138 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban: Antara Keakraban. Identitas dan Modernitas St. Junaeda 1 Pendidikan Antropologi. Universitas Negeri Makassar. Indonesia1 Email: st. junaeda@unm. Abstract. The use of regional languages within urban families has become an increasingly important issue amid rapid social change, urbanization, and the growing dominance of national and global languages. As one of the local languages in South Sulawesi, the Makassar language plays a significant role in maintaining cultural values, ethnic identity, and social relationships among its speakers. However, in urban settings, language practices are often shaped by changing social aspirations, educational demands, and modern lifestyles, which influence the patterns of language transmission within families. This study examines the use of Makassar language in urban families and explores how family members negotiate its role between intimacy, cultural identity, and modernity. This research employs a qualitative approach with an ethnographic perspective to understand language practices in everyday family interactions. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and informal conversations with parents and children from urban Makassar families. The analysis focuses on the meanings attached to language choice, the contexts in which Makassar language is maintained or replaced, and the social factors influencing these linguistic The study draws on sociolinguistic and anthropological perspectives to explain how language functions not only as a communication tool but also as a symbol of belonging and social positioning. The findings indicate that Makassar language continues to be used as a medium for expressing intimacy, emotional closeness, and kinship relations within families. the same time, its use is increasingly negotiated with the demands of modern urban life, where Indonesian is often perceived as more beneficial for education, social mobility, and wider communication. Consequently, urban families develop diverse language strategies that reflect efforts to preserve cultural identity while adapting to contemporary social realities. The study highlights that the use of Makassar language in urban families represents an ongoing negotiation between maintaining local cultural heritage and responding to the challenges of Keywords: Makassar Language. Urban Family. Language Use. Cultural identity, modernity. Language Maintenance. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban PENDAHULUAN Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memiliki peran penting dalam membentuk identitas sosial dan budaya suatu masyarakat. Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga menjadi sarana pewarisan nilai, norma, pengetahuan, dan memori kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi Dalam konteks masyarakat etnis, bahasa daerah tidak hanya merepresentasikan sistem linguistik tertentu, tetapi juga mencerminkan identitas budaya yang membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya (Isti Purwaningtyas, 2. Oleh karena itu, keberlangsungan penggunaan bahasa daerah menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga eksistensi identitas etnis di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. Di Indonesia, yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, isu pemertahanan bahasa daerah menjadi semakin relevan karena banyak bahasa lokal menghadapi ancaman penurunan jumlah penutur akibat modernisasi, urbanisasi, dan dominasi bahasa nasional maupun bahasa global. Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat modern telah membawa konsekuensi terhadap praktik penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Urbanisasi yang semakin masif, meningkatnya mobilitas penduduk, berkembangnya teknologi informasi, serta meluasnya penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai sektor kehidupan telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Dalam kondisi tersebut, bahasa daerah sering kali mengalami penyempitan fungsi dan ruang Bahasa Indonesia menjadi pilihan utama dalam pendidikan, pekerjaan, media massa, dan komunikasi lintas etnis, sementara bahasa daerah semakin terbatas penggunaannya pada lingkungan keluarga dan komunitas tertentu. Fenomena ini menunjukkan bahwa modernitas tidak hanya mengubah struktur sosial masyarakat, tetapi juga memengaruhi praktik kebahasaan dan proses pewarisan identitas budaya. Dalam berbagai kajian sosiolinguistik, keluarga dipandang sebagai domain paling penting dalam proses transmisi bahasa antargenerasi. Keberlangsungan suatu bahasa daerah sangat bergantung pada sejauh mana bahasa tersebut diwariskan dan digunakan dalam lingkungan keluarga. Ketika orang tua secara aktif menggunakan bahasa daerah kepada anak-anaknya, peluang bahasa tersebut untuk bertahan menjadi lebih besar. Sebaliknya, ketika keluarga mulai menggantikan bahasa daerah dengan bahasa lain yang dianggap lebih berguna atau lebih bernilai secara sosial, maka proses pergeseran bahasa akan berlangsung secara bertahap. Dalam konteks ini, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai ruang komunikasi, tetapi juga sebagai arena reproduksi identitas budaya. Pentingnya pewarisan bahasa daerah kepada generasi muda telah menjadi perhatian banyak peneliti. Penelitian yang dilakukan oleh Nababan . menunjukkan bahwa keberlangsungan bahasa daerah sangat ditentukan oleh proses transmisi bahasa dalam keluarga. Ketika generasi muda tidak lagi memperoleh bahasa daerah sebagai bahasa pertama, maka peluang terjadinya pergeseran bahasa akan semakin besar. Temuan serupa juga ditunjukkan oleh penelitian Mahsun . 