Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik pada Lansia dengan Hipertensi di Komunitas Lansia Kelapa Gading The Relationship Between Dietary Patterns and Physical Activity Among the Elderly With Hypertension in the Kelapa Gading Elderly Community Yesha Febriyanti1. Eri Dian Maharsi2. Endah Purnamasari3 1Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 2Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia 3Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Jakarta. Indonesia Email : yeshafebriyanti22@gmail. KATA KUNCI Hipertensi. Lansia. Pola makan. Aktivitas fisik. Gaya hidup sehat ABSTRAK Latar Belakang: Hipertensi adalah kondisi tekanan darah tinggi kronis yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serius dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia, termasuk Indonesia, dengan prevalensi mencapai 34,1% pada populasi umum dan 69,5% pada lansia usia Ou75 tahun (WHO, 2023. Dinas Kesehatan DKI Jakarta, 2. Penyebab hipertensi multifaktorial meliputi faktor genetika, penuaan vaskular, pola makan tidak sehat, serta kurangnya aktivitas fisik, yang secara signifikan memengaruhi kejadian hipertensi pada lansia (Widiyono et al. , 2022. Meher et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pola makan dan aktivitas fisik terhadap kejadian hipertensi pada lansia di Komunitas Kelapa Gading. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional desktiprif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 80 lansia di Komunitas Kelapa Gading menggunakan teknik convenience sampling berdasarkan kriteria inklusi dan Data dikumpulkan melalui pengukuran tekanan darah serta kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Analisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa 62,5% responden mengalami Terdapat hubungan signifikan antara pola makan dengan hipertensi . <0,. dan aktivitas fisik dengan hipertensi . <0,. Lansia dengan pola makan buruk dan aktivitas fisik rendah cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi masalah serius pada lansia di Komunitas Kelapa Gading. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 terutama pada tahap 2 dengan risiko komplikasi tinggi. Terdapat hubungan signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi, di mana lansia dengan pola makan buruk dan aktivitas fisik rendah lebih rentan mengalami Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup melalui edukasi pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik perlu menjadi fokus utama intervensi kesehatan. KEYWORDS Hypertension. Elderly. Dietary patterns. Physical activity. Healthy ABSTRACT Introduction: Hypertension is a chronic condition characterized by high blood pressure that significantly increases the risk of serious cardiovascular diseases and is a leading cause of morbidity and mortality worldwide, including Indonesia, where the prevalence reaches 34. 1% in the general population and 69. 5% among the elderly aged Ou75 years (WHO, 2023. DKI Jakarta Health Office, 2. The etiology of hypertension is multifactorial, involving genetic factors, vascular aging, unhealthy dietary habits, and physical inactivity, all of which notably influence the incidence of hypertension in the elderly (Widiyono et al. Meher et al. , 2. This study aims to analyze the relationship between dietary patterns and physical activity with the occurrence of hypertension among the elderly in the Kelapa Gading community. Method: This study is a descriptive analytic observational quantitative study with a cross-sectional design involving 80 elderly individuals from the Kelapa Gading community, selected using convenience sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected through blood pressure measurements and questionnaires, including the Food Frequency Questionnaire (FFQ) and the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data analysis was performed using the ChiSquare test. Result: The results indicated that 62. 5% of respondents suffered from There were significant associations between dietary patterns and hypertension . < 0. as well as physical activity and hypertension . < 0. Elderly individuals with poor dietary habits and low physical activity levels tended to have higher blood pressure. Conclusion: Hypertension remains a serious health issue among the elderly in the Kelapa Gading community, particularly at stage 2 with a high risk of complications. Significant relationships exist between dietary patterns, physical activity, and hypertension, with those having poor diet and low physical activity being more vulnerable. Therefore, lifestyle modifications through education on healthy eating and increased physical activity should be the primary