Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Journal Homepage: https://pusdikra-publishing. com/index. php/josr Strategi Pengembangan Kompetensi Guru dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Era Society 5. Muhammad Hardi HR1. Besse Wahida2. Rizqi Eka Nanda3 1,2,3 Institut Agama Islam Negeri Pontianak. Indonesia Corresponding Author: mallewahardi01@gmail. ABSTRACT Key Word Advances in educational technology have prompted educational institutions to adapt in order to optimize their role as agents of change, including conditioning teachers as subjects of education. The focus of this study is to analyze the strategies employed to develop the competencies of teachers in the era of Society 5. The research was conducted using a Systematic Literature Review (SLR) approach. Data collection techniques were carried out in stages: determining the main keywords of the research theme, establishing inclusion and exclusion criteria, literature search, grouping and synthesizing Data analysis was performed using content analysis and qualitative descriptive analysis, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The reliability and objectivity of the research results were ensured through the validity of credible scientific sources, consistency in the analysis process and stages, and cross-checking between literature sources. The results of the study show that there are several strategies for developing teacher competencies in the era of Society 5. 0, namely: intensive digital literacy training, collaboration through professional teacher networks, integration of artificial intelligence (AI) ethics into the teacher development curriculum, development of problem-based critical thinking skills, evaluation of teacher competency mapping through digital portfolios, partnerships with universities, psychological support, integration of machine learning, development of multicultural competencies, and leadership through mentoring. This study emphasizes the need for synergy between teachers, the government, and educational institutions to conduct regular and continuous training in teacher competency development so that there is an improvement in the quality of education in the era of society 5. Education. Society 5. Teacher. Competency. Technology. Learning How to cite https://pusdikra-publishing. com/index. php/josr ARTICLE INFO Article history: Received 20 February 2026 Revised 07 March 2026 Accepted 16 March 2026 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Pendidikan adalah wahana utama dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dalam Undang-undang Republik Indonesia No. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat . , ditetapkan Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 bahwa: AuPendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaraAy(Undang-Undang RI No. 20, 2. Definisi tersebut merupakan rumusan formal dan operasional pendidikan yang dalam implementasinya perlu dilandaskan pada kaidah-kaidah keilmuan, yaitu keilmuan pendidikan, dilaksanakan dengan rencana dan persiapan sesuai dengan perangkat praksis yang berlaku dan tersedia serta dipraktikkan secara efektif dan efisien sesuai dengan perencanaan dan persiapannya itu dengan memperhatikan kondisi aktual yang ada. Tuntutan demikian mengingatkan semua pihak untuk menghindari praktik pendidikan tanpa ilmu Pendidikan dan sebaliknya untuk terlaksananya praktik pendidikan dengan ilmu pendidikan (Abd Rahman et al. , 2. Hal itu tidak hanya dimaksudkan supaya pendidikan terlaksana secara baik sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang tersebut di atas, melainkan lebih jauh agar fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang pada hakikatnya hendak memanusiakan kemanusiaan manusia dapat tercapai. Pelaksanaan pendidikan dengan ilmu pendidikan menuntut adanya peran serta guru yang berkompeten dan profesional di bidangnya. Kompetensi dan profesionalisme guru dalam kancah pendidikan nasional merupakan faktor vital yang akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Sehingga keberadaannya sangat berarti sebagai komponen penyelenggara pendidikan baik dalam hal pemenuhan dan penyiapannya (Ilyas yasin, 2. Hal ini bukan hanya