19 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 IMPLEMENTASI PENERAPAN SAPTA PESONA WISATA TERHADAP KUNJUNGAN WISATAWAN DI TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK DESA MERTAK KECAMATAN PUJUT KABUPATEN LOMBOK TENGAH Oleh Roma Yana1 . I Made Murdana2 & Lalu M. Iswadi Athar3 1,2,3Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram. Indonesia Email : 1romayanaramayana@gmail. com, 2imdmurdana@gmail. com, & 3miswadiathar@gmail. Article History: Received: 03-12-2024 Revised: 05-12-2024 Accepted: 06-122024 Keywords: Implementasi. Kunjungan. Penerapan Sapta Pesona. TWA Gunung Tunak. Abstract: Dalam penelitian ini dibuat untuk tujuan mengetahui kegiatan masyarakat di Desa Mertak Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah dalam menerapkan implementasi program Sapta Pesona sudah berjalan baik atau belum sehingga pengembangan obyek wisata dapat berjalan dengan arah yang Untuk jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dengan tujuan utama untuk menemukan data dengan interprestasi yang tepat untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadan secara obyektif. Sedangkan Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah observasi, kuesioner, wawancara, dokumentasi, dan studi Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa wilayah Desa Mertak khususnya di obyek wisata Taman Wisata Alam Gunung Tunak telah melakukan implementasi penerapan program Sapta Pesona sudah berjalan dengan baik. Fakta di lapangan dari data obseravasi dan kuesioner dari wisatawan bahwa penerapan Sapta Pesona Pariwisata berjalan secara sinergis antara satu dengan yang lain, yang dimana Sapta Pesona Pariwisata memiliki 7 aspek yaitu adalah: 1. Aman, 2. Tertib, 3. Bersih, 4. Sejuk, 5. Indah, 6. Ramah, 7. Kenangan dan Pemerintah Desa Mertak memiliki kebijakan dimana kebijakan tersebut adalah menjadikan Gunung Tunak sebagai aset wisata yang vital dikelola secara profesional oleh forum AuTUNAK BESOPOKAy yang dimana di bawah naungan BKSDA NTB sehingga berkaitan dengan pengembangan objek wisata yang berdasarkan pada Program Sapta Pesona sebagai acuan. Pemerintah dan masyarakat desa Mertak dapat memahami pentingnya penerapan Sapta Pesona Pariwisata dilakukan secara baik karena dampaknya memberikan keuntungan yaitu kesejahteraan ekonominya. PENDAHULUAN Perkembangan informasi dan teknologi menjadikan semua aspek dalam pembangunan nasional khususnya daerah dapat terakses untuk mengikuti Akses pemberitan tentang pembangunan daerah di seluruh wilayah a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Indonesia dapat dicermati dan kadang pula dikritisi oleh penduduk yang peduli dengan masalah-masalah di dalamnya. Pemanfaatan akses teknologi untuk promosi daerah sangat dibutuhkan saat ini karena semua penduduk Indonesi sudah terakses dengan internet yang mejadikan daerahnya dapat dijual sehingga mendatangkan investor. Salah satu aspek atau bidang dalam pembangunan nasional khususnya daerah adalah pembangunan pariwisata dimana aspek ini masih menjadi primadona untuk mendatangkan pendapatan negara khususnya daerah yang mempunyai asset wisatannya. Dalam pembangunan pariwisata setiap daerah harus benar-benar dapat mensejahterakan warga yang secara langsung maupun tidak langsung sehingga yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 dapat implemantasikan. Sebagaimana dalam undang-undang tersebut bahwa penyelenggaraan pembangunan pariwisata di Indonesia harus berdasarkan pada asas manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan, kemandiran, kelestarian, partisipasif, berkelanjutan, demokratis, , partisipasif, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan dan kesatuan yang semuanya diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan pariwisata dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekahasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk Sebuah obyek wisata atau destinasi wisata dapat dikembangkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan melalui upaya peningkatan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasata maupun masyarakat. Salah satunya adalah dengan penerapan SAPTA PESONA yang menjadi faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke sebuah destinasi. Selain itu dengan penerapan Sapta Pesona Wisata akan berpengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan warga khususnya pelaku wisata di daerah yang mempunyai obyek wisata yang potensial dan menjadi aset untuk kehidupan masyarakat di wilayah destinasi tersebut. Nusa