Analisis Determinan Perilaku Seksual Remaja Berdasarkan Pengetahuan. Akses Informasi. Kegiatan Waktu Luang dan Paparan Pornografi Siti Maryam L. Z Ngabito1*. Sry Ade Muthya Gobel2 Program Sarjana Terapan Promosi Kesehatan. Universitas Bina Taruna Gorontalo. Kota Gorontalo. Indonesia1,2 Received : 09/05/2025 Revised : 13/11/2025 Accepted : 30/11/2025 Published : 31/12/2025 Corresponding Author: Author Name*: Siti Maryam L. Ngabito Email*: maryamngabito09@gmail. DOI: A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Phone*: 6282290499655 Abstrak: Bentuk perilaku seksual seperti melakukan hubungan seks pra nikah menjadi salah salah satu penyebab kehamilan pada remaja. Kelahiran tiap 1000 perempuan untuk kelompok umur 15-19 tahun (ASFR) menurut provinsi tahun 2020. Provinsi Gorontalo termasuk lima provinsi dengan angka kelahiran tertinggi . ,3%) melampaui angka Nasional . ,6%). Tujuan penelitian untuk menganalisis determinan perilaku seksual pada remaja di Kecamatan Kota Tengah Gorontalo. Jenis penelitian analitik dengan rancangan cross sectional dengan populasi remaja . -18 tahu. 977 orang dan sampel sebanyak 333 orang menggunakan teknik purposive sampling dan analisis data bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kegiatan pengisi waktu luang (OR = 4,675. 95% CI: 2,893 Ae 7,556. , paparan pornografi (OR = 0,258. 95% CI: 0,137 Ae 0,486. p < 0,. dengan perilaku seksual remaja. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan akses media informasi dengan perilaku seksual. Diharapkan remaja memanfaatkan waktu luangnya dengan mengisi kegiatan yang positif baik dilingkungan sekolah maupun keluarga, sehingga dapat terhindar dari faktor pemicu seperti terpapar pornografi yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko. Kata Kunci: Perilaku seksual. Pengetahuan. Akes Informasi. Kegiatan Waktu Luang. Paparan Pornografi. Pendahuluan Perilaku seksual pranikah menjadi salah satu masalah yang sering terjadi di setiap negara di dunia termasuk Indonesia. Perkembangan seksualitas dimulai sejak masa remaja dengan adanya perubahan fisik dan hormonal saat pubertas. Keingintahuan remaja ketika tidak mendapat informasi yang tepat atau tidak diarahkan memungkinkan mereka terlibat dalam perilaku yang membahayakan diri dan kesehatan mereka (Harwati & Laksmini, 2. Segala perbuatan yang didorong oleh hasrat seksual yang dilakukan bersama dengan lawan jenis maupun sesama jenis merupakan perilaku ___________ How to Cite: Ngabito. , & Gobel. Analisis determinan perilaku seksual remaja berdasarkan pengetahuan, akses informasi, kegiatan waktu luang dan paparan pornografi. Jurnal Promosi. Komunikasi dan Kesehatan (J-SiKomKe. , 1. Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. seksual mulai dari bergandengan tangan, ciuman, berpelukan sampai berhubungan seksual (Hapsari, 2. Youth Risk Behaviour Survey tahun 2021 menunjukkan bahwa persentase siswa SMA di Amerika Serikat yang pernah berhubungan seks sebesar 30% dan 11% siswa SMA mengalami kekerasan seksual. Sedangkan di Asia sebesar 11% siswa SMA pernah berhubungan seks dan 6% pernah mengalami kekerasan seksual yaitu siswa SMA dipaksa oleh siapapun untuk melakukan hal-hal seksual termasuk berciuman, menyentuh atau dipaksa secara fisik untuk melakukan hubungan seksual padahal mereka tidak menginginkannya (Centers for Disease Control and Prevention, 2. Data Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017 menunjukkan 8% laki-laki dan 2% perempuan belum kawin usia 15-24 tahun pernah melakukan hubungan seksual, tren ini mengalami kenaikan dibandingkan data SDKI tahun 2012 yaitu 8% laki-laki dan 1% perempuan pernah berhubungan seksual (BKKBN, 2. Sementara itu menurut data di BPS, kelahiran tiap 1000 perempuan untuk kelompok umur 15-19 tahun (ASFR) menurut provinsi tahun 2020. Provinsi Gorontalo termasuk ke dalam lima provinsi dengan angka kelahiran tertinggi mencapai 46,3% sedangkan angka Nasional sebesar 26,6% (BPS, 2. Pola interaksi seksual remaja di Gorontalo menggambarkan adanya aktivitas berisiko yang yang berkembang seiring lemahnya pengawasan keluarga, kuatnya pengaruh teman sebaya, serta akses informasi yang tidak terkontrol (Balolo et al. , 2. Berdasarkan studi pendahuluan Kecamatan Kota Tengah adalah wilayah yang lokasinya banyak terdapat tempat berkumpulnya orang seperti cafe, taman RTH, dan juga termasuk terminal Andalas dan tempat menghibur seperti karaoke, dimana lokasi tersebut merupakan tempat favorit untuk menghabiskan waktu luang seseorang khususnya remaja yang senang melakukan kegiatan menongkrong. Studi pendahuluan pada 10 remaja didapatkan 100% remaja pernah berpacaran, berpegangan tangan dan belum pernah berhubungan seksual, 50% pernah berpelukan, 60% pernah berciuman dan 30% pernah meraba daerah sensitif Dari 10 remaja terdapat 70% pernah pergi ke tempat karaoke bersama pasangannya, 60% pernah terpapar pornografi, 70% tidak pernah mendapatkan informasi pengetahuan kesehatan reproduksi dalam hal yang positif dan mengatakan bahwa berpegangan tangan, berfantasi seks Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. serta berciuman bukan bentuk perilaku seksual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan perilaku seksual pada remaja. Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kota Tengah Kota Gorontalo. Populasi dalam penelitian ini seluruh remaja yang masuk dalam tahap perkembangan remaja tengah usia 15-18 tahun di Kecamatan Kota Tengah tahun 2020 sebanyak 1. 977 orang dan besar sampel sebanyak 333 orang diambil menggunakan teknik Proportional Sampling selanjutnya penarikan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Data Primer diperoleh dengan wawancara dan kuesioner kepada remaja. Data sekunder diperoleh dari sumber yang telah ada yaitu Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, jumlah penduduk Kecamatan Kota Tengah tahun 2020 dan data dari SDKI. Data dianalisis menggunakan analisis bivariat dengan uji statistik Spearman Rank dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil Penelitian Hasil analisis bivariat hubungan antara tingkat pengetahuan, akses media informasi, kegiatan pengisi waktu luang dan paparan pornografi dengan perilaku seksual remaja disajikan dalam tabel berikut : Tabel 1 Hubungan Tingkat Pengetahuan. Akses Media Informasi. Kegiatan Pengisi Waktu Luang dan Paparan Pornografi dengan Perilaku Seksual Remaja: p-value Perilaku Seksual Total Variabel Berat Ringan Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Akses Media Informasi Banyak Sedikit Kegiatan Pengisi Waktu Luang Risiko Tinggi Risiko Sedang Risiko Rendah Paparan Pornografi 0,376 0,088 0,000 Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Terpapar Tidak Terpapar Sumber : Data Primer 0,000 Berdasarkan tabel 1 menunjukkan hasil analisis dengan Spearman Rank diperoleh bahwa variabel kegiatan pengisi waktu luang dan paparan pornografi berhubungan dengan perilaku seksual . -value 0,. Pemodelan Multivariat menggunakan Regresi Logistik dilakukan dengan memasukkan variabel independen yang dianggap penting dengan cara mempertahankan variabel yang mempunyai nilai signifikan < 0,25. Variabel yang memenuhi syarat untuk permodelan multivariat yaitu akses media informasi, kegiatan pengisi waktu luang dan paparan pornografi. Tabel 2 Permodelan Multivariat Uji Regresi Logistik Model Awal 95%CI pVariabel Bawah Atas Akses Media Informasi 0,413 0,147 1,512 0,864 2,644 Kegiatan Pengisi Waktu Luang 1,514 0,000 4,543 2,811 7,342 Paparan Pornografi -1,386 0,000 0,250 0,132 0,473 Berdasarkan tabel 2 hasil analisis Regresi Logistik model awal menunjukkan bahwa variabel yang memiliki p value < 0,05 yaitu kegiatan pengisi waktu luang dan paparan pornografi. Akses media informasi memiliki nilai p value > 0,05, variabel ini dikeluarkan dari model akhir Tabel 3 Permodelan Multivariat Uji Regresi Logistik Model Akhir 95%CI pVariabel Bawah Atas Kegiatan Pengisi Waktu Luang 1,542 0,000 4,675 2,893 7,556 Paparan Pornografi -1,353 0,000 0,258 0,137 0,486 Berdasarkan tabel 3 hasil model akhir analisis multivariat menunjukkan variabel kegiatan pengisi waktu luang adalah faktor paling dominan dalam mempengaruhi perilaku seksual remaja. Remaja yang mengisi kegiatan waktu luangnya dengan kegiatan berisiko tinggi memiliki kemungkinan 4,6 kali lebih besar melakukan perilaku seksual berisiko dibandingkan remaja dengan kegiatan pengisi waktu luang risiko rendah dengan nilai OR sebesar 4,675. Pembahasan Penelitian Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Seksual Remaja Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan perilaku seksual remaja. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Harwati & Laksmini, 2. menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku seks pranikah pada remaja. Penelitian oleh (Nuryasita et al. , 2. juga menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku seks pranikah. Namun berbeda dengan hasil penelitian oleh (Elya Suharti, 2. menemukan adanya hubungan antara pengetahuan dan perilaku seks pranikah pada Pada penelitian ini diperoleh 75,7% responden berpengetahuan baik melakukan perilaku seksual berat dan 5,4% responden berpengetahuan kurang memiliki perilaku seksual berat. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran remaja untuk menerapkan pengetahuan terkait seksualitas. Selain itu perilaku seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor selain pengetahuan seperti kegiatan pengisi waktu luang yang dilakukan oleh remaja sehingga tidak mempengaruhi pengetahuan baik yang dimiliki. Namun hasil penelitian berbeda dengan penelitian. Hubungan Akses Media Informasi dengan Perilaku Seksual Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan akses media informasi dengan perilaku seksual remaja. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh (Nurmayani M et al. , 2. menyatakan tidak ada hubungan keterpaparan informasi dan sumber informasi tentang kesehatan reproduksi terhadap perilaku seksual. Namun hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang diperoleh (Passe et al. , 2. perilaku seksual remaja memiliki hubungan yang signifikan dengan keterpaparan media informasi. Pada penelitian ini diperoleh 53,2% remaja yang banyak mengakses media informasi positif tentang kesehatan reproduksi melakukan perilaku seksual berat dan 46,8% remaja yang sedikit mengakses media informasi melakukan perilaku seksual berat. Penggunaan media internet paling banyak digunakan remaja di Kecamatan Kota Tengah untuk mengakses informasi positif terkait Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. kesehatan reproduksi. Penggunaan internet dengan waktu yang lama oleh remaja dapat berisiko pada perilaku seksual remaja, hal ini menjadikan kemajuan teknologi diibaratkan menjadi dua sisi mata pisau yang bisa memberikan keuntungan maupun kerugian dan dampak yang kurang baik (Bukit et al. , 2. Hubungan Kegiatan Pengisi Waktu Luang dengan Perilaku Seksual Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan kegiatan pengisi waktu luang dengan perilaku seksual remaja. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Khaerudin et al. , 2. bahwa kegiatan pengisi waktu luang memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku seksual pranikah remaja. Berbeda dengan hasil penelitian (Daiyana & Winarti, 2. menyatakan tidak ada hubungan antara gaya hidup dengn perilaku seks bebas pada remaja. Aktivitas menyimpang yang dilakukan remaja tidak terlepas dari apa yang menjadi kegiatannya, hasil penelitian diperoleh 23,4% remaja yang kegiatannya berisiko tinggi melakukan perilaku seksual Kegiatan pengisi waktu luang ini merupakan faktor yang paling dominan terhadap perilaku seksual. Remaja di Kecamatan Kota Tengah menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang dapat memicu dirinya melakukan perilaku seksual berat seperti menginap diluar rumah, pacaran dan pergi ke tempat karaoke. Sesuai dengan penelitian (Khaerudin et al. , 2. menyatakan bahwa kegiatan rekreasi seperti berkencan dan menonton pornografi telah menjadi hal lumrah dikalangan remaja, dan ketika remaja merasa bosan mereka mencari kebiasaan baru yang mungkin lebih buruk dari kebiasaan mereka. Hubungan Paparan Pornografi dengan Perilaku Seksual Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan paparan pornografi dengan perilaku seksual remaja. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh (Galang et al. , 2. menunjukkan terdapat hubungan antara paparan pornografi dengan perilaku seksual pada remaja. Namun hasil penelitian ini berbeda dengan yang dilakukan oleh (Yuliana & Abpriyani, 2. yaitu tidak ada hubungan paparan konten pornografi dengan perilaku seks pranikah. Penelitian oleh (Sabilla & Hafidhoh, 2. juga menunjukkan hasil yang sama yaitu tidak Jurnal Promosi. Komunikasi & Kesehatan (SiKomKe. Volume 01. No. terdapat hubungan antara paparan media pornografi dengan perilaku seksual pranikah remaja. Pada penelitian ini diperoleh 16,2% remaja yang terpapar pornografi melakukan perilaku seksual berat yang mengakibatkan seseorang terlibat dengan perilaku seksual yang berat dikarenakan adanya dorongan dari paparan pornografi tersebut untuk menyampaikan hasrat akibat dampak dari paparan pornografi Perilaku seksual yang bebas risiko sangat penting dilakukan agar remaja terhindar dari pergaulan bebas yang tidak terkendali dan peningkatan jumlah kehamilan pranikah. Untuk mencegah hal ini, diperlukan pengawasan orang tua terhadap anak ketika berada diluar rumah, menanamkan nilai moral dalam pergaulan remaja oleh guru dan pemerintah mengatur konten media sosial yang mengandung unsur pornografi (Taqwin et al. , 2. Simpulan Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa variabel yang siginifikan berhubungan dengan perilaku seksual remaja adalah kegiatan pengisi waktu luang dan paparan pornografi p<0,05. Namun tidak terdapat hubungan perilaku seksual tingkat pengetahuan dan akses media informasi p > 0,05. Faktor yang paling dominan dengan perilaku seksual adalah kegiatan pengisi waktu luang OR= 4,675. Rekomendasi Diharapkan remaja dapat memanfaatkan waktu luangnya dengan mengisi kegiatan yang positif baik dilingkungan sekolah maupun keluarga, sehingga dapat terhindar dari faktor pemicu seperti terpapar pornografi yang dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko. Referensi