untuk kepentingan sektor pendidikan melainkan juga untuk mendukung kemajuan bangsa Indonesia secara umum yang saat ini sedang diperhadapkan kepada dua tantangan besar yaitu desentralisasi dan Desentralisasi dan globalisasi yang akhir-akhir ini secara simultan mewarnai arus kehidupan bangsa Indonesia telah memberikan banyak perubahan dan tekanan dalam segala bidang termasuk dalam bidang Hanya pendidik atau guru yang berkompeten dan profesional yang mampu mengatasi tantangan sekaligus menciptakan peluang pada setiap dinamika zaman. Dalam hal ini, para guru merupakan sumber educational dan instruksional utama Pendidikan yang diharapkan dapat memainkan peran maksimal dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar sehingga mampu mempersiapkan peserta didik yang handal dalam rangka Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 memasuki ajang kompetisi global yang berlangsung secara ketat, bebas dan terbuka (Faiz & Faridah, 2. Kompetensi dan profesionalisme guru semakin dirasakan penting mengingat guru adalah salah satu di antara faktor pendidikan yang memiliki peranan yang paling strategis. Guru merupakan aktor yang paling menentukan terjadinya proses pembelajaran. Penggunaan metode, kurikulum dan media pembelajaran sangat ditentukan oleh kecakapan guru. Manusia yang menggunakan senjata . he man behind the gu. , itulah yang menentukan bukan senjatanya (Muh Idris, 2. Atas asumsi demikian, maka salah satu yang paling pokok dibenahi oleh pemerintah di dalam membenahi dunia pendidikan adalah peningkatan SDM para guru dalam hal ini peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. Sehubungan dengan hal di atas, diyakini bahwa pemberdayaan guru pada aspek kompetensi dan profesional merupakan keniscayaan mengingat: . peranan guru sebagai sumber pendidikan utama tidak dapat diwakilkan meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi pembelajaran berkembang pesat. Perkembangan pesat dalam bidang teknologi informasi dan teknologi pembelajaran bukan menjadi rintangan bagi guru selaku aktor pendidikan yang utama, melainkan menjadi tantangan yang mengharuskan guru untuk meningkatkan kompetensi profesionalismenya. otonomi daerah dan penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat (Community-Based Educatio. memerlukan pertanggungjawaban dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah secara terbuka. Maka dari itu, guru yang kompetensinya minim tidak akan mampu memberikan solusi atas masalah yang terjadi dalam. perubahan sosial beriringan dengan permintaan masyarakat terhadap kompetensi lulusan pendidikan (Wijaya Lusi, 2. Hal ke-tiga yang terakhir disebutkan, sejalan dengan prediksi UNESCO, yang memperkirakan bahwa proses pendidikan pada abad 21 ini akan dikemas berbeda dari masa sebelumnya. UNESCO menawarkan empat pilar pendidikan, yaitu belajar untuk mengetahui . earning to kno. , belajar untuk melakukan . earning to d. , belajar supaya hidup dalam kebersamaan . earning to live togethe. , belajar agar menjadi diri sendiri . earning to b. (Iqbal et al. Penerapan ke-empat pilar pendidikan tersebut dalam proses pembelajaran membutuhkan guru yang berkompeten dan profesional, berpengalaman dan berpengetahuan luas, khususnya berkaitan dengan bidang studi yang Adapun faktor-faktor lainnya seperti sarana ruang kelas, kurikulum dan lingkungan hanyalah sebagai sarana pendukung agar guru Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 dapat menjalankan tugasnya secara efektif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Hal tersebut di atas telah diantisipasi oleh pemerintah sebagai pihak utama yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan nasional dengan mempersyaratkan tiga hal bagi guru, yaitu: . pemilikan standar minimal kualifikasi akademik, . kewajiban memenuhi kompetensi, dan . pelaksanaan tugas secara profesional. Sehubungan dengan pemilikan standar minimal kualifikasi akademik. Permendiknas No. 16 Tahun 2007 menetapkan bahwa guru harus memiliki kualifikasi akademik minimum diploma IV atau Hanya saja dalam penentuan kualifikasi akademik terdapat perbedaan antara persyaratan yang dituangkan untuk guru (PAUD/TK/RA) dengan guru (SMP/MTS. SMA/MA) dan (SMK/MAK). Adapun yang disebutkan pertama