140 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 yang menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama melemahnya bahasa daerah di Indonesia adalah berkurangnya penggunaan bahasa tersebut dalam lingkungan keluarga, terutama di wilayah perkotaan yang masyarakatnya semakin heterogen. Kajian lain yang dilakukan oleh Sahril . menemukan bahwa masyarakat urban cenderung memilih bahasa Indonesia dalam komunikasi keluarga karena dianggap lebih mendukung pendidikan dan mobilitas sosial anak-anak mereka. Bahasa daerah tetap dipahami sebagai simbol identitas etnis, tetapi penggunaannya semakin terbatas pada situasi tertentu. Penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan erat antara modernitas dan perubahan pilihan bahasa. Bahasa tidak lagi semata-mata dipilih berdasarkan kedekatan budaya, tetapi juga berdasarkan pertimbangan pragmatis yang berkaitan dengan masa depan sosial dan ekonomi generasi muda. Dalam konteks masyarakat Makassar, persoalan ini menjadi semakin menarik untuk dikaji. Bahasa Makassar merupakan salah satu bahasa daerah terbesar di Sulawesi Selatan yang masih digunakan oleh banyak penutur. Namun, perkembangan Kota Makassar dan sekitarnya sebagai pusat urbanisasi, pendidikan, perdagangan, dan teknologi di kawasan Indonesia Timur telah menciptakan lingkungan sosial yang semakin multikultural. Interaksi yang intensif dengan berbagai kelompok etnis menyebabkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dominan dalam berbagai aktivitas publik. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola komunikasi dalam keluarga, terutama pada keluarga-keluarga urban yang memiliki orientasi kuat terhadap pendidikan dan mobilitas sosial. Di sisi lain, bahasa Makassar masih memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat karena berkaitan dengan nilainilai budaya lokal seperti siriAo na pacce, penghormatan terhadap orang tua, solidaritas sosial, dan rasa kebersamaan. Melalui penggunaan bahasa Makassar, hubungan kekeluargaan tidak hanya dibangun melalui komunikasi verbal, tetapi juga melalui pewarisan nilai budaya yang terkandung dalam bahasa tersebut. Oleh karena itu, menurunnya penggunaan bahasa Makassar di kalangan generasi muda bukan hanya persoalan linguistik, tetapi juga menyangkut keberlanjutan identitas budaya masyarakat Makassar. Kajian mengenai bahasa daerah dan identitas etnis menunjukkan bahwa bahasa merupakan salah satu simbol budaya yang paling mudah dikenali sekaligus paling rentan mengalami perubahan. Menurut penelitian Sumarsono . , bahasa daerah berfungsi sebagai penanda keanggotaan sosial dan identitas kelompok. Ketika generasi muda tidak lagi menggunakan bahasa daerah, maka ikatan simbolik antara individu dan komunitas etnisnya berpotensi melemah. Dalam masyarakat yang semakin modern, identitas etnis memang tidak hanya ditentukan oleh bahasa, tetapi bahasa tetap menjadi medium penting yang menghubungkan individu dengan sejarah, nilai, dan tradisi kelompoknya. Meskipun berbagai penelitian telah membahas pemertahanan dan pergeseran bahasa daerah, sebagian besar kajian masih berfokus pada aspek linguistik, seperti tingkat penggunaan bahasa, pola bilingualisme, atau faktor-faktor penyebab pergeseran bahasa. Kajian yang secara khusus menyoroti bagaimana keluarga urban Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban memaknai penggunaan bahasa daerah sebagai bagian dari negosiasi antara keakraban, identitas, dan modernitas masih relatif terbatas, khususnya dalam konteks masyarakat Makassar. Padahal, keluarga merupakan ruang sosial utama tempat berbagai nilai budaya dan orientasi modern bertemu, berinteraksi, bahkan Penelitian ini menjadi penting karena berupaya memahami penggunaan bahasa Makassar tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai praktik budaya yang sarat makna. Dalam kehidupan keluarga urban, penggunaan bahasa Makassar dapat menjadi simbol keakraban dan kedekatan emosional antaranggota keluarga. Pada saat yang sama, pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan bahasa Makassar juga dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan yang berkaitan dengan pendidikan, mobilitas sosial, dan tuntutan Dengan demikian, bahasa menjadi arena tempat identitas budaya dan aspirasi modern saling berinteraksi. Selain memiliki signifikansi akademik, penelitian ini juga memiliki relevansi sosial yang tinggi. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, pemahaman mengenai praktik pewarisan bahasa dalam keluarga urban dapat memberikan gambaran tentang strategi-strategi yang digunakan keluarga dalam mempertahankan identitas budaya mereka. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian antropologi dan sosiolinguistik mengenai hubungan antara bahasa, identitas, dan perubahan sosial, sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi berbagai upaya pelestarian bahasa daerah di Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis dengan menggunakan data kualitatif (Koentjaraningrat, 1. dengan perspektif etnografi yang bertujuan untuk memahami secara mendalam praktik penggunaan bahasa Makassar dalam keluarga urban serta makna yang dilekatkan oleh para pelaku terhadap pilihan bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Data kualitatif dipilih karena penelitian ini tidak berfokus pada pengukuran frekuensi penggunaan bahasa, melainkan pada pemahaman terhadap pengalaman, persepsi, dan pertimbangan sosial budaya yang melatarbelakangi penggunaan bahasa Makassar maupun bahasa Indonesia dalam lingkungan keluarga. Perspektif etnografi digunakan untuk mengungkap bagaimana praktik berbahasa berlangsung dalam konteks kehidupan sosial keluarga, serta bagaimana bahasa menjadi bagian dari proses pembentukan identitas dan relasi sosial dalam masyarakat urban. Sebagaimana dikemukakan oleh James P. Spradley . , etnografi memungkinkan peneliti memahami makna tindakan sosial berdasarkan perspektif pelaku budaya itu sendiri. Penelitian dilaksanakan pada keluarga-keluarga urban di Kota Makassar dan sekitarnya yang tinggal di kompleks perumahan yang sangat heterogen. Keluarga urban ini memiliki latar belakang etnis Makassar dan masih memiliki kemampuan aktif menggunakan bahasa Makassar dalam kehidupan sehari-hari. Informan 142 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 penelitian dipilih secara purposif dengan mempertimbangkan variasi usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, serta komposisi anggota keluarga. Keluarga urban yang terpilih ada tujuh keluarga dan telah tinggal di Kota Makassar dan Sungguminasa minimal 10 tahun dan memiliki anak dalam usia sekolah dasar. Tingkat pendidikan informan sangat bervariasi, yaitu SMP. SMA dan Sarjana. Profesi juga beragam ada karyawan perusahaan. Pegawai Negeri Sipil, bekerja dibidang jasa dan profesi lain seperti pedagang. Pemilihan informan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang lebih beragam mengenai praktik penggunaan bahasa dalam keluarga urban. Fokus penelitian diarahkan pada orang tua dan anak sebagai aktor utama dalam proses pewarisan bahasa antargenerasi. Dengan demikian, penelitian ini dapat menangkap berbagai bentuk negosiasi bahasa yang terjadi antara generasi yang lebih tua dan generasi muda dalam konteks kehidupan perkotaan yang terus Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi partisipatif dilakukan untuk mengamati secara langsung praktik komunikasi dalam lingkungan keluarga, termasuk situasisituasi ketika bahasa Makassar digunakan maupun ketika bahasa Indonesia lebih dominan digunakan. Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pandangan informan mengenai makna bahasa Makassar, alasan penggunaan atau pengurangan penggunaannya dalam keluarga, serta harapan mereka terhadap pewarisan bahasa kepada generasi muda. Selain itu, dokumentasi berupa catatan lapangan, foto kegiatan keluarga yang relevan, dan berbagai dokumen pendukung digunakan untuk memperkaya data penelitian. Kombinasi berbagai teknik pengumpulan data ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik penggunaan bahasa dalam keluarga Analisis data dilakukan secara bertahap sejak proses pengumpulan data berlangsung dengan mengikuti model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Matthew B. Miles. Michael Huberman, dan Johnny Saldaya . , yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Data hasil wawancara dan observasi ditranskripsikan, dikategorikan, kemudian dianalisis berdasarkan tema-tema yang muncul terkait keakraban, identitas, modernitas, dan pilihan bahasa dalam Proses analisis dilakukan secara interpretatif dengan memperhatikan konteks sosial yang melingkupi praktik penggunaan bahasa tersebut sehingga makna yang dibangun oleh informan dapat dipahami secara lebih mendalam. Dalam menafsirkan temuan penelitian, digunakan konsep modal linguistik . inguistic capita. dan kekuasaan simbolik . ymbolic powe. yang dikembangkan oleh Pierre Bourdieu . Menurut Bourdieu, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai modal simbolik yang memiliki nilai berbeda dalam suatu arena sosial. Dalam konteks penelitian ini, bahasa Indonesia dipahami sebagai bahasa yang memiliki legitimasi lebih tinggi karena terkait dengan pendidikan, pekerjaan, dan mobilitas sosial, sementara bahasa Makassar berfungsi sebagai modal Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban budaya yang berkaitan dengan identitas etnis dan kedekatan sosial. Melalui perspektif ini, penelitian berupaya menjelaskan bagaimana keluarga urban memaknai dan memilih bahasa tertentu berdasarkan posisi sosial serta orientasi masa depan yang mereka miliki. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teori hegemoni budaya yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci . untuk memahami bagaimana dominasi bahasa tertentu dapat diterima secara sukarela oleh masyarakat. Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni bekerja melalui pembentukan persetujuan sosial sehingga nilai-nilai dominan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan Dalam konteks penelitian ini, dominasi bahasa Indonesia dipahami bukan sebagai hasil paksaan, melainkan sebagai konsekuensi dari berbagai institusi sosial seperti pendidikan, media massa, dan birokrasi yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang lebih bernilai dan lebih menjanjikan mobilitas sosial. Melalui kerangka hegemoni budaya, penelitian ini berupaya menjelaskan bagaimana keluarga urban Makassar menegosiasikan penggunaan bahasa daerah di tengah kuatnya pengaruh modernitas dan dominasi simbolik bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. HASIL PEMBAHASAN Bahasa Makassar Sebagai Bahasa Keakraban Dalam Keluarga Urban Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi medium yang merepresentasikan hubungan sosial dan kedekatan emosional di antara para penuturnya. Dalam konteks keluarga, pilihan bahasa sering kali mencerminkan pola relasi yang terbangun antaranggota keluarga, termasuk bagaimana keakraban, rasa memiliki, dan identitas bersama diproduksi dan dipertahankan melalui interaksi sehari-hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa Makassar masih memiliki posisi penting sebagai bahasa keakraban dalam keluarga urban, meskipun penggunaannya mengalami perubahan yang cukup Bahasa Makassar tidak lagi menjadi bahasa utama yang digunakan oleh seluruh anggota keluarga, melainkan lebih banyak digunakan oleh orang tua, terutama dalam komunikasi antarpasangan atau ketika berinteraksi dengan kerabat di kampung halaman. Pada sebagian besar keluarga yang menjadi informan penelitian, komunikasi antara suami dan istri masih berlangsung menggunakan bahasa Makassar, khususnya ketika membicarakan persoalan rumah tangga, bercanda, atau mengekspresikan emosi secara spontan. Termasuk untuk pembicaraan yang sifatnya agak rahasia atau pembicaraan orang dewasa dimana orangtua tersebut berharap anaknya tidak mengetahui isi percakapan tersebut. Mereka dengan sengaja memilih menggunakan Bahasa Makassar, karena dianggap lebih luwes dan lebih mudah mengekspresikan diri melalui Bahasa Makassar sebagai alat komunikasi. Sebagian informan mengaku bahwa penggunaan bahasa Makassar terasa lebih alami dan lebih mampu menghadirkan kedekatan emosional dibandingkan bahasa Indonesia. Bahasa Makassar dipandang sebagai bahasa yang telah mereka gunakan sejak kecil sehingga 144 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 lebih nyaman digunakan dalam situasi-situasi yang bersifat personal. Seorang informan perempuan . menjelaskanbahwa dalam kesehariannya dia lebih suka menggunakan Bahasa Makassar ketika berbicara dengan suaminya. Ada beberapa alasannya, bahwa rasanya lebih merasa dekat secara emosional dan lebih nyaman dan santai ketika menggunakan Bahasa Makassar. Terutama ketika dalam suasana bercanda atau sedang marah atau termasuk ketika ada hal-hal sensitive yang ingin dibahas dengan suaminya atau istri. Selain alasan diatas, juga dijelaskan bahwa dia dan suaminya berasal dari kampung . yang sama. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bahasa Makassar masih berfungsi sebagai bahasa afektif yang digunakan dalam ruang-ruang interaksi yang intim. Dalam konteks ini, bahasa bukan sekadar sarana penyampaian pesan, tetapi juga menjadi simbol kedekatan emosional yang dibangun melalui pengalaman hidup Penggunaan bahasa Makassar oleh pasangan suami istri memperlihatkan bahwa bahasa daerah masih memiliki nilai simbolik yang kuat dalam relasi keluarga, meskipun tidak lagi dominan digunakan kepada generasi yang lebih muda. Selain digunakan dalam komunikasi antara suami dan istri, bahasa Makassar juga lebih sering muncul ketika keluarga berinteraksi dengan kerabat di kampung Beberapa informan mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa Makassar meningkat ketika mereka pulang kampung atau menerima kunjungan keluarga dari daerah asal. Dalam situasi tersebut, bahasa Makassar menjadi sarana untuk menunjukkan kedekatan kekerabatan sekaligus menegaskan identitas etnis mereka. seorang informan laki-laki . , menyatakan bahwa: Kalau sehari-hari di rumah, terkadang juga menggunakan Bahasa Indonesia terutama ketika bicara dengan anak atau dengan tetangga, meskipun tetangga itu saya tau juga sebenarnya adalah orang Makassar ji. Tapi ketika saya pulang kampung ke Malakaji dan bertemu dengan keluarga besar, saya selalu menggunakan Bahasa Makassaar, rasanya aneh dan risih kalau menggunakan Bahasa Indonesia. hal ini disebabkan karena saya lahir dan besar di kampung dan sejak kecil menggunakan Bahasa Daerah sebagai bahasa keseharian saya. Temuan ini Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Makassar dalam keluarga urban bersifat kontekstual. Bahasa tersebut tidak sepenuhnya hilang, tetapi digunakan pada ruang-ruang sosial tertentu yang dianggap memiliki kedekatan emosional dan nilai kultural yang kuat. Dengan kata lain, bahasa Makassar mengalami transformasi fungsi dari bahasa komunikasi utama menjadi bahasa yang lebih banyak digunakan untuk mengekspresikan hubungan sosial dan identitas Berbeda dengan komunikasi antar pasangadan hubungan dengan keluarga besar, interaksi antara orang tua dan anak justru didominasi oleh penggunaan bahasa Indonesia. Hampir seluruh informan mengakui bahwa mereka membiasakan penggunaan bahasa Indonesia sejak anak-anak masih kecil. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah agar anak lebih mudah mengikuti pelajaran di sekolah dan Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban mampu berkomunikasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Seorang ibu yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil . uru SMK) menjelaskan: Meskipun saya Suku Makassar, tetapi di rumah saya menggunakan Bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak-anak. Ada beberapa pertimbangan saya, bahwa kelak ketika anak saya sekolah pasti akan menggunakan Bahasa Indonesia. Demikian juga ketika anak-anak saya sedang bermain, juga menggunakan Bahasa Indonesia. sebenarnya suami saya Suku Bugis tetapi besar di Makassar, sehingga dia juga sudah lancar Bahasa Makassar. Tapi karena saya bertujuan membiasakan anak berbahasa Indonesia, sehingga dengan suamipun saya menggunakan Bahasa Indonesia. Kekurangannya adalah, ketika anak saya masuk di SMP, dan belajar Bahasa Daerah, ternyata anak saya kesulitan belajar. Banyak pernyataan serupa yang disampaikan oleh orangtua. Mereka menganggap bahwa bahasa Indonesia memiliki manfaat yang lebih besar bagi perkembangan pendidikan anak. Akibatnya. Bahasa Makassar tidak lagi menjadi bahasa pertama atau bahasa ibu yang diwariskan atau ditransmisikan kepada anak, meskipun orangtuanya masih sering menggunakan bahasa terebut. Salah satu informan seorang siswi SMP . Sebenarnya saya paham kalau mendengar orang lain mengunakan Bahasa Makassar, hanya saja saya susah menyampaikan. Meskipun mama saya ketika bicara dengan saudaranya selalu pakai Bahasa Makassar, tetapi ketika bicara dengan saya tetap menggunakan Bahasa Makassar. Bapak saya sebenarnya orang Jawa, dan sejak menikah dengan mama, kemudian ikut ke Makassar sejak Meskipun bapak saya orang Jawa, tetapi ketika pulang kampung, bapak saya sudah sangat lancar menggunakan Bahasa Makassar. Yang jadi masalah adalah karena ternyata di sekolah ada pelajaran Bahasa Daerah dan saya merasa agak kesulitan, terutama ketika menulis huruf lontarak. Namun demikian, diantara teman-teman kelasku, boleh dikata sayalah yang paling banyak memiliki kosa kata Bahasa Makassar. Meskipun kadang kesulitan mengerjakan tugas-tugas sekolah, tapi sampai saat ini saya belum terlalu tertarik memperlancar bahasa daerah, saya lebih tertarik belajar atau les bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda Informan lain yang juga menyampaikan hal yang kurang lebih sama. Salah satu informan siswa SD dan SMA juga menjelaskan bahwa meskipun ibu bapaknya asli Suku Makassar, tetapi mereka tidak tertarik belajar Bahasa Makassar. Data ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat jauh antara generasi orangtua dengan generasi anak usia sekolah dalam penggunaan Bahasa Makassar. Orangtua masih menjadikan Bahasa Makassar tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai media yang menunjukkan keakraban dan kedekatan emosional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa fungsi Bahasa Makassar sebagai bahasa ibu telah mengalami perubahan dan mulai terjadi penyempitan penggunaan yang lebih terkonsentrasi 146 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 pada generasi yang lebih tua. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam keluarga urban. Bahasa Makassar masih dipertahankan sebagai simbul keakraban dan kedekatan emosional dalam menjaga hubungan kekerabatan. Keakraban yang dahulu dibangun melalui penggunaan bahasa Makassar antargenerasi kini mulai bergeser ke bahasa Indonesia. Dengan demikian, bahasa Makassar tetap hadir dalam kehidupan keluarga urban, tetapi lebih berfungsi sebagai bahasa afektif yang digunakan pada ruang-ruang sosial tertentu dibandingkan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga. Temuan ini memperlihatkan bahwa modernitas tidak serta-merta menghilangkan bahasa daerah, tetapi mengubah pola penggunaannya sehingga bahasa tersebut bertahan dalam bentuk dan fungsi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Menjadi Orang Makassar: Bahasa dan Reproduksi Identitas Etnis Bahasa memiliki posisi yang sangat penting dalam proses pembentukan dan reproduksi identitas etnis. Dalam kajian antropologi dan sosiolinguistik, bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol budaya yang merepresentasikan keanggotaan seseorang dalam kelompok sosial tertentu. Melalui bahasa, individu mengenali asal-usulnya, membangun rasa memiliki terhadap komunitasnya, serta mereproduksi nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turuntemurun. Oleh karena itu, bahasa