JURNAL COMM-EDU ISSN : 2622-5492 (Prin. 2615-1480 (Onlin. Volume 9 Nomor 1. Januari 2026 REVITALISASI PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENGOPTIMALKAN MUTU PEMBELAJARAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT Yumna Dafista1. Agus Hasbi Noor2. Dinno Mulyono3 1,2,3 Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Siliwangi. Cimahi. Jawa Barat. Indonesia yumnadafista14@gmail. com, 3dinno@ikipsiliwangi. Received: Desember, 2025. Accepted: Januari, 2026 Abstract This study explores the revitalization of Community Learning Activity Centers (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat or PKBM) through the utilization of information technology to improve the quality of learning and community participation. PKBM serves as an important non-formal education institution that provides flexible learning services for those who cannot access formal education. However, many PKBM still face challenges such as limited resources, conventional teaching methods, and low levels of community involvement. This qualitative research was conducted at PKBM Mekarsari Padalarang, involving managers, tutors, and learners as respondents through observation, interviews, and The results indicate that integrating digital platforms such as online learning applications and communication media increases learning effectiveness, expands access to education, and encourages more active participation. The revitalization of PKBM through information technology strengthens its role as a community empowerment center based on knowledge and digital literacy. This study recommends continuous digital competence training for tutors and managers, the provision of adequate technological infrastructure, and sustainable policy support from the government and Keywords: Community Learning Centre. Information Technology. Learning Quality. Community Participation Abstrak Penelitian ini mengkaji revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) melalui pemanfaatan teknologi informasi dalam mengoptimalkan mutu pembelajaran dan partisipasi masyarakat. PKBM berperan penting sebagai lembaga pendidikan non-formal yang menyediakan layanan pembelajaran fleksibel bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pendidikan formal. Namun, masih terdapat tantangan seperti keterbatasan sumber daya, penggunaan metode konvensional, dan rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Penelitian kualitatif ini dilakukan di PKBM Mekarsari Padalarang dengan melibatkan pengelola, tutor, dan warga belajar sebagai responden melalui observasi, wawancara, serta penyebaran angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi platform digital seperti pembelajaran daring, aplikasi komunikasi, dan media interaktif meningkatkan efektivitas penyampaian materi, memperluas akses pendidikan, serta mendorong partisipasi masyarakat secara aktif. Revitalisasi PKBM melalui pemanfaatan teknologi informasi memperkuat peran lembaga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan dan literasi digital. Rekomendasi penelitian ini meliputi pelatihan kompetensi digital bagi tutor dan pengelola, penyediaan infrastruktur teknologi yang memadai, serta dukungan kebijakan berkelanjutan dari pemerintah dan pemangku kepentingan. Kata Kunci: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Teknologi Informasi. Kualitas Pembelajaran. Partisipasi Masyarakat Volume 9. No. Januari 2026 pp 48-55 How to Cite: Dafista. Noor. & Mulyono. Revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Mengoptimalkan Mutu Pembelajaran Dan Partisipasi Masyarakat. Comm-Edu (Community Education Journa. , 9 . , 4855. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai salah satu lembaga pendidikan non-formal memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pendidikan formal. Namun, di berbagai daerah. PKBM masih menghadapi permasalahan mendasar seperti keterbatasan sarana pembelajaran, minimnya inovasi dalam metode belajar, serta rendahnya partisipasi Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan pembelajaran di PKBM belum optimal dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi solusi potensial untuk menjawab tantangan ini, karena dapat memperluas akses, meningkatkan efektivitas pembelajaran, serta memperkuat interaksi antara tutor dan warga belajar. Dari sisi yuridis. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 54 dan 56 menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk melalui jalur pendidikan non-formal seperti PKBM. Regulasi tersebut memperkuat peran masyarakat sebagai pelaksana, pengguna, sekaligus pengawas mutu pendidikan. Selain itu, kebijakan digitalisasi pendidikan yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi mendorong lembaga pendidikan, termasuk PKBM, untuk beradaptasi dengan transformasi digital dalam proses Hal ini sejalan dengan pendapat Erna Ningsih . yang menekankan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan akan meningkat apabila didukung oleh sistem yang terbuka dan akses informasi yang mudah dijangkau. Dengan demikian, aspek yuridis menunjukkan bahwa revitalisasi PKBM berbasis teknologi informasi merupakan langkah strategis untuk memperkuat pelaksanaan pendidikan masyarakat di era digital. Secara empiris, penelitian lapangan menunjukkan bahwa masih banyak PKBM yang belum mengintegrasikan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Hasil observasi di PKBM Mekarsari Padalarang, misalnya, memperlihatkan bahwa meskipun sebagian warga belajar telah memiliki perangkat digital, pemanfaatannya untuk kegiatan pembelajaran masih Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten di bidang teknologi, kurangnya pelatihan bagi tutor, serta minimnya infrastruktur Namun, di sisi lain, terdapat potensi besar untuk pengembangan karena masyarakat menunjukkan minat tinggi terhadap pembelajaran berbasis daring dan penggunaan media Berdasarkan temuan tersebut, upaya revitalisasi PKBM dengan pendekatan teknologi informasi dipandang penting untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan (Mulyono, 2. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini berfokus pada upaya revitalisasi PKBM melalui pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan partisipasi Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana penerapan teknologi informasi dapat mengoptimalkan proses pembelajaran di PKBM, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya, serta menggambarkan pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas pendidikan non-formal. Dengan penelitian ini diharapkan Dafista. Noor & Mulyono. Revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Mengoptimalkan Mutu Pembelajaran Dan Partisipasi Masyarakat muncul model implementasi PKBM berbasis teknologi yang mampu memperkuat peran pendidikan masyarakat dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran . ixed method. dengan desain explanatory sequential, yang mengombinasikan pengumpulan dan analisis data kuantitatif pada tahap awal, kemudian diikuti dengan pendalaman data kualitatif. Pemilihan desain ini didasarkan pada kebutuhan untuk menjelaskan secara lebih mendalam temuan kuantitatif melalui data kualitatif, sehingga diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai proses revitalisasi PKBM melalui pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan partisipasi masyarakat. Penelitian dilaksanakan di PKBM Mekarsari. Kecamatan Padalarang. Kabupaten Bandung Barat. Subjek penelitian meliputi pengelola PKBM, tutor, dan warga belajar yang terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Pemilihan subjek tersebut dimaksudkan untuk memperoleh perspektif yang utuh dari pihak perencana, pelaksana, dan penerima layanan pendidikan nonformal. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan dengan menyebarkan angket skala Likert kepada warga belajar PKBM Mekarsari untuk mengukur variabel pemanfaatan teknologi informasi, mutu pembelajaran, serta tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan belajar. Sementara itu, data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengelola PKBM, tutor, dan warga belajar, disertai dengan observasi langsung terhadap kegiatan pembelajaran serta studi dokumentasi terhadap laporan dan arsip program (Creswell. , & Plano Clark. , 2. Teknik kualitatif ini digunakan untuk memperoleh data deskriptif yang lebih mendalam terkait pelaksanaan dan dampak penggunaan teknologi informasi di PKBM. Instrumen penelitian meliputi angket, pedoman wawancara, serta lembar observasi dan Angket disusun berdasarkan indikator pemanfaatan teknologi informasi yang mencakup aspek akses, penggunaan, dan manfaat. mutu pembelajaran yang meliputi efektivitas, motivasi, dan hasil belajar. serta partisipasi masyarakat yang mencakup keterlibatan, dukungan, dan kontribusi dalam kegiatan PKBM. Pedoman wawancara digunakan untuk menggali informasi mengenai peran, kendala, serta strategi yang dilakukan PKBM dalam mengoptimalkan mutu pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi informasi. Adapun lembar observasi dan dokumentasi digunakan untuk mencatat aktivitas pembelajaran berbasis teknologi, penggunaan media digital, serta mengkaji arsip laporan kegiatan PKBM. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, meliputi perhitungan nilai mean, persentase, dan distribusi frekuensi, guna menggambarkan kecenderungan responden terhadap variabel penelitian. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga validitas dan keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber dan metode, sehingga hasil penelitian memiliki tingkat kredibilitas dan keandalan yang tinggi. Volume 9. No. Januari 2026 pp 48-55 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Mengoptimalkan Mutu Pembelajaran di PKBM Mekarsari Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi di PKBM Mekarsari. Kecamatan Padalarang. Kabupaten Bandung Barat berkontribusi nyata terhadap peningkatan mutu pembelajaran warga belajar. Berdasarkan hasil angket yang disebarkan kepada 25 responden, diperoleh data bahwa 84% warga belajar menyatakan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dengan penggunaan media digital, sementara 76% responden merasa lebih termotivasi mengikuti kegiatan belajar daring, dan 72% mengaku lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas belajar. Tabel 1. Dampak Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Mutu Pembelajaran Aspek Pembelajaran Efektivitas pembelajaran Motivasi belajar warga PKBM Kemandirian belajar Partisipasi dalam kegiatan belajar Persentase Responden Data tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi tidak hanya meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, tetapi juga memperkuat semangat belajar dan kemandirian warga. Tutor PKBM Mekarsari memanfaatkan platform digital seperti Google Classroom. WhatsApp Group, dan YouTube Learning Channel untuk menyampaikan materi, memberikan umpan balik, serta menjembatani komunikasi antara tutor dan warga belajar secara lebih interaktif. Faktor Pendukung dan Penghambat Hasil penelitian mengungkapkan bahwa implementasi revitalisasi PKBM melalui pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung yang bersumber dari aspek kelembagaan, ketersediaan sarana, serta kesiapan sumber daya manusia. Dari sisi kelembagaan, dukungan pemerintah desa dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat menjadi elemen strategis dalam memperkuat pelaksanaan program literasi digital. Dukungan tersebut berkontribusi pada terciptanya iklim kebijakan yang kondusif serta memperkuat posisi PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal yang responsif terhadap perkembangan Keberadaan dukungan lintas pemangku kepentingan ini memberikan landasan yang lebih kokoh bagi PKBM dalam mengintegrasikan teknologi informasi sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pembelajaran dan perluasan jangkauan layanan pendidikan. Dari perspektif sarana, kepemilikan perangkat teknologi, seperti telepon genggam dan laptop oleh sebagian besar warga belajar, menjadi faktor penting yang menunjang kelancaran pembelajaran berbasis digital. Ketersediaan perangkat tersebut memungkinkan warga belajar untuk mengakses materi pembelajaran, berinteraksi dengan tutor, serta mengikuti kegiatan belajar secara lebih fleksibel. Kondisi ini memperkuat peluang pemanfaatan teknologi informasi sebagai media pendukung pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan dan kondisi warga belajar. Dafista. Noor & Mulyono. Revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Mengoptimalkan Mutu Pembelajaran Dan Partisipasi Masyarakat Selain itu, kesiapan sumber daya manusia juga tercermin dari tingginya antusiasme tutor dan pengelola PKBM dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis digital. Sikap terbuka terhadap pemanfaatan teknologi mendorong munculnya berbagai inisiatif dalam penggunaan media pembelajaran digital, pengembangan materi interaktif, serta eksplorasi platform daring yang relevan dengan konteks pendidikan nonformal. Antusiasme ini menunjukkan adanya komitmen internal lembaga untuk melakukan pembaruan praktik pembelajaran secara Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan sejumlah faktor penghambat yang memengaruhi optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi. Keterbatasan kualitas dan jangkauan jaringan internet di beberapa wilayah tempat tinggal warga belajar menjadi kendala utama yang menghambat akses pembelajaran digital secara merata. Kondisi tersebut berdampak pada ketidakteraturan partisipasi warga belajar dalam kegiatan pembelajaran berbasis daring. Selain itu, perbedaan tingkat literasi digital antara tutor dan warga belajar turut menjadi tantangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis teknologi. Variasi kemampuan ini berpotensi menimbulkan kesenjangan dalam pemanfaatan media digital, sehingga menuntut adanya pendampingan dan penguatan kapasitas secara berkelanjutan. Faktor penghambat lainnya berkaitan dengan keterbatasan anggaran operasional PKBM, yang membatasi kemampuan lembaga dalam melakukan penguatan infrastruktur teknologi, termasuk pengadaan perangkat, peningkatan kualitas jaringan, serta pemeliharaan sarana pendukung. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan revitalisasi PKBM berbasis teknologi informasi sangat ditentukan oleh kemampuan lembaga dalam mengelola faktor pendukung sekaligus memitigasi berbagai kendala yang dihadapi. Proses Revitalisasi PKBM Melalui Teknologi Informasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses revitalisasi PKBM Mekarsari dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan internal, khususnya pengelola, tutor, dan warga belajar. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran tidak bersifat top-down, melainkan dibangun berdasarkan kebutuhan, kesepakatan, dan kesiapan bersama. Keterlibatan aktif seluruh unsur PKBM sejak tahap awal menjadi fondasi penting dalam menciptakan rasa memiliki . ense of ownershi. terhadap program revitalisasi, sehingga meningkatkan komitmen dalam pelaksanaannya. Tahap pertama dalam proses revitalisasi adalah perencanaan partisipatif, yang dilakukan melalui forum musyawarah PKBM. Dalam forum ini, pengelola, tutor, dan warga belajar secara bersama-sama merumuskan rencana pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan Proses musyawarah digunakan sebagai ruang dialog untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, menentukan jenis teknologi yang akan digunakan, serta menyepakati strategi implementasi yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik warga belajar. Mekanisme ini memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan secara terbuka, sekaligus memperkuat legitimasi keputusan yang diambil karena didasarkan pada kesepakatan kolektif. Tahap kedua berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kegiatan Tutor dan warga belajar mengikuti pelatihan penggunaan berbagai aplikasi digital, seperti Google Workspace. Zoom Meeting, serta media pembelajaran interaktif. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi teknis dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana pendukung pembelajaran. Pelatihan tidak hanya diarahkan pada penguasaan aspek Volume 9. No. Januari 2026 pp 48-55 operasional aplikasi, tetapi juga pada pemahaman pemanfaatannya dalam konteks pedagogis, sehingga teknologi dapat digunakan secara lebih efektif dan relevan dengan tujuan Tahap ketiga adalah pendampingan dan evaluasi, yang dilakukan secara berkelanjutan selama proses implementasi pembelajaran digital. Pengelola PKBM melakukan monitoring rutin terhadap pelaksanaan pembelajaran untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan dan praktik di lapangan. Selain itu, evaluasi hasil belajar dilakukan secara periodik untuk menilai capaian pembelajaran serta mengidentifikasi kendala yang muncul. Proses pendampingan dan evaluasi ini berfungsi sebagai mekanisme reflektif, yang memungkinkan PKBM melakukan penyesuaian dan perbaikan secara berkelanjutan. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa revitalisasi PKBM Mekarsari tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan teknologi, tetapi juga pada penguatan proses partisipatif, pengembangan kapasitas, serta tata kelola pembelajaran yang adaptif dan berkelanjutan. Tahapan ini memperlihatkan bahwa proses revitalisasi berjalan secara kolaboratif dan berkesinambungan, menekankan pentingnya keterlibatan semua unsur PKBM dalam membangun budaya belajar berbasis teknologi. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi di PKBM Mekarsari tidak hanya berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran, tetapi juga memperkuat peran lembaga sebagai pusat literasi digital masyarakat. Integrasi teknologi dalam pembelajaran mendorong terjadinya transformasi fungsi PKBM dari sekadar penyelenggara layanan pendidikan nonformal menjadi ruang belajar komunitas yang lebih adaptif terhadap tuntutan era digital. Temuan ini sejalan dengan hasil kajian Warschauer dan Matuchniak . yang menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi pendidikan berkontribusi terhadap perluasan akses belajar serta peningkatan keterlibatan peserta didik, terutama pada komunitas yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan formal. Dalam konteks ini, teknologi tidak hanya berperan sebagai sarana pendukung teknis, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam membangun ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif (Mulyono & Ansori, 2. Lebih lanjut, penguatan peran PKBM sebagai pusat literasi digital berkorelasi dengan meningkatnya partisipasi warga belajar. Hal ini sejalan dengan pandangan Budimansyah . yang menekankan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan akan lebih optimal ketika lembaga mampu menciptakan