ARTIKEL RISET URL artikel: http://ejournal. poltekkes-denpasar. id/index. php/JIG/article/view/jig4308 Analisis Faktor Risiko Terjadinya Stunting Di Wilayah UPTD Puskesmas I Denpasar Utara Kota Denpasar Provinsi Bali Pande Putu Sri Sugiani1,K. Lidya fanni1. Hendrayati1 Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar email Penulis Korespondensi (K): psrisugiani@gmail. ABSTRACT Stunting is a very serious global problem. According to the WHO, the global stunting rate in 2022 will reach 1 million toddlers, or 22. 3% of children under the age of five. In developing countries, children aged 0-5 are vulnerable to nutritional problems. Indonesia is one of the developing countries that has not yet been able to escape nutritional problems, including stunting. This type of research is an analytical observational study with a case-control study design. The case-control study begins by identifying the case group . and looking for a control group . ot stuntin. The conclusion in this study based on the results obtained a p-value of 0. (>0. with a 1,467 times risk of stunting. Therefore, it can be concluded that there is no relationship between maternal age during pregnancy and the incidence of stunting. In the results of this study there is no relationship between age during pregnancy with the incidence of stunting, this is supported by the frequency distribution in both groups which are equally high in the age group during pregnancy that is not at risk (> 20 year. which is 1% in the stunting toddler group while in the non-stunting group 88. Maternal age during pregnancy does not have a significant relationship with the incidence of stunting p-value 1 (> 0. The results of this study show a p-value of 0. 000 so it can be concluded that anemia is related to the incidence of stunting which is at the highest risk of 19,689 times stunting compared to mothers who are not anemic. In this study, a p-value of 0. (<0. was obtained, it was concluded that the risk opportunity was 12,501 times stunting occurred, and it can be concluded that KEK is related to the incidence of stunting. Keywords: Stunting. Maternal age during pregnancy. KEK PENDAHULUAN Latar Belakang Stunting menjadi masalah global yang sangat serius. Menurut WHO, 2022 angka stunting di dunia sebesar 148,1 juta balita atau 22,3% dari anak di dunia yang berusia dibawah lima tahun mengalami stunting (Nurjayanti. Oktavia and Susanti, 2. Di negara berkembang anak Ae anak usia 0-5 tahun merupakan golongan rawan terhadap permasalahan gizi. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sampai saat ini belum bisa lepas dari permasalahan gizi, tidak terkecuali Indonesia menduduki urutan tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting, menjadikan Indonesia berada di urutan ke-5 di Asia, dan menduduki angka tertinggi kedua di Asia Tenggara (Nurjayanti. Oktavia and Susanti, 2. Di Indonesia prevalensi stunting saat ini mengalami penurunan. Pada tahun 2023 stunting di Indonesia sebesar 21,5% (Kemenkes, 2. turun dari 30,8% pada tahun 2018 (Kemenkes, 2. Meskipun mengalami penurunan. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 18% pada tahun 2025. 219 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Bali merupakan salah satu pulau yang terkenal sebagai destinasi wisata yang megah, namun ternyata belum bebas dari permasalahan gizi termasuk stunting. Prevalensi stunting di Bali menurut SKI 2023 yaitu sebesar 7,2% (Kemenkes, 2. meskipun angka tersebut tergolong rendah, pemerintah Provinsi Bali menargetkan prevalensi stunting di Provinsi Bali tahun 2024 adalah sebesar 6,15% untuk mendukung komitmen nasional terkait penurunan angka prevalensi stunting. Kota Denpasar merupakan salah satu kontributor signifikan terkait dengan angka prevalensi stunting di Bali. Prevalensi stunting di Kota Denpasar yaitu sebesar 10,2%(Kemenkes, 2. Tingginya angka stunting disebabkan oleh beberapa faktor risiko. Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) pada saat ibu hamil menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stunting. Penelitian yang dilakukan oleh (Fentiana. Tambunan and Ginting, 2. menunjukan bahwa ada hubungan kejadian kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil Ou90 tablet dengan kejadian stunting. Ibu yang mengonsumsi TTD < 90 tablet berpeluang 1,05 kali memiliki anak stunting dibandingkan ibu yang mengonsumsi TTD Ou90 tablet. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa faktor asupan gizi berkontribusi lebih besar terhadap stunting dibandingkan faktor keturunan. Pemenuhan nutrisi selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan kunci pertumbuhan optimal anak, salah satunya melalui pemberian ASI eksklusif. (Adnyani. Setiawan and Wijaya, 2. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu oleh (Lushinta et al. , 2. menemukan adanya hubungan antara riwayat pemberian asi eksklusif dengan kejadian stunting pada balita 24-60 bulan. Temuan ini menunjukan bahwa pemberian ASI eksklusif dapat berpengaruh terhadap status gizi anak. Salain itu, usia saat hamil juga menjadi faktor risiko stunting. Penelitian yang dilakukan oleh (Pusmaika et al. , 2. menunjukkan bahwa usia ibu saat hamil memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting. Dengan kata lain, usia ibu saat kehamilan dapat menjadi salah satu faktor risiko yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua saat hamil dapat berdampak pada kondisi kesehatan ibu dan janin, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan risiko stunting pada anak. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang analisis factor resiko faktor risiko terjadinya stunting di Kota Denpasar. METODE Jenis penelitian ini yaitu observasional analitik, dengan rancangan penelitian case control. Penelitian case control dimulai dengan mengidentifikasi kelompok kasus . , dan mencari kelompok control . idak stuntin. Faktor risiko yang diteliti ditelusuri retrospektif pada kedua kelompok, kemudian dibandingkan. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Denpasar khususnya di wilayah UPTD Puskesmas I Denpasar Utara . Penelitian dilakukan pada bulan Juni - Juli 2025. Unit analisis dalam penelitian ini adalah balita yang usia >2 Ae 5 tahun, dengan kelompok kasus terdiri dari balita stunting dan kelompok control terdiri dari balita tidak stunting. Sedangkan responden dari penelitian ini yaitu ibu yang memiliki anak stunting terpilih menjadi kelompok kasus dan ibu yang mempunyai anak tidak stunting menjadi kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah balita yang berdomisili di Kota Denpasar , khususnya di wilayah UPTD Puskesmas I Denpasar Utara , yaitu sebanyak 40 balita sebagai populasi target. Sampel pada penelitian ini adalah balita stunting sebagai kasus dan balita yang tidak stunting sebagai control yang terdaftar dalam catatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar pada tahun 2025 dan bertempat tinggal di Kota Denpasar. Berdasarkan perhitungan sampel kasus yang diambil minimal berjumlah 15 kasus. Kelompok kontrol penelitian ini diambil dengan perbandingan 1:1 terhadap kelompok kasus sehingga kelompok control berjumlah 15 Kriteria inklusi kasus Anak balita umur >2 tahun yang mengalami stunting. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel didasarkan pada kriteria inklusi sampel yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah di ketahui sebelumnya. Data primer terdiri dari 220 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) data identitas sampel . ama, jenis kelamin, tanggal lahir, dan umu. Data status gizi berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U). Data status BBL. Data pemberian ASI Eksklusif. Data usia ibu saat hamil. Data sekunder terdiri dari data jumlah balita di Denpasar dan data jumlah balita stunting di Denpasar. Pengumpulan data dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pencatatan data identitas sampel melalui wawancara langsung. Dilakukan oleh peneliti dan beberapa enemurator. Selanjutnya, responden diminta menjawab pertanyaan pada kuesioner, yang kemudian diikuti dengan pengukuran tinggi badan oleh peneliti. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui pencatatan data jumlah balita dan jumlah balita stunting di Denpasar. Instrumen penelitian yang digunakan peneliti ialah kuesioner yang dibuat sesuai dengan variabel penelitian. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikrotoice yang digunakan untuk mengukur tinggi badan sampel. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel, baik variabel bebas, variabel terikat dan karakteristik responden. Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan yang signifikan antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat. Uji statistika yang digunakan yaitu Chi Square digunakan untuk data berskala nominal dengan menggunakan Confidence Interval (CI) sebesar 95% (= 0,. Dasar pengambilan hipotesis penelitian berdasarkan pada tingkat signifikan dengan derajat kepercayaan ( < 0,. hubungan dikatakan bermakna apabila nilai p < 0,05 (Sugiyono, 2. Dan untuk mengetahui besar faktor resiko digunakan analisis Odd Ratio. HASIL Hasil Penelitian Penelitian ini berjudul analisis faktor resiko dengan kejadian stunting pada balita usia 0-59 bulan di wilayah UPTD Puskesmas Denpasar Utara. Penelitian ini mengunakan desain case control dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling Pada teknik ini jumlah sampel di hitung terlebih dahulu dalam populasi yang terjangkau kemudian di buat penomoran dan di undi menjadi subyek penelitian. Jumlah keseluruhan sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 orang yang di ambil yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi pada ibu yang memiliki Balita usia 0-59 bulan sebanyak 15 sebagai kelompok kontrol dan 15 orang sebagai kelompok kasus. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan maka terlihat sebaran Karakteristik Sampel Kasus dan Kontrol seperti pada table 1. Seluruh kasus berumur > 12 bulan dengan 10 anak . ,7%) berjenis kelamin perempuan dan 5 anak . ,3% ) adalah laki laki. Sedangkan kontrol 12 anak . %) berumur > 12 bulan sedang 3 anak . %) berumur < 12 bulan dan berjenis kelamin perempuan 9 anak . %) dan laki laki 6 anak . %). 221 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Tabel 1. Sebaran Karakteristik Balita Kasus dan Kontrol Karakteristik Usia O12 bulan >12 bulan TOTAL Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki TOTAL Penyakit bawaan Tidak ada Kelainan jantung bawaan Lain-lain TOTAL BBL BBLR Tidak BBLR TOTAL Kasus Kontrol Dari 15 kasus stunting yang ada 4 anak . ,7%) saat lahir mengalami BBLR dan 11 anak . ,3%) tidak BBLR sedangkan kelompok control yang mengalami BBLR adalah 2 anak . %) dan 13 anak . %) tidak BBLR. Berdasarkan hasil penelitian karakteristi sampel yaitu ibu balita adalah sebagai berikut Tabel 2. Sebaran Karakteristik Ibu Balita Kasus dan Kontrol Karakteristik Usia Ibu O 20 tahun >20 tahun TOTAL Pendidikan terakhir Dasar Menengah dan Tinggi TOTAL Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja TOTAL Kasus Kontrol Hasil pengamatan terhadap variable independent yaitu Tinggi badan ibu. Status gizi, status anemia dan usia saat hamil serta kepatuhan konsumsi tablet Fe pada ibu saat hamil melalui hasil wawancara tertutup dengan instrumen kuesioner, diperoleh hasil pada tabel 4 yaitu sebagai berikut. 222 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Tabel 3. Analisis Faktor Resiko Stunting Tinggi Badan Ibu Resiko (<150 c. Kasus Kontrol Tidak beresiko (>150 c. Total Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe pada ibu hamil Patuh Tidak Patuh Total Status Gizi KEK Tidak KEK Total Status Anemia Anemia Tidak anemia Total Memberikan ASIE Tidak Total Value 0,000 95% CI Lower Upper 2,316 24,941 0,156 2,22 0,845 5,780 0,001 5,156 2,075 12,87 0,001 4,765 1,912 11,875 0,756 1,476 0,430 5,062 Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan nilai p-value 0,000 antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting , berarti dapat di simpulkan bahwa ada hubungan antara