disyaratkan memiliki latar belakang bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi, sedangkan yang kedua berasal dari program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu (Fitri et al. , 2. Adapun mengenai kewajiban bagi para guru untuk memenuhi kompetensi yang telah dipersyaratkan, maka pemerintah secara eksplisit dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mempersyaratkan bagi para guru untuk memiliki empat kompetensi, yaitu: . kompetensi pedagogik. kompetensi kepribadian. kompetensi sosial. dan kompetensi profesional (Uleng & Aderus, 2. Ke-empat komponen kompetensi itu merupakan kesatuan yang harus menjadi bagian integral dalam diri dan pelaksanaan tugas seorang guru. Melalui pemilikan ke-empat kompetensi itu para guru diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara profesional. Hal itu merupakan keniscayaan mengingat tugas guru adalah pekerjaan profesional yang berbeda dengan pekerjaan non profesional. Oleh karena itu, profesi guru memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam pelaksanaanya, dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus dipersiapkan untuk itu. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa guru harus profesional. Penegasan ini lebih lanjut ditetapkan dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada Bab 1 Pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (Undang-Undang RI No. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 Penjelasan di atas mengindikasikan bahwa komponen guru menempati posisi strategis dan fundamental dalam pendidikan. Guru merupakan faktor dominan yang berperan penting dalam peningkatan kualitas pendidikan, dengan istilah lain skala mutu pendidikan itu sangat dipengaruhi oleh kualitas yang dimiliki oleh para guru (Munawir et al. , 2. Oleh karena itu, logis jika sekarang ini dilakukan berbagai upaya yang bermuara pada peningkatan dan pengembangan kompetensi guru. Pengembangan kompetensi guru sebagai agen pendidikan semakin urgen dan krusial dilakukan di tengah perkembangan dan kemajuan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan. Transformasi dari society 4. 0 menuju pergerseran paradigma teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) internet on thinks (IoT) dan big data tidak lagi sebatas alat industri melainkan fondasi untuk masyarakt super yang manusia-sentris (Yulihartati & Veri, 2. Keadaan ini tidak hanya menuntut adanya pemenuhan kompetensi dasar sesuai standardisasai pendidik sebagaimana disebutkan sebelumnya melainkan juga kompetensi literasi digital atau kompetensi teknologi informasi. Kondisi ini berdampak dengan lahirnya tuntutan pada dunia pendidikan agar dapat beradaptasi dalam mempersiapkan generasi yang mampu berinteraksi selaras dengan dunia digital. Peran guru sebagai pilar utama dalam sistem pendidikan menghadapi tantangan baru mengingat kurikulum tradisional tidak cukup mapan untuk mengakomodasi inovasi ini. Pengembangan kompetensi guru menjadi esensial agar dapat memfasilitasi pembelajaran yang relevan, seperti penggunaan IA untuk menganalisis data siswa dan IoT untuk simulasi interaktif. Tanpa dukungan ini, kesenjangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan pendidik akan melemah dan menghambat tujuan society 5. 0 yang menitikberatkan pada kesejateraan sosial dan inovasi berkelanjutan (Resiko et al. , 2. Kompetensi guru yang kuat sangat penting untuk mengintegrasikan teknologi canggih ke dalam proses pembelajaran dan memastikan bahwa pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan society 5. Para guru dituntut menguasai literasi digital, termasuk mengoperasikan platform e-learning serta big data untuk personalisasi pendidikan. Keterampilan dalam penggunaan teknologi akan memungkinkan pembelajaran yang lebih adaptif dan efisien (Agriani et al, 2. Dengan kompetensi ini, guru pada hakikatnya melakukan transformasi dari subyek transformator pendidikan menjadi mentor yang inovatif sehingga menjadikan pendidikan tetap inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang semakin terkoneksi. Pengembangan kompetensi guru di tengah transformasi teknologi harus tetap diupayakan oleh berbagai pihak mengingat manfaatnya jauh lebih besar Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 di masa mendatang. Kompetensi yang ditingkatkan memungkinkan guru mengatasi masalah seperti penuaan populasi melalui pendidikan jarak jauh atau mengurangi kesenjangan sosial dengan konten inklusif. Di samping itu, pengembangan kompetensi akan berdampak langsung terhadap meningkatnya kualitas pendidikan formal pada tingkatan pendidikan, mulai PAUD/TK/RA. SMP/MTS. SMA/MA. SMK/MAK (Syakrani et al. , 2. Implikasi jangka panjang dari pengembangan kompetensi guru membentuk fondasi untuk inovasi sosial di era society 5. Guru yang berkompeten akan mendorong siswa menjadi warga negara digital yang etis, mampu menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim melalui pendidikan berbasis data. Rekomendasi utama meliputi investasi dalam kriteria pelatihan nasional, kemitraan dengan sektor teknologi, dan evaluasi berkala (Mulyani & Wahyudin, 2. Pemerintah dan institusi pendidikan harus memprioritaskan hal ini untuk menghindari stagnasi, memastikan bahwa transformasi dari society 4. 0 ke society 5. 0 menghasilkan pendidikan yang Dengan demikian, kompetensi guru bukan sekedar kebutuhan, tetapi strategi investasi untuk menghasilkan kualitas pendidikan sesuai kebutuhan zaman terkini. Penelitian seputar kompetensi guru sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya baik melalui pendekatan kuantitatif maupun pendekatan Fokus penelitiannya pun beragam, ada yang mengkaji tentang peran kompetensi guru, efektifitas kompetensi guru dan pengaruh kompetensi guru. Kompetensi guru dihubungkan dengan beragam variabel seperti prestasi siswa, kemandirian siswa dan dinamika sosial yang sedang terjadi seperti 4. maupun aspek lainnya. Penelitian ini secara intens hendak mengungkap sisi praktis pengembangan kompetensi guru yang dihubungkan dengan kualitas Pendidikan di era society 5. Fokus penelitian ini untuk mengetahui bagaimana strategi pengembangan kompetensi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di era society 5. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan Sistematik Literatur Review (SLR). Penggunan pendekatan ini didasarkan pada tujuan penelitian yang hendak memahami, menafsirkan, dan mensintesis konsep, dan gagasan sesuai tema penelitian berdasarkan kajian teoritis serta penelitian terdahulu (Niam et al. , 2. Dalam teknis pelaksanaanya, mengacu pada pengkurasian dan analisis berbagai literatur yang relevan sebagai sumber data utama penelitian. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 Review literatur sebagai proses kritis dalam mengumpulkan, mengevaluasi dan mensintesis temuan pada literatur terdahulu dilakukan secara cermat untuk membangun argumen mendalam dan komprehensif sesuai dengan topik penelitian yang akan diungkap (Muhammad Abduh 2. Pemilihan topik, penghimpunan data, analisis data dan penyusunan kesimpulan merupakan langkah-langkah teknis yang dilakukan dalam penelitian ini. Pemilihan topik dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah literatur yang tersedia dan akses yang memungkin peneliti untuk melakukan penelitian (Asep Mulyana et al. , 2. Jumlah ketersediaan literatur sesuai tema penelitian dipersyaratkan cukup memadai begitu pula akses yang luas bagi peneiliti untuk memperoleh data Penghimpunan sumber data utama diperoleh dari berbagai buku teks akademik, jurnal akademik nasional dan internasional yang bereputasi, dan laporan hasil penelitian yang terkait dengan tema penelitian (Muhammad Hasan et al. , 2. Penerapan sistematik literatur review (SLR) secara kualitatif dalam penelitian dilakukan malalui tahapan: Penentuan kata kunci utama tema penelitian, penetapan kriterian inklusi dan eksklusi. Penelusuran literatur sebagai sumber data ilmiah melalui: Google Shcolar. Science Direct data dan portal ilmiah nasional: Neliti dan Garuda. Seleksi artikel sesuai topik dan tahun publikasi, pengelompokan dan sintesis temuan. Akses penelusuran data menggunakan kata kunci antara lain: kompetensi, society 5. 