EKSPLORASI PERAN GANDA PEREMPUAN PERSPEKTIF FEMININE MYSTIQUE TERHADAP KARAKTER MAK GABE PADA CERPEN KONSER BORU NARITIK Ridho Sastro Panjaitan Universitas Negeri Medan e-mail: ridhosastro05@gmail. Cristin Ameria Universitas Negeri Medan e-mail: saragicristina@gmail. Wijar Pakpahan Universitas Negeri Medan e-mail: wijarpakpahan142@gmail. Kusmariati Kusmariati Universitas Negeri Medan e-mail: kusmariati19@gmail. Gabriel Ferdiansah Sitohang Universitas Negeri Medan e-mail: gabrieltohang02@gmail. Hisar Andika Syah Putra BateAoe Universitas Negeri Medan e-mail: hisarbaik@gmail. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi peran ganda dan identitas gender wanita dari perspektif feminine mystique, dengan perhatian khusus pada tokoh Mak Gabe dalam cerpen Konser Boru Naritik karya dari Yessy Sinubulan. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan metodologi analisis teks sastra, penelitian ini mengungkap kompleksitas peran gender wanita dalam sistem patriarki. Pada dasarnya, banyak orang sepakat bahwa terdapat perbedaan antara wanita dan pria. Namun, gender bukan hanya soal jenis kelamin pria dan wanita yang diberikan oleh Tuhan. Gender lebih menekankan pada perbedaan peran dan fungsi yang ada serta yang dibentuk oleh masyarakat. Dalam realitas sehari-hari, telah muncul perbedaan dalam peran sosial antara pria dan wanita yang mengakibatkan perbedaan status sosial dalam masyarakat, di mana pria lebih diutamakan dibanding wanita melalui konstruksi sosial. Kata kunci: feminine mystique, gender, peran ganda 305 | P a g e PENDAHULUAN Murtiana . mengemukakan bahwa peran ganda gender tradisional yang sering diambil oleh wanita di masyarakat adalah sebagai pengurus rumah tangga. Mereka umumnya menanggung beban pekerjaan rumah yang lebih berat dibandingkan pria. Namun, munculnya berbagai gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan gender, perempuan kini memiliki kesempatan yang lebih luas di luar urusan domestik. Gender sendiri adalah konsep budaya yang merujuk pada atribut yang membedakan antara wanita dan pria, baik secara biologis, perilaku, mental, maupun sosial Sepanjang sejarah, konflik antara laki-laki menentukan keberadaan masing-masing tampaknya tidak akan pernah berakhir. Kedua belah pihak terus berusaha untuk menguasai satu sama lain. Dalam sejarah umat manusia, perempuan seringkali ditempatkan sebagai pihak minor dan dianggap negatif oleh struktur budaya, politik, dan peradaban yang ada. Hanya sedikit komunitas di berbagai belahan dunia yang menyediakan ruang yang cukup bagi perempuan. Dominasi laki-laki atas perempuan adalah kenyataan yang hadir di Fakta ini sulit untuk dihindari selama budaya patriarki masih tetap ada. Sebagai contoh, dalam masyarakat praIslam, kehidupan perempuan sangat gelap dan menyedihkan. Mereka dipandang sebagai individu yang tidak bernilai, subordinat terhadap pria, dan keberadaan mereka sering kali dianggap sebagai Perempuan tidak memiliki kemandirian, hak-haknya sering kali ditekan dan dirampas, tubuhnya bisa diperjualbelikan atau diwariskan, dan posisinya ditempatkan pada pinggiran kehidupan (Mursalin, 2. Perempuan dan laki-laki masingmasing kehidupan sosial. Keduanya dapat menjalankan peran tersebut tanpa mengurangi hak-hak satu sama lain, karena kecerdasan dan pemikiran yang dimiliki keduanya menentukan nilai yang setara (Wahyudi, 2. Secara mendasar, gender adalah hal yang berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis adalah karakteristik yang ditentukan saat kelahiran kita, apakah kita dilahirkan sebagai laki-laki atau Oleh sebab itu, sangat penting untuk membedakan antara gender dan Seks merujuk pada pengelompokan manusia ke dalam dua kategori berdasarkan faktor biologis yang berkaitan dengan jenis kelamin tertentu. Sementara itu, gender mencakup sifat yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan, yang terbentuk melalui konstruksi sosial dan budaya (Fakih, 1. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa gender adalah sebuah konsep, desain, atau nilai yang berhubungan dengan sistem hubungan sosial yang membedakan peran serta fungsi perempuan dan laki-laki, yang didasari oleh perbedaan biologis atau Konsep ini kemudian distandarkan oleh masyarakat menjadi sebuah 'budaya' yang tampak tak terelakkan, di mana apa yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan telah dipertegas. Dengan kata lain, gender adalah nilai yang terbentuk oleh konteks sosial yang telah melekat dalam pikiran kita, sehingga seolah menjadi sesuatu yang mutlak dan sulit untuk diubah Gani. Oleh karena itu, kesetaraan gender adalah keadaan di mana perempuan dan laki-laki memiliki posisi, status, dan kondisi yang 306 | P a g e setara, memungkinkan hak-hak serta potensi mereka dapat diwujudkan sepenuhnya dalam pembangunan di semua aspek kehidupan, baik dalam konteks keluarga, kebangsaan, maupun Penelitian ini mendiskusikan tentang peran ganda perempuan dalam perspektif feminine mystque Friedan . , dalam karakter Mak Gabe pada cerpen Konser Boru Naritik. Dalam cerita pendek berjudul Konser Boru Naritik karya Yessy Sinubulan, diceritakan tentang kehidupan Mak Gabe, seorang istri yang setia, yang berjuang keras untuk menjaga kestabilan emosional dan kesehatan suaminya. Pak Gabe, yang telah menjalani dialisis selama bertahuntahun. Dalam usahanya. Mak Gabe menerapkan cara-cara yang unik, seperti memberi makanan, minuman, dan hadiah kepada perawat untuk mendapatkan layanan prioritas. Suaminya. Pak Gabe, terkenal karena sifatnya yang mudah marah, tetapi dia tetap memiliki daya tarik tertentu meskipun sedang sakit. Konflik mulai muncul saat Mak Gabe menyadari bahwa Boru Naritik, seorang penyanyi Batak terkenal di TikTok, akan mengadakan konser di halaman rumah sakit. Ini menjadi situasi yang ironis, karena tempat konser berada dekat dengan departemen kardiologi, yang bisa berisiko bagi pasien. Mengetahui bahwa Boru Naritik memiliki hubungan masa lalu dengan suaminya. Mak Gabe melihat konser itu sebagai kejutan yang menyenangkan bagi Pak Gabe (Sinubulan, 2. Peranan ganda adalah salah satu contoh ketidakadilan gender yang masih sering dialami oleh para istri. Keyakinan bahwa seorang wanita yang pandai mengelola rumah tangga tidak pantas mengakibatkan semua urusan domestik menjadi beban mereka, dan pada akhirnya dianggap sebagai tugas wanita (Azmi. Dalam konteks peran ganda wanita, sangat penting untuk menyadari bahwa meskipun mereka sering kali terjebak dalam pekerjaan rumah tangga, kemajuan zaman dan kesetaraan gender telah membuka lebih banyak peluang bagi wanita untuk terlibat dalam berbagai sektor kehidupan. Ketika membahas fakta nyata mengenai hubungan gender di Indonesia, sebagian besar masyarakat masih sepakat bahwa wanita tidak dapat dipisahkan dari peran serta kedudukan mereka di dalam keluarga (Wibowo, 2. LANDASAN TEORI Dalam buku Friedan . yang berjudul The Feminine Mystique Betty Friedan, terdapat beberapa gambaran tentang kondisi perempuan di masyarakat. Pertama adalah The Sub-urban Women, yang mencerminkan impian wanita muda Amerika untuk menikah, memiliki empat anak, dan tinggal di rumah yang nyaman di lingkungan pinggiran