Konferensi Nasional dan Call For Paper Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNWAHAS x Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama AuDigital Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan 2023Ay PENGARUH KRISIS KEUANGAN SELAMA PANDEMI DI INDONESIA TERHADAP MANAJEMEN LABA PERUSAHAAN YANG DIAUDIT OLEH BIG FOUR (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar DiBursa Efek Indonesia Tahun 2019-2. Nur Rofikoh . Agus Triyani 2 ABSTRAK Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Alamat Afiliasi Pertama. Kota. Indonesia nurrofikoh05@gmail. Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Alamat Afiliasi Kedua. Kota. Indonesia agustriyani@unwahas. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya krisis keuangan selama pandemi Covid-19 yang memberikan dampak negatif terutama pada aspek ekonomi negara, hal itu dapat membuat perusahaan melakukan praktik manajemen laba dengan memanipulasi laporan keuangan agar terlihat baik dimata investor. Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan tingkat pertahanan investor yang rendah, yang menyebabkan tingginya praktik manajemen laba. Oleh karena itu, dibutuhkan jasa auditor yang berkualitas baik, untuk mengetahui terjadinya praktik manajemen laba. Auditor Big Four dinilai dapat meminimalisir adanya praktik manajemen laba perusahaan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan financial distress dan leverage terhadap manajemen laba. Penelitian ini menggunakan teori keagenaan. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2019 - 2021 yang diaudit oleh Big Four. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 102 sampel yang memenuhi kriteria. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahawa perusahaan yang di audit oleh big four masih terdapat praktik manjemen laba ketika perusahaan mengalami financial distress dan laverage. Dalam penelitian ini Nilai financial distress mempunyai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dengan koefisien regresi sebesar 0,025 dengan arah Artinya semakin tinggi tingkat financial distress akan meningkatkan praktik manajemen labanya dan leverage berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba. Nilai leverage mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,009 yang nilai signifikansinya kurang dari 0,05 dengan koefisien regresi 0,024 dengan arah positif. Leverage yang tinggi akan berdampak pada meningkatnya manajemen laba dan menurunkan prospek kinerja perusahaan, sebaliknya leverage yang rendah berdampak pada menurunnya praktik manajemen laba. Kata kunci: Financial Distress. Leverage. Manajemen Laba PENDAHULUAN Krisis keuangan terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami penurunan drastis atau tidak stabil. Indonesia mengalami kondisi ini selama pandemi Covid-19 yang memberikan dampak negatif, terutama pada aspek ekonomi negara. Menurut laporan Organization for Economic Co-operation and development (OECD), pandemi Covid-19berpotensi memicu risiko krisis ekonomi dengan adanya penurunan aktivitas produksi, pendapatan konsumen, kepercayaan konsumen, dan pendapatan bisnis yang pada akhirnya akan menimbulkan ketidakpastian dan ketidakstabilan keuangan (Pakpahan,2. Dalam dunia bisnis, manajemen laba adalah praktik mengelola laba entitas untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan (Putri, 2. Manajemen laba termasuk strategi yang penting bagi perusahaan untuk mengevaluasi kondisi dan kinerja mereka, karena kesalahan dalam strategi manajemen laba dapat memberi dampak negatif pada perusahaan. Manajemen laba yang efektif dapat membantu perusahaan mengatasi kesulitan keuangan dan menghindari kebangkrutan, sedangkan manajemen laba yang buruk dapat terjadi ketika manajer menyalahgunakan praktik tersebut untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, keberhasilan manajemen laba sangat bergantung pada bagaimana praktik tersebut dikelola. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) adalah perusahaan yang disangka terlibat dalam kasus manajemen lababaru-baru ini dengan menggelembungkan laporan keuangannyasebesar Rp 4 triliun pada tahun 2017. Piutang usaha, persediaan,dan aset tetap Grup AISA berpotensi mengalami inflasi, menuruttemuan audit PT Ernst & Young Indonesia (EY) pada 12 Maret 2019. Manajemen baru yang mengambil alih Tiga Pilar pada Oktober 2018 lalu merangkum laporan keuangan untuk Periode2017 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) RSM International. Ada bukti dugaan inflasi pajak akuntansi sebesar Rp 4 triliun yang dilihat dari laporan keuangannya. Manajemen laba membutuhkan jasa audit untuk meningkatkan kepercayaan pihak eksternal, khususnya investor,yang bertanggung jawab atas tata kelola perusahaan. Sebaliknya,investor memerlukan jasa audit untuk memastikan bahwa laporan keuangan manajemen dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Kualitas audit dapat diukur dengan kebenaran informasi yang disiapkan auditor untuk orang-orang yang berkepentingan dengan perusahaan, terutama investor (Ginting, 2. Di Indonesia. KAP Big Four, yakni Deloitte. PwC. EY, dan KPMG, dianggap memiliki integritas dan kualitas yang baik dalam memainkan peran mereka sebagai auditor eksternal terhadap manajemen laba. Keberadaan mereka dapat membantu mencegah kecurangan adanya manajemen laba dan menaikkan kepercayaan publik terhadap laporan keuangan. Dalam hal membatasi praktik manajemen laba, auditor Big Four dianggap kian efektif daripada Non Big Four, terutama KAP yang memiliki spesialisasi industri tertentu (Hartono, 2. Kono & Yuyetta . menyatakan auditor Big Four mampu meminimalisir praktik manajemen laba perusahaan yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan KAP NonBig Four. Hal ini disebabkan karena auditor Big Four memberikan pemantauan tambahan untuk memastikan bahwa laporan keuangan mencerminkan realitas yang sebenarnya. Financial distress dapat diakibatkan dari adanya faktor luar maupun dalam. Salah satu faktor internal yang berpengaruh pada keuangan perusahaan adalah masalah fundamental dan penurunan kinerja perusahaan. Di samping itu, kurangnya pengawasan dan pengaturan keuangan dapat menyebabkan perusahaan mengalami kerugian dan kekurangan modal (Wijayanti et al. , 2. Kondisi ini dapat mendorong manajer untuk memanipulasi laporan keuangan agar terlihat lebih baik dimata investor. Untuk mengatasi masalah ini, kehadiran auditor Big Four dapat membantu meningkatkan kinerja perusahaan dalam mengaudit laporan keuangan dan mengawasi stabilitas keuangan perusahaan sehingga dapat mencegah terjadinya kerugian. Leverage merupakan salah faktor yang juga dapat memiliki pengaruh dengan manajemen laba. Leverage adalah ukuran dari jumlah aset yang didanai oleh utang yang digunakan untuk operasional perusahaan. Apabila tingkat leverage tinggi, kreditur mungkin akan enggan memberikan dana atau pembiayaan karena utang yang besar berisiko tinggi dalam kredit (Harto, 2. Untuk menutupi utang, perusahaan akan melaporkan profitabilitas yang tinggi (Parasetya & Firdausya, 2. Dalam melakukan hal ini, perusahaan berharap untuk menunjukkan kepada pengguna laporan keuangan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membayar utang mereka, sehingga kreditur tertarik untuk memberikan pinjaman. Namun,tingginya rasio leverage juga berpotensi menimbulkan pelanggaran dalam perjanjian utang, sehingga perusahaan akankesulitan dalam mendapatkan tambahan dana dari utang (Nia, 2. Akibatnya, manajer yang memiliki banyak pengaruh dengan leverage yang tinggi mungkin cenderung melakukan kecurangan dalam laporan keuangannya. Adanya auditor Big Four dapat membantu meminimalkan pelanggaran utang dan kecurangan dalam laporan keuangan, sehingga perusahaan dapat memperoleh tambahan dana dari utang dengan lebih mudah. TINJAUAN LITERATUR Manajemen laba merupakan praktik manajemen yang dimaksudkan untuk memanipulasi laba yang dilaporkan, dengan memanfaatkan kebijakan akuntansi tertentu, mempercepat transaksi biaya atau penghasilan, dan menerapkan strategi lainnya untuk meningkatkan keuntungan dalam jangka pendek (Yahya et al, 2. Scott . yang dikutip oleh Fajrin . menjelaskan bahwa manajemen laba ialah kebijakan akuntansi dengan menggunakan manajemen laba guna mencapai tujuan Tujuan manajemen laba ini yaitu meningkatkan keuntungan perusahaan dengan menerapkan kebijakan yang berkaitan dengan operasional perusahaan, sehingga dapat mempengaruhi arus kas perusahaan secara signifikan. Namun, manajemen laba juga bisa digunakan untuk keuntungan pribadimanajer, terutama ketika laba digunakan sebagai ukuran kinerjadan dasar bonus mereka. (Shipper, 1987 dalam Angriani, 2. Financial distress merupakan ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya karena kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan dapat dipahami sebagai tahap sebelum