0, pendidikan, guru, dan teknologi. Analisis data sebagai tahapan penting dalam penelitian ini dilakukan menggunkan analisis conten . onten analyisi. dan analisis deskriptif kualitatif. Proses analisis ini meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan Kesimpulan (RifaAoi, 2. Pada tahap ini identifikasi pola, tema utama, dan kecenderunagan konseptual terkait tema penelitian dilakukan secara cermat dan terstruktur. Hasil analisis data kemudian disintesis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif yang selanjutnya dituangkan dalam hasil dan kesimpulan penelitian. Keandalan dan obyektifitas hasil penilitian ini diantisipasi melalui keabsahan sumber-sumber ilmiah yang kredibel, konsistensi proses dan tahap analisis serta pengecekan silang antar literatur (Bambang et al. , 2. Kesimpulan yang disajikan dalam penelitian ini untuk mengungkap bagaimana strategi pengembangan kompetensi guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di era society 5. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kualitas pendidikan mengacu pada tingkat kemahiran dalam sistem pendidikan yang meliputi hasil belajar siswa, relevansi kurikulum, kecakapan dan efektivitas. Secara kontekstual, kualitas ini diukur dengan indikator seperti kemampuan siswa untuk menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan etika yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari sebagai komunitas masyarakat umum (Emeliazola & Zulfani Sesmiarni, 2. Pemahaman ini berfokus pada proses holistik yang melibatkan interaksi antara siswa, guru, dan lingkungan pembelajaran, di mana pendidikan berkualitas tinggi sebatas mentransfer pengetahuan melainkan juga mengembangkan kemampuan berpikir secara logis dan kritis. Kualitas pendidikan internasional sering dikaitkan dengan standar internasional seperti yang direkomendasikan oleh UNESCO, yang menitikberatkan pada pentingnya aksesibilitas dan kesetaraan (Khairunnisa. Oleh karena itu, kualitas pendidikan yang bermutu harus mampu menghasilkan individu yang kompeten dan inovatif, serta selalu siap menghadapi tantangan masa depan. Ruang lingkup kualitas pendidikan begitu luas mulai dari aspek mikro seperti metode dan penilaian sampai aspek makro seperti ragam aturan dan kebijakan serta dampak sosial budaya dan ekonomi. Pada tataran praktis ruang lingkup mencakup sekolah, pendidik, dan integrasi teknologi dalam pembelajaran (Sianturi et al. , 2. Cakupan Kualitas pendidikan yang begitu luas dengan berbagai indikator di dalamnya sebagaimana yang diterangkan sebelumnya bukanlah variabel bebas yang muncul secara tiba-tiba tanpa didahului oleh proses determinasi yang saling terkait dengan berbagai macam variabel, termasuk diantaranya faktor guru sebagai unsur determinan dalam pelaksanaan pendidikan. Peran guru yang berkompeten dalam meningkatkan kualitas pendidikan ditemukan dalam banyak referensi. Di antara referensi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Ringkasan Referensi Strategi Pengembangan Kompetensi Guru No. Penulis. Tahun Zusanna E. Pudyastuti, 2024 Judul Peningkatan Kompetensi Guru di Era Digital dalam Penerapan Pembelajaran Hasil Kompetensi guru dalam pembelajaran berbasis teknologi informasi digital, berikut aspekaspek yang ada Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 Berbasis Teknologi Informasi Ni Putu Restu Trinadi Asih, 2024 Hetwi Marselina Saerang, 2023 Cindi Amelia, didalamnya perlu ditingkatkan untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan bagi para peserta didik pada satuan pendidikan Profil Guru Di Era Pendidik di era society 5. Society 5. harus memanfaatkan: Internet of things pada dunia Pendidikan (IoT). Virtual/Augmented reality dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. Strategi Pengembangan Strategi yang ada meliputi Profesionalisme Guru pelaksanaan pelatihan, di Era Digital: workshop, seminar. Tantangan dan maupun sertifikasi terkait Peluang pengembangan media, sumber, serta pengembangan materi pelajaran berbasis digital, supervisi. KKG. PKG. MGMP Strategi Peningkatan Strategi alternatif yaitu: Kompetensi Guru Di pemantauan terhadap Era Digital proses pembelajaran . Terlibat dalam forum profesional, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). Pemutakhiran pengetahuan yang ig kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam praktik Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 Telaah rerensi pada tabel tersebut menunjukan bahwa kualitas pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas formal, tetapi juga meliputi pendidikan non formal dan informal yang mendukung kecakapan manusia. Pemahaman terhadap ruang lingkup kualitas pendidikan akan memudahkan dalam merancang strategi komprehensif untuk meningktakan kualitas pendidikan, termasuk strategi pengembangan kompetensi guru sebagai subyek Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pertama pengembangan kompetensi guru adalah melalui pelatihan intensif dalam literasi digital. Literasi digital dapat dimaknai sebagai kemampuan guru dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi seperti penggunaan komputer, laptop, tablet dan smartphone. Beberapa temuan menunjukkan banyak guru merasa kesulitan untuk mengintegrasikan perangkat keras seperti alat platform elearning atau megupdate keterampilan berbasis digital. Melalui pelatihan intensif secara berkala para guru secara perlahan dapat meningkatkan interaktivitas dalam pembelajaran yang selaras dengan tujuan society 5. Strategi ini melibatkan lokakarya kolaboratif dengan pakar teknologi (Supriyanto, 2. Sehingga memungkinkan guru barbagi praktik dan pengalaman terbaik. Strategi ini menekankan pelatihan berkelanjutan untuk menjaga relevansi kompetensi guru. Strategi berikutnya adalah pengembangan kompetensi kolaborasi melalui jaringan profesional guru. Partisipasi guru dalam komunitas online akan menjadi wahana pertukaran ide-ide kreatif dan inovatif. Platform seperti Google classroom dan edmodo dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran hybrid (Hidayat, 2. Dalam konteks society 5. kolaborasi ini mendukung inovasi pendidikan yang inklusif. Para guru yang terlibat dalam jaringan ini lebih efektif dalam mengatasi tantangan teknologi. Strategi ini juga mendorong pembelajaran seumur hidup untuk adaptasi di era Strategi ini merekomendasikan kebijakan yang mendukung jaringan sebagai bagian integral pengembangan kompetensi. Strategi lainnya adalah integrasi etika kecerdasan buatan (AI) dalam kurikulum pengemban guru. Di era society 5. 0, para guru harus memahami penerapan moral penggunaan IA dalam pendidikan, seperti privasi data dan bias algoritma (Yulihartati & Veri, 2. Temuan menunjukkan bahwa guru yang dilatih etika lebih mampu membimbing siswa dalam penggunaan teknologi yang bertanggungjawab. Strategi ini mencakup simulasi skenario etis, memfasilitasi diskusi kriti. Dampaknya adalah peningkatan kualitas Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 pendidikan yang fokus pada nilai-nilai kemanusian. Penelitian ini menegaskan bahwa etika AI adalah komponen esensial kompetensi guru modern. Selain itu, terdapat pula strategi yang menekankan pengembangan keterampilan berpikir kritis melalui proyek berbasis masalah. Pengembangan keterampilan ini sebagai antitesa dari pendekatan tradisional yang kurang mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan era society 5. Melalui keterampilan ini para guru didorong termapil melakukan analisis data dan menemukan solusi inovatif (Resiko et al. , 2. Dalam penerapannya, strategi ini melibatkan kolaborasi dengan industri untuk proyek dunia nyat, seperti analisis dampak IoT. Temuan menunjukkan bahwa guru yang kompeten dalam berpikir kritis lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Hal ini mengisyaratkan perlunya integrasi dalam pengembangan kompetensi guru. Strategi selanjutnya adalah evaluasi pemetaan kompetensi guru melalui portofolio digital. Para guru diminta membangun portofolio yang mendokumetasikan pengembangan kompetensi guru, termasuk refleksi atas praktik pembelajaran (Helmi et al. , 2. Temuan menunjukkan bahwa portofolio dalam mendukung penilain diri dan umpan balik konstruktif dalam pembelajaran di era society 5. 