E-ISSN: 2809-8544 PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR THE EFFECT OF COOPERATIVE LEARNING AND LEARNING MOTIVATION ON INDONESIAN LANGUAGE LEARNING OUTCOMES OF GRADE V ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Chika Gianistika Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Rakeyan Santang. Indonesia Email: cgianistika@gmail. Abstract This study generally aims to determine the effect of cooperative learning models of discovery and expository learning on learning motivation and learning outcomes of Indonesian in Elementary Schools. The research method used is experimental research. This study uses a treatment by level 2 x 2 design with the independent variable of cooperative learning and the dependent variable of student learning outcomes in Indonesian material. This experimental study used students in the experimental group and students in the control group. In this study, the samples were class VB and class VC with the consideration that these classes can represent the population. The results of this study are: . Overall, there is a significant difference in student learning outcomes between those who participate in learning with the application of cooperative learning models of discovery learning and those who participate in cooperative learning with expository learning models. Overall, there is an effect of cooperative learning interaction on student learning motivation in Indonesian subjects in Elementary Schools. The learning outcomes of students who have high motivation and participate in learning with cooperative learning models of discovery learning are higher than students who participate in learning with cooperative learning models of expository learning. The learning outcomes of students who have low learning motivation and participate in learning with cooperative learning models of discovery learning are higher than students who participate in learning with cooperative learning models of expository learning. Keywords: Cooperative Learning. Motivation. Indonesian Language Learning Outcomes. Abstrak Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pengaruh cooperative learning model discovery dan expository learning terhadap motivasi belajar dan hasil belajar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian ini menggunakan rancangan treatment by level 2 x 2 dengan variabel bebas cooperative learning dan variabel terikat hasil belajar siswa pada materi Bahasa Indonesia. Penelitian eksperimen ini menggunakan siswa pada kelompok eksperimen dan siswa pada kelompok kontrol. Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah kelas VB dan Kelas VC dengan pertimbangan bahwa kelas-kelas tersebut dapat mewakili populasi. Hasil penelitian ini adalah: . Secara keseluruhan terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang signifikan antara yang mengikuti pembelajaran dengan penerapan cooperative learning model discovery learning dengan yang mengikuti cooperative learning dengan model pembelajaran ekspositori. Secara keseluruhan terdapat pengaruh interaksi cooperative learning terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Hasil belajar siswa yang memiliki motivasi tinggi dan mengikuti pembelajaran dengan cooperative learning model pembelajaran discovery learning lebih tinggi dari siswa yang mengikuti pembelajaran dengan cooperative learning model pembelajaran ekspositori. Hasil belajar siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dan mengikuti pembelajaran dengan cooperative learning model pembelajaran penemuan lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan cooperative learning model pembelajaran ekspositori. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Kata kunci: Cooperative Learning. Motivasi. Hasil Belajar Bahasa Indonesia. PENDAHULUAN Pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan,kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi mengajar. Demikian juga dengan halnya pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar kecenderungan disampaikan dalam bentuk ceramah akademik, sehingga siswa lebih banyak menghapal konsep atau fakta. Akibatnya adalah siswa tidak memahami konsep dasarnya. Proses belajar mengajar yang dilakukan dengan berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi Ayjangka pendekAy, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Mata pelajaran Bahasa Indonesia seharusnya disampaikan untuk membangun logika siswa agar berfikir sistematis, obyektif, dan kreatif melalui keterampilan proses dan pemecahan masalah. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar diperlukan untuk mendukung siswa dalam memenuhi kebutuhan dasar komunikasi, berpikir, belajar dan berinteraksi dalam berbagai konteks kehidupan. Penerapan pelajaran Bahasa Indonesia hasil pemahaman yang diperoleh siswa di sekolah dasar, hendaknya dapat diimplementasikan secara bijaksana agar siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat yang efektif dan bertanggung jawab dalam berbagai aspek kehidupan serta menjadi pembelajar dan warga negara ayang Diharapkan di masa depan siswa sekolah dasar yang telah menjadi insan dewasa akan mempunyai kemampuan komunikasi yang optimal. Hal ini dapat dilihat dari penilaian hasil Penilaian hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah suatu proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa obyek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Dalam pemakaian sehari-hari, menguasai bahasa sering diartikan sebagai mampu berbicara dalam bahasa ini. Phenix dalam Alwasilah mengungkapkan bahwa menguasai bahasa yaitu kemampuan menggunakan simbol secara bermakna untuk berkomunikasi (Alwasilah, 2. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal siswa yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi siswa untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Menurut Abidin, ditinjau dari segi pembelajaran bahasa, prinsip pembelajaran terdiri atas tiga domain pembelajaran bahasa, yakni, kognitif, afektif dan kompetensi linguistic (Abidin, 2. Dalam konteks ini, kompetensi linguistik memegang peranan krusial, khususnya pada aspek membaca. Kompetensi ini mencakup pemahaman mendalam tentang sistem bahasa. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. mulai dari fonologi . , morfologi . embentukan kat. , sintaksis . truktur kalima. , semantik . , hingga pragmatik . enggunaan bahasa dalam kontek. Pada aspek membaca, penguasaan kompetensi linguistik memungkinkan siswa untuk secara akurat mengidentifikasi kata-kata, memahami hubungan antarkata dalam kalimat, mengurai struktur wacana, dan menangkap makna literal maupun tersirat dari teks. Dengan demikian, kemampuan membaca tidak hanya sekadar melafalkan huruf, tetapi merupakan proses aktif yang melibatkan pemanfaatan seluruh pengetahuan linguistik untuk menginterpretasikan dan mengkonstruksi makna dari bahan bacaan. Tarigan dalam (Nurbaeti, 2. menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Walaupun memiliki makna yang signifikan terhadap pemerolehan informasi, pemahaman bahasa bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan seseorang dalam Bisa saja seorang pembaca mahir tidak dapat memahami atau mendapatkan mendapatkan informasi yang ada di dalamnya. Jadi, untuk mendapatkan tujuan membaca, pembaca harus memiliki kemampuan pemahaman agar dapat mudah memperoleh apa yang diinginkan dalam aktivitas membaca Menurut Byrnes dalam Ghazali, tampaknya paling tidak ada dua alasa utama mengapa siswa perlu membaca teks: yang pertama adalah untuk kesenangan dan yang kedua adalah untuk mendapatkan informasi (Ghazali, 2. Menurut Byrnes dalam Ghazali, tampaknya paling tidak ada dua alasan utama mengapa siswa perlu membaca teks: yang pertama adalah untuk kesenangan dan yang kedua adalah untuk mendapatkan informasi. Kedua tujuan membaca ini sangat relevan dan dapat dioptimalkan dalam pembelajaran yang inovatif, di mana siswa dilibatkan secara aktif dan bukan hanya dijadikan sebagai objek. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pada siswa. Guru memfasilitasi siswa untuk belajar sehingga mereka lebih leluasa. Dalam pembelajaran inovatif, model yang digunakan bukan lagi bersifat monoton, melainkan model pembelajaran yang bersifat fleksibel dan dinamis, memungkinkan siswa mengeksplorasi teks untuk kesenangan pribadi atau menggali informasi yang mereka butuhkan secara mendalam, sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar mereka secara Dalam pembelajaran yang inovatif, siswa dilibatkan secara aktif dan bukan hanya dijadikan sebagai objek. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pada siswa. Guru memfasilitasi siwa untuk belajar sehingga mereka lebih leluasa untuk belajar. Dalam pembelajaran inovatif, model yang digunakan bukan lagi bersifat monoton, melainkan model pembelajaran yang bersifat fleksibel dan dinamis sehingga dapat memenuhi kebutuhan siswa secara keseluruhan. Dalam sebuah jurnalnya, (Wortman, 2. mengemukakan pandangannya mengenai pentingnya perumusan luaran pembelajaran siswa. Menurutnya, mengembangkan luaran pembelajaran siswa sebelum memulai pengajaran suatu mata kuliah dapat membantu SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menjembatani kesenjangan antara apa yang diajarkan dan apa yang benar-benar dipelajari. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa asesmen terhadap luaran pembelajaran tersebut dapat digunakan untuk mengonfirmasi ada tidaknya, atau seberapa besar kesenjangan antara Selain itu, asesmen luaran pembelajaran siswa menjadi semakin penting dalam pendidikan tinggi sebagai sarana untuk mendokumentasikan dan mempromosikan dampak pengajaran, baik di tingkat pengajar maupun institusional. Melengkapi perspektif ini, dalam jurnalnya. Vereijken menegaskan bahwa persepsi positif siswa secara langsung memengaruhi luaran pembelajaran spesifik seperti capaian akademik, kinerja keterampilan, dan motivasi belajar. Model-model pembelajaran siswa ini menunjukkan bahwa hubungan antara luaran pembelajaran dan persepsi siswa terhadap pengajaran bersifat timbal balik. Dengan demikian, persepsi siswa mengenai efektivitas pengajaran memfasilitasi pembelajaran yang efektif, dan begitu pula sebaliknya, bahkan di tahun pertama pembelajaran. Persepsi siswa terhadap lingkungan belajar sangat erat kaitannya dengan keyakinan siswa tentang pembelajaran itu sendiri. Keyakinan umumnya merujuk pada seperangkat asumsi . ang sebagian implisi. , atau sebagai lensa tempat siswa menafsirkan dunia, yang relatif stabil seiring waktu dan mata pelajaran yang dilalui (Vereijken, 2. Fungsi dari cooperative learning adalah sebagai cara bagi pengajar dan para guru dalam memberikan pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa setiap model yang akan digunakan dalam pembelajaran menentukan perangkat yang dBahasa Indonesiakai dalam pembelajaran tersebut. Kardi dan Nur dalam Shoimin (Sohimin, 2. mengemukakan bahwa istilah cooperative learning mempunyai makna yang lebih luas darBahasa Indonesiada strategi, metode, atau prosedur. Cooperative learning dinilai sebagai model pembelajaran yang mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimilki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciriciri tersebut antara lain. rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau . landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar. ujuan pembelajaran yang akan dicapa. tingkah laku mengajar yang akan diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Salah satu model pembelajaran pada cooperative learning adalah model pembelajaran discovery learning. Kegiatan belajar menggunakan model discovery yang berbasis inkuiri pada umumnya melibatkan . siswa dalam mengontruksi pengetahuannya secara Siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksplorasi, menjelaskan. , melakukan elaborasi dan mengevaluasi produk belajarnya. Adapun model pembelajaran cooperative learning yang sesuai dengan kurikulum merdeka adalah model pembelajaran Discovery Learning . odel pembelajaran penemua. Problem Based Learning. Project Based Learning,dan model pebelajaran kooperatif. Tidak ada satupun model pembelajaran yang paling sesuai, semua disesuaikan dengan kondisi dan tujuan pembelajaran. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri. Tidak ada perbedaan yang prinsBahasa Indonesial antara kedua istilah ini. Pada discovery learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaan inkuiri dengan discovery adalah bahwa pada discovery masalah yang dihadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan rekayasa,sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses Model pembelajaran discovery learning secara fundamental melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, jauh dari sekadar peran pasif. Seperti yang dikemukakan oleh Bruner, "siswa bukan lagi pendengar yang terpaku di bangku, melainkan turut serta dalam perumusan . onsep atau pengetahua. dan bahkan terkadang memainkan peran utama di dalamnya. " Ini berarti, dalam pendekatan ini, siswa akan menyadari berbagai alternatif pemecahan masalah atau interpretasi, serta mungkin memiliki sikap "seolah-olah" saat menjajaki kemungkinan-kemungkinan tersebut. Lebih lanjut, mereka diharapkan mampu mengevaluasi informasi yang mereka temukan seiring berjalannya proses. Dengan demikian, discovery learning mendorong peserta didik untuk secara mandiri menemukan dan mengonstruksi pemahaman mereka sendiri melalui eksplorasi, penemuan, dan evaluasi informasi (Ulfah, 2. Sejalan dengan pemahaman ini. Dalgarno menyebutkan bahwa pembelajaran berbasis penemuan . iscovery learnin. dan pendekatan desain pembelajaran terkait mendapat dukungan teoretis dalam interpretasi kognitif konstruktivisme. Akar dukungan ini dapat dilacak pada fokus Piaget tentang konstruksi pengetahuan aktif yang terjadi melalui eksplorasi dan interaksi individu dengan lingkungannya (Dalgarno, 2. Discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri. Tidak ada perbedaan yang prinsBahasa Indonesial antara kedua istilah ini. Pada discovery learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Pandangan ini diperkuat oleh Surakhmad dalam Yustisia, yang mendefinisikan model discovery learning sebagai proses pembelajaran di mana pelajar tidak disajikan materi dalam bentuk finalnya, melainkan diharapkan untuk mengorganisasikan pengetahuan tersebut secara mandiri. Sebagaimana pendapat Bruner, discovery learning adalah pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan materi pelajaran dalam bentuk akhirnya, tetapi justru dituntut untuk mengaturnya sendiri, sebuah ide dasar yang berpijak pada pandangan Piaget bahwa anak harus berperan aktif dalam pembelajaran di kelas (N, 2. Menurut Wetwood dalam (Sani, 2. , efektifitas pembelajaran dengan metode discovery akan didapatkan dalam pembelajaran kelas jika terjadi hal-hal berikut: . proses