SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 13 No. 1, 2025 P71-82 E-ISSN 2798-8678 Transformasi Desain Kebaya Bali: Menelusuri Perkembangan dari Tradisional hingga Kontemporer Ida Ayu Ari Mahadewi Desain Mode. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Institut Seni Indonesia Bali Jl. Nusa Indah. Sumerta. Kec. Denpasar Tim. Kota Denpasar. Bali 80235. Indonesia iaarimahadewi@isi-dps. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi desain kebaya Bali dari aspek tradisional hingga kontemporer. Kebaya Bali sebagai salah satu simbol budaya yang kaya, mengalami perubahan dalam desain dan penggunaannya seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi. Penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen desain kebaya Bali yang telah berubah, serta faktorfaktor yang mempengaruhi perubahan tersebut, seperti teknologi, media sosial, dan globalisasi. Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, data diperoleh melalui studi literatur, wawancara dengan perancang kebaya, dan observasi langsung terhadap kebaya yang diproduksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kebaya Bali mempertahankan unsur-unsur tradisional, namun telah terjadi adaptasi dalam hal pemilihan bahan, motif, dan teknik pembuatan yang lebih modern. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika pelestarian budaya dalam konteks perubahan zaman. Kata Kunci: Kebaya Bali. Desain Tradisional. Desain Kontemporer. Transformasi This study aims to analyze the transformation of Balinese kebaya design from a traditional to a contemporary aspect. As one of the symbols of a rich culture, the Balinese kebaya has changed its design and use along with the development of time and the influence of globalization. This research identifies the design elements of the Balinese kebaya that have changed and the factors influencing these changes, such as technology, social media, and globalization. Using a qualitative approach with descriptive analysis, data were collected through literature studies, interviews with kebaya designers, and direct observation of the kebayas produced. The results of this study show that although the Balinese kebaya retains traditional elements, there has been an adaptation in terms of material selection, motifs, and the use of more modern manufacturing techniques. This research contributes to understanding the dynamics of cultural preservation in the context of changing times. Keywords: Balinese Kebaya. Traditional Design. Contemporary Design. Transformation Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 PENDAHULUAN Kebaya merupakan hasil akulturasi berbagai budaya asing yang pernah berinteraksi dengan Indonesia, seperti budaya Tiongkok. India. Arab, dan Portugis. Melalui hubungan dagang yang berlangsung dalam jangka waktu panjang, terjadilah pertukaran budaya yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh terhadap budaya lokal, termasuk dalam bidang busana. Salah satu contohnya dapat dilihat dari pakaian tradisional Tiongkok bernama bei-zi, yakni pakaian longgar berlengan panjang dengan bagian depan terbuka yang dirapatkan di sepanjang tepinya (Triyanto, 2011, p. Kebaya merupakan blus tradisional wanita Indonesia yang biasanya terbuat dari kain tipis, dan dikenakan bersama sarung, batik, atau kain tenun tradisional lainnya seperti songket dengan beragam motif (Pentasari, 2007, p. Menurut Desmond Morris yang dikutip dalam Barnard . , pakaian berfungsi sebagai pajangan budaya . ultural displa. yang merefleksikan keterikatan budaya pemakainya. Dengan demikian, busana dapat menjadi penanda identitas nasional dan budaya seseorang. Saat