Tenggara Barat merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Mandalika di tingkat nasional hingga internasional pada tahun 2014 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Selain sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata. Mandalika juga merupakan salah satu dari 10 destinasi pariwisata perioritas nasional (Kanom & Darmawan, 2. Sejak resmi beropersi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Mandalika terus mulai dibangun dan dikembangkan baik dalam hal pembangunan infrastruktur, aksesibilitas, penataan ruang kawasan dan lainnya. NTB juga merupakan daerah tujuan wisata kedua setelah Pulau Bali banyak sekali destinasi wisata yang saat ini mulai banyak dikenal dan sering menjadi kunjungan wisatawan saat libur panjang seperti libur akhir tahun atau lebaran atau libur cuti bersama salah satunya adalah di sirkuit Mandalika. Salah satu destinasi wisata yang ada di sekitar wilayah mandalika adalah TWA Gunung Tunak yang berada di Desa Mertak. Obyek wisata ini sangat layak dikunjungi wisatawan nusantara ataupun wisatawan asing. Potensi wisata alam, sejarah, pendidikan serta budaya banyak diwilayah Desa tersebut. Saat ini TWA Gunung Tunak sudah menjadi destinasi yang menasional maupun menginternasional karena banyak asset disana. Destinasi wisata tersebut antara lain Pantai Ujung dan Pantai Bilesayak serta obyek wisata yang lain yang tersebar di wilayah tersebut. Dengan destinasi wisata yang ada di Desa Mertak yang begitu banyak tentunya menjadikan kesadaran pemangku wilayah beserta warganya agar daerah selalu terus dikunjungi wisatawan sehingga dapat mensejahterakan penduduknya. Salah satu tolak a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 ukurannya adalah penerapan SAPTA PESONA di destinasi wisata yang tersebar di Desa Mertak Kecamatan Pujut. Sehingga dalam penelitian ini bermaksud ingin mengetahui sejauh mana kegiatan implementasi penerapan Program Sapta Pesona sudah berjalan dengan baik atau belum sehingga pengembangan destinasi wisatanya dapat berjalan dengan tepat. Untuk itu membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang Implementasi Penerapan Sapta Pesona Wisata Terhadap Kunjungan Wisatawan Di Taman Wisata Alam Gunung Tunak Desa Mertak Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. LANDASAN TEORI Arti AuPariwisataAy belum banyak diungkapkan oleh para ahli bahasa dan pariwisata Indonesia. Kata AupariwisataAy berasal dari dua suku kata, yaitu pari dan wisata. Pari berarti banyak, berkali-kali dan berputar-putar, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling. Pada hakikatnya berpariwisata menurut Gamal Suwantoro . adalah proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain diluar tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya adalah karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti karena sekedar ingin tahu, menambah pegalaman ataupun untuk belajar. Istilah pariwisata berhubungan erat dengan pengertian perjalanan wisata yaitu sebagai suatu perubahan tempat tinggal sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah. Pariwisata menurut Nyamon S. Pendit . , adalah salah satu jenis industri baru yang mampu memperrcepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Menurut Pendit, pariwisata telah dikenal menjadi beberapa jenis antara lain: wisata budaya, wisata konvensi, wisata kesehatan, wisata bulan madu, wisata olahraga, wisata industri, wisata alam, wisata komersial, wisata ziarah, wisata buru. Orang berwisata tentu di dorong oleh sesuatu dari dalam dirinya yang kita kenal dengan istilah motivasi berwisata menurut Soekadijo yang dikutip Ahyuni dan Mariya . dapat diklasifikasikan dalam 4 . kelompok yaitu motif fisik . ebutuhan badaniah seperti olahraga, rekreasi, kesehatan dl. , motif budaya . ata cara, kebiasaan, bangunan, musik, tarian dan sebagainy. , motif interpersonal . isalnya ingin bertemu dengan teman, keluarga, tetangga, berkenalan dengan orang-orang tertentu, atau tokoh terkena. , motif status atau prestise misalnya jika mengunjungi suatu tempat maka akan naik statusnya. Motif motif tersebut diturunkan menjadi motif yang lebih spesifik untuk menentukan tipe perjalanan wisata seprti tipe wisata rekreasi, wisata olah raga, wisata ziarah, wisata kesehatan dan lain-lain. Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Keadaan alam, flora dan fauna, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, serta peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan sumber daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana terkandung dalam pancasila dan pembukaan Undang-undang Dasar Republik a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Indonesia Tahun 1945. Menurut Yoeti . Daya tarik wisata atau atraksi wisata adalah segala sesuatu yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung pada suatu daerah tujuan wisata, seperti: atraksi alam . andscape, pemandangan laut, pantai, iklim dan fitur geografis lain dari tujua. , daya tarik budaya . ejarah dan cerita rakyat, agama, seni dan acara khusus, festiva. , atraksi sosial . ara hidup, populasi penduduk, bahasa, peluang untuk pertemuan sosia. , dan daya tarik bangunan . angunan, arsitektur bersejarah dan modern, monumen, taman, kebun, marin. Kata Sapta Pesona berasal dari dua kata yaitu AusaptaAy dan AupesonaAy yang dipahami sebagai 7 unsur yang terkandung dalam setiap produk pariwisata serta dipergunakan sebagai tolok ukur peningkatan kualitas produk pariwisata. Menurut Keputusan Menteri Pariwisata. Pos dan Telekomunikasi Nomor: KM. 5/UM. 209/MPPT-89 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sapta Pesona bahwa Sapta Pesona, adalah jabaran konsep Sadar Wisata yang terkait dengan dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah dalam upaya untuk menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata, melalui perwujudan unsur aman,tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan unsure kenangan. Untuk lebih jelasnya unsur-unsur tersebut yaitu : . Aman, suatu kondisi lingkungan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang memberikan rasa tenang,bebas dari rasa takut dan kecemasan bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut, . Tertib, suatu kondisi lingkungan dan pelayanan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang mencerminkan sikap disiplin yang tinggi serta kualitas fisik dan layanan yang konsisten dan teratur serta efisien sehingga memberikan rasa nyaman dan kepastian bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut, . Bersih, suatu kondisi lingkungan serta kualitas produk dan pelayanan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang mencerminkan keadaan yang sehat/higienis sehingga memberikan rasa nyaman dan senang bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut, . Sejuk, suatu kondisi lingkungan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang mencerminkan keadaan yang sejuk dan teduh yang akan memberikan perasaan nyaman dan AubetahAy bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut, . Indah, suatu kondisi lingkungan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang mencerminkan keadaan yang indah dan menarik yang akan memberikan rasa kagum dan kesan yang mendalam bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut, sehingga mewujudkan potensi kunjungan ulang serta mendorong promosi ke pasar wisatawan yang lebih luas, . Ramah, suatu kondisi lingkungan yang bersumber dari sikap masyarakat di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang mencerminkan suasana yang akrab, terbuka dan penerimaan yang tinggi yang akan memberikan perasaan nyaman, perasaan diterima dan AubetahAy . eperti di rumah sendir. bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut, . Kenangan, suatu bentuk pengalaman yang berkesan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang akan memberikan rasa senang dan kenangan indah yang membekas bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut. Definisi Kesejahteraan menurut Abidin Bisri secara umum diartikan sebuah kondisi dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesempatan untuk melanjutkan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga memiliki status sosial yang mengantarkan pada status sosial yang sama terhadap sesama warga lainnya (Hadi dan Alasy Ar. Secara sederhana implementasi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan. Sedangkan Van Meter dan Horn . alam Winarno, 2002:. menyatakan bahwa implementasi kebijakan merupakan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta baik secara individu maupun secara kelompok yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusankeputusan kebijakan Dalam proses implementasi yang dikemukakan Sumaryadi . 5 : . ada tiga unsur penting dalam proses implementasi yaitu: . adanya program atau kebijakan yang dilaksanakan . target group yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dan ditetapkan akan menerima manfaat dari program, perubahan atau peningkatan . unsur pelaksana (Implemento. baik organisasi atau perorangan untuk bertanggung jawab dalam memperoleh pelaksanaan dan pengawasan dari proses implementasi tersebut. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penyunan penelitian ini adalah metode deskriptif yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan-keadaan nyata sekarang . ementara berlangsun. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan tujuan utama untuk menemukan data dengan interprestasi yang tepat untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadan secara obyektif. Peneliti dalam analisis menggunakan data kualitatif deskriptif yaitu data yang diperoleh . erupa kata-kata, gambar, perilak. Tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau dalam bentuk statistik, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif yang memiliki arti lebih kaya dari sekedar angka atau frekuensi (Prastowo, 2011 :. Dalam penelitian ini peneliti akan mengambil lokasi obyek atau destinasi wisata yang ada di Desa Mertak. Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk teknik pengumpulan data menurut sumbernya data di bagi menjadi 2 macam yaitu: . Data Primer, data primer adalah informasi yang diperoleh dari sumber-sumber primer yaitu yang asli, informasi dari tangan pertama atau responden (Wardiyanta, 2. Penulis mendapat informasi langsung dari pihak-pihak pelaku wisata serta wisatawan yang ada di TWA Gunung Tunak, . Data Sekunder, data sekunder adalah informasi yang diperoleh tidak secara langsung dari responden, tetapi dari pihak ketiga (Wardiyanta, 2. Penggunaan data sekunder ini dapat menguntungkan bagi penulis karena dapat menghemat waktu, tenaga dan dana. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang mendekati kebenaran maka digunakan instrumen antara lain wawancara, kueisoner, pengamatan, dokumentasi dan studi pustaka. Untuk analisa data peneliti menggunakan metode statistik deskriptif yang berbentuk tabeltabel frekuensi. Data kualitatif dan kuantitatif yang terkumpul ditabulasi, diklasifikasi, diolah dan dianalisis kemudian diinterpretasikan untuk menentukan kesimpulan dari Penerapan Implementasi Sapta Pesona di TWA Gunung Tunak Desa Mertak. HASIL DAN PEMBAHASAN Nusa Tenggara Barat sebagai daerah tujuan wisata setelah Pulau Bali setiap waktu menjadi prioritas pemerintah pusat dalam hal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 agar pemerintah daerah khususnya Kabupaten Lombok Tengah untuk selalu meningkatkan sumber daya manusia dalam hal ini pelaku wisata agar mengembangkan potensi wisatanya secara baik dan terarah. Pengembangan kuantitas dan kualitas pada potensi wisata dalam hal ini daya tarik wisata di Kabupaten Lombok Tengah dalam beberapa tahun mengalami peningkatan hal ini ditandai dengan kunjungan wisatawan yang banyak dan masa tinggal wisatawan semakin lama yang biasa 1-2 hari sekarang 3-4 hari untuk menikmati potensi wisata khususnya wisata alam, sejarah dan budaya yang dimiliki. Kabupaten Lombok Tengah yang merupakan salah satu kabupaten di NTB mempunyai potensi wisata yang sudah terekspose ke luar daerah maupun luar negeri karena mempunyai keunggulan dalam mengelola obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Selain keunggulan sumber daya manusia yang penuh kreatif dapat mengelola suatu potensi wisata yang tidak dikenal menjadi terkenal. Dukungan Pemerintah. Swasta. Perguruan Tinggi menjadikan potensi wisata di daerah ini terus berkembang dengan baik sehingga ekonomi menjadi maju dan tentu kesejahteraan menjadi terwujud dengan baik. Sebagai Taman Wisata Alam tentunya Taman Wisata Alam Gunung Tunak idealnya mengandalkan daya tarik wisata alam sebagai daya tarik utamanya serta didukung oleh daya tarik lainnya seperti flora dan fauna yang mendiami destinasi ini. Keindahan alam yang dimiliki Taman Wisata Alam Gunung Tunak menjadi salah satu potensi dan daya tarik wisata yang mampu memikat hati wisatawan, baik wisatawan mancanegara . isatawan asin. maupun wisatawan nusantara . isatawan domesti. Potensi dan daya tarik wisata di Taman Wisata Alam Gunung Tunak didominasi oleh alam yang meliputi hutan alami yang telah dilestarikan dari dahulu hingga sekarang, adanya perbukitan yang tersusun rapi bagaikan benteng perbatasan yang kokoh namun tetap eksotis, pemandangan matahari terbit . , matahari terbenam . , laut, pantai dengan pasir putih mempesona, adanya keramba milik masyarakat setempat yang berjejer rapi menambah pesona Taman Wisata Alam Gunung Tunak bagaikan surga yang tidak ditemukan di destinasi pariwisata lainnya. Gambar 1. Panorama Keindahan Alam di Taman Wisata Alam Gunung Tunak (Dokumentasi Penelit. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Taman Wisata Alam Gunung Tunak menawarkan pemandangan suasana hutan yang masih asri dan lestari yang dihuni oleh binatang serta hewan yang sekaligus sebagai daya tarik wisata seperti Rusa. Monyet, burungAeburung dengan nyanyian merdunya, indahnya kupu Ae kupu menambah pesonanya. Berbagai aktivitas kepariwisataan di Taman Wisata Alam Gunung Tunak mebuat wisatawan sangat menyukai destinasi ini. Selain menikmati keindahan alam pantai, maupun hutan yang rindang wisatawan juga bisa melakukan aktivitas seperti camping, meberi makan pada rusa serta mempelajari tentang berbagai jenis kupuAekupu terutama pada penangkaran khusus di destinasi ini. Menyadari Desa Mertak banyak unggulan wisatanya tentu peran serta masyarakatnya harus disadarkan bahwa wisatawan adalah aset yang berharga dan perlu dilayani dengan sebaik-baiknya. Pelaku wisata dalam hal ini kelompok Sadar Wisata yang menjadi garda terdepan dalam melayani wisatawan akan memuaskan atau tidak. Untuk itu pelaku wisata di TWA Gunung Tunak telah dibekali oleh Dinas Pariwisata maupun pemerhati wisata tentang program Sapta Pesona yang menjadi prinsip-prinsip yang dipegang pengelola wisata dalam mengelola obyek wisata. Menurut pengelola wisata di Desa Mertak bahwa penerapan program Sapta Pesona sudah dijalankan dengan baik seperti yang di terapkan atau diaplikasikan di obyek wisata TWA Gunung Tunak. Hasil pengamatan dan wawancara dengan pelaku wisata di obyek wisata bahwa aspek aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan sudah dijalankan dengan baik. Hal ini dibuktikan banyaknya penghargaan yang diterima oleh pengelola obyek wisata tersebut dan tentu kunjungan wisata yang semakin banyak dari waktu ke waktu. Untuk mengetahui sejauh mana implementasi penerapan program Sapta Pesona sudah berjalan baik atau tidak disini peneliti melakukan kegiatan dengan menyebar kueisoner, wawancara dan pengamatan di obyek wisata untuk mendapat data tentang program Sapta Pesona yang sudah berjalan lama sejak obyek wisata ini dirintis dan ramai sampai sekarang. Peneliti menyebar kueisoner kepada responden yang pernah berkunjung di obyek wisata dan mendapatkan responden sebanyak 50 orang dengan latar belakang profesi, jenis kelamin, penghasilan dan asal responden berdomisili. Untuk itu data yang diperoleh dari hasil olahan kuesioner dapat kami sajikan dalam penelitian ini dibawah ini : Tabel 1. Data Karakteristik Pengunjung Keterangan Keterangan Frekuensi Presentasi Jenis kelamin Pria Wanita Total Usia < 15 tahun 15-25 tahun 26-34 tahun 35-45 tahun 46-54 tahun 55 tahun > Total Sumber :Peneliti. Dalam penelitian ini untuk data responden yang di dapat secara on line dengan menyebar kueisoner adalah 50 pengunjung yang pernah berwisata ke obyek wisata TWA Gunung Tunak. Adapun profile pengunjung wisata di obyek wisata tersebut 24% wisata a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 adalah berusia muda yaitu antara 15 -25 Tahun dan 26% usia kerja dan keluarga yaitu 35 45 Tahun dengan demikian wisata ini sangat cocok untuk wisatawan muda dan berkeluarga. Tabel 2. Data Data Asal Daerah Pengunjung Keterangan Frekuensi Presentasi Lombok Tengah Lombok Barat Lombok Timur Kota Mataram Senggigi Luar Daerah Total Sumber :Peneliti . Untuk domisili pengunjung wisata dalam penelitian ini di TWA Gunung Tunak hampir 52% berasal dari Kabupaten Lombok Tengah dimana obyek wisata ini berada yaitu di Kecamatan Pujut di mungkinkan karena dekat dengan Sirkuit Mandalika jadi mudah mengakses untuk berkunjung ke obyek wisata ini. Hanya 18% pengunjung yang berasal dari Senggigi dan luar Daerah. Kemudian yang 12% berasal dari Lombok Barat. Tabel 3. Data Tingkat Pendidikan Pengunjung Keterangan Frekuensi Presentasi Tidak Sekolah SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Total Sumber :Peneliti . Berdasarkan data tentang tingkat pendidikan yang pernah berkunjung di obyek wisata TWA Gunung Tunak 52% berpendidikan perguruan tinggi sehingga wajar obyek wisata ini banyak yang menarik wisatawan dari perguruan tinggi apakah itu mahasiswa, guru maupun dosen. Kemudian yang 36% pengunjung berpendidikan SMA/SMK ini menjadi bukti bahwa obyek wisata sangat menjadi favorit anak muda. Tabel 4 Data Jenis Pekerjaan Pengunjung Keterangan Frekuensi Presentasi PNS/TNI/POLRI Karyawan Swasta Wiraswasta Pensiunan Pelajar/Mahasiswa Lain-lain Total Sumber :Peneliti. Profile pengunjung