kedua variabel tersebut dengan berisiko terjadi stunting 7,600 kali pada ibu dengan tinggi badan < 150 cm di banding pada balita yang lahir dari ibu yang memiliki tinggi badan > 150 cm. Pada uji statistik antara kepatuhan konsumsi TTD ibu didapatkan nilai p-value 0,156 yang berarti tidak ada hubungan antara kepatuhan konsumsi TTD dengan kejadian stunting dengan peluan terjadi stunting 2,222 kali. Hal ini dikarenakan antara kedua kelompok memiliki distribusi frekuensi yang tertinggi pada kepatuhan konsumsi TTD baik pada kelompok balita stunting 79,5 % sedangkan pada kelompok balita tidak stunting 63,6 %. Uji statistik pada variabel status gizi didapatkan nilai p-value 0,001 dan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara status gizi (KEK) dengan kejadian stunting dengan tingkat berisiko terjadinya 5,156 kali dibandingkan dengan ibu yang memiliki status gizi normal. Uji statistik pada kelompok Anemia dengan kejadian stunting didapatkan nilai p-value 0,001 yang berarti ada hubungan antara anemia dengan kejadian stunting dengan berberisiko sebesar 4,765 kali dibandingkan dengan anak balita yang lahir dari ibu yang tidak anemia, pada uji statistik antara usia ibu saat hamil dengan kejadian stunting didapatkan nilai p-value 0,756 dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian ASIE dengan kejadian stunting . Hal ini di karenakan antara kedua kelompok sama-sama memiliki frekuensi tertinggi pada tidak memberikan ASIE . Analisis Faktor yang paling mempengaruhi kejadian stunting Analisis ini dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting , maka dilakukan analisis multivariat dengan mencari hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil analisis bivariat yang menghasilkan nilai p-value <0,25 dapat dimasukan pada tahap analisis multivariat. Dari analisis bivariat didapatkan nilai p-value < 0,25 adalah tinggi badan ibu, kepatuhan konsumsi TTD, status gizi dan anemia. 223 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Berdasarkan analisis multivariat menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu tinggi badan ibu dengan nilai p-value 0,001 dan berisiko terjadi stunting 18,368 kali, konsumsi TTD saat hamil p-value yang didapatkan 0,040 yang berberisiko 4,462 kali terjadi stunting , pada status gizi (KEK) didapatkan nilai p-value 0,001 dengan berisiko terjadinya stunting 12,501 kali dibanding dengan ibu yang memiliki staus gizi normal, dan anemia didapatkan nilai p-value 0,000 dengan berisiko terjadi stunting 19,689 kali dibanding balita yang lahir dari ibu yang tidak menderita anemia. Berdasarkan data pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 15 kasus yang merupakan responden ibu saat hamil sebagian besar sudah patuh mengonsumsi tablet Fe sesuai anjuran tenaga kesehatan yaitu sebanyak 10 orang . ,7%). Pada responden yang tidak patuh mengonsumsi tablet Fe sesuai anjuran berdasarkan data tabel 4 adalah sebesar 5 orang . ,7%). Pada kelompok Kontrol menunjukkan bahwa dari 15 ibu yang merupakan responden ibu saat hamil sebagian besar sudah patuh mengonsumsi tablet Fe sesuai anjuran tenaga kesehatan yaitu sebanyak 11 orang . ,3%). Pada responden yang tidak patuh mengonsumsi tablet Fe sesuai anjuran berdasarkan data tabel 4 adalah sebesar 4 orang . ,7%). PEMBAHASAN Tinggi badan ibu meningkatkan kemungkinan panjang badan anak yang dilahirkan. Warisan gen ibu secara langsung menurun kepada anaknya. Hal ini secara signifikan konsisten artinya bahwa ibu yang tinggi akan kemungkinan besar memiliki anak yang tinggi dan sebaliknya ibu yang pendek kemungkinan besar mempunyai anak yang pendek. 10 Berdasarkan hasil dari analisis regresi logistik terdapat hubungan yang signitifikan dengan nilai p-value 0,001 yang berarti tinggi badan ibu memiliki hubungan dengan kejadian stunting dan balita yang lahir dari ibu dengan tinggi badan 150 cm. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa ibu hamil sebagian besar memiliki pengetahuan tentang tablet Fe dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 22 orang . ,8%), sedangkan pada tingkat pengetahuan cukup sebanyak 7 orang . ,9%), dan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 18 orang . ,3%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Iskandar yang meneliti tingkat pengetahuan ibu hamil tentang konsumsi tablet Fe di Puskesmas Banguntapan I. Iskandar menemukan hasil bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil dari 39 orang sebagian besar berpengetahuan baik . %) (Iskandar. Menurut WHO . , stunting adalah kondisi di mana panjang atau tinggi badan berdasarkan usia berada di bawah -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO. Stunting terjadi akibat kondisi yang tidak dapat dipulihkan . yang disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak mencukupi dan/atau infeksi berulang atau kronis selama periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting, sebagaimana didefinisikan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021, merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Kondisi ini ditandai dengan panjang atau tinggi badan yang berada di bawah standar yang ditetapkan oleh kementerian yang bertanggung jawab di bidang (RI, 2. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenke. , stunting adalah kondisi pada balita dengan Z-score kurang dari -2,00 SD . dan kurang dari -3,00 SD . everely stunte. Dengan demikian, stunting dapat disimpulkan sebagai gangguan pertumbuhan pada balita yang menyebabkan keterlambatan pertumbuhan anak di bawah standar yang seharusnya, serta berdampak baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Stunting disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung meliputi kurangnya asupan gizi serta penyakit infeksi. Sementara itu, penyebab tidak langsung mencakup ketahanan pangan . kses terhadap makanan bergiz. , lingkungan sosial . ola pemberian makanan bayi dan anak, kebersihan, pendidikan, dan tempat kerj. , lingkungan kesehatan . etersediaan layanan kesehatan preventif dan kurati. , serta lingkungan pemukiman . kses air bersih, air minum, dan fasilitas sanitas. penyebab langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti pendapatan, kesenjangan ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, jaminan sosial, layanan kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan. (Satriawan, 2. 224 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Balita stunting dapat diidentifikasi setelah pengukuran panjang atau tinggi badannya dibandingkan dengan standar yang berlaku, di mana hasilnya berada di bawah batas normal. Secara fisik, balita dengan stunting akan tampak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Secara umum, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki tubuh yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Selain postur tubuh yang lebih pendek, terdapat beberapa ciri lain yang dapat mengindikasikan stunting yaitu: (Sekarwati, 2021 dalam (Achjar et al. , 2. Anak dengan stunting tidak tumbuh dengan kecepatan normal sesuai usianya. Bahkan jika panjang atau tinggi badannya masih dalam kisaran normal, laju pertumbuhannya tetap lebih lambat dibandingkan anak lain, wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, keterlambatan tumbuh gigi dapat disebabkan oleh gangguan pada gusi atau tulang rahang, sehingga gigi sulit muncul pada waktu yang seharusnya. anak dengan stunting dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, yang berdampak pada proses belajar di sekolah serta aktivitas sehari-hari. Anak usia 8-10 tahun menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan tatap muka terhadap orang yang berada disekitarnya, perkembangan fisik anak terhambat, seperti telat menarche . enstruasi pertama anak perempua. , pertumbuhan tulang tertunda, berat badan rendah apabila dibandingkan anak seusianya, tubuh lebih pendek dibandingkan anak dan proporsi tubuh normal tapi tampak lebih muda/kecil untuk seusianya. Faktor risiko stunting merupakan faktor multidimensi dan tidak hanya dipicu oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Menurut (Samsuddin et al. , 2. terdapat beberapa faktor risiko terjadinya stunting yaitu: Faktor maternal . Pendidikan dan pengetahuan. Tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi cara berpikirnya. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung membuat keputusan yang lebih rasional dan lebih mudah menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah. Pendidikan ibu secara tidak langsung mempengaruhi kemampuan dan pengetahuan dalam berkomunikasi, menyelesaikan masalah, menjaga kesehatan diri dan keluarga, serta dalam menerapkan pola makan dan pengasuhan yang baik, terutama selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kehamilan resiko tinggi Faktor risiko stunting lainnya adalah kondisi kehamilan yang berisiko tinggi, seperti kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat, jumlah kehamilan yang lebih dari lima, atau kehamilan pada usia yang terlalu muda atau tua. Usia ibu merupakan faktor tidak langsung yang dapat memengaruhi terjadinya stunting. Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun berisiko tinggi karena tubuh ibu masih dalam masa pertumbuhan, yang menyebabkan persaingan nutrisi antara ibu dan janin, berpotensi menyebabkan defisiensi gizi. Ibu hamil muda juga lebih rentan terhadap anemia, preeklamsia, persalinan prematur, serta melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), yang berisiko tinggi mengalami stunting. Di sisi lain, kehamilan pada usia di atas 35 tahun juga berisiko, karena kondisi kesehatan ibu cenderung menurun, serta meningkatnya potensi komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan masa nifa (Samsuddin et al. , 2. Selain usia ibu, jarak antar kehamilan dan jumlah anak yang dilahirkan juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko stunting. Kehamilan dengan jarak kurang dari 2 tahun dapat menyebabkan kondisi kesehatan, mental, dan sosial ibu yang belum sepenuhnya pulih. Risiko ini semakin besar apabila ibu kekurangan dukungan keluarga dan mengalami keterbatasan ekonomi. Kondisi tersebut dapat menimbulkan komplikasi kesehatan dan psikologis yang berpengaruh negatif, terutama terhadap tumbuh kembang anak yang dilahirkan (Juniarti et al. , 2022 dalam (Samsuddin et al. , 2. 225 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Jumlah anak yang dilahirkan juga berhubungan dengan kejadian stunting. Anak yang lahir dari ibu dengan banyak anak cenderung memiliki peluang lebih besar untuk menerima pola asuh yang kurang baik dan kekurangan asupan gizi yang diperlukan selama masa pertumbuhannya. Banyaknya saudara kandung dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan, karena persaingan untuk mendapatkan sumber gizi yang terbatas di rumah. (Juniarti et al. , 2022 dalam (Samsuddin et al. , 2. Faktor risiko lain adalah ibu yang hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK). KEK adalah kondisi gizi buruk yang disebabkan oleh pola makan yang tidak mencukupi dalam jangka waktu panjang, atau bisa juga akibat penyakit yang sering kambuh. KEK pada ibu hamil memengaruhi pertumbuhan dan aliran darah pada plasenta ke janin, yang dapat menyebabkan masalah pada pertumbuhan bayi. Jika kondisi ini tidak segera ditangani, bayi berisiko mengalami IUGR atau BBLR, yang keduanya meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting. (Fitriani et , 2022 dalam (Samsuddin et al. , 2. Selain itu, faktor risiko dari ibu lainnya seperti ibu saat hamil menderita anemia dan malaria, juga meningkatkan risiko kejadian stunting. Kehamilan dengan anemia dapat menyebabkan terjadinya stunting. Anemia pada ibu hamil terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah lebih rendah dari normal, biasanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12. Kondisi ini dapat berdampak serius, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, perdarahan saat persalinan, hingga kematian ibu dan bayi. Selain itu, anemia pada ibu hamil juga meningkatkan risiko bayi lahir dengan anemia dan stunting karena kurangnya suplai