ini, kebaya Bali adalah salah satu bentuk busana tradisional yang memiliki nilai estetika tinggi dan mendalam dalam budaya Bali. Kebaya Bali merupakan bagian integral dari identitas budaya masyarakat Bali dan telah menjadi simbol ekspresi sosial, spiritual, dan estetika dalam berbagai konteks, mulai dari upacara adat hingga peragaan busana modern. Seiring dengan berjalannya waktu, kebaya Bali mengalami perkembangan yang signifikan, terutama pada desain dan penggunaannya di masyarakat. Faktor-faktor seperti pengaruh globalisasi, perubahan sosial, dan teknologi turut mempengaruhi transformasi desain kebaya Bali. Sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas kebaya dari sudut pandang historis, simbolik, dan estetika. Kajian lain berfokus pada peran kebaya dalam membentuk identitas perempuan dalam jurnal berjudul Kebaya dan Perempuan: Sebuah Narasi tentang Identitas oleh Nita Trisamaya . , kemudian adapula kajian berfokus pada perkembangan kebaya pada masa ke masa di daerah Jawa berjudul Kebaya Kontemporer sebagai Pengikat antara Tradisi dan Gaya Hidup Masa Kini oleh Fita Fitria dan Novita Wahyuningsih . Namun, sebagian besar kajian tersebut cenderung berfokus pada aspek sosial-kultural. Walaupun beberapa telah membahas perubahan kebaya tetapi belum secara mendalam menganalisis perubahan kebaya di daerah Bali secara visual maupun material dari masa ke masa. Oleh karena itu, penting untuk melakukan kajian mendalam mengenai bagaimana kebaya Bali berkembang dari desain tradisional menuju desain kontemporer. Perjalanan perkembangan kebaya dapat diamati melalui berbagai aspek yang mengalami perubahan, mulai dari bentuk siluet, jenis tekstil yang digunakan, teknik pembuatan, hingga nilai estetika serta aspek ergonomis yang turut menyesuaikan dengan dinamika zaman. (Talitha Nagata & Yan Yan Sunarya, 2. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri perkembangan desain kebaya Bali dari perspektif tradisional hingga Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan desain kebaya Bali. Menganalisis bagaimana kebaya Bali dapat beradaptasi dengan tren global tanpa kehilangan unsur budaya dan identitasnya. Teori yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teori Strukturasi yang dikemukakan oleh Anthony Giddens . Giddens menjelaskan bahwa praktik sosial terjadi dalam hubungan timbal balik antara struktur dan agensi. Struktur, dalam hal ini nilai-nilai tradisional, adat istiadat, dan norma berpakaian di Bali menjadi kerangka di mana individu bertindak, namun agen budaya dalam hal ini Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 adalah desainer, pengguna kebaya, dan komunitas juga memiliki kuasa untuk mengubah struktur tersebut melalui inovasi. Transformasi desain kebaya Bali dipahami sebagai hasil negosiasi antara pelestarian unsur tradisional dan kebutuhan Misalnya, perubahan bentuk kebaya, pemilihan bahan, atau pengaruh tren mode tetap berada dalam bingkai budaya Bali. Selain itu, adapula teori transformasi budaya oleh Stuart Hall . yang menekankan bahwa budaya tidak statis, tetapi senantiasa diproduksi ulang melalui proses representasi. Objek budaya seperti kebaya dapat mengalami pergeseran makna ketika direproduksi dalam konteks baru. Dalam hal ini, kebaya Bali tidak lagi hanya dipahami sebagai busana upacara adat, tetapi juga sebagai fashion item yang mewakili gaya hidup kontemporer, identitas perempuan modern, bahkan sebagai media ekspresi artistik. Teori ini membantu menjelaskan bagaimana elemen-elemen desain kebaya berubah mengikuti perkembangan zaman dari fungsi, estetika, hingga simbolisme dengan tetap membawa muatan budaya lokal. Kemudian adapula