lingkungan belajar yang terbuka, interaktif, dan Lingkungan pembelajaran berbasis teknologi di PKBM Mekarsari terbukti mendorong terjadinya interaksi yang lebih intensif antara tutor dan warga belajar, sehingga memperkuat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Temuan ini juga konsisten dengan hasil penelitian Ng . yang menunjukkan bahwa penguatan literasi digital tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga berdampak pada peningkatan kepercayaan diri peserta didik dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan pengembangan diri. Selain itu. Ertmer dan Ottenbreit-Leftwich . menegaskan bahwa integrasi teknologi yang efektif dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan pendidik dan dukungan kelembagaan, yang dalam penelitian ini tercermin dari peran aktif pengelola dan tutor PKBM dalam mengembangkan inovasi pembelajaran digital. Dafista. Noor & Mulyono. Revitalisasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Mengoptimalkan Mutu Pembelajaran Dan Partisipasi Masyarakat Dari perspektif pendidikan masyarakat, pemanfaatan teknologi informasi di PKBM Mekarsari juga dapat dipahami sebagai bentuk strategi pemberdayaan. Hal ini sejalan dengan laporan UNESCO . yang menekankan bahwa pendidikan orang dewasa dan pendidikan nonformal berbasis teknologi memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas individu dan komunitas untuk beradaptasi dengan perubahan sosial dan ekonomi. Keterlibatan aktif warga belajar dalam setiap tahapan program menunjukkan terbangunnya kesadaran kolektif akan pentingnya literasi digital sebagai bagian dari kompetensi abad ke-21. Secara keseluruhan, revitalisasi PKBM melalui pemanfaatan teknologi informasi dapat dipandang sebagai strategi yang efektif dalam meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus memperluas partisipasi masyarakat dalam pendidikan nonformal yang berkelanjutan. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi informasi di PKBM Mekarsari memiliki peran strategis dalam meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pendidikan nonformal. Integrasi teknologi dalam proses pembelajaran memberikan dampak positif terhadap efektivitas pembelajaran, yang tercermin dari mayoritas warga belajar yang menilai bahwa kegiatan belajar menjadi lebih menarik, interaktif, serta mampu mendorong kemandirian dan motivasi belajar. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi informasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung, tetapi juga berperan sebagai instrumen pedagogis yang berkontribusi langsung terhadap kualitas proses pembelajaran. Keberhasilan implementasi teknologi informasi di PKBM didukung oleh beberapa faktor utama, antara lain dukungan dari pemerintah dan masyarakat, ketersediaan perangkat digital yang relatif memadai, serta komitmen tutor dan pengelola PKBM dalam mengembangkan inovasi pembelajaran. Faktor-faktor tersebut membentuk lingkungan yang kondusif bagi penguatan pembelajaran berbasis teknologi. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah kendala yang masih dihadapi, khususnya keterbatasan jaringan internet di beberapa wilayah, variasi tingkat literasi digital di kalangan tutor dan warga belajar, serta keterbatasan anggaran operasional yang berdampak pada penguatan infrastruktur Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan revitalisasi PKBM memerlukan dukungan kebijakan dan alokasi sumber daya yang lebih konsisten. Proses revitalisasi PKBM yang dilaksanakan secara partisipatif, mulai dari perencanaan bersama, pelatihan teknologi, implementasi pembelajaran digital, hingga evaluasi berkelanjutan, terbukti berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan penguatan peran PKBM sebagai pusat literasi digital masyarakat. Pendekatan partisipatif ini tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga membangun rasa memiliki dan tanggung jawab Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa penerapan teknologi informasi dalam pendidikan nonformal merupakan langkah strategis dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di era transformasi digital. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Dr. Ir. Agus Hasbi Noor. Pd. dan Dino Mulyono. Pd. selaku dosen pembimbing, atas bimbingan, arahan, serta motivasi yang sangat berharga dalam proses penyusunan penelitian ini. Volume 9. No. Januari 2026 pp 48-55 Pengelola PKBM Mekarsari. Kecamatan Padalarang. Kabupaten Bandung Barat, yang telah memberikan izin, data, serta informasi yang diperlukan selama penelitian Tutor dan warga belajar PKBM Mekarsari yang telah bersedia menjadi responden penelitian dengan memberikan partisipasi aktif dan informasi yang jujur. DAFTAR PUSTAKA