perusahaan mengalami bangkrut, yaitu tahap ketika kondisi keuangan memburuk. Financial distress dapat dijelaskan oleh dua posisi ekstrem perusahaan, yaitu kesulitan likuiditas jangka pendek dan kebngkrutan. Kesulitan likuiditas jangka pendek biasanya terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, namun kesulitan tersebut dapat memburuk dan berlangsung dalam waktu yang lebih Jika tidak diatasi dengan tepat, maka kondisi tersebut dapat mengakibatkan kebangkrutan atau pailit perusahaan. Untuk mengidentifikasi keadaan financial distress dalam perusahaan industri manufaktur, model analisis Altman Z-Score dapat Model Altman Z-Score adalah metode analisis multivariat yang dapat memprediksi kegagalan bisnis secara akurat dan tepat. Modal kerja bersih pada total aset, laba sebelum bunga dan pajakterhadap total aset, nilai pasar ekuitas terhadap total nilai buku kewajiban, dan penjualan terhadap total asset adalah contoh rasio keuangan (Edward I. Altman, 1968 dalam Muzakky, 2. Kasmir . dalam Salma & Riska . menjelaskanbahwa leverage adalah rasio aset yang dibiayai oleh utang. Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang digunakan oleh perusahaan guna membiayai operasinya dibandingkan dengan modal dari perusahaan sendiri. Semakin tinggi risiko kredit yang diambil oleh perusahaan, maka semakin tinggi pula leverage yang dimilikinya. Hal ini disebabkan oleh beban pembayaran pokok utang dan bunga yang semakin besar. Namun jika perusahaan tidak dapat mengatur sumber dananya dengan baik. Hal ini dapat menjadi penyebab manajer melakukan kecurangandengan cara memanipulasi laporan keuangan Menurut Kiswanto . , teori agency melibatkan kontrak antara satu atau lebih individu yang bertindak sebagai prinsipal dan memerintahkan orang lain sebagai agen untuk memberikan layanan, termasuk mengelola entitas sesuai dengankebutuhan. Prinsipal menyerahkan wewenang kepada agen untuk menyusun keputusan terbaik bagi entitas utama, namun terdapat pergeseran tanggung jawab antara kedua belah pihak apabila terjadi ketidaksepakatan dalam kontrak. Menurut teori ini, diasumsikan bahwa agen dapat memiliki tujuan yang berbeda dengan prinsipal, di mana agen mungkin memprioritaskan kepentingan pribadi melalui praktik manajemen laba. Praktik manajemen laba ini kadang-kadang tidak mencerminkan laporan keuangan yang sesungguhnya, sehingga berakibat dapat membahayakan para pihak yang berkepentingan dengan membuat keputusan ekonomi yang salah. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Ni Putu Dewi Antari dkk, 2. dan (Soeparyono 2. menyatakan bahwa financial distress berpengaruh positif signifikan terhadapmanajemen laba. Penelitian yang dilakukan oleh (Viana Fandriani dan Herlin Tunjung, 2. menunjukkan bahwa laverage berpengaruh positif terhadap manajemen Dengan demikian hipotesis dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai H1:Financial distress memiliki pengaruh positif signifikan padamanajemen laba. H2:Leverage memiliki pengaruh positif signifikan pada manajemen laba. KERANGKA KONSEPTUAL Teori keagenan berhubungan dengan manajemen laba karena terdapat kepentingan antara pihak principal dan agent. Saat perusahaan menghadapi kesulitan keuangan, manajemen laba digunakan sebagai cara untuk meyakinkan investor bahwa mereka akan mendapatkan pengembalian investasi. Teori agency juga menjelaskan bahwa semakin besar leverage keuangan perusahaan, maka akan semakin besar biaya agensi dalam struktur modalnya. Untuk mengatasi asimetri informasi antara principal dan agent serta mengatasi konflik kepentingan,diperlukan pihak ketiga seperti auditor. Auditor Big Four dapat membantu meminimalkan praktik manajemen laba pada perusahaan dan memberikan pemantauan tambahan untuk memastikan laporan keuangan mencerminkan realita sesuai dengan keadaan sebenarnya. Akibatnya, hubungan keagenan antara pemegang saham dan manajemen perusahaan harus menggunakan jasa auditor untuk memastikan laporan keuanganbebas dari kecurangan dan dapat dipercaya. Gambar 1 Kerangka Pemikiran METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif. Menurut Sanusi . Penelitian ini bertujuan untuk meberikan penggambaran secara sistematis mengenai kondisi di lapangan. Sementara itu. Penelitian kuantitatif merupakan bentuk penelitian yang berdasar pada pandangan positivis dan melibatkan pengamatan terhadap populasi atau sampel tertentu dengan bantuan alat penelitian dan analisis data untuk mengumpulkan dan mendukung hipotesis yang telah dirumuskan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2019 -2021. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Sampel akhir dari penelitian ini adalah 34 perusahaan dengan pengamatan selama 3 tahun sehingga diperoleh 102 data HASIL DAN DISKUSI Pengaruh financial distress terhadap manajemen laba perusahaan Hasil uji t penelitian ini menunjukkan bahwa variabel financial distress yang diukur menggunakan Altman Z-Score berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Nilai financial distress mempunyai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dengan koefisien regresi sebesar 0,025 dengan arah positif. Artinya semakin tinggi tingkat financial distress akan meningkatkanpraktik manajemen labanya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Gusmiarni dkk . yang hasil penelitiannya pada perusahaan manufaktur yang diaudit big four dan non big four menunjukkan financial distress berpengaruh positif terhadap manajemen Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang di audit oleh big four atau non big four sama-sama tidak dapat mendeteksi manajemen laba ketika perusahaan mengalami financial distress, hal tersebut berhubungan dengan teori keagenaan dimana agen akan melakukan manajemen laba ketikaperusahaan mengalami kesulitan keuangan meskipun telah menggunakan jasa auditor yang berkualitas masih terdapat praktik manajemen laba apabila suatu perusahaan mengalami financial distress. Pengaruh leverage terhadap manajemen laba perusahaan Hasil uji t penelitian ini menunjukkan bahwa variabel leverage yang diukur menggunakan (DAR) yang berpengaruh terhadap manajemen laba. Nilai leverage mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,009 yang nilai signifikansinya kurang dari0,05 dengan koefisien regresi 0,024 dengan arah positif. Jika leverage bertambah tinggi akan berdampak pada meningkatnya manajemen laba, dan menurunkan prospek kinerja perusahaan,begitu pula sebaliknya jika leverage menurun maka praktik manajemen laba akan berkurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Viana Fendriana dan Herlin Tanjung . yang melakukan penelitian pada perusahaan sektor property, real estate, danbuilding konstruction, yang di audit big four dan non big four membuktikan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Hal tersebut sesuai dengan teori keagenanyang menunjukkan bahwa ketika perusahaan mengalami laverage agen akan melakukan praktik manajemen laba untuk menutupi laporan keuangan agara terlihat baik dimata investor,dapat disimpulkan penelitian yang di audit oleh big four atau non big four sama-sama masih terdapat praktik manajemen laba. KESIMPULAN Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh krisis keuangan selama pandemi menggunakan rasio keuangan financial distress dan leverage untuk memprediksi adanya manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2021 yang diaudit oleh Big Four. Dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Variabel Dependen Manajemen laba yang diproksikan menggunakan rumus Model Jones. Penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang di audit oleh KAP Big Four berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini tentunya tidak di inginkan oleh investor karena berdampak pada kelangsungan hidup perusahaan. Kualitas auditor yang baik adalah dapat menemukan salah saji dan melaporkan salah saji tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang di audit oleh KAP Big Four tidak dapat mendeteksi praktik manajemen laba ketika perusahaan mengalami financial distress dan laverage yang tinggi. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dikemukakan maka kesimpulan hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai . Hasil analisis pengaruh financial distress yang diukur menggunakan Altman Z-Score penelitian ini berpengaruh positif terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2021. Menyatakan bahwa (H. financial distress berpengaruh positif terhadap manajemen laba yang artinya hipotesis diterima. Hasil analisis pengaruh leverage yang diukur menggunakanDebt to Asset Ratio (DAR) menunjukkan bahwa hasil penelitian ini berpengaruh positif terhadap manajemen laba perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 20192021. Menyatakan bahwa (H. Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen labayang artinya hipotesis diterima. SARAN