kota yang indah. Kedua, ada The American Women, yang sehat dan terdidik, namun hanya fokus pada suami, anak-anak, dan rumah tangga, merasa terbebaskan oleh kemajuan sains dan inovasi alat rumah tangga yang menghemat tenaga. Ketiga. The Educated Women, yang mendapati pendidikan mereka membawa mereka ke dalam dunia ide, merasa terjebak di dalam rutinitas rumah tangga yang bertolak belakang dengan cita-cita yang telah mereka bangun. Keempat. The Happy Women, yang berkuliah dan bekerja, tetapi menemukan bahwa peran sebagai ibu rumah tangga adalah yang paling memuaskan dan bermanfaat, setara dengan suami mereka. mereka bahkan dapat ikut serta dalam perjalanan bisnis dan kegiatan sosial Sayangnya, banyak dari mereka pernikahan mereka. 307 | P a g e Istilah dikenalkan oleh Hasanah, et al . Dari sudut pandang etimologis, kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. Namun, dalam terminologi, gender lebih dipahami sebagai sebuah konsep kultural yang berfungsi untuk membedakan peran, tingkah laku, cara berpikir, dan ciri emosional antara pria dan wanita yang berkembang di masyarakat. Meskipun istilah ini belum terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam prakteknya, gender selalu terkait dengan konteks budaya. Istilah ini lebih merujuk pada perbedaan status dan peran yang dibentuk oleh proses sosial dan budaya yang berlangsung dalam waktu yang lama. Konsep gender mencakup ciri-ciri yang dimiliki oleh pria dan wanita, yang terbentuk melalui berbagai faktor sosial dan budaya. Ini menghasilkan berbagai pandangan mengenai peran sosial dan budaya masing-masing gender Dalam masyarakat, konsep gender ini sering pembagian tugas berdasarkan jenis Sistem didasarkan pada pandangan dan keyakinan yang mengklasifikasikan pria sebagai maskulin dan wanita sebagai feminin. Gender adalah karakteristik yang melekat pada pria dan wanita, yang terbentuk lewat proses budaya yang terjadi dalam masyarakat. Istilah ini membedakan berbagai dimensi kehidupan sosial manusia berdasarkan seks. Dalam analisis sosial, gender menggambarkan sekumpulan sifat, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan tingkah laku yang dianggap khusus untuk setiap gender, sesuai dengan norma-norma budaya yang berlaku. Masyarakat membentuk pandangan dan tingkah laku yang berakar pada perbedaan jenis kelamin, termasuk penentuan ciri khas yang membedakan wanita dan pria. Keyakinan ini umumnya diturunkan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi di dalam keluarga, lingkungan sosial, lembaga pendidikan, dan institusi keagamaan (Marhumah, 2. Menurut Marmoah . gender adalah peran sosial yang terbentuk dalam konteks komunitas. Perbedaan peran gender ini dipengaruhi oleh berbagai elemen, termasuk ideologi, sejarah. Sementara itu, meskipun gender bisa berubah, jenis kelamin biologis umumnya tetap stabil. Isu terkait keberadaan wanita, baik di ranah domestik maupun publik, selalu relevan dan tidak pernah sirna. Terlebih di era emansipasi dan reformasi pasca Orde Baru, momen ini dianggap sebagai kesempatan yang tepat untuk mendorong perubahan di berbagai sektor, termasuk hubungan gender. Istilah ketimpangan gender kini menjadi frasa yang umum digunakan, seringkali merujuk pada kondisi di mana perempuan terpinggirkan, tertinggal, dan tersubordinasi (Fadilah. Ketidakadilan gender adalah suatu fenomena yang menciptakan struktur di mana baik laki-laki maupun perempuan menjadi korban sistem tersebut. Dalam konteks peran ganda perempuan sebagai ibu rumah tangga sekaligus wanita karir, hal ini dapat menimbulkan konflik dalam keluarga, mengakibatkan penelantaran terhadap tugas-tugas rumah tangga serta perhatian kepada anak-anak. Ketika salah satu peran dijalankan dengan baik, peran lainnya sering kali terabaikan, yang pada gilirannya menimbulkan konflik peran. Inilah perempuan untuk mencapai perubahan pandangan mengenai gender, karena pandangan ini telah dibangun oleh kelompok tertentu. Fokus penulisan ini adalah untuk mengeksplorasi posisi perempuan serta permasalahan ketidak adilan gender (Dewi, 2. 