ditinjau dari profesi pekerjaan dalam penelitian ini 34% adalah karywan swasta dan 32% adalah pelajar atau mahasiswa artinya wisata ini sangat berarti a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 bagi segala jenis profesi pekerjaan apakah PNS/TNI/Polri . Swata. Wiraswasta maupun pelajar atau mahasiswa. Karena penelitian ini membahas tentang implementasi penerapan Sapta Pesona di TWA Gunung Tunak Desa Mertak Kecamatan Pujut maka peneliti ingin mengetahui sejauh mana keberhasilan pengelola wisata di Desa Mertak khususnya di obyek wisata TWA Gunung Tunak yang sudah sangat familier di mata wisatawan. Untuk itu aspek atau unsur dari Sapta Pesona yang di kampanyekan pemerintah Republik Indonesia khususnya Kementerian Pariwisata maka peneliti sampaikan data tentang tentang implementasi penerapan Sapta Pesona di TWA Gunung Tunak Desa Mertak Kecamatan Pujut dapat peneliti bahas melalui data dari 50 pengunjung yang didapat dari kuesioner secara online maka didapat data sebagai berikut : \ Aman, unsur atau aspek yang pertama dalam Program Sapta Pesona adalah rasa aman, dimana unsur ini mutlak diprioritaskan dalam mengelola sebuah obyek wisata untuk itu pengelola wisata harus memperhatikan faktor tersebut secara serius. Dari pendapat responden dalam mengisi kuesioner tersebut bahwa 80% pengunjung menyatakan bahwa terdapat pos pengamanan yang siap siaga memantau rutinitas wisatawan dilokasi wisata. Sedangkan hanya 4% menyatakan terhadap terdapat pos pengamanan yang tidak siap siaga memantau rutinitas wisatawan dilokasi wisata. Kemudian tanggapan dari responden tentang merasa aman dari ancaman kejahatan, seperti kecopetan, pemerasan dan penipuan di obyek wisata ini 82% sudah menyatakan sudah aman dan ancaman bahaya tersebut dan hanya 2% yang menyatakan tidak aman. Tentang fasilitas parkir 94% responden merasa aman dalam memprakirkan kendaraannya dan hanya 6% yang masih ragu-ragu tentang hal tersebut. Untuk fasilitas yang paling penting adalah penerangan atau lampu di obyek wisata ini pengunjung 48% menyatakan cukup baik dan 8 % menyatakan belum cukup baik serta 48% menyatakan ragu-ragu tentang hal tersebut. Kemudian tentang fasilitas penerangan atau lampu sepanjang jalan menuju obyek wisata ini pengunjung 58% menyatakan cukup baik dan 14 % menyatakan belum cukup baik serta 28% menyatakan ragu-ragu tentang hal Selain fasilitas lampu juga tanggapan pengunjung terhadap ramburambu dan pengaman di sepanjang jalan menuju obyek wisata ini pengunjung 58% menyatakan cukup baik dan 14 % menyatakan belum cukup baik serta 28% menyatakan ragu-ragu tentang hal Aspek tertib, aspek tertib merupakan aspek yang sangat dikedepankan dalam pengelolaan wisata karena kepuasaan wisata akan terwujud secara nyata karena aspek ini memberi kesan pertama ketika wisatawan datang. Untuk itu hasil dalam aspek tertib pengunjung telah memberi penilaian dalam kuesioner seperti pelayanan, fasilitas dan pelaku wisata di obyek tersebut. Tanggapan pengunjung terhadap area parkir di Objek wisata telah teratur dan tertib mayoritas mereka mengatakan sudah tertib hal ini dikatakan oleh 80% pengunjung wisatawan saat datang ke obyek wisata tersebut dan hanya 6% yang mengatakan tidak selain itu hanya 14% yang masih mengatakan raguragu tentang hal Kemudian dalam penggunaan sarana prasarana di obyek wisata 72% mengatakan sudah tertib dan hanya 8% yang mengatakan tidak dan hanya 20% yang mengatakan raguragu. Kemudian dalam masalah petugas dalam menangani kebersihan dan keamanan 86% menyatakan sudah tertib dan hanya 1% yang mengatakan tidak dan 12% masih ragu-ragu. Kemudian aspek dalam ketertiban bahwa terhadap respon informasi yang cepat dan akurat kepada pengunjung bahwa 74% mengatakan sudah baik serta 4% mengatakan tidak baik dan 22% menyatakan masih ragu-ragu. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 aspek kebersihan, saat berkunjung wisatawan TWA Gunung Tunak hal kebersihan adalah faktor penentu memberi kesan terhadap kondisi obyek wisata tersebut. Untuk itu 74% merasa nyaman terhadap lingkungan yang bebas dari sampah,dan kotoran lainnya serta dan hanya 6% menyatakan tidak serta 20% menyatakan ragu-ragu terhadap hal tersebut. Pernyataan 68% responden mengatakan bahwa makanan dan minuman yang ditawarkan di obyek wisata sudah bersih sehingga tidak khawatir untuk mengkonsumsinya. Sedangkan hanya 2% yang menyatakan tidak dan 30% masih menyatakan ragu-ragu terhadap hal Terhadap fasilitas tempat sampah yang ada di obyek wisata sudah bersih sehingga pengunjung