0 mendukung personalisasi pembelajaran. Strategi ini menyoroti kedudukan portofoliao sebagai instrumen efektif untuk mengukur kompetensi guru. Selanjutnya, strategi kemitraan dengan universitas untuk pengembangan Para guru yang berpartisipasi dalam program magister pendidikan teknologi menunjukkan peningkatan pengetahuan teoritis dan praktis (Pudyastuti et al. , 2. Temuan menunjukkan integrasi penelitian universitas dalam praktik kelas yang selaras dengan inovasi society 5. Strategi ini melibatkan seminar bersama dan proyek kolaboratif. Dampaknya adalah guru yang lebih inovatif dalam merancang kurikulum. Strategi ini menganjurkan perluasan kemitraan untuk akses yang lebih luas dalam rangka pengembangan kompetensi guru. Di samping strategi yang diuraikan sebelumnya, terdapat pula strategi dukungan psikologis untuk mengatasi stres digital. Guru sering mengalami kelelahan akibat adaptasi teknologi, sehigga sesi konseling menjadi penting dilakukan (Hidayat, 2. Penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan retensi guru setelah intervensi. Strategi ini mencakup program mindfulness dan dukungan rekan sejawat. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan melalui perspektif psikologis dalam pengembangan kompetensi guru. Lebih lanjut ditemukan adanya strategi kesenjangan. Strategi ini menekankan integrasi pembelajaran mesin dalam pelatihan guru. Para guru Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 dilatih menggunakan AI untuk menganalisis data siswa, meningkatkan personalisasi pembelajaran (Yulihartati & Veri, 2. Temuan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan efisiensi dalam dalam hal asesmen atau evaluasi. Para guru yang mahir AI lebih mampu mengatasi keragaman siswa. Strategi ini melibatkan simulasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Dampaknya adalah terjadinya pendidikan yang lebih adaptif di era society 5. Hal ini merekomendasikan investasi dalam pelatihan teknologi. Pengembangan kompetensi guru juga bisa dilakukan melalui strategi pengembangan kompetensi multikultural melalui program pertukaran virtual (Saerang et al. , 2. Guru dari latar belakang berbeda-beda dapat berbagi perspektif, mempersiapkan siswa untuk hidup di tengah masyarakat global. Pada konteks society 5. 0, kompetensi ini mendukung kolaborasi lintas budaya lewat integrasi konten yang bernuansa multikultural dalam kurikulum. Dalam penerapannya, strategi ini menggunakan platform virtual untuk interaksi dan perkuran informasi. Terakhir, adalah strategi pengembangan kompetensi kepemimpinan melalui pendampingan. Guru senior membimbing guru junior dalam inovasi pendididkan (Muh Idris, 2. Temuan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kepercayaan diri dan kemampuan proyek oleh para guru yang sudah memperoleh bimbingan dari guru senior. Strategi ini sangat krusial di era society 5. 0 dalam melakukan transformasi sistemik. Dalam implementasinya, strategi ini menghendaki pendampingan yang melibatkan diskusi reguler dan feedback sebagai sebuah struktur mentoring formal. Pembahasan Diskusi penelitian ini mengungkapkan bahwa beberapa strategi dalam pengembangan kompetensi guru di era society 5. 0 seperti: pelatihan intensif dalam literasi digital, kolaborasi melalui jaringan profesional guru, integrasi etika kecerdasan buatan (AI) dalam kurikulum pengemban guru, pengembangan keterampilan berpikir kritis melalui proyek berbasis masalah, evaluasi pemetaan kompetensi guru melalui portofolio digital, kemitraan dengan universitas, dukungan psikologis, integrasi pembelajaran mesin, pendampingan akan diperhadapkan pada beberapa situasi maupun kondisi yang berbeda. Dalam Society 5. 0, pengetahuan tidak lagi terpusat pada individu . , melainkan tersebar dalam jaringan . Strategi "kolaborasi melalui jaringan profesional guru" dan "integrasi pembelajaran mesin" adalah manifestasi praktis dari teori konektivisme (Ancillai et Al. , 2. Kompetensi guru diukur bukan dari seberapa banyak hafalan yang dimilikinya, melainkan Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 dari kemampuannya untuk menghubungkan, memfilter dan memvalidasi dalam ekosistem digital kompleks. ini menegaskan bahwa "belajar" adalah proses menghubungkan simpul-simpul informasi (Gumus. M & Kukul, 2. Oleh karena itu, strategi "evaluasi pemetaan kompetensi guru melalui portofolio digital" menjadi relevan karena portofolio digital merekam jejak konektivitas dan proses belajar, bukan sekadar hasil akhir. Kompetensi guru bukanlah entitas yang terisolasi, melainkan hasil negosiasi sosial. Dalam Society 5. 