focus of health Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 PENDAHULUAN Hipertensi adalah kondisi kronis dengan tekanan darah tinggi yang berkontribusi besar terhadap kematian global dan penyakit kardiovaskular (WHO, 2023. Davis et al. , 2. Indonesia, prevalensi hipertensi pada lansia cukup tinggi, mencapai 34,1% (Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Lansia sangat rentan mengalami perubahan fisiologis seperti penurunan elastisitas pembuluh darah (Nilsson. Pola makan yang tidak sehat, khususnya konsumsi garam berlebih dan lemak jenuh, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama hipertensi (Meher et al. , 2. Penelitian terdahulu mengonfirmasi bahwa pola makan buruk dan aktivitas meningkatkan risiko hipertensi pada lansia (Mustofa et al. , 2022. Pratama et , 2. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan cross-sectional Populasi penelitian adalah lansia berusia Ou60 tahun yang berada di Komunitas Lansia Kelapa Gading sebanyak 100 orang, dengan sampel 80 convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan Pengukuran sphygmomanometer. Kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menilai pola makan dan Kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk aktivitas fisik. Analisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 2 dengan uji Chi-Square untuk menguji hubungan pola makan dan Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas YARSI. Setiap lengkap dan memberikan persetujuan tertulis . nformed consen. Data responden dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk tujuan ilmiah. HASIL Penelitian ini melibatkan 80 Komunitas Lansia Kelapa Gading dengan memperoleh data berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Food Frequency Questionnaire (FFQ), dan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Karakteristik Usia Responden Jumlah Minimum Maximum Rata-rata Total Usia Distribusi umur responden dalam penelitian ini menunjukkan bahwa usia terendah adalah 62 tahun dan usia tertinggi adalah 85 tahun. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Rata-rata usia responden adalah 71,1 Tabel 2. Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin Responden Jenis Jumlah (%) Kelamin Laki-laki Perempuan Total Hasil distribusi jenis kelamin pada Tabel diatas menunjukan bahwa dari total 80 responden lansia yang Komunitas Lansia Kelapa Gading, sebanyak 20 orang . %) berjenis kelamin laki-laki dan 60 orang . %) berjenis kelamin perempuan. Analisis Univariat Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kejadian Hipertensi Responden Tekanan Jumlah (%) Darah Normotensi Prehipertensi Hipertensi Stage 1 Hipertensi Stage 2 Hipertensi Stage 3 Total Dari total 80 responden, sebanyak 31 orang . ,8%) berada dalam kategori tekanan darah dalam batas normal. Sebanyak 13 orang . ,3%) tergolong prehipertensi, yaitu kondisi tekanan darah yang sudah lebih tinggi dari normal tetapi belum masuk kategori Sisanya, 36 responden . %) telah mengalami hipertensi yang terbagi ke dalam tiga tingkatan: 12 orang . %) dengan hipertensi tahap 1, 15 orang . ,8%) dengan hipertensi tahap 2, dan 9 orang . ,3%) pada tahap 3 yang merupakan bentuk hipertensi paling berat. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pola Makan Responden Pola Makan Jumlah (%) Kurang Cukup Baik Total Distribusi kategori pola makan responden dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kurang, cukup, dan baik. Dari total 80 responden, sebanyak 21 orang . ,3%) memiliki pola makan dalam kategori kurang, 29 orang . ,3%) berada pada kategori cukup, dan 30 orang . ,5%) berada pada kategori baik. Tabel 5. Distribusi Nilai Aktivitas Fisik Responden Aktivitas Jumlah (%) Fisik Rendah Sedang Tinggi Total Dari hasil klasifikasi aktivitas fisik, sebagian besar berada pada kategori aktivitas fisik sedang yaitu sebanyak 31 orang . %). Responden dengan aktivitas fisik rendah berjumlah 27 orang . ,8%), sementara responden dengan aktivitas fisik tinggi hanya 21 orang . ,3%). Analisis Bivariat Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 Tabel 6. Uji Chi-Square Hubungan Pola Makan dengan kejadian Hipertensi Uji Nilai PStatistik Pearson Chi-Square Likelihood 13. Ratio Linear-by9. Linear Association Tabel 7. Uji Chi-Square Hubungan Pola Makan dengan kejadian Hipertensi Uji Nilai PStatistik Pearson Chi-Square Likelihood 15. Ratio PEMBAHASAN Penelitian mengenai hubungan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia di Komunitas Lansia Kelapa Gading. Hasil analisis menunjukkan hubungan signifikan antara pola makan dan hipertensi . = 0,. , di mana lansia dengan pola makan kurang sehat memiliki risiko hipertensi lebih tinggi. Pola konsumsi tinggi garam, lemak