308 | P a g e Konsep peran ganda perempuan pada dasarnya berakar dari paradigma yang memisahkan secara tegas antara ruang domestik dan publik. Ide mengenai peran ganda perempuan umumnya berasal dari pandangan yang memisahkan dengan jelas antara lingkungan rumah dan Meskipun peran ganda ini awalnya bertujuan untuk memberdayakan perempuan, dalam praktiknya sering tantangan baru. Peran gender bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk generasi . ama dan mud. , usia . nak-anak dan dewas. , ras, agama, etnis, lingkungan geografis, pendidikan, serta kondisi sosial ekonomi (Farmia, 2. Karena itu, modifikasi dalam peran gender sering kali muncul sebagai respons terhadap transformasi dalam konteks sosial ekonomi, budaya, sumber daya alam, dan politik, termasuk perubahan pembangunan atau program penyesuaian struktural, serta pengaruh dari kekuatankekuatan di level nasional dan internasional (Harahap, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif (Sugiyono. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu Pendekatan teori feminine mystique Friedan, . penelitian ini sebagai landasan untuk menganalisis data dari cerpen. Data yang penulis teliti terdiri atas satuan verbal tertulis yang menggambarkan strategi tokoh Mak Gabe dalam mempertahankan rumah tangganya, seperti yang terdapat dalam cerpen Konser Boru Naritik karya Yessy Sinubulan (Sinubulan, 2. Proses pengumpulan data dilakukan melalui membaca, dan mengambil kalimat, paragraf yang berhungan dengan feminine Analisis data dilaksanakan melalui dua langkah utama: penyajian data, dan verifikasi data. Setelah data dianalisis, maka hasil analisis itu digunakan sebagai penemuan pada penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Mak Gabe sebagai Representasi Peran Perempuan Mak Gabe, sebagai tokoh utama dalam cerita ini, menjalankan peran sebagai istri, pengasuh, dan pengurus Tugas-tugasnya mencakup anak-anak, mempertahankan peran tradisional yang Ketergantungan ekonominya pada suami semakin memperkuat struktur patriarki yang ada. Meskipun begitu. Mak Gabe menunjukkan bentuk perlawanan yang subtil melalui strategi sogokan, yang mencerminkan resistensi perempuan terhadap sistem patriarki tersebut. Dengan memanfaatkan posisinya, ia berusaha mendapatkan perlakuan istimewa bagi keuntungan tanpa harus berkonfrontasi secara langsung dengan patriarki. Namun, di sisi lain, objektivasi yang dilakukan oleh Pak Gabe terhadap Mak Gabe memperlihatkan penindasan yang dialami perempuan dalam masyarakat Sebagai eksportir sayur dan buah. Pak Gabe memiliki kekuasaan ekonomi dan sosial yang semakin memperkuat struktur patriarki. Peran perempuan di dalam masyarakat ini masih terbatas pada fungsi sebagai pengasuh dan pengurus suami. Mak Gabe juga menjadi representasi dari perempuan yang mempertahankan peran tradisional yang Kekerasan verbal dan simbolik yang ditujukan kepada Mak Gabe, seperti kata309 | P a g e kata kasar dari Pak Gabe semakin menegaskan adanya penindasan yang Teori Mystique Feminine perempuan yang bersifat tidak langsung merupakan bentuk perjuangan melawan