teori Glokalisasi oleh Roland Robertson . dimana konsep glokalisasi merujuk pada budaya local yang tidak terhapus oleh globalisasi, tetapi beradaptasi dengannya. Kebaya Bali masa kini menunjukkan proses glokalisasi ketika desainnya mulai menggunakan bahan impor, potongan modern, atau tampil dalam konten media sosial dan panggung mode Namun, identitas lokal tetap dijaga melalui penggunaan motif khas, teknik tradisional, atau makna filosofis yang tetap relevan. Dengan teori ini, perubahan kebaya tidak dilihat sebagai ancaman terhadap budaya, melainkan sebagai bentuk keberlangsungan identitas Bali dalam lanskap global. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika desain kebaya Bali dalam konteks perubahan sosial dan budaya. Hasil penelitian ini juga memberikan wawasan kepada perancang busana dan masyarakat mengenai pentingnya pelestarian nilai budaya dalam mengadaptasi desain kebaya Bali ke dalam konteks kontemporer. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara utama, yaitu studi literatur, wawancara, dan observasi. Studi literatur dilakukan dengan cara menganalisis berbagai referensi yang berkaitan dengan kebaya Bali, mencakup aspek sejarah, budaya, serta perkembangan desain kebaya. Wawancara mendalam juga dilakukan dengan perancang busana Bali untuk memperoleh informasi tentang perubahan desain kebaya Bali dari waktu ke waktu. Narasumber dari wawancara untuk penelitian ini adalah Tjokorda Gde Abinanda Sukawati atau yang akrab disapa Tjok Abi merupakan desainer lokal asal Bali yang fokus karyanya mengangkat kearifan lokal Bali. Tjok Abi juga merupakan Ketua APPMI Bali (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesi. yang telah menggelar pergelaran Bali Fashion Tendance 2024. Selain studi literatur dan wawancara, dilakukan juga pengamatan langsung terhadap kebaya Bali yang diproduksi di Bali dalam beberapa tahun terakhir untuk melihat perkembangan desain dan penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan transformasi desain kebaya Bali dalam konteks budaya dan sosial. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Asal-usul kebaya memiliki latar belakang historis yang menunjukkan adanya pengaruh lintas budaya. Secara etimologis, istilah AokebayaAo diduga berasal dari bahasa Arab habaya, yang merujuk pada jenis pakaian panjang dengan bukaan di bagian Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Sejarawan Denys Lombard juga menyatakan bahwa istilah tersebut kemungkinan berasal dari kata Arab kabaAo, yang memiliki arti pakaian. Hingga saat ini, kata abaya dalam bahasa Arab masih digunakan untuk menyebut busana tunik panjang yang lazim dikenakan oleh perempuan. Selain pengaruh Arab, istilah kebaya juga diperkenalkan melalui interaksi dengan bangsa Portugis yang tiba di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Pada periode tersebut, kebaya merujuk pada busana atasan atau blus yang dikenakan oleh perempuan di wilayah Nusantara. (Fitria & Wahyuningsih, 2. Perkembangan kebaya di Bali mulai terlihat sejak masa kedatangan Belanda pada periode 1919Ae1931. Pada tahap awal, penggunaan kebaya terbatas pada kalangan bangsawan atau keturunan puri, sedangkan perempuan Bali dari kalangan masyarakat biasa masih menjalani aktivitas sehari-hari tanpa mengenakan penutup tubuh bagian atas. Namun, ketika menjalankan ritual persembahyangan di tempat-tempat suci Hindu seperti merajan dan pura, mereka mengenakan kemben atau bulang sebagai atasan, serta kamen sebagai bawahan. Kemben atau bulang merupakan kain selebar 10 cm dan sepanjang 2,5 meter yang dililitkan pada bagian atas tubuh, sedangkan kamen adalah kain selebar 90Ae100 cm dengan panjang sekitar 2 meter yang digunakan untuk menutupi tubuh bagian bawah (Sari, 2. Dipercaya bahwa hal tersebut sudah turun-temurun dari masa Gambar 1. Pakaian Bali 1940-an kerajaan Majapahit dimana perempuan di Kerajaan sudah menggunakan kemben untuk menutupi dada (Sumber: detiknew. sedangkan perempuan strata bawah masih bertelanjang dada dan sebagian sudah melindungi badan bagian atas dengan kain tipis (Kusrianto & F. , 2023, p. Gambar 2. Penggambaran Perempuan era Majapahit pada Patung Teracotta (Sumber: (Kusrianto & F. , 2. Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai protes dan kecaman terhadap perempuan Bali yang tampil tanpa mengenakan pakaian atas, sementara gambar atau foto perempuan Bali tanpa busana atas pun mulai dieksploitasi secara komersial. Perubahan sosial yang dipicu oleh masa penjajahan Belanda serta interaksi dengan berbagai daerah lain di Indonesia turut mempercepat transformasi penggunaan kebaya di Bali. Seiring waktu, kebaya berkembang menjadi pakaian adat yang dikenakan oleh perempuan Bali dalam berbagai kegiatan keagamaan, upacara adat, dan acara seremonial lainnya. Dalam konteks ini, kebaya kemudian berfungsi sebagai simbol identitas budaya masyarakat Bali. Meskipun demikian, masyarakat Bali memandang bahwa kebaya yang dikenakan oleh perempuan tidak memiliki dimensi sakral yang kuat, melainkan lebih berakar pada nilai-nilai budaya dan tradisi yang keberadaannya perlu dilestarikan. (Sari, 2. Kebaya Bali memiliki karakteristik khas, yang salah satunya adalah penggunaan kain selendang yang dililitkan pada bagian pinggang tubuh aksen pelengkap busana (Hadi et al. , 2. Pada bagian ini, akan mengkaji lebih dalam tentang transformasi desain kebaya Bali dari masa ke masa. Dalam analisis ini, perubahan yang terjadi pada desain kebaya Bali akan dilihat dari beberapa dimensi, seperti bahan, motif, teknik pembuatan, serta konteks sosial dan budaya. Transformasi ini dapat dibagi ke dalam beberapa periode yang mencerminkan pergeseran dalam preferensi estetika, pengaruh global, dan adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat. Kebaya Bali Awal (Sebelum 1950-a. Pada masa ini, kebaya Bali memiliki ciri khas yang sangat erat kaitannya dengan tradisi dan nilainilai agama Hindu Bali. Kebaya Bali tradisional dirancang untuk digunakan dalam berbagai upacara keagamaan dan acara adat, seperti pernikahan, upacara penyucian, dan acara besar lainnya. Kebaya Bali tradisional pada masa tersebut menggunakan bahan alami seperti kain tenun Bali umumnya adalah tenun ikat, songket, dan kain mori yaitu kain polos berwarna putih. Motif yang digunakan pada kebaya Bali tradisional biasanya sangat terinspirasi oleh alam dan simbolisme spiritual. Motif khas Bali yang ditemukan pada kebaya adalah motif tanaman seperti daun, bunga teratai, dan motif geometris yang terkait dengan filosofi kehidupan dan agama Gambar 3. Pakaian Bali Tahun 1947 Hindu. Warna-warna yang dominan adalah (Sumber : pinterest/geheugenvannederland. merah, emas, hitam, dan hijau, yang (Bali 1. ) dianggap memiliki makna spiritual tertentu. Kebaya Bali tradisional memiliki desain yang lebih longgar dan bersifat Terdapat model kebaya kutu baru yang dikenakan bersama dengan kain bali . , serta kebaya dengan lengan panjang yang dikenakan pada acara tertentu. Kebaya ini juga sering dilengkapi dengan aksesoris tradisional seperti selendang, kain penutup dada . , dan sabuk emas. Pembuatan kebaya Bali pada masa ini dilakukan secara manual, dengan teknik menjahit tangan dan sulam yang rumit. Pembuatan kebaya membutuhkan waktu yang lama, karena setiap detail dan motif harus dikerjakan dengan sangat teliti. Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Kebaya Bali pada Pertengahan Abad ke-20 . 0-an hingga 1980-a. Pada periode ini, kebaya Bali mulai mengalami beberapa perubahan seiring dengan masuknya pengaruh global, terutama dari dunia fashion Masuknya gaya modern dan tren fesyen Eropa ke Indonesia membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan mode di tanah air, yang mulai beralih menuju gaya Barat. Dampak dari perubahan ini juga terlihat pada kebaya Bali, yang mulai mengalami penyesuaian mengikuti tren fesyen yang berkembang pada masa tersebut. (Talitha Nagata & Yan Yan Sunarya. Pengaruh ini terlihat dalam pemilihan bahan, teknik pembuatan, dan bahkan penggunaan kebaya itu Pada masa tersebut pemilihan bahan kebaya mulai ada yang menggunakan bahan sintetis seperti polyester dan rayon yang lebih mudah didapat dan lebih terjangkau dari segi harga daripada bahan alami seperti kain tenun Bali. Penggunaan bahan sintetik ini menyebabkan kebaya lebih ringan dan lebih mudah dirawat, namun seringkali mengurangi kualitas estetika dan keunikan dari kebaya Bali. Meskipun motif tradisional Bali tetap ada, kebaya pada periode ini mulai mengadaptasi motif-motif Barat, seperti bunga besar dan motif yang lebih Kebaya mulai lebih dipengaruhi oleh Model kebaya juga mulai mengalami perubahan, dengan adanya desain kebaya berlengan pendek atau tanpa lengan yang digunakan untuk acara lebih kasual. Gambar 4. Kebaya Bali Pertengahan Abad 20-an Kebaya juga mulai dikenakan dalam (Sumber : Dewimagazine, 2. pernikahan dengan desain yang lebih moderen dan lebih terbuka, menggantikan kebaya dengan lengan panjang yang lebih Meskipun teknik tradisional masih digunakan, pembuatan kebaya semakin banyak menggunakan mesin jahit, yang mempercepat proses produksi dan memungkinkan kebaya diproduksi lebih banyak dalam waktu singkat. Namun, beberapa elemen tradisional, seperti sulaman tangan, masih tetap dipertahankan dalam desain kebaya untuk menjaga kualitas dan kesan mewah. Kebaya Bali pada Era Globalisasi . 0-an hingga 2000-a. Pada akhir abad ke-20, globalisasi dan perkembangan media sosial mulai memengaruhi kebaya Bali. Kebaya Bali mengalami modernisasi yang signifikan, baik dalam desain, bahan, maupun cara penggunaannya. Di era ini kebaya mengalami perkembangan dan variasi yang lebih modern. Pemerintah mendukung penggunaan kebaya sebagai bagian dari budaya nasional, dan banyak desainer mulai menciptakan kebaya dengan sentuhan modern, termasuk penggunaan bahan dan desain yang lebih Terutama dengan munculnya kebaya sentuhan modern karya Anne Avantie serta para desainer lainnya (Sastro, 2021, p. Beberapa perubahan utama pada periode ini yakni kebaya Bali kontemporer mulai menggunakan bahan yang lebih bervariasi, seperti satin, brokat, dan kain organza. Kain tenun Bali masih digunakan Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 untuk acara adat, namun kain-kain baru tersebut dipilih untuk memberikan tampilan yang lebih modern dan glamor. Kebaya Bali pada periode ini juga mulai mengadopsi berbagai motif baru, dengan perpaduan antara motif tradisional Bali dan motif-motif modern yang dipengaruhi oleh tren fashion dunia. Warna-warna lebih cerah dan beragam, seperti pastel dan warna neon, mulai muncul dalam desain kebaya. Kebaya pada periode ini semakin variatif. Selain model kebaya kutu baru, muncul kebaya dengan desain lebih longgar dan modern, seperti kebaya peplum, kebaya mini, dan kebaya dengan bahan transparan atau semi-transparan. Model kebaya kontemporer ini tidak hanya digunakan pada acara adat, tetapi juga pada pesta dan acara formal lainnya. Kemajuan teknologi menyebabkan penggunaan mesin bordir dan digital printing menjadi lebih umum. Hal ini memungkinkan pembuatan kebaya dengan motif yang lebih kompleks dan cepat diproduksi. Penggunaan teknologi ini juga membuat kebaya lebih terjangkau untuk berbagai kalangan. Gambar 5. Kebaya Bali pada Era Globalisasi (Sumber: Wayan Gunadi, 1. Kebaya Bali Kontemporer . 