jenuh, dan rendah serat menjadi faktor pemicu utama. Selain itu, aktivitas fisik juga menunjukkan hubungan bermakna dengan kejadian hipertensi . < 0,. Lansia dengan aktivitas fisik rendah memiliki prevalensi hipertensi lebih tinggi dibandingkan yang beraktivitas sedang hingga tinggi. Aktivitas fisik terbukti secara fisiologis mendukung regulasi tekanan darah melalui peningkatan fungsi vaskular dan Temuan dalam penelitian ini sebelumnya yang meneliti keterkaitan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia. Penelitian oleh Maqfirah . di Puskesmas Lembang Majene menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi, di mana nilai pvalue sebesar 0,000 menandakan keterkaitan yang sangat kuat. Dalam responden memiliki pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi tinggi garam, lemak jenuh, serta rendah serat. Sebanyak 84,3% responden yang memiliki pola makan buruk mengalami Secara fisiologis, pola meningkatkan tekanan darah melalui mekanisme retensi natrium dan cairan, pembuluh darah. Hal ini mendukung hasil penelitian saat ini, yang juga menemukan bahwa lansia dengan pola makan tidak seimbang memiliki risiko dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola makan cukup atau baik. Sementara itu, penelitian oleh Novriani et al . di Desa Tarai Bangun. Wilayah Kerja UPT Puskesmas Tambang, menyoroti hubungan antara aktivitas fisik dan derajat hipertensi pada lansia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 50% lansia mengalami hipertensi derajat II. Uji Chi-Square menghasilkan nilai p = 0,021, yang menandakan hubungan Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan kejadian hipertensi. Studi ini menunjukkan bahwa lansia yang kurang beraktivitas memiliki risiko lebih besar mengalami peningkatan tekanan darah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian saat ini yang menunjukkan bahwa lansia dengan aktivitas fisik rendah lebih cenderung mengalami hipertensi dibandingkan mereka yang memiliki tingkat aktivitas sedang hingga tinggi. Kedua penelitian terdahulu tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa gaya hidup, terutama pola makan dan aktivitas fisik, memainkan peran penting dalam pengelolaan Ketidakseimbangan asupan gizi dan kurangnya aktivitas fisik terbukti menjadi faktor risiko signifikan terhadap terjadinya hipertensi. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memperkuat bukti ilmiah bahwa intervensi berbasis gaya hidup, melalui perbaikan pola makan dan peningkatan aktivitas fisik, sangat diperlukan dalam upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi pada kelompok usia lanjut. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi pada lansia di Komunitas Kelapa Gading. Pola makan yang tidak seimbang, seperti tingginya konsumsi garam, lemak rendahnya asupan serat dan kalium, terbukti berkontribusi besar terhadap peningkatan tekanan darah pada kelompok usia lanjut. Hal ini diperkuat bertambahnya usia, lansia mengalami penurunan fungsi fisiologis seperti penurunan elastisitas pembuluh darah dan kemampuan filtrasi ginjal, yang menjadikan tubuh lebih rentan terhadap efek negatif dari pola makan yang tidak sehat. Selain pola makan, tingkat aktivitas fisik juga memiliki peran penting dalam pengendalian tekanan Penelitian ini menemukan bahwa lansia dengan tingkat aktivitas fisik rendah cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang melakukan aktivitas fisik secara rutin, meskipun dalam intensitas ringan hingga sedang. Secara fisiologis, aktivitas fisik mampu meningkatkan elastisitas pembuluh darah, memperbaiki aliran darah, serta penurunan tekanan darah. Aktivitas fisik juga berperan dalam pengendalian berat badan dan pengaturan kadar hormon stres, yang keduanya berkaitan erat dengan kejadian hipertensi. Kedua faktor tersebut yaitu pola makan dan aktivitas fisik saling melengkapi dan menjadi determinan penting dalam risiko hipertensi pada Temuan ini konsisten dengan sejumlah penelitian terdahulu yang terhadap gaya hidup, termasuk perbaikan diet dan peningkatan aktivitas fisik, merupakan pendekatan yang efektif dalam upaya promotif dan preventif terhadap hipertensi. Dengan demikian, program kesehatan lansia di mengintegrasikan edukasi tentang pola makan seimbang dan pembiasaan aktivitas fisik yang sesuai dengan kemampuan lansia. Junior Medical Journal. Volume 3. No. December 2025 E-ISSN-2964-4968 UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih yang sebesarbesarnya disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis selama membuat jurnal ini Fisik dan Asupan Makan Dengan Hipertensi Pada Lanjut Usia. Jurnal Untuk Masyarakat Sehat, 8. WHO. Hypertension Fact Sheet. World Health Organization. DAFTAR PUSTAKA