nyaman menggunakannya menurut 80% responden sebagai pengunjung dan 4% merasa tidak serta 18% masih mengatakan ragu-ragu. Mengenai fasilitas kamar mandi/toilet di obyek wisata juga dalam keadaan bersih sehingga nyaman menggunakannya hal ini dikatakan oleh 56% pengunjung dan 6% menyatakan tidak serta 38% masih mengatakan ragu-ragu terhadap hal tersebut. Menurut 76% menyatakan terhadap petugas pelayanan di obyek wisata sudah menggunakan pakaian yang bersih dan rapid dan hanya 24% menyatakan raguragu. Aspek sejuk, suasana sejuk di obyek wisata adalah dambaan bagi wisatawan dan hal itu dikatakan bahwa penataan pepohonan sekitar jalan sudah bagus sehingga menciptakan suasana di obyek wisata yang sejuk hal itu dikatakan oleh 58% pengunjung dan 14% menyatakan tidak serta 28% masih menyatakan ragu-ragu. Terhadap penataan lingkungannya asri sehingga membuat udara sejuk, seperti sirkulasi udara yang baik, terutama di ruang tertutup hal ini diutarakan oleh 62% pengunjung dan 5% yang menyatakan tidak serta 28% masih mengatakan ragu-ragu. Penataan tanaman yang indah membuat pengunjung merasa nyaman dengan kesejukan di dalam objek wisata ini sesuai dengan pernyataan 66% pengunjung dan 8% menyatakan tidak serta 26% mengatakan masih ragu-ragu. Aspek keindahan, pengunjung wisata dimana saja selalu berharap bahwa faktor keindahaan merupakan daya tarik wisatawan untuk itu dalam penelitian ini bahwa TWA Gunung Tunak mempunyai pemandangan alam yang menarik hal ini dikatakan oleh 94% responden yang berkunjung kesana dan hanya 4% yang mengatakan tidak menarik. Dalam keaslian atraksi alam yang indah seperti pemandangan alam yang ditawarkan di obyek wisata ini pengunjung mengatakan 94% responden membenarkan hal tersebut dan 4% menyatakan tidak dan 4% mengatakan masih ragu-ragu kemudian tatanan yang alami dan harmoni dengan memperhatikan alam sekitar juga di nilai baik hal ini menurut 88% pengunjung yang berwisata di obyek wisata tersebut dan hanya 4% yang mengatakan tidak dan 8% mengatakan masih ragu-ragu. Aspek ramah tamah, aspek ramah tamah adalah faktor penentu wisatawan akan terkesan dengan perilaku para pelaku wisata di obyek wisata yang telah melayani mereka dengan baik. Hasil kuesioner yang didapat mengatakan bahwa 96% merasa bahwa mereka mendapatkan pelayanan yang sangat ramah sehingga tidak merasa cemas berada di objek wisata ini. Selain itu 92% pengunjung merasa nyaman dengan keramah-tamahan masyarakat sekitar obyek wisata ini dan hanya 8% yang menjawab ragu-ragu. Kemudian tanggapan terhadap masyarakat dan petugas informasi yang ramah memberikan informasi sehingga mereka tidak merasa canggung merupakan pernyataan dari 96% dan hanya 4% saja yang mengatakan ragu-ragu. Aspek kenangan, wisatawan akan selalu terkenang apa yang dilihat, didengar dan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 dirasakan selama berkunjung di suatu obyek wisata sehingga akan berpikir dan memutuskan suatu saat akan berkunjung di obyek wisata tersebut. Untuk itu pelaku wisata di TWA Gunung Tunak selalu meningkatkan usahanya agar wisatawan datang berkunjung lagi ke obyek wisata tersebut. Para wisatawan menyatakan bahwa 98% terkesan dengan keindahan alam di obyek wisata ini dapat memberikan kenangan yang baik bagi mereka dan hanya 1% responden mengatakan ragu-ragu. Selain itu obyek wisata ini mengangkat budaya lokal sebagai atraksi untuk menarik pengunjung hal ini disampaikan 82% pengunjung wisatawan dan hanya 4% yang menyatakan tidak dan 14% masih ragu-ragu. Dan 58% pengunjung mereka membeli cinderamata/ souvenir khas di dalam objek wisata ini sehingga menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang dan 20% menyatakan tidak membeli cinderamata /souvenir untuk oleh saat dibawa pulang. Terungkap juga bahwa 58% pengunjung mengatakan bawa obyek wisata sudah menyediakan berbagai macam kuliner lokal yang khas sehingga menjadi cerita pada orang lain yang ingin berkunjung dan 12% menyatakan tidak menyediakan serta 30% menyatakan masih ragu-ragu. serta 30% menyatakan masih ragu-ragu. Semua pengunjung wisata sebesar 96% akan menceritakan semua apa yang didapat setelah selesai berkunjung ke obyek wisata ini dan akan merekomendasikan jika ada yang ingin berkunjung ke obyek wisata di TWA Gunung Tunak dan hanya 4% menyatakan tidak merekomnedasikan ke orang lain agar mau berkunjung ke obyek wisata tersebut. Dalam pengelolaan obyek wisata yang berbasis alami seperti di TWA Gunung Tunak daya dukung masyarakat sangat diperlukan sekali karena peran serta mereka akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat, pengelolaan obyek wisata membutuhkan sumber daya manusia yang tangguh dan kreatif. Masyarakat di Desa Mertak membentuk kelompok Sadar Wisata sebagai garda terdepan dalam membangung daerahnya sehingga peran dan tanggung jawab dalam mengelola dan mengembangkan daerahnya patut diacungi jempol karena hasil nyata yaitu kesejahteraan masyarakatnya meningkat. Usaha-usaha dari kelompok Sadar Wisata di Desa Mertak adalah selalu menerapkan aspek-aspek Sapta Pesona yang menjadi pedoman dalam mengelola suatu obyek wisata selalu jelas dan terarah. Melalui balai konserfasi yang mengelola obyek wisata TWA Gunung Tunak dalam menerapkan program Sapta Pesona dari aspek keamanan, kebersihan, ketertiban, kerapihan, keindahaan, ramah tamah dan kenangan sudah berhasil hal ini dari pengamatan peneliti semua sudah Petugas atau pegawai yang sudah dibekali pengetahuan dan ketrampilan dalam menerapkan standar prosedur operasional pengelolaan obyek wisata TWA Gunung Tunak jelas dan terarah. Kemudian usaha memfasilitasi sarana-prasarana di obyek wisata juga dilakukan dengan baik, terutama fasilitas keamanan untuk pengunjung juga dilakukan dengan baik. Usaha membuat obyek wisata TWA Gunung Tunak agar selalu menarik bagi pengunjung maka pengelola wisata ini mempertahankan keasrian lingkungannya dan menjaga panorama alam yang indah dengan udara yang sejuk. Obyek ini selain menawarkan alam yang indah juga menawarkan pemandangan pantai, tebing serta perbukitan di atas pantai yang indah dengan melihat panorama suanset saat menjelang sore hari yang menjadi favorit pengunjung. Sehingga keaslian dan keasrian alam terus dijaga karena ini aset dari TWA Gunung Tunak untuk mendatangkan wisatawan. Kemudian yang paling penting dalam penerapan unsur Sapta Pesona adalah keramah-tamahan karena ini menyangkut pelayanan kepada wisatawan untuk pelaku wisata di TWA Gunung Tunak selalu dibekali tentang masalah service exelence atau keramah tamahan. Pembekalan tentang masalah ini selalu a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 dilakukan oleh pemerintah dalam hal in dinas pariwisata atau pemerhati wisatawan seperti perguruan tinggi, swasta atau perorangan biasanya tentang materi service exelence atau kepuasaan wisatawan. KESIMPULAN Pemerintah Desa Mertak beserta masyarakatnya telah berhasil mengubah kesejahteraan masyarakatnya karena mempunyai potensi wisata alamnya dan lingkungannya masih terjaga kelestariannya, pengelola serta Masyarakat dengan penuh kesadaran mengembangkan potensi TWA Gunung Tunak yang masih asri akan alamnya yang indah serta menakjubkan dan budayanya yang masih kental sehingga menjadi daya tarik Dalam mengelola obyek wisata di TWA Gunung Tunak para pelaku wisata baik yang tergabung dalam forum ekowisata TUNAK BESOPOK yang di bawah naungan BKSDA NTB serta kelompok Sadar WIisata yang dimiliki selalu menerapkan program Sapta Pesona secara jelas dan terarah. Hasil response dari wisatawan yang berkunjung di obyek wisata TWA Gunung Tunak yang dimiliki desa Mertak menyatakn sangat puas dengan penerapan Sapta Pesona dari aspek keamanan, kebersihan, kerapihan, kenyaman, keindahaan, ramah tamah dan kenangan semua menilai baik. Hasil pengamatan dan wawancara bahwa masyarakat Desa Mertrak secara langsung mendapatkan dampak positif yaitu dapat menggerakkan ekonomi keluarganya yang tadinya banyak berprofesi petani dan nelayan kemudian beralih menjadi pelaku wisata atau pengelola wisata disana. Hasil dari kesimpulan tersebut maka peneliti dapat memberi masukkan atau saransaran kepada pemerintah Desa Mertak bahwa dalam mengelola aset daerah yang berupa potensi wisata agar unsur-unsur dalam Sapta Pesona harus benar-benar dilakukan dengan serius dan jika sudah dinilai baik oleh wisatawan dalam penelitian jangan sampai kendor atau mundur dalam menjalankan program tersebut. Sebagai prinsip yang harus dipegang oleh pelaku wisata di Desa Mertak bahwa Sapta Pesona adalah program yang sangat riil dengan kondisi sekarang yang penuh kompetitif dimana pesaing sesama pengelola obyek wisata harus berpikir kreatif dan inovatif sehingga program tersebut dapat berhasil guna memajukan dan mengembangkan objek-objek wisata yang ada di Desa Mertak. Selain itu pengelola wisata di Desa Mertak khsusunya obyek wisata TWA Gunung Tunak agar meningkatkan kemampuan atau upgrading ketrampilan dan pengetahuan sehingga dalam pelayanan wisatawan dilakukan secara professional dengan koridor program Sapta Pesona. DAFTAR PUSTAKA