sering dipandang sebagai salah satu penanda etnisitas yang paling mudah dikenali dalam kehidupan sosial. Ketika seseorang berbicara menggunakan bahasa tertentu atau bahkan hanya menunjukkan logat tertentu, orang lain sering kali dapat mengidentifikasi latar belakang etnisnya. Dalam konteks masyarakat Makassar, bahasa Makassar tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi simbol yang menegaskan identitas ke-Makassar-an Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun bahasa Indonesia lebih dominan digunakan dalam komunikasi sehari-hari antara orang tua dan anak, sebagian besar orang tua masih memandang bahasa Makassar sebagai bagian penting dari identitas etnis yang perlu diketahui oleh generasi muda. Menariknya, dalam keluarga urban, kemampuan berbahasa Makassar tidak lagi diposisikan sebagai kebutuhan komunikasi utama, melainkan sebagai simbol yang menandakan keterhubungan seseorang dengan budaya dan asal-usul keluarganya. Dengan kata lain, bahasa Makassar tetap dianggap penting karena menjadi penanda bahwa seseorang adalah bagian dari komunitas etnis Makassar. Salah satu informan laki-laki . menyampaikan bahwa walaupun anak-anaknya hanya bisa menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi bapaknya tetap mengenalkan dan mengajarkan beberapa kosa kata Bahasa Makassar. Prinsipnya adalah meskipun anaknya tidak lancar menggunakan Bahasa Makassar, setidaknya tau sedikit kosa kata meskipun hanya paham artinya. Karena menurutnya, sebagai orang Makassar . , jangan sampai tidak tau sama sekali Bahasa Makassar, karena itu adalah identitas etnisitas Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Bahasa Makassar masih dipahami sebagai simbol identitas etnis meskipun penggunaannya dalam komunikasi seharihari semakin berkurang. Orang tua menyadari bahwa kemampuan berbahasa Makassar merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan anak-anak dengan akar budaya mereka. Dalam hal ini, bahasa tidak semata-mata dipandang sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai representasi identitas yang membedakan mereka dari kelompok etnis lainnya. Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Sumarsono . yang menjelaskan bahwa bahasa berfungsi sebagai simbol identitas sosial yang membedakan satu kelompok masyarakat dari kelompok lainnya. Bahasa menjadi sarana untuk menunjukkan rasa memiliki terhadap suatu komunitas budaya sekaligus memperkuat solidaritas kelompok. Dalam masyarakat multietnis seperti Kota Makassar, bahasa daerah sering kali menjadi cara paling mudah untuk mengenali latar belakang etnis seseorang karena bahasa mengandung unsur-unsur budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Senada dengan itu. Mahsun . menyatakan bahwa bahasa daerah merupakan salah satu unsur utama identitas budaya karena melalui bahasa suatu kelompok mempertahankan pengetahuan, nilai, dan memori kolektifnya. Oleh karena itu, hilangnya bahasa tidak hanya berarti berkurangnya kemampuan komunikasi, tetapi juga berpotensi melemahkan keterikatan individu dengan identitas budayanya. Meskipun demikian, hasil penelitian memperlihatkan bahwa reproduksi identitas etnis dalam keluarga urban tidak selalu berlangsung melalui penggunaan bahasa Makassar secara aktif. Sebagian besar anak informan mampu memahami ungkapanungkapan sederhana dalam bahasa Makassar, tetapi tidak terbiasa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa yang paling dominan dalam komunikasi dengan orang tua, saudara, maupun teman sebaya. Seorang informan . menjelaskan bahwa ketika dia pulang kampung atau keluarga dari kampung datang kerumahnya, dia tetap mampu memahami dan merespon kalau diajak bicara dalam Bahasa Makassar, hanya saja dia tetap menjawabnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan alasan karena lebih Temuan ini menunjukkan adanya perubahan dalam proses pewarisan identitas Jika pada generasi sebelumnya identitas kemakassaran direproduksi melalui penggunaan aktif bahasa Makassar dalam kehidupan sehari-hari, maka pada keluarga urban saat ini identitas tersebut lebih banyak diwariskan melalui kemampuan memahami bahasa, pengenalan nilai budaya, hubungan kekerabatan, serta pengalaman berinteraksi dengan keluarga besar di kampung halaman. Dengan kata lain, bahasa Makassar masih menjadi simbol identitas etnis, tetapi tidak lagi selalu digunakan sebagai bahasa utama komunikasi. Dalam pengamatan peneliti, identitas kemakassaran anak-anak lebih sering muncul pada situasi-situasi tertentu, seperti ketika menghadiri acara keluarga besar, berkunjung ke kampung halaman, atau berinteraksi dengan kakek dan nenek. Pada momen-momen tersebut, orang tua biasanya memperkenalkan istilah-istilah lokal, sapaan kekerabatan, maupun berbagai 148 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 nilai budaya yang dianggap penting untuk diketahui oleh anak-anak. Praktik ini menunjukkan bahwa keluarga masih menjadi arena utama reproduksi identitas etnis meskipun penggunaan bahasa Makassar sebagai bahasa komunikasi sehari-hari mengalami penurunan. Fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep habitus dan linguistic capital yang dikembangkan oleh Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu . , bahasa merupakan bentuk modal budaya yang memiliki nilai simbolik dalam suatu arena Bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi penanda posisi sosial dan identitas kelompok. Dalam konteks keluarga urban Makassar, bahasa Makassar tetap memiliki nilai simbolik yang tinggi karena merepresentasikan identitas etnis dan hubungan kekerabatan. Kemampuan memahami bahasa Makassar menjadi modal simbolik yang menunjukkan kedekatan seseorang dengan budaya asalnya. Namun, pada saat yang sama, bahasa Indonesia memiliki nilai yang lebih tinggi dalam arena pendidikan, pekerjaan, dan mobilitas Akibatnya, banyak orang tua lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka, meskipun tetap berusaha memperkenalkan bahasa Makassar sebagai bagian dari identitas budaya keluarga. Kondisi ini tercermin dalam pernyataan seorang informan perempuan . Saya sebenarnya ingin sekali anak saya bisa Bahasa Makassar, tapi karena sejak kecil sudah terbiasa bahasa Indonesia, ya. susah juga. Tapi yang penting adalah bahwa mereka tahu asal usulnya dan tahun budaya Makassar Pernyataan ini memperlihatkan adanya pergeseran orientasi dalam pewarisan identitas etnis. Orang