0-an hingga Sekaran. Pada periode ini, kebaya Bali mengalami transformasi yang sangat signifikan, terutama karena pengaruh dari perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin Globalisasi telah memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat Bali, mencakup berbagai aspek kehidupan. Masuknya unsur-unsur budaya asing membawa transformasi mendasar dalam pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perkembangannya saat ini, terlihat bahwa desain kebaya mengalami inovasi yang cukup pesat, antara lain melalui munculnya kebaya modifikasi dengan model lengan pendek di atas siku, serta penggunaan bahan kebaya yang cenderung transparan (Sri Suasmini, 2. Beberapa perkembangan yang terjadi pada Kebaya Bali kontemporer masa tersebut dapat dilihat dari pemilihan bahan yang lebih sering menggunakan bahan-bahan lebih modern dan mudah diperoleh, seperti lace yaitu kain renda, satin, dan crepe yakni kain dengan tekstur bergelombang dan terlihat agak berkerut. Namun, bahan tradisional seperti tenun Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Bali dan songket masih digunakan dalam kebaya untuk acara tertentu dan biasanya digunakan pada acara-acara penting yang lebih eksklusif, sehingga tetap menjaga nilai budaya dan tradisi Bali. Kebaya Bali kontemporer sering kali menggabungkan motif tradisional dengan elemen-elemen modern, seperti floral prints, aksen metalik, atau kombinasi warnawarna pastel dan neon. Desainer kebaya Bali saat ini berusaha menggabungkan keindahan tradisi dengan gaya hidup modern, yang dapat menarik perhatian generasi Model kebaya pada masa tersebut sangat beragam, mulai dari kebaya dengan lengan panjang dan rapat yang digunakan untuk upacara adat, hingga kebaya modern dengan potongan terbuka atau bahkan tanpa lengan yang lebih cocok digunakan pada acara pesta atau pernikahan internasional. Banyak desainer yang berinovasi dengan memasukkan elemen fashion internasional ke dalam kebaya, menciptakan potongan yang lebih ringan dan lebih mudah dikenakan. Kebaya Bali kontemporer sering kali menggunakan kombinasi antara teknik tradisional dan modern, seperti sulaman tangan yang dipadukan dengan mesin bordir otomatis. Penggunaan digital printing juga semakin populer untuk mencetak motif-motif rumit pada kebaya dengan cepat dan biaya yang lebih efisien. Platform seperti Instagram dan Pinterest turut mempengaruhi cara kebaya Bali dikenakan. Banyak desainer kebaya Bali yang mengadaptasi tren global dengan memperkenalkan kebaya Bali ke pasar Hal ini mempengaruhi kebaya untuk lebih fleksibel digunakan pada berbagai kesempatan, tidak hanya terbatas pada acara adat atau upacara. Gambar 6. Kebaya Bali Kontemporer Lengan Pendek atas Siku (Sumber : Instagram/Ida Ayu Gita Srinita, 2. Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Transformasi Kebaya Tradisional Menuju Kontemporer Transformasi budaya merupakan suatu proses perubahan dari kebudayaan yang telah ada menuju bentuk kebudayaan baru, yang diawali melalui dialog dan interaksi antarbudaya (Sachari & Sunarya, 2. Dalam fase dialog budaya, terjadi pertemuan dan pertukaran antara berbagai unsur budaya, meliputi gagasan, nilai, hingga praktik budaya. Pertukaran ini kemudian mengarah pada tahap sintesis, yakni proses penggabungan elemen-elemen tersebut untuk membentuk