struktur patriarki. Dalam konteks ini, peran ganda Mak Gabe dapat dipahami sebagai strategi bertahan bagi perempuan di tengah masyarakat yang patriarkis. Oleh perempuan dan penghapusan sistem patriarki sangat penting untuk mengurangi meningkatkan kesadaran akan hak-hak Selain menekankan kesadaran gender juga krusial untuk memperkuat pemahaman tentang hak-hak perempuan dan menekan angka kekerasan terhadap mereka. Dengan langkah-langkah ini, perempuan berpeluang untuk meraih kebebasan dan kesetaraan dalam kehidupan sosial. Tak kalah penting, kebijakan perlindungan untuk perempuan harus diperkuat guna melindungi mereka dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Dalam cerpen ini, konser Boru Naritik berfungsi sebagai simbol perlawanan terhadap struktur Konser ini memberikan Mak Gabe keuntungan dan mempengaruhi para Namun, di sisi lain, acara tersebut juga memicu protes dari para ibu pasien, yang mencerminkan bahwa perubahan sosial masih menghadapi tantangan dan Pada akhirnya, cerpen Mak Gabe dan Konser Boru Naritik menggambarkan betapa kuatnya struktur patriarki yang masih ada dalam masyarakat. Dapat terlihat melalui peran ganda perempuan, ketergantungan ekonomi, dan objektivasi yang dialami oleh mereka, bahwa penindasan terhadap perempuan masih Meski demikian, bentuk perlawanan yang dilakukan perempuan secara tidak langsung menunjukkan adanya resistensi terhadap kekuatan patriarki yang ada. 2 Relasi Gender dalam Hubungan Mak Gabe dan Pak Gabe Relasi gender antara Mak Gabe dan Pak Gabe mencerminkan dinamika emosional laki-laki, serta kebiasaan budaya Mak Gabe digambarkan sebagai istri yang setia dan selalu merawat suaminya, yang telah bertahun-tahun menjalani cuci darah. Kesetiaannya tampak melalui usahanya menjaga kesehatan suaminya dengan cara-cara kreatif, seperti memberikan suapan kepada perawat. "Suster, ini kopi digiling dari biji kopi terbaik dari ladangku, lo. Kukasih samamu dan perawatperawat di sini. Tapi minta tolonglah, ya. Kalau data-data suamiku sudah masuk, kalian cepatkan sikit. Kan kalian tahu dia suka marah- marah kalau antre obat atau dokter. Kasihanlah kalian samaku!" pinta Mak Gabe (Sinubulan, 2. Cerpen bagaimana Mak Gabe menjalankan perannya sebagai pengasuh dengan penuh dedikasi, sejalan dengan norma-norma gender tradisional. Di sisi lain, meskipun Pak Gabe dalam kondisi sakit dan bergantung pada perawatan istrinya, ia tetap mempertahankan posisi dominan dalam interaksi mereka. Sifat otoritatifnya terasa jelas dalam ucapannya. "Kok kayanya? Tanyak. Bodoh! Kau ini kalau cari informasi setengah-setengah. Pastiin jam (Sinubulan, 2. 310 | P a g e Kata kata ini mencerminkan bagaimana Pak Gabe masih merasa berhak untuk mengendalikan dan menuntut istrinya, meskipun ia sendiri bergantung pada perawatan dari wanita tersebut. sisi lain. Mak Gabe menunjukkan kekuatan yang tersembunyi ketika menghadapi situasi sulit. Ia memahami kebutuhan suaminya lebih baik daripada siapa pun, bahkan lebih dari para selingkuhannya, seperti yang diungkapkannya kepada petugas karaoke. "Justru aku beruntung kali, ada yang menghibur suamiku. Jadi aku bisa bebas sebentar, istirahat," (Sinubulan, 2. Ucapan kecerdasan emosional yang dimiliki oleh Mak Gabe dalam memanfaatkan situasi yang berpotensi merugikan sebagai sebuah kesempatan untuk menjaga stabilitas hidupnya. Perseteruan gender dalam cerpen ini semakin terasa saat Mak Gabe mengetahui bahwa Boru Naritik, penyanyi yang pernah dekat dengan suaminya, akan tampil dalam sebuah konser di dekat rumah sakit. Bukannya merasakan cemburu. Mak Gabe justru