belajar dibuat secara terstruktur dengan hati-hati. Siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan awal untuk belajar. guru memberikan dukungan yang dibutuhkan siswa untuk melakukan penyelidikan. Selain dari model pembelajaran discovery learning, model pembelajaran lain yang umumnya sering digunakan dalam proses pembelajaran di sekolah adalah model SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. pembelajaran ekspositori. Dalam konteks ini. Higard, seperti diungkapkan oleh Sanjaya, mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu proses di mana suatu aktivitas dimulai atau berubah melalui prosedur pelatihan, baik itu di laboratorium maupun di lingkungan alamiah, yang dibedakan dari perubahan yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak dapat diatribusikan pada pelatihan. Bagi Hilgard, pembelajaran merupakan suatu proses perubahan yang terjadi melalui kegiatan atau prosedur latihan. Dalam model ekspositori, perubahan dan pengetahuan ini banyak di adopsi Bahasa Indonesia secara langsung oleh guru melalui penyampaian materi yang terstruktur, sehingga siswa mengalami proses perubahandalam pemahaman mereka melalui "latihan"atau instruksi yang diberikan (Sanjaya, 2. Model pembelajaran ekspositori adalah model pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy Killen dalam (Sanjaya, 2. menamakan model pembelajaran ekspositori ini dengan istilah model pembelajaran langsung karena dalam model ini materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Materi pelajaran seakan-akan sudah jadi. Oleh karena itu model ekspositori lebih menekankan kepada proses bertutur, maka sering dinamakan istilah model Aychalk and talkAy. Ekspositori merupakan model yang dilakukan guru untuk mengatakan atau menjelaskan fakta-fakta,gagasan-gagasan dan informasi penting lainnya kepada para Model ekspositori menurut (Sumantri, 2. adalah langkah pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan ekspositori merupakan cara pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung. Melihat dari beberapa uraian model pembelajaran di atas, hasil belajar siswa juga mampu dipengaruhi oleh unsur psikis siswa. Salah satunya yaitu, motivasi belajar. Oleh karena itu pemahaman tentang motivasi belajar layak diperlukan oleh seorang guru. Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau daya penggerak. Kuat lemahnya atau semangat tidaknya usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan akan ditentukan oleh kuat lemahnya motive yang dimiliki orang tersebut. Motive dan motivasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Motivasi merupakan penjelmaan dari motive yang dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukan seseorang. Hilgarg dalam (Sanjaya, 2. mengatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri seeorang untuk melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi dengan demikian,motivasi muncul dalam diri seseorang karena dorongan untuk mencapai Menurut Mc. Donald dalam (Sardiman, 2. , motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya AufeelingAy dan didahului dengan tanggapan terhadap terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang di kemukakan oleh Mc. Donald ini mempuyai tiga elemen penting, yaitu: . bahwa motivasi itu mengawali SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem AuneurophysiolpgicalAo yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia . alaupun motivasi itu muncul dari dalam diri manusi. ,penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia. motivasi ditandai dengan munculnya rasa/feeling, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan,afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia. motivasi akan dirangsang karena adanya Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi yaitu tujuan. Motivasi memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena terangsang/terdorong oleh unsur yang lain, dalam hal ini adalah tujuan,tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan. Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu,sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri Sedangkan Siagian dalam (Mujiono, 2. memberi paparan bahwa motivasi adalah kekuatan mental berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mental yang mendorong terjadinya belajar. Motivasi dBahasa Indonesiandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar. Dengan beberapa uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan ,dan juga emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan,kebutuhan, atau keinginan. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar,sehingga tujua n yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai. Dapat dikatakan AukeseluruhanAy, karena pada umumya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah,merasa senang dan semangat untuk Siswa yang memilki motivasi yang kuat,akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Seorang siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi boleh jadi bisa gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal apabila ada motivasi yang Berpegangan pada hal ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan siswa,sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat/belajar. Jadi salah satu tugas guru bagaimana mendorong para siswa agar tumbuh motivasi dalam dirinya. TINJAUAN PUSTAKA Cooperative Learning Menurut Slavin dalam (Arifudin, 2. bahwa Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Menurut Stahl dalam (Arifudin, 2. bahwa metode pembelajaran cooperative metode pembelajaran cooperative learning menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Adapun Tom V Savage dalam (Mukarom, 2. menjelaskan bahwa Cooperative Learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah starategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar siswa berkelompok untuk menjalin kerjasama dan saling ketergantungan positif sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif. Siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena didorong oleh rekan sebaya. Motivasi Belajar Menurut (Sudarwan, 2. menjelaskan: Motivation . diartikan sebagai kekuatan,dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologi yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Dalam arti kognitif, motivasi diasumsikan sebagai aktifitas individu untuk menentukan kerangka dasar tujuan dan penentuan perilaku untuk mencapai tujuan itu. Dalam arti afeksi,motivasi bermakna sikap dan nilai dasar yang dianut oleh seseorang atau sekelompok orang untuk bertindak atau tidak bertindak. Menurut Maslow dalam (Ulfah, 2. , motivasi belajar yaitu kebutuhan untuk mengembangkan suatu kemampuan idividu secara optimal supaya bisalebih produktif dan kreatif. Adapun menurut Uno dalam (Lahiya, 2. menjelaskan bahwa motivasi belajar yaitu dorongan internal dan eksternal bagi siswa yang belajar untuk mengubah perilaku mereka, seringkali dengan beberapa unsur atau faktor yang pendukung. Dorongan internal siswa Sebagian besar berasal dari dalam dirinya ssendiri. Sedangkan dorongan eksternal seringkali dipengaruhi oleh fakto-faktor di luar diri siswa, seperti lingkungan siswa belajar. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar yaitu dorongan atau semangat kegiatan belajar pada individu untuk mengembangkan dan merubah perilaku dalam dirinya untuk mencapai tujuan yang dihadapi agar prestasi belajarnya lebih SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Hasil Belajar Nana Sudjana dalam (Judijanto, 2. mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Dimyati dan Mudjiono dalam (Kartika, 2. menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar. Adapun Purwanto dalam (As-Shidqi, 2. bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan METODE Menurut Rahardjo dikutip (Rismawati, 2. bahwa metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencari kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran absolut. Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Oleh karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada. Budiharto dikutip (As-Shidqi, 2. bahwa pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan penelitian yang sedang dilakukan agar hasilnya optimal. Penelitian ini menggunakan rancangan treatment by level 2 x 2 dengan variabel bebas model pembelajaran dan variabel terikat hasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian eksperimen ini menggunakan siswa kelompok eksperimen dan siswa kelompok kontrol, sehingga responden dikelompokkan menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah kelompok siswa yang mendapatkan perlakuan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pembelajaran discovery learning. Selanjutnya untuk melihat dampak yang muncul pada subjek yang diberikan perlakuan maka diperlukan kelompok lain sebagai kelompok pembanding yang disebut dengan kelompok kontrol. Kelompok kontrol diberikan perlakuan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pembelajaran expository learning. Untuk masing-masing kelompok eksperimen dan kontrol terdiri dari kelompok siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi dan kelompok siswa dengan kemampuan awal rendah. Pada penelitian ini yang akan dijadikan sampel adalah kelas VB dan Kelas VC dengan pertimbangan bahwa kelas tersebut bisa mewakili populasi. Langkah penentuan sampel dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling yaitu penentuan sampel dari anggota SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. populasi dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dilakukan dalam memilih dua kelas sebagai sampel dengan melihat hasil belajar siswa yaitu memiliki kesamaan rata-rata hasil belajar materi khusus Bahasa Indonesia, maka kelas VB dan kelas VC dijadikan sebagai sampel penelitian ini. Menurut Muhadjir dalam (Rahmah, 2. menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan melakukan, mencari dan menyusun catatan temuan secara sistematis melalui pengamatan dan wawancara sehingga peneliti fokus terhadap penelitian yang dikajinya. Setelah itu, menjadikan sebuah bahan temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, dan menyajikannya. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi meliputi teknik dan sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Data Hasil Belajar Siswa yang Dibelajarkan Menggunakan Model Discovery Learning dan Memiliki Motivasi Belajar Tinggi (AIBI) Dari 14 responden didapatkan skor empirik 88 sampai 99, dimana 88 adalah skor terendah dan 98 adalah skor tertinggi. Dari segi kecenderungan pemusatan . endeny of cente. data didapatkan nilai mean . ata-rata hitun. 93,43, median 93,00 dan modus 93,00. Secara visual keadaan hal tersebut bisa dilihat dari hasil histogram di bawah. Tabel 1. Tabel distribusi frekuensi Hasil Belajar Kelompok siswa A1B1 Batas bawah Interval Batas atas Frekuensi Persentase (%) 14,29 42,86 28,57 14,29 Jumlah 100,00 Nilai mean 93,43 pada tabel distribusi frekuensi terdapat pada interval kelas 91-93 sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 14 responden 28,57% memberikan skor sama atau sangat dekat dengan rata-ratanya, 57,14% memberikan skor di bawah kelas yang memuat rata-rata, dan selebihnya 14,29% diatas kelas yang memuat rata-rata. Gambar 1. Histogram Hasil Belajar Kelompok siswa A1B1 SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Visualisasi skor dengan histogram menunjukkan bahwa mean median dan modus berada di kelas yang sama yaitu di 91-93. Data Hasil Belajar Siswa yang Dibelajarkan Menggunakan Model Discovery Learning dan Memiliki Motivasi Belajar Rendah (AIB. Dari 12 responden didapatkan skor empirik 80 sampai 86, dimana 80 adalah skor terendah dan 86 adalah skor tertinggi. Dari segi kecenderungan pemusatan . endeny of cente. data didapatkan nilai mean . ata-rata hitun. 82,36, median 82,00 dan modus 80,00. Secara visual keadaan hal tersebut bisa dilihat dari hasil histogram pada Gambar 4. 6 di Tabel 2. Tabel Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelompok Siswa A1B2 Batas bawah Interval Batas atas Frekuensi Persentase (%) 35,71 35,71 14,29 14,29 Jumlah 100,00 Nilai mean 82,36 pada tabel distribusi frekuensi terdapat pada interval kelas 82-83 sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 14 responden 35,71% memberikan skor sama atau sangat dekat dengan rata-ratanya, 35,71% memberikan skor di bawah kelas yang memuat rata-rata, dan selebihnya 28,57% di atas kelas yang memuat rata-rata. Gambar 2. Histogram Hasil Belajar kelompok siswa A1B2 Visualisasi skor dengan histogram menunjukkan bahwa mean median dan modus berada di kelas yang sama yaitu di 82-83. Data Hasil Belajar Siswa yang Dibelajarkan Menggunakan Model Ekspositori dan Memiliki Motivasi Belajar Tinggi (A2B. Dari 14 responden didapatkan skor empirik 80 sampai 86, dimana 80 adalah skor terendah dan 86 adalah skor tertinggi. Dari segi kecenderungan pemusatan . endeny of SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. data didapatkan nilai mean . ata-rata hitun. 83,00, median 84,00 dan modus 84,00. Secara visual keadaan hal tersebut bisa dilihat dari hasil histogram pada tabel dan gambar 3 di bawah. Tabel 3. Tabel Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kelompok Siswa A2B1 Batas bawah Interval Batas atas Frekuensi Persentase (%) 21,43 21,43 42,86 14,29 Jumlah 100,00 Nilai mean 83 pada tabel distribusi frekuensi terdapat pada interval kelas 82-83 sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 14 responden 21,43% memberikan skor sama atau sangat dekat dengan rata-ratanya, 21,43% memberikan skor dibawah kelas yang memuat rata-rata, dan selebihnya 57,14% diatas kelas yang memuat rata-rata. Gambar 3. Histogram Hasil Belajar kelompok siswa A2B1 Visualisasi skor dengan histogram menunjukkan bahwa data berada di kelas yang Data Hasil Belajar Siswa yang Dibelajarkan Menggunakan Model Ekspositori dan Memiliki Motivasi Belajar Rendah (A2B. Dari 14 responden didapatkan skor empirik 60 sampai 74, dimana 60 adalah skor terendah dan 74 adalah skor tertinggi. Dari segi kecenderungan pemusatan . endeny of cente. data didapatkan nilai mean . ata-rata hitun. 64,36, median 64,00, dan modus 64,00. Secara visual keadaan hal tersebut bisa dilihat dari hasil histogram pada Tabel 4 di bawah SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Tabel 4. Tabel distribusi frekuensi Hasil Belajar Kelompok siswa A2B2 Batas bawah Interval Batas atas Frekuensi Persentase (%) 42,86 28,57 14,29 7,14 7,14 100,00 Jumlah Nilai mean 64,36 pada tabel distribusi frekuensi terdapat pada interval kelas 63-65 sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 14 responden 28,57% memberikan skor sama atau sangat dekat dengan rata-ratanya, 42,86% memberikan skor dibawah kelas yang memuat rata-rata, dan selebihnya 28,57% diatas kelas yang memuat rata-rata. Gambar 4. Histogram Hasil Belajar Kelompok Siswa A2B2 