Jurnal Riset Media Keperawatan ISSN : 2527 Ae 368X Pengaruh Pemberian Topikal Madu Kaliandra Terhadap Jumlah Eksudat Pada Luka Diabetes Melitus Nengke Puspita Sari1,*. Maritta Sari2 STIkes Sapta Bakti. Jalan Mahakam Raya No 16 Lingkar Barat Kota Bengkulu, 38229. Indonesia nengkemurlan@yahoo. com *. 2marittasari1987@gmail. corresponding author Abstrak Diabetes Melitus paling sering menyebabkan teradinya komplikasi yaitu adanya luka pada kaki dikarenakan teradinya perubahan patologis pada anggota gerak. Luka adalah suatu kerusakan fungsi dan struktur anatomi normal, sedangkan penyembuhan luka merupakan proses dinamik kompleks yang menghasilkan perbaikan fungsi dan kontinuitas anatomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas Pemberian Topikal Madu Kaliandra dengan jumlah Eksudat pada luka Diabetes Melitus dengan metode penelitian survey analitik menggunakan pendekatan kuasi eksperimen. Penilaian jumlah Eksudat sebelum dan setelah dilakukan terapi madu kaliandra. Hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara jumlah eksudat sebelum dan setelah dilakukan terapi madu kaliandra. Terapi madu kaliandra efektif dalam pengurangan jumlah eksudat pada luka diabetes melitus. Kata kunci: madu kaliandara, luka, diabetes, eksudat Effect of Topical Application of Calliandra Honey on the Amount of Exudates in Diabetes Mellitus Wounds Abstract Diabetes mellitus most often causes complications, namely the presence of injuries to the feet due to pathological changes in the limbs. Wounds are a malfunction and normal anatomical structure, whereas wound healing is a complex dynamic process that results in improved function and anatomical continuity. This study aims to determine the effectiveness of topical application of Kaliandra honey with the amount of exudates on Diabetes Mellitus wounds. The analytical survey research method uses a quasi-experimental approach. Assessment of the amount of exudate before and after calliandra honey therapy. The results showed that there was a significant difference between the amount of exudate before and after calliandra honey Calliandra honey therapy is effective in reducing the amount of exudate in diabetes mellitus wounds. Keyw ords: Kaliandara honey, wounds, diabetes, exudate PENDAHULUAN Diabetes American Diabetes Association (ADA) VO. NO. JUNI 2020: 18-23 adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya Kadar glukosa dalam darah . yang terjadi karena gangguan sekresi insulin, penurunan Jurnal Riset Media Keperawatan kerja insulin, atau akibat dari keduanya dan menimbulkan berbagai komplikasi akut serta kronik1. Komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien Diabetes Mellitus adalah terjadinya perubahan patologis pada anggota gerak, yaitu timbulnya luka pada Luka adalah suatu kerusakan fungsi dan struktur anatomi normal, sedangkan penyembuhan luka merupakan proses dinamik kompleks yang menghasilkan perbaikan fungsi Ulkus kaki dan amputasi merupakan konsekuensi dari neuropati diabetik dan/atau penyakit arteri perifer yang biasa terjadi dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada penderita diabetes. Pengenalan dini dan perawatan pasien dengan diabetes dan kaki beresiko untuk ulkus dan amputasi dapat menunda atau mencegah hasil yang lebih (American Diabetes Association, 2. Pada penderita DM banyak yang mengeluhkan terjadinya ulkus diabetik sehingga diabetes mellitus menjadi penyebab terjadinya amputasi kaki pada penderita DM. Amputasi terjadi 15 kali lebih sering pada penderita diabetes daripada nondiabetes. Pada tahun 2032, seiring dengan peningkatan jumlah penyandang diabetes di dunia, terjadi peningkatan kaki diabetik (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2. Perawatan dilakukan dengan menggunakan cairan fisiologis (NaCL atau RL), melakukan menggunakan kasa steril, dan beberapa jenis antibiotik seperti gentamsin sulfat, mafenide acetate yang semuanya dapat menyebabkan efek nyeri dan sensitif jumlah koloni pada luka (Moenadjat, 2. Ada beberapa penelitian yang dilakukan untuk pengobatan ganggren dengan menggunakan metode herbal yaitu dengan minyak zaitun (Sonny