memandang konser tersebut sebagai peluang untuk menyenangkan suaminya. Dengan nada santai, ia mengungkapkan "Pasti senang kali lah Amang Borumu. Selingkuhannya dulu itu, sering datang ke rumah". (Sinubulan, 2. Penerimaannya terhadap situasi ini menunjukkan sikap pragmatis, kebesaran hati, dan humor dalam menghadapi kondisi yang jauh dari ideal. Ketimpangan gender yang bersifat patriarkal sangat jelas terlihat, di mana wanita sering kali dipandang sebagai pengasuh dan pelayan Namun, dengan ketabahan, kecerdikan, dan pemahaman mendalam terhadap realitas. Mak Gabe berhasil menampilkan kekuatan yang tersembunyi di balik wajahnya. Melalui perpaduan antara percakapan dan narasi, cerpen ini menggambarkan bagaimana Mak Gabe mampu menavigasi kehidupan yang penuh tantangan, menggunakan keberanian dan berada dalam posisi subordinasi. 3 Konflik dan Solusi Dalam cerita pendek Konser Boru Narittik, permasalahan bermula ketika Nina mengedarkan brosur yang mengumumkan adanya konser yang akan diadakan pada pukul 7 malam di area rumah sakit. Keberadaan brosur ini memicu protes dari para ibu-ibu yang merasa tidak setuju dengan rencana tersebut. "Ini rumah sakit mahal, lo. Rumah sakit berkelas di kota Medan ini. Bisa-bisanya pula ada konser biduan?" seru salah satu ibu-ibu sambil melempar brosur ke arah meja Nina. "Suami saya itu punya penyakit jantung, nah itu sound-nya mengarah ke poli jantung, udah gila kalian?" sambung yang lain. "Mana sini manajernya? Nggak terima aku. Udah bayar mahalmahal, masa ada ginian. Ini rumah sakit bukan lapo tuak," kata ibuibu yang lain tak kalah emosi. (Sinubulan, 2. Situasi tersebut membuat ruang manajemen rumah sakit dipenuhi oleh keluarga pasien yang hadir. Kerumunan ini berlangsung sepanjang hari tanpa henti, hingga akhirnya salah satu dokter masuk untuk menenangkan suasana. Solusi yang diambil untuk mengatasi permasalahan dalam cerita pendek ini adalah dengan memindahkan konser musik ke area belakang, tepat di depan Poli THT. Langkah ini diambil agar teman-teman yang tuli tidak merasa terganggu, mengingat acara tersebut tidak mungkin dibatalkan. Ini 311 | P a g e menjadi pilihan terbaik yang bisa "Tenang-tenang, kita sudah dapat solusi dari permasalahan ini. Karena acara tidak mungkin dibatalkan, maka konser musik akan kita pindahkan ke belakang. Di depan poli THT. Teman-teman tuli sudah setuju dan sama sekali Sementara pasien normal yang benar-benar tidak ingin terganggu boleh meminta obat tidur lebih masing-masing perawat yang bertugas. Demikian disampaikan, harap maklum. (Sinubulan, 2. SIMPULAN Tujuan dari penelitian penulis ini mengungkapkan kompleksitas peran gender wanita yang dimana bagaimana peran ganda perempuan, dalam sistem patriarki, memengaruhi kehidupan seharihari dan identitas mereka. Cerpen Konser Boru Naritik karya Yessy Sinubulan sebagai media untuk memahami dinamika gender dan perlawanan perempuan terhadap patriarki melalui pendekatan teori feminine mystique oleh Betty Friedan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskusi mengenai ketimpangan gender, khususnya dalam konteks budaya patriarki, pendidikan kesadaran gender. Bagi peneliti menyarankan untuk lebih memahami dan menyadari adanya ketimpangan gender, terkhususnya dalam masyarakat yang masih didominasi oleh sistem patriarki, seperti yang diangkat melalui cerpen Konser Boru Naritik. Melalui karya sastra seperti cerpen ini, pembaca diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang konsep-konsep gender, seperti feminine mystique, dan relevansinya dalam kehidupan modern. DAFTAR PUSTAKA