http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Artikel Penelitian Relationship Between Pocket Money and Student Nutritional Status Kayla Ratih Azzahra1. Linda Rizki Sefrina2. Milliyantri Elvandari3 Abstrak Latar Belakang: Selama masa remaja, terjadi perubahan yang cepat yang memengaruhi kebutuhan nutrisi dari makanan yang mereka makan. Masalah kesehatan sering muncul pada masa ini, termasuk masalah gizi yang timbul selama pertumbuhan dan perkembangan remaja. Uang saku yang diterima remaja dapat memengaruhi seberapa sering mereka memilih makanan cepat saji. Semakin besar jumlah uang saku yang dimiliki, semakin sering mereka cenderung mengonsumsi makanan cepat saji karena biasanya uang itu digunakan untuk membeli makanan tidak sehat yang tinggi lemak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara jumlah uang saku yang dimiliki dengan status gizi siswa di SMPN 1 Karawang Barat. Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian observasional kuantitatif yang menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas 7J SMPN 1 Karawang Barat. Sampel penelitian diambil dari seluruh populasi yang diuji menggunakan teknik total sampling, yang berarti semua siswa kelas 7J SMPN 1 Karawang Barat, sebanyak 37 siswa, diikutsertakan dalam Instrumen penelitian yang digunakan meliputi kuesioner melalui Google Form, timbangan berat badan, dan stature meter. Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman. Hasil: Analisis univariat menunjukkan uang saku per hari responden sebagian besar dalam kategori rendah . ,6%), uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman per hari sebagian besar dalam kategori sedang . ,5%), dan status gizi responden sebagian besar dalam kategori gizi baik . ,2%). Analisis statistik diperoleh nilai p-value 0,471 untuk uang saku per hari dan pvalue 0,186 untuk uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman per hari. Oleh karena itu, dengan nilai p-value tersebut, hipotesis alternatif (H. ditolak dan hipotesis nol (H. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara uang saku dengan status gizi siswa SMPN 1 Karawang Barat. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor uang saku tidak berpengaruh terhadap status gizi remaja. Kata kunci: Remaja. Status Gizi. Uang Saku Abstract Background: During adolescence, rapid changes occur that affect the nutritional requirements of the foods they Health problems often arise during this time, including nutritional problems that arise during adolescent growth and The pocket money that adolescents receive can influence how often they choose fast food. The greater the amount of pocket money, the more often they tend to consume fast food because it is usually used to buy unhealthy foods that are high in fat. Objectives: This study aims to examine the relationship between the amount of pocket money owned and the nutritional status of students at SMPN 1 West Karawang. Research Methods: This study was a quantitative observational study using a cross-sectional approach. The population of this study were students of grade 7J of SMPN 1 West Karawang. The research sample was taken from the entire population tested using the total sampling technique, which means that all students of grade 7J SMPN 1 West Karawang, totaling 37 students, were included in the study. The research instruments used include questionnaires through Google Form, weight scales, and stature meters. Data analysis was carried out using the spearman test. Results: Univariate analysis showed that the respondents' daily allowance was mostly in the low category . 6%), the allowance used to buy food and drinks per day was mostly in the medium category . 5%), and the respondents' nutritional status was mostly in the good nutrition category . 2%). Statistical analysis obtained a p-value of 0. 471 for pocket money per day and a p-value of 0. 186 for pocket money used to buy food and drinks per day. Therefore, with these p-values, the alternative hypothesis (H. is rejected and the null hypothesis (H. is accepted. Conclusion: There is no significant relationship between pocket money and the nutritional status of students of SMPN 1 West Karawang. This finding indicates that the pocket money factor does not affect the nutritional status of adolescents. Keywords: Adolescents. Nutritional Status. Pocket Money Submitted: 5 June 2024 Revised: 29 June 2025 Affiliasi penulis : 1, 2, 3 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Singaperbangsa Karawang Korespondensi : AuKayla Ratih AzzahraAy kaylaratihaz01@gmail. Telp: 628996234609 Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Accepted: 30 June 2025 PENDAHULUAN Zat gizi merupakan istilah digunakan untuk menyebut zat Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 terdapat dalam makanan dan diperlukan untuk proses metabolisme tubuh. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh keseimbangan antara asupan zat gizi yang diperoleh dari makanan dengan kebutuhan zat gizi tubuh. Masalah ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan kebutuhan gizi seseorang . Masa remaja adalah periode transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa pertumbuhan fisik, mental, emosional, dan sosial, serta perubahan hormonal yang Pada masa ini, kebutuhan nutrisi meningkat secara drastis untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Remaja memerlukan asupan zat gizi makro dan mikro yang seimbang agar berlangsung optimal . Permasalahan gizi yang terjadi pada masa remaja, seperti ketidakseimbangan asupan nutrisi atau kebiasaan makan yang buruk, dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun mental, termasuk menurunnya kesehatan jasmani secara keseluruhan . Masa remaja memerlukan kebutuhan nutrisi yang banyak dan kompleks seiring dengan membesarnya organ dan jaringan dalam tubuh atau yang sering disebut Permasalahan kesehatan banyak timbul di masa remaja, termasuk masalah gizi yang terjadi pada masa pertumbuhan dan Indonesia menanggung tiga beban malnutrisi remaja yaitu, gizi kurang, obesitas, dan defisiensi Masalah gizi dan masalah kesehatan lainnya yang terjadi pada remaja perhatian yang khusus . Indonesia memiliki sedikit kebijakan yang secara spesifik menargetkan gizi remaja dibandingkan dengan negara-negara lain . Di Indonesia, perhatian kebijakan gizi masih lebih banyak diarahkan pada Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman kelompok rentan seperti bayi, balita, dan ibu hamil, sementara gizi remaja belum menjadi prioritas utama dalam agenda nasional . Berbeda dengan negara lain yang sudah mengembangkan kebijakan dan program edukasi gizi remaja yang terintegrasi di sekolah dan komunitas. Indonesia masih dalam tahap pengembangan program edukasi gizi yang efektif dan menjangkau seluruh remaja. Program edukasi gizi yang ada seringkali masih bersifat teoritis dan kurang menarik bagi remaja sehingga efektivitasnya terbatas . Pengawasan lingkungan makanan sehat di sekolah dan komunitas juga belum optimal, berbeda dengan beberapa negara yang sudah menerapkan regulasi ketat terhadap iklan makanan tidak sehat dan pembatasan penjualan makanan cepat saji di lingkungan sekolah sebagai bagian dari kebijakan pengendalian obesitas remaja . Masalah mempengaruhi kualitas hidup mereka selama masa produktif dan seterusnya. Permasalahan gizi . aik gizi kurang maupun gizi lebi. pada remaja akan meningkatkan kerentanan terkena penyakit, terutama risiko penyakit tidak menular. Jika masalah ini terus berlanjut hingga dewasa, maka janin yang dikandungnya akan mengalami gangguan kesehatan, sehingga meneruskan rantai masalah gizi yang tidak akan pernah berhenti . Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi status gizi remaja di Indonesia pada usia 1315 tahun, berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT/U), 1,7% mengalami kategori sangat kurus, 6,1% kurus, 12% gemuk, dan 4,9% mengalami Sementara itu, prevalensi status gizi remaja di Kabupaten Karawang pada usia 13-15 tahun, berdasarkan IMT/U, menunjukkan bahwa 0,82% mengalami kategori sangat kurus, 2,37% kurus, 18,30% gemuk, dan 5,57% mengalami obesitas . Status Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan orang tua. Orang tua dengan pendapatan lebih tinggi cenderung memberikan uang saku lebih besar kepada anaknya. Besarnya uang saku berkaitan erat dengan pemilihan jenis makanan jajanan yang dikonsumsi. Ketika remaja mengalami kekurangan gizi, dapat memengaruhi kesehatan organ reproduksi Sebaliknya, mengalami kelebihan gizi atau obesitas berisiko mengalami penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung coroner . Jumlah uang saku yang dimiliki oleh remaja dapat mempengaruhi seberapa sering mereka mengonsumsi makanan cepat saji. Semakin besar jumlah uang saku yang dimiliki oleh seorang remaja, semakin mengonsumsi makanan cepat saji. Hal itu disebabkan karena uang saku yang dimiliki remaja biasanya digunakan untuk membeli jajanan yang tidak sehat dan tinggi lemak . Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara uang saku dengan status gizi pada remaja. Penelitian di SMP Muhammadiyah 2 Minggir oleh . menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara uang saku dengan status gizi siswa. Dengan koefisien sebesar 0,0000601 dan nilai p = 0,0325, peningkatan uang saku berkorelasi dengan dampaknya tergolong lemah. Uang saku berkontribusi terhadap varians status gizi sebesar 2,8% pada siswa tersebut. Berbeda dengan penelitian di atas penelitian lain oleh . di SMPN 16 Semarang menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan signifikan langsung antara uang saku dengan status gizi . =0,. , terdapat hubungan signifikan antara pola konsumsi makanan dengan status gizi . <0,001, r=0,. Hal ini menegaskan bahwa uang saku berperan dalam menentukan pola Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman konsumsi yang kemudian berdampak pada status gizi. Uang saku mencerminkan pola asuh orang tua serta kemampuan anak untuk membeli makanan yang kurang sehat. Remaja yang mempunyai uang saku lebih banyak akan lebih mandiri dan kurang dikontrol oleh orang tuanya, szehingga membelanjakan uangnya secara tidak terkendali dan jika dibandingkan dengan orang tua, remaja cenderung tidak mempertimbangkan dampak kesehatan jangka panjang terhadap apa yang mereka telah konsumsi . Fenomena di SMPN 1 Karawang Barat menjadi penting untuk diteliti karena berdasarkan pengamatan awal dan data sekolah, terdapat variasi signifikan dalam jumlah uang saku yang dimiliki siswa serta pola konsumsi makanan di kantin sekolah dan luar sekolah. Selain itu, prevalensi gizi lebih dan obesitas di Kabupaten Karawang yang relatif tinggi menunjukkan perlunya kajian khusus di lingkungan sekolah tersebut faktor-faktor mempengaruhi status gizi siswa, khususnya peran uang saku. Keterbaharuan penelitian ini juga didasarkan pada fakta bahwa hingga saat ini belum ada penelitian serupa yang mengkaji hubungan antara uang saku dengan status gizi yang dilakukan di lingkungan SMPN 1 Karawang Barat. Dengan demikian, penelitian ini menjadi penting untuk mengisi kekosongan data dan memberikan gambaran yang lebih spesifik dan kontekstual mengenai faktor-faktor yang memengaruhi status gizi remaja di sekolah Pendekatan yang digunakan diharapkan dapat memberikan kontribusi intervensi gizi yang lebih efektif di tingkat sekolah dan komunitas lokal. Berdasarkan latar belakang diatas penelitian ini bertujuan untuk melakukan AuHubungan antara Uang Saku Dengan Status Gizi Pada Siswa SMPN 1 Karawang BaratAy. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 METODE Penelitian ini adalah penelitian observasional kuantitatif yang menggunakan pendekatan cross-sectional, di mana data uang saku dan status gizi dikumpulkan sekali pada saat yang sama. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Karawang Barat, dan sampel penelitian dikumpulkan melalui teknik total sampling, yaitu sampel diambil dari seluruh populasi penelitian . Teknik total sampling digunakan dalam penelitian ini karena jumlah populasi kurang dari 100 Populasi penelitian meliputi seluruh siswa kelas 7J di SMPN 1 Karawang Barat, yang terdiri dari 37 siswa. Oleh karena itu, sampel penelitian ini sama dengan populasi, yaitu 37 siswa kelas 7J di SMPN 1 Karawang Barat. Pemilihan satu kelas, yaitu kelas 7J di SMPN 1 Karawang Barat, didasarkan pada pertimbangan praktis dan Pemilihan satu kelas bertujuan untuk mengontrol variabel luar yang dapat memengaruhi hasil penelitian, seperti perbedaan jadwal pelajaran, lingkungan kelas, dan aktivitas ekstrakurikuler yang mungkin berbeda antar kelas. Dengan fokus pada satu kelas, data yang dihasilkan menjadi lebih konsisten dan memudahkan proses pengumpulan serta analisis data, sehingga hasil penelitian dapat dijadikan dasar untuk pengembangan intervensi atau program serupa di kelas atau sekolah lain di masa mendatang Variabel penelitian ini adalah uang saku, sedangkan variabel dependen adalah status gizi. Uang saku yang diteliti adalah uang saku harian dan uang saku membeli makanan yang diukur dalam tiga kategori: rendah, sedang, dan tinggi, dengan menggunakan range, mean, dan standar deviasi dari uang saku siswa . Instrumen penelitian yang digunakan meliputi timbangan berat badan, stature meter, dan kuesioner uang saku dengan pertanyaan terbuka melalui Google Formulir, pertanyaan yang diajukan adalah Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman AuBerapa uang saku/uang jajan perhari?Ay dan AuBerapa uang saku/uang jajan yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman selama satu hari?Ay. Data penelitian ini berasal dari data primer, yang meliputi kuesioner, tinggi badan, dan berat badan siswa. Status gizi siswa diukur menggunakan indikator penilaian Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dengan kategori gizi kurang (-3 SD sd <-2 SD), gizi baik (-2 SD sd 1 SD), gizi lebih ( 1 SD sd 2 SD), dan obesitas (> 2 SD) . Kuesioner diperoleh dari jawaban yang diberikan oleh responden, sementara tinggi dan berat badan diukur oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji Spearman dan diolah menggunakan komputer dengan aplikasi Microsoft Excel 2016, serta SPSS HASIL Gambaran Umum Lokasi Penelitian SMP Negeri 1 Karawang Barat beralamat di Jl. Sukarja Jayalaksana Karawang. Nagasari. Kec. Karawang Barat. Kab. Karawang. Prov. Jawa Barat. SMPN 1 Karawang barat berakreditasi A, memiliki 37 ruang kelas, 1 ruang laboratorium, dan 1 perpustakaan . Karakteristik Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner (Google For. kepada siswa kelas 7J di SMPN 1 Karawang Barat yang berjumlah 37 orang. Data mengenai karakteristik responden mencakup jenis kelamin dan usia. Mayoritas responden dalam penelitian ini adalah lakilaki, dengan jumlah 20 responden . ,1%). Sementara itu, sebagian besar responden berusia 13 tahun, yaitu sebanyak 29 orang . ,4%) (Tabel . Tabel 1. Karakteristik Jenis Kelamin dan Usia Responden Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Frekuensi . Presentase (%) Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Total Usia 12 tahun 13 tahun 14 tahun Total Hasil Analisis Univariat Uang saku per hari responden sebagian besar rendah yaitu sebanyak 18 responden . ,6%). Uang saku yang digunakan responden untuk membeli makanan dan minuman per hari sebagian besar sedang yaitu sebanyak 15 responden . ,5%). Status gizi responden sebagian besar gizi baik yaitu sebanyak 23 responden . ,2%) (Tabel . Tabel 2. Distribusi Frekuensi Uang Saku dan Status Gizi Responden Kategori Frekuensi . Presentase (%) Uang Saku Per Hari Rendah (< Rp. Sedang (Rp. 400 O - < Rp. Tinggi (Ou Rp. Total Uang Saku yang Digunakan Untuk Membeli Makanan dan Minuman Per Hari Rendah (< Rp. Sedang (Rp. 400 O - < Rp. Tinggi (Ou Rp. Total Status Gizi Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih Obesitas Total Hasil Analisis Bivariat (Korelasi dan Crosta. Tabel 3. Hasil Analisis Korelasi dan Crostab uang saku harian dan uang saku membeli makanan Responden (N=. Uang Saku Per Hari dan Status Gizi Uang Saku yang Digunakan Total Gizi Gizi Gizi Obesitas Untuk Membeli Makanan dan Kurang Baik Lebih Minuman Per Hari Uang Saku Per Hari Rendah (< Rp. Sedang (Rp. 400 O - < Rp. Tinggi (Ou Rp. Uang Saku yang Digunakan Untuk Membeli Makanan dan Minuman Per Hari Rendah (< Rp. Sedang (Rp. 400 O - < Rp. Tinggi (Ou Rp. Pengujian statistik menggunakan uji Spearman dengan tingkat kepercayaan 95% atau = 0,05 pada tabel 3 menunjukkan nilai . -value 0,. pada uang saku per hari dan . -value 0,. pada uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman per hari. Oleh karena itu, hipotesis alternatif (H. ditolak dan hipotesis nol (H. diterima, yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara uang saku dengan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Koefisiens i Korelasi Sign -0,122 0,471 -0,222 0,186 status gizi siswa SMPN 1 Karawang Barat. Nilai koefisien korelasi yang dihasilkan adalah -0,122 untuk uang saku yang digunakan per hari, yang menunjukkan derajat hubungan antar variabel sangat Sedangkan, nilai koefisien korelasi untuk jumlah uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman per hari adalah -0,222, yang menunjukkan derajat hubungan antar variabel rendah. Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 Dalam hal ini, nilai koefisien korelasi kedua variabel tersebut negatif, yang menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut tidak searah. Hasil tabel crosstab menunjukkan distribusi status gizi responden berdasarkan kategori uang saku harian . endah, sedang, tingg. , mayoritas responden dengan uang saku harian rendah cenderung memiliki status gizi normal, sedangkan proporsi status gizi gemuk dan obesitas lebih banyak ditemukan pada responden dengan uang saku harian sedang dan tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar uang saku yang dimiliki, kecenderungan untuk memiliki status gizi lebih . emuk atau obesita. juga meningkat, meskipun secara statistik pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara uang saku harian dengan status gizi . -value >0,. Hasil memperlihatkan hubungan antara uang saku harian yang digunakan khusus untuk membeli makanan/minuman . dengan status gizi. Sebagian besar responden yang menggunakan uang saku sedang untuk jajan memiliki status gizi normal, namun terdapat pula proporsi status gizi gemuk dan obesitas pada kelompok dengan uang saku jajan Pola ini menunjukkan bahwa penggunaan uang saku yang lebih besar untuk jajan dapat meningkatkan peluang terjadinya status gizi lebih, meskipun pada penelitian ini nilai p-value juga menunjukkan tidak ada hubungan signifikan secara statistik . -value >0,. PEMBAHASAN Hasil uji korelasi uang saku per hari menunjukkan nilai koefisien -0,122 dengan p-value 0,471, menandakan tidak ada hubungan yang signifikan antara uang saku per hari dengan status gizi siswa. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di SMPN 16 Semarang oleh . , yang juga menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara uang saku per hari dengan status gizi, dengan nilai pvalue sebesar 0,530. Hal ini kemungkinan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman disebabkan oleh penggunaan uang saku siswa yang tidak hanya terbatas untuk membeli makanan, tetapi juga untuk keperluan lain seperti biaya transportasi dan Sejalan dengan penelitian tersebut, hasil penelitian di SMPN Kota Malang oleh . juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara uang saku per hari dengan status gizi, dengan nilai pvalue sebesar 0,574. Hal ini dapat disebabkan oleh besaran uang saku yang relatif rendah sehingga tidak memungkinkan siswa untuk membeli makanan secara Namun, hasil ini tidak sejalan . SMP Muhammadiyah Minggir, menemukan adanya hubungan signifikan antara uang saku per hari dengan status gizi siswa . =0,0. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan uang saku berkorelasi dengan peningkatan status gizi lebih, karena siswa dengan uang saku lebih besar cenderung membeli makanan tinggi kalori dan rendah nutrisi. Hasil uji korelasi uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman per hari menunjukkan koefisien 0,222 dengan p-value 0,186, yang berarti tidak ada hubungan signifikan antara uang saku yang digunakan untuk membeli makanan dan minuman per hari dengan status gizi siswa. Hasil Penelitian sejalan dengan penelitian . di SMPN 25 Surakarta juga menemukan tidak adanya hubungan signifikan antara uang saku yang digunakan untuk jajan dengan status gizi siswa . =0,. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun uang saku digunakan untuk membeli makanan, siswa belum tentu memperhatikan nilai gizi makanan yang berdampak pada status gizi. Sebaliknya, penelitian . di SMA Patriot Bekasi menemukan hubungan signifikan antara uang saku yang digunakan untuk membeli makanan/minuman dengan status gizi . =0,. Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan uang Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. JKPBK. http://e-journals. id/index. php/JKPBK Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan. Vol 8 No 1. Juni 2025. pISSN : 2654-5241 eISSN : 2722-7573 saku tinggi cenderung mengalami kelebihan berat badan karena lebih sering membeli makanan tinggi kalori. Perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh perbedaan karakteristik responden, lingkungan sekolah, serta pola pengelolaan uang saku di masing-masing daerah. Selain itu, faktor lain seperti pengetahuan gizi, pengawasan orang tua, dan ketersediaan makanan sehat di lingkungan sekolah juga berperan penting dalam menentukan status gizi siswa. Ukuran uang saku yang dimiliki oleh siswa mempengaruhi kemampuan mereka dalam membeli makanan ketika mereka berada di luar rumah. Jika mereka memiliki uang saku yang lebih besar, kemungkinan besar mereka akan sering memilih jajanan yang kurang sehat tanpa memperhatikan nilai gizinya . Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa jumlah uang saku per hari siswa kelas 7J SMPN 1 Karawang barat paling banyak