konfigurasi budaya baru yang bersifat khas dan berbeda. Dalam dinamika transformasi budaya, inkulturasi dan akulturasi menjadi dua aspek fundamental yang menentukan arah perubahan nilai-nilai budaya. Inkulturasi dipahami sebagai mekanisme adaptasi di mana unsur-unsur budaya baru diintegrasikan secara bertahap ke dalam struktur budaya yang telah mapan, tanpa sepenuhnya menghilangkan identitas budaya asal. (Harwanto, 2. Selain itu. Sachari dan Sunarya . menegaskan bahwa transformasi budaya juga dapat berlangsung secara alami sebagai respons terhadap fenomena modernisasi. Gambar 7. Bagan Teori Transformasi Budaya (Sumber: (Sachari & Sunarya, 2. ) Pada masa lampau, desain kebaya berpegang erat pada pakem dan aturan tradisional yang ketat. Namun, perkembangan kebaya kontemporer telah membuka ruang kreativitas yang lebih luas bagi para perancang. Desain kebaya modern kini menampilkan kebebasan dalam mengombinasikan berbagai elemen, tanpa keterikatan mutlak terhadap nilai-nilai sakral dan norma kebaya tradisional (Talitha Nagata & Yan Yan Sunarya, 2. Modifikasi kebaya bukan dimaksudkan untuk menghilangkan substansi budayanya, melainkan justru berfungsi memperkaya ekspresi budaya melalui penciptaan estetika baru yang lebih sesuai dengan preferensi masyarakat modern. Dengan demikian, perubahan ini memperlihatkan bagaimana kebaya mampu beradaptasi dan bertahan melalui integrasi nilai tradisional dan Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Tabel 1. Transformasi Kebaya dari Masa ke Masa Periodisasi Karakteristik Desain Sebelum 1950-an (Tradisiona. - Model tertutup, longgar - Lengan Panjang - Dipadukan dengan kain tenun ikat/songket/mori - Bahan alami . atural fiber. seperti katun, rayon, mori. - Warna earth tone atau warna alami dengan kombinasi emas, hitam, dan merah - Jahit tangan, sulam - Desain mulai mengeksplorasi bentuk - Bahan mulai mengarah ke serat sintetis . - Motif campuran - Mulai ada lengan pendek - Jahit mesin mulai - Desain lebih variatif seperti peplum, mini, semi-transparan - Bahan lebih glamor seperti satin, brokat, - Warna variatif dari pastel hingga neon - Kombinasi teknik seperti bordir mesin & tangan 1950Ae1980-an (Awal Globalisas. 1990Ae2000an (Modernisasi & Medi. Sekarang (Kontemporer & Globalisasi Lanju. - Model bervariasi dan lebih berani, seperti lengan pendek diatas - Material modern seperti lace, crepe, satin modern - Motif digital, floral prints, metalik - Pengaruh gaya Motivasi Perubahan - Kebutuhan adat dan - Fungsi ritual dan simbol - Tunduk pada norma sosial dan pakem Makna Budaya & Simbolik - Simbol identitas dan kesucian perempuan Bali - Representasi dengan alam dan agama Hindu - Pengaruh mode Barat - Efisiensi dan akses bahan - Komersialisasi - Perubahan peran sosial - Pengaruh - Dukungan - Meningkatnya melalui media - Globalisasi & media sosial - Fashion sebagai - Kebutuhan pasar & daya tarik generasi - Kebaya mulai identitas ganda okal-globa. - Mulai menjadi simbol adaptasi - Simbol ekspresi estetika - Menghadirkan dalam bentuk - Simbol - Kebaya sebagai medium dialog budaya dan tren - Simbol inklusivitas gaya warisan budaya SIMPULAN Transformasi desain kebaya Bali tidak hanya menunjukkan perkembangan estetika, tetapi juga mencerminkan perubahan sosial-budaya masyarakat Bali secara Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 lebih luas. Proses transformasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari globalisasi yang membawa masuk nilai-nilai dan selera mode internasional, perkembangan teknologi produksi busana seperti digital printing dan bordir mesin, hingga peran media sosial dalam membentuk persepsi dan tren visual di kalangan generasi muda. Dampaknya, kebaya tidak lagi terbatas pada fungsi ritual atau simbol keagamaan, tetapi telah berevolusi menjadi bagian dari ekspresi individual dan gaya hidup modern, termasuk dalam konteks acara non-tradisional dan platform digital. Fenomena ini sekaligus menunjukkan adanya pergeseran makna dari simbol sakral dan kolektif menuju representasi identitas yang lebih personal dan fleksibel. Meskipun demikian, transformasi ini tidak serta-merta menghilangkan seluruh ciri tradisional kebaya Bali. Elemen visual seperti penggunaan motif floral dan geometris yang berakar dari nilai spiritual Hindu Bali, struktur siluet yang mengikuti bentuk tubuh secara anggun, serta material lokal seperti songket dan tenun ikat tetap Hal ini menjadi bukti bahwa adaptasi tidak selalu berarti kehilangan, melainkan dapat menjadi bentuk keberlanjutan identitas budaya dalam format yang lebih kontemporer. Keterbatasan penelitian ini terletak pada fokus analisis yang dominan pada aspek visual dan historis, sementara dimensi sosialAiseperti pengalaman pemakai, konstruksi gender, serta fungsi simbolik kebaya dalam kehidupan sehari-hariAibelum tergali secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dapat mengangkat pendekatan interdisipliner, dengan menyoroti perspektif pengguna kebaya lintas generasi, hubungan antara desain kebaya dan narasi keberlanjutan . ustainable fashio. , serta potensi kebaya sebagai bentuk resistensi budaya terhadap homogenisasi mode global. DAFTAR RUJUKAN Fitria. , & Wahyuningsih. Kebaya Kontemporer Sebagai Pengikat Antara Tradisi Dan Gaya Hidup Masa Kini. Jurnal ATRAT, 7, 128Ae138. Hadi. Noviyanti. , & Setiyawati. Preservasi Kebaya Tradisional di Era Modernisasi (Studi Kasus Salon Pengantin Yudistira Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jembe. Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research Scientific Advanced, 2. , 80Ae89. https://doi. org/10. 61579/future. Harwanto. Memaknai Inkulturasi dalam Pendidikan Seni dan Konservasi. Tonika: Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Seni, 1. Article 1. Kusrianto. , & F. Pesona Kebaya & Batik: Busana Nasional Wanita Indonesia Nan Cantik & Anggun (Cetakan Pertam. CV. Andi Offset. https://balaiyanpus. id/opac/detail-opac?id=348063 Pentasari. Chic In Kebaya: Catatan Inspiratif Untuk Tampil Anggun Berkebaya (Jakart. Literata Lintas. //perpustakaan. id/opac/index. php?p=show_detail&id =25196 Sachari. , & Sunarya. Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi Budaya. Penerbit ITB. Sari. Eksistensi Kebaya Bali AuReady to WearAy pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Bali Membangun Bali, 3. https://doi. org/10. 51172/jbmb Sastro. (Ed. Kebaya Melintasi Masa: Kumpulan Tulisan 28 Perempuan Tentang Kebaya (Cetakan pertam. PT Pustaka Obor Indonesia. Ida Ayu Ari Mahadewi (Transformasi A) Volume 13 No. 1, 2025 Sri Suasmini. Kebaya Sebagai Busana Ke Pura Dalam Representasi Perempuan Kontemporer Di Kota Denpasar. Mudra Jurnal Seni Budaya, 32. , 141Ae148. https://doi. org/10. 31091/mudra. Talitha Nagata, & Yan Yan Sunarya. Perkembangan Kebaya Kontemporer Sebagai Transformasi Budaya. Jurnal Seni Dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain, 5. , 239Ae254. https://doi. org/10. 25105/jsrr. Trismaya. Kebaya Dan Perempuan: Sebuah Narasi Tentang Identitas. Jurnal Senirupa Warna, 6. , 151Ae159. Triyanto. Eksistensi Kebaya dari Masa ke Masa (Ed. Cet. KTSP. DAFTAR INFORMAN Abinanda Sukawati. Tjokorda Gde . Desainer dan pemilih De Galuh Butik, wawancara tanggal 16 Maret 2025 di De Galuh Butik Jl. Moh. Yamin VII No. Sumerta Kelod. Denpasar Selatan. Kota Denpasar. Bali