0 yang menekankan pada manusia sebagai . uman-centri. , interaksi Strategi "pendampingan" dan "kemitraan universitas" menciptakan Zone of Proximal (ZPD) yang diperluas secara digital (H. Nabila 2. Guru tidak belajar sendirian, melainkan dalam komunitas yang saling membangun makna. Pengetahuan tentang cara mengajar . dibangun melalui interaksi. Jika strategi ini diabaikan, maka pengembangan kompetensi akan menjadi mekanistik dan gagal menciptakan guru yang adaptif. Di era Society 5. AI dapat menghasilkan pengetahuan . dengan cepat, namun tidak memiliki nilai moral. Strategi ini berargumen bahwa kompetensi guru harus mencakup kemampuan epistemik . engetahui cara mengetahu. dan etis . engetahui apa yang seharusnya diketahu. Tanpa integrasi etika AI, guru berisiko menjadi "tuan rumah" bagi algoritma yang Pengembangan "berpikir kritis melalui proyek berbasis masalah" adalah mekanisme pertahanan epistemologis untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan di kelas tetap berorientasi pada kemanusiaan dan kebenaran, bukan sekadar efisiensi algoritma (Gumus. M & Kukul, 2. Strategi pengembangan kompetensi di Society 5. 0 adalah upaya untuk mentransformasi guru dari penyampai pengetahuan menjadi arsitek pengetahuan dalam ekosistem hibrida. Tanpa landasan teori yang kuat . eperti Konektivisme dan Konstruktivism. , strategi-strategi tersebut hanya akan menjadi program pelatihan semu (Ancillai et Al. Keberhasilan implementasinya bergantung pada kemampuan sistem pendidikan untuk mengatasi tantangan epistemik: mengubah cara guru memandang, memproses, dan memvalidasi pengetahuan di tengah dominasi teknologi cerdas. Implementasi strategi tersebut di lapangan akan berhadapan dengan keterbatasan sumber daya manusia di lembaga pendidikan, khususnya di sekolah pedesaan. Di samping itu, ketersediaan perangkat teknologi pembelajaran yang masih minim juga menjadi catatan tersendiri dalam penerapan strategi pengembangan kompetensi guru di era society 5. Pada kenyataanya. Strategi yang disesuaikan dengan konteks lokal menunjukkan terjadinya efektifitas dalam pengembangan kompetensi guru (Nita et al. , 2. Continuous Education : Journal of Science and Research Volume 7 Issue 1 March 2026 Page 99-115 Temuan penilitian ini searah dengan penelitian sebelumnya tentang pentingnya adaptasi para guru di era society 5. guru yang kompeten memberikan kontribusi pada pembelajaran siswa yang lebih baik, termasuk keterampilan pada abad 21. penelitian ini mendorng kebijakan yang mendukung investasi dalam pengembangan kompetensi guru. Implikasi praktisnya mencakup model pelatihan berkala dan berkelanjutan. Lebih jauh lagi, diskusi menyoroti dampak positif pada hasil belajar siswa, seperti peningkatan skor literasi digital. Strategi pengembangan kompetensi tidak hanya meningkatkan kinerja guru tetapi juga mengurangi kesenjangan Dalam era society 5. 0, ini mendukung inklusivitas sosial. Temuan ini konsisten dengan studi global tentang transformasi pendidikan. Penelitian ini menyarankan evaluasi jangka panjang untuk merekam setiap capaian dalam pelaksanaan pendidikan. Penerapan strategi pengembangan kompetensi guru secara baik dan benar akan meningkatkan kualitas pendidikan nasional. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa strategi pengembangan kompetensi guru sangat esensial untuk meningkatkan kualitas pendidikan di era society 5. 0, dengan integrasi teknologi dan nilai-nilai kemanusian, guru dapat melakukan berbagai inovasi. Temuan ini mendorong penerapan model holistik dalam kebijakan pendidikan. Penelitian ini juga berkontribusi pada nilai adaptasi pendidikan. Rekomendasi utama dalam penelitian ini adalah pelatihan berkala dan berkelanjutan yang didukung oleh infrastruktur. Masa depan pendidikan sangat ditentukan oleh kompetensi guru yang terus dikembangkan sesuai kebutuhan terkini. Akhirnya, penelitian ini membuka jalan untuk penelitian lanjutan, seperti studi kualitatif dan kuantitatif untuk validasi skala besar. Temuan ini dapat diterapkan dalam konteks internasional dengan mempertimbangkan variasi Dalam era society 5. 0, kolaborasi global diperlukan. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam pengembangan Implikasi untuk peneliti dan praktisi adalah fokus kepada pembelajaran seumur hidup. Penelitian ini memperkuat tentang pentingnnya desain pendidikan di masa depan. DAFTAR PUSTAKA