oksigen dan nutrisi penting selama masa kehamilan. Menurut (Samsuddin et al. , 2. terdapat beberapa penyebab lain terjadinya anemia saat ibu hamil diantaranya, berasal dari keluarga miskin yang lebih sulit membeli dan menyediakan makanan bergizi untuk anak mereka dan diri mereka sendiri, sehingga asupan zat besi tidak mencukupi. Gangguan produksi sel darah merah, simpanan zat besi, atau kehilangan darah usus karena berbagi paparan penyakit menular . aitu penyakit cacing yang disebabkan oleh cacing tamban. dalam rumah tangga yang sama(Mustika et al. , 2023 dalam (Samsuddin et al. , 2. Dan penyebab anemia dalam kehamilan dapat terjadi karena tidak patuhnya ibu hamil dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) atau Fe. Kekurangan zat besi dan asam folat yang terkandung dalam TTD dapat mengganggu pertumbuhan janin, menyebabkan kelahiran prematur, atau berat badan lahir rendah (BBLR), yang dapat meningkatkan risiko stunting pada anak. Tinggi badan orang tua yang rendah Salah satu faktor risiko stunting adalah tinggi badan orang tua yang tergolong pendek (Ratu et al. , 2018 dalam (Samsuddin et al. , 2. Orang tua dikatakan bertubuh pendek jika tinggi ayah kurang dari 155 cm dan tinggi ibu kurang dari 150 cm. Tinggi badan yang pendek ini bisa disebabkan oleh faktor fisik, seperti kekurangan hormon pertumbuhan, sehingga anak dapat mewarisi kromosom dengan sifat tersebut dan berisiko mengalami stunting. Namun, jika tubuh pendek disebabkan oleh masalah gizi atau kondisi patologis, maka hal ini tidak akan mempengaruhi tinggi badan anak. Bayi dengan BBLR dan infeksi Berat lahir merupakan faktor risiko dominan yang mempengaruhi tumbuh kembang bayi dalam enam bulan pertama, karena berkaitan dengan risiko infeksi, nutrisi, dan pola pengasuhan. Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) yang disertai pola asuh dan nutrisi tidak adekuat berisiko lebih tinggi mengalami infeksi dan stunting. Berat lahir juga erat kaitannya dengan kondisi kesehatan ibu saat hamil. Selain itu, infeksi klinis dan subklinis seperti diare, infeksi cacing. ISPA, malaria, serta environmental enteropathy dapat menurunkan nafsu makan, menyebabkan kehilangan nutrisi, dan mengganggu metabolisme makanan, sehingga memperburuk status gizi 226 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Faktor lingkungan rumah tangga . Sanitasi total berbasih masyarakat Risiko stunting meningkat 2,4 hingga 1,4 kali lebih tinggi pada anak dari rumah tangga dengan sanitasi rendah hingga sedang. Sanitasi yang buruk, kebersihan diri yang kurang, seperti tidak mencuci tangan pakai sabun dalam aktivitas harian, serta keterbatasan akses air bersih, berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko stunting pada balita (Mustika et al. , 2023 dalam (Samsuddin et al. , 2. Pendapatan/ perekonomian rumah tangga Pendapatan keluarga diukur berdasarkan upah minimum kabupaten (UMK) per bulan, dan pendapatan rendah berpengaruh pada daya beli makanan, ketahanan pangan, serta status gizi Rendahnya pendapatan meningkatkan risiko kerawanan pangan dan berdampak pada masalah gizi seperti stunting, terutama pada balita dan ibu hamil. Praktik pengasuhan yang rendah Pola pengasuhan yang kurang baik, termasuk rendahnya pengetahuan ibu tentang kesehatan dan gizi sebelum, saat, dan setelah kehamilan, berdampak pada peningkatan kasus Praktik pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak sesuai usia, kualitas, maupun kuantitas, serta tidak memberikan ASI eksklusif, terbukti secara signifikan meningkatkan risiko stunting pada balita. ASI sendiri merupakan sumber nutrisi alami terbaik yang mengandung zat gizi lengkap serta perlindungan terhadap infeksi. Selain ASI eksklusif, pemberian MP-ASI bergizi seimbang juga sangat penting. balita yang tidak mendapatkan MPASI seimbang memiliki peluang hingga 120 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting. Pemberian MP-ASI harus dimulai saat bayi berusia 6 bulan, dengan memperhatikan jumlah energi, kandungan gizi, frekuensi pemberian, tekstur