Visualisasi skor dengan histogram menunjukkan bahwa mean median dan modus berada di kelas yang sama yaitu di 63-65. Dari hasil penelitian di atas, hipotesis pertama telah teruji bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Model terhadap hasil belajar siswa. Pembelajaran yang menggunakan model Discovery Learning lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan Ekspositori, karena dengan pembelajaran Discovery Learning siswa dituntut aktif dalam menemukan dan merumuskan masalah sehinga pembelajaran Discovery Learning sangat mendorong siswa untuk tidak bersifat pasif dalam proses Dalam pembelajaran Discovery Learning siswa dituntut mampu menjawab secara kritis dan logis, keterampilan memecahkan masalah, mengembangkan rasa keingintahuan objektifitas, pemikiran yang cermat dan toleransi terhadap pendapat yang Hal ini dibuktikan dengan perbedaan rata - rata hasil belajar siswa yang menggunakan model Discovery Learning lebih tinggi dari rata - rata hasil belajar siswa yang menggunakan Ekspositori. Ini sesuai dengan pendapat Liebeck dalam Runtukahu yang SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. berpendapat bahwa proses belajar dapat ditingkatkan dengan bermain. Metode Bermain dapat meningkatkan keterlibatan seseorang anak di dalam dunia di sekelilingnya. Untuk mendapatkan peningkatan verbal dari anak, dapat menggunakan beberapa strategi di tengah permainan dan aktivitas yang menyenangkan. Hipotesis ke dua telah teruji bahwa terdapat interaksi antara penggunaan Model dan motivasi belajar siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Dalam hal ini interaksi antara Model dan motivasi belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa cukup signifikan. Peranan Model dalam proses pembelajaran antara lain dapat dijadikan rancangan dalam memilih bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas. Model dapat dijadikan pola pilihan artinya para guru boleh memilih Model yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Peranan motivasi belajar dalam proses pembelajaran adalah sebagai kekuatan, pendorong atau alat pembangun kesediaan dan keinginan kuat dalam diri siswa untuk belajar secara aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan dalam rangka perubahan prilaku untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa akan meningkat lebih baik apabila dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut yaitu Model dan Motivasi Belajar. Hipotesis ke tiga teruji bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan Model Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa yang memiliki motivasi belajar Pada siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi, pembelajaran yang menggunakan model Discovery Learning lebih efektif dalarn meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan Model Ekspositori. Motivasi belajar tinggi merupakan kekuatan, daya pendorong atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri siswa untuk belajar secara aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku. Sehingga motivasi memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar, karena siswa yang terkepercayaan diri tinggi memiliki energy banyak untuk melakukan kegiatan belajar. Selain pengaruh dari penggunaan Model, motivasi belajar yang tinggi memberikan kontribusi yang sangat positif bagi keberhasilan siswa dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada keterampilan membaca. Hipotesis ke empat telah teruji bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan Model Discovery Learning terhadap hasil belajar siswa yang memiliki motivasi belajar rendah. Dalam hal ini siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dengan bantuan Model yang tepat yaitu model Discovery Learning dapat membantu siswa meningkatkan hasil belajar walaupun dengan motivasi belajar yang cukup rendah. Hal ini menunjukkan bahwa model Discovery Learning cukup efektif membantu siswa yang memiliki motivasi belajar rendah dalam meningkatkan hasil belajar siswa. PENUTUP Kesimpulan Secara umum, simpulan dalam penelitian ini adalah jika pembelajaran Bahasa Indonesia dilakukan dengan menggunakan model discovery learning, hasil belajar siswa SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PENGARUH COOPERATIVE LEARNING DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Chika Gianistika DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. akan meningkat. Hasil belajar siswa juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan karakeristik materinya. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar adanya pelatihan bagi guru agar mereka mampu mengimplementasikan teknik cooperative learning secara optimal dan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa juga perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian tidak hanya memberi gambaran tentang pengaruh yang ada, tetapi juga memberikan solusi praktis untuk peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA