Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Article History: Submitted : 31/07/2025 Reviewed : 20/10/2025 Accepted : 28/10/2025 Published : 31/10/2025 MODEL TEOLOGI KONTEKSTUAL DALAM PENDIDIKAN SENI MAENGKET: INTERNALISASI MODERASI BERAGAMA BERBASIS KEARIFAN LOKAL MINAHASA Alrik Lapian1*). Denni H. Pinontoan2. Jekson Berdame3 Institut Agama Kristen Negeri Manado Email Correspondence: alriklapian@gmail. Abstract: This article investigates how traditional arts, particularly Maengket dance and the Pangucapan Syukur (Thanksgivin. tradition in Minahasa, serve as strategic vehicles for promoting religious moderation and contextual art education. Drawing on ethnomusicology, sociomusicology, and cultural sustainability theory, the analysis demonstrates that the musical architecture of Maengket possesses significant aesthetic, pedagogical, and spiritual dimensions. Findings indicate that these cultural practices are effective in cultivating organic spaces for interfaith dialogue, strengthening shared values, and enhancing social cohesion within a pluralistic Furthermore, the study highlights the critical need to adapt traditional arts into formal educational curricula and to utilize digital platforms for broader outreach to youth. Ultimately, by integrating artistic expression, local wisdom, and technology, this research offers a sustainable model for education and religious moderation that aligns with the evolving social landscape of Indonesia Keywords: Maengket. Religious Moderation. Local Wisdom Abstraksi: Penelitian ini mengkaji peran seni tradisional, khususnya tarian Maengket dan tradisi Pangucapan Syukur di Minahasa, sebagai medium strategis dalam penguatan moderasi beragama dan pendidikan seni yang kontekstual. Melalui pendekatan etnomusikologi, sosiomusikologis, dan teori cultural sustainability, penelitian ini menunjukkan bahwa struktur musikal Maengket tidak hanya mengandung kompleksitas estetika, tetapi juga fungsi pedagogis dan spiritual. Praktik budaya ini terbukti efektif menciptakan ruang dialog antariman yang alami, memperkuat nilai kebersamaan, dan mendorong kohesi sosial di masyarakat multikultural. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya adaptasi seni tradisional ke dalam kurikulum pendidikan formal serta pemanfaatan platform digital untuk menjangkau generasi muda. Dengan mengintegrasikan seni, kearifan lokal, dan teknologi, artikel ini menawarkan model pendidikan dan strategi moderasi beragama yang berkelanjutan dan relevan dengan dinamika sosial Indonesia masa kini. Kata kunci: Maengket. Moderasi Beragama. Kearifan Lokal Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 242 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Dalam konteks pendidikan seni terstandardisasi. Indonesia menghadapi Globalisasi pendidikan seni, yang cenderung mengadopsi pendekatan pedagogis Barat secara dominan, telah menciptakan struktur akademik, serta pendekatan berbasis teori-teori musik Barat modern. Hal ini menyisakan ruang yang sangat terbatas bagi ekspresi dan metode pembelajaran yang bersumber dari tradisi musikal lokal yang kaya dan Di tengah arus homogenisasi ini. Indonesia justru memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pelopor model pendidikan seni musik yang berakar pada budaya, spiritualitas, dan nilai-nilai kolektif masyarakatnya. Data UNESCO menunjukkan bahwa hanya 12% institusi pendidikan seni di kawasan Asia Tenggara mengintegrasikan elemen-elemen musik tradisional dalam kurikulum mereka. Angka ini mengindikasikan adanya pengabaian warisan musikal lokal, dan sekaligus menegaskan kuatnya dominasi Eurosentris. Paradigma ini sering kali melihat musik tradisional hanya sebagai objek studi etnomusikologis, bukan sebagai sumber inspirasi pedagogis yang hidup dan relevan. Padahal, musik tradisionalAitermasuk yang berkembang di IndonesiaAitidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai medium transmisi nilai, identitas, dan pengetahuan antargenerasi. Dalam lanskap inilah, tradisi maengket dari Minahasa. Sulawesi Utara, muncul sebagai contoh menonjol dari sistem pendidikan seni musik yang P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 holistik, kontekstual, dan berkelanjutan. Sebagai bagian integral dari ritual Pangucapan Syukur, maengket bukan sekadar bentuk kesenian, tetapi juga merupakan manifestasi dari sistem nilai masyarakat agraris Minahasa yang telah berkembang secara konsisten selama lebih dari tujuh abad, sejak masa prakolonial hingga era modern. Dalam elemen musikal, spiritual, sosial, dan edukatif dalam satu kesatuan performatif yang organik. Studi-studi terdahulu mengenai pendidikan musik etnis, seperti yang dikemukakan oleh Nettl . , lebih banyak menekankan pada aspek konservasi teknik musikalAi misalnya dalam bentuk dokumentasi dan rekonstruksi notasiAinamun belum menyentuh secara mendalam dimensi pedagogis yang terkandung dalam praktik budaya seperti maengket. Padahal, mengajarkan struktur ritmis dan melodi, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kesetaraan gender, hubungan manusia dengan alam, serta keselarasan hidup spiritual dan Lebih jauh lagi, maengket juga mencerminkan pendekatan pendidikan yang berbasis komunitas, sebagaimana tergambarkan dalam sistem MapalusAi sebuah filosofi gotong royong khas Minahasa. Sistem ini menghadirkan pembelajaran intergenerasional yang tidak mengandalkan ruang kelas formal, melainkan ruang-ruang sosial seperti kebun, rumah ibadah, dan tempat upacara adat. Model ini belum kerangka world music pedagogy yang ditawarkan oleh Campbell . , yang meskipun telah membuka ruang untuk keragaman ekspresi musik dunia, masih UNESCO. Global Monitoring Report on Arts Education in Southeast Asia (UNESCO Publishing, 2. , 34Ae36. Bruno Nettl. The Study of Ethnomusicology: Thirty-Three Discussions (Urbana-Champaign: University of Illinois Press, 2. , 201Ae3. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 243 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf praktik sosial budaya sebagai ruang 3 Maengket tidak hanya menjadi kekayaan budaya lokal yang patut dilestarikan, tetapi juga menawarkan model pendidikan seni musik yang integratif dan reflektif. Ia memberikan dekontekstualisasi dalam pendidikan seni, menawarkan narasi alternatif terhadap dominasi Barat, dan membuka jalan bagi pengembangan kurikulum musik yang lebih inklusif, berakar pada nilai-nilai lokal, dan relevan dengan kebutuhan sosial-kultural masyarakat Indonesia masa kini. Secara menampilkan kompleksitas struktur yang tidak hanya menarik dari segi estetika, tetapi juga memiliki fungsi Tradisi ini tidak sekadar menyuguhkan alunan musik dan gerak dimensi teknis, emosional, dan simbolik ke dalam satu kesatuan performatif yang fungsional dalam pembelajaran lintas Penelitian Ethnomusicology Research Group Universitas Indonesia . mengungkap bahwa pola vokal responsorial dalam maengket, yang menggunakan sistem tangga nada pentatonik dengan interval khas 1-2-3-56, tidak hanya menghadirkan kesan musikal yang khas, tetapi juga menciptakan efek psikoakustik yang memperkuat keterikatan emosional antarpelaku dan antara pelaku dengan 4 Efek psikoakustik tersebut berperan besar dalam membentuk pengalaman musikal yang bersifat kolektif dan mendalam, sehingga musik maengket tidak hanya didengar tetapi juga dirasakan dan dihayati. Aspek ini P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 memperkuat teori Alan Merriam yang menyatakan bahwa musik berfungsi pemeliharaan struktur sosial. Namun, dalam konteks maengket, fungsi tersebut melampaui teori Merriam dengan menghadirkan bukti empiris tentang bagaimana struktur musikal secara konkret digunakan sebagai medium transmisi nilai-nilai kultural, spiritual, dan sosial. Lebih jauh lagi, analisis terhadap 20 syair maengket menunjukkan bahwa sekitar 75% liriknya menggunakan metafora alam universal, seperti gunung, sungai, hujan, dan angin, yang kehidupan sosial Minahasa. Metafora ini komunikasi nilai yang sangat efektif, karena menyentuh kesadaran ekologis, moral, dan spiritual masyarakat. (Dinas Kebudayaan Sulut, 2. ,6 suatu pola yang kontras dengan temuan Maceda . tentang musik tradisional Filipina yang hanya mencapai 45% penggunaan metafora alam. Perbedaan signifikan ini dalam pendekatan pendidikan nilai melalui musik di Minahasa. Dalam formal, adaptasi maengket oleh Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sejak 2015 menawarkan contoh nyata integrasi yang berhasil antara tradisi musikal lokal dengan sistem pendidikan modern. Kurikulum Sekolah Minggu GMIM secara inovatif memadukan 45% repertoar tradisional dengan teks Mazmur dalam struktur melodik Patricia S. Campbell. Musician and Teacher: An Orientation to Music Education (New York: W. Norton & Company, 2. , 103Ae7. Ethnomusicology Research Group Universitas Indonesia. AuAnalisis Struktur Vokal Responsorial Maengket Dalam Konteks PedagogisAy (Laporan penelitian tidak diterbitkan, 2. , 3Ae5. Alan P. Merriam. The Anthropology of Music, (Illinois: Northwestern University Press, 1. , 145-15-. Dinas Kebudayaan Sulawesi Utara. Laporan Dokumentasi Syair Maengket Dalam Ritual Pangucapan Syukur (Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, 2. , 8Ae9. Jose Maceda. Gongs and Bamboo: A Panorama of Philippine Music Instruments (Quezon City: University of the Philippines Press, 1. , 112Ae14. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 244 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf pentatonik (Dokumen Sinode GMIM, 2. ,8 suatu bentuk adaptasi yang belum tercatat dalam studi-studi serupa tentang musik Kristen di Asia Tenggara (Yampolsky. Evaluasi menunjukkan hasil yang signifikan: peningkatan 87% apresiasi budaya lokal, 92% penguatan identitas kristiani, dan 78% toleransi antaragama (UGM, 10 Data empiris ini mendukung hipotesis penelitian bahwa model pendidikan seni musik berbasis tradisi lokal memiliki dampak multifaset yang melebihi pencapaian pendidikan musik Pada tingkat mikro, proses pembelajaran maengket mengintegrasika n tiga dimensi utama yang membentuk kerangka teoritis baru dalam pendidikan seni: teknis-musikal . elatihan interval nada dan pola ritmi. , sosio-kultural . embelajaran nilai kolektivitas melalui sistem Mapalu. , . enanaman konsep Tou Minahasa tentang keselarasan manusiaalam-Tuha. Sistem evaluasinya yang unik, berbasis pada penguasaan teknik menawarkan alternatif terhadap model penilaian pendidikan musik Barat yang dikritik Elliott . 11 sebagai terlalu Temuan kelompok maengket yang mempertahankan sistem mentor-murid non-formal pengetahuan 89% setelah lima tahun (UGM, 2. , angka yang jauh Sinode GMIM. Panduan Kurikulum Musik Sekolah Minggu GMIM (Tomohon: Gereja Masehi Injili di Minahasa, 2. , 15Ae17. Yampolsky. AuMusic of Indonesia and the Philippines,Ay Garland Encyclopedia of World Music Vol. 4, 2021, 911Ae35. Universitas Gadjah Mada. Evaluasi Dampak Kurikulum Maengket Dalam Pendidikan Formal (Laporan penelitian kolaboratif, 2. , 22Ae25. David J. Elliott. Music Matters: A New Philosophy of Music Education (New York: Oxford University Press, 1. , 62Ae65. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 melampaui temuan Lundquist . 12 tentang program pendidikan musik berbasis kelas di Amerika Serikat yang hanya mencapai 65%. Dalam konteks Moderasi Beragama sebagai Proyek Kultural, maengket berperan sebagai medium yang memperkuat harmoni sosial di Minahasa. Praktik maengket dalam ritual Pangucapan Syukur tidak hanya melibatkan umat Kristen, tetapi juga mendapat apresiasi dari komunitas Muslim Hindu menciptakan ruang dialog antaragama yang alami. Penelitian Lembaga Studi Agama Kebudayaan . mencatat maengket di desa Kakaskasen berhasil menjadi perekat sosial pasca-konflik keagamaan tahun 2019, dengan tingkat partisipasi lintas iman mencapai 82%. Temuan kebijakan Moderasi Beragama Kementerian Agama pentingnya kearifan lokal sebagai basis penguatan toleransi. Dalam konteks teoritis yang lebih luas, maengket memberikan solusi pendidikan seni musik kontemporer Schippers, yaitu. fragmentasi pembelajaran, dan ancaman terhadap sistem transmisi tradisional. Penelitian selama enam bulan di sepuluh desa Minahasa mengungkap bahwa mempraktikkan maengket menunjukkan tingkat kohesivitas sosial 73% lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Temuan ini tidak hanya mendukung teori "cultural sustainability" dalam Barbara R. Lundquist. Music. Culture, and Education in the Multicultural World (World musics in education, 2. , 23Ae Huib Schippers. Facing the Music: Shaping Music Education from a Global Perspective (New York: Oxford University Press Oxford, 2. , 55Ae58. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 245 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf memperkenalkan perspektif baru tentang bagaimana tradisi musikal lokal dapat berfungsi sebagai sistem pendidikan komprehensif di era modern. Artikel untuk: . menganalisis struktur musikal maengket sebagai sistem pendidikan nilai melalui pendekatan etnomusikologi pendidikan, . mengkaji adaptasinya dalam pendidikan formal teori "cultural dan . mengevaluasi membangun harmoni Moderasi Beragama melalui analisis Dengan memadukan metode penelitian kualitatif dan analisis musikal, studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan model pendidikan seni yang berkelanjutan secara kultural, sekaligus menawarkan perspektif segar dalam diskusi global tentang revitalisasi tradisi musikal sebagai instrumen perdamaian dan kerukunan umat METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi analisis multisumber yang terintegrasi penelitian, yaitu menganalisis struktur musikal maengket sebagai sistem pendidikan nilai . ujuan pertam. , mengkaji proses adaptasi maengket dalam pendidikan formal . ujuan kedu. , serta mengevaluasi kontribusi maengket terhadap harmoni sosial . ujuan ketig. Seluruh proses analisis dilakukan secara siklikal melalui tiga tahap: . dekonstruksi elemen-elemen musikal dan kultural, . rekonstruksi dalam konteks pendidikan modern, dan . validasi melalui triangulasi data dokumen primer, sekunder, dan catatan Metode ini dirancang khusus "pendidikan seni terintegrasi" sebagai kebaruan teoretis, sekaligus menjawab tantangan dekontekstualisasi dalam P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 pendidikan musik. Dengan pendekatan holistik ini, penelitian tidak hanya mengisi kesenjangan antara teori pendidikan musik global dengan praktik lokal, tetapi juga menawarkan model operasional yang dapat diadaptasi dalam berbagai konteks kultural. HASIL Moderasi beragama sebagai proyek kultural menemukan pijakan yang kuat dalam konteks kebudayaan Indonesia yang kaya dan majemuk. Pendekatan ini tidak hanya berlandaskan pada narasi teologis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan emosional masyarakat melalui seni dan tradisi Pembahasan ini menunjukkan bahwa seni musik, tarian, dan tradisi lisan bukan hanya produk budaya, tetapi merupakan instrumen strategis dalam menyemai dan memperkuat nilai-nilai toleransi, kebersamaan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Tarian Maengket dan tradisi "Pangucapan Syukur" di Minahasa tampil sebagai model ideal penerapan moderasi beragama berbasis kearifan Struktur musikal dan lirik dalam kedua tradisi ini memuat nilai-nilai universal seperti harmoni, penghormatan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial. Praktik lintas agama dalam "Pangucapan Syukur", seperti kolaborasi musik antara kelompok Kristen. Muslim, dan Tionghoa, serta makanan lintas budaya, memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi integrasi seni dalam strategi moderasi beragama mampu menciptakan ruang dialog alami, meningkatkan indeks kerukunan, dan memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter masyarakat yang Salah satu kekuatan utama dari kemampuannya menjangkau emosi dan identitas kolektif, di mana pesan-pesan moderasi tidak disampaikan secara Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 246 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf normatif atau doktrinal, melainkan melalui narasi budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Tradisi lisan, seperti cerita rakyat dan syair tradisional, terbukti mengandung narasi-narasi toleransi yang telah lama diwariskan antar generasi dan menjadi bagian dari proses pendidikan sosial yang efektif. Dengan asumsikan bahwa moderasi beragama bukanlah konsep yang eksklusif milik lembaga keagamaan atau negara, tetapi merupakan proyek kolektif yang dapat ditopang dan dikembangkan melalui pendekatan kultural. Seni, dalam berbagai bentuknya, adalah medium yang paling efektif dalam menjangkau lapisan masyarakat secara luas. Ketika keberagaman dan alat pemersatu, maka ia dapat berperan sebagai jembatan Dalam konteks Indonesia, sinergi antara seni, kearifan lokal, dan teknologi menjadi kunci strategis dalam membangun masa depan moderasi beragama yang berkelanjutan. PEMBAHASAN Moderasi Beragama sebagai Proyek Kultural Moderasi beragama merupakan keseimbangan . , keadilan . , dan penghindaran sikap ekstrem dalam praktik beragama. Konsep ini berakar pada pemahaman bahwa keberagaman keyakinan di Indonesia memerlukan pengelolaan yang bijak agar tidak menimbulkan konflik Menurut Kementerian Agama RI mendefinisikan moderasi beragama sebagai "sikap dan praktik beragama menyeimbangkan antara hak individu dan kepentingan publik"14. Kementerian Agama RI. AuModerasi BeragamaAy (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag, 2. , 19. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Pancasila, sebagai dasar negara, juga sila "Ketuhanan Yang Maha Esa" yang menjamin kebebasan beragama tanpa pemaksaan (UUD 1945 Pasal . Dalam konteks kebangsaan, moderasi beragama berfungsi sebagai "proyek kultural" . ultural mengedepankan dialog antaragama, penghormatan terhadap perbedaan, dan penolakan terhadap kekerasan berbasis agama (Berger, 2. 15 Tantangan utamanya adalah mengatasi "egoisme agama"Aiseperti Soekarno dalam Pidato 1 Juni 1945Ai yang dapat memicu intoleransi dan Seni . elalui musik, tari, dan tradisi lisa. memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama karena sifatnya yang inklusif. Clifford Geertz menyatakan bahwa "seni adalah bahasa universal Dalam konteks Indonesia, beberapa contoh nyata peran seni dalam moderasi beragama antara lain: Pertama Musik Tradisional Alat Pemersatu. Musik tradisional seperti Kolintang (Minahas. Gamelan (Jaw. Gondang (Bata. sering digunakan dalam ritual keagamaan dan acara lintas iman. Misalnya, dalam tradisi "Pangucapan Syukur" di Minahasa, musik kolintang mengiringi nyanyian syukur yang melibatkan umat Kristen. Muslim, dan penganut kepercayaan local. 18 Lirikliriknya sering mengandung pesan perdamaian, seperti "Si Tou Timou Peter L. Berger. The Many Altars of Modernity: Toward a Paradigm for Religion in a Pluralist Age (Boston: De Gruyter, 2. , 56. Yudi Latif. Negara Paripurna: Historisitas. Rasionalitas. Dan Aktualitas Pancasila. (Jakarta: Gramedia, 2. , 102. Geertz. The Interpretation of Cultures Basic Books. (New York. , 1. , 145. Jessy Wenas. Sejarah Dan Kebudayaan Minahasa (Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, 2. , 34. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 247 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Tumou Tou" . anusia hidup untuk memanusiakan manusi. , yang sejalan dengan prinsip moderasi beragama. Kedua Tarian dan Simbol Harmoni Sosial. Tarian Maengket dari Sulawesi Utara harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Tarian ini terdiri dari tiga bagian: Maowey Kamberu . yukur pane. Marambak . yukur rumah bar. , dan Lalayaan . ergaulan muda-mud. Jessy Wenas bahwa "Maengket bukan sekadar tarian, melainkan sebuah filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan". Dalam konteks moderasi beragama, tarian ini menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak harus memecah belah, melainkan dapat disatukan dalam kerangka budaya. Ketiga Tradisi Lisan dan Cerita Rakyat. Cerita-cerita rakyat seperti "Lagenda Toar-Lumimuut" (Minahas. sering mengandung pesan toleransi. Misalnya, dalam Hikayat Panji, tokoh Panji dan Sekartaji digambarkan mampu hidup rukun meski berasal dari kerajaan 19 Kisah semacam ini dapat menanamkan nilai-nilai moderasi sejak Oleh diasumsukan bahwa Moderasi beragama tidak hanya perlu dikembangkan melalui melalui strategi kebudayaan, di mana seni . usik, tari, dan tradisi lisa. berperan sebagai medium efektif untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi. Indonesia memiliki kekayaan seni yang dijadikan "soft power" untuk memperkuat kohesi sosial di tengah Dengan memanfaatkan seni sebagai alat diplomasi kebudayaan, nilai-nilai moderasi beragama dapat lebih mudah diinternalisasi oleh P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Nilai Harmoni dalam Tarian Maengket. Musik Tradisional, dan Tradisi "Pangucapan Syukur Dalam Minahasa. Sulawesi Utara, terdapat kekayaan tradisi yang tidak hanya menjadi simbol identitas kultural, tetapi juga memainkan peran krusial sebagai perekat kehidupan sosial dan spiritual masyarakatnya. Dua di antara warisan budaya yang paling menonjol adalah Tarian Maengket dan tradisi "Pangucapan Syukur", yang telah diwariskan lintas generasi dan terus komunitas Minahasa. Kedua ekspresi budaya ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan refleksi dari filosofi hidup masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, toleransi, dan harmoni di tengah keberagaman etnis dan agama. Tarian Maengket, misalnya, tidak hanya menghadirkan unsur gerak dan musik tradisional, tetapi juga menyisipkan narasi kolektif yang sarat makna simbolis. Dengan struktur tiga bagian (Maowey Kamberu. Marambak, dan Lalayaa. tarian ini mencerminkan siklus kehidupan manusia dari rasa syukur atas hasil panen hingga semangat sosial muda-mudi dalam membangun komunitas yang harmonis. Setiap bagian diperkaya dengan syair berbahasa daerah yang penuh pesan moral, dan diiringi oleh alat musik tradisional seperti kolintang dan tambur yang menguatkan aspek emosional penonton maupun 20 Melalui analisis mendalam terhadap unsur-unsur musik tradisional, syair-syair berbahasa lokal, struktur tari, serta praktik sosial yang mengiringinya, kita dapat melihat bahwa Maengket dan Pangucapan Syukur bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana pendidikan nilai yang berfungsi sebagai Dalam konteks yang lebih luas, keduanya dapat dimaknai sebagai manifestasi moderasi beragama yang hidupAibukan dalam bentuk doktrin Robson. Javanese Literature in Surakarta Manuscripts (New York: Cornell University Press, 2. , 78. Jessy Wenas. Sejarah Dan Kebudayaan Minahasa, 45Ae52. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 248 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf normatif, tetapi melalui narasi budaya yang bersifat emosional, inklusif, dan Tarian Maengket merupakan mahakarya budaya yang memadukan secara harmonis tiga unsur utama: gerak, musik, dan syair. Musik pengiringnya yang dimainkan dengan alat tradisional seperti kolintang, tambur, dan suling bambu menciptakan melodi yang khas dan sarat makna. Kolintang dengan nada-nada pentatonisnya menghasilkan suara yang khas, sementara tambur memberikan dasar ritmis yang kuat. Yang menarik adalah bagaimana pola melodinya yang berulang . ini tidak hanya indah didengar, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat Minahasa tentang keteraturan dan Struktur tarian Maengket yang terbagi dalam tiga bagian Maowey Kamberu. Marambak, dan Lalayaan bukan hanya menyajikan keindahan gerak dan musikalitas, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang perjalanan hidup manusia. Maowey Kamberu, dengan ritme lambat dan syair penuh syukur, melambangkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas hasil panen dan berkat kehidupan. Tahap ini merefleksikan fase awal kehidupan manusia yang sarat dengan spiritualitas dan keterhubungan dengan alam serta Sang Pencipta. Marambak, yang hadir dengan ritme sedang, merepresentasikan fase pembangunan dan penguatan relasi sosial, seperti saat seseorang mendirikan rumah dan mulai membentuk keluarga. Dalam tahap ini, terlihat adanya proses peralihan dari kehidupan spiritual menuju tanggung jawab sosial, yang ditandai dengan keterlibatan dalam Sementara itu. Lalayaan tampil sebagai bagian paling dinamis, dengan ritme cepat dan gerakan penuh RI. AuModerasi Beragama,Ay 89Ae92. Manoppo. Musik Kolintang: Dari Ritual Ke Identitas Budaya, (Jakarta: Gramedia, 2. , 112. Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa, ( (Jakarta: balai Pustaka, 1. , 200. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Ia menggambarkan keceriaan, kebebasan, dan semangat hidup generasi membangun relasi sosial yang sehat. Bagian ini mencerminkan dimensi sosial kehidupan yang diwarnai dengan interaksi lintas kelompok, semangat gotong royong, serta kebersamaan yang Perubahan tempo yang terjadi dari lambat ke cepat dalam tiga bagian ini bukan sekadar variasi artistik-musikal, melainkan simbol dari dinamika kehidupan manusia dimulai dari kontemplasi dan kesakralan religius, bergerak menuju kemapanan sosial, dan berakhir pada perayaan kegembiraan Lebih jauh, struktur berlapis ini juga mengajarkan pentingnya sosialitas, dan ekspresi emosional, yang semuanya merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat Minahasa. Dengan demikian, tarian Maengket tidak hanya menjadi pertunjukan estetika, tetapi juga sebuah media refleksi hidup nilai-nilai kebudayaan dan moderasi sosial secara turun-temurun. Ketika dalam konteks masyarakat multikultural, struktur tarian ini mampu menjadi jembatan nilai yang mempertemukan perbedaan, memperkuat toleransi, serta menumbuhkan kesadaran kolektif akan 24 Dalam konteks moderasi beragama, struktur ini mengajarkan pentingnya menyeimbangkan antara dimensi spiritual dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kedalaman Maengket semakin terasa ketika kita menyimak syair-syair tradisional yang mengiringi setiap gerakannya. Salah satu syair yang paling dikenal adalah "Si Tou Timou Tumou Tou", yang berarti "manusia hidup untuk memanusiakan Schwarz. Tradisi Lisan Masyarakat Minahasa (Leiden: KITLV Press, 1. , 45. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 249 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan merupakan refleksi mendalam dari filosofi hidup masyarakat Minahasa kemanusiaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap sesama. Syairsyair seperti ini tidak hanya dinyanyikan sebagai pengiring tarian, tetapi juga ditanamkan sejak dini sebagai nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. 25 Lebih dari itu, narasi-narasi mitologis yang sering muncul dalam pengantar atau jeda tarian, seperti kisah tentang dewa Kumaimboto yang gagal menjaga menjadi cerminan penting tentang konsekuensi dari hilangnya toleransi dan kerukunan dalam kehidupan sosial. Pesan moral yang disampaikan melalui cerita ini bukan sekadar mitos, tetapi berfungsi sebagai sarana edukasi nilainilai etis dan spiritual. Dalam konteks kontemporer, kisah ini dapat dimaknai sebagai peringatan terhadap bahaya eksklusivisme beragama yang dapat merusak tatanan masyarakat majemuk. Dengan demikian, tarian Maengket tidak hanya memainkan fungsi estetika dan hiburan, tetapi juga menjadi alat strategis untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang harmonis. Dalam setiap hentakan langkah dan lantunan syairnya, terkandung pesan moral dan spiritual yang membentuk kesadaran kolektif Minahasa pentingnya hidup dalam keseimbangan, toleransi, dan persaudaraan. Peran ini semakin kuat ketika Maengket dipentaskan dalam konteks tradisi "Pangucapan Syukur", sebuah ritual budaya tahunan yang menjadi masyarakat kepada Tuhan atas panen, kesehatan, dan keberlangsungan hidup. Watuseke. Mengenal Bahasa Dan Sastra Daerah Minahasa (Jakarta: Djambatan, 1. , 45. Yudi Latif. Negara Paripurna: Historisitas. Rasionalitas. Dan Aktualitas Pancasila. , 102. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Dalam perayaan ini. Maengket tampil bukan semata sebagai pertunjukan seni, tetapi sebagai ekspresi spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Gerakan lambat pada Maowey Kamberu, yang mencerminkan ketundukan dan rasa hormat terhadap anugerah Ilahi. Sementara bagian Marambak dan Lalayaan menjadi wujud kegembiraan antaranggota masyarakat dari berbagai Tradisi "Pangucapan Syukur" mengembangkan nilai-nilai harmoni ini dalam lingkup yang lebih luas dan inklusif. Bermula dari ritual panen padi tradisional, tradisi ini telah berevolusi menjadi perayaan lintas agama yang mempersatukan berbagai elemen masyarakat modern. Tanasaldy mencatat bahwa proses transformasi ini sendiri merupakan bukti nyata dari kemampuan adaptasi budaya lokal dalam merespons perubahan zaman tanpa kehilangan esensi nilainilai dasarnya. Pengucapan Syukur berfungsi sebagai ruang inklusif di mana komunitas Kristen. Muslim. Hindu, dan penganut kepercayaan lokal turut hadir, berbaur, dan saling menghormati. Dalam suasana penuh kekeluargaan itu. Maengket menjadi jembatan antariman yang menghidupkan nilai-nilai moderasi beragama secara alami. Syair-syair yang dibawakan dalam bahasa daerah dan Melayu-Manado menyampaikan pesan universal seperti AuTorang samua basudaraAy (Kita semua bersaudar. , yang memperkuat identitas kolektif masyarakat yang majemuk. Puncak acara yang melibatkan jamuan makan bersama menunjukkan tingkat toleransi dan penghormatan yang tinggi terhadap perbedaan. Penyediaan makanan halal untuk tamu Muslim, atau hidangan khusus untuk tamu dari Tanasaldy. Regime Change and Ethnic Politics in Indonesia: North Sulawesi 1998-2008 (Singapore: NUS Press, 2. , 156. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 250 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf berbagai latar belakang, bukan sekadar implementasi nyata dari nilai-nilai 28 Praktik semacam ini sejalan dengan konsep moderasi beragama yang menekankan pada Dengan demikian. Maengket dalam bingkai "Pangucapan Syukur" bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga manifestasi nilai spiritual, sosial, dan religius yang hidup berdampingan secara Dalam dunia yang semakin rentan terhadap konflik identitas dan agama, tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya lokal mampu menjadi benteng peradaban, membentuk karakter masyarakat yang inklusif, berkeadaban, dan berorientasi pada Dalam perspektif antropologis, tradisi-tradisi semacam ini berfungsi sebagai "cultural soft power" yang efektif dalam mempromosikan toleransi. Berbeda dengan pendekatan formal pendekatan kultural melalui seni dan tradisi semacam ini mampu menyentuh emosi dan membangun kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan secara Kekuatan pendekatan ini terletak menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terasa menggurui. Di tengah tantangan modern perbedaan, tradisi seperti Maengket dan Pangucapan Syukur mengingatkan kita akan pentingnya menjaga harmoni sosial dan spiritual. Kedua tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun model moderasi beragama yang berbasis pada kearifan lokal. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, penguatan terhadap tradisi-tradisi semacam ini bisa menjadi P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 strategi kebudayaan yang efektif untuk memperkuat persatuan bangsa. Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Seni dan Kearifan Lokal Dalam Indonesia yang majemuk, di mana keragaman agama, budaya, dan etnis menjadi ciri utama kehidupan sosial, pendekatan berbasis seni dan kearifan lokal menawarkan strategi yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan untuk Pendekatan ini tidak hanya relevan secara teoritis, tetapi juga terbukti berhasil dalam berbagai praktik sosial dan kebudayaan di tingkat akar rumput. Seni, dalam berbagai bentuknya . aik musik tradisional, tari, seni rupa, maupun sastra lisa. memiliki kapasitas luar biasa untuk menjadi jembatan komunikasi lintas identitas, karena ia beroperasi dalam wilayah rasa, estetika, melampaui sekat-sekat agama dan Penelitian terbaru oleh Kementerian Agama RI yang diterbitkan dalam buku Moderasi Beragama: Strategi Kebudayaan menunjukkan bahwa pendekatan kultural melalui seni memiliki daya jangkau yang jauh lebih pendekatan formal yang sering kali terbatas pada aspek normatif dan Seni mampu menyentuh masyarakat secara lebih langsung dan personal, menciptakan ruang dialog yang alami, tidak menggurui, dan mudah diterima oleh berbagai kelompok, termasuk mereka yang selama ini berada di luar jangkauan pendekatan formal Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Nasruddin dari UIN Jakarta yang menekankan bahwa seni tradisional di berbagai daerah IndonesiaAiseperti Tanasaldy, 178. Clifford Geertz. The Interpretation of Cultures (New York: Basic Books, 1. , 176. Yudi Latif. Negara Paripurna: Historisitas. Rasionalitas. Dan Aktualitas Pancasila. , 210. RI. AuModerasi Beragama,Ay 45Ae48. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 251 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Jawa. Minangkabau, maengket di Minahasa, dan cakalele di MalukuAitelah lama menjadi medium pewarisan nilai-nilai penghargaan terhadap perbedaan. Nilainilai ini tidak disampaikan secara dogmatis, melainkan tersirat dalam cerita, simbol, gerakan, dan irama yang Keberlangsungan tradisional ini selama berabad-abad membuktikan bahwa ia memiliki ketahanan kultural yang kuat dan daya transformasi yang tinggi, menjadikannya sebagai "cultural reservoir" yang sangat potensial untuk penguatan moderasi seni dan kearifan lokal bukan sekadar pelengkap dalam strategi moderasi beragama, melainkan fondasi utama yang harus diintegrasikan secara sistematis dalam kebijakan publik, kurikulum pendidikan, dan program pembangunan masyarakat. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan ancaman intoleransi, pendekatan kultural melalui seni menjadi harapan sekaligus solusi konkret untuk memperkuat kohesi sosial dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang benar-benar Bhinneka Tunggal Ika dalam praksis kehidupan Integrasi antara seni musik, tradisi lisan, dan praktik keagamaan dalam strategi moderasi beragama bukan hanya merupakan pendekatan inovatif, tetapi juga telah terbukti efektif dalam menciptakan ruang interaksi sosial yang harmonis dan berkelanjutan. Hasil penelitian lapangan yang dilakukan oleh Tim Peneliti Puslitbang Bimas Agama di Sulawesi Utara memberikan bukti konkret bahwa praktik budaya lokal, khususnya melalui tradisi Pangucapan Syukur, mampu menjadi wahana dialog lintas iman yang alami dan tidak bersifat instruktif atau memaksa. Dalam acara Nasruddin. Seni Tradisional Sebagai Media Toleransi (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2. , 112. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 tersebut, kolaborasi musikal antara kelompok Kristen. Muslim, dan penganut kepercayaan lokal berlangsung pertunjukan, tetapi sebagai perwujudan nilai-nilai Irama kolintang, rebana, suling bambu, dan nyanyian syukur menyatu dalam harmoni yang tidak hanya menciptakan suasana meriah, tetapi juga memperlihatkan bahwa penghalang untuk bekerja sama dalam semangat budaya yang sama. Temuan serupa diperkuat oleh laporan Sujadi dkk. dalam Jurnal Antropologi Sosial, yang meneliti peran seni musik sebagai medium rekonsiliasi di daerah-daerah rawan konflik, seperti Poso. Ambon, dan sebagian wilayah Papua. Dalam konteks pasca-konflik, seni terbukti memiliki daya pulih sosial . ocial healin. yang tinggi. Musik tradisional digunakan sebagai bahasa netral yang menjembatani luka kolektif dan prasangka historis antar komunitas yang pernah berseberangan. Proses rekonsiliasi melalui seni tidak dilakukan dengan pendekatan formal yang pertunjukan budaya bersama, lokakarya kreatif, dan penciptaan karya kolaboratif yang melibatkan pemuda lintas agama. Dengan demikian, seni berfungsi ganda sebagai terapi sosial sekaligus sarana pendidikan damai yang efektif dan Implementasi model ini dalam skala yang lebih luas telah diuji coba Kementerian Pendidikan Kebudayaan sebagaimana dilaporkan dalam evaluasi program oleh Direktorat Kebudayaan. Data menunjukkan bahwa daerah-daerah Kementerian Komunikasi dan Informatika. Digitalisasi Kearifan Lokal Untuk Moderasi Beragama (Jakarta: Kominfo, 2. , 78Ae82. Dkk. Sujadi. AuPeran Seni Musik Dalam Rekonsiliasi Sosial,Ay Jurnal Antropologi Sosial, 2023, 56. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 252 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf yang menerapkan pendekatan seni dan kearifan lokal dalam program moderasi indeks kerukunan sebesar 25% dalam waktu dua tahun. Tantangan beragama berbasis seni dan kearifan lokal di era digital menjadi perhatian penting dalam kajian terbaru yang dilakukan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi. Penelitian mengungkapkan bahwa generasi muda, yang tumbuh dan hidup dalam respons yang jauh lebih positif terhadap pesan-pesan disampaikan melalui media dan platform digital yang familiar bagi merekaAi seperti YouTube. Instagram, dan Namun, penyampaian pesan tersebut sangat bergantung pada kreativitas dalam Konten memadukan narasi toleransi dengan elemen seni tradisional seperti musik etnik, tarian daerah, visual budaya lokal, dan cerita rakyat terbukti lebih mampu menarik perhatian sekaligus menyentuh sisi emosional audiens muda dibanding pendekatan formal atau ceramah Dengan transformasi digital bukanlah ancaman bagi pelestarian budaya dan penyebaran nilai moderasi beragama, melainkan peluang besar untuk memperluas masyarakat yang lebih luas dan generasi yang lebih muda. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara substansi nilai dan bentuk penyajiannya, agar seni dan teknologi dapat berjalan beriringan Indonesia yang harmonis, toleran, dan Direktorat Kebudayaan. Evaluasi Program Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Budaya (Jakarta: Kemdikbud, 2. , 88Ae92. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat. Praktik Keagamaan Inklusif Di Indonesia (Jakarta: PPIM, 2. , 77. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Penguatan moderasi beragama berbasis seni dan kearifan lokal terbukti efektif dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Berbagai pendekatan kultural melalui seni tradisional, musik, dan tradisi lisan mampu menjangkau aspek emosional masyarakat, mempromosikan toleransi, dan memperkuat kerukunan antarumat Implementasi model ini telah memberikan hasil positif, seperti peningkatan indeks kerukunan sebesar 25% dalam dua tahun di daerah-daerah yang menerapkannya. Namun, di era pendekatan ini tetap relevan, khususnya dengan memanfaatkan platform digital untuk menjangkau generasi muda. Dengan demikian, integrasi seni, kearifan lokal, dan teknologi dapat menjadi strategi berkelanjutan dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. KESIMPULAN Tradisi Maengket Pangucapan Syukur di Minahasa tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi pendidikan seni musik yang holistik dan sebagai medium penguatan moderasi Melalui penelitian ini menemukan bahwa struktur musikal Maengketdengan pola performansi kolektif memiliki nilai mentransmisikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan teknikal secara simultan. Praktik Maengket dalam konteks lintas agama di Minahasa memberikan bukti nyata bahwa seni dapat berperan sebagai alat diplomasi budaya dan Kolaborasi musikal antarumat beragama dalam tradisi "Pangucapan Syukur" telah menciptakan ruang dialog yang alami, memperkuat kohesi sosial, dan menjadi model strategis dalam implementasi Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 253 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf kebijakan Moderasi Beragama. Dengan demikian. Maengket tidak hanya relevan dalam pelestarian budaya, tetapi juga berkontribusi secara pendidikan seni yang berkelanjutan dan penguatan moderasi beragama di Indonesia. Untuk menjawab tantangan zaman, khususnya di era digital, dibutuhkan upaya strategis untuk mendigitalisasi dan mempopulerkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tradisional agar dapat menjangkau dampaknya di tingkat nasional maupun DAFTAR PUSTAKA Alan P. Merriam. The Anthropology of Music,. Illinois: Northwestern University Press, 1964. Bruno Nettl. The Study of Ethnomusicology: Thirty-Three Discussions.