J. Kalangi. aloevera (Diligence. MedMarket . VO. NO. JUNI 2020: 18-23 ISSN : 2527 Ae 368X dan madu (Suriadi 2. Dari berbagai metode yang dapat dilakukan untuk pengobatan luka ganggren peneliti memilih metode perawatan luka dengan madu kaliandra karena kandungan pada madu yaitu zat gula fruktosa dan glkosa yang merupakan jenis gula monosakarida yang mudah diserap oleh usus. Selain itu banyak kandungan vitamin, asam amino, mineral, antibiotik 89 %, air 17,1%, karbohidrat 82,4 %, protein 0,5% (Mohapatra DP. Thakur V. Brar SK, 2. Perawatan luka gangren dengan madu secara rutin lebih baik dan sangat dipercaya sejak jaman dulu oleh masyarakat. PH madu yang asam serta kandungan hidroggen perroxidanya mampu membunuh bakteri dan mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh. Antibiotik dan antibakteri sangat efektif digunakan untuk menjaga luka (Suriadi 2. BAHAN DAN METODE Penelitian ini mengunakan rancangan penelitian quasi eksperimental. Kelompok pertama (A) adalah kelompok yang tidak diberikan perlakuan dan kelompok kedua (B) yang diberikan terapi madu. Prosedur perawatan luka adalah pada kedua kelompok diukur terlebih dahulu umlah eksudat menggunakan Skala Bates Jensen Wound Assessment Tool kemudian bersih kan Irigasi luka dengan menggunakan Nacl 0,9% jika terdapat pus, cuci luka dengan sabun di area luka dari sisi luka ke arah luka. Irigasi kembali luka dengan menggunakan Nacl 0,9%. Keringkan dengan menggunakan kasa steril dari arah dalam luka ke luar luka. Lakukan debridement pada jaringan nekrotik jika diperlukan . akukan irigasi dan keringka. untuk kelompok (B) berikan topical madu kaliandra sesuai dengan kondisi luka sedangkan kelompok (A) tidak diberikan kemudian lakukan Balutan luka dengan kassa gulung. Ganti balutan setiap dua hari sekali dan sehari sekali jika kotor, jumlah Jurnal ISSN : 2527 Ae 368X Riset Media Keperawatan eksudat banyak dan rembes. Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini berjumlah 10 pasien ulkus diabetikum dengan rincian 10 orang sebagai kelompok kontrol dan 10 orang sebagai kelompok eksperiment dengan teknik pengambilan sampel secara consecutive sampling yaitu semua pasien Luka Diabetes dengan derajat II s. d IV yang berkunjung di Puskesmas yang memenuhi kriteria penelitian dijadikan sampel. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan selama 14 hari dengan perawatan luka diberikan terapi madu kaliandra pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala ukur perubahan status luka (BWAT) dapat dilihat ditabel di bawah ini: Tabel 1. Distribusi Jumlah Eksudat Luka diabetes melitus Sebelum diberikan Madu Kaliandra di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Bengkulu. No Parameter Jumlah Presentase Jumlah eksudat Tidak ada, luka kering. Moist, luka tampak lembab, eksudat tidak Sedikit:Permukaan luka moist, eksudat membasahi <25% balutan Moderat: Eksudat terdapat > 25% dan < 75% dari balutan Banyak: Permukaan luka dipenuhi dengan Total Berdasarkan table 1 menunjukan bahwa jumlah eksudat pada luka diabetes melitus terhadap 10 orang responden dengan menggunakan skala BWAT sebelum diberikan madu kaliandra memiliki hasil yang berbeda pada setiap item. Pada jumla eksudat moist luka tampak lembab, eksudat tidak nampak terdapat 2 orang . %), permukaan luka moist eksudat membasahi <25% balutan terdapat 3 orang . %), pada Eksudat moderat berjumlah 3 orang . %) sedangkan permukaan luka dipenuhi dengan eksudat berjumlah 1 orang . %). VO. NO. JUNI 2020: 18-23 Jurnal Riset Media Keperawatan ISSN : 2527 Ae 368X Tabel 2. Distribusi Jumlah Eksudat Luka diabetes melitus setelah diberikan Terapi Madu Kaliandra di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Bengkulu. No Parameter Jumlah Presentase Jumlah eksudat Tidak ada, luka kering. Moist, luka tampak lembab, eksudat tidak Sedikit:Permukaan luka moist, eksudat membasahi <25% balutan Moderat: Eksudat terdapat > 25% dan < 75% dari balutan Banyak: Permukaan luka dipenuhi dengan Total Berdasarkan table 2. Menunjukan bahwa jumlah eksudat pada luka diabetes melitus terhadap 10 orang responden dengan menggunakan skala BWAT setelah diberikan madu