untuk memperkuat kinerja, . menghargai ide dan pendapat orang lain, dan . menerima umpan balik dan menyelesaikan konflik. Ketrampilan Kerja Tim Asistensi Mengajar KKN Tematik Wirausaha Gambar 4. Kecakapan kerja tim para mahasiswa Kecakapan memecahkan masalah Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa model pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha terbukti mampu menumbuhkan kecakapan pemecahan masalah yang sangat kuat, kemudian disusul oleh kegiatan pembelajaran KKN tematik dan asistensi mengajar . ihat gambar . Kegiatan asistensi mengajar dominan dapat menumbuhkan kecakapan pemecahan masalah para mahasiswa, dilihat dari 2 indikator. meliputi: . mampu menguji berbagai asumsi, dan . mengumpukan, menganalisis, dan mengelola informasi sebagai dasar memuat perencanaan dan pengembangan Kegiatan KKN Tematik dominan dapat menumbuhkan kecakapan pemecahan masalah para mahasiswa, dilihat dari 2 indikator. meliputi: . mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan . mampu mengidentifikasi dan menawarkan berbagai ide baru untuk menyelesaikan Kegiatan wirausaha dominan dapat menumbuhkan kecakapan pemecahan masalah para mahasiswa, dilihat dari 5 indikator. meliputi: . mampu berpikir kreatif, . memecahkan masalah secara mandiri, . mengidentifikasi berbagai permasalahan, . membaca data sesuai dengan konteks dan situasi lingkungan, dan . mampu merencanakan dan mengelola waktu, uang, dan berbagai sumber daya untuk mewujudkan Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa 3 model pembelajaran berbasis layanan, yaitu kegiatan wirausaha. KKN Tematik, dan asistensi mengajar sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya kecakapan kerja utama para mahasiswa. Model pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha menunjukkan peran yang paling dominan dalam menumbuhkan kecakapan kerja utama, disusul oleh model pembelajaran KKN Tematik, dan asistensi mengajar. Kecakapan Pemecahan Masalah PM1 PM2 PM3 PM4 Asistensi Mengajar PM5 PM6 PM7 KKN Tematik PM8 PM9 Rerata Wirausaha Gambar 5. Kecakapan pemecahan masalah para mahasiswa Hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai kajian penelitian terdahulu yang mengungkapkan adanya pengaruh positip kegiatan wirausaha dalam menumbuhkan kecakapan kerja . Berbagai penelitian terdahulu juga mengungkapkan bahwa kegiatan praktik kewirausahaan yang merupakan bagian dari praktik pendidikan kewirausahaan akan memperkuat berbagai kecakapan kerja . dan kesiapan bekerja . Dengan demikian kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi selayaknya dapat dilaksanakan dengan memberikan kesempatan yang luas kepada para mahasiswa untuk mengembangkan kreasi, misalnya melalui kegiatan pembelajaran berbasis proyek dan kegiatan kewirausahaan. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan penelitian sebagai berikut: Kegiatan pembelajaran berbasis MBKM yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan asistensi mengajar. KKN Tematik, dan kegiatan wirausaha berdampak yang sangat kuat bagi tumbuhnya keterlibatan belajar mahasiswa. Secara berturut-turut, model pembelajaran yang berpengaruh sangat kuat bagi tumbuhnya keterlibatan belajar mahasiswa adalah, pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha. KKN Tematik, dan asistensi mengajar. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh karakteristik model pembelajaran yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri dan kreatifitas. Model pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha dan KKN tematik adalah model pembelajaran yang memberikan ruang seluas-luasnya kepada para mahasiswa untuk belajar. Hal ini terbukti mampu menumbuhkan keterlibatan belajar yang sangat kuat. Ketiga model pembelajaran berbasis MBKM menunjukkan peran yang sangat kuat dalam menumbuhkembangkan kecakapan kerja utama, yang meliputi: kecakapan menjadi manusia pembelajar, kecakapan komunikasi, kecakapan kerja dalam tim, dan kecakapan pemecahan masalah. Model pembelajaran yang paling kuat dalam menumbuhkembangkan kecakapan kerja utama, secara berturut-turut adalah pembelajaran berbasis kegiatan wirausaha. KKN tematik, dan asistensi mengajar. SARAN Berdasarkan simpulan penelitian, maka dapat dikemukakan beberapa rekomendasi sebagai berikut: Untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran, disarankan kepada para dosen untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang memberikan ruang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk berkespresi dan Hal ini dapat dilaksanakan melalui ketiga model pembelajaran yang dikaji dalam penelitian ini disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mata kuliah yang diampu dosen. Untuk meningkatkan kecakapan kerja utama para mahasiswa maka disarankan para dosen dapat melaksanakan pembelajaran aktif, misalnya melalui pembelajaran berbasis produk, kegiatan wirausaha, maupun kegiatan pembelajaran berbasis kegiatan di masyarakat. Perlu kajian lebih lanjut untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat memperkuat kecakapan kerja utama, yang sangat dibutuhkan para mahasiswa sebagai bekal memasuki bursa kerja kelak setelah lulus. DAFTAR PUSTAKA