makanan, dan kebersihan, sesuai dengan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Akses layanan Kesehatan Kunjungan ANC (Antenatal Car. adalah pemeriksaan kehamilan minimal enam kali selama masa kehamilan, dengan distribusi dua kali di trimester pertama, satu kali di trimester kedua, dan tiga kali di trimester ketiga, serta pelayanan minimal pemeriksaan kehamilan . T). Selain ANC, keaktifan dalam memanfaatkan posyandu juga menjadi faktor penting dalam pencegahan stunting. Posyandu membantu dalam mendeteksi dini gangguan tumbuh kembang serta menyediakan layanan imunisasi dan gizi. Selain itu, kelahiran di fasilitas kesehatan terbukti dapat menurunkan kejadian stunting dibandingkan kelahiran di Kepatuhan adalah sejauh mana seseorang menaati pengobatan, menjalankan diet, atau menerapkan pola hidup sesuai dengan rekomendasi dari tenaga kesehatan. (Swarjana, 2022 dalam Handayani et al. , 2. Kepatuhan adalah tingkat ketaatan seorang pasien dalam mengikuti pengobatan serta menerapkan perilaku yang dianjurkan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya. (Arlym. Nurzannah and Husna, 2. Kepatuhan dalam mengonsumsi tablet tambah darah adalah ketaatan ibu hamil dalam mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk mengonsumsi tablet tambah darah secara teratur selama masa kehamilan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan ibu hamil utuk mengonsumsi paling sedikit 90 tablet zat besi selama kehamilan (Natalia. Syahab Assegg and Nurmainah, 2. Berdasarkan pedoman penatalaksanaan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), ibu hami yang mengalami anemia diberikan 2 tablet setiap hari sampai kadar Hb mencapai normal. Menurut (Lacerte et al. , 2011 dalam Larasati et al. , 2. terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan, yaitu presdiposing factors, enabling factors, dan reinforcing factors Presdiposing factors mencakup usia, tingkat pendidikan, pendapatan, serta pengetahuan mengenai anemia dan cara pencegahannya. 227 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Sugiani. Pande. Fanni. Lidya. Hendrayati. (Analisis Faktor ResikoA) Enabling factors meliputi jumlah tablet tambah darah yang diterima, kemudahan akses terhadap tablet tersebut, serta efek samping yang dirasakan. Reinforcing factors berkaitan dengan dukungan dari lingkungan, seperti guru, orang tua, teman sebaya, serta ketersediaan tablet tambah darah. ASI Eksklusif menurut World Health Organization (WHO, 2. adalah pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan, kecuali obat dan (Humune et al. , 2020 dalam Pratiwi et al. , 2. Menurut PP No. 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif. ASI Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan tanpa tambahan atau pengganti berupa makanan maupun minuman SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dalam penelitian ini berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai p-value 0,756 (>0,. dengan berisiko 1,467 kali terjadi stunting , sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu saat hamil dengan kejadian stunting . Pada hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara usia saat hamil dengan kejadian stunting , hal ini didukung oleh distribusi frekuensi pada kedua kelompok sama-sama tinggi pada kelompok usia saat hamil yang tidak berisiko (>20 tahu. yaitu sebesar 84,1 % pada kelompok balita stunting sedangkan pada kelompok tidak stunting 88,6%. Usia ibu pada waktu hamil tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting nilai p-value 1 (>0,. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai p-value 0,000 sehingga dapat di simpulkan bahwa anemia berhubungan dengan kejadian stunting yang paling berisiko sebesar 19,689 kali terjadi stunting di bandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Pada penelitian ini didapatkan nilai p-value 0,001 (<0,. disimpulkan peluang berisiko sebesar 12,501 kali terjadi stunting, dan dapat disimpulkan bahwa KEK berhubungan dengan kejadian stunting. UCAPAN TERIMAKASIH