kaliandra memiliki hasil yang berbeda pada setiap item. Terdapat 4 orang . %) luka menjadi kering, 4 orang . %) luka meadi tampak lembab namun eksudat tidak tampak, 2 orang . %) jumlah eksudat sedikit. Pengkajian pada tingkat kedalaman luka juga mengalami banyak perubahan yang lebih baik, dibuktikan dengan hasil penelitian bahwa sebelum perlakuan luka ulkus kaki diabetik pada 8 orang . %) umlah eksudat bekurang bahkan luka sudah menjdai kering atau sembuh. Menurut peneliti, derajat pada luka ulkus kaki diabetik dapat diidentifikasi mengalami membuktikan bahwa kondisi luka ulkus kaki diabetik pada pasien ulkus diabetik mengalami perkembangan ke arah Madu banyak digunakan dalam berbagai penelitian selain madu lebih murah madu memiliki sifat lembab/moist yang sangat baik untuk penyembuhan luka, selain itu madu juga memiliki sifat yang asam dan mengandung zat . idrogen peroxid. yang VO. NO. JUNI 2020: 18-23 berfungsi sebagai agen antimikroba (Molan. Karena kandungan air dalam madu, madu memiliki sifat osmotik madu disebut sebagai anti Sifat unik madu yang lain yaitu dapat mengurangi bau yang dihasilkan oleh bakteri yang ada pada lukaa. Untuk mendapatkan energi bakteri pada luka ini akan memetabolisme asam amino dengan sisa produk metabolisme adalah amonia, amine, dan sulphur. Komponen-komponen mengeluarkan bau yang khas. Pada luka yang di beri madu, madu memberikan glukosa sehingga komponen-komponen yang menyebabkan bau tidak perlu tersintesis (Molan, 2. Berikut beberapa studi kasus yang dilakukan oleh Acton . pada sejumlah klien dengan ulkus. Kasus pertama penelitian dilakukan pada wanita . dengan ulkus pada tangan kiri yang sudah terjadi sejak 1 bulan dengan 90% luka tertutup jaringan nekrotik. Setelah 5 hari perawatan dengan madu dikombinasikan dengan hidrofiber . anti balutan satu kali sehar. sebagian Madu mengandung magnesium, kalsium, alumunium, besi, fosfor, dan kalium. Vitamin-vitamin yang terkandung dalam madu adalah thiamin Jurnal Riset Media Keperawatan (B. , ribovlafin (B. , asam askorbat (C), piridoksin (B. , niasin, asam pantotenat, biotin, asam folat, dan vitamin K. sedangkan enzim yang penting terkandung dalam madu adalah enzim diatase, invertase, glukosa oksidase, peroksidase, dan lipase. Asam utama yang terdapat dalam madu adalah glutamat. sementara itu, asam organik yang terdapat dalam madu adalah asam asetat, asam butirat, format, suksinat, glikolat, malat, proglutamat, sitrat, dan piruvat (Adji, 2. Dalam proses penyembuhan luka madu kaliandra memiliki sifat antibakterial yang tinggi dibanding dengan madu lainya, kandungan vitamin C dan kinerja enzim peroksidase berperan sebagai antioksidan dan dapat melindungi sel. Enzim peroksidase ini mekatalis/memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Berbagai penelitian mengatakan untuk penyembuhan luka dibutuhkan lingkungan yang lembab dan mendapat sirkulasi O2 yang baik. Madu mengandung vitamin c tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan serum vitamin yang baik untuk sintesis kolagen (Molan, 2. Sifat osmosis pada madu memperlancar peredaran darah, sehingga area luka mendapat nutrisi yang adekuat. Tidak hanya nutrisi yang sampai ke area luka, tetapi juga leukosit akan akan merangsang pelepasan Sitokin dan growth factor sehingga lebih cepat terbentuk granulasi dan epitelisasi. Selain itu karena sifatnya yang osmosis, saat balutan dengan madu dilepas tidak terjadi perlengketan sehingga tidak merusak jaringan baru yang sudah Dibandingkan dengan perawatan dengan normal salin, perawatan dengan madu lebih efektif untuk meningkatkan granulasi dan epitelisasi. SIMPULAN Luka komplikasi dari penyakit diabetes mellitus yang sering terjadi karena terjadi kerusakan VO. NO. JUNI 2020: 18-23 ISSN : 2527 Ae 368X pada pembuluh darah sehingga jaringan tidak cukup memperoleh aliran darah yang akhirnya terjadi nekrosis. Kondisi ini tindakan perawatan luka memerlukan waktu yang lama, hal ini terbukti dari hasil penelitian dari 10 kasus setelah dilakukan perawatan dengan menggunakan madu kaliadra selama dua minggu telah memperlihatkan ada perbaikan luka dan sembuh secara baik. DAFTAR PUSTAKA