tua tidak lagi menempatkan penguasaan bahasa Makassar sebagai syarat utama menjadi orang Makassar. Yang lebih penting bagi mereka adalah agar anak-anak tetap mengenali asal-usul budaya dan identitas etnisnya. Dengan demikian, reproduksi identitas etnis tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penggunaan bahasa secara aktif, tetapi juga berlangsung melalui berbagai bentuk simbol budaya lainnya. Di sisi lain, fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui teori hegemoni budaya Gramsci . Menurut Gramsci, dominasi suatu nilai atau praktik sosial dapat berlangsung melalui proses persetujuan sosial sehingga diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Dalam konteks penelitian ini, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam keluarga urban telah menjadi praktik yang dianggap wajar karena didukung oleh sekolah, media massa, birokrasi, dan berbagai institusi modern lainnya. Bahasa Indonesia dipersepsikan sebagai bahasa yang lebih penting untuk menunjang pendidikan dan masa depan anak. Akibatnya, banyak keluarga secara sukarela mengurangi penggunaan bahasa Makassar dalam komunikasi seharihari tanpa merasa bahwa mereka sedang meninggalkan identitas budayanya. Namun demikian, hegemoni bahasa Indonesia tidak sepenuhnya menghilangkan identitas etnis Makassar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bahasa Makassar masih dipertahankan sebagai simbol budaya yang menghubungkan individu dengan komunitas asalnya. Bahasa tetap menjadi rujukan utama ketika Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban keluarga mendefinisikan siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Bahkan ketika anak-anak tidak lagi fasih menggunakan bahasa Makassar, mereka tetap mengenali bahasa tersebut sebagai bagian dari identitas kemakassaran yang diwariskan oleh orang tua dan keluarga besarnya. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi orang Makassar di tengah kehidupan urban tidak lagi selalu ditandai oleh kemampuan menggunakan bahasa Makassar secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, bahasa tetap menjadi simbol etnisitas yang paling mudah dikenali dan dirujuk ketika individu mendefinisikan asal-usul budayanya. Fungsi komunikatif bahasa Makassar memang mengalami penyempitan akibat dominasi bahasa Indonesia dalam ruang pendidikan dan kehidupan modern, tetapi fungsi simboliknya sebagai penanda identitas etnis masih terus direproduksi melalui keluarga. Oleh karena itu, keluarga urban dapat dipahami sebagai arena tempat identitas kemakassaran terus dinegosiasikan, dipertahankan, dan diwariskan kepada generasi muda di tengah kuatnya pengaruh modernitas dan dominasi simbolik bahasa Indonesia. Dominasi Simbolik Bahasa Indonesia dan Negosiasi Bahasa Makassar di Ruang Keluarga. Dalam penelitian ini, data yang ditemukan menunjukkan bahwa dalam keluarga urban di Kota Makassar menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dominan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Baik sebagai alat komunikasi dengan keluarga inti maupun dalam lingkungan sosial tempat tinggal dan tempat kerja. Sementara itu. Bahasa Makassar lebih banyak digunakan pada konteks dan situasi tertentu seperti komunikasi antar suami dan istri. Selain itu, juga banyak digunakan saat interaksi dengan anggota keluarga yang tinggal di kampung, atau ketika mengekspresikan emosi dan kedekatan tertentu. Kondisi ini menunjukkan adanya relasi kuasa bahasa yang tidak seimbang di dalam ruang keluarga, di mana Bahasa Indonesia menempati posisi dominan, sedangkan Bahasa Makassar berada pada posisi subordinat. Salah satu informan laki-laki . yang tinggal disalah satu perumahan menjelaskan bahwa, saat berkomunikasi dengan anak-anak dia akan pakai Bahasa Indonesia, hal ini sengaja dilakukan untuk memudahkan anak bergaul di sekolah atau dilingkungan tempat tinggal. Demikian juga dengan hasil wawancara dengan anak . menjelaskan bahwa pada dasarnya dia bias paham ketika mendengar orang lain menggunakan Bahasa Makassar, hanya saja merasa malu dan tidak percaya diri ketika disuruh bicara. Data ini menunjukkan bahwa pergeseran penggunaan bahasa daerah dalam keluarga urban tidak semata-mata disebabkan oleh hilangnya identitas etnis. Pergeseran ini juga seolah-olah menunjukkan hirarki dalam bahasa. Bahasa Indonesia ditempatkan pada posisi yang memiliki nilai lebih tinggi dalam kehidupan sosial Ini juga menunjukkan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia dalam keluarga urban bukan sekedar pilihan komunikasi, melainkan juga berkaitan dengan cara keluarga memaknai Bahasa Indonesia sebagai sumber daya social yang penting 150 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 bagi masa depan anak. Dalam konteks ini. Bahasa Indonesia dipandang memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan Bahasa Makassar karena berhubungan dengan pendidikan formal, pekerjaan, dan mobilitas sosial. Temuan ini juga menunjukkan bahwa keluarga urban tersebut sedang melakukan proses negosiasi bahasa. Di satu sisi, mereka mengakui dan menerima dominasi Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang memiliki nilai social tinggi, namun disisi lain, mereka tetap mempertahankan Bahasa Makassar sebagai symbol identitas etnis dan kedekatan emosional. Sejalan dengan penjelasan di atas. Sumarsono . menjelaskan bahwa pilihan bahasa dalam keluarga sering kali dipengaruhi oleh pertimbangan prestise sosial dan peluang ekonomi. Bahasa nasional cenderung dianggap memiliki nilai instrumental yang lebih tinggi dibandingkan bahasa daerah sehingga lebih banyak diwariskan kepada generasi muda. Akibatnya, bahasa daerah mengalami penyempitan ruang penggunaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal menarik lainnya, ada seorang informan perempuan . menjelaskan bahwa saat ini yang paling penting adalah mamastikan anaknya lancer berbicara dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, kalau bahasa daerah tidak pernah menjadi perioritas. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dominasi Bahasa Indonesia telah diterima sebagai sesuatu yang normal sehingga berkurangnya penggunaan Bahasa Makassar tidak dipandang sebagai kehilangan budaya. Padahal, dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi mengurangi transmisi bahasa antargenerasi. Perspektif Antonio Gramsci membantu menjelaskan mengapa dominasi tersebut dapat diterima tanpa perlawanan yang berarti. Menurut Gramsci . , kelompok dominan mempertahankan kekuasaan melalui hegemoni, yaitu kemampuan membangun persetujuan sosial sehingga nilai-nilai yang mereka produksi diterima sebagai kebenaran bersama. Dalam konteks kebahasaan, sekolah, media massa, dan institusi negara secara terus-menerus mereproduksi gagasan bahwa Bahasa Indonesia merupakan bahasa kemajuan, modernitas, dan keberhasilan sosial. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdullah . , modernitas di Indonesia sering kali ditandai oleh proses standardisasi budaya yang menjadikan identitas lokal harus bernegosiasi dengan identitas nasional. Bahasa Indonesia kemudian menjadi simbol modernitas yang memperoleh legitimasi kuat dalam kehidupan masyarakat urban. Akibatnya, keluarga turut mereproduksi pandangan tersebut melalui praktik bahasa sehari-hari. Meskipun demikian, temuan penelitian menunjukkan bahwa Bahasa Makassar tidak sepenuhnya hilang dari ruang domestik. Bahasa ini masih digunakan pada situasi-situasi tertentu yang berkaitan dengan kedekatan emosional dan identitas etnis. Praktik ini memperlihatkan bagaimana individu mengelola berbagai bentuk modal secara bersamaan. Bahasa Indonesia digunakan sebagai modal budaya untuk memperoleh keuntungan sosial, sedangkan Bahasa Makassar dipertahankan sebagai modal simbolik yang menghubungkan individu dengan asal-usul budaya dan jaringan kekerabatannya. Sementara itu, dari perspektif Gramsci, penggunaan Bahasa Makassar dalam ruang domestik dapat dipahami sebagai bentuk negosiasi terhadap Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban hegemoni bahasa nasional. Meskipun tidak menolak dominasi Bahasa Indonesia secara terbuka, keluarga tetap menciptakan ruang-ruang kecil bagi reproduksi identitas lokal. emuan ini sejalan dengan penelitian Sagita . mengenai keluarga urban di Makassar yang menunjukkan bahwa identitas kemakassaran tetap dipertahankan melalui simbol budaya, meskipun kemampuan berbahasa daerah generasi muda semakin menurun. Dalam kondisi tersebut, bahasa tidak lagi menjadi alat komunikasi utama, melainkan lebih berfungsi sebagai simbol identitas dan penanda asal-usul etnis. Dengan demikian, dominasi Bahasa Indonesia dalam keluarga urban Makassar menunjukkan beroperasinya kekuasaan simbolik dan hegemoni budaya yang menempatkan bahasa nasional sebagai bahasa yang lebih bernilai. Namun pada saat yang sama. Bahasa Makassar tetap hadir sebagai ruang negosiasi identitas dan memori budaya. Praktik berbahasa dalam keluarga urban pada akhirnya memperlihatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan arena tempat relasi kuasa, identitas etnis, dan modernitas diproduksi dan dinegosiasikan secara terus-menerus. Dari Bahasa Warisan ke Bahasa Pilihan Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah terjadinya perubahan pola pewarisan Bahasa Makassar dalam keluarga urban. Jika pada generasi sebelumnya Bahasa Makassar diwariskan secara alami melalui interaksi sehari-hari dalam keluarga dan lingkungan sosial, pada keluarga urban saat ini proses tersebut tidak lagi berlangsung secara otomatis. Bahasa Makassar tidak lagi menjadi bahasa pertama yang diterima anak sejak kecil, melainkan berubah menjadi bahasa yang penggunaannya bergantung pada pilihan, pertimbangan, dan strategi sosial orang Dengan kata lain. Bahasa Makassar mengalami transformasi dari bahasa warisan menjadi bahasa pilihan. Temuan lainnya adalah terjadinya perubahan pola pewarisan Bahasa Makassar dalam keluarga urban. Jika pada generasi sebelumnya Bahasa Makassar diwariskan secara alami melalui interaksi sehari-hari dalam keluarga dan lingkungan sosial, pada keluarga urban saat ini proses tersebut tidak lagi berlangsung secara otomatis. Bahasa Makassar tidak lagi menjadi bahasa pertama yang diterima anak sejak kecil, melainkan berubah menjadi bahasa yang penggunaannya bergantung pada pilihan, pertimbangan, dan strategi sosial orang tua. Dengan kata lain. Bahasa Makassar mengalami transformasi dari bahasa warisan menjadi bahasa pilihan. Seorang informan perempuan . menjelaskan, dulu ketika masa kecilnya tidak memiliki pilihan lain selain Bahasa Makassar, semua orang dirumahnya berbahasa Makassar, sedangkan anak-anaknya sekarang kondisinya berbeda, karena dari kecil sudah terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Pernyataan ini menunjukkan adanya perubahan mekanisme transmisi bahasa Bahasa yang sebelumnya diwariskan secara alamiah melalui praktik keseharian kini tidak lagi menjadi bagian utama dari proses sosialisasi anak. Bahasa 152 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Indonesia menggantikan posisi tersebut sebagai bahasa pertama yang diajarkan dan digunakan dalam lingkungan keluarga. Hal serupa diungkapkan oleh seorang laki-laki . Sebenarnya saya dan istri saya pakai Bahasa Makassar, tetapi kalau bicara sama anak biasanya langsung pakai Bahasa Indonesia, jadinya anak-anak saya sebenarnya paham Bahasa Makassar tapi tidak lencar bicara. Kondisi ini menunjukkan bahwa pewarisan bahasa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan orang tua dalam berbahasa daerah, tetapi juga oleh keputusan sadar mengenai bahasa apa yang dianggap penting untuk ditransmisikan kepada anak. Dalam konteks keluarga urban. Bahasa Indonesia dipandang memiliki nilai yang lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan modern sehingga memperoleh prioritas lebih besar dibandingkan Bahasa Makassar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keberlangsungan suatu bahasa sangat bergantung pada proses transmisi antargenerasi di lingkungan keluarga. Ketika keluarga tidak lagi menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa utama komunikasi dengan anak, maka proses pergeseran bahasa akan semakin cepat terjadi. Dalam kasus keluarga urban Makassar, pergeseran tersebut tampak bukan karena adanya penolakan terhadap Bahasa Makassar, melainkan karena perubahan orientasi sosial yang menjadikan Bahasa Indonesia lebih strategis untuk masa depan anak. Dari perspektif antropologi, perubahan ini mencerminkan transformasi budaya yang terjadi dalam keluarga sebagai agen utama sosialisasi. Koentjaraningrat . menjelaskan bahwa keluarga merupakan lembaga pertama tempat berlangsungnya pewarisan nilai, norma, dan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Ketika pola komunikasi dalam keluarga berubah, maka mekanisme pewarisan budaya juga ikut mengalami perubahan. Dalam konteks penelitian ini, perubahan tersebut terlihat pada berkurangnya transmisi Bahasa Makassar sebagai salah satu unsur penting identitas budaya etnis. Dalam konteks masyarakat urban. Bahasa Indonesia memiliki nilai simbolik yang lebih tinggi karena berkaitan dengan pendidikan formal, birokrasi, dan mobilitas sosial. Oleh karena itu, orang tua cenderung lebih banyak menginvestasikan Bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka. Pilihan tersebut merupakan strategi reproduksi sosial yang bertujuan memberikan peluang yang lebih besar bagi anak untuk beradaptasi dalam lingkungan modern. Seorang informan lain . menjelaskan bahwa dia menginginkan anak-anaknya bisa diterima dilingkungan sekolah karena semua lembaga pendidikan formal baik di kota Makassar dan sekitarnya maupun di dataran tinggi Gowa seperti Kecamatan Tompobulu. Biringbulu. Bungaya dan Bontolempangan hampir semuanya sudah menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Namun demikian, temuan penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya penggunaan Bahasa Makassar tidak selalu diikuti oleh hilangnya identitas etnis. Sebagian besar anak masih mengidentifikasi dirinya sebagai orang Makassar meskipun tidak mampu menggunakan Bahasa Makassar secara aktif. Seorang anak Bahasa Makassar dalam Keluarga Urban . mengakui bahwa saya orang Makassar , hanya saja saya memang tidak terlalu menguasai Bahasa Makassar dan lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses pewarisan identitas etnis masih berlangsung, meskipun tidak lagi sepenuhnya melalui bahasa. Identitas ke-Makassaran diwariskan melalui cerita keluarga, hubungan kekerabatan, praktik budaya, makanan tradisional, serta pengalaman berinteraksi dengan keluarga besar. Bahasa tetap menjadi simbol identitas, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya medium reproduksi budaya. Fenomena ini menggambarkan apa yang oleh Abdullah . disebut sebagai dinamika budaya masyarakat modern, yaitu ketika unsur-unsur budaya lokal tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi mengalami redefinisi sesuai dengan konteks sosial yang baru. Bahasa Makassar tidak lagi menjadi alat komunikasi utama, tetapi tetap dipertahankan sebagai simbol asal-usul, penanda etnisitas, dan sumber memori kolektif keluarga. Dalam Dalam konteks tersebut, keluarga urban sesungguhnya sedang berada dalam ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, mereka menyadari pentingnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mendukung mobilitas sosial dan keberhasilan pendidikan. Di sisi lain, mereka tetap menganggap Bahasa Makassar sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda. Akibatnya, pewarisan Bahasa Makassar berlangsung secara selektif dan terbatas pada situasi tertentu, seperti ketika berinteraksi dengan keluarga besar, menghadiri acara adat, atau berkunjung ke kampung halaman. Transformasi ini menunjukkan bahwa pergeseran bahasa dalam keluarga urban bukan sekadar persoalan hilangnya kemampuan berbahasa daerah, melainkan perubahan cara masyarakat memaknai dan mewariskan kebudayaan. Bahasa Makassar yang dahulu diwariskan secara otomatis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari kini menjadi objek pilihan yang harus diputuskan secara sadar oleh orang tua. Dengan demikian, modernitas tidak sepenuhnya menghapus keberadaan Bahasa Makassar, tetapi mengubah mekanisme pewarisannya dari praktik budaya yang berlangsung secara alamiah menjadi praktik budaya yang bersifat reflektif dan selektif. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa Bahasa Makassar dalam keluarga urban tidak lagi berfungsi sebagai bahasa utama komunikasi antargenerasi, tetapi tetap memiliki peran penting sebagai bahasa keakraban dan kedekatan emosional. Penggunaan Bahasa Makassar lebih banyak ditemukan dalam komunikasi antara suami dan istri, interaksi dengan keluarga besar, serta situasi yang melibatkan ekspresi emosional Sementara itu. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dominan dalam komunikasi orang tua dan anak karena dianggap lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan dan kehidupan sosial di lingkungan perkotaan. Meskipun kemampuan berbahasa Makassar generasi muda cenderung menurun, identitas kemakassaran tetap direproduksi dalam keluarga. Anak-anak masih mengidentifikasi diri sebagai orang Makassar melalui hubungan kekerabatan, nilai-nilai budaya, dan kesadaran 154 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 akan asal-usul etnisnya. Temuan ini menunjukkan bahwa bahasa tetap menjadi simbol penting identitas etnis, meskipun reproduksi identitas budaya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penguasaan bahasa daerah secara aktif. Dominasi Bahasa Indonesia dalam keluarga urban memperlihatkan beroperasinya kekuasaan simbolik dan hegemoni budaya yang menempatkan bahasa nasional sebagai bahasa yang memiliki nilai sosial, pendidikan, dan ekonomi lebih Dalam perspektif Bourdieu. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai modal linguistik dan modal budaya yang dianggap mampu mendukung mobilitas sosial generasi muda. Sementara itu, perspektif Gramsci menunjukkan bahwa dominasi tersebut diterima secara sukarela oleh keluarga melalui keyakinan bahwa penguasaan Bahasa Indonesia merupakan syarat penting untuk mencapai keberhasilan di masa Namun demikian. Bahasa Makassar tetap dipertahankan dalam ruang-ruang tertentu sebagai simbol identitas dan kedekatan sosial. Penelitian ini juga menemukan adanya transformasi mekanisme pewarisan bahasa dari bahasa warisan menjadi bahasa pilihan. Jika pada generasi sebelumnya Bahasa Makassar diwariskan secara alami melalui interaksi sehari-hari, pada keluarga urban saat ini penggunaannya semakin bergantung pada keputusan dan kesadaran orang tua. Dari perspektif antropologi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergeseran penggunaan Bahasa Makassar bukan sekadar persoalan bahasa, melainkan bagian dari proses negosiasi antara identitas lokal dan modernitas. Keluarga urban menjadi arena tempat reproduksi identitas etnis, strategi mobilitas sosial, dan transformasi budaya berlangsung secara bersamaan, sehingga keberlanjutan Bahasa Makassar sangat ditentukan oleh komitmen keluarga dalam mentransmisikannya kepada generasi berikutnya. DAFTAR PUSTAKA